- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#3184
Part 66: Aku Harus Menjelaskan
Tiap-tiap kata yang diucapkan Haji Mufid sudah sepantasnya menjadi alat bukti atas perbuatannya. Aku memutar rekaman suaranya di ponsel. Cukup jelas isi bicaranya. Dalam hati aku memuji kegunaan ponsel CDMA ini meski baterainya sudah bocor. Sebetulnya itu bukan pujian yang pantas.
Aku tidak ingin buang waktu. Segera menemui Pak Wi dan Fani di atas. Lebih baik berlari daripada lambat-lambat. Saat pintu kamar Wina terdorong, kedua orang itu tengah berbarengan duduk bersimpuh khidmat di lantai. Kehadiranku merusak keheningan dalam pikiran mereka. Masa bodoh.
“Alvin! Kamu mau apa lagi!?” Pak Wi saat itu juga menyatakan keberatannya dan berusaha berdiri.
“Kita semua harus pergi dari sini…sekarang!” nafasku tersengal sehingga nada bicaraku sukar lagi bisa ditata. Kusambung kata-kataku, “Haji Mufid….Dia..ini semua adalah muslihatnya.”
Baru-baru ini aku merasakan pusing tiba-tiba. Entah karena perut kosong atau ada pengaruh lain. Sepertinya sebab yang pertama. Pak Wi mendekatiku. Tidak peduli bagaimana pun keadaannya. Matanya berkecamuk, seakan-akan ingin meremukkan batang leherku.
Aku menjauhi Pak Wi meski tidak begitu berguna. Di tempat yang berdekatan Fani diam saja. Wajahnya antara cemas dan takut. Keduanya sama-sama buruk. Mereka harus mengetahui kebenarannya.
“Saya tahu siapa sebenarnya Haji Mufid. Dia itu…,” kalimatku tidak begitu tegas, kepalaku berdenyut hebat lagi.
“Apa yang kamu tahu, anak bodoh?” suara Pak Wi sayup di telingaku.
“Haji Mufid sebenarnya yang….dia punya maksud….Huffhh….” denyutannya makin tidak tertahan.
“Saya sudah mengusir kamu kemarin….Kenapa nekat datang lagi?”
Aku mundur ke arah pintu. Fani sekali-kali tidak memperlihatkan apa pun. Dalam penglihatanku yang samar-samar, ia nampak masih ketakutan.
“Sekarang kamu mau apa?” desak Pak Wi.
Beberapa saat sebentar kutatap wajah keriput itu, lalu menatap Fani dalam duduknya yang menelungkup sambil mendekap Sybillia. Entah bagaimana aku memperoleh suatu kekuatan akal pikiran yang luar biasa: Ini adalah satu-satunya kesempatan. Aku harus bertahan, mesti kuat menghadapi segala ganjalan. Pada saat itu juga aku harus menjelaskan kepada mereka tentang rahasia Haji Mufid dan Sukma.
Dengan pikiran yang lebih teratur aku berkata kepada mereka:
“Saya sudah baca tulisan Pak Wi. Saya tahu semuanya. Tentang Fani yang sejak kecil selalu dihantui sosok wanita tua. Tentang anjing-anjing yang mati secara tiba-tiba. Tentang kedatangan Haji Mufid untuk memperbaiki rumah ini.”
Aku berhenti sebentar demi melihat dua orang itu. Agaknya Pak Wi belum bergeming dari kejengkelannya pada aku.
“Haji Mufid pada malam itu datang bukan untuk pekerjaannya.” Aku menunjukkan sepintas peti dalam kepitan. “Dia bermaksud menanam kotak ini pada kamar Fani yang sekarang.”
“Sukma menginginkan suatu perjanjian dengan setan. Untuk mencapai perjanjiannya dia harus menghabisi 101 nyawa. Bukankah Pak Wi turut menjadi korban? Pada saat Pak Wi masih kecil, bayi kecil itu dibawakan pada seorang dukun terkenal di Pantai Selatan Purworejo. Ia dibawa karena sakit yang tidak terkira sebabnya. Lalu dukun wanita yang sebenarnya seorang tenung itu memberikan beberapa tetes darahnya dengan dalih bisa membuat sembuh.
“Bagaimana kamu tahu cerita itu!?” Pak Wi bertanya dengan menurunkan suara.
