- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for "You":
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
467.9K
4.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#663
Titik Terendah
Setelah kejadian di hotel bareng Keket itu, entah kenapa hati ane jauh lebih tenang. Mungkin karena ane sudah pasti akan diterima kali ya kalau seandainya nembak Keket. Tapi rasa sakit dengan Zalina itu sangat sulit untuk dipulihkan ketika itu. Ane kadang merasa senang banget kalau lagi sama Keket, tapi saat sendirian ane merasa kayak depresi berat. Ane bingung sama perasaan ane ke Keket. Apalagi ane juga belum dengar Keket putus dari Rama waktu itu. Jadinya ya ane kayak berasa kekasih bayangannya Keket. Posisi yang dulu Keket jalani sekarang berbalik ke ane. Ane yang berasa jadi serep.
Satu minggu setelah semua rangkaian kejadian menyedihkan dalam semalam itu, ane mendapatkan kabar yang nggak kalah menyedihkan, bahkan lebih sedih lagi. Ane seperti tertimpa masalah yang bertubi-tubi nggak ada habisnya. Papa ane berpulang. Papa ane meninggalkan ane dan seluruh keluarga ane untuk selama-lamanya. Nggak ada firasat tertentu pada malam sebelum beliau berpulang. Ane malah sedang bersantai dan main PS sampai hampir subuh dengan teman-teman kostan ane, minus Adi S, ditambah Widi dan Iwan. Ane begitu terpukul. Belum selesai urusan perasaan ane yang hancur lebur karena Zalina, sekarang malah harus menghadapi kenyataan Papa ane meninggal dunia. Ketika Papa ane kritis, ane ditelpon oleh adik ane, katanya Papa nyariin ane terus. Jadi ane memutuskan untuk pulang. Padahal waktu itu malamnya ada rapat himpunan. Oh iya, ane juga mengajak Keket untuk menemani ane, untungnya dia bisa.
Ane langsung menyusul kerumah sakit. Setibanya disana didalam kamar yang cukup luas dan Cuma ada satu tempat tidur itu, om-om dan tante-tante ane sudah pada berkumpul. Ruangan luas tersebut jadi terasa sangat sesak. Terlebih lagi dada ane juga sesak luar biasa. Saat sampai disana papa sudah tergeletak tidak berdaya. Ane mendekat dan langsung menangis memeluk papa. Papa udah nggak bisa ngomong ketika itu, hanya melirik ane aja. Bahkan menggerakkan tubuhnya aja nggak bisa. Ane ditenangkan oleh om dan tante ane. Mama ane ada diluar kamar dan berbicara dengan dokter. Mama ane terlihat sangat tegar menghadapi pemandangan ini. Memang 6 bulan terakhir ane selalu dikabari dari rumah kalau Papa bolak balik masuk rumah sakit. Ane beberapa kali menjenguk papa. Tapi kali ini sudah lain sekali penampilan Papa. Plus dua bulan sudah ane tidak pernah pulang lagi kerumah. Hanya tersisa rasa penyesalan sebesar-besarnya ketika itu. Ane minta maaf berulang kali sama Papa.
Situasi kemudian berubah memburuk. Papa dibawa keruang perawatan intensif. Yang boleh masuk hanya Mama, adik paling kecil dan kakak tertua papa yang merupakan seorang dokter. Lalu adik ane, ane dan juga beberapa sepupu dan om tante ane lainnya hanya bisa menunggu kabar. Jelang ashar ane memutuskan untuk menunaikan kewajiban ane dulu. Ane turun kelantai dasar, karena dirumah sakit ini musola ada dilantai dasar. Ane memanjatkan doa memohon diberikan yang terbaik. Lalu setelah selesai, ane kembali keatas menggunakan lift. Begitu pintu lift terbuka Dania memeluk ane dengan sangat kencang.
“Papa udah nggak ada Kak.”
“Papa nggak ada? Ya Allah……..innalillahi……..” tangis ane pecah sejadi-jadinya.
Ane jatuh terduduk dilantai rumah sakit saking lemasnya. Kemudian ane dibantu duduk dikursi oleh om ane dan salah satu karyawan kantor papa kalau nggak salah. Dania menangis meraung-raung, lebih keras tangisnya dari ane. Dia memang lebih dekat ke Papa, kalau ane ke Mama. Mungkin polanya selalu begitu, cewek dekat ke papanya, cowok dekat ke mamanya. Tidak lama ruang perawatan intensif terbuka dan ane serta kerabat terdekat papa dipersilakan masuk. Ane melihat papa sudah tenang. Sudah nggak sakit lagi. Wajahnya menebar kesejukan.
“Selamat Jalan Pa, aku selalu merindukan Papa. Papa adalah laki-laki paling hebat dan bertanggung jawab yang pernah aku kenal. Aku mau jadi seperti papa kelak jika aku berkeluarga nanti. Berani bertanggung jawab, tegas, tanpa kompromi, melawan ketidakbenaran, dan semua hal positif yang disematkan ke Papa.” Kata ane berbisik ditelinga papa, kemudian ane mencium keningnya yang sudah dingin. Ane menangis memeluk papa agak lama sampai kemudian bahu ane ditepuk oleh Mama.
“Ikhlasin ya Ja. Biar jalan papa kesana nggak berat.” Kata Mama.
“Iya ma, aku belajar untuk ikhlas. Tapi ini berat banget ma.” Ane kemudian menangis lagi dipelukan Mama.
Setelah suasana tenang kembali, ane bisa mengendalikan diri, ane menelepon kawan-kawan kampus, dan kawan-kawan band untuk mengabarkan kabar duka ini.
“Sabar ya Ja, gue ngerti banget perasaan lo sekarang.” Kata Keket menenangkan ane.
“Makasih ya Ket. Selalu ada buat gue. Gue bener-bener hancur total Ket. Mungkin ini titik terendah gue selama hidup didunia ini Ket.” Kata ane lirih.
“Iya Ja, mudah-mudahan gue bisa bantu lo buat ngelewatin ini semua.” Kata keket sambil mengusap punggung ane.
“Makasih.” Kata ane singkat.
Prosesi pemulangan jenazah berjalan dengan lancar dari rumah sakit menuju rumah ane. Ternyata disana sudah dipersiapkan sedemikian rupa untuk mengaji serta beres-beres barang untuk membuat ruangan menjadi lebih luas lagi. Ane nggak terlalu ingat detailnya malam itu karena ane nggak sempat mencatat. Ingat pun tidak untuk menulis. Ane terlalu sedih malam itu. Semalaman badan ane terasa berat banget dan seperti habis dipukulin rame-rame. Babak belur fisik dan mental ane.
Agak malaman rombongan teman-teman angkatan ane, angkatan Keket dan beberapa alumni yang ane kenal baik datang kerumah ane. Ane berusaha tersenyum dan ceria seperti biasa dikampus. Tapi teman-teman sepertinya sudah tau kalau ane adalah pembohong yang payah. Mereka bisa memaklumi kondisi ane. Tanto memeluk ane lama banget dan membisiki ane tentang sebuah kekuatan yang datang dari penderitaan. Intinya dengan adanya kehilangan, bukan berarti semuanya selesai, melainkan ada sesuatu yang baru dalam hidup kita yang akan datang. Kurang lebihnya begitu deh.
Saat itu pulalah teman-teman ane dan juga teman-teman Keket heran, kenapa Keket sudah ada disitu duluan. Bahkan sudah kenal dengan Mama ane. Ane nggak ambil pusing, bodo amat orang mau ngomong apa, mau sampai ke Rama pun silakan. Lumayan kalau dia emosi lagi kan bisa ane hajar itung-itung pelampiasan.
“Ket, lo dari kapan disini?” tanya salah seorang teman sekelasnya.
“Gue bareng Ija dari kampus.” Kata Keket.
“Oh. Terus Rama kemana?”
“Ya nggak tau kemana, nggak ngurusin juga gue. Dia udah gede ini.”
“Ket. Gue bilangin ya, lo jangan main api. Nanti kebakar.”
“Udah kebakar kok emang.”
“Hah? Maksudnya?”
“Udah deh lupain aja ya. kita disini lagi berduka loh, jangan gosip aja.”
Malam semakin larut dan tamu-tamu mulai pada pulang. Keket ane suruh menginap dirumah. Ane mempersilakan menggunakan kamar ane sebagai tempatnya tidur. Ane mau tidur bareng mama ane malam ini.
“Ja, gila, ini kamar lo?” tanya keket.
“Iya, emang kenapa Ket?”
“Sumpah rapi banget Ja. Ini lo yang beresin dan nata semuanya?”
“Iya Ket, kebiasaan gue dari kecil itu kan selalu rapi. Kayak nggak tau gue aja lo.”
“Tapi ini rapi banget Ja. Gue aja yang cewek nggak serapi ini kamarnya. Mau yang dikostan mau yang dirumah nggak ada yang serapi ini. Wangi banget lagi. Gila nggak pernah gue nemu cowok serapi lo Ja seumur-umur.”
“Makanya gue wangi selalu kan?” kata ane sedikit tersenyum.
“Iya, wangi Ja, badan lo juga nggak ada aroma aneh-aneh.”
Keket benar-benar menjadi pengobat rasa hancur hati ane. Kelakuannya dengan mengagumi kebersihan kamar ane membuat ane sangat terhibur. Makasih ya Ket. Kata ane dalam hati.
--
Keesokan paginya, persiapan untuk salat jenazah sehabis jumatan sudah selesai dipersiapkan. Ane sudah mandi, begitu juga Keket. Ane, Keket, Dania dan Mama memakai pakaian dengan warna senada, putih-putih. Keket begitu anggun dengan baju muslim milik Dania. Walaupun terlihat agak ketat karena badan Dania yang lebih kecil dari Keket. Dania dan Mama dandan seadanya, mata keduanya sembab, ane nggak tega banget melihat mereka bersedih sedalam ini. Melihat mereka seperti itu, tidak terasa ane menitikkan air mata lagi, tapi buru-buru ane seka. Sepanjang waktu sebelum jumatan tamu banyak berdatangan. Dari mulai kolega bisnis, teman sekolah Papa, juga Dania dan ane, teman kuliah Papa, dan saudara-saudara. Karena banyak yang memakai kendaraan roda empat, komplek perumahan sempat heboh. Tapi ane benar-benar nggak peduli dengan keadaan yang ada.
Waktu salat jumat tiba dan kami yang laki-laki berangkat ke masjid komplek. Jenazah juga sudah berada didalam masjid. Selesai jumatan kemudian diumumkan akan ada salat jenazah. Ane bahagia, sedih sekaligus terharu karena banyak sekali jamaah yang ikut mensalatkan Papa. Ane bertanya dalam hati apakah ini yang dimaksud meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah? Orang yang benar-benar baik itu akan terlihat ketika dirinya sudah nggak ada dunia, apa yang dilakukannya pasti akan berbalas baik dan akan diperlihatkan ketika dia meninggal. Dan ane merasakan itu, melihat sendiri bagaimana orang-orang tidak putus-putus untuk datang melayat serta mendoakan Papa. Om ane juga berbisik kepada ane, “Bapak kamu beruntung banget ya, om juga mau kayak gini nanti. Meninggal dihari besar ini rejeki banget buat beliau.”
Jenazah kemudian dibawa masuk kedalam mobil jenazah. Didepan mobil sudah bersiap iring-iringan pengiring yang dikirimkan oleh walikota daerah ane yang merupakan kawan akrab Papa ane waktu SMA. Semua dimudahkan. Alhamdulillah. Ane menaiki mobil jenazah mendampingi Jenazah Papa yang sudah berada didalam keranda. Perjalanan ke TPU pun terasa sangat cepat karena proses pembukaan jalan yang lancar jaya. Sesampainya disana, entah siapa yang mengurus, sudah bersiap juga. Lubang sudah digali dan keranda mulai dibawa turun. Ane turun mengangkat keranda tersebut. Kemudian prosesi terberat pun sampai pada waktunya. Jenazah diturunkan ke liang lahat dan ane juga turun kebawah sana. Disana ane nggak kuasa untuk menahan segala kepedihan ane. Ane menangis sejadi-jadinya. Ane menangisi semuanya. Lalu ane ditenangkan dan ditarik kembali keatas.
Setelah ditutup secara sempurna, ane mewakili keluarga memberikan pidato singkat. Kemudian satu persatu para peziarah mulai pulang dan tersisa ane dan Keket. Bahkan Mama dan Dania sudah pulang bersama saudara-saudara ane lainnya.
“Ja, ayo kita pulang yuk.” Kata Keket lembut.
“Iya sebentar lagi ya Ket. Gue masih kangen Papa Ket.”
Keket membiarkan ane larut lagi dalam kesedihan. Keket memeluk ane dari samping.
“Pa, ini Kathy. Papa belum sempat lihat dia. Mungkin kemarin Papa lihat tapi nggak memperhatikan. Dia yang semangatin aku Pa, dia yang temenin aku Pa. Dia baik banget ya anaknya? Aku nyesel Pa kenapa terlambat ketemu dia. Kenal sama dia. Yang aku tahu sekarang ini aku ngenalin dia sama Papa, mungkin Papa masih bisa lihat dia dari kejauhan Pa. Aku senang banget Pa. Hati aku hancur berantakan dengan masalahku sebelumnya Pa, ditambah sekarang Papa ninggalin aku, Mama dan Dania juga buat selamanya. Kathy yang ada buat aku Pa. Mama dan Dania juga sudah kenal dengannya. Boleh ya Pa kalau aku sama-sama dia?” ane bergumam sendiri didepan nisan Papa.
Ane mendengar Keket menangis terharu. Tangisnya samar tapi ane bisa merasakannya. Kemudian ane memeluknya dan berdiri. Ane dan Keket pergi meninggalkan makam tersebut dengan hati yang sudah remuk redam. Beruntung ane memiliki (atau belum) Keket waktu itu.
Makasih ya Ket. Maaf selalu buat lo kecewa sama gue.
Satu minggu setelah semua rangkaian kejadian menyedihkan dalam semalam itu, ane mendapatkan kabar yang nggak kalah menyedihkan, bahkan lebih sedih lagi. Ane seperti tertimpa masalah yang bertubi-tubi nggak ada habisnya. Papa ane berpulang. Papa ane meninggalkan ane dan seluruh keluarga ane untuk selama-lamanya. Nggak ada firasat tertentu pada malam sebelum beliau berpulang. Ane malah sedang bersantai dan main PS sampai hampir subuh dengan teman-teman kostan ane, minus Adi S, ditambah Widi dan Iwan. Ane begitu terpukul. Belum selesai urusan perasaan ane yang hancur lebur karena Zalina, sekarang malah harus menghadapi kenyataan Papa ane meninggal dunia. Ketika Papa ane kritis, ane ditelpon oleh adik ane, katanya Papa nyariin ane terus. Jadi ane memutuskan untuk pulang. Padahal waktu itu malamnya ada rapat himpunan. Oh iya, ane juga mengajak Keket untuk menemani ane, untungnya dia bisa.
Ane langsung menyusul kerumah sakit. Setibanya disana didalam kamar yang cukup luas dan Cuma ada satu tempat tidur itu, om-om dan tante-tante ane sudah pada berkumpul. Ruangan luas tersebut jadi terasa sangat sesak. Terlebih lagi dada ane juga sesak luar biasa. Saat sampai disana papa sudah tergeletak tidak berdaya. Ane mendekat dan langsung menangis memeluk papa. Papa udah nggak bisa ngomong ketika itu, hanya melirik ane aja. Bahkan menggerakkan tubuhnya aja nggak bisa. Ane ditenangkan oleh om dan tante ane. Mama ane ada diluar kamar dan berbicara dengan dokter. Mama ane terlihat sangat tegar menghadapi pemandangan ini. Memang 6 bulan terakhir ane selalu dikabari dari rumah kalau Papa bolak balik masuk rumah sakit. Ane beberapa kali menjenguk papa. Tapi kali ini sudah lain sekali penampilan Papa. Plus dua bulan sudah ane tidak pernah pulang lagi kerumah. Hanya tersisa rasa penyesalan sebesar-besarnya ketika itu. Ane minta maaf berulang kali sama Papa.
Situasi kemudian berubah memburuk. Papa dibawa keruang perawatan intensif. Yang boleh masuk hanya Mama, adik paling kecil dan kakak tertua papa yang merupakan seorang dokter. Lalu adik ane, ane dan juga beberapa sepupu dan om tante ane lainnya hanya bisa menunggu kabar. Jelang ashar ane memutuskan untuk menunaikan kewajiban ane dulu. Ane turun kelantai dasar, karena dirumah sakit ini musola ada dilantai dasar. Ane memanjatkan doa memohon diberikan yang terbaik. Lalu setelah selesai, ane kembali keatas menggunakan lift. Begitu pintu lift terbuka Dania memeluk ane dengan sangat kencang.
“Papa udah nggak ada Kak.”
“Papa nggak ada? Ya Allah……..innalillahi……..” tangis ane pecah sejadi-jadinya.
Ane jatuh terduduk dilantai rumah sakit saking lemasnya. Kemudian ane dibantu duduk dikursi oleh om ane dan salah satu karyawan kantor papa kalau nggak salah. Dania menangis meraung-raung, lebih keras tangisnya dari ane. Dia memang lebih dekat ke Papa, kalau ane ke Mama. Mungkin polanya selalu begitu, cewek dekat ke papanya, cowok dekat ke mamanya. Tidak lama ruang perawatan intensif terbuka dan ane serta kerabat terdekat papa dipersilakan masuk. Ane melihat papa sudah tenang. Sudah nggak sakit lagi. Wajahnya menebar kesejukan.
“Selamat Jalan Pa, aku selalu merindukan Papa. Papa adalah laki-laki paling hebat dan bertanggung jawab yang pernah aku kenal. Aku mau jadi seperti papa kelak jika aku berkeluarga nanti. Berani bertanggung jawab, tegas, tanpa kompromi, melawan ketidakbenaran, dan semua hal positif yang disematkan ke Papa.” Kata ane berbisik ditelinga papa, kemudian ane mencium keningnya yang sudah dingin. Ane menangis memeluk papa agak lama sampai kemudian bahu ane ditepuk oleh Mama.
“Ikhlasin ya Ja. Biar jalan papa kesana nggak berat.” Kata Mama.
“Iya ma, aku belajar untuk ikhlas. Tapi ini berat banget ma.” Ane kemudian menangis lagi dipelukan Mama.
Setelah suasana tenang kembali, ane bisa mengendalikan diri, ane menelepon kawan-kawan kampus, dan kawan-kawan band untuk mengabarkan kabar duka ini.
“Sabar ya Ja, gue ngerti banget perasaan lo sekarang.” Kata Keket menenangkan ane.
“Makasih ya Ket. Selalu ada buat gue. Gue bener-bener hancur total Ket. Mungkin ini titik terendah gue selama hidup didunia ini Ket.” Kata ane lirih.
“Iya Ja, mudah-mudahan gue bisa bantu lo buat ngelewatin ini semua.” Kata keket sambil mengusap punggung ane.
“Makasih.” Kata ane singkat.
Prosesi pemulangan jenazah berjalan dengan lancar dari rumah sakit menuju rumah ane. Ternyata disana sudah dipersiapkan sedemikian rupa untuk mengaji serta beres-beres barang untuk membuat ruangan menjadi lebih luas lagi. Ane nggak terlalu ingat detailnya malam itu karena ane nggak sempat mencatat. Ingat pun tidak untuk menulis. Ane terlalu sedih malam itu. Semalaman badan ane terasa berat banget dan seperti habis dipukulin rame-rame. Babak belur fisik dan mental ane.
Agak malaman rombongan teman-teman angkatan ane, angkatan Keket dan beberapa alumni yang ane kenal baik datang kerumah ane. Ane berusaha tersenyum dan ceria seperti biasa dikampus. Tapi teman-teman sepertinya sudah tau kalau ane adalah pembohong yang payah. Mereka bisa memaklumi kondisi ane. Tanto memeluk ane lama banget dan membisiki ane tentang sebuah kekuatan yang datang dari penderitaan. Intinya dengan adanya kehilangan, bukan berarti semuanya selesai, melainkan ada sesuatu yang baru dalam hidup kita yang akan datang. Kurang lebihnya begitu deh.
Saat itu pulalah teman-teman ane dan juga teman-teman Keket heran, kenapa Keket sudah ada disitu duluan. Bahkan sudah kenal dengan Mama ane. Ane nggak ambil pusing, bodo amat orang mau ngomong apa, mau sampai ke Rama pun silakan. Lumayan kalau dia emosi lagi kan bisa ane hajar itung-itung pelampiasan.
“Ket, lo dari kapan disini?” tanya salah seorang teman sekelasnya.
“Gue bareng Ija dari kampus.” Kata Keket.
“Oh. Terus Rama kemana?”
“Ya nggak tau kemana, nggak ngurusin juga gue. Dia udah gede ini.”
“Ket. Gue bilangin ya, lo jangan main api. Nanti kebakar.”
“Udah kebakar kok emang.”
“Hah? Maksudnya?”
“Udah deh lupain aja ya. kita disini lagi berduka loh, jangan gosip aja.”
Malam semakin larut dan tamu-tamu mulai pada pulang. Keket ane suruh menginap dirumah. Ane mempersilakan menggunakan kamar ane sebagai tempatnya tidur. Ane mau tidur bareng mama ane malam ini.
“Ja, gila, ini kamar lo?” tanya keket.
“Iya, emang kenapa Ket?”
“Sumpah rapi banget Ja. Ini lo yang beresin dan nata semuanya?”
“Iya Ket, kebiasaan gue dari kecil itu kan selalu rapi. Kayak nggak tau gue aja lo.”
“Tapi ini rapi banget Ja. Gue aja yang cewek nggak serapi ini kamarnya. Mau yang dikostan mau yang dirumah nggak ada yang serapi ini. Wangi banget lagi. Gila nggak pernah gue nemu cowok serapi lo Ja seumur-umur.”
“Makanya gue wangi selalu kan?” kata ane sedikit tersenyum.
“Iya, wangi Ja, badan lo juga nggak ada aroma aneh-aneh.”
Keket benar-benar menjadi pengobat rasa hancur hati ane. Kelakuannya dengan mengagumi kebersihan kamar ane membuat ane sangat terhibur. Makasih ya Ket. Kata ane dalam hati.
--
Keesokan paginya, persiapan untuk salat jenazah sehabis jumatan sudah selesai dipersiapkan. Ane sudah mandi, begitu juga Keket. Ane, Keket, Dania dan Mama memakai pakaian dengan warna senada, putih-putih. Keket begitu anggun dengan baju muslim milik Dania. Walaupun terlihat agak ketat karena badan Dania yang lebih kecil dari Keket. Dania dan Mama dandan seadanya, mata keduanya sembab, ane nggak tega banget melihat mereka bersedih sedalam ini. Melihat mereka seperti itu, tidak terasa ane menitikkan air mata lagi, tapi buru-buru ane seka. Sepanjang waktu sebelum jumatan tamu banyak berdatangan. Dari mulai kolega bisnis, teman sekolah Papa, juga Dania dan ane, teman kuliah Papa, dan saudara-saudara. Karena banyak yang memakai kendaraan roda empat, komplek perumahan sempat heboh. Tapi ane benar-benar nggak peduli dengan keadaan yang ada.
