- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for "You":
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
468K
4.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#419
Kunjungan Lapang_Part 1
Setelah UAS semester 4, pelaksanaan kunjungan lapangan atau praktikum lapang pun tiba waktunya. Teman ane seangkatan pun menyiapkan segala sesuatunya. Karena kunjungan ini tidaklah gratis, jadi panitia menyiapkan subsidi silang bagi mereka-mereka yang kurang mampu. Biar semua bisa berangkat dan mendapatkan hasil yang baik di akhir.
Ane, Tanto, Adi F dan Adi S sudah mempersiapkan perbekalan kami selama kunjungan yang dilaksanakan selama 2 minggu ini. Di kostan kami pun ada Iwan dan Widi yang numpang menginap, dengan alasan takut kesiangan. Persiapan sudah dilakukan dengan baik, lalu kami berangkat ke titik temu bis yqng terparkir di wilayah depan kampus. Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Kala itu sudah ada beberapa bis terparkir. Dan seperti yang sudah ane duga, Keket pasti membuat sedemikian rupa agar kelompok ane didampingi olehnya. Pun di bis nya, dia pasti akan satu bis dengan ane.
"Regu 5, absen dulu ya disana sama Kak Kathy." Kata Romi, koordinator saat itu, teman sekelas Rama.
"Yeeey, sama Kaka cantik." Ujar Windy, dia jadi teman regu ane.
"Duh, demen banget deh gue kalau gini, asistennya bening bener, kan jadi semangat gue praktikumnya hahaha." Sahut Ali, teman regu ane.
"Ja, lo diem aja? Nggak seneng lo diasistenin dia? Udah cakep, pintar, gaul lagi, nggak cupu.." kata Reta teman regu juga.
"Nggak, biasa aja kok." Jawab ane lugas.
"Oke, baik teman-teman semua dari regu 5, sudah kumpul semua ya? Oh iya belum ada pemilihan ketua regu ya? Nanti ketua regu ini yang akan banyak mewakili kalian untuk berhubungan dengan para asisten terutama gue ya." Kata Keket.
"Belum ada kak." Jawab kami serempak.
"Yaudah gue langsung pilih ya. Gue pilih Firzy aja ya, gimana yang lain setuju?" Kata Keket lagi.
"Cieeee. Langsung banget pilih Ija ni kak? Nggak pikir-pikir dulu?" Kata Tania mengompori.
"Tau nih, kan kita juga mau kak, apalagi kalau sering komunikasi sama kaka cantik." Alex menambahkan.
"Saya aja deh kak, barangkali nanti saya juga bisa dekat sama kakak. Hehehe." Ujar Ali modus.
Ya, teman sekelas ane memang tidak mengetahui kedekatan ane dengan Keket. Selama ini mereka tahunya Keket adalah pacar Bang Rama. Dengan begini, lama kelamaan pasti mereka akan tahu. Mana Keket kalau dekat ane bawaannya nyosor melulu kan. Hahaha.
"Yaudah nggak apa-apa, gue aja yang jadi ketua tim, biar gue bisa berhubungan langsung dengan Kakak ini terussss." Jawab ane sambil melihat tajam ke Keket. Keket hanya tersenyum kecil.
"Oke baiklah kalau begitu, habis ini kita akan mengabsen perlengkapan ya, Ija, bantu gue ya." Kata Keket gembira.
"Iya Ket, eh Iya Kak." Kata ane malas.
"Panggilan kesayangan aja kali Ja, ngapain pake kak segala. Hehehe." kata Keket berbisik licik ditelinga ane.
"Terserah lo deh Ket." Kata ane berbisik.
Bis kemudian membawa kami menuju ke sebuah desa di Kabupaten Cirebon. Ane akan menghabiskan 2 minggu ane disana, lalu ketika kembali, akan ada pbuatan laporan untuk menyempurnakan nilai praktikum lab kami, dan akan diakumulasi dengan nilai ujian kami, barulah kemudian akan keluar Huruf Mutu nilai kami.
Ane duduk di bis yang seatnya 2, sementara sebelah ane seatnya 3. Ane duduk dengan Adi S ketika itu ditengah-tengah. Sementara tim asisten ada yang duduk di depan dan belakang. Keket duduk di belakang. Ane sempat terlelap cukup lama sampai ane menyadari kalau ternyata Keket sudah ada disebelah ane. Ane awalnya kaget, masa Adi S mau meraba-raba paha ane kemudian dada ane, dan paling bikin malas, kepalanya bersandar di bahu ane. Geli amat masa laki kayak gitu. Tapi ane tersadar bahwa itu bukannya Adi S. Ane baru sadar ketika benar-benar sudah melek sempurna.
"Ket? Ngapain lo tukeran? Kapan tukerannya sama si Adi? Tanya ane heran.
"Gue yang suruh dia duduk dibelakang. Alasannya gue mabuk. Dia nurut." Kata Keket dengan nada manja.
"Ket nggak enak dong sama anak-anak, sama asisten juga. Gue taun depan kan juga mau ngelamar di mata kuliah ini Ket. Lo nggak kasian sama gue?" Kata ane berbisik.
"Bodo amat sama anak-anak, bodo amat sama asisten, dan bodo amat sama lo taun depan mau ngelamar di matkul ini apa nggak. Yang penting, sesuai dengan saran lo, gue jadi asisten ini karena tujuan kita buat bareng-bareng pas praktikum lapang kesampaian."
"Tapi nggak secepet itu juga Ket. Plis."
"Biarin aja gue bilang." Kata Keket sedikit membentak.
Seperti yang diduga, beberapa anak kebangun dan melihat pemandangan ane dan Keket dengan wajah heran. Heran bukan karena ane, tapi Keket yang pindah duduk ke sebelah ane. Padahal Asisten selalu ada di paling depan atau paling belakang.
Ane cuman bisa nggak enak doang ekspresinya ketika itu. Ada yang istigfar juga. Dan momen ini menandakan ane kenal dengan Keket, yang selama ini banyak teman sekelas ane nggak menyangkanya. Mungkin juga sebagian lagi tahu tapi diam-diam saja. Ah biarlah, udah terlanjur juga.
Keket semakin manja sepanjang perjalanan dan itu bikin ane malah nggak nyaman, karena semua teman ane tahu ane adalah pacar Zalina. Bagaimana kalau ada yang iri dan malah membocorkan hal ini ke Zalina? Mampus udah. Mana Zalina tetap sensi lagi sama Keket kan.
Perjalanan akhirnya mencapai tujuannya di sebuah desa di Kabupaten Cirebon. Desa yang cukup terpencil tapi memiliki akses yang lumayan. Ada jalan-jalan yang teraspal rapi, tapi banyak jalanan yang masih berupa sirtu (pasir dan batu). Sejauh mata memandang desa ini nyaman sekali, sawah membentang. Kala itu sawah belum lama ditanami ulang sehingga masih berwarna hijau. Kami sampai sekitar pukul 08.00 pagi. Keket masih tertidur ketika sampai.
"Ket bangun Ket. Udah sampai." Kata ane sambil menepuk pipinya dengan lembut.
"Hummm..haaah? Kok cepet banget. Padahal masih pengen bobo disamping lo." Kata Keket setengah sadar.
Terdengar suara istigfar dari beberapa teman ane yang cewek, terutama yang cupu-cupu.
"Lo kan yang ngawasin, masa lo yang belakangan bangun sih? Ayo ah." Kata ane sambil menggoncangkan kepala Keket.
"Iya iya, sabar ah. Rese banget sih lo." Katanya dengan nada sebal.
Lalu ane beranjak dari kursi, kemudian mempersilakan Keket maju kedepan bis, dan memberi beberapa pengumuman serta instruksi. Setelah itu, kami turun dan mengambil barang-barang dan kelengkapan pribadi serta kelengkapan untuk praktikum lapang. Beres mengambil barang, kami berbaris menurut kelompok masing-masing didampingi para asisten dosen.
Sesuai petunjuk yang diberikan, kami menju ke rumah-rumah penduduk yang sudah ditentukan. Entah bagaimana samplingnya, yang jelas rumah-rumah tersebut telah dipilihkan untuk masing-masing kelompok. Ane kebagian rumah yang sedang ukurannya, sehingga cukup lah untuk memuat satu regu plus dua orang asisten dosen.
"Ja, rumah ini kayak rumah Kakek gue di kampung deh, dekat sawah, terus ada saluran irigasi, dan dekat dengan sungai juga. Jadi ingat nostalgia masa kecil." Kata Keket.
"Oh iya? Seru dong? Tapi disini udaranya nggak terlalu dingin ya." Kata ane.
"Iya kalau dirumah kakek gue dingin banget, malahan tengah hari bolong aja sejuk udaranya." Kata keket lagi.
"Asyik ya, kapan-kapan ajak gue dong." Kata ane meluncur begitu saja dari mulut. Bodoh lagi.
"Seriusan? Nanti gue bilangin deh sama orang disana ya? Mau kapan? Asyik banget deh pokoknya." Kata Keket sangat bersemangat.
"Nanti deh kapan waktu Ket. Udah ya, gue mau beres-beres dulu." Kata ane lalu meninggalkan Keket.
Ali, Windy, Alex dan Reta sudah masuk terlebih dahulu. Ane masuk belakangan bersama Silfi yang sekelompok dengan ane juga. Pas banget ya, 3 orang cowok 3 orang cewek. Rumah ini terdapat 4 kamar tidur dengan satu kamar mandi, dapur yang tidak terlalu luas serta lantai yang masih berupa plesteran yang dihaluskan. Ruang tamunya cukup luas, bisa buat ngampar deh kalau malas tidur dikamar. Windy terlihat agak kurang nyaman, begitu juga dengan Reta. Maklum, anak-anak ini mungkin terbiasa hidup berkecukupan kali ya.
Keket mendapatkan kamar sendiri, tetapi tidak dengan Helmi, salah satu asisten juga. Akhirnya yang cowok-cowok bebas deh mau tidur dimana juga. Setelah beramah tamah dengan pemilik rumah yang memilih untuk mengungsi sejenak kerumah saudaranya yang katanya tidak terlalu jauh dari rumah tersebut, kami memutuskan untuk santai sejenak, ngobrol-ngobrol ringan biar makin akrab, walaupun ospek tahun kemarin cukup membuat kami akrab.
Hari semakin malam dan ane malas jika berdiam diri dirumah, memutuskan untuk keluar rumah berkeliling desa dan mengunjungi beberapa rumah yang jadi tempat menginap teman-teman yang lain.
"Ja mau kemana? Gue ikut dong." Kata Windy.
"Mau keluar bentar, bosen gue. Padahal belum ada sehari. Haha." Kata ane.
Lalu ane dan Windy jalan-jalan sekeliling desa kecil ini sambil mengobrol ringan. Ternyata si anak jahil ini asyik juga diajak ngobrol. Otaknya pun pintar jadi enak kalau diajak diskusi. Cuman nggak enaknya kalau ngomong sama dia mesti nunduk. Haha.
"Eh Ja, hubungan lo sama Zalina gimana? Lancar?" Tanya Windy.
"Lancar Win. Lancar banget malahan. Hehe." Jawab ane.
"Oh gitu. Terus, dari sekian lama lo berdua pacaran udah ngapain aja?" Tanyanya lagi.
"Ya macem-macem, makan, jalan, nonton, sampe tidur bareng. Hahaha." Kata ane.
"Tidur bareng? Seriusan lo?" Dia makin tertarik.
"Iya, dia tidur dikostannya, gue tidur dikostan gue, terus telponan dan ngajak tidur bareng-bareng. Hahaha." Kata ane meledek.
"Dih rese lo, ditanya serius juga."
"Lah gue serius juga jawabnya Win."
"Beneran lo nggak ngapa-ngapain sama dia?"
"Ngapain sih lo lagian kepo bener Win haha. Kepengen lo ya?"
"Nggak Ja, soalnya anak-anak sekarang kan kalau pacaran suka pada parah gitu Ja."
"Parah gimana? Standar parah itu macem-macem Win. Makanya pacaran lah. Hahaha."
"Kok rese sih lo. Gue juga mau pacaran, tapi yang deketin gue nggak ada yang masuk kriteria gue Ja."
"Makanya ngaca dulu kalau mau menetapkan kriteria. Hahaha."
"Yeeey, gue kan mau yang tepat biar nanti bisa gue kekepin terus, terus nikah deh, nggak pake lama-lama pacaran."
"Yaelah, masih muda kita nih, udah mikirin nikah aje lo. Lulus dulu, terus mulai coba kerja, cari pengalaman, baru deh lo nikah. Itu biar kehidupan lo lengkap aja Win. Menurut gue loh ya itu."
"Iya sih gue pingin kayak gitu, tapi apa bisa ya?"
"Ya bisa lah, kan jodoh udah diatur Win, sekarang tinggal tergantung lo ngejar dan merjuanginnya aja Win. Dan satu lagi, udah nggak jamannya cewek itu nunggu. Cewek minimal bisa ngasih sign yang nyata Win, jadi cowok tahu. Nggak semua cowok itu peka."
"Hmmm iya deh. Kata-kata lo bakal gue inget Ja. Makasih ya Ja. Jadi pengen makin jailin lo nih gue Ja. Haha."
"Jailin gimana? Jangan rese lo."
Tiba-tiba Windy mencubit perut ane kencang banget, sampai super kesakitan ane.
"Aaaaah Win, bangs*t sakit banget anjir."
"Mampus lo Ja, abis lo bikin gue gemes sih. Hahaha."
"Awas lo ya, gue kerjain lo nanti."
"Coba aja kalau bisa...weeeek."
Lalu Windy lari kembali kearah rumah singgah kami, dan ane mengejarnya. Lumayan jauh ternyata kami jalan. Ketika ane dan Windy lari dan melewati beberapa rumah singgah lainnya, teman-teman memperhatikan dan langsung berucap "cieee cieee cinlok ni yeeee." Kurang lebih begitu. Ane nggak peduli, yang penting ane tangkap dulu si Windy.
Keket menangkap momen tersebut karena mendengar teriakan teriakan teman ane.
"FIRZY. KAMU MENGHADAP SAYA SEKARANG, ADA YANG PERLU SAYA BICARAKAN!" Ucap Keket lantang, yang membuat beberapa teman ane yang sedang diteras rumah singgah tetangga kaget, dan tentunya membuat teman-teman dirumah singgah ane pun terkaget-kaget.
"Kenapa?" Tanya ane singkat.
"KAMU SAMA ASISTEN YANG SOPAN YA!”ujar Keket keras.
"Biasa aja Ket nggak usah kayak gitu. Gue masih ngos-ngosan nih."
PLAAAKKKK.
Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi kanan ane. Ane malu karena sebelumnya beberapa teman ane sudah memperhatikan. Sakitnya sih jadi nggak berasa.
"IKUT SAYA KEDALAM"
itkgid dan 27 lainnya memberi reputasi
28
Tutup
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol