Kaskus

Story

ladeedahAvatar border
TS
ladeedah
The Way You Are
Quote:




Friendship is not always about finishing each other's sentences or remind you to the lyrics you forget. Many times, friendship is about how fluent are both of you in speaking silence.

-- Maxwell.




Diubah oleh ladeedah 08-09-2019 07:30
someshitnessAvatar border
bukhoriganAvatar border
evywahyuniAvatar border
evywahyuni dan 11 lainnya memberi reputasi
12
25.4K
185
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
ladeedahAvatar border
TS
ladeedah
#75
A Broken Heart
Quote:


Mengapa pria lebih jarang menangis dibanding wanita? Alasannya tentu saja tersedia secara naturedan nurture. Secara nurture adalah karena level hormon prolaktin pada pria lebih rendah dibanding wanita. Hormon prolaktin adalah hormon yang bertanggung jawab terhadap air susu Ibu tentu saja, tapi lebih dari itu, hormon prolaktin berperan besar dalam hal sensitivitas maternal. Wanita dianggap terlalu menggunakan perasaan, terlalu lembut, baperan, dan yadda yadda! Tentu saja karena hormon ini tinggi levelnya di tubuh wanita dibanding pria. Menangis adalah salah satu eksresi yang diakibatkan oleh hormon ini.

Namun secara nature dan hasil evolusi, pria diidentikan sebagai Alpha yang kerjanya berburu, menghidupi keluarganya di gua, seseorang yang harus selalu kuat dan menjadi panutan yang protektif dan menenangkan. Sehingga saat pria menangis, pria akan jauh dari image ke-Alpha-annya. Pria akan dihakimi saat menangis, diejek, dan dianggap ga laki.

Stupid, but its there. Judgement yang telah menjadi budaya dan diturunkan dari jaman ke jaman dalam setiap lapisan sosial.

Dont be silly. Pria boleh menangis. Tapi secara sains, tetap saja tidak akan menangis lebih banyak dibanding wanita.

Kata Mama, Papa menangis saat menggendong gue pertama kalinya di bandara Tullamarine, saat Baby Dee datang ke Melbourne untuk pertama kalinya: "Halo Diajeng, ini Papa!"

Papa menangis saat gue mengunjunginya pertama kali di Peter Mac saat dia divonis kanker: "Everything is gonna be alright, Diajeng."

Papa menangis saat gue pamerkan cincin lamaran dari Hans di jari manis gue: "Really Diajeng? Kamu sudah sedewasa ini, Nak?"

Papa menangis saat melihat gue keluar kamar dengan kebaya putih dan kain batik di hari ijab kabul gue dan Hans: "Akhirnya waktu ini datang juga Diajeng, saat anak gadis Papa satu-satunya akan pergi dari Papanya."

Dan Papa menangis saat itu, di pangkuan Dee kecil. Dia memeluk erat Dee kecil dan menangis seperti Dee kecil...

"Kenapa harus kamu, Diajeng!"

Saat tubuh tegap seorang pria tak bisa tegak lagi,
Saat langkah mantab seorang pria tak berarah lagi,
Saat tatap tajam seorang pria tak jernih lagi,

Bukankah seharusnya wanitanya yang menjadi tongkat,
menjadi utara kompasnya,
menjadi penuntunnya?

Tapi saat semua itu disebabkan oleh Sang Wanitanya, kemana dia akan mencari kekuatannya?

Kita tidak pernah tau impact apa yang dibawa oleh perselingkuhan. Saat kedua sisi mendapatkan kesenangan masing-masing, semuanya tampak indah, aman dan mutual. Bahkan kemungkinan terburuk yang sudah bisa diprediksi tampak tidak akan buruk-buruk amat. Seenteng itukah kita mendosa? Seenteng itukah kita menimbang hidup orang lain di ujung timbangan sehingga mereka tak pantas untuk kita jaga?

"Ajeng, kita akan menyelesaikan ini saat kita kembali ke rumah. Selama kita disini, kamu akan selalu dekat dengan Papa. Jika kamu ingin diam, kamu boleh diam. Papa tidak akan memaksa kamu untuk menjawab pertanyaan apapun dari siapapun, termasuk dari Mama. Tapi ingat, kita akan selesaikan ini di rumah kita di Melbourne! Oke?"

"Understood, Father."

Papa adalah orang yang sangat kuat!

Dua hari tersisa di Sydney dan Papa bisa biasa saja. BIASA SAJA.

Dia tetap menggandeng Mama kemana-mana, bicara mesra, bahkan bersalaman dan menepuk pundak pria yang sudah meniduri istrinya dan membuat anaknya trauma.

Papa benar-benar biasa saja.