Waktu salat jumat tiba dan kami yang laki-laki berangkat ke masjid komplek. Jenazah juga sudah berada didalam masjid. Selesai jumatan kemudian diumumkan akan ada salat jenazah. Ane bahagia, sedih sekaligus terharu karena banyak sekali jamaah yang ikut mensalatkan Papa. Ane bertanya dalam hati apakah ini yang dimaksud meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah? Orang yang benar-benar baik itu akan terlihat ketika dirinya sudah nggak ada dunia, apa yang dilakukannya pasti akan berbalas baik dan akan diperlihatkan ketika dia meninggal. Dan ane merasakan itu, melihat sendiri bagaimana orang-orang tidak putus-putus untuk datang melayat serta mendoakan Papa. Om ane juga berbisik kepada ane, “Bapak kamu beruntung banget ya, om juga mau kayak gini nanti. Meninggal dihari besar ini rejeki banget buat beliau.”
Jenazah kemudian dibawa masuk kedalam mobil jenazah. Didepan mobil sudah bersiap iring-iringan pengiring yang dikirimkan oleh walikota daerah ane yang merupakan kawan akrab Papa ane waktu SMA. Semua dimudahkan. Alhamdulillah. Ane menaiki mobil jenazah mendampingi Jenazah Papa yang sudah berada didalam keranda. Perjalanan ke TPU pun terasa sangat cepat karena proses pembukaan jalan yang lancar jaya. Sesampainya disana, entah siapa yang mengurus, sudah bersiap juga. Lubang sudah digali dan keranda mulai dibawa turun. Ane turun mengangkat keranda tersebut. Kemudian prosesi terberat pun sampai pada waktunya. Jenazah diturunkan ke liang lahat dan ane juga turun kebawah sana. Disana ane nggak kuasa untuk menahan segala kepedihan ane. Ane menangis sejadi-jadinya. Ane menangisi semuanya. Lalu ane ditenangkan dan ditarik kembali keatas.
Setelah ditutup secara sempurna, ane mewakili keluarga memberikan pidato singkat. Kemudian satu persatu para peziarah mulai pulang dan tersisa ane dan Keket. Bahkan Mama dan Dania sudah pulang bersama saudara-saudara ane lainnya.
“Ja, ayo kita pulang yuk.” Kata Keket lembut.
“Iya sebentar lagi ya Ket. Gue masih kangen Papa Ket.”
Keket membiarkan ane larut lagi dalam kesedihan. Keket memeluk ane dari samping.
“Pa, ini Kathy. Papa belum sempat lihat dia. Mungkin kemarin Papa lihat tapi nggak memperhatikan. Dia yang semangatin aku Pa, dia yang temenin aku Pa. Dia baik banget ya anaknya? Aku nyesel Pa kenapa terlambat ketemu dia. Kenal sama dia. Yang aku tahu sekarang ini aku ngenalin dia sama Papa, mungkin Papa masih bisa lihat dia dari kejauhan Pa. Aku senang banget Pa. Hati aku hancur berantakan dengan masalahku sebelumnya Pa, ditambah sekarang Papa ninggalin aku, Mama dan Dania juga buat selamanya. Kathy yang ada buat aku Pa. Mama dan Dania juga sudah kenal dengannya. Boleh ya Pa kalau aku sama-sama dia?” ane bergumam sendiri didepan nisan Papa.
Ane mendengar Keket menangis terharu. Tangisnya samar tapi ane bisa merasakannya. Kemudian ane memeluknya dan berdiri. Ane dan Keket pergi meninggalkan makam tersebut dengan hati yang sudah remuk redam. Beruntung ane memiliki (atau belum) Keket waktu itu.
Makasih ya Ket. Maaf selalu buat lo kecewa sama gue.
Diubah oleh yanagi92055 28-08-2019 16:09
itkgid dan 30 lainnya memberi reputasi
31
Tutup
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol