- Beranda
- Stories from the Heart
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati
...
TS
sandriaflow
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati

Quote:
Spoiler for Daftar Bab:
Diubah oleh sandriaflow 01-12-2020 19:11
rizetamayosh295 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
14.9K
134
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sandriaflow
#25
Bab 6: Kesepakatan & Waktu
REVAN
Di ruang sekretariat himpunan mahasiswa, Revan tengah melakukan rapat bersama dengan teman-temannya. Dia ditunjuk sebagai salah satu ketua pelaksana acara olimpiade Sosiologi tingkat Jawa Timur. Jiwa kepemimpinannya memang sudah terlihat sejak lama. Oleh sebab itu, dia sangat tegas dalam membagi tugas serta berambisius untuk menyukseskan acara ini.
Setelah rapat berakhir, Mega tiba-tiba mendekat ke arah Revan.
“Kamu ada waktu sebentar, Van?”
“Iya. Ada yang perlu dibicarakan?” ujar Revan ramah. Meskipun dia saat ini tengah berhadapan dengan Mega, namun dia tidak grogi sama sekali.
“Aku mau berdiskusi masalah pengajuan proposal untuk sponsor acara kita,” jawab perempuan itu sembari menunjukkan draf proposal yang sudah dibuatnya. Kebetulan, dia menjadi sekretaris pelaksana pada acara ini.
Revan mengajak Mega untuk mencari tempat yang pas untuk ngobrol, berhubung suasana ruangan sekretariat itu terlalu sempit dan pengap. Ia menawarkan beberapa rekomendasi tempat yang nyaman kepada Mega.
Perempuan itu memilih untuk berdiskusi di luar kampus, tepatnya di sebuah tempat makan yang cukup populer bagi kalangan mahasiswa. Selain harganya murah, menunya juga beragam dan enak.
Sembari makan, Mega bertanya terkait pihak-pihak mana yang akan menjadi tujuan pengiriman proposal. Sejujurnya, dukungan finansial dari pihak sponsor akan sangat membantu keuangan acara ini.
Revan berpikir sejenak dan menyarankan untuk mengirim proposal tersebut ke perusahaan minuman, lembaga edukasi, atau juga bank-bank lokal. Sementara itu, Mega mencatat dengan seksama apa yang diucapkan oleh Revan.
Selang beberapa waktu, pembicaraan membosankan itu pun akhirnya selesai.
“Eh, sebentar,” tiba-tiba tangan Revan mendekat ke wajah Mega. Perempuan itu kaget setengah mati ketika Revan mengusap bekas minyak makanan tadi yang masih ada di sekitar bibir Mega.
Revan tersenyum dan seketika membuat perempuan itu tersipu malu.
“Kamu sudah punya pacar?” tanya Revan spontan. Mungkin inilah waktu yang paling tepat untuk membicarakan hal ini dengan perempuan itu.
“Ehm, aku sekarang single, tapi…,”
Kata-kata perempuan itu menggantung dan membuat Revan tambah penasaran. Dia kemudian mengumbar senyuman palsu dan mengurungkan niatnya untuk berkata jujur.
“Mungkin lebih baik kita bicara yang lain,”
Mendadak, keadaan menjadi hening. Revan sedikit sungkan untuk meneruskan pembicaraan tersebut. Untuk memecah keheningan, Revan mencoba bertanya tentang tugas-tugas kuliah sebagai bentuk formalitas belaka.
Revan kemudian mengajak Mega pulang berhubung hari sudah mendekati larut malam.
****
Sepintar apapun menyembunyikan bangkai, suatu saat bau busuknya akan tercium juga. Kedekatan antara Revan dan Mega mulai diketahui oleh teman-teman mereka. Ada yang iri dan juga ada yang mendukung mereka. Tak terkecuali Dio yang juga menaruh perasaan terhadap Mega.
Suatu ketika, Dio mengajak Revan untuk ngopi di warung kopi. Awalnya, Revan sempat ragu karena ia sedikit takut jika akan terjadi percekcokan dengan Dio nantinya. Ia malas bertengkar hanya karena urusan perempuan.
“Ada apa, Bro? Tumben sekali kau mengajakku ngopi di sini,” Revan langsung ke inti permasalahan.
“Ah, tenang dulu, Van. Kau pesen kopi sana biar kita enak ngobrolnya,” jawab Dio ramah. Seketika itu, bayangan buruk Revan tentang kemungkinan baku hantam dengan Dio pun sirna. Dari raut wajah Dio, lelaki itu sepertinya tidak marah atau dengki dengan Revan.
Sesaat setelah kopi yang dipesan Revan datang, Dio pun mulai membuka pembicaraan.
“Kau ini kalau punya perasaan dengan Mega harusnya ngomong dari awal. Aku kan jadi tidak enak begini,” ujar Dio sambil tertawa.
“Aku pikir, ini akan jadi rahasiaku saja. Aku hanya takut pertemanan kita rusak karena perempuan,” jawab Revan sambil terkekeh.
“Kau sudah sejauh mana dengan dia?”
“Masih fase pendekatan, kau sendiri?” Revan bertanya balik.
“Idem,” jawab Dio singkat namun pasti.