“Saya sudah katakan, saya membaca tulisan Pak Wi. Saya juga mendengar ucapan Pak Wi. Lebih dari itu, saya mendapat bisikan-bisikan yang berkenaan dengan misteri Sukma.”
“Kamu menerima bisikan?” Pak Wi memicingkan matanya seolah tidak percaya.
“Saya juga mendapatkan mimpi, juga pemandangan yang tiba-tiba berlangsung di depan mata.”
“Bagaimana kamu bisa percaya?”
“Saya tidak percaya,” jawabku sambil menyeringai.
“Kalau begitu ucapan kamu ndak perlu diucapkan.”
“Saya hanya percaya pada sedikit dari apa yang saya alami.”
“Apa isi peti itu?”
“Ini tetap menjadi rahasia bagi orang yang tidak percaya kata-kata saya.”
Orang ini terkekeh seperti mengejek. Anehnya kemudian dia mengatakan, “Saya akan percaya.” Tetapi aku tidak yakin dia benar-benar ingin mengatakannya.
“Ceritakan apa yang kamu tahu,” kata Pak Wi dengan lebih halus.
Aku mengawasi raut ronanya barang sebentar. Dia nampak menunggu, meskipun isi hatinya sulit diketahui. Namun sejak semula aku memang harus mengungkapkan semuanya. Maka aku pun bercerita:
“Perjanjian setan itu dari semula bukanlah suatu hal yang mutlak dapat dimiliki Sukma. Ia bisa diperebutkan oleh siapa pun. Sukma hanyalah salah seorang yang sangat berhasrat memlikinya, tetapi dia tidak menyadari bahwa betapa orang-orang lain juga menginginkannya.”
“Yang dimiliki Sukma tak lebih dari darahnya yang beracun, yang dapat digunakan untuk membunuh para korban yang sudah dipersyaratkan. Orang-orang yang tidak berdosa itu dipilih berdasarkan hari kelahiran, pasaran, dan mangsa yang mempunyai kesamaan pola dengan kelahiran Sukma.”
“Sukma membunuh mangsanya dengan cara sebagaimana yang Pak Wi alami. Sampai pada suatu malam kejahatannya berakhir di tangan lelaki sakti bernama Mas Haji Satar.”
“Penakluk Sukma ini mendapatkan reputasinya dan tentu menjadi sangat dihormati. Setelah itu tidak ada lagi kematian atau barangkali sangat sedikit. Bagi yang telah menyadari kebiadaban Sukma, Mas Haji Satar dianggap telah menolong banyak orang. Sayangnya tidak begitu. Mas Haji Satar di dalam hatinya menyimpan maksudnya sendiri. Pembunuhan Sukma dan pengabuannya menjadi suatu tanda peralihan perjanjian setan tersebut. Bisa saya katakan, sejak kala itu Mas Haji Satarlah yang memiliki haknya.”
“Kenyataannya yang lain, dan merupakan yang paling penting, baru diketahui kemudian. Perjanjian ini baru akan terwujud pada waktu yang sudah ditentukan. Yakni tidak lebih lama dan tidak lebih cepat dari hari ini. Pada malam menjelang pagi. 1 Juni 2010, Selasa Kliwon, pertengahan Sadha. Waktu ini bertepatan persis dengan hari kelahiran Sukma. Tenung itu telah dinaungi perjanjian semenjak pertama kali menghirup nafasnya di dunia. Saya tidak bisa mengatakan apa sebabnya.”
“Kematian Sukma sebenarnya menyisakan persoalan lain yang belum selesai. Yakni belum terpenuhinya bahkan belum tersedianya korban-korban terakhir. Mas Haji Satar mengetahui hal tersebut dengan baik. Oleh karenanya dia mengentas darah Sukma sebagai alat untuk membunuh yang lain.”
“Makin ke sini Mas Haji Satar kian berumur. Lalu dia mati sebagaimana manusia lain yang pernah hidup. Namun perjanjian itu tidak mati, melainkan diwariskan pada anaknya, Haji Mufid. Tandanya sangat mudah dibaca; setelah meninggalnya Mas Haji Satar jenazahnya diabukan oleh putranya.”
“Haji Mufid mula-mula menyimpan tiga cawan pusaka di rumahnya sendiri. Masing-masing yaitu berisi darah Sukma sewaktu hidupnya, abu Sukma, dan abu bapaknya. Belakangan ia tidak tahan dengan banyaknya gangguan. Sebab roh jahat tenung ini terus menerus merundungi hidupnya. Untuk itu dia mencari akal supaya lepas dari segala macam teror sambil menunggu tibanya hari ini.”
