Kaskus

Story

deadtreeAvatar border
TS
deadtree
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
Halo,

sengaja aku buat akun baru untuk nulis cerita ini. Bukan karena apa-apa, aku gak mau ada yang tau siapa aku dan orang-orang yang akan kuceritakan disini. Sengaja juga gak daftar kreator, ahaha karena tujuanku nulis cuma pengen ngeluarin uneg-uneg yang aku simpen selama ini.

Cerita ini gak ada bagus-bagusnya, gak ada romantis-romantisnya, isinya cuma aku dan semua cobaan hidup yang kutelan sendiri dan akhirnya juga harus bangkit sendiri.

Quote:


Oke, aku mulai ya....

- Chapter 1 - Adik Ibuku
- Chapter 2 - Puber & Foto Mesum
- Chapter 3 - Kata Ibu, Aku Aib
- Chapter 4 - Aku dan Kakak Part 1
- Chapter 5 - Aku dan Kakak Part 2
- Chapter 6 - Ayah & Ibu
- Chapter 7 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 1
- Chapter 8 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 2
- Chapter 9 - Duniaku Abu-abu Part 1
- Chapter 10 - Duniaku Abu-abu Part 2
- Chapter 11 - Duniaku Abu-abu Part 3
- Chapter 12 - Babak Baru
- Chapter 13 - Sama Saja
- Chapter 14 - Mas Ibra
- Chapter 15 - Berawal Dari Twitter
- Chapter 16 - Aku Ini Murahan
- Chapter 17 - Gelap
- Chapter 18 - Duniaku Hancur
- Chapter 19 - Tuhan
- Chapter 20 - Kusut
- Chapter 21 - Selalu Begini Berulang-ulang
- Chapter 22 - Mulai Dari Nol
- Chapter 23 - Gereja dan Ustadz
- Chapter 24 - Kambing Hitam
- Chapter 25 - Cinta Yang Salah
- Chapter 26 - Selembar Perselingkuhan
- Chapter 27 - Tunas


SIDE STORY:
1 - Major Depressive Disorder
2 - Adara Putra [Part 1]

Prolog:

Namaku Kamila, saat ini umurku hampir 28 tahun. Berkeluarga? belum. Ingin berkeluarga? Ya, mungkin. Aku bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan Jakarta. Sejak umur 17 tahun, aku tinggal sendiri di kota ini. Tanpa satupun anggota keluarga atau kerabat jauh. Tak ada yang kukenal saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini 10 tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2009.

Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia. 

Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.

Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.

"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.

"Kenapa om?", tanyaku.

Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"

Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.

"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda. 
 "Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.

Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.


Ch.2: Puber & Foto Mesum
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.

Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.

Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).

Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat  tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.

2 menit berlalu, aku seperti mendengar bunyi-bunyian di depan pintu kamarku. Seperti bunyi gesekan ke pintu kamar. Jantungku mulai berdegup kencang, di rumah sedang tak ada siapa-siapa seingatku. Lalu siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarku? Kulihat di celah bagian bawah pintu, nampak bayangan orang yang berdiri mondar-mandir namun tak ada suara hanya dengusan nafasnya yang terdengar sedikit berat. Aku semakin panik, saat itu aku hanya bisa memikirkan maling yang masuk rumah karena beberapa tahun lalu rumahku juga kemalingan dan malingnya membawa pisau hampir menyerangku yang baru saja tiba di rumah saat itu.

Selang beberapa detik diantara kepanikanku, tiba-tiba cahaya putih itu kembali muncul di ventilasi kamar. Kali ini diiringi dengan bunyi 'ckrekkk' berkali-kali, yang menyadarkanku kalau itu ternyata flash kamera. Aku semakin panik, ada orang memotretku dari luar, dan sialnya posisiku saat itu setengah telanjang. "MAMPUS", gumamku dalam hati. Aku gemetaran, tak tau harus berbuat apa. Badanku kaku, aku hanya bisa pura-pura tak tau apa yang terjadi saat itu. Tapi tak dapat dipungkiri, aku sudah mau hampir menangis berharap orang itu cepat-cepat pergi. Namun disela-sela ketakutanku, tiba-tiba aku mendengar suara,

"Ngapain Mas Sapri? Ventilasinya rusak?", tanya orang itu. Aku tak mendengar sahutan dari orang yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.