Sementara gue yang serba bingung dan tak tau harus apa selain menggandeng tangan Papa, mulai melihat tempat itu tidak menyenangkan. Sydney Opera House dan Kuala Lumpur berada di urutan pertama tempat yang tak akan gue kunjungi lagi seumur hidup gue. Saat itu, gue berharap segera kembali ke Melbourne dan menceritakan pada Max betapa tidak menyenangkannya liburan gue di Sydney. Gue memilih lari-lari di taman bersama Baby Vin dan Max dan Sarah.

Pikiran gue kembali ke Sarah dan pacarnya.

Tetap saja, saat gue melihat teman pria Mama semua kesibukan membaca dan pikiran gue kembali tersita ke Mama, Papa dan dia. Gue tidak mau makan. Gue tidak mau minum. Gue tidak mau apapun masuk ke mulut gue karena gue tidak nafsu makan.

"Kenapa kemarin kalian ga nonton sampe selesai?" Mama duduk di samping kanan Papa. Gue melihat kapal-kapal yang melintasi Sydney Harbour dan menyebrang di bawah Harbour Bridge. Lampunya kerlap-kerlip dan bendera-bendera yang terpasang di ujung layar berkibar di antara remangnya waktu maghrib. Gue peluk lengan kiri Papa dan menyandarkan kepala ke lengannya.

"Diajeng kurang sehat kayaknya, Dis. Besok pulang jam berapa?"

Mama pindah ke sebelah gue. Gue pererat pelukan gue di lengan Papa dan Papa juga mengencangkan pegangannya di tangan gue. Bahasa yang gue mengerti Its OK Dee! Ingat apa yang Papa bilang.

"Jam satu siang, Bram. Kamu ngerasain apa Sayang?" Tanya Mama sambil memeluk dan mengelus kepala gue.

"Pusing."

"Udah minum parasetamol, Bram?"

Papa mengangguk.

"Mau dibawa ke dokter aja sekarang?" Tanya Mama.

"Ga usah, biar aku bawa ke kamar aja. Kamu beresin aja urusan kamu dulu."

Papa menggendong gue. Gue amati motif karpet di bawah kami, kotak-kotak diamond berwarna hijau dan emas.

"Hey Dee, don't make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better

Hey Dee, don't be afraid
You were made to go out and get her
The minute you let her under your skin
Then you begin to make it better

And anytime you feel the pain
Hey Dee, refrain
Don't carry the world upon your shoulders
For well you know that it's a fool
Who plays it cool
By making his world a little colder
Na-na-na, na, na
Na-na-na, na"

Papa tidak membawa gue ke tempat tidur, masih di gendongannya, dia membawa gue berdiri di balkoni hotel, mengamati Sydney Harbour di bawah sana. Dia nyanyikan Hey Jude dengan suaranya yang bergetar hingga gue tertidur di pundaknya. I knew you were crying too, Father.

=========


"Good afternoon, Dee!" sapa Hans kaku saat gue membuka pintu mobilnya. Mobilnya sudah kembali, entah kapan Max mengembalikannya. Gue juga belum bertemu Max dalam dua hari terakhir.

"The fuck you're greeting me like that!" Jawab gue ketus. Hans hanya nyengir.

"Mau makan apa?" Tanyanya.

"Apa aja."

Hans menyetir tanpa bicara apa-apa. Gue sesekali menangkap lirikannya ke arah gue namun dia masih tak juga bicara.

"Ini baju kamu, washed and ironed!" Gue serahkan plastik berisi pakaiannya yang diributkan Papa dan Mama pagi tadi.

"Makasih Dee."

Kami tiba di depan rumah makan Vietnam di kawasan Richmond.

"Makan disini ga apa-apa?" Tanyanya. Gue mengangguk tak masalah.

"Apa kabar Dee?" Meja kecil yang membatasi kami berdua sebenarnya tidak akan menjadi penghalang kalau gue masih ingin meninju barisan giginya yang sempurna.

"As you see, not bad." Jawab gue.

Hans memajukan tubuhnya sambil melihat sekeliling. Rumah makan cukup ramai namun meja di samping kanan kiri dan depan belakang kami kosong.

"Maaf buat malem itu."

"Buat apa?"

"The thing is..."

Hans meneguk kaleng Ginger Ale di tangannya, lalu melihat mata gue. Irisnya berwarna hijau dan bulu matanya coklat senada dengan warna rambutnya. Ia kecap beberapa kali bibir tipisnya yang merah. Gue selalu mencari jejak darah Indonesianya, namun itu tidak gue temukan sama sekali. Mungkin karena Mamanya juga sudah darah campuran. Darah murni Jogjakarta berhenti di Nenek Hans, mungkin itu yang membuat dia tidak kebagian ciri khas Asia Tenggara.

"Say it!" Hardik gue.

