- Beranda
- Stories from the Heart
Drama Di Tengah Jurit Malam
...
TS
fanniajah
Drama Di Tengah Jurit Malam

Selesai sudah tugas kami kali ini sebagai dewan Ambalan untuk mengecek jalur untuk jurit malam, yang akan digunakan untuk malam ini. Kami anak anak kelas 2 SMA yang dipilih sebagai dewan Ambalan mendapat tugas tersebut dalam kemah yang diadakan untuk anak anak kelas 1. Jalur yang kami buat untuk jurit malam nanti akan melewati sawah, pinggir sungai dan melewati beberapa rumah kosong yang dikelilingi pohon besar. Kami para dewan Ambalan akan berjaga di pos pos yang sudah sediakan, masing masing pos dijaga oleh 2 dewan Ambalan. Bersama Brama aku mendapat tugas berjaga di pos yang lokasinya tepat dibawah pohon besar.
Sekitar pukul 11 malam, kami semua bersiap siap untuk melakukan kegiatan yang biasanya bikin para siswa dag dig dug, karna takut kesurupan, atau takut diganggu oleh makhluk astral. Sebelum mereka memulai kegiatan ini, kami berpesan "Sering sering berhitung yah, jangan sampai anggota kalian bertambah atau berkurang." Semacam pesan agar mereka berhati hati yang sebenarnya kami sampaikan untuk menakut nakuti mereka. Hehe sedikit jahil nggak apa apa kan.
"Kak Dimas" panggil salah satu adik kelas kami, Ayu. Ia menghampiri kami sebelum kami mulai berjalan menuju pos.
Yahh, namaku Dimas. Dimas Arya Nugroho. Teman temanku bilang aku adalah anak yang jahil. Hampir teman teman dekatku sudah pernah merasakan kejahilanku. Seperti mengirim surat cinta kepada salah satu kakak kelas tercantik yang kuatas namakan temanku karna kudengar mereka lagi PDKT, hingga akhirnya merekapun pacaran. Nah seharusnya mereka berterimakasih dong atas kejahilanku ini. Pernah juga aku memasukan cacing dalam tas temanku yang perempuan hingga merekapun marah marah padaku, tapi aku rasa kejahilanku masih dalam batas wajar.
Hingga suatu hari, pernah aku memasang suara nyai kunti tertawa dari ponselku ketika Rianti temanku, tengah berada didalam kamar mandi yang kala itu sendirian. Hingga akhirnya dia pingsan didalam kamar mandi dan tak kusangka keesokan harinya setelah kejadian itu ia jatuh sakit. Karena perbuatanku itupun aku dijatuhi hukuman. Ada rasa sesal dihati, akupun merasa bertanggung atas kejadian itu. Dan sebagai permintaan maaf aku membantu Rianti mengerjakan tugas Sekolah yang ia lewatkan saat absen masuk Sekolah sewaktu sakit. Semenjak saat itu aku tidak sejahil dulu, tapi kalo sedikit sedikit bolehlah..
back to percakapan tadi.
"Kakak hati hati yah." Lanjut Ayu, namun hanya ku balas dengan anggukan serta senyuman kecil saja.
"Iyaa kamu juga hati hati yah, jaga diri baik baik." Brama ikut menimpali dengan senyuman kecil, yang mungkin disertai rasa cemburu dihatinya, aku cukup mengerti akan itu. Namun Ayu tidak menimpali sepatah katapun ucapan Brama sebelum ia berlalu.
"Sabar ya Bram, kata orang semua ada tanggal mainya kok." Ucapku, seraya menghibur teman dekatku itu sambil berjalan menuju pos yang ditugaskan untuk kami.
Satu setengah jam kami berjaga di pos aman aman saja, menjelang dua jam setelah sekilas sepoi angin yang cukup kencang berlalu mengibas dedaunan pohon membuat suasana menjadi berubah hingga kami merasa sedikit tak nyaman. Aku dan Brama yang sedari tadi anteng adem ayem pun mendadak merinding seketika.
"Dim, lo ngrasain hawa hawa nggak enak nggak sih, ko gue mendadak merinding yah." Tanya Brama, teman sebangku ku.
"Gue juga ngerasain Bram, kenapa tiba tiba suasana jadi sunyi banget yah." Jawabku
"Udah positiv thinking aja deh." Lanjut Brama, kamipun mencoba tetap tenang.
sumber gambarTak lama kemudian sayup sayup kami mendengar suara rintihan orang minta tolong, "kak tolong kak, kaki aku sakit." Entah itu suara perempuan atau laki laki, tapi ko kaya suara banci.
Suara itu dijawab oleh Brama, "siapa yah, kalo sakit sini istirahat dulu aja."
Kami langsung mengecek keadaan sekitar, siapa kira kira yang minta tolong tadi. Namun tak satupun manusia yang kami temukan saat itu.
"Nggak ada siapa siapa Dim." Tanya Brama mulai merasa nggak nyaman.
"Iya Bram, sudahlah biarin dulu, mungkin ada seseorang yang mau ngerjain kita kali." Aku mencoba meyakinkan Brama yang kala itu sudah mulai berpikiran kalut.
Kurang dari lima menit kemudian, datanglah regu yang dipimpin oleh Ayu memecah keheningan kala itu. Brama pun terlihat lega, begitu juga denganku.
"Apa kalian tadi yang teriak minta tolong sama kami..? tadi ada yang minta tolong kaki nya sakit katanya." Tanya Brama kepada Ayu dan kawan kawanya.
"Hah kami minta tolong, kita nggak ada minta tolong kak." Jelas Ayu dengan ketus
"Jangan bohong kalian, sebelum kalian datang ada yang teriak minta tolong." Aku menimpali pertanyaan Brama yang dijawab ketus oleh Ayu sang ketua Regu.
"Serius kak, beneran bukan kami kok. Mungkin dari regu lain kali kak." Jawab Ayu dengan nada lembutnya.
"Masa aku ngerjain kakak sih kak, nggak mungkin aku ngelakuin itu ke kakak." Lanjut Ayu dengan suara lirih kepadaku.
"Giliran Dimas yang nanya aja jawabnya lembut." keluh Brama berbisik padaku. Ayu gadis cantik yang centil itu selalu berusaha mencari perhatian dariku, sejak beberapa minggu lalu saat kukirim surat yang berisikan ungkapan cinta kepadanya, namun karena lupa menyertakan nama Brama sebagai sang pemilik surat tersebut ia mengira surat itu adalah ungkapan cinta dariku. Padahal aku sudah menjelaskan yang sebenarnya, tetap saja ia bertingkah seperti itu. Duuh maaf Ayu, kamu bukan tipeku.
Sepertinya memang bukan mereka yang meminta tolong tadi, akupun membiarkan regu itu melanjutkan perjalananya kembali. Namun belum lama setelah regu yang dipimpin Ayu berlalu, suara tadi kembali terdengar.
"Kak, tolongin kak udah sakit banget." Suara rintihan itu terdengar lagi.
"Siapa sih Dim, suara yang minta tolong itu." Brama kembali bertanya padaku.
"Ya mana aku tahu Bram, yuk kita cek lagi." Jawabku
Akan tetapi suasana masih sama, tidak ada siapa siapa disekitar sini. Kamipun kembali keposisi tadi lagi. Namun suara yang tadi agak kecil sekarang kembali terdengar dengan suara yang lebih kencang dan jelas.
"Kak.., tolongin kak cepetan, udah nggak kuat nih." Rintihan suara itu cukup jelas.
"Wooy siapa sih, jangan macam macam sama saya yah!! nggak lucu isengnya." Teriaku membalas suara tadi.
