alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
30-08-2019 22:12
Sandi Rumput Misterius
Sandi Rumput Misterius


Tepat pukul setengah tujuh, kami berkumpul di tengah lapangan untuk melaksanakan apel pagi. Menurut kakak pembina, setelah ini kami akan melakukan penjelajahan. Wah, pasti seru!

Kami mendengarkan dengan saksama pengarahan yang disampaikan. Tak lama kemudian, kakak pembina membagikan peta kepada setiap ketua regu.

Ada dua belas regu--dari sekolah yang berbeda--yang mengikuti perkemahan ini. Kami harus bersaing menjadi regu terbaik untuk memperebutkan piala Bapak Camat.

Babak penjelajahan ini adalah kesempatan kami untuk menambah poin penilaian. Kemarin kami tertinggal dua puluh poin dari SMP Negeri 2--yang selalu menjadi rival sekolah kami--cukup berat sebenarnya untuk dikejar. Namun, rasa optimis selalu ada dalam dada kami.

Petualangan dimulai. Kami menyusuri jalan setapak sesuai petunjuk pada peta. Melintasi ladang-ladang jagung, ladang tebu, dan kebun sengon.

Kami terus berjalan tanpa banyak kata. Selain untuk menghemat tenaga, kami juga harus fokus mencari setiap petunjuk yang tertera pada peta.

Untungnya dalam regu ini setiap anggota memiliki keahlian yang saling melengkapi. Aku dan Rara menguasai semafor dan berbagai sandi. Iis dan Lintang mahir membuat tali-temali, sedangkan Mimi dan Hana punya ketrampilan pramuka lainnya.

Di pos pertama yang kami temui, seorang kakak pembina memberikan secarik kertas bertuliskan sandi rumput.

"Coba baca sekali lagi arti sandi ini!"

Rara ingin meyakinkan sekali lagi makna sandi yang kami dapatkan. Kutelusuri baris demi baris pada kertas petunjuk. Namun, artinya tetap sama.

RANTING KECIL DI ATAS RUMPUT. DENGAR DAN IKUTI SUARA SUNGAI. PERHATIKAN BATU BESAR DI SISI SUNGAI.

"Lihat itu! Ada ranting-ranting kecil di dekat pohon pisang itu."

Kami bergegas mendekati tempat yang ditunjukkan oleh Iis. Benar saja, ranting ini disusun sebagai penunjuk arah yang harus diikuti. Lalu kami kembali meneruskan perjalanan.

Dua puluh menit kami berjalan, belum ada petunjuk lagi. Ada jalan bercabang di depan. Lintang membuka peta, tapi petunjuknya agak susah dimengerti.

"Ingat gak sandi rumput kita tadi?" celutukku. "Kalian dengar suara aliran sungai itu?" Teman-temanku serempak mengangguk.

"Ya sudah, kita dekati sungai itu. Sepertinya memang peta tadi pun menunjukkan sungai, liat gambar ini." Rara memandang kami dengan sorot mata penuh keyakinan.

"Betul," sahut kami mantap.

Kami memutuskan mengikuti jalan ke kiri, karena sepertinya suara aliran air sungai terdengar dari arah itu. Dan memang benar, kini di hadapan kami ada sungai kecil yang sangat jernih.

"Lihat itu! Dekat batu besar itu ada kantung kain yang digantung. Menurut peta, ada petunjuk di sana," seru Mimi. 

Hana bergegas memeriksa isi kantung tersebut. Ia mengacungkan sebuah amplop kertas. Kami segera mengelilinginya, melihat lembar kertas itu berisi sandi rumput lagi.

JERNIH AIR SUNGAI MEMANTULKAN SINAR MATAHARI. LIMA PULUH LANGKAH MENANJAK. POHON KEMBAR ADALAH GERBANG.

"Kalian merasa aneh gak dengan sandi rumput yang kita temukan dari tadi?" ujarku mencetuskan rasa janggal yang kubatin sejak tadi.

"Maksudmu, In?" tanya Lintang dan Iis bersamaan.

"Biasanya di setiap tugas  penjelajahan yang kita ikuti selama ini, adalah menjawab pertanyaan seputar pengetahuan kepramukaan. Namun, kali ini kita hanya diarahkan menuju satu tempat ke tempat lain.

Teman-teman mengangguk mengiyakan.

"Lagi pula sejauh ini hanya satu pos saja yang kita temui."

"Bener, In ...," Sahut Mimi. "Dan dari tadi kita juga tidak bertemu dengan regu lain, meski kita berhenti cukup lama. Padahal jarak kita berangkat dari titik awal kan tidak terlalu jauh dari regu sebelum kita."

"Nah! Entah kenapa aku juga merasa kita pernah menemui tempat ini sebelumnya."

"Dejavu! Aku juga merasa demikian," seru Iis.

"Lalu ...?" sahut Hana tampak khawatir.

"Ya sudah. Kita ikuti saja petunjuk ini," tegas Rara si ketua regu.