"Aku...aku ga pernah dapet perawan." Jawabnya berusaha sepelan mungkin sambil melirik ke pengunjung yang duduk di meja belakang gue, berharap gue juga tidak dengar namun gue tetap dengar.

"Terus?"

"Aku kaget aja...dan bingung."

"Isn't it as easy as putting your cock into any pussy??" Jawab gue kesal.

"Dee! Jangan keras-keras dong!"

Gue menoleh dan beberapa orang melihat ke meja kami.

"Salah kamu yang pilih tempat ini!"

Hans memanyunkan bibirnya dan membalas dengan senyuman gugup ke meja belakang gue.

"Its not like that! Kalo emang harus terjadi, aku ga mau di mobil aja."

Gue tersenggal dengan tawa yang tertahan di tenggorokan gue.

"Maksud kamu?"

"Ya kalo kamu mau kita bisa bikin itu...spesial!"

What the hecking hell!!

"You are indeed an asshole, Hans!"

"What now? Aku salah lagi? Aku cuma ga mau melakukan di tempat yang ga enak aja, setidaknya kita punya momen buat diinget!"

Makanan kami datang. Kami makan dalam diam.

"I am kidding, I am sorry." Hans memulai percakapan lagi. Gue ingin menyudahi dan pergi tapi bihun kuah di mangkok gue sangat lezat dan gue sangat lapar.

"The thing is..."

"Stop ngomong pake The Thing Is! Just say it, to the point!"

"Easy Dee! Why are you so mad!"

Gue hanya menjawab dengan tatapan do you want to die right here-right nowmilik gue. Bahasa universal wanita yang gue yakin mudah dimengerti oleh pria.

"Alright! Jangan liat aku kayak gitu! You can be sweet and scary at the same time! Are you a psychopath? Haha!"

Hans ngejokes. Tak lucu karena dia sendiri terpaksa tertawa atas jokes yang dibuatnya.

"Aku deket sama Papa kamu, aku tau banyak tentang kamu justru dari Papa kamu. At first, aku cuma pengen deketin kamu karena aku ga percaya aja sama cerita yang sering diceritain Bram tentang kamu."

"Apa yang diceritain Papa?"

"Her heart is hard to get. Not even me, her Father, can get into her. She is a lonely girl, Hans. A very lonely one."

Hans menirukan sama persis dengan cara Papa bicara. Gue terkejut kalimat itu pernah keluar dari mulut Papa. Lalu dari mulut Hans.

"Terus aku harus merasa spesial dengan itu sampe kamu mau buktiin kalo aku sama dengan perempuan-perempuan yang pernah kamu tiduri? Bahwa wanita akan selalu jatuh ke pria dengan uang dan good looking macam kamu?"

Deg. Saat itu gue tau gue memang murahan. Saat bibir gue baru mingkem dari bilang itu, gue tau bahwa gue yang bersedia untuk Hans tiduri. Gue sudah kalah apapun jawaban yang akan Hans berikan. Gue blunder dengan prinsip gue sendiri, dengan pernyataan Papa, dengan pertahanan gue.

"Kamu yang mau ngasih your V buat aku, Dee."

There! Hans pertegas itu.

Gue mengangguk. Air mata sudah memenuhi kelopak mata gue dan jika gue berkedip sedikit saja maka bihun kuah gue akan keasinan. Gue tetap menunduk melihat makanan gue. Lagi-lagi rambut gimbal gue menyelamatan gue dengan poni yang panjangnya sudah sampai mata dan tak pernah teratur!

"See, ga ada yang spesial tentang aku! Kamu bisa simpulin apa yang selalu Papa ceritain ke kamu itu bullshit! He's exeggerating everything about me!"

Sakit. Gue merasa dipermalukan dan rasanya sangat...memalukan.

Hans hanya menguji batas gue malam itu dan ternyata gue tidak memiliki batas apa-apa.

Apakah karena pengorbanannya datang ke Dandenong yang sudah membuat gue terpukau akan arti sebuah usaha? Padahal pria mana saja bisa melakukan perjalanan seperti itu untuk tujuannya.

Apakah karena kedekatannya dengan Papa sehingga gue merasa secured dan merasa dapat Golden Ticket untuk melakukan apapun dengan Hans?

Apakah karena ketampanan, kegagahan, dan kelembutan Hans yang membuat gue pasrah?

Semurah itukah gue?

Pertahanan dari kecerdasan yang sudah gue bangun dari kisah-kisah yang gue baca, peristiwa-peristiwa yang gue alami, apakah berujung disini? Bahwa gue tidak pernah berhak mendapatkan yang indah karena gue memang tidak layak, bukan karena Tuhan sedang mempersiapkan yang lebih baik.

Bagaimana jika semua harapan positif hanyalah delusi?

