Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )



Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....


Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17

Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
amron7497170Avatar border
aryanti.storyAvatar border
nightstory770Avatar border
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.7K
271
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#156
Chapter 17





“ sebaiknya kita menjauh dulu dar, karena kita enggak tau dengan apa yang akan terjadi pada imse...”
Selepas dari perkataan nenden tersebut, gue dan nenden segera bergerak menjauhi tubuh imas, dan disaat itulah gue melihat imas kembali menggeram disertai dengan pergerakan tubuhnya yang terangkat ke atas hingga membentuk lengkungan pada tubuhnya, melihat hal tersebut, rasa kekhawatiran gue atas kejadian buruk yang akan menimpa imas saat ini, kini telah menggerakan tubuh gue ini untuk melakukan sebuah tindakan, dan hal ini di wujudkan dengan pergerakan tangan gue yang mencoba untuk menahan laju pergerakan tubuh imas walaupun harus dengan bersusah payah
“ pergi kamu dari tubuh ini, jangan ganggu adik gue.....!!!” hardik gue dan berbalas dengan suara geraman imas, mendapati hal tersebut, nenden yang semula terdiam, kini telah ikut serta untuk menahan pergerakan dari tubuh imas yang bergerak dengan liar
“ pergi kamu....apa sebenarnya yang kamu inginkan dari keluarga kami...!!
“ argggggg...argggggggg......!!!”
“ dar...apa yang harus kita lakukan.....?” ujar nenden dengan panik karena mendapati imas yang kembali mengeluarkan suara geraman yang keras, dan kini diantara suara geraman imas yang kembali terdengar, sayup sayup telinga gue mendengar keberadaan suara azan subuh yang berkumandang dari salah satu masjid yang mungkin berada tidak jauh dari rumah gue ini
“ teh...apa enggak sebaiknya kita memanggil ki panca sekarang...?”
“ sebaiknya sih begitu dar....karena kita udah enggak tau lagi harus melakukan apa...”
Mendengar jawaban nenden tersebut, kini tanpa berpikir untuk mengganti pakain yang tengah gue kenakan saat ini, sebuah baju hangat yang biasa dipergunakan oleh nenden dalam mengusir rasa dingin, kini segera gue ambil dari dinding kamar, dan kini diantara pergerakan gue yang tengah mengenakan baju hangat tersebut, nampak sesekali terlihat imas kembali mencoba untuk melepaskan diri dari pegangan tangan nenden yang menahan tubuhnya
“ gue pergi sekarang teh....”
“ iya dar...hati hati, dan usahakan jangan lama lama.....sumpah dar...gue khawatir banget dengan kondisi imas saat ini....”
Kini tanpa berkeinginan untuk merespon perkataan nenden tersebut, gue segera berlari keluar dari dalam kamar, keberadaan dari ruangan rumah yang terlihat gelap, kini sudah tidak bisa lagi untuk menahan laju pergerakan tubuh gue dalam upaya mencari pertolongan bagi imas
“ kang darma...!, kang darma mau kemana, apa yang terjadi pada imas kang....?”
Kalimat pertanyaan yang terlontar dari mulut bi idah, kini mengiringi pergerakan gue yang hendak keluar dari dalam rumah, nampak terlihat keberadaan bi idah dengan sebuah lilin ditangannya, tengah mengarahkan pandangannya ke arah gue
“ saya keluar sebentar dulu bi..imas enggak kenapa napa, sebaiknya bi idah tetap menemani nenek di kamar...” jawab gue dan berbalas dengan anggukan kepala bi idah, dan kini seakan tengah berpacu dengan waktu yang semakin sempit, gue segera berlari menembus kegelapan yang masih menyelimuti pagi
“ ya tuhan…dimana gue bisa menemukan seseorang yang bisa membantu gue disaat hari masih sepagi ini…..” gumam gue diantara udara dingin yang terasa menusuk kulit tubuh gue ini, hingga akhirnya diantara harapan gue akan adanya keberadaan seseorang yang akan membantu gue dalam mengantarkan gue ke rumah ki panca, sebuah keajaiban kini menghampiri gue, nampak terlihat keberadaan sebuah sepeda motor yang tengah terparkir di depan salah satu masjid yang berlokasi cukup jauh dari keberadaan rumah gue, mendapati hal tersebut, gue kini berpikir untuk meminta pertolongan kepada orang yang memiliki sepeda motor tersebut, tapi begitu kini gue mendapati keberadaan beberapa orang warga kampung yang tengah melakukan sholat subuh berjamaah, gue memilih untuk menunggu sejenak dengan cara duduk di teras masjid
Diantara detik waktu yang terus bergulir, sholat berjamaah yang dilakukan oleh beberapa warga kampong itu kini telah berakhir, dan seiring dengan doa yang telah selesai di panjatkan, nampak kini keberadaan dari beberapa warga kampong, terlihat membubarkan diri, mendapati hal tersebut, gue mencoba untuk memberikan senyuman kepada beberapa warga kampung yang terlihat melemparkan senyumnya ke arah gue, hingga akhirnya diantara beberapa warga kampung yang telah pergi meninggalkan masjid, salah seorang warga kampung terlihat berjalan menghampiri gue
“ sedang apa kang...?” tanya warga kampung dengan ramahnya kepada gue, dan kini diantara pertanyaan yang telah dilontarkan oleh warga kampung tersebut, gue bisa memperkirakan bahwa usia dari warga kampung tersebut mungkin beberapa tahun lebih tua dari gue, hingga akhirnya setelah gue mengutarakan akan maksud kedatangan gue di masjid ini, gue kini mengetahui kalau warga kampung tersebut bernama iim, dan satu hal yang menggembirakan gue atas perkenalan gue dengan warga kampung tersebut adalah ternyata iim adalah pemilik dari sepeda motor yang terparkir di depan masjid
“ ohhh jadi begitu kang darma, tapi ngomong ngomong apakah kang darma udah sholat subuh...?” tanya iim yang sepertinya merasa agak curiga kepada gue karena mendapati adanya beberapa bercak darah yang mengotori wajah dan tangan gue
“ ehhh belum...karena...”
“ sebaiknya kang darma sholat subuh dulu...biar saya menunggu disini sampai dengan kang darma selesai sholat....”
Mendapati bahwa kini iim telah memotong alasan yang baru saja akan gue ucapkan, gue segera berjalan menuju ke arah tempat wudhu guna mengambil air wudhu, diantara langkah kaki gue yang kini telah berjalan memasuki masjid, nampak terlihat keberadaan dari seorang lelaki tua yang tengah berzikir dengan khusyunya, dari pakaian dan gerak gerik yang diperlihatkannya, sepertinya lelaki tua itu adalah imam di masjid ini, mendapati hal tersebut, kini tanpa berkeinginan untuk berlama lama lagi di dalam masjid ini, gue segera melaksanakan sholat subuh, hingga akhirnya setelah gue mengucapkan salam untuk menyelesaikan sholat subuh, nampak keberadaan dari lelaki tua itu tengah mengarahkan pandangannya ke arah gue
“ setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya, dan hanya kepada tuhan lah kita memohon jalan keluar itu.....”
Entah dengan maksud apa lelaki tua itu mengucapkan kalimat seperti itu kepada gue, tapi yang pasti, selepas dari lelaki tua itu mengucapkan kalimatnya, gue segera bergegas pergi untuk menemui iim yang telah menunggu gue di teras masjid
“ bisa kita berangkat sekarang kang iim....?”
“ ohhh bisa bisa...sepertinya ada yang begitu penting ya kang darma....tapi ngomong ngomong, kang darma tinggal dimana....?” tanya iim dan berbalas dengan kebingunan gue untuk menjawabnya, dan kini diantara kebingungan gue itu, motor yang kami naiki, kini mulai berjalan pergi meninggalkan masjid
“ saya tinggal di rumah besar yang ada di pertigaan jalan kampung....”
“ di pertigaan jalan kampung...berarti kang darma tinggal di rumah besar yang bekas markas tentara belanda itu ya....?”
“ iya kang iim, kebetulan rumah itu adalah milik kakek saya....?”
“ Boundewijn Aernout...itu nama kakek kang darma kan, saya taunya juga dari orang tua saya, karena menurut orang tua saya, kakek kang darma itu orang yang ramah, tapi enggak tau dengan alasan apa tiba tiba kakek kang darma meninggalkan rumah itu...hingga akhirnya cukup lama juga rumah itu kosong....”
“ iya...betul kang, papah saya memutuskan untuk tinggal disini lagi...”
“ apa kang darma sekeluarga enggak takut tinggal di rumah itu....?”