“Dari sini, si bajingan* Haji…”
“Alvin!” Pak Wi protes terhadap gelar kesayangan yang aku ucapkan itu. Aku hanya menatapnya untuk mengetahui sebenarnya dia masih menunggu lanjutan ceritanya.
“Nah, dari sini, si jancuk** bernama…”
Lagi-lagi dia protes. Sekarang ditambah dua umpatan dalam bahasanya. Aku hanya menghela napas. Fani akhirnya membuka mulut, menyuruh Pak Wi membiarkan aku berkata-kata sesuka hati. Bagaimana pun Pak Wi manut.
Aku mulai lagi bicara setelah yakin Pak Wi tidak akan protes dengan cara apa pun.
“Maka dari sinilah anak kampang*** itu mendapatkan caranya yang aman, tanpa memupuskan keinginannya terhadap perjanjian tersebut. Siasatnya adalah membujuk pemilik rumah ini melalui analisis bangunan. Dia menyebutkan segala macam kerusakan dan ancaman yang bisa terjadi kemudian. Tuan rumah pun percaya dan mengambil keputusan untuk memperbaiki bangunannya. Bukankah sebagian cerita ini Pak Wi tulis dan ceritakan sendiri?”
Pak Wi tidak menjawab, tidak juga protes. Terutaman pada gelar yang terakhir aku ucapkan. Sementara dia pernah menetap di Sumatera Selatan, yang mana dia semestinya bisa tahu artinya. Aku lebih senang dengan sikapnya yang gampang diatur begini. Selain itu, boleh jadi dia mulai percaya pada kalimat-kalimatku. Aku tidak boleh membuang waktu demi menjelaskan masalah ini sampai lengkap.
“Bajingan itu adalah seorang yang memiliki keyakinan lain. Bukan penghayat Jawa pada umumnya. Amat jauh dari itu, dia mempercayai simbol-simbol yang konon berhubungan dengan setan. Pak Wi pernah mendengar simbol angka 666? Menurut orang-orang yang percaya, angka tersebut memiliki ikatan mitologis dengan iblis, lucifer, anti kristus, dajjal, setan, jin ifrit, jin tomang, jin aladin, jin dan jun atau apa pun semaunya.”
“Bagaimana dia meritualkan kepercayaannya yang dirahasiakan ini? Saya nggak tertarik menceritakannya meski saya tahu. Yang paling penting, Haji Mufid meletakkan simbol angka-angka itu pada rumah ini.”
Aku berbohong bahwa aku mengetahui ritualnya. Tetapi kebohongan dalam lipatan realitas penting diucapkan pada waktu-waktu tertentu.
“Bagaimana cara Haji Mufid melakukannya? Seperti tulisan yang Pak Wi wasiatkan, mula-mula dia membujuk ahli rumah agar membeli tanah sebagian kebun di belakang. Sehingga luas tanah rumah ini bertambah menjadi 666 meter persegi. Haji Mufid kemudian menambah luas bangunan, yang menyebabkan dua pekarangan rumah ini sama luasnya.”
“Penggantian lantai rumah termasuk caranya meletakkan simbol 666. Saya sudah menghitung, dan jumlahnya ada 666 granit pada lantai utama, dan 666 granit lainnya pada bawah tanah dan kamar-kamar atas. Mustahil ini suatu kebetulan. Dan penjelasan ini masih ada lagi.”
“Haji Mufid tidak mengganti pilar rumah yang sejak dulu jumlahnya enam. Tapi ia mengganti atapnya menjadi empat atap susun, selebihnya dua atap segi tiga,” aku perlu istirahat beberapa saat. Napasku kembang kempis karena bicara cepat dan panjang.
“Lalu ke mana enam yang sisanya?” tanya Pak Wi. Rupanya masih tajam akalnya.
Aku tambah bersemangat. Melanjutkan:
“Enam yang terakhir ditandai dari jumlah anggota keluarga rumah ini sampai tibanya hari perjanjian setan. Apakah saya perlu menyebut satu demi satu beserta hari kelahirannya? Apa saya juga perlu menjelaskan bagaimana akhir cerita kehidupan mereka yang sudah lebih dulu pergi?”
