- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for "You":
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
470.4K
4.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#277
Penjelasan Jilid 3
Sepanjang perjalanan ane hanya diam saja sambil melihat keluar jendela mobil yang dikemudikan oleh adik ane. Dia juga diam. Zalina pun diam. Ane nggak berani untuk mengajak Zalina berbicara. Perjalanan pulang ane terasa sangat panjang. Mana ditambah ada macet segala lagi di ibukota. Makin lama aja perasaan. Ane Cuma bisa pasrah aja dengan kelanjutan hubungan ane dan Zalina. Gile cuy hampir setahun eh tau-tau karena kejadian konyol ini.
Sesampainya dirumah. Ternyata Mama Papa ane sedang keluar kota, dan baru pulang besok. Sementara Dania, dia nggak lama langsung cabut lagi karena sudah dijemput teman-temannya. Momen yang pas ini ane coba berbicara dengan Zalina. Tidak lupa ane meminta Bi Yuni membereskan kamar tamu mana tau Zalina nanti mau nginap dirumah.
“Aku udah tau kamu mau jelasin apa.” Kata Zalina datar.
“Maafin aku, kejadiannya nggak seperti yang kamu lihat dan kamu kira. Beneran serius Lin.” Kata ane membela diri.
“Aku nggak apa-apa kok.”
“Nggak apa-apa gimana maksudnya?”
“Ya kamu bareng-bareng Keket. Dia cantik banget tau. Semua orang suka sama dia.”
“Nggak gitu Lin ceritanya.”
“Kamu bikin begitu ceritanya juga nggak apa-apa kok Ja.”
“Duh aku mau jelasin Lin. Kasih aku waktu sebentar boleh?”
“Oke silakan aja jelasin Ja.”
Ane terdiam sejenak, harus mulai dari mana. Akhirnya ane memulai dari kabar putusnya Keket dan Alen. Lalu ane menjelaskan bahwa disana dia ane menjadi teman curhatnya Keket. Tentunya bagian yang iya iya nya itu dihilangkan. Bisa digorok beneran ini kalau sampai ketahuan. Lalu berlanjut pada penjelasan dari hari ke hari kami ngapain aja dan ada kegiatan apa aja. Untuk lebih meyakinkan ane sempat menawarkan opsi untuk menelepon Keket yang sebenarnya juga beresiko tinggi, kalau Keket jujur, Selesai sudah. Setelah semuanya ane jelasin sampai akhirnya kejadian pelukan di bandara, Zalina Cuma senyum. Senyum siap membunuh.
“Ja, cerita kamu bagus ya.” katanya
“Hah? Itu beneran Lin yang kejadian disana ya kayak gitu.” Bela ane.
“TERUS YANG PART AS INTIMATE LOVERNYA MANA?????” tiba-tiba dia menjerit dan murka didepan ane.
Ane kaget setengah mati dan sempat gelagapan menghadapi reaksi dadakan Zalina ini.
“Intimate Lover gimana? Aku nggak ngapa-ngapain sama dia.”
“Nggak mungkin. Kamu itu charming, dia cantik, nggak mungkin nggak ada ketertarikan satu sama lain. Apalagi nggak ada pengawasan orang tua. Plus lagi aku lihat Alen kemarin ini di mal, dia nggak jadi ikut kan? Ternyata benar aja dia udah putus. Cewek udah putus terus curhat panjang lebar sama teman prianya ditempat wisata yang kata kamu romantis itu, nggak mungkin nggak terjadi apapun Ja.” Zalina merepet dengan penuh emosi.
“Iya, emang kenyataannya kayak gitu. Aku nggak ngapa-ngapain sama dia.” Ane berbohong.
“Sini HP kamu. Biar aku dengar sendiri pengakuan Keket.” Katanya.
Lalu Zalina menelepon Keket dengan HP ane. Ternyata Keket memegang omongannya dengan berbicara mirip seperti apa kata ane. Dia nggak cerita masalah kita asyik-asyikan sampai kelewat batas disana. Aman. Pikir ane. cuman deg-degannya itu loh..fiiuuhhh.
“Maaf Ja, aku hanya cemburu aja. Ternyata kamu orang yang baik. Maafin aku.”