'Anj***********ng', umpatku lirih. Orang yang daritadi memotretku ternyata Om Sapri. Mau apa dia dengan foto-fotoku? Apa dia lupa kalau aku ini anak dari saudara yang sudah membesarkannya? Kenapa dia malah bertindak tidak senonoh seperti ini?

Banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalaku, tanpa kusadari aku mulai menangis tersedu-sedu di dalam kamar tanpa berani keluar. Sampai malam tiba dan kakak serta papaku pulang, aku masih belum berani keluar kamar.

Papa mengetuk-ngetuk pintu kamarku bertanya kenapa aku mengurung diri. Aku takut, tapi kupaksakan keluar. Kubuka pintu kamar perlahan, masih dengan sedikit terisak. Papa kebingungan melihatku yang amburadul dengan rambut acak-acakan dan mata yang sembab.

"Kenapa dik?", tanya Papaku.

"Gak kenapa-kenapa pa, cuma banyak PR adik capek", sahutku masih dengan sedikit bergetar.

Papa mengelus kepalaku pelan dan memelukku. Dia menyuruhku untuk segera mandi, berganti pakaian dan mengajakku makan malam. Sepanjang makan malam, aku diam membisu. Tak ada sepatah kata yang berani kukeluarkan.

Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali ceria. Aku tak lagi memikirkan apa yang terjadi, yah namanya anak sekolah. Seperti biasa, pukul 14.00 aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk melanjutkan novel teenlit yang belum selesai kubaca. Di rumah juga sepi, hanya ada aku dan beberapa tukang. Tak lama setelah aku pulang, kakakku juga pulang dari sekolahnya. Dia langsung lari ke ruang keluarga dan bermain game konsolnya yang baru dibeli beberapa hari lalu. Kubiarkan sajalah, fikirku. 

Aku langsung masuk ke kamar, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Hari ini terlalu panas dan aku terlalu gerah untuk langsung baca novel, karena itu kuputuskan untuk mandi dan makan siang dahulu.

Kamar mandiku terletak di belakang ruang keluarga, di area dapur bersih menuju ke dapur kotor dan di depan kamar mandi terdapat lorong selebar 2 meter yang cukup gelap jika tidak dinyalakan lampu. Ditengah-tengah aktifitas mandiku yang berisik karena aku juga bersenandung, lagi-lagi aku terkejut dengan cahaya putih yang muncul sekelebat di atas ventilasi pintu kamar mandiku. Aku langsung panik, "Anj*ng, aku telanjang loh ini! Om Sapri gak kapok-kapok!", umpatku dalam hati. Dengan cepat aku bersembunyi di pojok belakang pintu kamar mandi agar dia tak bisa memotretku dari sela ventilasi. Bunyi kamera itu masih terus kudengar sekitar 3-4 kali selama aku bersembunyi dan kemudian hening, tak ada suara apa-apa. Dan sesaat Om Sapri memanggilku, "Dik? Kamu di kamar mandi? Om baru mau pipis nih. Masih lama gak?", tanyanya menyelidik.

Tak ada kata yang keluar dari mulutku, aku diam tak berani bersuara. Om Sapri kembali memanggil, "Dik? Kamu gausah takut Om cuma nanya", timpalnya lagi.