Fani tahu-tahu terisak. Pak Wi berupaya membuat perempuan itu tenang dengan caranya sendiri. Saat Pak Wi kembali padaku aku mendapati lelaki senja ini menahan emosi yang lain.Tulang rahangnya berkedat kedut. Sayang sekali aku tidak punya waktu untuk peduli bagaimana perasaannya.
Aku berkata melanjutkan:
“Tidak penting apa yang dipercayai Haji Mufid kecuali hal-hal itu digunakan untuk membuat rumah ini celaka. Dia sudah melangkah sejauh ini dan tinggal menyelesaikan yang tersisa. Tiga orang itu semata-mata Pak Wi sendiri, Fani, Sybillia.”
“Dia melakukan cara yang masih sama dari sebelumnya. Kekacauan yang terjadi sampai pada malam ini merupakan bagian yang sangat dia inginkan. Pak Wi sendiri akhirnya meminta pertolongan Haji Mufid guna mengusir setan jahat itu. Dan dia datang tepat pada waktunya. Malam ini, pada waktu kembalinya setan jahanam itu demi menunaikan perjanjian antara dirinya dan manusia.”
“Haji Mufid akan menggelar ritus pengusiran. Padahal bukan itu sesungguhnya. Dia akan mengobati Pak Wi dan lainnya dengan menyuruh kalian meminum darah Sukma. Dengan itu kalian akan mati seperti yang diharapkan. Sebab jiwa-jiwa kalian menjadi syarat penutup sebelum Haji Mufid bisa mengadakan perjanjian tersebut.”
“Takkan ada pengusiran setan. Sebab makhluk itulah yang dinanti-nanti kedatangannya. Dalam beberapa saat setelahnya Haji Mufid memperoleh manfaat yang luar biasa besar berkat perikatannya dengan setan itu.”
Pak Wi menyela waktuku dengan berkata, “Kamu sudah bicara banyak sekali. Tetapi kamu ndak tahu tentang yang sesungguhnya. Dialah yang paling berminat atas kekuatan itu.”
Aku bisa menerangkan kalimat itu dengan mudah. Namun aku mendengar suara sayup dari bawah dan itu lebih penting untuk diatasi dulu.
*Kusir atau penarik gerobak sapi
**Sebuah negara imajiner yang dipimpin seorang budayawan Sujiwo Tejo
***Tidak untuk diartikan
Aku tidak ingin buang waktu. Segera menemui Pak Wi dan Fani di atas. Lebih baik berlari daripada lambat-lambat. Saat pintu kamar Wina terdorong, kedua orang itu tengah berbarengan duduk bersimpuh khidmat di lantai. Kehadiranku merusak keheningan dalam pikiran mereka. Masa bodoh.
“Alvin! Kamu mau apa lagi!?” Pak Wi saat itu juga menyatakan keberatannya dan berusaha berdiri.
“Kita semua harus pergi dari sini…sekarang!” nafasku tersengal sehingga nada bicaraku sukar lagi bisa ditata. Kusambung kata-kataku, “Haji Mufid….Dia..ini semua adalah muslihatnya.”
Baru-baru ini aku merasakan pusing tiba-tiba. Entah karena perut kosong atau ada pengaruh lain. Sepertinya sebab yang pertama. Pak Wi mendekatiku. Tidak peduli bagaimana pun keadaannya. Matanya berkecamuk, seakan-akan ingin meremukkan batang leherku.
Aku menjauhi Pak Wi meski tidak begitu berguna. Di tempat yang berdekatan Fani diam saja. Wajahnya antara cemas dan takut. Keduanya sama-sama buruk. Mereka harus mengetahui kebenarannya.
“Saya tahu siapa sebenarnya Haji Mufid. Dia itu…,” kalimatku tidak begitu tegas, kepalaku berdenyut hebat lagi.
“Apa yang kamu tahu, anak bodoh?” suara Pak Wi sayup di telingaku.
“Haji Mufid sebenarnya yang….dia punya maksud….Huffhh….” denyutannya makin tidak tertahan.
“Saya sudah mengusir kamu kemarin….Kenapa nekat datang lagi?”
Aku mundur ke arah pintu. Fani sekali-kali tidak memperlihatkan apa pun. Dalam penglihatanku yang samar-samar, ia nampak masih ketakutan.
“Sekarang kamu mau apa?” desak Pak Wi.
