- Beranda
- Stories from the Heart
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
...
TS
deadtree
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
Halo,
sengaja aku buat akun baru untuk nulis cerita ini. Bukan karena apa-apa, aku gak mau ada yang tau siapa aku dan orang-orang yang akan kuceritakan disini. Sengaja juga gak daftar kreator, ahaha karena tujuanku nulis cuma pengen ngeluarin uneg-uneg yang aku simpen selama ini.
Cerita ini gak ada bagus-bagusnya, gak ada romantis-romantisnya, isinya cuma aku dan semua cobaan hidup yang kutelan sendiri dan akhirnya juga harus bangkit sendiri.
Quote:
Oke, aku mulai ya....
- Chapter 1 - Adik Ibuku
- Chapter 2 - Puber & Foto Mesum
- Chapter 3 - Kata Ibu, Aku Aib
- Chapter 4 - Aku dan Kakak Part 1
- Chapter 5 - Aku dan Kakak Part 2
- Chapter 6 - Ayah & Ibu
- Chapter 7 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 1
- Chapter 8 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 2
- Chapter 9 - Duniaku Abu-abu Part 1
- Chapter 10 - Duniaku Abu-abu Part 2
- Chapter 11 - Duniaku Abu-abu Part 3
- Chapter 12 - Babak Baru
- Chapter 13 - Sama Saja
- Chapter 14 - Mas Ibra
- Chapter 15 - Berawal Dari Twitter
- Chapter 16 - Aku Ini Murahan
- Chapter 17 - Gelap
- Chapter 18 - Duniaku Hancur
- Chapter 19 - Tuhan
- Chapter 20 - Kusut
- Chapter 21 - Selalu Begini Berulang-ulang
- Chapter 22 - Mulai Dari Nol
- Chapter 23 - Gereja dan Ustadz
- Chapter 24 - Kambing Hitam
- Chapter 25 - Cinta Yang Salah
- Chapter 26 - Selembar Perselingkuhan
- Chapter 27 - Tunas
SIDE STORY:
1 - Major Depressive Disorder
2 - Adara Putra [Part 1]
Prolog:
Namaku Kamila, saat ini umurku hampir 28 tahun. Berkeluarga? belum. Ingin berkeluarga? Ya, mungkin. Aku bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan Jakarta. Sejak umur 17 tahun, aku tinggal sendiri di kota ini. Tanpa satupun anggota keluarga atau kerabat jauh. Tak ada yang kukenal saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini 10 tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2009.
Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia.
Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.
Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.
"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.
"Kenapa om?", tanyaku.
Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"
Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.
"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda.
"Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.
Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.
Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia.
Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.
Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.
"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.
"Kenapa om?", tanyaku.
Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"
Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.
"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda.
"Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.
Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.
Ch.2: Puber & Foto Mesum
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.
Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).
Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.
Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).
Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.
2 menit berlalu, aku seperti mendengar bunyi-bunyian di depan pintu kamarku. Seperti bunyi gesekan ke pintu kamar. Jantungku mulai berdegup kencang, di rumah sedang tak ada siapa-siapa seingatku. Lalu siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarku? Kulihat di celah bagian bawah pintu, nampak bayangan orang yang berdiri mondar-mandir namun tak ada suara hanya dengusan nafasnya yang terdengar sedikit berat. Aku semakin panik, saat itu aku hanya bisa memikirkan maling yang masuk rumah karena beberapa tahun lalu rumahku juga kemalingan dan malingnya membawa pisau hampir menyerangku yang baru saja tiba di rumah saat itu.
Selang beberapa detik diantara kepanikanku, tiba-tiba cahaya putih itu kembali muncul di ventilasi kamar. Kali ini diiringi dengan bunyi 'ckrekkk' berkali-kali, yang menyadarkanku kalau itu ternyata flash kamera. Aku semakin panik, ada orang memotretku dari luar, dan sialnya posisiku saat itu setengah telanjang. "MAMPUS", gumamku dalam hati. Aku gemetaran, tak tau harus berbuat apa. Badanku kaku, aku hanya bisa pura-pura tak tau apa yang terjadi saat itu. Tapi tak dapat dipungkiri, aku sudah mau hampir menangis berharap orang itu cepat-cepat pergi. Namun disela-sela ketakutanku, tiba-tiba aku mendengar suara,
"Ngapain Mas Sapri? Ventilasinya rusak?", tanya orang itu. Aku tak mendengar sahutan dari orang yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.
