- Beranda
- Stories from the Heart
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
...
TS
deadtree
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
Halo,
sengaja aku buat akun baru untuk nulis cerita ini. Bukan karena apa-apa, aku gak mau ada yang tau siapa aku dan orang-orang yang akan kuceritakan disini. Sengaja juga gak daftar kreator, ahaha karena tujuanku nulis cuma pengen ngeluarin uneg-uneg yang aku simpen selama ini.
Cerita ini gak ada bagus-bagusnya, gak ada romantis-romantisnya, isinya cuma aku dan semua cobaan hidup yang kutelan sendiri dan akhirnya juga harus bangkit sendiri.
Quote:
Oke, aku mulai ya....
- Chapter 1 - Adik Ibuku
- Chapter 2 - Puber & Foto Mesum
- Chapter 3 - Kata Ibu, Aku Aib
- Chapter 4 - Aku dan Kakak Part 1
- Chapter 5 - Aku dan Kakak Part 2
- Chapter 6 - Ayah & Ibu
- Chapter 7 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 1
- Chapter 8 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 2
- Chapter 9 - Duniaku Abu-abu Part 1
- Chapter 10 - Duniaku Abu-abu Part 2
- Chapter 11 - Duniaku Abu-abu Part 3
- Chapter 12 - Babak Baru
- Chapter 13 - Sama Saja
- Chapter 14 - Mas Ibra
- Chapter 15 - Berawal Dari Twitter
- Chapter 16 - Aku Ini Murahan
- Chapter 17 - Gelap
- Chapter 18 - Duniaku Hancur
- Chapter 19 - Tuhan
- Chapter 20 - Kusut
- Chapter 21 - Selalu Begini Berulang-ulang
- Chapter 22 - Mulai Dari Nol
- Chapter 23 - Gereja dan Ustadz
- Chapter 24 - Kambing Hitam
- Chapter 25 - Cinta Yang Salah
- Chapter 26 - Selembar Perselingkuhan
- Chapter 27 - Tunas
SIDE STORY:
1 - Major Depressive Disorder
2 - Adara Putra [Part 1]
Prolog:
Namaku Kamila, saat ini umurku hampir 28 tahun. Berkeluarga? belum. Ingin berkeluarga? Ya, mungkin. Aku bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan Jakarta. Sejak umur 17 tahun, aku tinggal sendiri di kota ini. Tanpa satupun anggota keluarga atau kerabat jauh. Tak ada yang kukenal saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini 10 tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2009.
Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia.
Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.
Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.
"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.
"Kenapa om?", tanyaku.
Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"
Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.
"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda.
"Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.
Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.
Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia.
Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.
Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.
"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.
"Kenapa om?", tanyaku.
Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"
Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.
"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda.
"Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.
Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.
Ch.2: Puber & Foto Mesum
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.
Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).
Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.
Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).
Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.
2 menit berlalu, aku seperti mendengar bunyi-bunyian di depan pintu kamarku. Seperti bunyi gesekan ke pintu kamar. Jantungku mulai berdegup kencang, di rumah sedang tak ada siapa-siapa seingatku. Lalu siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarku? Kulihat di celah bagian bawah pintu, nampak bayangan orang yang berdiri mondar-mandir namun tak ada suara hanya dengusan nafasnya yang terdengar sedikit berat. Aku semakin panik, saat itu aku hanya bisa memikirkan maling yang masuk rumah karena beberapa tahun lalu rumahku juga kemalingan dan malingnya membawa pisau hampir menyerangku yang baru saja tiba di rumah saat itu.
Selang beberapa detik diantara kepanikanku, tiba-tiba cahaya putih itu kembali muncul di ventilasi kamar. Kali ini diiringi dengan bunyi 'ckrekkk' berkali-kali, yang menyadarkanku kalau itu ternyata flash kamera. Aku semakin panik, ada orang memotretku dari luar, dan sialnya posisiku saat itu setengah telanjang. "MAMPUS", gumamku dalam hati. Aku gemetaran, tak tau harus berbuat apa. Badanku kaku, aku hanya bisa pura-pura tak tau apa yang terjadi saat itu. Tapi tak dapat dipungkiri, aku sudah mau hampir menangis berharap orang itu cepat-cepat pergi. Namun disela-sela ketakutanku, tiba-tiba aku mendengar suara,
"Ngapain Mas Sapri? Ventilasinya rusak?", tanya orang itu. Aku tak mendengar sahutan dari orang yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.
