Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]


Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.


Spoiler for INDEX:


Spoiler for "You":



Spoiler for MULUSTRASI:


Spoiler for Peraturan:


Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.


Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
suryosAvatar border
xxxochezxxxAvatar border
DayatMadridistaAvatar border
DayatMadridista dan 113 lainnya memberi reputasi
106
466.1K
4.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.4KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#908
Ara Si Anak Periang
 

"Ara! Ra! Lo apa-apaan sih?" Kata ane berbisik.

Ara terus berusaha. Ane pun sekuat tenaga untuk mencegah. 

"Ja, nggak usah muna, lo pasti juga mau kan?" Kata Ara berbisik.

"Iya tapi nggak disini Ra. Apaan sih?" 

"Gue pingin tau aja keadaannya gimana sekarang. Kan terakhir ketemu waktu kita masih sekolah." 

"Iya tapi nggak gini Ra. Lo udah gila ya?”

Karena agak grasak grusuk kami pun  seperti membuat penonton lain terganggu. Beruntung aja yang nonton nggak terlalu banyak. Waktu itu film sedang berlangsung sekitar satu jam. 

"Ara, kalau lo gini mending lo pulang aja, dan nggak usah nongol di band lagi." Bisik ane.

"Nggak apa-apa." Bisik Ara.

Dalam kegelapan ane masih bisa melihat dia tersenyum licik.

"Ra seriusan. Lo kenapa sih? Oke-oke kalau gitu, pulang dari sini kita cari hotel. Gimana?" Bisik ane lagi.

"Beneran? Oke kalau gitu." Bisik Ara, dekat banget sama telinga ane jadinya berasa merinding banget coy. 

"Tunggu filmnya selesai. Gue nggak mau rugi." Kata ane.

"Oke Ja." Kata Ara sambil tersenyum dan memegang dagu ane.

"Lo kenapa sih Ra? Sakit lo ya." Ane berbisik.

"Iya gue sakit. Gue sakit lama-lama ngelihat lo terus-terusan ganti-ganti cewek, dekat sama cewek." Bisik Ara.

Ane hanya bisa diam. Ara bilang gini? Nggak salah? Kan dia ngejar-ngejar Ito. Apa maksudnya si Ara sih? Ane bingung. Tapi ane diam aja sampai akhirnya film selesai. Ketika film selesai, Ara langsung mengajak ane keluar. Kondisi pisat perbelanjaan sudah gelap karena memang sudah tutup.

"Cari sekarang Ja.”

"Ra, sebentar deh, lo tuh kenapa sih?"

"Gue capek Ja lihat lo kesana kemari, bawa cewek ganti-ganti, terakhir lo malah bawa Keket yang cantik itu ke panggungan kita. Gue capek Ja lihatnya."

"Kok lo yang capek? Emang lo siapa Ra? Ingat, lo itu manajer kita. Kita emang punya masa lalu. Tapi bukan berarti jadi kayak gini Ra. Lo gila ya."

"Iya gue gila. Gue gila karena lo selalu menepikan gue Ja. Dari SMA gue selalu berharap sama lo Ja. Tapi apa? Lo selalu bilang nggak ada waktu. Tapi pas mau lulus-lulusan lo malah pacaran. Selama di SMA juga lo dekat sama Tifani dan ada waktu buat dia. Kemana-mana bisa sama dia. Terus lo mau alasan lagi sibuk? Jangan kelamaan boongin gue Ja."

"Udah Ra, udah. Itu masa lalu kita. Sekarang ini kita urusannya hanya sebatas manajer dan player di band oke? Gue nggak mau Ra karena kayak gini, lo nanti malah kebawa perasaan sama gue, terus efeknya jadi kena ke band kita Ra."

"Gue udah nggak peduli perasaan gue sendiri. Gue cuma mau lo Ja."

"Mau gue ngapain?"

"Mau lo ikutin mau gue."

"Kok gitu? Ya nggak lah. Lo kenapa jadi maksa-maksa gini sih Ra? Kenapa lo jadi tertarik lagi sama gue? Ito gimana?”