'Hah? Takut? Apa-apaan sih? Apa maksudnya? Kenapa dia malah jadi seperti om-om cabul yang mau merudapaksaku?', aku masih tak bersuara sama sekali, hanya bisa menangis dalam diam dan ketakutanku. Jantungku berdegub kencang sekali dengan ketakutanku diapa-apakan dan tanpa kusadari sudah 1 jam aku mengurung diri di dalam kamar mandi sampai kakakku menggedor-gedor kamar mandi dengan paniknya, "Dik? Dik??!!! Kamu pingsan? Mandi kok gak kelar-kelar? Dikkk????".

"Iya kak, aku cuma lagi gosok-gosok kaki", sahutku lega. Kakakku ternyata masih ada di luar.

"Yaudah cepetan mandinya, kita makan siang. Kakak laper", jawabnya.

"Iya kak, ini udah kok".

Aku tak berani menatap Om Sapri setelah itu, aku juga tak berani menceritakan pada siapa-siapa perkara hal ini. Beberapa bulan berlalu semenjak itu, tak ada lagi teror foto-foto itu, aku fikir masalah sudah selesai. Mungkin aku yang terlalu panik.

Tapi ternyata? Belum, belum selesai. Masih ada yang akan terjadi di depanku....

AKAN ADA KELANJUTANNYA, PANJANG GAN HAHA.

AKU AKAN CURHAT BERKALA, KARENA SAMBIL KERJA.
NAMANYA JUGA CURHAT :").

MOHON MASUKANNYA KALAU ADA KEKURANGAN, TRIMS.

 



Diubah oleh deadtree 20-12-2019 10:59
qisatriaAvatar border
pencarilendi170Avatar border
jamalfirmans282Avatar border
jamalfirmans282 dan 61 lainnya memberi reputasi
60
130.5K
629
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
deadtreeAvatar border
TS
deadtree
#92
Chapter 9 - Duniaku Abu-Abu Part 1

Now Playing: A Bad Dream - Keane

Sudah 6 pekan berlalu, aku sudah mengikuti perkuliahan sejak saat itu. Tidur di bangsal asrama bersama teman-temanku lainnya. Aku tak pernah buka suara tentang apa yang terjadi sejak itu, pun Mas Ibra hanya mengunjungiku seminggu sesekali untuk mengecekku, dia terlihat begitu ingin melindungi sejak malam itu dan aku membiarkannya melakukan hal itu. Aku menjalani hari-hariku seolah-olah tak ada yang terjadi, seolah-olah aku ini maba biasa yang tak punya beban hidup. Tapi sejak itu aku jadi tak banyak bicara, di kampus aku dikenal sebagai sosok Mila yang pendiam dan menutup diri, bukan lagi sosok Mila yang ceria dan penuh canda tawa.
Beberapa hari lalu Mas Ibra mengunjungiku dan memintaku untuk tidak lagi tinggal di asrama, dia tak mau aku merasa sendiri di keramaian. Dia memintaku untuk tinggal indekos di rumah orangtuanya. Aku tertarik dengan tawarannya, karena jujur aku tidak nyaman harus terus jadi sang pendiam diantara riuh rendahnya asrama mahasiswi saat itu. Mas Ibra senang sekali saat aku mengangguk setuju, dia segera menghubungi Ayah dan Ibu untuk meminta izin. Ayah dan Ibu mengizinkan namun dengan banyak persyaratan terutama dari Ayah, Mas Ibra diminta mengawasiku penuh agar tidak terjerumus di liarnya pergaulan Ibukota. Aku hanya tersenyum, 'bodohnya Papa, anaknya sudah rusak padahal' gumamku dalam hati.
Aku pindah ke kost baruku 1 minggu setelah Ayah meminta izin pada dekanku. Mas Ibra membantuku pindahan saat itu, aku ditempatkan di kamar berukuran 5x4m dengan kamar mandi di dalam. Di ruangan itu ada 1 tempat tidur, 1 lemari jati besar, meja belajar, meja rias, dan ada sofa 1 sisi yang muat untuk 3 orang dengan tv yang dipasang di dinding kamar di depan sofa, tak ketinggalan kamar mandi di samping pintu kamarku. Aku tanya ke Mas Ibra berapa biaya sewanya, Mas Ibra hanya mengerenyit dan berkata, "Kamar ini bukan kos sebenarnya, ini kamarku dulu. Yang kamar kos itu yang 5 di depan sana. Haha", jawabnya.
"Loh, terus berapa harganya? Aku cuma punya budget minim untuk tempat tinggal lho kata Mamaku", sahutku panik.
"Ih, Papamu udah bayarin untuk 1 tahun. Katanya harganya sama aja kayak kamu tinggal di Asrama. Ya udah budget asrama dialokasikan ke kost ini", jawabnya panjang lebar.
"Bener ya Mas? Mas gak bohong?", tanyaku menyelidik.
"Nggak suer! Lagian kenapa sih? Budgetmu piroo? Traktir Mas makan aja ntar malem ya biar ga ditekuk terus mukanya", kelakarnya lagi.
"Hhhh, yaudah. Aku traktir deh, pecel ayam aja ya yang di bawah tol. Hehe"
"Wah enak tuh, oke baik tuan putri. Yuk beberes dulu biar bisa makan", ajaknya.

