Kaskus

Story

deadtreeAvatar border
TS
deadtree
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
Halo,

sengaja aku buat akun baru untuk nulis cerita ini. Bukan karena apa-apa, aku gak mau ada yang tau siapa aku dan orang-orang yang akan kuceritakan disini. Sengaja juga gak daftar kreator, ahaha karena tujuanku nulis cuma pengen ngeluarin uneg-uneg yang aku simpen selama ini.

Cerita ini gak ada bagus-bagusnya, gak ada romantis-romantisnya, isinya cuma aku dan semua cobaan hidup yang kutelan sendiri dan akhirnya juga harus bangkit sendiri.

Quote:


Oke, aku mulai ya....

- Chapter 1 - Adik Ibuku
- Chapter 2 - Puber & Foto Mesum
- Chapter 3 - Kata Ibu, Aku Aib
- Chapter 4 - Aku dan Kakak Part 1
- Chapter 5 - Aku dan Kakak Part 2
- Chapter 6 - Ayah & Ibu
- Chapter 7 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 1
- Chapter 8 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 2
- Chapter 9 - Duniaku Abu-abu Part 1
- Chapter 10 - Duniaku Abu-abu Part 2
- Chapter 11 - Duniaku Abu-abu Part 3
- Chapter 12 - Babak Baru
- Chapter 13 - Sama Saja
- Chapter 14 - Mas Ibra
- Chapter 15 - Berawal Dari Twitter
- Chapter 16 - Aku Ini Murahan
- Chapter 17 - Gelap
- Chapter 18 - Duniaku Hancur
- Chapter 19 - Tuhan
- Chapter 20 - Kusut
- Chapter 21 - Selalu Begini Berulang-ulang
- Chapter 22 - Mulai Dari Nol
- Chapter 23 - Gereja dan Ustadz
- Chapter 24 - Kambing Hitam
- Chapter 25 - Cinta Yang Salah
- Chapter 26 - Selembar Perselingkuhan
- Chapter 27 - Tunas


SIDE STORY:
1 - Major Depressive Disorder
2 - Adara Putra [Part 1]

Prolog:

Namaku Kamila, saat ini umurku hampir 28 tahun. Berkeluarga? belum. Ingin berkeluarga? Ya, mungkin. Aku bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan Jakarta. Sejak umur 17 tahun, aku tinggal sendiri di kota ini. Tanpa satupun anggota keluarga atau kerabat jauh. Tak ada yang kukenal saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini 10 tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2009.

Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia. 

Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.

Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.

"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.

"Kenapa om?", tanyaku.

Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"

Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.

"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda. 
 "Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.

Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.


Ch.2: Puber & Foto Mesum
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.

Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.

Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).

Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat  tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.

2 menit berlalu, aku seperti mendengar bunyi-bunyian di depan pintu kamarku. Seperti bunyi gesekan ke pintu kamar. Jantungku mulai berdegup kencang, di rumah sedang tak ada siapa-siapa seingatku. Lalu siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarku? Kulihat di celah bagian bawah pintu, nampak bayangan orang yang berdiri mondar-mandir namun tak ada suara hanya dengusan nafasnya yang terdengar sedikit berat. Aku semakin panik, saat itu aku hanya bisa memikirkan maling yang masuk rumah karena beberapa tahun lalu rumahku juga kemalingan dan malingnya membawa pisau hampir menyerangku yang baru saja tiba di rumah saat itu.

Selang beberapa detik diantara kepanikanku, tiba-tiba cahaya putih itu kembali muncul di ventilasi kamar. Kali ini diiringi dengan bunyi 'ckrekkk' berkali-kali, yang menyadarkanku kalau itu ternyata flash kamera. Aku semakin panik, ada orang memotretku dari luar, dan sialnya posisiku saat itu setengah telanjang. "MAMPUS", gumamku dalam hati. Aku gemetaran, tak tau harus berbuat apa. Badanku kaku, aku hanya bisa pura-pura tak tau apa yang terjadi saat itu. Tapi tak dapat dipungkiri, aku sudah mau hampir menangis berharap orang itu cepat-cepat pergi. Namun disela-sela ketakutanku, tiba-tiba aku mendengar suara,

"Ngapain Mas Sapri? Ventilasinya rusak?", tanya orang itu. Aku tak mendengar sahutan dari orang yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.