“ takut...takut kenapa...?”
“ dari apa yang telah saya dengar sih, dulunya di zaman penjajahan belanda, pernah terjadi peristiwa pembunuhan terhadap gadis desa di rumah itu dan itu dilakukan oleh para serdadu belanda....”
“ pembunuhan terhadap gadis desa...?” tanya gue seraya mencoba untuk menghubungkan cerita iim tersebut dengan pekataan ki panca
“ iya gadis desa, dari cerita yang berkembang sih, gadis desa yang telah dibunuh itu adalah anak dari seorang dukun kampung...dan mohon maaf juga kang darma, dari apa yang telah saya dengar dari beberapa penduduk kampung, konon katanya gadis desa yang telah terbunuh itu pernah dekat dengan kakek kang darma....”
“ sial....!” maki gue dalam hati begitu mendengar perkataan iim, sejujurnya kini gue merasa bingung untuk merespon dengan perasaan apa atas cerita iim tersebut, karena disatu sisi gue merasa bahagia begitu mendapatkan informasi yang mungkin terhubung dengan latar belakang dari peristiwa terbunuhnya sosok wanita yang telah hadir di mimpi gue itu, tapi di sisi yang lain, gue kini merasa sedih karena informasi yang telah gue dapatkan ini kini menempatkan posisi kakek gue sebagai tersangka dari peristiwa terbunuhnya wanita desa itu
“ ada apa kang darma, kok jadi diam....?” tanya iim begitu mendapati keterdiaman gue dalam merespon perkataannya
“ enggak ada apa apa kang iim, saya hanya merasa bingung aja, bagaimana mungkin bisa berkembang cerita seperti itu, sedangkan saya dan keluarga, sama sekali enggak pernah mendapati adanya kejadian kejadian aneh di rumah itu....”
“ ohhh begitu yang kang darma...”
“ mungkin yang telah kang iim dengar itu hanyalah cerita dari mulut ke mulut aja, yang mungkin aja kebenarannya belum bisa di pastikan....”
“ yaa namanya juga cerita dari masa lalu kang, dan saya sendiri juga jujur aja, belum pernah melihat sendiri adanya sesuatu yang menyeramkan di rumah kang darma itu....”
Dan seiring dengan perkataan yang terucap dari mulut iim, motor yang kami naiki kini mulai berjalan jauh meninggalkan jalan kampung, bahkan bisa dikatakan motor yang kami naiki ini kini sudah hampir mendekati keberadaan dari rumah ki panca
“ tadi itu sebenarnya saya sedikit mencurigai kang darma karena melihat bercak darah yang ada di tubuh kang darma, tapi setelah kang darma menjelaskan kalau kang darma adalah cucu dari....”
“ maaf kang iim, saya turun disini aja, sepertinya di tempat ini saya mempunyai janji dengan teman saya itu....” pinta gue memotong perkataan iim, mendapati permintaan gue yang terdengar tiba tiba itu, iim segera menepikan motornya di sisi jalan dengan menunjukan ekspresi rasa bingung....”
“ lohh jadi kang darma janjian dengan temannya disini, memangnya sebenarnya kang darma mau kemana....?”
“ iya kang iim, saya udah berjanji disini dengan teman saya, sebenarnya saya itu ingin melihat keberadaan kebun yang hendak dibeli oleh papah saya dan lokasinya adanya di luar kampung ini, nahh kebetulan kebun itu yang menawarkannya adalah teman saya ini, dan berhubung pemilik kebun tersebut hanya mempunyai waktu pagi ini karena alasan kesibukan...ya akhirnya teman saya mengusulkan untuk jalan sepagi ini guna bertemu dengan pemilik kebun.....”
“ ohh begitu...apa enggak sebaiknya kang darma saya temenin dulu sampai dengan teman kang darma itu datang, karena saya kasihan kalau meninggalkan kang darma di tempat sesepi ini seorang diri...”
“ waduhh...enggak usah kang iim....sebaiknya kang iim kembali ke rumah aja, saya yakin kok sebentar lagi teman saya pasti datang....”
Dan kini diantara keraguan yang terlihat di wajah iim, gue memutuskan untuk mengucapkan terima kasih kepada iim karena telah mengantarkan gue sejauh ini, dan selepas dari ucapan terima kasih gue tersebut, nampak iim menjadi sungkan untuk mengusik keinginan gue yang ingin berada seorang diri di tempat ini, hingga akhirnya diantara ekspresi keraguan yang masih terlihat di wajahnya, iim mulai beranjak pergi meninggalkan gue
“ fiuhh...nyaris aja gue enggak bisa berbohong lagi, sebaiknya gue harus cepat ke rumah ki panca sekarang sebelum semuanya jadi bertambah buruk....” gumam gue dalam hati seraya mengutuk kebodohan diri gue yang telah mensia siakan waktu selama ini, dan kini diantara kekhawatiran gue yang begitu besar atas kondisi keselamatan imas saat ini, gue memutuskan untuk segera berlari menuju ke rumah ki panca, hingga akhirnya setibanya gue di rumah ki panca, keberadaan dari nyala patromak yang terlihat di dalam rumah kini mengantarkan ketukan tangan gue pada pintu rumah
“ assalamualaikum ki...ki panca....” salam gue dan berbalas dengan keheningan, mendapati hal tersebut, gue kembali lagi mengulangi memanggil ki panca, dan semuanya itu kembali lagi berbalas dengan kesunyian
“ duh...ki pancanya kemana ya....” gumam gue dengan rasa gelisah karena tidak mendapati adanya jawaban dari ki panca, hingga akhirnya dintara keinginan gue yang ingin memeriksa keberadaan ki panca di sekitar area rumahnya, pergerakan yang terlihat pada gagang pintu rumah kini mengantarkan kehadiran ki panca yang tengah berdiri tepat di pintu rumah
“ ki panca tolong saya sekarang ki....adik saya sedang dalam masalah yang serius....”
Begitu mendengar permohonan gue tersebut, tanpa memberikan jawaban apa pun, terlihat ki panca memasuki rumahnya, dan tidak berselang lama kemudian, ki panca kembali lagi keluar dari dalam rumah dengan turut serta membawa peralatan yang mungkin akan dibutuhkannya dalam prosesi pengusiran energi negatif dari rumah gue
“ untuk apa bambu kuning itu ki....?” tanya gue begitu melihat sebilah bambu kuning dengan kedua sisinya yang tajam dan terbungkus dalam kain putih
“ kamu enggak usah terlalu banyak bertanya...benda inilah yang nantinya akan mengakhiri keberadaan dari energi negatif yang ada di rumah kamu itu.....” ujar ki panca, lalu terlihat berjalan menuju ke bagian belakang dari rumahnya
“ sepertinya ada sesuatu yang aneh pada ki panca...tapi apa ya...” ujar gue mencoba mengingat ingat keanehan yang terlihat pada diri ki panca, hingga akhirnya setelah kini gue melihat kembali kehadiran ki panca yang telah kembali di halaman rumah dengan turut serta membawa sepeda motor tuanya, gue kini baru menyadari kalau saat ini wajah ki panca terlihat begitu pucat layaknya seseorang yang belum tidur semalaman, mendapati hal tersebut, gue segera menanyakan akan kondisi kesehatan ki panca saat ini
“ aki hanya kurang tidur kang...banyak ritual ritual yang harus aki jalani terlebih dahulu guna menghancurkan keberadaan dari energi negatif itu...”