Aku dan Mas Ibra kemudian membereskan kamar kosku, tak butuh banyak waktu karena barangku juga masih sedikit. Hanya 2 kardus buku-buku kuliah, setumpuk pakaian, laptop dan perintilan remeh temeh lainnya. Mas Ibra juga sudah meminta asisten rumah tangganya untuk membereskan kamar sebelum aku tiba, jadi aku tak perlu terlalu lama mengemasi kamar.
Kamar itu nampak cantik, catnya berwarna abu-abu terang dengan jendela kaca besar setinggi aku di samping meja belajar menghadap ke halaman rumah orangtua Mas Ibra. Ada karpet bulat bermotif timur tengah di dekat sofa dan beberapa lukisan pemandangan yang terpajang rapi di dinding kamar.
Mas Ibra ini umurnya beda 6 tahun dariku. Anak orang berada, Ayah dan Ibunya tinggal di Australia. Mas Ibra sendiri sebenarnya tinggal di rumah ini sendirian karena dia anak tunggal. Hanya ada beberapa asisten rumah tangga, 1 sekuriti dan 1 supir yang menemaninya setiap hari. Mas Ibra memutuskan tinggal terpisah dengan orangtuanya karena dia ingin mandiri (meski tetap diberikan fasilitas mewah). Mas Ibra tidak ingin juga meneruskan bisnis Ayahnya, dia lebih suka bekerja sendiri, biar nanti bisa beli rumah pribadi katanya. Aku iyakan saja, karena sebenarnya Mas Ibra memang orangnya tidak terlalu mewah. Dia malah senang sekali menemani Ayah dan Ibu di pasar induk saat kebetulan kedua orangtuaku berkunjung ke Jakarta. Selain bekerja sebagai Manager Hotel, Mas Ibra punya bisnis pemasok pakaian grosir di daerah Tanah Abang, dan Ibu jadi pelanggan tetapnya. Karena Ibu dasarnya senang ngobrol, dan Mas Ibra juga ramah makanya Ibu, Mas Ibra dan Ayah bisa akrab sekali.

"Sudah selesai nih, kamu keringetan banget ih kucel. Mandi gih, abis mandi kita jalan ke warung pecel. Mas udah laper".
"Iya mas." jawabku. Mas Ibra keluar dari kamarku dan aku segera mandi. Selesai mandi, aku berdiri di depan standing mirror yang kuletakkan di pojok ruangan. Kuperhatikan pelipisku, sudah mulai memudar lukanya. Mungkin nanti akan menyisakan bekas kehitaman, tak apa. Aku bisa siasati dengan krim kulit. Di kampus, beberapa teman dan dosen pernah menanyai wajahku yang babak belur saat hari pertama OSPEK. Aku berdalih bahwa aku baru jatuh dari tangga, mereka setengah tak percaya dan aku tak perduli. Ehehe