"Gue nggak pernah suka sama Ito. Itu cuma pengalihan gue aja Ja karena gue selalu gagal dapetin lo. Gue juga pacaran sama anak-anak band lain itu cuma buat pengalihan perasaan gue ke lo. Dan mereka nggak benar-benar sayang gue, tapi cuma buat muasin nafsu mereka aja. Dan ternyata gue nggak bisa buat ngalihin perhatian dari lo. Apalagi sekarang kita sering bareng karena urusan band. Salah satu alasan gue mau jadi manajer band ini ya karena lo ada disitu Ja."

"Aduh, lo ribet banget deh Ra. Please, gue udah ada Keket dan gue sayang dia. Cuma belum jadian aja."

"Gue nggak peduli, gue cuma mau lo ada dekat-dekat gue."

"Nggak mungkin Ra, Keket juga bilang yang sama ke gue, dan gue jelas milih Keket Ra. Biarin masa lalu kita jadi kenangan manis kita berdua Ra. Ya?”

"Lo selalu jahat sama gue Ja." Lalu Ara menangis. Ane malu karena kami berjalan bareng dengan orang-orang yang baru kelar nonton.

"Udah jangan nangis disini Ra, malu." Kata ane sambil merangkul Ara.

"Lo jahat banget sama gue Ja. Gue kurang apa sih? Semua udah gue kasih. Tapi ketika dulu gue mau kasih yang paling penting, lo malah nolak."

"Gue takut Ra. Gue takut nggak bisa jagain lo. Dan kalau itu kejadian, gue nggak yakin kita bisa kerjasama kayak sekarang. Gue takut buat kehilangan lo. Kan gue udah bilang."

"Yaudah sekarang kan lo sendiri, gue sendiri. Kita jalanin."

"Gue udah bilang nggak bisa Ra. Gue nggak mau ada hubungan emosional pakai hati. Gue nggak mau band berantakan gara-gara ini."

"Kalau gitu nggak usah pakai hati, have fun aja sama gue Ja."

"Maksud lo?”

"Kita jalanin hubungan ini ya fun-fun aja, yang penting gue seneng."

"Lah kalau gue nggak seneng gimana?"

"Yang penting gue seneng Ja."

"Ara, dengerin gue. Lo tu manis Ra, kenapa sih pakai acara kayak gini? Banyak cowok lain yang bahkan lebih ganteng dan keren dari gue yang mau sama lo. Ito juga kalau lo kejar serius, pasti mau. Ito lebih ganteng dari gue, lebih pinter dari gue, lihat aja sekarang dia kuliah dimana."

"Perasaan nggak bisa di paksa Ija, lo ngerti nggak sih? Mau lo sejelek apapun kalau gue maunya sama lo masa jadi maksa supaya mau sama yang lain, ya nggak bisa Ja."

"Sekarang udah makin malam Ra, lo pasti kemaleman, nanti nyokap lo gimana?”

"Gue udah bilang mau nginap dirumah teman kok. Jadinya ya santai aja."

"Beneran? Gue nggak mau tanggung jawab Ra. Kalau nanti nyokap lo telepon gue, gue mesti jawab apa?”

"Bilang aja Ara nggak sama lo, gitu aja susah banget sih."

"Terserah lo aja Ra, pusing gue jadinya gara-gara lo nih. Ah elah."

"Yaudah check-in aja."

"Lo sejak kapan jadi kaya gini Ra?”

"Sejak lama. Dan lo nggak tau kan? Karena yang tau seluk beluk lo ya gue, sedangkan seluk beluk gue, lo ya nggak pernah tau Ja."

"Udah deh, ini makin malem, gue anter lo ke hotel dekat-dekat sini ya. Gue lagi nggak ada duit, jadi kalau hotel yang nyatu sama mall ini nggak bakal sanggup gue bayarin. Jadi yang lebih murahan dikit ya."

"Terserah lo aja Ja. Yang penting gue bisa istirahat."

"Yaudah, oke. Nanti gue anter lo, terus gue langsung balik, nggak enak gue make motor pinjeman."

Ara hanya mengangguk pelan.

--

Sesampainya di hotel, ane urus check-in dan Ara menunggu di lobi. Kemudian ane mengantar dia sampai di depan kamar.

"Ra lo istirahat ya. Besok kalau lo butuh apa-apa, hubungin gue aja. Oke? Maafin gue ya Ra."

"Makasih ya Ja. Tapi, emm lo temenin gue sebentar ya, gue rada takut ni Ja."

"Apaan lagi sih Ra? Udah jangan banyak alasan lo ah.”

"Please." Katanya dengan muka memelas ala loli jepang.

"Iyaaaa." Kata ane malas.

Ane jadinya malah masuk kedalam kamarnya. Ane coba nyalain tv dan nonton channel yang ada aja. Ara masih dikamar mandi. Kayaknya dia mandi. Hotelnya cukup nyaman ternyata. Harganya terjangkau tapi fasilitas lumayan oke, mungkin karena masih baru, atau ane aja yang baru dengar.

"Ijaaaa, tolong ambilin sikat gigi lipat gue dong." Katanya dari dalam kamar mandi.

"Dimana?"

"Di tas yang paling luar."

Gila si Ara nyiapin perlengkapan mandinya juga. Niat banget dia nginap di kota ini rupanya.

"Nih woy."

"Buka aja Ja."

Ane membuka pintu kamar mandi dan melihat pemandangan yang bikin nggak konsen sama sekali. Ara sedang menghadap ke arah shower, baru shampoan sepertinya. Dan ada shampo turun dari rambutnya sampai ke punggungnya. Jelas dia lagi nggak pakai apa-apa, wong lagi mandi.

Ane jadi keingat sama Keket. Bedanya, kalau Keket busa shamponya lama sampai turun ke pantat, kalau Ara lebih cepat karena lebih pendek. Plus bemper belakangnya masih lebih berisi Keket. Tapi tetap aja punya Ara juga menggoda. Aduh bego banget. Haha.

"Ini gue taruh washtafel. Tenang aja nggak gue liat banyak Ra."

"Oke makasih ya Ja." Katanya sambil terus menikmati shower air hangatnya.

"Gue tunggu diluar sampai lo selesai mandi." Kata ane.

Ane lalu mengingat memori masa SMA kami. Sungguh seru. Banyak bumbu plus-plusnya juga. Tapi nggak sampai kejauhan. Salah satu yang paling ane ingat adalah ketika pelantikan paskib. Pelantikan itu biasanya menginap disekolah satu malam. Dan pada tengah malam akan diadain jurit malam. Jurit malamnya terbagi beberapa pos dan berakhir dilapangan sekolah.

Ane kelas 3 dan Ara kelas 2. Sama-sama senior waktu itu. Tapi Ara ternyata mengakali pembagian pos untuk sengaja bersama ane. Pos ane adalah pos terakhir yang mana akan memakan waktu yang sangat lama untuk nungguin kelompok-kelompok junior yang datang. Jadinya dimanfaatkan oleh ane dan Ara buat ngobrol-ngobrol. Obrolan kami dari yang ringan sampai yang menjurus. Pada akhirnya kami memutuskan untuk memisahkan diri agak jauh dari teman-teman yang ada di pos itu juga, dengan alasan mau cari jajanan diluar barangkali masih ada yang buka. Tapi kami malah masuk ke kelas. Haha.

Didalam kelas mulainya atraksi seru ala anak SMA. Ara kala itu liar banget. Dia yang memulai semuanya. Dari mulai menciumi ane, dengan ciuman kasar ala anak SMA, perlahan mulai menggerayangi tubuh ane dan berakhir pada pengeluaran rocky untuk pertama kali didepan cewek. Ane takut, Ara juga, tapi kami penasaran. Seingat ane, ane akhirnya juga membuka pakaian Ara. Kami waktu itu memakai pakaian latihan lapangan, bentuknya seperti kaos lengan panjang gitu. Jadi tinggal singkap aja keatas, keliatan semua. Kala itu cahaya sangat minim jadi ane nggak terlalu lihat dengan jelas bagaimana tubuh Ara dan gunung kembarnya. Ternyata cukup segenggaman ketika itu. Setelah sebelum-sebelumnya dengan para TTM (teman tapi mesra) terdahulu ane hanya pegang-pegang saja tidak sampai terbuka, kali ini dengan Ara ane merasakan sensasi memainkan gunung kembar untuk pertama kali dalam hidup ane.