'Anj***********ng', umpatku lirih. Orang yang daritadi memotretku ternyata Om Sapri. Mau apa dia dengan foto-fotoku? Apa dia lupa kalau aku ini anak dari saudara yang sudah membesarkannya? Kenapa dia malah bertindak tidak senonoh seperti ini?

Banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalaku, tanpa kusadari aku mulai menangis tersedu-sedu di dalam kamar tanpa berani keluar. Sampai malam tiba dan kakak serta papaku pulang, aku masih belum berani keluar kamar.

Papa mengetuk-ngetuk pintu kamarku bertanya kenapa aku mengurung diri. Aku takut, tapi kupaksakan keluar. Kubuka pintu kamar perlahan, masih dengan sedikit terisak. Papa kebingungan melihatku yang amburadul dengan rambut acak-acakan dan mata yang sembab.

"Kenapa dik?", tanya Papaku.

"Gak kenapa-kenapa pa, cuma banyak PR adik capek", sahutku masih dengan sedikit bergetar.

Papa mengelus kepalaku pelan dan memelukku. Dia menyuruhku untuk segera mandi, berganti pakaian dan mengajakku makan malam. Sepanjang makan malam, aku diam membisu. Tak ada sepatah kata yang berani kukeluarkan.

Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali ceria. Aku tak lagi memikirkan apa yang terjadi, yah namanya anak sekolah. Seperti biasa, pukul 14.00 aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk melanjutkan novel teenlit yang belum selesai kubaca. Di rumah juga sepi, hanya ada aku dan beberapa tukang. Tak lama setelah aku pulang, kakakku juga pulang dari sekolahnya. Dia langsung lari ke ruang keluarga dan bermain game konsolnya yang baru dibeli beberapa hari lalu. Kubiarkan sajalah, fikirku. 

Aku langsung masuk ke kamar, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Hari ini terlalu panas dan aku terlalu gerah untuk langsung baca novel, karena itu kuputuskan untuk mandi dan makan siang dahulu.

Kamar mandiku terletak di belakang ruang keluarga, di area dapur bersih menuju ke dapur kotor dan di depan kamar mandi terdapat lorong selebar 2 meter yang cukup gelap jika tidak dinyalakan lampu. Ditengah-tengah aktifitas mandiku yang berisik karena aku juga bersenandung, lagi-lagi aku terkejut dengan cahaya putih yang muncul sekelebat di atas ventilasi pintu kamar mandiku. Aku langsung panik, "Anj*ng, aku telanjang loh ini! Om Sapri gak kapok-kapok!", umpatku dalam hati. Dengan cepat aku bersembunyi di pojok belakang pintu kamar mandi agar dia tak bisa memotretku dari sela ventilasi. Bunyi kamera itu masih terus kudengar sekitar 3-4 kali selama aku bersembunyi dan kemudian hening, tak ada suara apa-apa. Dan sesaat Om Sapri memanggilku, "Dik? Kamu di kamar mandi? Om baru mau pipis nih. Masih lama gak?", tanyanya menyelidik.

Tak ada kata yang keluar dari mulutku, aku diam tak berani bersuara. Om Sapri kembali memanggil, "Dik? Kamu gausah takut Om cuma nanya", timpalnya lagi.