'Anj***********ng', umpatku lirih. Orang yang daritadi memotretku ternyata Om Sapri. Mau apa dia dengan foto-fotoku? Apa dia lupa kalau aku ini anak dari saudara yang sudah membesarkannya? Kenapa dia malah bertindak tidak senonoh seperti ini?
Banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalaku, tanpa kusadari aku mulai menangis tersedu-sedu di dalam kamar tanpa berani keluar. Sampai malam tiba dan kakak serta papaku pulang, aku masih belum berani keluar kamar.
Papa mengetuk-ngetuk pintu kamarku bertanya kenapa aku mengurung diri. Aku takut, tapi kupaksakan keluar. Kubuka pintu kamar perlahan, masih dengan sedikit terisak. Papa kebingungan melihatku yang amburadul dengan rambut acak-acakan dan mata yang sembab.
"Kenapa dik?", tanya Papaku.
"Gak kenapa-kenapa pa, cuma banyak PR adik capek", sahutku masih dengan sedikit bergetar.
Papa mengelus kepalaku pelan dan memelukku. Dia menyuruhku untuk segera mandi, berganti pakaian dan mengajakku makan malam. Sepanjang makan malam, aku diam membisu. Tak ada sepatah kata yang berani kukeluarkan.
Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali ceria. Aku tak lagi memikirkan apa yang terjadi, yah namanya anak sekolah. Seperti biasa, pukul 14.00 aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk melanjutkan novel teenlit yang belum selesai kubaca. Di rumah juga sepi, hanya ada aku dan beberapa tukang. Tak lama setelah aku pulang, kakakku juga pulang dari sekolahnya. Dia langsung lari ke ruang keluarga dan bermain game konsolnya yang baru dibeli beberapa hari lalu. Kubiarkan sajalah, fikirku.
Aku langsung masuk ke kamar, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Hari ini terlalu panas dan aku terlalu gerah untuk langsung baca novel, karena itu kuputuskan untuk mandi dan makan siang dahulu.
Kamar mandiku terletak di belakang ruang keluarga, di area dapur bersih menuju ke dapur kotor dan di depan kamar mandi terdapat lorong selebar 2 meter yang cukup gelap jika tidak dinyalakan lampu. Ditengah-tengah aktifitas mandiku yang berisik karena aku juga bersenandung, lagi-lagi aku terkejut dengan cahaya putih yang muncul sekelebat di atas ventilasi pintu kamar mandiku. Aku langsung panik, "Anj*ng, aku telanjang loh ini! Om Sapri gak kapok-kapok!", umpatku dalam hati. Dengan cepat aku bersembunyi di pojok belakang pintu kamar mandi agar dia tak bisa memotretku dari sela ventilasi. Bunyi kamera itu masih terus kudengar sekitar 3-4 kali selama aku bersembunyi dan kemudian hening, tak ada suara apa-apa. Dan sesaat Om Sapri memanggilku, "Dik? Kamu di kamar mandi? Om baru mau pipis nih. Masih lama gak?", tanyanya menyelidik.
Tak ada kata yang keluar dari mulutku, aku diam tak berani bersuara. Om Sapri kembali memanggil, "Dik? Kamu gausah takut Om cuma nanya", timpalnya lagi.
'Hah? Takut? Apa-apaan sih? Apa maksudnya? Kenapa dia malah jadi seperti om-om cabul yang mau merudapaksaku?', aku masih tak bersuara sama sekali, hanya bisa menangis dalam diam dan ketakutanku. Jantungku berdegub kencang sekali dengan ketakutanku diapa-apakan dan tanpa kusadari sudah 1 jam aku mengurung diri di dalam kamar mandi sampai kakakku menggedor-gedor kamar mandi dengan paniknya, "Dik? Dik??!!! Kamu pingsan? Mandi kok gak kelar-kelar? Dikkk????".
"Iya kak, aku cuma lagi gosok-gosok kaki", sahutku lega. Kakakku ternyata masih ada di luar.
"Yaudah cepetan mandinya, kita makan siang. Kakak laper", jawabnya.
"Iya kak, ini udah kok".
Aku tak berani menatap Om Sapri setelah itu, aku juga tak berani menceritakan pada siapa-siapa perkara hal ini. Beberapa bulan berlalu semenjak itu, tak ada lagi teror foto-foto itu, aku fikir masalah sudah selesai. Mungkin aku yang terlalu panik.
Tapi ternyata? Belum, belum selesai. Masih ada yang akan terjadi di depanku....
AKAN ADA KELANJUTANNYA, PANJANG GAN HAHA.
AKU AKAN CURHAT BERKALA, KARENA SAMBIL KERJA.
NAMANYA JUGA CURHAT :").
NAMANYA JUGA CURHAT :").
MOHON MASUKANNYA KALAU ADA KEKURANGAN, TRIMS.
Diubah oleh deadtree 20-12-2019 10:59
jamalfirmans282 dan 61 lainnya memberi reputasi
60
130.3K
629
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
deadtree
#13
Ch.4 - Aku dan Kakak Part 1
2 hari aku tidak masuk sekolah, Ibu sama sekali tak menyinggung masalah Om Sapri. Di rumah, semua berjalan seperti biasanya, semua kegiatan dijalankan sama seperti hari-hari lainnya. Kecuali aku, entah kenapa ada yang aneh di diriku. Seakan ada sesuatu yang berubah, hilang dan menjadikanku orang yang berbeda. Ibu tak sekali ini saja memperlakukanku seperti sampah dan aib bagi keluarga, berulangkali kalimat penyesalannya melahirkanku keluar dari mulutnya.
Dulu, waktu detik-detik kelahiranku, ayah Ibu (almarhum Kakekku) dilarikan ke rumah sakit karena penyakit paru-parunya. Saat itu Ibu sangat ingin menemani beliau di sana, tapi apa daya Ibu sudah memasuki pembukaan 6. Dan yang membuat Ibu semakin menyesal dan hancur hatinya adalah aku lahir bersamaan dengan berhembusnya nafas terakhir Kakek. Nenekku pernah bercerita saat itu, menurut mitos dari tetua desaku, kakek bertukar nyawa untuk kelahiranku. Dan Ibu percaya akan hal itu, dari situlah awal mula dia membenciku. Walau tak sepenuhnya benci, karena bagaimanapun juga aku anak kandungnya.
3 hari setelah kelahiranku dan kematian kakek, aku harus diopname karena menderita sakit paru-paru basah dan asma. Ibu dan Ayah yang saat itu berekonomi pas-pasan terpaksa harus menjual TV dan cincin kimpoi mereka untuk biaya pengobatanku. Setiap Ibu marah padaku, Ibu selalu berteriak, "DARI LAHIR SAJA KAU INI NYUSAHIN. NGABISIN HARTAKU! SAMPAI BAPAKKU HARUS MATI BUAT KAU!".
Sampai sekarang dampak dari omongan Ibu masih kurasakan, aku selalu ketakutan akan jadi alasan marah, kecewa, sedih dan hancurnya hati seseorang karena keberadaanku. Bodoh ya? Maaf memang otakku ini sudah begini dari aku kecil.
Dari bayi, aku memang sakit-sakitan. Ibu merawatku tanpa mengeluh, walau tetap ada rasa benci karena harus melahirkan anak yang tak sebaik kakakku. Kakak, hmmm dia sosok yang sempurna sebagai anak. Pintar, sehat, santun, pendiam dan selalu menurut apapun kata orangtuaku. Dari masih kelas 1 SD, kakak lompat kelas ke kelas 2 karena menurut wali kelasnya kakak terlalu pintar, bisa langsung ikut kesetaraan siswa kelas 2. Setelah lompat kelas, kakak selalu dapat nilai 10 untuk semua mata pelajaran. Ranking 1 selalu bertengger di rapotnya sampai kelas 6 SD. Belum selesai sampai di situ, kakakku masuk SMP terbaik di provinsiku dan masuk kelas terfavorit. Ranking 1 masih terus bertengger di rapotnya. Di kelas 2 SMP, kakakku ikut olimpiade SAINS dan jadi juara nasional. Beasiswa S*mpoerna diterimanya dan menjaminnya bersekolah gratis sampai Sarjana. Ibuku bangga sekali saat itu.
Entah berapa puluh kejuaraan yang dia ikuti, dan entah berapa tawaran beasiswa yang ditolaknya. Masuk ke SMA terbaik di provinsiku dan kembali mencetak prestasi gemilang. Lulus dengan nilai tertinggi dan masuk ke perguruan tinggi terbaik. Dia memutuskan mengambil jurusan Biologi, karena cita-citanya sejak kecil memang ingin jadi seorang guru. Tak berhenti sampai di situ, di pertengahan pendidikan tingginya, kakak ditawari kembali untuk ikut tes kepintaran dan lagi-lagi mendapat nilai tertinggi. Apa hadiahnya? Beasiswa S2 full ke Australia. Tapi sayangnya saat itu kakak menolak karena dia saat ini hanya perlu ijazah sarjana untuk mendidik anak-anak di pedalaman. Lucu ya? Kakak kadang terlalu polos.
Kakak tak seperti Ibu dan Ayah, dia perhatian padaku seolah-olah aku inilah yang harus dia bahagiakan kelak. Ya setidaknya itu yang kurasakan sampai kakak kenal yang namanya pacaran, hehe. Aku tak protes, dia juga butuh bersenang-senang tak melulu tentangku. Akupun tak ingin membebaninya dengan kisah-kisah pilu yang kualami.
Kembali ke aku...
Bertolak belakang 180 derajat dengan kakak, aku ini tak bisa mengejar kepintarannya. Pernah kupaksakan dari kelas 1 sampai kelas 4 SD untuk terus dapat peringkat 1, meski tetap dibanding-bandingkan dengan kakak. Ibu bilang kakak tak perlu bersusah payah belajar sepertiku, kakak memang benar-benar pintar. Beda. Aku ini beda pokoknya di mata Ibu.
Sejak kecil aku dan kakak terbiasa belajar setiap sehabis maghrib, kakak dibiarkan belajar sendiri di meja belajarnya dan aku akan belajar di lantai didampingi Ibu. Sehabis maghrib aku akan menyiapkan buku pelajaran di lantai lengkap dengan 3 batang lidi yang sudah diikat dengan karet gelang di sampingku. Sistemnya seperti ujian lisan, Ibu akan memberiku pertanyaan dan aku harus menjawab cepat. Jika tidak bisa, ya lidi itu melayang melukis garis-garis merah yang mengeluarkan bercak darah di tangan, paha, punggung. Setengah mati aku belajar di sekolah agar jangan sampai lidi-lidi itu hinggap di punggungku.
Kakak tak berani membelaku, karena dia sendiri sebenarnya takut dengan Ibu. Akupun tak butuh pembelaannya, karena pernah sekali kakak berusaha membelaku dan aku dipecut Ibu semakin keras dengan tambahan bonus dikurung di WC belakang rumah semalaman suntuk.
Waktu aku duduk di kelas 3 SD, aku masuk TPA dengan jam mengaji di pagi hari dari pukul 06.00 - 08.00 dan berangkat sekolah pukul 12.00 sampai 16.00 (sekolahku dibagi-bagi, biasanya kelas 3 SD masuk siang). Aku ingat sekali pagi itu anak yang harusnya piket kebersihan di TPA tidak masuk karena sakit, guru ngajiku memintaku dan 2 temanku (ratna dan siti) menggantikan tugas untuk piket bersih-bersih sepulang mengaji. Aku menurut dan membereskan kelasku selama 15 menit dan pulang. Perjalanan dari TPA ke rumah hanya sekitar 10 menit, aku tiba di rumah hampir pukul 08.30 hari itu.
Setibanya di rumah, Ibuku sudah berdiri di depan garasi menungguku dengan mata melotot ke arahku. Kuberanikan diri mendekatinya dan langsung disambut dengan tarikan keras di telingaku sampai aku tersungkur di lantai semen garasi yang kasar. Ibu menyeretku hanya dengan tarikan di telinga ke arah kamarku dan didorongnya aku ke ujung ruangan, aku ingat sekali kepalaku terbentur sudut meja kayu menyisakan darah di pelipis. Ibu masuk ke kamar membawa gagang sapu ijuk dan duduk di kursi.
"Darimana kau?", tanyanya setengah berteriak.
"Dari TPA Ma, tadi disuruh bersih-bersih sama Ustad Danu.", jawabku gemetaran sambil memegangi pelipisku yang berdarah dan betisku yang lecet tergerus lantai semen di garasi.
"Gak usah bohong, kupatahkan kaki kau ya!", ancam Ibu.
"Benar Ma, tanya sama pak Ustad aja", sahutku pelan.
"AH PEMBOHONG! ANAK SETAN!!!!", Ibu berteriak dan mengayunkan gagang sapu ke arahku dan mengenai pinggangku. Aku berteriak kesakitan dan berlari ke ujung ruangan. Ibu mengepungku dan kembali mengayunkan gagang sapu ke pahaku. Saking kerasnya Ibu memukulku, gagang itu patah menjadi dua dan menyisakan teriakanku yang mendadak kelu. Tak ada suara yang keluar dari mulutku, habis semuanya dengan airmata kesakitan. Ibu tak perduli, dia sudah gelap mata sepertinya. Diseretnya aku dari pojok ruangan menuju halaman belakang yang bersebelahan dengan dapur kotor. Dibiarkannya aku disitu dengan teriknya matahari, luka di pelipis, paha, pinggang dan betisku. Aku merangkak mencari tempat rindang untuk berteduh, sinar matahari itu menyengat luka-lukaku dan membuatnya semakin perih saja.
Tak berapa lama kudengar deru mobil, Ibu sudah berangkat ke tempat kerjanya fikirku. Aku tak bisa masuk rumah, aku dikuncinya dari luar. Sedangkan aku harus berangkat ke sekolah siang ini. Tanpa terasa air mataku jatuh lagi, aku menangis sejadi-jadinya sambil meringkuk di bawah tandon air tempatku berteduh.
Ah, hari sial ini lagi fikirku...
2 hari aku tidak masuk sekolah, Ibu sama sekali tak menyinggung masalah Om Sapri. Di rumah, semua berjalan seperti biasanya, semua kegiatan dijalankan sama seperti hari-hari lainnya. Kecuali aku, entah kenapa ada yang aneh di diriku. Seakan ada sesuatu yang berubah, hilang dan menjadikanku orang yang berbeda. Ibu tak sekali ini saja memperlakukanku seperti sampah dan aib bagi keluarga, berulangkali kalimat penyesalannya melahirkanku keluar dari mulutnya.
Dulu, waktu detik-detik kelahiranku, ayah Ibu (almarhum Kakekku) dilarikan ke rumah sakit karena penyakit paru-parunya. Saat itu Ibu sangat ingin menemani beliau di sana, tapi apa daya Ibu sudah memasuki pembukaan 6. Dan yang membuat Ibu semakin menyesal dan hancur hatinya adalah aku lahir bersamaan dengan berhembusnya nafas terakhir Kakek. Nenekku pernah bercerita saat itu, menurut mitos dari tetua desaku, kakek bertukar nyawa untuk kelahiranku. Dan Ibu percaya akan hal itu, dari situlah awal mula dia membenciku. Walau tak sepenuhnya benci, karena bagaimanapun juga aku anak kandungnya.
3 hari setelah kelahiranku dan kematian kakek, aku harus diopname karena menderita sakit paru-paru basah dan asma. Ibu dan Ayah yang saat itu berekonomi pas-pasan terpaksa harus menjual TV dan cincin kimpoi mereka untuk biaya pengobatanku. Setiap Ibu marah padaku, Ibu selalu berteriak, "DARI LAHIR SAJA KAU INI NYUSAHIN. NGABISIN HARTAKU! SAMPAI BAPAKKU HARUS MATI BUAT KAU!".
Sampai sekarang dampak dari omongan Ibu masih kurasakan, aku selalu ketakutan akan jadi alasan marah, kecewa, sedih dan hancurnya hati seseorang karena keberadaanku. Bodoh ya? Maaf memang otakku ini sudah begini dari aku kecil.
Dari bayi, aku memang sakit-sakitan. Ibu merawatku tanpa mengeluh, walau tetap ada rasa benci karena harus melahirkan anak yang tak sebaik kakakku. Kakak, hmmm dia sosok yang sempurna sebagai anak. Pintar, sehat, santun, pendiam dan selalu menurut apapun kata orangtuaku. Dari masih kelas 1 SD, kakak lompat kelas ke kelas 2 karena menurut wali kelasnya kakak terlalu pintar, bisa langsung ikut kesetaraan siswa kelas 2. Setelah lompat kelas, kakak selalu dapat nilai 10 untuk semua mata pelajaran. Ranking 1 selalu bertengger di rapotnya sampai kelas 6 SD. Belum selesai sampai di situ, kakakku masuk SMP terbaik di provinsiku dan masuk kelas terfavorit. Ranking 1 masih terus bertengger di rapotnya. Di kelas 2 SMP, kakakku ikut olimpiade SAINS dan jadi juara nasional. Beasiswa S*mpoerna diterimanya dan menjaminnya bersekolah gratis sampai Sarjana. Ibuku bangga sekali saat itu.
Entah berapa puluh kejuaraan yang dia ikuti, dan entah berapa tawaran beasiswa yang ditolaknya. Masuk ke SMA terbaik di provinsiku dan kembali mencetak prestasi gemilang. Lulus dengan nilai tertinggi dan masuk ke perguruan tinggi terbaik. Dia memutuskan mengambil jurusan Biologi, karena cita-citanya sejak kecil memang ingin jadi seorang guru. Tak berhenti sampai di situ, di pertengahan pendidikan tingginya, kakak ditawari kembali untuk ikut tes kepintaran dan lagi-lagi mendapat nilai tertinggi. Apa hadiahnya? Beasiswa S2 full ke Australia. Tapi sayangnya saat itu kakak menolak karena dia saat ini hanya perlu ijazah sarjana untuk mendidik anak-anak di pedalaman. Lucu ya? Kakak kadang terlalu polos.
Kakak tak seperti Ibu dan Ayah, dia perhatian padaku seolah-olah aku inilah yang harus dia bahagiakan kelak. Ya setidaknya itu yang kurasakan sampai kakak kenal yang namanya pacaran, hehe. Aku tak protes, dia juga butuh bersenang-senang tak melulu tentangku. Akupun tak ingin membebaninya dengan kisah-kisah pilu yang kualami.
Kembali ke aku...
Bertolak belakang 180 derajat dengan kakak, aku ini tak bisa mengejar kepintarannya. Pernah kupaksakan dari kelas 1 sampai kelas 4 SD untuk terus dapat peringkat 1, meski tetap dibanding-bandingkan dengan kakak. Ibu bilang kakak tak perlu bersusah payah belajar sepertiku, kakak memang benar-benar pintar. Beda. Aku ini beda pokoknya di mata Ibu.
Sejak kecil aku dan kakak terbiasa belajar setiap sehabis maghrib, kakak dibiarkan belajar sendiri di meja belajarnya dan aku akan belajar di lantai didampingi Ibu. Sehabis maghrib aku akan menyiapkan buku pelajaran di lantai lengkap dengan 3 batang lidi yang sudah diikat dengan karet gelang di sampingku. Sistemnya seperti ujian lisan, Ibu akan memberiku pertanyaan dan aku harus menjawab cepat. Jika tidak bisa, ya lidi itu melayang melukis garis-garis merah yang mengeluarkan bercak darah di tangan, paha, punggung. Setengah mati aku belajar di sekolah agar jangan sampai lidi-lidi itu hinggap di punggungku.
Kakak tak berani membelaku, karena dia sendiri sebenarnya takut dengan Ibu. Akupun tak butuh pembelaannya, karena pernah sekali kakak berusaha membelaku dan aku dipecut Ibu semakin keras dengan tambahan bonus dikurung di WC belakang rumah semalaman suntuk.
Waktu aku duduk di kelas 3 SD, aku masuk TPA dengan jam mengaji di pagi hari dari pukul 06.00 - 08.00 dan berangkat sekolah pukul 12.00 sampai 16.00 (sekolahku dibagi-bagi, biasanya kelas 3 SD masuk siang). Aku ingat sekali pagi itu anak yang harusnya piket kebersihan di TPA tidak masuk karena sakit, guru ngajiku memintaku dan 2 temanku (ratna dan siti) menggantikan tugas untuk piket bersih-bersih sepulang mengaji. Aku menurut dan membereskan kelasku selama 15 menit dan pulang. Perjalanan dari TPA ke rumah hanya sekitar 10 menit, aku tiba di rumah hampir pukul 08.30 hari itu.
Setibanya di rumah, Ibuku sudah berdiri di depan garasi menungguku dengan mata melotot ke arahku. Kuberanikan diri mendekatinya dan langsung disambut dengan tarikan keras di telingaku sampai aku tersungkur di lantai semen garasi yang kasar. Ibu menyeretku hanya dengan tarikan di telinga ke arah kamarku dan didorongnya aku ke ujung ruangan, aku ingat sekali kepalaku terbentur sudut meja kayu menyisakan darah di pelipis. Ibu masuk ke kamar membawa gagang sapu ijuk dan duduk di kursi.
"Darimana kau?", tanyanya setengah berteriak.
"Dari TPA Ma, tadi disuruh bersih-bersih sama Ustad Danu.", jawabku gemetaran sambil memegangi pelipisku yang berdarah dan betisku yang lecet tergerus lantai semen di garasi.
"Gak usah bohong, kupatahkan kaki kau ya!", ancam Ibu.
"Benar Ma, tanya sama pak Ustad aja", sahutku pelan.
"AH PEMBOHONG! ANAK SETAN!!!!", Ibu berteriak dan mengayunkan gagang sapu ke arahku dan mengenai pinggangku. Aku berteriak kesakitan dan berlari ke ujung ruangan. Ibu mengepungku dan kembali mengayunkan gagang sapu ke pahaku. Saking kerasnya Ibu memukulku, gagang itu patah menjadi dua dan menyisakan teriakanku yang mendadak kelu. Tak ada suara yang keluar dari mulutku, habis semuanya dengan airmata kesakitan. Ibu tak perduli, dia sudah gelap mata sepertinya. Diseretnya aku dari pojok ruangan menuju halaman belakang yang bersebelahan dengan dapur kotor. Dibiarkannya aku disitu dengan teriknya matahari, luka di pelipis, paha, pinggang dan betisku. Aku merangkak mencari tempat rindang untuk berteduh, sinar matahari itu menyengat luka-lukaku dan membuatnya semakin perih saja.
Tak berapa lama kudengar deru mobil, Ibu sudah berangkat ke tempat kerjanya fikirku. Aku tak bisa masuk rumah, aku dikuncinya dari luar. Sedangkan aku harus berangkat ke sekolah siang ini. Tanpa terasa air mataku jatuh lagi, aku menangis sejadi-jadinya sambil meringkuk di bawah tandon air tempatku berteduh.
Ah, hari sial ini lagi fikirku...
pulaukapok dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Tutup