Tidak terlalu besar, tapi cukup puas untuk dinikmati. Disitulah pertama kali ane juga merasakan yang namanya sayang setulus hati sama cewek, setelah sebelumnya kayak cuma cinta monyet yang nggak serius. Tapi ane takut karena memang alasan waktulah yang jadi penghambat utamanya. Sambil terus menikmati gunung kembar Ara, Ara juga bergerilya memainkan si rocky. Dari yang awalnya kasar sehingga ane berulangkali mengaduh, akhirnya Ara menemukan ritmenya dalam melakukan treatment. Puncaknya adalah kepala Ara ane arahkan mendekat ke si rocky dan sebelumnya ane bisikin "jilatin, terus diemut ya Ra, mau kan?”lalu Ara mengangguk. Pertama kali itu pula ane merasakan yang namanya sensasi baik. Haha.

"Ah seger banget mandi malam-malam gini Ja." Kata Ara mengagetkan ane.

"Aduh kaget gue. Keringin dulu tu rambut." Kata ane.

"Iya sabar."

Ara seperti nggak malu lagi ke ane, langsung membuka handuk yang dilingkarkan ke tubuhnya didepan ane. Laaaah. Nantangin ini sih.

"Ra, nggak malu lo ada gue?"

"Kan dulu lo udah pernah."

"Tapi kan gelap-gelapan, dikelas, dan digigitin nyamuk lagi. Haha."

"Ya sekarang kan terang, lo liat deh sepuas lo Ja."

"Ah elah lo Ra malah nggodain gue. Udah plis pakai lagi."

"Katanya suruh ngeringin rambut."

"Kan handuk ada dua, kenapa lo pakai satu doang? Ini mah alesan lo aja mau godain gue Ra. Elaaaah."
Kata ane sembari susah payah mengendalikan rocky.

"Udah Ja, lepasin aja rocky. Gue tau udah mulai kenceng tu." Katanya santai.

"Ara, lo kenapa jadi gini sih? Dulu lo kalem aja urusan kayak gini?"

"Anak-anak band yang jadi mantan gue yang bikin kayak gini Ja."

"Hah? Terus? Lo udah pernah ngapain aja?”

"Semua pernah, kecuali ML."

"Yakin lo? Hahaha. Tanggung bener."

"Karena gue maunya sama lo."

Ane terdiam. Antara bingung dan merasa beruntung. Merawanin anak orang?? Lagi?? OMG. Ini udah gila dan diluar ekspektasi ane banget waktu itu. Ane kayak kejebak sama dunia yang rusak banget waktu itu. Godaan ada aja. Setiap mau mulai hubungan yang serius, ada aja kayak gini nih.

"Kenapa Ja? Lo takut? Lo juga udah ML kan pasti sama mantan-mantan lo?" Tanyanya antusias.

"Ara, gue canggung bener ngomongin kayak gini sama lo. Seriusan. Kita nggak pernah ngomongin kayak gini Ra walaupun kita dulu sama-sama nakal dan nafsuan. Dan ini udah bener-bener kelewat batas Ra. Gue nggak mau band kita keganggu gara-gara urusan ginian doang. Plis Ra. Jangan rusak hubungan profesional kita. Gue banyak berharap sama lo diband ini Ra."

"Udah Ja, nggak usah muna jadi orang. Gue tau apa yang lo mau. Dan gue bisa janji kok, nggak akan ada gangguan di band karena urusan ini Ja."

Lalu Ara langsung menerjang ane yang lagi duduk di ujung kasur.

sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 22 lainnya memberi reputasi
21
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.