Sikap Hans yang kemarin-kemarin hanyalah sebuah agenda.

I hate myself for being so weak. Gue sedih karena Papa terlibat dalam hal ini. Dimanfaatkan oleh anak buahnya lewat anaknya. Dimana martabat seorang Bramanti jika dia tau ini? Apakah Hans dan teman-temannya diam-diam bertaruh untuk mendekati gue dan menjadikan Papa bahan candaan tanpa sepengetahuan Papa karena anak Bram satu-satunya yang selalu dielu-elukan Papanya ternyata a bitch dan gampangan?

"Aku naik tram aja."

"No, I will drive you."

"Just go, Hans!"

"Dee..."

Untuk menatap matanya saja gue tidak mampu lagi. Gue malu, gue marah, gue merasa dimanfaatkan, gue merasa tidak punya harga diri lagi. Gue ingin marah ke Papa karena kecerobohan Papa yang akan menjatuhkan dirinya sendiri.

"Come with me, please!"

Hans membuka pintu untuk gue. Gue menggeleng dan akhirnya tidak bisa tidak menangis.

Richmond bukan kota yang sepi. Beberapa orang yang melewati kami melihat ke arah Hans, lalu gue, lalu Hans lagi.

"Please, Baby! Aku belum selesai ngomong, Dee!"

Gue tidak ingin membuat scene di tengah keramaian. Gue tidak suka mencari perhatian dengan melakukan hal-hal aneh termasuk menangis di tempat umum salah satunya, tapi rasa sakit hati gue dan rasa malu gue sudah tak terbendung. Yeah, gengsi gue kan setinggi surga Firdaus, lalu dirontokkan oleh manusia bernama Hansen Schaal!

Gue melangkah menjauh dari Hans dan menekan nomer Max.

Quote:


Max langsung menutup teleponnya. Gue hanya berusaha berjalan secepat mungkin ke arah tempat yang gue janjikan ke Max.

Hans menyejajari langkah gue.

"Aku belum selesai ngomong, Dee. Ayo masuk mobil dulu! Plis Dee aku ada meeting jam setengah 4! Kamu mau makan malem sama aku nanti?"

"No."

"Dee, please, Baby!"

"Dont Baby Baby me Hans! Go away!"

Gue tiba di Dynamic Tattoo dan berdiri tepat di depannya. Hans masih di samping gue.

"Why are you so hard on yourself, Dee?"

Gue diam. Kantor Max memang di sekitaran Richmond, saat itu dia masih belum satu pekerjaan bersama Hans. Gue menghitung waktu setidaknya dia hanya butuh 10 menit untuk tiba disini. Gue mencari-cari Jeep putihnya di antara mobil yang berlalu lalang.

"Aku cuma becanda Sayang! Plis kali ini aku akan serius!"

Mobil Max datang. Dia turunkan kaca jendelanya.

"Hai Hans! Ada apa?"

Gue langsung naik dan menutup pintu.

"I am sorry Max! Thank you for picking her up anyway!"

"No problem, Brother!"

Max melihat gue yang masih diam. Dia jelas tau gue habis menangis. Max selalu tau.

"The hell save me for Dee??"

Save me adalah final code yang dibuat Papa untuk kami berdua sejak kecil. Saat kami kebingungan misalnya kesasar atau ada orang yang mengikuti kami dan menelepon Papa atau polisi, maka dengan menyebutkan save memaka Papa atau polisi akan tau tingkat urgensi kami tanpa kami harus kebingungan menjelaskan situasi secara panjang lebar. Kami tidak pernah menggunakannya, namun saat gue sebutkan itu dan Max segera datang, gue tau dia masih mengingatnya juga.

"Save me from Hans."

"Dia ngapain sih?? Nonsense Dee! Lo kebanyakan drama dah! Gue lagi ada meeting tadi Dee, lo nyuruh gue jemput cuma karena drama lo sama Hans?? Grow up, Dee! Sorry lo turun aja disini! Gue ada meeting penting! Fuck!"

Max menghentikan mobilnya di stopan tram. Gue pasrah dan turun dari mobil Max tanpa mengatakan apa-apa.

Gue jalan kaki menelusuri Toorak Road lalu memutuskan mampir di Seven Eleven dan membeli satu pak Marlboro beserta koreknya.

Entah sudah berapa tahun gue tidak menyentuh rokok. Gue merindukan sensasinya. Sensasi kesepian yang komplit. Sensasi yang sama dengan melihat lampu kota di malam hari, atau bintang di malam hari, atau hujan dari jendela: beautiful sadness.

Having no one to understand you is fine as long as you have cigarette between your lips. Nothing will kiss your pain better than the pain itself. Cigarette is the taste of freedom in our sins.

Diubah oleh ladeedah 28-08-2019 17:41
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.