Beberapa saat sebentar kutatap wajah keriput itu, lalu menatap Fani dalam duduknya yang menelungkup sambil mendekap Sybillia. Entah bagaimana aku memperoleh suatu kekuatan akal pikiran yang luar biasa: Ini adalah satu-satunya kesempatan. Aku harus bertahan, mesti kuat menghadapi segala ganjalan. Pada saat itu juga aku harus menjelaskan kepada mereka tentang rahasia Haji Mufid dan Sukma.
Dengan pikiran yang lebih teratur aku berkata kepada mereka:
“Saya sudah baca tulisan Pak Wi. Saya tahu semuanya. Tentang Fani yang sejak kecil selalu dihantui sosok wanita tua. Tentang anjing-anjing yang mati secara tiba-tiba. Tentang kedatangan Haji Mufid untuk memperbaiki rumah ini.”
Aku berhenti sebentar demi melihat dua orang itu. Agaknya Pak Wi belum bergeming dari kejengkelannya pada aku.
“Haji Mufid pada malam itu datang bukan untuk pekerjaannya.” Aku menunjukkan sepintas peti dalam kepitan. “Dia bermaksud menanam kotak ini pada kamar Fani yang sekarang.”
“Sukma menginginkan suatu perjanjian dengan setan. Untuk mencapai perjanjiannya dia harus menghabisi 101 nyawa. Bukankah Pak Wi turut menjadi korban? Pada saat Pak Wi masih kecil, bayi kecil itu dibawakan pada seorang dukun terkenal di Pantai Selatan Purworejo. Ia dibawa karena sakit yang tidak terkira sebabnya. Lalu dukun wanita yang sebenarnya seorang tenung itu memberikan beberapa tetes darahnya dengan dalih bisa membuat sembuh.
“Bagaimana kamu tahu cerita itu!?” Pak Wi bertanya dengan menurunkan suara.
“Saya sudah katakan, saya membaca tulisan Pak Wi. Saya juga mendengar ucapan Pak Wi. Lebih dari itu, saya mendapat bisikan-bisikan yang berkenaan dengan misteri Sukma.”
“Kamu menerima bisikan?” Pak Wi memicingkan matanya seolah tidak percaya.
“Saya juga mendapatkan mimpi, juga pemandangan yang tiba-tiba berlangsung di depan mata.”
“Bagaimana kamu bisa percaya?”
“Saya tidak percaya,” jawabku sambil menyeringai.
“Kalau begitu ucapan kamu ndak perlu diucapkan.”
“Saya hanya percaya pada sedikit dari apa yang saya alami.”
“Apa isi peti itu?”
“Ini tetap menjadi rahasia bagi orang yang tidak percaya kata-kata saya.”
Orang ini terkekeh seperti mengejek. Anehnya kemudian dia mengatakan, “Saya akan percaya.” Tetapi aku tidak yakin dia benar-benar ingin mengatakannya.
“Ceritakan apa yang kamu tahu,” kata Pak Wi dengan lebih halus.
Aku mengawasi raut ronanya barang sebentar. Dia nampak menunggu, meskipun isi hatinya sulit diketahui. Namun sejak semula aku memang harus mengungkapkan semuanya. Maka aku pun bercerita:
“Perjanjian setan itu dari semula bukanlah suatu hal yang mutlak dapat dimiliki Sukma. Ia bisa diperebutkan oleh siapa pun. Sukma hanyalah salah seorang yang sangat berhasrat memlikinya, tetapi dia tidak menyadari bahwa betapa orang-orang lain juga menginginkannya.”
“Yang dimiliki Sukma tak lebih dari darahnya yang beracun, yang dapat digunakan untuk membunuh para korban yang sudah dipersyaratkan. Orang-orang yang tidak berdosa itu dipilih berdasarkan hari kelahiran, pasaran, dan mangsa yang mempunyai kesamaan pola dengan kelahiran Sukma.”
“Sukma membunuh mangsanya dengan cara sebagaimana yang Pak Wi alami. Sampai pada suatu malam kejahatannya berakhir di tangan lelaki sakti bernama Mas Haji Satar.”