“kamu mau sampai kapan marah-marah begitu? Aku udah bilang kan aku nggak ngapa-ngapain sama Keket. Dia meluk aku tadi dibandara itu karena dia berterima kasih banget udah dibantuin dan ditenangin selama proses galaunya dia. Aku juga selalu ingetin ke dia kalau aku punya kamu.”
“Oh jadi Keket emang beneran jadi suka sama kamu?” katanya lagi.
“Nggak, aduh gimana sih ini, maksudnya, aku ada buat dia, bukan berarti bakal terus nemenin dia, karena aku udah punya kamu. Gitu Lin.” Kata ane berkilah sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Maafin aku ya Ja.”
“Kamu nggak salah, emang akunya aja mungkin yang terlalu bikin dia nyaman Lin.”
“Kata-kata kamu itu dan sikap kamu ke cewek-cewek itu suatu saat bakal bikin kamu susah Ja. Apalagi anak-anak yang rentan baper. Pasti gampang banget kecantol sama kamu sayang. Dan aku nggak mau itu terjadi. Kamu itu Cuma buat aku dan ga akan aku lepas ke siapapun.” Katanya.
“Maaf juga aku jarang hubungin kamu Lin waktu disana, sinyalnya payah banget waktu disana. Daerahnya agak jauh dari kota soalnya.”
“Iya nggak apa-apa, aku ngerti banget kok.” Katanya sambil tersenyum manis.
“Ja, seandainya ternyata kamu mergokin aku sama cowok lain, apa yang bakal kamu lakuin?” tanya dia.
“Hah? Kok nanyanya gitu sih? Hmmm..ya aku nanya dulu pasti kenapa kamu bisa jalan sama cowok itu, ada masalah apa dengan hubungan kita, terus harus nyelesaiinnya gimana. Gitu Lin. Tapi pastinya aku akan berasa nggak enak hati melihat kamu jalan sama cowok lain, apalagi sampai macem-macem yang terkait sama urusan ranjang. Aduh bisa gila aku.” Kata ane.
Zalina hanya diam saja, raut mukanya datar tanpa ekspresi, namun sejurus kemudian dia kembali mengulas senyum. Entah kenapa Zalina ini. Apa yang sedang dipikirkannya?
“Aku pamit pulang ya?” kata Zalina.
“Lah ngapain? Bi Yuni udah siapin kamar buat kamu Lin, kamu nginap aja semalam disini ya? sekalian kangen-kangenan sama aku. Lagian aku sepi nih, Mama Papaku lagi diluar kota sampai besok.” Kata ane memohon.
“Yakin nggak ngerepotin?”
“Yeee, basa basi kamu malesin amat. Udah santai aja. Nanti kamu bisa pinjam baju si Dania aja. Perlu celana dalam sama bra ganti? Nanti aku beliin aja dulu ya? oke?”
“Hmmm. Oke deh.” Kata singkat.
Lalu ane mengantarkan Zalina menuju ke kamar tamu. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. ane mandi sore kemudian menunaikan ibadah. Setelahnya di meja makan sudah tersedia makanan, tidak terlalu banyak, tapi cukup buat kami bertiga. Bertiga? Dania nggak akan makan dirumah kalau udah sama-sama temannya. Dasar anak itu emang mesti banget diawasin.
“Enak nih Ja, masakan Bi Yuni ya?”
“Bukan, masakan Pak Min. Ya Bi Yuni lah sayang. Hahaha.”
“Nanya doang dijawabnya kayak gitu banget sih?”
“Ya biar kayak sinetron-sinetron, suka gombalan yang berawal dari becandaan. Haha.”
“Kamu emang suka nonton sinetron? Aku aja yang cewek udah nggak pernah nonton sinetron, pembodohan aja itu adanya.”
“Iya, aku becanda, aku juga udah lama nggak nonton sinetron. Dan nggak penting juga sih nonton sinetron sebenarnya.”
“Ja, kamu pernah berpikir nggak sih kalau kita bubaran? Kita putus dan aku sama kamu nggak saling kenal lagi?” pertanyaan ini membuat ane tersedak.
“Aku nggak pernah berpikir kita bubar. Aku itu berjuang dapetin kamu itu setengah mati. Masa kita bubar gitu aja?”