'Anj***********ng', umpatku lirih. Orang yang daritadi memotretku ternyata Om Sapri. Mau apa dia dengan foto-fotoku? Apa dia lupa kalau aku ini anak dari saudara yang sudah membesarkannya? Kenapa dia malah bertindak tidak senonoh seperti ini?
Banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalaku, tanpa kusadari aku mulai menangis tersedu-sedu di dalam kamar tanpa berani keluar. Sampai malam tiba dan kakak serta papaku pulang, aku masih belum berani keluar kamar.
Papa mengetuk-ngetuk pintu kamarku bertanya kenapa aku mengurung diri. Aku takut, tapi kupaksakan keluar. Kubuka pintu kamar perlahan, masih dengan sedikit terisak. Papa kebingungan melihatku yang amburadul dengan rambut acak-acakan dan mata yang sembab.
"Kenapa dik?", tanya Papaku.
"Gak kenapa-kenapa pa, cuma banyak PR adik capek", sahutku masih dengan sedikit bergetar.
Papa mengelus kepalaku pelan dan memelukku. Dia menyuruhku untuk segera mandi, berganti pakaian dan mengajakku makan malam. Sepanjang makan malam, aku diam membisu. Tak ada sepatah kata yang berani kukeluarkan.
Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali ceria. Aku tak lagi memikirkan apa yang terjadi, yah namanya anak sekolah. Seperti biasa, pukul 14.00 aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk melanjutkan novel teenlit yang belum selesai kubaca. Di rumah juga sepi, hanya ada aku dan beberapa tukang. Tak lama setelah aku pulang, kakakku juga pulang dari sekolahnya. Dia langsung lari ke ruang keluarga dan bermain game konsolnya yang baru dibeli beberapa hari lalu. Kubiarkan sajalah, fikirku.
Aku langsung masuk ke kamar, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Hari ini terlalu panas dan aku terlalu gerah untuk langsung baca novel, karena itu kuputuskan untuk mandi dan makan siang dahulu.
Kamar mandiku terletak di belakang ruang keluarga, di area dapur bersih menuju ke dapur kotor dan di depan kamar mandi terdapat lorong selebar 2 meter yang cukup gelap jika tidak dinyalakan lampu. Ditengah-tengah aktifitas mandiku yang berisik karena aku juga bersenandung, lagi-lagi aku terkejut dengan cahaya putih yang muncul sekelebat di atas ventilasi pintu kamar mandiku. Aku langsung panik, "Anj*ng, aku telanjang loh ini! Om Sapri gak kapok-kapok!", umpatku dalam hati. Dengan cepat aku bersembunyi di pojok belakang pintu kamar mandi agar dia tak bisa memotretku dari sela ventilasi. Bunyi kamera itu masih terus kudengar sekitar 3-4 kali selama aku bersembunyi dan kemudian hening, tak ada suara apa-apa. Dan sesaat Om Sapri memanggilku, "Dik? Kamu di kamar mandi? Om baru mau pipis nih. Masih lama gak?", tanyanya menyelidik.
Tak ada kata yang keluar dari mulutku, aku diam tak berani bersuara. Om Sapri kembali memanggil, "Dik? Kamu gausah takut Om cuma nanya", timpalnya lagi.
'Hah? Takut? Apa-apaan sih? Apa maksudnya? Kenapa dia malah jadi seperti om-om cabul yang mau merudapaksaku?', aku masih tak bersuara sama sekali, hanya bisa menangis dalam diam dan ketakutanku. Jantungku berdegub kencang sekali dengan ketakutanku diapa-apakan dan tanpa kusadari sudah 1 jam aku mengurung diri di dalam kamar mandi sampai kakakku menggedor-gedor kamar mandi dengan paniknya, "Dik? Dik??!!! Kamu pingsan? Mandi kok gak kelar-kelar? Dikkk????".
"Iya kak, aku cuma lagi gosok-gosok kaki", sahutku lega. Kakakku ternyata masih ada di luar.
"Yaudah cepetan mandinya, kita makan siang. Kakak laper", jawabnya.
"Iya kak, ini udah kok".
Aku tak berani menatap Om Sapri setelah itu, aku juga tak berani menceritakan pada siapa-siapa perkara hal ini. Beberapa bulan berlalu semenjak itu, tak ada lagi teror foto-foto itu, aku fikir masalah sudah selesai. Mungkin aku yang terlalu panik.
Tapi ternyata? Belum, belum selesai. Masih ada yang akan terjadi di depanku....
AKAN ADA KELANJUTANNYA, PANJANG GAN HAHA.
AKU AKAN CURHAT BERKALA, KARENA SAMBIL KERJA.
NAMANYA JUGA CURHAT :").
NAMANYA JUGA CURHAT :").
MOHON MASUKANNYA KALAU ADA KEKURANGAN, TRIMS.
Diubah oleh deadtree 20-12-2019 10:59
jamalfirmans282 dan 61 lainnya memberi reputasi
60
130.5K
629
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
deadtree
#20
Kemarin baru update 1 kali, maaf ya.
Kerjaan sedang banyak-banyaknya, plus kepalaku sakit semalaman. Recalling bad memories ternyata beneran gak baik buat tubuh, apalagi repressed memories. Huh!
Ch.5 - Aku dan Kakak Part 2
Banyak sekali cara Ibu menuangkan kebenciannya terhadapku. Kerap kali dengan pukulan, tendangan, atau hantaman ke dinding. Walau aku yakin Ibu sebenarnya sayang padaku, aku masih belum tau apa alasan kuatnya dia bisa sebegitu kerasnya padaku dan sebegitu sayangnya pada kakak. Aku tak yakin kalau hanya perkara waktu kecil aku sakit-sakitan dan almarhum kakek yang meninggal bersamaan dengan kelahiranku. Ibu bisa tiba-tiba saja baik selama berbulan-bulan dan bisa berubah menjadi orang jahat dalam beberapa menit.
Seperti saat aku masih duduk di kelas 4 SD, dan Ibu di rumah seharian kala itu. Dari kecil aku dibiasakan Ibu untuk menabung sebagian dari uang jajan harianku. Dulu Ibu memberiku uang jajan 200 rupiah. 50 rupiah biasanya kuhabiskan di sekolah dan sisanya kutabung dalam celengan plastik yang diletakkan di atas lemari pakaian setinggi 2 meter yang terbuat dari rotan. Ibu selalu menagih sisa uang jajanku itu untuk kemudian dia masukkan sendiri ke dalam celengan bersamaku.
Hari itu hari Sabtu, sepulang sekolah seperti biasa setelah berganti pakaian dan bebersih aku langsung menghampiri Ibu dan memberikan uang 150 rupiah untuk ditabung. Ibu mengiyakan dan langsung beranjak ke kamarku, aku mengikuti langkah beliau seperti biasanya. Ibu mengambil celengan di atas lemariku dan membawanya duduk ke tengah ruang kamarku. Ibu tersenyum dan berkata, "wah sudah berat ini. kita buka aja terus ditabung di bank ya. Nanti diisi ulang lagi. Ok?".
"Iya Ma, oke", sahutku berbinar-binar, aku sudah tak sabar menghitung berapa jumlah tabunganku saat itu.
Ibu membuka celenganku, dituangnya isi wadah plastik itu ke lantai. Namun tiba-tiba raut wajah beliau berubah, dari yang tadinya berbinar kini malah mengerenyit tajam ke arah tumpukan logam-logam itu. Matanya nanar seperti mencari sesuatu, dan sesaat tatapannya diarahkan padaku.
"KAU TU YA, GAK PERNAH AKU DIDIK KAU SEPERTI INI!", hardiknya sambil berteriak.
"Hah? Kenapa ma?", tanyaku kelabakan. Aku bingung hal apa lagi yang kulakukan dan membuatnya mendadak mengamuk.
"MANA UANG KERTAS 10 RIBU YANG AKU MASUKKAN CELENGMU? KAU AMBIL YA?? MALING KAU YA!! KAPAN AKU DIDIK KAU JADI MALING HAHHH???", Ibu menghardikku sekuat tenaganya. Dia bangun berdiri, menarik lenganku untuk berdiri. Mendorongku ke arah meja belajar dan kemudian menendangku. Aku terdorong ke arah sudut meja, tiba-tiba ada rasa sakit yang teramat sangat menjalar dari betis sampai ke ujung kepalaku. Kulirik kakiku dan ternyata bagian depan betisku disamping tulang kering sudah tertancap dalam di ujung gagang besi laci meja. Darah segar mengucur dari betisku, tak segera kutarik betisku karena masih ngilu dan sakit yang kurasakan saat itu. Ibu masih sibuk dengan amukannya, dan lanjut menarikku karena tak segera berbalik menghadapnya.
Dia yang menyadari darah mengucur di betisku tak serta merta mengobatiku, lengkingannya semakin meninggi, "KAN? LIHAT KAN?? KALAU GAK BIKIN SALAH GAK AKAN LUKA ITU BADANMU, DASAR ANAK SAMPAH!! CONTOH KAKAKMU, CONTOH DIA!!!".
PLAAKKKKKK, sebuah tamparan mendarat di pipi dan telingaku amat keras sampai aku tak lagi bisa mendengar apa yang dia katakan. Hanya suara berdenging yang kudengar saat itu. Entah keberanian darimana, aku yang sudah lelah dan kesakitan langsung berlari keluar dari rumah, sama sekali tak menoleh ke belakang. Aku berlari sekencang yang aku bisa, meski masih tertatih-tatih. Sialnya, Ibu bisa mengejar dan menangkapku. Menyeretku kembali ke rumah, dibawanya aku ke halaman belakang dan mengguyur kakiku semau hatinya dengan air sampai aku basah kuyup, jelas sekali lubang sebesar kacang tanah di betisku, aku bisa melihat tulang keringku, 'oh cukup dalam ternyata' gumamku lirih. Setelah selesai menyiramiku (tetap dengan makiannya) dia menarikku ke gudang, melilitkan kain yang sudah dituang revanol dan mengunciku di sana, lagi-lagi semalaman. Tanpa makan, tanpa minum dan tanpa penerangan.
Aku tak tahu alasan apa yang Ibu lontarkan ke Ayah perkara lukaku, yang jelas Ayah ikutan murka dan tidak mengajakku bicara sepatah katapun selama berhari-hari.
Seminggu berlalu, lukaku masih menyisakan nyeri. Sore itu Ibu yang sedang merebus jagung memintaku membersihkan kandang ayam di halaman belakang. Aku mengiyakan dan mengambil ember berisi sikat dan sabun di kamar mandi dan membawanya menuju halaman belakang. Saat aku sedang asik bebersih kandang, aku merasakan kembali ngilu yang teramat perih di betisku. Dan ternyata darah kembali mengucur dari lukaku, padahal aku sudah mengganti perbannya. Aku basuh tanganku dan duduk di tepian tangga dapur sambil membuka perban, kulihat luka yang mengering agak sedikit robek dan mengeluarkan darah, kuseka seadanya dengan bajuku. Posisiku saat itu membelakangi pintu dapur yang mengarah ke halaman.
Ibu membuka pintu, melihatku di bawahnya yang difikirnya sedang bersantai langsung menempeleng kepalaku, "Ngapain males-malesan? Disuruh apa malah santai-santai!!", bentaknya sambil memegang sepanci kecil air sisa rebusan jagung.
"Ini Ma, lukanya berdarah", jawabku pelan.
"KAN, ALASAN KAN!! LUKA GITU AJA MANJA KAU, NIH KUTAMBAHIN!", hardiknya. Segera air di panci itu tumpah diguyurnya ke punggungku. Aku terjatuh menggelepar kepanasan, berbarengan dengan tangisku yang langsung keluar tanpa bisa ditahan. Ayah yang kala itu tak sengaja masuk ke dapur melihat itu dan berlari mengejarku. Dengan tergopoh diambilnya air bersih di ember dapur dan disiramkannnya ke tubuhku sambil berteriak, "Diiik nak, ya Allah nakkk".
Aku meringkuk, mengerang, dan sesegukan menangis menahan apa yang harus kuterima hari ini. Ayah melepas bajuku, punggungku sudah nampak kemerahan, dia melepas bajunya, melilitkannya di tubuhku dan menggendongku setengah berlari ke rumah mantri di dekat rumah. Di dalam gendungan Ayah, kulihat Ibu di belakang hanya diam mematung menatapku penuh kebencian.
Malam itu, Ayah ribut besar dengan Ibu. Dan entah kalimat apalagi yang dikeluarkan Ibu sehingga Ayah kembali memaafkan. Ayah mendatangiku ke kamar yang hanya bisa tiduran dengan posisi tertelungkup dan menasehatiku agar tidak lagi melawan Ibu dan tidak boleh berkata kasar. Ayah bilang Ibu khilaf, sudah menasehatiku tapi aku membentaknya katanya.
Karena luka di punggungku itu, aku tidak masuk sekolah selama sebulan penuh. Sebagai gantinya aku harus belajar dari rumah oleh guruku. Nenekku menemaniku di rumah, biar aku cepat sembuh katanya. Ibu seperti biasa, dengan narasinya ke keluarga betapa nakalnya aku. Mungkin iya ya? Aku ini nakal sepertinya.
------
Tanpa terasa, aku naik ke kelas 5 SD saat itu. Saat pembagian rapot, Ibu tak bisa hadir karena sedang ada urusan, Ayah yang datang kala itu. Peringkatku turun, hanya peringkat 2 dan guruku sangat maklum karena aku sempat 1 bulan tidak masuk sekolah. Ayah hanya menepuk pundakku dan berkata, "Bukan ranking kok yang kamu kejar, tapi ilmunya. Belajar yang pinter ya dik", hibur Ayah.
Aku dan Ayah beranjak pulang ke rumah, dan ternyata kakak juga Ibu sudah di rumah. Kakakku mendapat ranking 1 seperti biasanya dan Ibu sedang memangku dan memeluk-meluk kakak penuh kebanggaan. "Dah, tamat aku hari ini", gumamku.
Ayah bercerita ke Ibu kalau aku dapat ranking 2 karena kemarin sempat izin, Ibu diam saja. Tak ada ucapan, menolehpun tidak. Seolah-olah aku tidak ada diantara mereka bertiga. Ada rasa cemburu saat melihat kakak diperlakukan penuh cinta seperti itu, tapi aku terlalu bosan menangis atau mengeluh. Biar sajalah, aku terbiasa seperti ini.
Selepas maghrib, Ayah pamit pada Ibu untuk pergi bertemu janji dengan teman kantornya dan kakak meminta ikut. Seperginya Ayah dan kakak, Ibu langsung bergegas menuju kamarku. Aku yang sedang menggambar langsung panik, Ibu tiba-tiba menyeretku ke depan kaca rias yang berbentuk bingkai setinggi 1 meter, bagian pojok kiri bawahnya sudah retak. Maaf aku lupa cacian apa yang dia keluarkan, yang jelas saat itu aku dipaksa berkaca dengan dia di belakangku berkata aku ini rendah tak sebanding dengan kakak yang pintar. Dia menyalahkanku atas insiden air panas dan tidak masuk sekolah. Dia menyalahkanku atas meninggalnya kakek, dia menyalahkanku atas semua hal yang dia tumpahkan padaku, bahkan aku belum pernah mendengar cerita itu. Aku juga baru tahu, Ibu menyalahkanku atas Ayah yang ternyata selama ini punya selingkuhan wanita pelayan warung kopi. Setelah di bagian selingkuhan, Ibu langsung mendorong kepalaku ke kaca, dan ujung bibirku tepat mengenai pecahan kaca. Ibu masih tetap mencaci makiku, aku lupa karena yang kurasakan hanya perih di ujung bibir yang sepertinya tertancap serpihan kaca.
Aku hanya menangis menahan sakit, sambil dia tetap menahan kepalaku di kaca. Sejam berlalu bersama caciannya dan perihnya bibirku, Ibu berhenti dan meninggalkanku di kamar sendirian, menangisi hidupku dan semua kesalahanku. Karena aku lahirlah, semua orang jadi punya banyak masalah, semuanya jadi kacau.
Kerjaan sedang banyak-banyaknya, plus kepalaku sakit semalaman. Recalling bad memories ternyata beneran gak baik buat tubuh, apalagi repressed memories. Huh!
Ch.5 - Aku dan Kakak Part 2
Banyak sekali cara Ibu menuangkan kebenciannya terhadapku. Kerap kali dengan pukulan, tendangan, atau hantaman ke dinding. Walau aku yakin Ibu sebenarnya sayang padaku, aku masih belum tau apa alasan kuatnya dia bisa sebegitu kerasnya padaku dan sebegitu sayangnya pada kakak. Aku tak yakin kalau hanya perkara waktu kecil aku sakit-sakitan dan almarhum kakek yang meninggal bersamaan dengan kelahiranku. Ibu bisa tiba-tiba saja baik selama berbulan-bulan dan bisa berubah menjadi orang jahat dalam beberapa menit.
Seperti saat aku masih duduk di kelas 4 SD, dan Ibu di rumah seharian kala itu. Dari kecil aku dibiasakan Ibu untuk menabung sebagian dari uang jajan harianku. Dulu Ibu memberiku uang jajan 200 rupiah. 50 rupiah biasanya kuhabiskan di sekolah dan sisanya kutabung dalam celengan plastik yang diletakkan di atas lemari pakaian setinggi 2 meter yang terbuat dari rotan. Ibu selalu menagih sisa uang jajanku itu untuk kemudian dia masukkan sendiri ke dalam celengan bersamaku.
Hari itu hari Sabtu, sepulang sekolah seperti biasa setelah berganti pakaian dan bebersih aku langsung menghampiri Ibu dan memberikan uang 150 rupiah untuk ditabung. Ibu mengiyakan dan langsung beranjak ke kamarku, aku mengikuti langkah beliau seperti biasanya. Ibu mengambil celengan di atas lemariku dan membawanya duduk ke tengah ruang kamarku. Ibu tersenyum dan berkata, "wah sudah berat ini. kita buka aja terus ditabung di bank ya. Nanti diisi ulang lagi. Ok?".
"Iya Ma, oke", sahutku berbinar-binar, aku sudah tak sabar menghitung berapa jumlah tabunganku saat itu.
Ibu membuka celenganku, dituangnya isi wadah plastik itu ke lantai. Namun tiba-tiba raut wajah beliau berubah, dari yang tadinya berbinar kini malah mengerenyit tajam ke arah tumpukan logam-logam itu. Matanya nanar seperti mencari sesuatu, dan sesaat tatapannya diarahkan padaku.
"KAU TU YA, GAK PERNAH AKU DIDIK KAU SEPERTI INI!", hardiknya sambil berteriak.
"Hah? Kenapa ma?", tanyaku kelabakan. Aku bingung hal apa lagi yang kulakukan dan membuatnya mendadak mengamuk.
"MANA UANG KERTAS 10 RIBU YANG AKU MASUKKAN CELENGMU? KAU AMBIL YA?? MALING KAU YA!! KAPAN AKU DIDIK KAU JADI MALING HAHHH???", Ibu menghardikku sekuat tenaganya. Dia bangun berdiri, menarik lenganku untuk berdiri. Mendorongku ke arah meja belajar dan kemudian menendangku. Aku terdorong ke arah sudut meja, tiba-tiba ada rasa sakit yang teramat sangat menjalar dari betis sampai ke ujung kepalaku. Kulirik kakiku dan ternyata bagian depan betisku disamping tulang kering sudah tertancap dalam di ujung gagang besi laci meja. Darah segar mengucur dari betisku, tak segera kutarik betisku karena masih ngilu dan sakit yang kurasakan saat itu. Ibu masih sibuk dengan amukannya, dan lanjut menarikku karena tak segera berbalik menghadapnya.
Dia yang menyadari darah mengucur di betisku tak serta merta mengobatiku, lengkingannya semakin meninggi, "KAN? LIHAT KAN?? KALAU GAK BIKIN SALAH GAK AKAN LUKA ITU BADANMU, DASAR ANAK SAMPAH!! CONTOH KAKAKMU, CONTOH DIA!!!".
PLAAKKKKKK, sebuah tamparan mendarat di pipi dan telingaku amat keras sampai aku tak lagi bisa mendengar apa yang dia katakan. Hanya suara berdenging yang kudengar saat itu. Entah keberanian darimana, aku yang sudah lelah dan kesakitan langsung berlari keluar dari rumah, sama sekali tak menoleh ke belakang. Aku berlari sekencang yang aku bisa, meski masih tertatih-tatih. Sialnya, Ibu bisa mengejar dan menangkapku. Menyeretku kembali ke rumah, dibawanya aku ke halaman belakang dan mengguyur kakiku semau hatinya dengan air sampai aku basah kuyup, jelas sekali lubang sebesar kacang tanah di betisku, aku bisa melihat tulang keringku, 'oh cukup dalam ternyata' gumamku lirih. Setelah selesai menyiramiku (tetap dengan makiannya) dia menarikku ke gudang, melilitkan kain yang sudah dituang revanol dan mengunciku di sana, lagi-lagi semalaman. Tanpa makan, tanpa minum dan tanpa penerangan.
Aku tak tahu alasan apa yang Ibu lontarkan ke Ayah perkara lukaku, yang jelas Ayah ikutan murka dan tidak mengajakku bicara sepatah katapun selama berhari-hari.
Seminggu berlalu, lukaku masih menyisakan nyeri. Sore itu Ibu yang sedang merebus jagung memintaku membersihkan kandang ayam di halaman belakang. Aku mengiyakan dan mengambil ember berisi sikat dan sabun di kamar mandi dan membawanya menuju halaman belakang. Saat aku sedang asik bebersih kandang, aku merasakan kembali ngilu yang teramat perih di betisku. Dan ternyata darah kembali mengucur dari lukaku, padahal aku sudah mengganti perbannya. Aku basuh tanganku dan duduk di tepian tangga dapur sambil membuka perban, kulihat luka yang mengering agak sedikit robek dan mengeluarkan darah, kuseka seadanya dengan bajuku. Posisiku saat itu membelakangi pintu dapur yang mengarah ke halaman.
Ibu membuka pintu, melihatku di bawahnya yang difikirnya sedang bersantai langsung menempeleng kepalaku, "Ngapain males-malesan? Disuruh apa malah santai-santai!!", bentaknya sambil memegang sepanci kecil air sisa rebusan jagung.
"Ini Ma, lukanya berdarah", jawabku pelan.
"KAN, ALASAN KAN!! LUKA GITU AJA MANJA KAU, NIH KUTAMBAHIN!", hardiknya. Segera air di panci itu tumpah diguyurnya ke punggungku. Aku terjatuh menggelepar kepanasan, berbarengan dengan tangisku yang langsung keluar tanpa bisa ditahan. Ayah yang kala itu tak sengaja masuk ke dapur melihat itu dan berlari mengejarku. Dengan tergopoh diambilnya air bersih di ember dapur dan disiramkannnya ke tubuhku sambil berteriak, "Diiik nak, ya Allah nakkk".
Aku meringkuk, mengerang, dan sesegukan menangis menahan apa yang harus kuterima hari ini. Ayah melepas bajuku, punggungku sudah nampak kemerahan, dia melepas bajunya, melilitkannya di tubuhku dan menggendongku setengah berlari ke rumah mantri di dekat rumah. Di dalam gendungan Ayah, kulihat Ibu di belakang hanya diam mematung menatapku penuh kebencian.
Malam itu, Ayah ribut besar dengan Ibu. Dan entah kalimat apalagi yang dikeluarkan Ibu sehingga Ayah kembali memaafkan. Ayah mendatangiku ke kamar yang hanya bisa tiduran dengan posisi tertelungkup dan menasehatiku agar tidak lagi melawan Ibu dan tidak boleh berkata kasar. Ayah bilang Ibu khilaf, sudah menasehatiku tapi aku membentaknya katanya.
Karena luka di punggungku itu, aku tidak masuk sekolah selama sebulan penuh. Sebagai gantinya aku harus belajar dari rumah oleh guruku. Nenekku menemaniku di rumah, biar aku cepat sembuh katanya. Ibu seperti biasa, dengan narasinya ke keluarga betapa nakalnya aku. Mungkin iya ya? Aku ini nakal sepertinya.
------
Tanpa terasa, aku naik ke kelas 5 SD saat itu. Saat pembagian rapot, Ibu tak bisa hadir karena sedang ada urusan, Ayah yang datang kala itu. Peringkatku turun, hanya peringkat 2 dan guruku sangat maklum karena aku sempat 1 bulan tidak masuk sekolah. Ayah hanya menepuk pundakku dan berkata, "Bukan ranking kok yang kamu kejar, tapi ilmunya. Belajar yang pinter ya dik", hibur Ayah.
Aku dan Ayah beranjak pulang ke rumah, dan ternyata kakak juga Ibu sudah di rumah. Kakakku mendapat ranking 1 seperti biasanya dan Ibu sedang memangku dan memeluk-meluk kakak penuh kebanggaan. "Dah, tamat aku hari ini", gumamku.
Ayah bercerita ke Ibu kalau aku dapat ranking 2 karena kemarin sempat izin, Ibu diam saja. Tak ada ucapan, menolehpun tidak. Seolah-olah aku tidak ada diantara mereka bertiga. Ada rasa cemburu saat melihat kakak diperlakukan penuh cinta seperti itu, tapi aku terlalu bosan menangis atau mengeluh. Biar sajalah, aku terbiasa seperti ini.
Selepas maghrib, Ayah pamit pada Ibu untuk pergi bertemu janji dengan teman kantornya dan kakak meminta ikut. Seperginya Ayah dan kakak, Ibu langsung bergegas menuju kamarku. Aku yang sedang menggambar langsung panik, Ibu tiba-tiba menyeretku ke depan kaca rias yang berbentuk bingkai setinggi 1 meter, bagian pojok kiri bawahnya sudah retak. Maaf aku lupa cacian apa yang dia keluarkan, yang jelas saat itu aku dipaksa berkaca dengan dia di belakangku berkata aku ini rendah tak sebanding dengan kakak yang pintar. Dia menyalahkanku atas insiden air panas dan tidak masuk sekolah. Dia menyalahkanku atas meninggalnya kakek, dia menyalahkanku atas semua hal yang dia tumpahkan padaku, bahkan aku belum pernah mendengar cerita itu. Aku juga baru tahu, Ibu menyalahkanku atas Ayah yang ternyata selama ini punya selingkuhan wanita pelayan warung kopi. Setelah di bagian selingkuhan, Ibu langsung mendorong kepalaku ke kaca, dan ujung bibirku tepat mengenai pecahan kaca. Ibu masih tetap mencaci makiku, aku lupa karena yang kurasakan hanya perih di ujung bibir yang sepertinya tertancap serpihan kaca.
Aku hanya menangis menahan sakit, sambil dia tetap menahan kepalaku di kaca. Sejam berlalu bersama caciannya dan perihnya bibirku, Ibu berhenti dan meninggalkanku di kamar sendirian, menangisi hidupku dan semua kesalahanku. Karena aku lahirlah, semua orang jadi punya banyak masalah, semuanya jadi kacau.
Diubah oleh deadtree 23-08-2019 08:04
pulaukapok dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Tutup