“Penakluk Sukma ini mendapatkan reputasinya dan tentu menjadi sangat dihormati. Setelah itu tidak ada lagi kematian atau barangkali sangat sedikit. Bagi yang telah menyadari kebiadaban Sukma, Mas Haji Satar dianggap telah menolong banyak orang. Sayangnya tidak begitu. Mas Haji Satar di dalam hatinya menyimpan maksudnya sendiri. Pembunuhan Sukma dan pengabuannya menjadi suatu tanda peralihan perjanjian setan tersebut. Bisa saya katakan, sejak kala itu Mas Haji Satarlah yang memiliki haknya.”
“Kenyataannya yang lain, dan merupakan yang paling penting, baru diketahui kemudian. Perjanjian ini baru akan terwujud pada waktu yang sudah ditentukan. Yakni tidak lebih lama dan tidak lebih cepat dari hari ini. Pada malam menjelang pagi. 1 Juni 2010, Selasa Kliwon, pertengahan Sadha. Waktu ini bertepatan persis dengan hari kelahiran Sukma. Tenung itu telah dinaungi perjanjian semenjak pertama kali menghirup nafasnya di dunia. Saya tidak bisa mengatakan apa sebabnya.”
“Kematian Sukma sebenarnya menyisakan persoalan lain yang belum selesai. Yakni belum terpenuhinya bahkan belum tersedianya korban-korban terakhir. Mas Haji Satar mengetahui hal tersebut dengan baik. Oleh karenanya dia mengentas darah Sukma sebagai alat untuk membunuh yang lain.”
“Makin ke sini Mas Haji Satar kian berumur. Lalu dia mati sebagaimana manusia lain yang pernah hidup. Namun perjanjian itu tidak mati, melainkan diwariskan pada anaknya, Haji Mufid. Tandanya sangat mudah dibaca; setelah meninggalnya Mas Haji Satar jenazahnya diabukan oleh putranya.”
“Haji Mufid mula-mula menyimpan tiga cawan pusaka di rumahnya sendiri. Masing-masing yaitu berisi darah Sukma sewaktu hidupnya, abu Sukma, dan abu bapaknya. Belakangan ia tidak tahan dengan banyaknya gangguan. Sebab roh jahat tenung ini terus menerus merundungi hidupnya. Untuk itu dia mencari akal supaya lepas dari segala macam teror sambil menunggu tibanya hari ini.”
“Dari sini, si bajingan* Haji…”
“Alvin!” Pak Wi protes terhadap gelar kesayangan yang aku ucapkan itu. Aku hanya menatapnya untuk mengetahui sebenarnya dia masih menunggu lanjutan ceritanya.
“Nah, dari sini, si jancuk** bernama…”
Lagi-lagi dia protes. Sekarang ditambah dua umpatan dalam bahasanya. Aku hanya menghela napas. Fani akhirnya membuka mulut, menyuruh Pak Wi membiarkan aku berkata-kata sesuka hati. Bagaimana pun Pak Wi manut.
Aku mulai lagi bicara setelah yakin Pak Wi tidak akan protes dengan cara apa pun.
“Maka dari sinilah anak kampang*** itu mendapatkan caranya yang aman, tanpa memupuskan keinginannya terhadap perjanjian tersebut. Siasatnya adalah membujuk pemilik rumah ini melalui analisis bangunan. Dia menyebutkan segala macam kerusakan dan ancaman yang bisa terjadi kemudian. Tuan rumah pun percaya dan mengambil keputusan untuk memperbaiki bangunannya. Bukankah sebagian cerita ini Pak Wi tulis dan ceritakan sendiri?”
Pak Wi tidak menjawab, tidak juga protes. Terutaman pada gelar yang terakhir aku ucapkan. Sementara dia pernah menetap di Sumatera Selatan, yang mana dia semestinya bisa tahu artinya. Aku lebih senang dengan sikapnya yang gampang diatur begini. Selain itu, boleh jadi dia mulai percaya pada kalimat-kalimatku. Aku tidak boleh membuang waktu demi menjelaskan masalah ini sampai lengkap.
“Bajingan itu adalah seorang yang memiliki keyakinan lain. Bukan penghayat Jawa pada umumnya. Amat jauh dari itu, dia mempercayai simbol-simbol yang konon berhubungan dengan setan. Pak Wi pernah mendengar simbol angka 666? Menurut orang-orang yang percaya, angka tersebut memiliki ikatan mitologis dengan iblis, lucifer, anti kristus, dajjal, setan, jin ifrit, jin tomang, jin aladin, jin dan jun atau apa pun semaunya.”