“Ya nggak bubar gitu aja, pasti ada penyebab dulu dong.”
“Iya, contohnya?”
“Kayak kamu misalnya ngegepin aku jalan-jalan sama cowok, eh lain waktu si cowok itu kegep lagi ML sama aku dikosan aku, itu gimana?”
“aduh Lin, kita ini baru ketemu lagi. Aku aja masih jetlag. Sekarang malah nanya gini. Ya aku nggak mau Lin, biarin aja kita bubar kalau kamu kayak gitu sama orang lain.”
“Beneran Ja? Kamu bener-bener sayang aku ya?”
“ya beneran dong Lin, dan aku sayangnya beneran sama kamu, masa main-main. Buang-buang waktu bukan?”
Zalina hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Aneh sekali anak ini hari ini. Setelah mendadak emosi seperti mau meletus perang dunia ketiga, setelah adem malah nanya-nanya hal aneh kayak gini. Benar-benar membingungkan sekali anak ini.
“Aku mau ke kamar dulu ya, aku mau mandi dulu.” Katanya datar.
“Oh iya Lin, kamar mandi ada didalam jadi kamu aman dari terkaman aku. Hehehe.” Kata ane.
“Mesum terus aja pikirannya Ja.” Katanya sambil beranjak dari meja makan, lalu menuju ke kamar tamu dilantai 2, tepat disebelah kamar Dania.
Ane akhirnya menyusul Zalina mandi, tapi di kamar mandi ane sendiri. Lalu setelah berasa enak, ane coba rebahan di kasur kesayangan. Kasur ane sengaja tidak memakai banyak ornamen, hanya kasur saja ditaruh dilantai dengan alas. Ane menyukai sesuatu yang simpel. Didekat jendela masih terpajang action figure yang sudah ane kumpulkan sejak SD, dari mulai tokoh-tokoh Marvel, DC, dan yang paling bikin seru adalah Gundam. Koleksi Gundam ane terpajang rapi di lemari kaca 4 tingkat dilengkapi dengan lampu kecil untuk menyorot figure yang ane pesan dengan uang ane sendiri hasil menabung semasa SMA. Sambil ane membayangkan masa kecil ane, ane terlelap.
Bangun-bangun ternyata sudah jam 1 malam. Zalina udah tidur belum ya? ane mau iseng kekamarnya ah. Hehehe. Barangkali bisa digarap kan. Kapan lagi main dirumah sendiri. Ane menyempatkan diri untuk melihat HP dulu, dan ternyata ada beberapa kali telpon dari Zalina, chat dari Zalina, dan chat dari Dania.
“Kak, gue nginap dirumah teman gue ya, kasihan katanya dia lihat penampakan. Zalina antar pulang aja. Atau kalau mau nginap siapin kamar tamu. Tapi awas lo macem-macem ya, gue bilangin Mama Papa.”
Aaaah, asyik banget kan. Rumah sepi. Asisten rumah tangga ada dibagian belakang rumah ini, jadi nggak akan kedengeran kalau ane ber-iya-iya dengan Zalina. Hahaha. Ane sampai didepan kamar tamu dan ternyata pintunya nggak dikunci. Ane rasakan lantai yang agak dingin karena AC ruangan dipasang kelewat dingin kayaknya. Dari pintu kamar, harus berjalan dulu sekitar 4 meteran kedalam, baru masuk ruang tidur utama. Jadi bisa bikin kejutan ane nih. Hahaha. Jadi ane intip-intip dulu lah. Tapi malah ane yang terkejut. Ane terkejut setengah mati dengan pemandangan yang ane intip ini.
Zalina benar-benar sudah berbeda sekali. Ternyata dia membawa laptop di tasnya, di laptop tersebut dia menambahkan semacam webcam yang akhirnya ane ketahui beresolusi cukup bagus. Jadi gambar yang ditangkap pun cukup jernih dan terang, tergantung dengan pencahayaan ruangan juga sih. Zalina dalam keadaan tanpa busana total. Posisinya ketika ane datang itu kepalanya sedang ditenggakkan kebelakang, tangan kanannya memegang lubang surga dan ane melihat ada dua jari masuk kedalamnya, tangan kiri memegang gunung indahnya yang sebelah kiri. Dia sedikit mengerang dan tidak menyadari ane datang. Ane luar biasa sedih ketika itu. Dan kemudian ane langsung melihat keadaan laptopnya.