'Hah? Takut? Apa-apaan sih? Apa maksudnya? Kenapa dia malah jadi seperti om-om cabul yang mau merudapaksaku?', aku masih tak bersuara sama sekali, hanya bisa menangis dalam diam dan ketakutanku. Jantungku berdegub kencang sekali dengan ketakutanku diapa-apakan dan tanpa kusadari sudah 1 jam aku mengurung diri di dalam kamar mandi sampai kakakku menggedor-gedor kamar mandi dengan paniknya, "Dik? Dik??!!! Kamu pingsan? Mandi kok gak kelar-kelar? Dikkk????".

"Iya kak, aku cuma lagi gosok-gosok kaki", sahutku lega. Kakakku ternyata masih ada di luar.

"Yaudah cepetan mandinya, kita makan siang. Kakak laper", jawabnya.

"Iya kak, ini udah kok".

Aku tak berani menatap Om Sapri setelah itu, aku juga tak berani menceritakan pada siapa-siapa perkara hal ini. Beberapa bulan berlalu semenjak itu, tak ada lagi teror foto-foto itu, aku fikir masalah sudah selesai. Mungkin aku yang terlalu panik.

Tapi ternyata? Belum, belum selesai. Masih ada yang akan terjadi di depanku....

AKAN ADA KELANJUTANNYA, PANJANG GAN HAHA.

AKU AKAN CURHAT BERKALA, KARENA SAMBIL KERJA.
NAMANYA JUGA CURHAT :").

MOHON MASUKANNYA KALAU ADA KEKURANGAN, TRIMS.

 



Diubah oleh deadtree 20-12-2019 10:59
qisatriaAvatar border
pencarilendi170Avatar border
jamalfirmans282Avatar border
jamalfirmans282 dan 61 lainnya memberi reputasi
60
130.4K
629
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
deadtreeAvatar border
TS
deadtree
#61
Chapter 7 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 1

17 tahun, lulus dari SMA terbaik seprovinsi, berhasil dengan nilai yang cukup baik untuk menerima beasiswa di salah satu Universitas Negeri di Jawa Tengah. Aku bangga dengan pencapaianku, walau mungkin tidak sebaik itu sebenarnya. Aku sangat bersemangat menjalani kehidupanku selanjutnya. Bukan karena aku akan jadi seorang mahasiswi, lebih karena aku bisa hidup sendiri tanpa perlu lagi dihantui oleh caci-maki. Kelihatannya seperti aku ini benci keluarga ya? Tidak kok. Aku sayang seluruh anggota keluargaku, aku hanya ingin menjalani kehidupanku kedepannya sendirian dengan segala macam resiko yang siap kuterima.
Sesuai kesepakatanku dengan Ibu, aku tak jadi mengambil tawaran beasiswa Sarjana di Jawa Tengah. Ibu memilihkanku satu politeknik swasta di Jakarta dengan jurusan keperawatan. Aku tak tahu menahu sama sekali mengenai politeknik itu, yang aku tahu hanya aku akan mengenyam pendidikan Diploma 3 disana.

---

Aku berangkat ke Jakarta ditemani oleh Ayah, Ibu tak turut serta karena bisnisnya sedang padat pengunjung dan tidak bisa ditinggalkan sama sekali. Aku dan Ayah tiba di Jakarta malam hari sekitar pukul 18.00 dan dijemput langsung oleh staff kampus (ayah kenal dengan dekan di kampus tersebut). Setibanya disana, Ayah langsung masuk ruangan dan berbincang dengan dekan (aku lupa nama beliau). Aku duduk menunggu di ruang tunggu kantor dekan sendirian. Ayah nampak senang sekali bertemu beliau, sudah 30 menit berlalu dan tak ada tanda-tanda perbincangan mereka selesai. Aku mulai bosan karena terlalu lama menunggu, kuambil handphone nokia di saku dan kubuka Facebook. Iseng saat itu aku menulis status di dinding profileku bahwa aku sudah tiba di Jakarta dan merasa bosan. Selang beberapa menit, ada notifikasi pesan masuk dari seorang teman yang aku sendiri belum pernah bertemu dengannya.
"Kamu di Jakarta?", sapanya tanpa basa basi.
"Iya nih, oh iya kamu tinggal di jakarta juga kan?", jawabku antusias.
"Iyaaa, yuk ketemu. Aku temenin deh selama kamu di Jakarta", ajaknya.