"Tuh kan ada lagi Dim, padahal nggak ada orang, apa kita balik ke tenda aja." Brama makin tak karuan.
"Tahan dulu deh Bram, nanggung tinggal beberapa regu doang yang belum datang, kalo kita balik ke tenda siapa yang jaga pos ini, masa kita lari dari tanggung jawab cuma gara gara suara sialan tadi." jawabku yang mencoba tetap bersikap pemberani, gengsi aja kalo nanti diledek anak jahil tapi cemen. Dan tiba tiba...
"Gubraaakkk...." suara itu sangat kencang sekali
"Aaaahhhhhhh..." Sontak kamipun teriak karna kaget.
Tak lama kemudian terdengar cekikikan suara orang tertawa cukup keras.
"Loh kalian.." Ucap Brama, rupanya ada Bagas dan Bagus menjatuhkan diri dari atas pohon. Mereka pun mendatangi kami.
"Jadiii, suara minta tolong tadi tuh kalian?" tanyaku kepada mereka.
"Iyaa itu kita, puas kali kita ngerjain kalian." Ucap Bagas diiringi dengan gelak tawa puas.
"Jadi kalian ngerjain kita, ahh nggak lucu kalian." Tanya Brama
"Tapi kalian takut kan tadi." Tanya Bagas
"Dikit...., buktinya kami tetap bertahan, Ya kan Bram." Untung saja aku tidak mengikuti saran Brama yang meminta balik ke tenda, gengsi kali aku.
Rupanya Bagas dan Bagus teman sekelas kami, sudah berniat melakukan itu. Entah apa maksud dan tujuanya.
Kini selesai sudah tugas kami berjaga di pos setelah regu terakhir datang dan menyelesaikan tugasnya. Kami berempat pun bergegas kembali ke lokasi kemah.
"Jauh juga yah rute jurit malam kali ini." Ucap Bagus.
"Nggak apa apa lah, yang penting nggak nglewatin kuburan." Brama menimpali ucapan Bagus.
"Emang lu yakin Bram, nggak nglewatin kuburan." Balas Bagas
"Yakinlah, kita kan udah ngecek tadi siang, ya kan Dim." Ucap Brama, ketika sedang asyik berbincang bincang, tiba tiba pemandanganku dikejutkan sosok perempuan berbusana putih dibawah pohon besar.
"Eehh guys.. itu apaan yah, kok kaya kuntilanak" Jari telunjuku mengarah ke pohon besar yang berdiri kokoh diantara rumput rumput segar.
sumber gambar"Halah palingan ini kerjaan kalian berdua lagi kan." Ucap Brama menuduh Bagas dan Bagus.
"Hah kami..?" Mereka menjawab serentak seakan mengelak, belum sempat menjelaskan, tanpa takut Brama langsung menghampiri sosok perempuan itu. Bermaksud ingin membuktikan ucapanya. Sementara ketika Brama menuju sosok perempuan itu kami telah menyadari bahwa dekat pohon besar itu adalah kuburan yang sudah ditumbuhi rumput.
"Dim kalo itu setan beneran gimana?" Tanya Bagas
"Loh, emang itu bukan rencana kalian." Jawabku.
"Ya bukan lah Dim." Bagas dan Bagus pun menjelaskan bahwa sosok perempuan itu bukan bagian dari rencananya.
"Kalo bukan kerjaan kalian, brati dia..???"
"Se..setaaaann...." Bagas dan Bagus yang sedari tadi diposisi siap untuk lari, akhirnya mereka lari terbirit birit.
"Braaam larii..." Teriaku memberi tahu Brama yang kala itu sudah dekat dengan sosok perempuan berbaju putih itu.
"Hiii hii hi..." Sambil tertawa sosok perempuan tadi tiba tiba terbang.
anasabila dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.3K
10
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fanniajah
#3
Quote:
Silahkan gaaan... Terserah imajinasi agan ajah dah

0