Zalina merekam kegiatannya ini dilaptopnya. Lalu beberapa detik ane mematung, Zalina mengeluarkan apa yang ditunggu-tunggunya. Biasanya dia hanya begini ketika bermain-main dengan ane. Zalina sadar ada ane dikamar itu dan dia langsung menarik selimut yang membuat laptopnya hampir terbanting ke lantai, untung ane sigap mengambilnya.
“Jelasin.” Kata ane singkat.
“Aku pakai baju dulu, iya aku jelasin ya sayang.” Kata Zalina.
Dia lalu memakai pakaiannya, tapi tidak memakai dalaman, baik bra maupun celana dalam. Ane menunggu cerita darinya.
“Aku kayak gini tuh mau bikin kejutan Ja buat kamu.”
“Terus?”
“Iya aku begini karena aku pikir kamu suka aku show begitu. Maaf kalau ternyata kamu nggak tertarik dan malah terkejut kayak gitu.”
“Udah berapa lama kamu suka kayak gini? Apa dari waktu yang kamu bilang kalau nggak ada rocky bisa pakai jari itu, iya?”
“Aku nggak bisa Ja kalau nggak ngew*. Aku udah bilang kan sama kamu. Jadinya aku suka cari bantuan dan tantangan dengan jari gini.”
“Kalau sama orang lain?”
“Nggak ada Ja, beneran. Aku cuman pakai jari aja.”
“Kenapa sih Lin? Katanya kamu mau coba nahan diri supaya nggak begitu. Kok kamu kaya orang sakau gini, nggak ngew* nggak bisaan.”
“Aku juga nggak tau Ja, kenapa aku jadi kayak gini. Maafin aku sayang. Ya?”
“Udah berapa banyak video dan foto yang kamu bikin?”
“Banyak Ja.”
“hah? Kok nggak ada yang sampai di aku?”
“Aku simpen.”
“Buat apa disimpen? Menuh-menuhin Hardisk laptop.”
“Nanti aku apus-apusin aja kalau kamu nggak mau.”
“Terserah kamu aja.” Kata ane.
Ane tahu dia sedang berbohong. Ada yang disembunyikan dari ane nih. Tapi ane nggak mau tahu ketika itu. Yang ane tahu ane mau make dia. Jadinya ane yang kepalang emosi langsung melucuti pakaiannya lagi. Ane seperti orang yang kesetanan, sangat kasar sampai-sampai dia kesakitan. Padahal biasanya juga selalu nikmat. Tapi kali ini nggak ada nikmat-nikmatnya bagi dia. Hanya ada kesakitan, perih dan keringat yang luar biasa banyak. Ane juga nggak pakai foreplay, langsung aja. Klimaksnya karena nggak konsen, ada sebagian yang keluar didalam. Ane diam saja karena sudah kadung emosi. Zalina menangis. Saat itu baru ane seperti tersadar bahwa kali ini salah.
“Maafin aku Lin, aku bawa emosi. Maaf.” Kata ane yang rebahan disampingnya.
“Iya nggak apa-apa. Aku yang salah. aku nggak jujur sama kamu.” Kata Zalina, mencoba merebahkan kepalanya di dada ane.
“Udah nggak usah dibahas lagi. Sekarang ini yang penting kamu tetap percaya aku, dan sebaliknya, oke?” kata ane.
“Iya sayang. Maafin aku. Tapi entah kenapa sensasi sakit kayak tadi malah bikin aku makin menggebu-gebu ya Ja. Boleh dong sekali-sekali nanti agak kasar kayak tadi.” Kata Zalina sambil senyum ke ane.
Ane luluh. Brengsek. Dia tahu kelemahan ane. Tapi ane cukup shock karena dia senang dikasari. Apa lagi fantasi yang dia punya? Ane sangat kebingungan. Dia meminta lagi untuk main. Kami bermain dengan sangat hot malam itu, hingga tujuh ronde dengan jeda yang singkat singkat.