“Bagaimana dia meritualkan kepercayaannya yang dirahasiakan ini? Saya nggak tertarik menceritakannya meski saya tahu. Yang paling penting, Haji Mufid meletakkan simbol angka-angka itu pada rumah ini.”
Aku berbohong bahwa aku mengetahui ritualnya. Tetapi kebohongan dalam lipatan realitas penting diucapkan pada waktu-waktu tertentu.
“Bagaimana cara Haji Mufid melakukannya? Seperti tulisan yang Pak Wi wasiatkan, mula-mula dia membujuk ahli rumah agar membeli tanah sebagian kebun di belakang. Sehingga luas tanah rumah ini bertambah menjadi 666 meter persegi. Haji Mufid kemudian menambah luas bangunan, yang menyebabkan dua pekarangan rumah ini sama luasnya.”
“Penggantian lantai rumah termasuk caranya meletakkan simbol 666. Saya sudah menghitung, dan jumlahnya ada 666 granit pada lantai utama, dan 666 granit lainnya pada bawah tanah dan kamar-kamar atas. Mustahil ini suatu kebetulan. Dan penjelasan ini masih ada lagi.”
“Haji Mufid tidak mengganti pilar rumah yang sejak dulu jumlahnya enam. Tapi ia mengganti atapnya menjadi empat atap susun, selebihnya dua atap segi tiga,” aku perlu istirahat beberapa saat. Napasku kembang kempis karena bicara cepat dan panjang.
“Lalu ke mana enam yang sisanya?” tanya Pak Wi. Rupanya masih tajam akalnya.
Aku tambah bersemangat. Melanjutkan:
“Enam yang terakhir ditandai dari jumlah anggota keluarga rumah ini sampai tibanya hari perjanjian setan. Apakah saya perlu menyebut satu demi satu beserta hari kelahirannya? Apa saya juga perlu menjelaskan bagaimana akhir cerita kehidupan mereka yang sudah lebih dulu pergi?”
Fani tahu-tahu terisak. Pak Wi berupaya membuat perempuan itu tenang dengan caranya sendiri. Saat Pak Wi kembali padaku aku mendapati lelaki senja ini menahan emosi yang lain.Tulang rahangnya berkedat kedut. Sayang sekali aku tidak punya waktu untuk peduli bagaimana perasaannya.
Aku berkata melanjutkan:
“Tidak penting apa yang dipercayai Haji Mufid kecuali hal-hal itu digunakan untuk membuat rumah ini celaka. Dia sudah melangkah sejauh ini dan tinggal menyelesaikan yang tersisa. Tiga orang itu semata-mata Pak Wi sendiri, Fani, Sybillia.”
“Dia melakukan cara yang masih sama dari sebelumnya. Kekacauan yang terjadi sampai pada malam ini merupakan bagian yang sangat dia inginkan. Pak Wi sendiri akhirnya meminta pertolongan Haji Mufid guna mengusir setan jahat itu. Dan dia datang tepat pada waktunya. Malam ini, pada waktu kembalinya setan jahanam itu demi menunaikan perjanjian antara dirinya dan manusia.”
“Haji Mufid akan menggelar ritus pengusiran. Padahal bukan itu sesungguhnya. Dia akan mengobati Pak Wi dan lainnya dengan menyuruh kalian meminum darah Sukma. Dengan itu kalian akan mati seperti yang diharapkan. Sebab jiwa-jiwa kalian menjadi syarat penutup sebelum Haji Mufid bisa mengadakan perjanjian tersebut.”
“Takkan ada pengusiran setan. Sebab makhluk itulah yang dinanti-nanti kedatangannya. Dalam beberapa saat setelahnya Haji Mufid memperoleh manfaat yang luar biasa besar berkat perikatannya dengan setan itu.”
Pak Wi menyela waktuku dengan berkata, “Kamu sudah bicara banyak sekali. Tetapi kamu ndak tahu tentang yang sesungguhnya. Dialah yang paling berminat atas kekuatan itu.”
Aku bisa menerangkan kalimat itu dengan mudah. Namun aku mendengar suara sayup dari bawah dan itu lebih penting untuk diatasi dulu.
*Kusir atau penarik gerobak sapi
**Sebuah negara imajiner yang dipimpin seorang budayawan Sujiwo Tejo
***Tidak untuk diartikan
bebyzha dan 10 lainnya memberi reputasi
11