Selepas dari perkataannya tersebut, kini ki panca meminta kepada gue untuk menaiki motornya, dan seiring dengan keberadaan gue yang telah duduk di belakang ki panca, motor yang di kendarai oleh ki panca kini mulai berjalan meninggalkan halaman rumah
“ sepertinya ki panca tegang banget, mungkin dia merasa tegang karena harus menghadapi energi negatif yang menurutnya adalah energi negatif yang kuat....” pikir gue dalam hati diantara keterdiaman ki panca dalam mengendarai sepeda motor
Hampir di sepanjang perjalanan menuju ke rumah gue, tidak banyak pembicaraan yang bisa gue lakukan dengan ki panca, hal ini dikarenakan gue merasa sikap ki panca saat ini terasa begitu berbeda dengan apa yang pernah gue temui sebelumnya, hingga akhirnya diantara keterdiaman ki panca tersebut, gue hanya bisa sesekali berbicara untuk sekedar memberikan informasi jalan yang harus dilalui, dan seiring dengan laju roda yang terus berputar, keberadaan dari motor yang kami naiki ini, kini telah tiba di halaman rumah
“ sebaiknya kita langsung aja ke lantai atas ki, karena adik saya berada disana....” ajak gue kepada ki panca begitu melihat ki panca yang terdiam begitu memasuki rumah, dan diantara kehadiran gue dan ki panca yang telah memasuki rumah, nampak terlihat keberadaan bi idah yang tengah memperhatikan tingkah laku ki panca saat ini
“ energi negatif di rumah ini benar benar kuat....dan sinyal kekuatan dari energi negatif itu bisa aki rasakan bersumber dari lantai atas sana....” ujar ki panca seraya menunjukan jari tangannya pada posisi yang mengarah tepat ke arah kamar nenden, mendapati hal tersebut, kini gue semakin bertambah yakin kalau ki panca mempunyai kemampuan untuk mengusir energi negatif yang ada di rumah ini, tapi kini baru saja gue dan ki panca memijakan kaki di lantai atas dan hendak berjalan menuju ke kamar nenden, keyakinan gue akan kemampuan ki panca yang akan semudah itu untuk menghancurkan energi negatif yang ada di rumah gue ini, kini seperti sirna begitu melihat tubuh ki panca yang terpental begitu hendak mendekati kamar, mendapati hal tersebut, gue segera mendekati ki panca guna membantunya untuk berdiri
“aki enggak kenapa napa....?” tanya gue diantara darah segar yang mengucur keluar dari hidung ki panca
“ energi negatif yang ada di kamar itu menolak energi yang aki miliki, ini enggak main main kang darma...energi negatif itu ternyata lebih kuat dari pada yang aki perkirakan...” jawab ki panca seraya meraih tangan gue dan bangkit dari posisinya terjatuh, dan kini begitu mendapati ki panca yang telah terbangun, dengan segera, gue dan ki panca kembali berjalan menuju ke pintu kamar, tapi baru saja kini gue hendak mendorong pintu kamar, nampak keberadaan dari daun pintu kamar bergerak terbuka dan menutup dengan sendirinya, dan hal ini terjadi secara berulang ulang dengan ritme yang cepat, mendapati hal tersebut ki panca terlihat menyelipkan bambu yang dipegangnya di sela sela daun pintu yang tengah terbuka, dan disaat itulah gue mendengar suara benturan keras antara daun pintu dengan batangan bambu yang terselip diantara daun pintu dan kusen pintu
“ cepat bantu saya kang darma....” teriak ki panca diantara gerakannya yang kini mendorong daun pintu dengan tubuhnya, melihat hal tersebut, dengan segera gue ikut membantu ki panca untuk mendorong daun pintu, dan akhirnya setelah usaha keras yang kami lakukan ini, daun pintu yang bergerak membuka dan menutup dengan sendirinya tersebut, kini memberikan kami sebuah celah yang membuat kami bisa memasuki kamar
“ astagfirullah ki....” ujar gue dengan rasa panik begitu melihat situasi yang tidak kondusif di dalam kamar, diantara keberadaan kamar yang terlihat gelap akibat dari cahaya lilin yang telah padam serta gorden kamar yang belum terbuka, gue kini mendapati keberadaan nenden yang tengah terkapar di atas lantai dengan beberapa luka yang menghiasi tubuhnya, sedangkan imas...mungkin ini adalah satu dari beberapa kejadian yang teramat sulit untuk diterima oleh akal sehat gue, bagaimana tidak...saat ini gue melihat keberadaan imas yang tengah mengarahkan sorot matanya yang tajam ke arah gue dan ki panca, sedangkan posisi tubuh imas saat ini, terlihat menempel pada dinding kamar, dengan kedua tangan dan kakinya sebagai tumpuan bagi keberadaan tubuhnya yang menempel pada dinding kamar
“ ya tuhan….bagaimana mungkin imas bisa dalam posisi itu….” gumam gue dalam hati dalam rasa tidak percaya
“ kii....” teriak gue begitu kini gue melihat pergerakan dari tubuh imas yang bergerak cepat bagaikan cicak yang sedang merayap di dinding, mendapati hal tersebut, nampak ki panca mengambil keberadaan bambu yang masih dalam posisi antara daun pintu dan kusen pintu, hingga akhirnya setelah ki panca mengambil bambu tersebut, suara benturan dari pergerakan daun pintu yang membuka dan menutup dengan sendirinya kembali terdengar


namakuve
pulaukapok
bonita71
bonita71 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.