15 menit berlalu, Mas Ibra mengetuk pintu kamarku dan kemudian mengajakku pergi. Kufikir kami hanya akan berjalan kaki, ternyata dia memintaku naik ke mobilnya dan mengajakku pergi ke daerah Cikini. Jujur, kadang aku masih setengah takut jika harus pergi dengan laki-laki setelah insiden itu. Aku takut akan terjadi hal-hal mengerikan lagi padaku, tapi aku disini tak punya siapa-siapa lagi yang bisa kupercaya selain Mas Ibra.
Di perjalanan Mas Ibra tak banyak bicara, dia hanya diam dan fokus menyetir. Akupun tak ingin mengganggunya. Setelah sekian jauh perjalanan, Mas Ibra berhenti di sebuah restoran keluarga yang nampak sepi. Dia mengajakku turun dan masuk ke restoran. Mas Ibra membantuku memilihkan menu dan bilang kalau dia yang akan mentraktirku, sambil terkekeh-kekeh. Kami makan sambil menceritakan banyak hal, mulai dari perkuliahanku dan pekerjaannya. Seusai makan Mas Ibra raut wajahnya mulai nampak serius..
"Dik, eh Mas panggil Mila aja ya?", dia membuka obrolan.
"Iya Mas, gak apa. Panggil Mila aja." Jawabku.
"Gini, Mas ini gak mau kamu bete dan tertekan terus makanya Mas berusaha bikin Mila seneng terus.", lanjutnya.
"Iya, makasih Mas.", aku mulai aneh.
"Sebenernya, Mas selama ini udah nemuin titik terang siapa dalang dari masalah kemarin..."
Aku terdiam, jantungku tiba-tiba berdegub kencang seperti melihat setan. Kepalaku terasa panas, mataku mulai berair. Kutundukkan pandanganku agar tak ada orang yang melihatku.
"Orangnya sudah sama temennya Mas, kalau Mila mau Mila boleh ketemu dengannya. Mila mau ngapain dia juga terserah Mila, Mas akan dampingin Mila terus. Karena Mas tahu, Mila gak mau ini dibawa ke kepolisian. Mas ngerti Mila maunya Mama sayang terus sama Mila" lanjutnya lagi.

Aku semakin panik, banyak hal berputar-putar di kepalaku. Aku ingin sekali bertemu dengan pelakunya, tapi aku juga sebenarnya sudah tidak kuat dengan diriku sendiri. Bagiku apa yang kurasakan sekarang sudah terlalu berat, dari aku kecil sampai sekarang, aku diam dan tak membahas masalah itu karena aku tak mau gila dibuatnya. Tapi, aku sendiri tau bahwa aku harus menyelesaikan masalahku ini. Tak bisa kudiamkan begini saja dan membiarkan semuanya berlarut-larut.
Akhirnya aku hanya bisa mengangguk pelan, Mas Ibra pindah duduk di sampingku dan memelukku erat. Aku menangis dalam diamku.

Setelah Mas Ibra selesai membayar makanan kami, aku dan Mas Ibra bergegas menuju mobil. Kami pergi ke sebuah tempat di daerah pinggir Jakarta mengarah ke Bekasi. Mas Ibra menghentikan mobil di depan sebuah rumah tua yang sudah lama tak dihuni, di sekeliling nampak sepi karena saat itu juga sudah pukul 11 malam. Mas Ibra mengajakku turun, masuk ke rumah tua itu dan menyalakan lampu. Aku kaget, karena di ruang tamu rumah itu sudah duduk seorang lelaki yang diikat tangan dan ditutup kepalanya. Disampingnya ada 2 orang yang aku kenali, mereka teman Mas Ibra yang sering menemaninya menjengukku di asrama. Mas Ibra mendekati kedua temannya dan berbicara sebentar, sejurus kemudian Mas Ibra menatapku dan langsung membuka penutup kepala lelaki itu.