Kami melihat ke seluruh permukaan sungai, mencari pantulan sinar matahari. Ternyata tempatnya di seberang. Beruntung ini sungai kecil yang tak terlalu dangkal. Jadi kami tak terlalu kesulitan untuk melaluinya.

Sesampainya di seberang sungai, ada jalanan setapak yang menanjak lumayan tinggi. Seperti petunjuk yang tertera dalam sandi rumput tadi. Jalan itu agak licin. Agak susah payah kami menaikinya.

Tak jauh dari ujung jalan kami lihat dua pohon berjejer layaknya pohon kembar, karena jenis dan ukurannya sama. Dan terlihat ada dua orang kakak pembina sudah menanti kami.

Sesampainya di hadapan kakak pembina, Rara segera melapor.

"Adik-adik sekalian, ini adalah pos terakhir. Kalian lihat dua pohon yang tumbuh sejajar seperti gerbang itu? Nah, lewatilah pohon itu tanpa menoleh ke belakang. Teruslah berjalan apapun yang terjadi! Ingat, jangan menoleh ke belakang!"

Sandi Rumput Misterius
ilustrasi

Arahan yang aneh. Mengapa tidak boleh menoleh ke belakang? Namun, kami menuruti saja apa yang ia katakan.

Kami berjalan membentuk satu baris menuju pohon kembar. Rara berjalan paling depan, diikuti Lintang, Iis, Mimi, aku dan Hana berjalan paling belakang.

Hal ganjil pun benar-benar terjadi. Satu per satu, Rara, Lintang, Iis dan Mimi seolah menembus suatu dinding yang aneh. Mereka menghilang dari pandangan begitu melewati dua pohon itu. Aku berhenti berjalan, merasa ragu dan takut.

"Han, kau lihat itu tadi? Mereka menghilang," bisikku tanpa menoleh.

"Iya. Tapi kita diminta terus berjalan tanpa menoleh tadi."

"Kok teman-teman tidak menyadari, sih? Tempat apa itu, ya?"

"Entahlah. Sebaiknya kita susul aja mereka."

"Tapi ...."

"Ayo, Dik, lekas jalan dan jangan menoleh!" teriak salah satu kakak pembina.

Meski masih merasa was-was, kuturuti juga perkataannya. Kulewati dua pohon itu dengan membaca doa-doa perlindungan dalam hati. Kurasakan Hana memegang bahuku. Lalu aku merasa menembus sesuatu, sebuah dimensi lain.

Di depan keempat temanku sudah menunggu dengan wajah kebingungan. Tempat ini penuh dengan puing-puing reruntuhan bangunan, tidak hanya satu tapi banyak. Saat aku menoleh, kedua pohon tadi telah lenyap.

"Kita ada di mana ini? Harus ke mana?" gusar Mimi.

"Mana petanya tadi?" tanyaku.

Lintang membentangkan kertas yang dipegangnya. Kami bersama-sama melihat peta. Namun, tak ada petunjuk lagi.

"Loh, kalian ini siapa dan dari mana?" sapa seorang bapak yang menuntun seekor sapi.

"Pak, kami ini pramuka yang sedang mengikuti perkemahan di lapangan Desa Ringin Kembar. Bisakah Bapak menunjukkan tempat itu?"

"Kemah pramuka? Dik, tidak ada pramuka yang sedang berkemah di sana."

"Tapi benar, Pak. Kami sudah empat hari ini berkemah di sana. Dan kami sedang melakukan penjelajahan."

"Dik, setiap hari saya melewati lapangan untuk menggembala sapi. Namun, tak ada acara perkemahan di sana.

Kami semakin bingung dengan situasi ini. Bagaimana bisa terjadi. Apakah kami tersesat? Oh, Tuhan.

"Ya sudah, kalau begitu saya antarkan saja adik-adik ini ke balai desa. Di sana kalian terangkan pada Pak Lurah apa yang telah kalian alami."

Kira-kira satu kilo meter kami berjalan, sampailah di sebuah bangunan balai desa. Bapak penggembala tadi berbincang sejenak dengan salah satu pegawai balai desa.

Pegawai itu mengajak kami ke ruang tamu. Ia memberi kami minum air mineral.

"Jadi adik-adik ini sedang berkemah di lapangan desa Ringin Kembar sini?

Kami mengangguk lemah, masih belum paham dengan apa yang terjadi.

"Coba ceritakan, kalian dari sekolah mana?"

Rara menjawab dengan suara lemah, "Kami dari SMP Negeri 1, Pak."

"Begitu?"

Aku memandangi seluruh ruangan, tak sengaja mataku tertumbuk pada kalender di dinding. Kalender yang dengan jelas menunjukkan tahun 2019. Bagaimana mungkin, sedangkan lima hari lalu kami masih menjalani tahun 2009.

Tamat

Malang, 30 Agustus 2019
Diubah oleh InaSendry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
liverd dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
30-08-2019 23:16
serem ya..
profile-picture
InaSendry memberi reputasi
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
celengan-bambu-bukan-rindu
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.