“Bro, kau kalau memang suka dengan dia, aku gak masalah. Kita bersaing secara sportif dan jantan,” Revan berkata seolah memberikan tantangan kepada Dio dalam memperebutkan hati Mega.
“Rencanaku tadi sih mau bilang seperti itu, tapi kau malah yang bilang lebih dulu,” sahut Dio diiringi tawa kecil.
“Oke. Siapa yang berhasil mendapatkan hati Mega dialah pemenangnya. Yang kalah harus legowo dan mentraktir yang menang, bagaimana? Deal?” tanya Revan mantap. Sorot matanya terlihat tajam dan semangatnya menggebu-gebu.
“Deal,”
Kedua lelaki itu pun berjabat tangan dan telah membuat kesepakatan di atas meja warung kopi dengan cangkir kopi dan sebungkus rokok sebagai saksi. Mereka kini adalah rival – dalam percintaan.
IPUL
Ipul dan Ina sepakat untuk bertemu di warung cilok dekat SMP mereka dulu. Di warung itulah, Ipul pertama kali bertemu dengan Ina dalam sebuah kondisi yang kurang nyaman.
Waktu itu, dompet Ipul ketinggalan dan terpaksa ia harus berhutang. Kebetulan ada Ina di dekatnya waktu itu. Spontan, Ina waktu itu yang membayar kepada bapak pemilik warung itu. Ipul sedikit sungkan, tapi tak lupa mengucapkan rasa terima kasih kepada Ina. Namun, dari situlah hubungan mereka terjalin.
“Kau masih terlihat seperti yang dulu ya?” kata Ina. Wajahnya terlihat sangat senang karena bertemu dengan Ipul. Pertemuan ini merupakan kali pertama setelah mereka berpisah tiga tahun yang lalu sekaligus reuni.
“Kau juga sama,” balas Ipul. Kepalanya kini dipenuhi kenangan-kenangan masa lalu bersama Ina. Indah dan pahit yang berpadu menjadi satu dan berkecamuk di kepala Ipul.
“Kesibukanmu saat ini apa?” Ina kembali bertanya.
“Ya, tak ada yang spesial. Mungkin hanya kuliah saja sambil memikirkan rencana ke depan. Kau sendiri?” jawab Ipul santai.
“Kurang lebih sama sepertimu. Namun, aku kini aktif di salah satu komunitas literasi di Malang,”
Sembari berbincang melepas rindu, mereka menikmati cilok yang tadi mereka pesan. Rasa cilok itu masih sama seperti masa-masa itu. Bahkan terasa jauh lebih enak karena mereka jarang merasakannya.
Ipul jadi teringat alasan mengapa mereka dulu berpisah. Waktu itu, hubungan mereka sudah berada di ujung tanduk. Ina merasa sudah bosan dan ingin mengambil jeda sejenak. Di lain pihak, Ipul waktu itu juga hendak mondok ke salah satu pesantren di Jombang karena paksaan orang tuanya. Dia tidak mungkin lagi menjalani hari-hari dengan Ina seperti biasa.
Akhir cerita, mereka pun memutuskan untuk berpisah dengan cara baik-baik. Namun sebaik apapun perpisahan, pasti selalu ada luka yang menyertainya.
“Heh, jangan melamun,” suara Ina memecah lamunan Ipul.
“Maaf,” sahut Ipul pelan.
Setelah cukup lama bernostalgia di warung cilok itu, Ipul kemudian mengajak Ina jalan-jalan mengelilingi kota Malang.
Mereka berkeliling melewati alun-alun kota Malang kemudian ke alun-alun Tugu lalu ke kampung warna Jodipan. Dia ingin membuat hari ini terasa begitu spesial sekaligus mencari jawaban atas segala pertanyaan yang timbul di benaknya.
Mungkinkah Ina yang selama ini dia cari? Mungkinkah dia yang menjadi tempatnya untuk melabuhkan hati?
****
Malam harinya, Ipul berdiri sendirian di depan teras rumahnya. Dia menyeduh secangkir teh dan tak lupa menyiapkan cemilan untuk menemaninya. Pikirannya saat ini memang sudah cukup stabil, namun tetap saja pertanyaan itu belum terjawab.
Ditatapnya lamat-lamat foto-fotonya bersama Ina hari ini. Dia tersenyum, lalu merenung. Mendadak, ia menjadi ragu dengan dirinya sendiri. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa sedikit bersalah.
Mungkinkah yang dia lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan?
Ipul berpikir bahwa dia hanya mencoba lari dari kenyataan. Dia menghubungi Ina lagi karena dia belum menemukan seseorang yang tepat untuk dia. Seolah-ola, Ina hanyalah pelampiasan atas kekosongan hatinya saat ini.
Waktu memang telah merubah segalanya. Hatinya kini tidak benar-benar mengharapkan Ina. Perasaannya kepada perempuan itu memang sudah memudar dan untuk menumbuhkannya sekali lagi mungkin tidaklah mudah.
Meskipun Ina berkenan menerimanya kembali dengan tangan terbuka, tetap saja Ipul belum yakin sepenuhnya. Ia masih perlu waktu untuk berpikir jernih dan membuat keputusan.
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3