Aku hanya bisa terhenyak, tak bersuara. Badanku gemetaran, jantungku kembali berdegub kencang, panas sekali rasanya di dalam ruangan itu. Emosiku ingin meledak tapi aku terlalu bergetar untuk langsung berteriak.
Ricky, dialah yang duduk di kursi itu dengan tangan terikat. Dia menunduk namun matanya melirikku tajam.
"Ngomong dong, apa mau digampar?", Mas Ibra memecah keheningan.
"NGOMONG ANJ*NG!!!!", teriak Mas Dika salah satu teman Mas Ibra.

Ricky masih diam dan tetap menatapku, aku tak bersuara sedikitpun, bibirku bergetar dan air mataku mengalir. Mas Ibra segera meraih pundakku dan mengelus kepalaku perlahan. Mas Dika dan Mas Kris nampak kesal dan menempeleng Ricky bersamaan.
"Aku.......aku yang jadi dalangnya Mil", Ricky akhirnya berbicara, dengan dingin dan penuh keterpaksaan.
"LANJUTIN!!", teriak Mas Kris.
"Aku kemarin sengaja.......Hhhhhhh, aku butuh uang buat kuliah dan mereka lagi nyari cewe virgin yang bisa dipake. Tapi sumpah Mil, aku nyesel sumpah.", Ricky menjawab dengan raut muka ketakutan.
Mas Ibra nampak emosi dan menendang Ricky tepat di bagian dada, Ricky terjengkang ke belakang bersama kursinya. Aku menahan Mas Ibra agar tak melayangkan tangan yang sudah dikepalnya itu.
"Ka..kamu, kamu jual aku? Untuk kuliah? Seberapa sih hutangmu?", tanyaku gemetaran sambil menahan Mas Ibra yang makin emosi. Ricky didudukkan lagi.
"3 Juta Mil...uhukkkkk!", jawab Ricky terhenti karena batuk sesak yang dia rasakan berkat tendangan Mas Ibra.
Aku tak menjawabnya sama sekali, aku berlari keluar dan menangis sejadi-jadinya di gelapnya halaman rumah tua itu. Mas Ibra tak menyusulku, aku hanya mendengar bunyi tendangan dan kayu yang mengenai tubuh orang. Aku tak juga ingin melerai mereka, tak juga ingin pergi dari situ. Aku menangis sejadi-jadinya, tangisan yang kutahan hampir 2 bulan terakhir. Rasa sakit saat itu masih tersisa di tubuhku, aku sudah tak lagi perawan. Aku dirusak banyak pria, yang bahkan aku tak tahu siapa mereka. Hanya karena uang 3 juta rupiah yang kalau dia minta tolongpun akan kubantu. Di belakangku, Ricky masih dipukuli dan Mas Ibra berteriak-teriak menginterogasinya. Aku tak beranjak dari tempatku menangis, aku masih menyesali kenaifanku dan ketololanku sendiri.

1 Jam berlalu, Mas Ibra menemuiku di depan rumah. Dia tak berkata sepatahkatapun. Memapahku ke mobil dan segera menyalakan mobilnya keluar dari pekarangan rumah itu. Kulihat dari kejauhan, Ricky diseret ke arah mobil Mas Dika. Aku tak tahu dibawa kemana dan akan diapakan dia. Aku diam seribu bahasa, sampai deru mobil membawaku kembali ke kost. Mas Ibra menuntunku masuk ke kamar, menawariku minum dan memintaku untuk tidur. Dia menungguiku di sofa, sibuk dengan handphone Blackberrynya, mengetik sesuatu. Aku lelah sekali hari itu, entah pukul berapa aku benar-benar terlelap dalam linangan air mataku.
Diubah oleh deadtree 29-08-2019 13:51
valbo
nomorelies
pulaukapok
pulaukapok dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.