Namanya Ricky, dia adalah teman dunia mayaku. Aku belum pernah bertemu dengannya, dan entah darimana asalnya aku bisa berteman dengannya di Facebook saat itu. Kami mulai mengobrol panjang lebar, Ricky sepertinya lelaki baik-baik. Dia mengingatkanku untuk sholat Isya dulu sebelum lanjut ngobrol denganku. Aku mengiyakan, kamipun bertukaran nomor telepon sebelum aku beranjak sholat. Setelah selesai sholat, kulihat Ayah juga sudah selesai berdiskusi dengan dekan dan mengajakku ke hotel untuk beristirahat. Di sepanjang perjalanan, Ricky mengirimiku pesan singkat dan obrolan kami berlanjut. Aku menceritakan perihal Ricky pada Ayah, tapi Ayah sedikit kurang yakin tentang pria ini. Sampai akhirnya Ricky menyarankan untuk bertemu Ayahku dulu sebelum Ayahku kembali ke desa besok sore. Kamipun janjian di hotelku, Ricky mengiyakan untuk bertemu besok pukul 14.00.

Keesokan harinya Ricky menepati janji dan mengunjungiku di hotel, Ayah menyambutnya dan mengajaknya berbincang sebentar di lobby. Setelah satu jam, Ayah memanggilku yang asik menonton tv di lobby. Beliau nampak sumringah dan akrab dengan Ricky. Aku yang juga baru pertama kali bertemu Ricky jadi sedikit lebih percaya padanya karena Ayah juga tidak nampak khawatir. Setelah itu Ayah meminta tolong pada Ricky untuk menemaniku berbelanja kebutuhanku sehari-hari, karena aku baru bisa masuk ke asrama kampus minggu depan dan berarti aku harus stay di hotel sampai hari minggu karena saat itu masih hari senin. Ricky mengiyakan dan menawarkan diri untuk mengantar Ayah ke bandara, Ayah menolak karena katanya buang-buang biaya, Ayah bisa sendiri. Saat itu Ayah juga berpesan pada Ricky untuk hanya mengantarku paling jauh sampai ke depan lobby hotel (haha, Ayah masih berjaga-jaga) dan juga menitipkanku pada manager hotel yang kebetulan rekan bisnis Ibu.
Manager hotel, Mas Ibra dengan senang hati membantu Ayah untuk mengawasiku. Beliau langsung memberitahu resepsionis dan sekuriti untuk ikut mengawasiku kalau-kalau aku butuh apa-apa. Setelah berpamitan, Ayah berangkat ke bandara untuk kembali ke desaku, Ayah sedang banyak kerjaan di kantornya jadi tidak bisa berlama-lama menemaniku di Jakarta.

Sesaat setelah Ayah beranjak meninggalkan hotel, Ricky tersenyum dan berkata,
"Yuk, kita belanja di Carrefour aja. Ini udah jam 4 biar gak keburu sore", ajaknya dengan wajah sumringah. Ricky tidaklah rupawan, tapi baik hati sekali. Dia tak menyentuhku, bukan muhrim katanya.
Aku mengiyakan dan kamipun berpamitan pada Mas Ibra. Mas Ibra bilang aku harus pulang paling lambat jam 11 malam, dia akan menungguku. Aku mengangguk mengerti dan kami pergi dengan mobil Toyota Corolla milik Ricky.
Aku belum hafal daerah itu, aku hanya ingat kami melewati Tanah Abang dan kemudian berhenti di sebuah mall yang cukup elit. Ricky mengajakku berbelanja beberapa barang seperti handuk, peralatan mandi dan kebutuhan lainnya. Namun saat aku sedang asik memilih handuk-handuk lucu, Ricky terlihat gelisah dan berkata, "Mila, masih lama gak? Aku takut gak keburu nih".
"Keburu apa Rick?", tanyaku bingung.
"Aku ada janji. Masih jam 8 nanti sih, tapi ini udah jam 7 malam takut gak keburu anter kamu pulang dulu", jawabnya.
"Oh ada janji, yaudah gak apa. Nanti aku minta jemput Mas Ibra aja", jawabku tak enak.
"Eh, jangan! Aku gak enak sama Papamu dan Mas Ibra dong. Sudah diajak, pulangnya masa ditinggal".
"Hmmm, terus gimana? Aku gak apa kok Rick, bener deh.", aku masih berusaha meyakinkan Ricky.
"Jangan ah, gak boleh. Gini aja deh, aku kan cuma ada janji nonton temenku manggung di Gigsnya dia, paling cuma sekitar setengah jam. Abis itu aku anter kamu pulang. Kamu ikut aku sebentar ya, gimana?", jawabnya dengan setengah memohon.
Aku sedikit ragu, takut kemalaman dan aku juga gak kenal teman-teman Ricky.
"Gak deh Rick, aku pulang aja gak apa. Besok aja belanjanya. Aku naik taxi aja.", tolakku lembut.
"Please? Cuma sebentar aku janji aku anter kamu ke Mas Ibra", pintanya memelas.
Aku tak enak menolaknya, "yasudah tapi jam 9 aku sudah harus pulang ya. Aku gak mau Mas Ibra nunggu lama".
"YESSS! Gak salah aku naksir kamu Mila", jawabnya reflek.
"Ha? Apa?", tanyaku kebingungan.
"Hehe, gak apa. Aku cuma naksir kamu udah dari lama sebelum kita ketemu. Seneng aja pas tau kamu mau kuajak pergi nonton musik", sahutnya lagi sambil berjalan ke arah parkiran.
Kami tak jadi berbelanja malam itu, aku malah mengikutinya ke sebuah cafe di Kemang. Riuh rendah suara musik dan nyanyian punk kudengar setibanya kami disana. Ricky mengajakku turun dari mobil dan menyapa teman-temannya. Kuingat saat itu ada sekitar 6-7 temannya, berpakaian hitam sedikit berkeringat dan menenteng banyak peralatan manggung. Kulihat mereka juga memegang gelas-gelas plastik bekas air mineral dengan air yang sedikit keruh, hampir mirip air tajin (ini beneran, aku fikir itu air susu yang kebanyakan air saat itu Gan. Aku gak ngerti kalau ternyata itu arak).
Ricky mengenalkan mereka padaku, satu-satu mereka kusalami tapi tak satupun ada yang kuingat nama mereka. Yang kuingat mereka kurus kering, tinggi, dengan rambut ada yang gondrong, ikal, botak dan cepak.
"Kamu haus?", tanya Ricky.
"Enggak kok", jawabku sekenanya.
"Aku lagi mau beli minum, kamu sekalian kubeliin ya?", tanyanya lagi.
Aku hanya mengangguk, dia segera berlari ke arah pedagang asongan dan membeli 2 botol minuman, 1 minuman kaleng dan 1 air mineral. Kulihat dia berbincang-bincang dengan pedagang itu, mungkin kenalannya gumamku.
Ricky berlari ke arahku sambil menenteng air mineral dan minuman bir kalengan. Aku menerimanya, dan Ricky menyarankanku untuk segera meminumnya karena di dalam cafe tidak boleh bawa minuman dari luar. Akupun mengiyakan, kuminum beberapa teguk dan kuberikan lagi ke Ricky. Ricky kemudian melempar botol itu ke tempat sampah dan lanjut berbincang dengan teman-temannya. Kata Ricky, gig akan dimulai 15 menit lagi, aku hanya mengangguk.
Entah kenapa, saat itu 15 menit terasa sangat lama dan aku sangat mengantuk, sepertinya hari itu aku terlalu kelelahan beraktifitas. Ricky menyarankanku untuk tidur saja di mobilnya, dan tak usah ikut nonton. Aku menuruti Ricky dan berjalan ke arah mobil, tiduran di kursi depan yang sudah diturunkan sandarannya. Ricky juga menyalakan AC agar aku tidak kepanasan. Ricky membiarkanku tidur di mobilnya dan kembali bergabung bersama teman-temannya.

--

Pandanganku gelap, tapi telingaku mendengar suara berisik. Terdengar seperti lenguhan lelaki, tidak hanya satu, aku mendengar banyak suara lenguhan yang berbeda saat itu bersamaan dengan rasa sakit yang teramat sangat seperti melepuh dan luka di bagian kemaluanku. Aku merasakan sesuatu masuk di bagian bawah, di dua lubang bagian bawah (maaf aku ceritanya akan aneh, gak ngerti gimana ceritainnya). Sakit, makin sakit sekujur tubuhku. Rasanya seperti dipukuli ibu dengan sapu dan lidi namun ratusan kali. Aku berusaha membuka mataku namun seperti ada yang menghalangi pandanganku, aku gerakkan tanganku yang mulai juga ikut merasakan sakit untuk mengambil sesuatu yang menghalangi pandanganku namun tertahan sesuatu. Sepertinya tanganku diikat sesuatu, keduanya. Di saat yang bersamaan aku juga merasakan tangan-tangan orang yang memegangi pergelangan kakiku.
Aku tau apa yang terjadi padaku saat itu tapi entah kenapa aku tak bisa bersuara. Aku hanya mengerang kesakitan dan menangis sebisaku berharap apa yang terjadi saat itu hanya mimpi. Semakin lama semakin sakit dan semakin kuat hentakan kurasakan di bagian bawah tubuhku, bagian dadaku juga ikut merasakan nyeri seperti sedang dijepit sesuatu yang keras, yang jelas rasanya seperti luka yang dituangi air.
Aku semakin keras menangis, semakin keras pula erangan kesakitanku. Dan sejurus kemudian seseorang menarik penutup mataku dan blasssss cahaya lampu menyilaukan mataku yang masih penuh dengan air mata. Perlahan aku bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi padaku.
Aku berada di tempat tidur, di ruangan yang sepertinya hotel berukuran sedang, kedua kaki dan tanganku diikat dengan kain, dengan 1 orang lelaki di bawahku dan 1 orang lelaki lain berlutut menghadapku, aku juga melihat ada sekitar 3-4 orang pria berdiri mengelilingiku. Mereka semua telanjang begitupun aku. 2 orang yang berada paling dekat denganku tengah menyetubuhiku tanpa sedikitpun perduli dengan tangisan dan aku yang menggelepar ketakutan. 4 orang lainnya hanya memandangku sambil memegang payudaraku dan alat kelamin mereka masing-masing.
(SKIP YA GAN, SUMPAH INI VULGAR)

---
Mereka sudah kembali mengenakan pakaian mereka dan 2 diantaranya membantu melepas ikatan di kaki dan tanganku. Aku ingin lari dari tempat itu tapi seluruh tubuhku terlalu sakit dan terlalu lemas untuk bergerak, hanya erangan dan air mata yang bisa keluar.
Aku lupa sama sekali dengan apa yang mereka katakan, yang aku ingat sebelum mereka keluar dari kamar hotel salah satu dari mereka melempariku dengan 3 lembar uang 100 ribuan dan pergi begitu saja sambil membanting pintu. Meninggalkanku sendirian yang masih terlentang kesakitan, aku belum tahu sebabakbelur apa tubuhku saat itu. Yang aku tau, aku hanya berusaha menghentikan tangisku dan mengumpulkan tenaga untuk berjalan ke toilet.

(Bersambung)
nomorelies
pulaukapok
kedubes
kedubes dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.