Hubungan ini sudah dipenuhi dengan kebohongan. Baik dari ane, maupun dari Zalina. Apakah ini akan berjalan sesuai harapan? Atau yang terjeleknya, bubar? Ane nggak tahu dan tidak berani berpikir kearah sana ketika itu. Yang jelas, Zalina benar-benar sudah sangat liar dan tidak mudah dikontrol.
Sesampainya dirumah. Ternyata Mama Papa ane sedang keluar kota, dan baru pulang besok. Sementara Dania, dia nggak lama langsung cabut lagi karena sudah dijemput teman-temannya. Momen yang pas ini ane coba berbicara dengan Zalina. Tidak lupa ane meminta Bi Yuni membereskan kamar tamu mana tau Zalina nanti mau nginap dirumah.
“Aku udah tau kamu mau jelasin apa.” Kata Zalina datar.
“Maafin aku, kejadiannya nggak seperti yang kamu lihat dan kamu kira. Beneran serius Lin.” Kata ane membela diri.
“Aku nggak apa-apa kok.”
“Nggak apa-apa gimana maksudnya?”
“Ya kamu bareng-bareng Keket. Dia cantik banget tau. Semua orang suka sama dia.”
“Nggak gitu Lin ceritanya.”
“Kamu bikin begitu ceritanya juga nggak apa-apa kok Ja.”
“Duh aku mau jelasin Lin. Kasih aku waktu sebentar boleh?”
“Oke silakan aja jelasin Ja.”
Ane terdiam sejenak, harus mulai dari mana. Akhirnya ane memulai dari kabar putusnya Keket dan Alen. Lalu ane menjelaskan bahwa disana dia ane menjadi teman curhatnya Keket. Tentunya bagian yang iya iya nya itu dihilangkan. Bisa digorok beneran ini kalau sampai ketahuan. Lalu berlanjut pada penjelasan dari hari ke hari kami ngapain aja dan ada kegiatan apa aja. Untuk lebih meyakinkan ane sempat menawarkan opsi untuk menelepon Keket yang sebenarnya juga beresiko tinggi, kalau Keket jujur, Selesai sudah. Setelah semuanya ane jelasin sampai akhirnya kejadian pelukan di bandara, Zalina Cuma senyum. Senyum siap membunuh.
“Ja, cerita kamu bagus ya.” katanya
“Hah? Itu beneran Lin yang kejadian disana ya kayak gitu.” Bela ane.
“TERUS YANG PART AS INTIMATE LOVERNYA MANA?????” tiba-tiba dia menjerit dan murka didepan ane.
Ane kaget setengah mati dan sempat gelagapan menghadapi reaksi dadakan Zalina ini.
“Intimate Lover gimana? Aku nggak ngapa-ngapain sama dia.”
“Nggak mungkin. Kamu itu charming, dia cantik, nggak mungkin nggak ada ketertarikan satu sama lain. Apalagi nggak ada pengawasan orang tua. Plus lagi aku lihat Alen kemarin ini di mal, dia nggak jadi ikut kan? Ternyata benar aja dia udah putus. Cewek udah putus terus curhat panjang lebar sama teman prianya ditempat wisata yang kata kamu romantis itu, nggak mungkin nggak terjadi apapun Ja.” Zalina merepet dengan penuh emosi.
“Iya, emang kenyataannya kayak gitu. Aku nggak ngapa-ngapain sama dia.” Ane berbohong.
“Sini HP kamu. Biar aku dengar sendiri pengakuan Keket.” Katanya.
Lalu Zalina menelepon Keket dengan HP ane. Ternyata Keket memegang omongannya dengan berbicara mirip seperti apa kata ane. Dia nggak cerita masalah kita asyik-asyikan sampai kelewat batas disana. Aman. Pikir ane. cuman deg-degannya itu loh..fiiuuhhh.
“Maaf Ja, aku hanya cemburu aja. Ternyata kamu orang yang baik. Maafin aku.”
“kamu mau sampai kapan marah-marah begitu? Aku udah bilang kan aku nggak ngapa-ngapain sama Keket. Dia meluk aku tadi dibandara itu karena dia berterima kasih banget udah dibantuin dan ditenangin selama proses galaunya dia. Aku juga selalu ingetin ke dia kalau aku punya kamu.”
“Oh jadi Keket emang beneran jadi suka sama kamu?” katanya lagi.
“Nggak, aduh gimana sih ini, maksudnya, aku ada buat dia, bukan berarti bakal terus nemenin dia, karena aku udah punya kamu. Gitu Lin.” Kata ane berkilah sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Maafin aku ya Ja.”
“Kamu nggak salah, emang akunya aja mungkin yang terlalu bikin dia nyaman Lin.”
“Kata-kata kamu itu dan sikap kamu ke cewek-cewek itu suatu saat bakal bikin kamu susah Ja. Apalagi anak-anak yang rentan baper. Pasti gampang banget kecantol sama kamu sayang. Dan aku nggak mau itu terjadi. Kamu itu Cuma buat aku dan ga akan aku lepas ke siapapun.” Katanya.
“Maaf juga aku jarang hubungin kamu Lin waktu disana, sinyalnya payah banget waktu disana. Daerahnya agak jauh dari kota soalnya.”
“Iya nggak apa-apa, aku ngerti banget kok.” Katanya sambil tersenyum manis.
“Ja, seandainya ternyata kamu mergokin aku sama cowok lain, apa yang bakal kamu lakuin?” tanya dia.
“Hah? Kok nanyanya gitu sih? Hmmm..ya aku nanya dulu pasti kenapa kamu bisa jalan sama cowok itu, ada masalah apa dengan hubungan kita, terus harus nyelesaiinnya gimana. Gitu Lin. Tapi pastinya aku akan berasa nggak enak hati melihat kamu jalan sama cowok lain, apalagi sampai macem-macem yang terkait sama urusan ranjang. Aduh bisa gila aku.” Kata ane.
Zalina hanya diam saja, raut mukanya datar tanpa ekspresi, namun sejurus kemudian dia kembali mengulas senyum. Entah kenapa Zalina ini. Apa yang sedang dipikirkannya?
“Aku pamit pulang ya?” kata Zalina.
“Lah ngapain? Bi Yuni udah siapin kamar buat kamu Lin, kamu nginap aja semalam disini ya? sekalian kangen-kangenan sama aku. Lagian aku sepi nih, Mama Papaku lagi diluar kota sampai besok.” Kata ane memohon.
“Yakin nggak ngerepotin?”
“Yeee, basa basi kamu malesin amat. Udah santai aja. Nanti kamu bisa pinjam baju si Dania aja. Perlu celana dalam sama bra ganti? Nanti aku beliin aja dulu ya? oke?”
“Hmmm. Oke deh.” Kata singkat.
Lalu ane mengantarkan Zalina menuju ke kamar tamu. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. ane mandi sore kemudian menunaikan ibadah. Setelahnya di meja makan sudah tersedia makanan, tidak terlalu banyak, tapi cukup buat kami bertiga. Bertiga? Dania nggak akan makan dirumah kalau udah sama-sama temannya. Dasar anak itu emang mesti banget diawasin.
“Enak nih Ja, masakan Bi Yuni ya?”
“Bukan, masakan Pak Min. Ya Bi Yuni lah sayang. Hahaha.”
“Nanya doang dijawabnya kayak gitu banget sih?”
“Ya biar kayak sinetron-sinetron, suka gombalan yang berawal dari becandaan. Haha.”
“Kamu emang suka nonton sinetron? Aku aja yang cewek udah nggak pernah nonton sinetron, pembodohan aja itu adanya.”
“Iya, aku becanda, aku juga udah lama nggak nonton sinetron. Dan nggak penting juga sih nonton sinetron sebenarnya.”
“Ja, kamu pernah berpikir nggak sih kalau kita bubaran? Kita putus dan aku sama kamu nggak saling kenal lagi?” pertanyaan ini membuat ane tersedak.
“Aku nggak pernah berpikir kita bubar. Aku itu berjuang dapetin kamu itu setengah mati. Masa kita bubar gitu aja?”
“Ya nggak bubar gitu aja, pasti ada penyebab dulu dong.”
“Iya, contohnya?”
“Kayak kamu misalnya ngegepin aku jalan-jalan sama cowok, eh lain waktu si cowok itu kegep lagi ML sama aku dikosan aku, itu gimana?”
“aduh Lin, kita ini baru ketemu lagi. Aku aja masih jetlag. Sekarang malah nanya gini. Ya aku nggak mau Lin, biarin aja kita bubar kalau kamu kayak gitu sama orang lain.”
“Beneran Ja? Kamu bener-bener sayang aku ya?”
“ya beneran dong Lin, dan aku sayangnya beneran sama kamu, masa main-main. Buang-buang waktu bukan?”
Zalina hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Aneh sekali anak ini hari ini. Setelah mendadak emosi seperti mau meletus perang dunia ketiga, setelah adem malah nanya-nanya hal aneh kayak gini. Benar-benar membingungkan sekali anak ini.
“Aku mau ke kamar dulu ya, aku mau mandi dulu.” Katanya datar.
“Oh iya Lin, kamar mandi ada didalam jadi kamu aman dari terkaman aku. Hehehe.” Kata ane.
“Mesum terus aja pikirannya Ja.” Katanya sambil beranjak dari meja makan, lalu menuju ke kamar tamu dilantai 2, tepat disebelah kamar Dania.
Ane akhirnya menyusul Zalina mandi, tapi di kamar mandi ane sendiri. Lalu setelah berasa enak, ane coba rebahan di kasur kesayangan. Kasur ane sengaja tidak memakai banyak ornamen, hanya kasur saja ditaruh dilantai dengan alas. Ane menyukai sesuatu yang simpel. Didekat jendela masih terpajang action figure yang sudah ane kumpulkan sejak SD, dari mulai tokoh-tokoh Marvel, DC, dan yang paling bikin seru adalah Gundam. Koleksi Gundam ane terpajang rapi di lemari kaca 4 tingkat dilengkapi dengan lampu kecil untuk menyorot figure yang ane pesan dengan uang ane sendiri hasil menabung semasa SMA. Sambil ane membayangkan masa kecil ane, ane terlelap.
Bangun-bangun ternyata sudah jam 1 malam. Zalina udah tidur belum ya? ane mau iseng kekamarnya ah. Hehehe. Barangkali bisa digarap kan. Kapan lagi main dirumah sendiri. Ane menyempatkan diri untuk melihat HP dulu, dan ternyata ada beberapa kali telpon dari Zalina, chat dari Zalina, dan chat dari Dania.
“Kak, gue nginap dirumah teman gue ya, kasihan katanya dia lihat penampakan. Zalina antar pulang aja. Atau kalau mau nginap siapin kamar tamu. Tapi awas lo macem-macem ya, gue bilangin Mama Papa.”
Aaaah, asyik banget kan. Rumah sepi. Asisten rumah tangga ada dibagian belakang rumah ini, jadi nggak akan kedengeran kalau ane ber-iya-iya dengan Zalina. Hahaha. Ane sampai didepan kamar tamu dan ternyata pintunya nggak dikunci. Ane rasakan lantai yang agak dingin karena AC ruangan dipasang kelewat dingin kayaknya. Dari pintu kamar, harus berjalan dulu sekitar 4 meteran kedalam, baru masuk ruang tidur utama. Jadi bisa bikin kejutan ane nih. Hahaha. Jadi ane intip-intip dulu lah. Tapi malah ane yang terkejut. Ane terkejut setengah mati dengan pemandangan yang ane intip ini.
Zalina benar-benar sudah berbeda sekali. Ternyata dia membawa laptop di tasnya, di laptop tersebut dia menambahkan semacam webcam yang akhirnya ane ketahui beresolusi cukup bagus. Jadi gambar yang ditangkap pun cukup jernih dan terang, tergantung dengan pencahayaan ruangan juga sih. Zalina dalam keadaan tanpa busana total. Posisinya ketika ane datang itu kepalanya sedang ditenggakkan kebelakang, tangan kanannya memegang lubang surga dan ane melihat ada dua jari masuk kedalamnya, tangan kiri memegang gunung indahnya yang sebelah kiri. Dia sedikit mengerang dan tidak menyadari ane datang. Ane luar biasa sedih ketika itu. Dan kemudian ane langsung melihat keadaan laptopnya.
Zalina merekam kegiatannya ini dilaptopnya. Lalu beberapa detik ane mematung, Zalina mengeluarkan apa yang ditunggu-tunggunya. Biasanya dia hanya begini ketika bermain-main dengan ane. Zalina sadar ada ane dikamar itu dan dia langsung menarik selimut yang membuat laptopnya hampir terbanting ke lantai, untung ane sigap mengambilnya.
“Jelasin.” Kata ane singkat.
“Aku pakai baju dulu, iya aku jelasin ya sayang.” Kata Zalina.
Dia lalu memakai pakaiannya, tapi tidak memakai dalaman, baik bra maupun celana dalam. Ane menunggu cerita darinya.
“Aku kayak gini tuh mau bikin kejutan Ja buat kamu.”
“Terus?”
“Iya aku begini karena aku pikir kamu suka aku show begitu. Maaf kalau ternyata kamu nggak tertarik dan malah terkejut kayak gitu.”
“Udah berapa lama kamu suka kayak gini? Apa dari waktu yang kamu bilang kalau nggak ada rocky bisa pakai jari itu, iya?”
“Aku nggak bisa Ja kalau nggak ngew*. Aku udah bilang kan sama kamu. Jadinya aku suka cari bantuan dan tantangan dengan jari gini.”
“Kalau sama orang lain?”
“Nggak ada Ja, beneran. Aku cuman pakai jari aja.”
“Kenapa sih Lin? Katanya kamu mau coba nahan diri supaya nggak begitu. Kok kamu kaya orang sakau gini, nggak ngew* nggak bisaan.”
“Aku juga nggak tau Ja, kenapa aku jadi kayak gini. Maafin aku sayang. Ya?”
“Udah berapa banyak video dan foto yang kamu bikin?”
“Banyak Ja.”
“hah? Kok nggak ada yang sampai di aku?”
“Aku simpen.”
“Buat apa disimpen? Menuh-menuhin Hardisk laptop.”
“Nanti aku apus-apusin aja kalau kamu nggak mau.”
“Terserah kamu aja.” Kata ane.
Ane tahu dia sedang berbohong. Ada yang disembunyikan dari ane nih. Tapi ane nggak mau tahu ketika itu. Yang ane tahu ane mau make dia. Jadinya ane yang kepalang emosi langsung melucuti pakaiannya lagi. Ane seperti orang yang kesetanan, sangat kasar sampai-sampai dia kesakitan. Padahal biasanya juga selalu nikmat. Tapi kali ini nggak ada nikmat-nikmatnya bagi dia. Hanya ada kesakitan, perih dan keringat yang luar biasa banyak. Ane juga nggak pakai foreplay, langsung aja. Klimaksnya karena nggak konsen, ada sebagian yang keluar didalam. Ane diam saja karena sudah kadung emosi. Zalina menangis. Saat itu baru ane seperti tersadar bahwa kali ini salah.
“Maafin aku Lin, aku bawa emosi. Maaf.” Kata ane yang rebahan disampingnya.
“Iya nggak apa-apa. Aku yang salah. aku nggak jujur sama kamu.” Kata Zalina, mencoba merebahkan kepalanya di dada ane.
“Udah nggak usah dibahas lagi. Sekarang ini yang penting kamu tetap percaya aku, dan sebaliknya, oke?” kata ane.
“Iya sayang. Maafin aku. Tapi entah kenapa sensasi sakit kayak tadi malah bikin aku makin menggebu-gebu ya Ja. Boleh dong sekali-sekali nanti agak kasar kayak tadi.” Kata Zalina sambil senyum ke ane.
Ane luluh. Brengsek. Dia tahu kelemahan ane. Tapi ane cukup shock karena dia senang dikasari. Apa lagi fantasi yang dia punya? Ane sangat kebingungan. Dia meminta lagi untuk main. Kami bermain dengan sangat hot malam itu, hingga tujuh ronde dengan jeda yang singkat singkat.
Hubungan ini sudah dipenuhi dengan kebohongan. Baik dari ane, maupun dari Zalina. Apakah ini akan berjalan sesuai harapan? Atau yang terjeleknya, bubar? Ane nggak tahu dan tidak berani berpikir kearah sana ketika itu. Yang jelas, Zalina benar-benar sudah sangat liar dan tidak mudah dikontrol.
itkgid dan 26 lainnya memberi reputasi
25
Tutup
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol