- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#3167
Part 63: Para Korban Terakhir
Bukti-bukti datang beruntun dalam waktu singkat. Misteri ini bukanlah suatu kebetulan. Ada oknum yang merancangnya tekun dan teliti. Yaitu Mas Haji Satar dan putranya adalah yang paling bertanggung jawab atas segalanya. Pada suatu malam antara 1941 ketika Mas Haji Satar membunuh Sukma, dia luput pada satu perkara penting: Perjanjian itu tidak dapat dilaksanakan karena belum waktunya. Maka dia menyimpan pusakanya untuk selanjutnya diwariskan kepada anaknya.
Haji Mufid tentu sudah mengikuti serangkaian indoktrinasi dan dia patuh atas wasiat ayahnya. Dengan cerdik dia menyimpan benda pusaka itu yang akan digunakannya sebagai sarana ritus perjanjian. Lagi-lagi Azazil keliru karena menyatakan Haji Mufid tak pernah sanggup memberikan korban terakhir. Perjanjian ini memang meminta 101 nyawa, tetapi batas waktunya ditetapkan sampai hari ini. Dalam arti apabila Haji Mufid menuntaskan permintaan itu sebelum waktunya tidak terlalu berguna.
Haji Mufid memilih datang sebagai ahli bangunan lalu menyimpan benda ritus di rumah ini. Aku percaya ada persamaan mendasar yang dapat ditarik dari keluarga ini. Mereka semua tak lain dari korban yang diincar. Pak Wi dan Fani lahir pada hari, pasaran, dan mangsa yang sama. Fani bercerita dia punya saudara kembar. Aku tidak tahu bagaimana yang lain, aku pikir tidak perlu mencari kepastian karena arahnya pasti ke situ. Selain waktu kelahiran, keluarga ini berasal dari suatu daerah yang sama. Fani boleh jadi lahir di Jakarta, namun tidak dengan asal muasalnya.
Kini pemahamanku jauh lebih berani. Yang benar adalah korbannya sudah ditetapkan, bukan dipilih apalagi menunggu secara acak. Sukma sengaja mengecoh Pak Wi melalui bisikan, supaya orang tua itu percaya pada laku sesaji dan permintaan-permintaan serta pantangan serta yang lain-lain. Harapannya agar rumah ini tetap dalam kendali sampai waktunya.
Di sisi lain, kehadiran aku sebenarnya dimanfaatkan jin atau setan itu demi mengubah situasi. Makhluk itu sengaja mengganggu aku dan Wina, memanfaatkan kecerobohan dan kebodohanku hingga membuat seisi rumah panik. Kejadian yang menimpa Lis menambah kepanikan itu. Sesungguhnya ini hanyalah hukum sebab akibat. Orang yang panik akan meminta tolong meski pada seekor kambing. Setan itu mengulur waktunya dengan cermat, menjejali bisikan-bisikan yang berlainan kepada Pak Wi, mengatur waktu sedemikian rupa sehingga pada akhirnya Pak Wi berangkat menemui Haji Mufid guna meminta pertolongannya.
Aku sudah salah menilai keberangkatan Fani ke Semarang. Perempuan ini tidak pergi untuk lain-lain kecuali pekerjaannya. Saat berada jauh dari rumah ada energi yang tidak disadari yang mempengaruhi pikirannya agar pulang lebih cepat. Satu jam lebih sedikit yang lalu Fani menelepon aku dan setelah mendengar apa yang aku ucapkan dia pasti semakin mantap sampai lebih cepat.
Fani mengaku telah mendengar cerita yang lebih pasti baru-baru ini. Informasinya pasti bersumber dari Pak Wi yang berhulu pada bisikan maupun ucapan-ucapan Haji Mufid. Dalam situasi mendesak manusia seringkali percaya pada apa pun dan siapa saja.
Aku berani menebak apa yang terjadi berikutnya. Haji Mufid akan datang bersama Pak Wi. Sementara Fani bisa saja tiba lebih dulu atau terlambat. Segera setalah seluruh anggota rumah ini berkumpul, Haji Mufid langsung menggelar ritus dengan alasan yang dibuat-buat, yakni dengan maksud mengusir setan jahat dari dalam bangunan ini.
Dan aku aku masih perlu lagi membantah Azazil. Ritus pamungkas tidak akan dilangsungkan di tepi pantai tetapi di dalam rumah ini. Lantas mengapa Mas Haji Satar dahulu hendak melarung abu Sukma? Sebenarnya dia tidak akan melakukannya. Berita mengenai pelarungan ini asalnya dari Azazil. Sekarang aku berani menyatakan makhluk itu lebih banyak salahnya. Andaikata pelarungan dijadikan ritual terakhir, betapa mustahilnya kegiatan tersebut. Haji Mufid mestinya tidak akan susah payah menanamkan kotak rahasianya di rumah ini. Dia hanya perlu menyimpan di kamarnya lalu pergi ke pesisir selatan untuk melakoni ritus itu.
Beberapa hal mengenai misteri Sukma perlu diluruskan lagi, terutama soal bagaimana Sukma meneluh korbannya. Aku mendapat dua kabar dari Azazil dan Pak Wi. Menurut Azazil metode teluh Sukma menggunakan air garam sehingga korbannya bakal mati kesakitan dengan perut membengkak lantaran dipenuhi begitu banyak air dengan kandungan garam tinggi—kabar ini diperkuat dengan adanya pengakuan Pak Wi mengenai kematian ibu bapaknya. Adapun Pak Wi bilang, Sukma telah meneluh mati ribuan orang karena ia tidak tahu siapa-siapa saja calon korbannya yang lahir bersamaan dengan mangsa kelahirannya. Ini pun sulit dimengerti. Begini, pemilik otoritas kabar berita ini adalah Sukma. Makhluk ini mengecoh Azazil dan Pak Wi dengan dua informasi. Sepintas Sukma tampak bodoh, setidaknya kesaktiannya berkurang lantaran ia tidak tahu siapa yang harus menjadi korbannya. Namun dengan kenyataan Haji Mufid merancang rencana hebat atas penghuni rumah ini, aku meyakini sejak semula korbannya sudah ditentukan.
Dan metode teluh yang dulu dikerjakan Sukma semata-mata persis dengan apa yang bakal terjadi malam ini. Aku menduga Sukma adalah seorang dukun supranatural yang membuka praktik pengobatan gangguan gaib. Pada saat itu barangkali reputasinya sangat baik sehingga orang-orang dari berbagai penjuru tempat memujinya. Sukma menjalankan jasa pengobatan, pada saat yang berbarengan menyiapkan perjanjiannya. Sebagian orang yang datang berhasil dia bantu namun ada sebagian lain yang sudah direncanakan datang untuk ia celakai. Caranya adalah dengan mengirimkan makhluk halus untuk mengganggu calon korbannya yang sudah dicetak biru sedari awal. Orang-orang naas ini kemudian mendatangi Sukma, tujuannya berobat. Dan pada akhirnya pengobatan ini menjadi cara membunuh yang paling rapi. Para korban mati tetapi nama baik Sukma tetap terpelihara. Bukankah wajar jika dari seratus pasien sekarat yang berobat pada seorang dokter ada seorang yang tidak berhasil diselamatkan?
Aku belum bisa memikirkan bagaimana teknisnya pembunuhan ini. Yang pasti melalui cara-cara gaib, bukan klinis kedokteran. Mungkin saja dia hanya mengucapkan mantra-mantra atau menawarkan ramuan khusus untuk diminum korbannya.
Jahanam!!
Darah!!
Sukma memberikan beberapa tetes darahnya untuk direguk korban. Dengan menancapkan keyakinan ke dalam pikiran mereka bahwa cara itu mujarab menghentikan gangguan gaib, para korbannya mudah percaya dan langsung mereguknya tanpa membantah.
Itu sebabnya Mas Haji Satar lebih dulu mengentas darah Sukma sebelum membunuhnya. Sebab ia sangat membutuhkannya untuk membunuh beberapa korban terakhir. Adapun abu jenazah Sukma, bagiku menjadi simbol bahwa perjanjian itu telah diambil alih oleh Mas Haji Satar. Dan aku sama sekali masih ingat, Pak Wi menyatakan Mas Haji Satar juga diabu setelah meninggal dunia. Tujuan pengabuan ini semata-mata pula sebagai simbol ritus bahwa anaknya, si bajingan Haji Mufid adalah oknum yang berhak atas perjanjian itu.
Azazil mungkin juga luput menyampaikan satu pokok penting; di dalam kotak misterius sesungguhnya terdapat tiga cawan yakni masing-masing berupa darah Sukma, abu Sukma, dan abu Mas Haji Satar. Ritual penanda perjanjian itu akan disegerakan sesaat setelah Haji Mufid berhasil menuntaskan seluruh korbannya.
Pengetahuan kini lebih lengkap dari yang pernah aku harapkan. 98 korban yang sudah akan dilengkapi tiga yang terakhir. Aku menggaransi diri sendiri tidak masuk dalam daftar kematian. Sebab fungsiku tidak lebih untuk memancing kegaduhan. Yang terancam adalah tiga orang; Pak Wi, Fani, dan Sybillia.
Pak Wi dan Fani punya kecocokan sebagai prasyarat calon korban. Begitu pula Sybillia, beberapa hari yang lalu baru berulang tahun ke-2. Hari kelahirannya Selasa, 27 Mei 2008 bertepatan dengan Selasa Kliwon. Mereka bertiga memiliki kekerabatan dan ikatan historis. Aku tidak perlu menyingkap lebih jauh ke belakang. Sebab ini sudah menjadi petunjuk nyata.
Itulah mengapa bajingan itu mengutarakan maksudnya melalui simbol angka 666. 6 yang terakhir bermakna anggota keluarga ini. Rumah mereka sudah sejak lama mengalami gangguan gaib, diperkuat cerita Fani tentang yang terjadi di masa remajanya. Sebenarnya fenomena tersebuti merupakan serangkaian plot yang mengantar mereka sampai pada puncaknya. Juga masih lekat dalam ingatan, Fani mengatakan Pak Wi sebenarnya sudah berhenti dari pekerjaannya, sampai ia kembali datang 10 bulan lalu. Kuat dugaan, saat itu Pak Wi merasakan bisikan yang jauh lebih kuat sehingga ia memutuskan kembali.
Ritus berbahaya itu sepertinya tergambar dalam pemandangan tembus pandang beberapa hari lalu. Cermin di kamar mandi menyiarkan apa yang akan berlangsung. Hanya saja pada saat itu aku melihat sosok Pak Wi, padahal sejatinya Haji Mufid. Sukma dapat melakukan apa saja menurut kehendaknya.
Barang sebentar bulu-bulu halus di tubuku melancip. Aku menghembuskan nafas kencang sebab lelahnya pikiran juga untuk menyingkirkan rasa takut. Ini belum lagi selesai, yaitu bagaimana cara mengakhirinya.
Beberapa saat lagi Fani sampai. Pak Wi akan datang bersama Haji Mufid. Yang paling mudah aku tinggal bersembunyi di salah satu tempat lalu menunggu kesempatan meninggalkan rumah ini. Berlepas diri dari segala urusan sungguh merupakan cara yang aman. Namun bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya. Meninggalkan orang-orang itu sementara esok harinya aku kembali dan menyaksikan, atau setidaknya mendapat kabar bahwa mereka sudah tewas dalam keadaan sangat jelek.
Siasat kedua ialah berupaya menghentikan Haji Mufid dengan segala cara. Aku harus meyakinkan Pak Wi dan Fani agar tidak sekali-kali percaya pada bajingan itu. Tapi ini pun sulit. Pak Wi sudah terlalu mengimani perkataan Haji Mufid. Belum lagi jika Haji Mufid mampu membungkam aku dengan mudah dengan kekuatan yang aku tidak bisa perkirakan.
Barangkalai metode yang lebih ampuh adalah dengan menghabisi Haji Mufid. Kalau perlu nyawanya sekalian. Ya Tuhan! Aku baru saja memikirkan sesuatu yang begitu buruk. Tidak, sama sekali tidak boleh terjadi.
Perkataan Azazil seketika menjejali ingatan. Ia pernah berkata, aku harus melaksanakan ritus terakhir, caranya mereguk abu jasad Sukma yang dicampur dengan darahnya dan darahku sendiri. Umpamanya ini adalah satu-satunya cara yang dapat menghentikan Haji Mufid, apa boleh buat. Tapi dalam sesaat aku ragu karena berlawanan dengan alur cerita, tentu harus memikirkan akibatnya.
Tiba-tiba aku mendengar suara yang asalnya cukup dekat. Masih di rumah ini, dari luar kamar. Suara itu belum lekang dari ingatan. Itu suara Azazil!
Ia berkata, “Haji Mufid akan tiba bersama yang lain-lain. Jika mereka datang, segera temukan cara untuk menceritakan rencana jahat Haji Mufid kepada Pak Wi dan Fani.”
Aku tidak harus menulis lagi untuk menanggapinya. Dari kamar Fani aku bertanya sambil berjalan lambat mendekati arah suara. Kataku, “Apa yang bakal dilakukan Haji Mufid?”
Dia menjawab, “Itu urusanku. Sebenarnya aku juga bisa mengurus semuanya. Kau hanya perlu mengerjakan urusanmu.”
Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?”
“Segerakan ritual terakhir yang pernah aku katakan. Kau sudah tahu bagaimanya tata caranya.”
“Cuma itu?”
“Sebelumnya kau akan mendapati Fani dan Pak Wi, juga Sybillia, bahwa mereka ingin mereguk beberapa tetes darah Sukma yang disimpan dalam cawan. Kau pasti dapat melakukannya dengan mudah. Dan ingat, tiap-tiap cawan tersebut berkenaan dengan adanya pembunuhan.”
Aku berhenti dua langkah dari dalam kamar Fani. Suara gaib terdengar semakin jelas. Dan kalimat-kalimat yang terakhir ia ucapkan sangat mengerikan, merupakan perintah untuk membunuh ketiga orang tersebut. Mengapa Azazil sampai mengatakan itu.
Makhluk halus sekali lagi berkata, “Ia berhak memilih menurut kemauannya sendiri dan kau hanya bisa bersiap-siap menghadapi sesuatu yang tidak terduga.”
Kesadaranku bangkit begitu saja. Itu bukan Azazil, melainkan Sukma. Namun aku mendengar suara yang sama persis dari yang sebelumnya. Aku yakin itu suara si penulis misterius. Sukma mungkin mampu meniru suara Azazil atau….aku sebenarnya berat hati mengucapkannya meski pada diri sendiri.
Atau selama ini aku berkomunikasi langsung dengan Sukma!
Bulu samarku mendadak tegang. Takut bercampur geram. Aku tidak pernah menyadarinya padahal itu dapat terjadi dengan begitu mudah. Sejak semula penulis itu mengumumkan bahwa Sukma adalah sosok pembohong. Sementara tiap kata-katanya aku percayai sebelum kemudian mendapati kejanggalan-kejanggalan.
Akan tetapi aku merasakan keanehan. Sebelum saat ini makhluk itu selalu bisa menebak jalan pikiranku. Namun tidak kali ini. Sejak memasuki kamar Fani aku sudah berpikir lama sampai kempot demi memecahkan misteri rumah ini. Di dalam pikiranku tersimpan begitu banyak pengetahuan. Anehnya makhluk sialan itu seolah-olah tidak bisa membaca isi kepalaku.
Jangan-jangan benar perkataan Pak Wi pada Fani yang memaksa perempuan itu pindah ke tempatnya yang sekarang. Bahwa dari semua sudut, kamar Fani yang sekarang menjadi tempat yang paling aman. Barangkali ada semacam kekuatan yang melindungi ruangan ini yang menghalangi masuknya energi jahat.
Setelah itu aku memantapkan nyali melangkah keluar. Lebih dulu aku mengenyahkan pikiran dari yang sudah-sudah. Selangkah di depan pintu aku berhenti. Berkata,
“Kau adalah si pembohong!”
Beberapa saat sebentar tiba-tiba terdengar bunyi gong dipukul dan digesek-gesek. Sebuah gong yang digesek memperdengarkan suara mirip lolongan yang aneh. Suara itu riuh rendah, menggema, membahana. Bersamaan dengan itu aku mendengar lengkingan wanita yang parau sekaligus nyaring. Suara-suara yang begitu mengerikan menggelayangi seluruh ruangan yang paling besar. Aku sangat takut, namun tidak ada lagi tempat dan waktu untuk sembunyi.
Hingga sekian waktu lamanya suara-suara itu terus berulang, memantul-mantul antara dinding dan atap rumah. Mataku mengitari ruangan, kemudian berhenti pada lukisan di atas. Bingkai kayu hampir setinggi orang dewasa itu berguncang hebat. Semakin aku amati gerakannya kian kemari. Dengan berani aku menyingkirkan rasa takut untuk menghampiri lukisan tersebut. Itu adalah gambar sepasang manusia, tetapi menurut Pak Wi, Haji Mufid memberikan sebuah lukisan berwujud seorang wanita.
Tanpa aku duga unyil sudah bangun dari lelapnya. Larinya larat memanjat tangga kayu sambil menggonggong tak henti-henti. Aku menyusul unyil dengan langkah menyesuaikan kecepatannya. Bunyi gong dan suara lengkingan parau wanita belum juga sirna. Semakin habis anak tangga, lukisan itu kian jelas.
Aku menyaksikan lukisan yang sama sekali berbeda. Bukan dua orang tetapi satu. Wanita yang wajahnya separuh baya sebagaimana wanita mengerikan dengan gaun renda yang telah aku temui pada suatu sore. Wajah dalam gambar itu menatap aku tajam dalam diamnya, dengan segaris senyum yang bersamaan dengan kemurungan. Matanya sedikit lancip dan rambut panjang yang tampak lusuh dan tidak diatur.
Unyil terus menggonggong, seolah-olah mendesak aku supaya lebih berani. Aku pun maju setelah memikirkan suatu hal; aku akan memusnahkan lukisan ini.
Namun aku baru tahu belakangan, mengganggu lukisan itu tidak semudah mengatakannya. Sungguh sulit menurunkannya dari tembok. Berkali-kali mencoba hasilnya benda itu masih menggantung begitu tegapnya.
Sementara bunyi gong itu terus menjadi bersama lengkingannya. Dan setan jahanam kini mencoba membuat kekacauan yang lain lagi. Benda-benda kecil yang ada di ruangan utama terlempar dengan sendirinya. Ia tertawa-tawa menyertai amukannya.
Aku merasa harus berlindung ke kamar Fani. Cepat-cepat turun. Namun unyil masih bertahan di tangga atas. Bahkan ketika aku sampai di bawah gonggongan anjing itu kian keras. Aku melirik ke atas. Ternyata wanita tua itu kini bukan lagi wujud dalam lukisan. Ia melangkah menuruni tangga dengan badan yang bungkuk dan kaki tertatih. Dan setelah itu unyil tidak lagi bersuara. Tubuhnya tersapu angin untuk menghantam tembok.
Haji Mufid tentu sudah mengikuti serangkaian indoktrinasi dan dia patuh atas wasiat ayahnya. Dengan cerdik dia menyimpan benda pusaka itu yang akan digunakannya sebagai sarana ritus perjanjian. Lagi-lagi Azazil keliru karena menyatakan Haji Mufid tak pernah sanggup memberikan korban terakhir. Perjanjian ini memang meminta 101 nyawa, tetapi batas waktunya ditetapkan sampai hari ini. Dalam arti apabila Haji Mufid menuntaskan permintaan itu sebelum waktunya tidak terlalu berguna.
Haji Mufid memilih datang sebagai ahli bangunan lalu menyimpan benda ritus di rumah ini. Aku percaya ada persamaan mendasar yang dapat ditarik dari keluarga ini. Mereka semua tak lain dari korban yang diincar. Pak Wi dan Fani lahir pada hari, pasaran, dan mangsa yang sama. Fani bercerita dia punya saudara kembar. Aku tidak tahu bagaimana yang lain, aku pikir tidak perlu mencari kepastian karena arahnya pasti ke situ. Selain waktu kelahiran, keluarga ini berasal dari suatu daerah yang sama. Fani boleh jadi lahir di Jakarta, namun tidak dengan asal muasalnya.
Kini pemahamanku jauh lebih berani. Yang benar adalah korbannya sudah ditetapkan, bukan dipilih apalagi menunggu secara acak. Sukma sengaja mengecoh Pak Wi melalui bisikan, supaya orang tua itu percaya pada laku sesaji dan permintaan-permintaan serta pantangan serta yang lain-lain. Harapannya agar rumah ini tetap dalam kendali sampai waktunya.
Di sisi lain, kehadiran aku sebenarnya dimanfaatkan jin atau setan itu demi mengubah situasi. Makhluk itu sengaja mengganggu aku dan Wina, memanfaatkan kecerobohan dan kebodohanku hingga membuat seisi rumah panik. Kejadian yang menimpa Lis menambah kepanikan itu. Sesungguhnya ini hanyalah hukum sebab akibat. Orang yang panik akan meminta tolong meski pada seekor kambing. Setan itu mengulur waktunya dengan cermat, menjejali bisikan-bisikan yang berlainan kepada Pak Wi, mengatur waktu sedemikian rupa sehingga pada akhirnya Pak Wi berangkat menemui Haji Mufid guna meminta pertolongannya.
Aku sudah salah menilai keberangkatan Fani ke Semarang. Perempuan ini tidak pergi untuk lain-lain kecuali pekerjaannya. Saat berada jauh dari rumah ada energi yang tidak disadari yang mempengaruhi pikirannya agar pulang lebih cepat. Satu jam lebih sedikit yang lalu Fani menelepon aku dan setelah mendengar apa yang aku ucapkan dia pasti semakin mantap sampai lebih cepat.
Fani mengaku telah mendengar cerita yang lebih pasti baru-baru ini. Informasinya pasti bersumber dari Pak Wi yang berhulu pada bisikan maupun ucapan-ucapan Haji Mufid. Dalam situasi mendesak manusia seringkali percaya pada apa pun dan siapa saja.
Aku berani menebak apa yang terjadi berikutnya. Haji Mufid akan datang bersama Pak Wi. Sementara Fani bisa saja tiba lebih dulu atau terlambat. Segera setalah seluruh anggota rumah ini berkumpul, Haji Mufid langsung menggelar ritus dengan alasan yang dibuat-buat, yakni dengan maksud mengusir setan jahat dari dalam bangunan ini.
Dan aku aku masih perlu lagi membantah Azazil. Ritus pamungkas tidak akan dilangsungkan di tepi pantai tetapi di dalam rumah ini. Lantas mengapa Mas Haji Satar dahulu hendak melarung abu Sukma? Sebenarnya dia tidak akan melakukannya. Berita mengenai pelarungan ini asalnya dari Azazil. Sekarang aku berani menyatakan makhluk itu lebih banyak salahnya. Andaikata pelarungan dijadikan ritual terakhir, betapa mustahilnya kegiatan tersebut. Haji Mufid mestinya tidak akan susah payah menanamkan kotak rahasianya di rumah ini. Dia hanya perlu menyimpan di kamarnya lalu pergi ke pesisir selatan untuk melakoni ritus itu.
Beberapa hal mengenai misteri Sukma perlu diluruskan lagi, terutama soal bagaimana Sukma meneluh korbannya. Aku mendapat dua kabar dari Azazil dan Pak Wi. Menurut Azazil metode teluh Sukma menggunakan air garam sehingga korbannya bakal mati kesakitan dengan perut membengkak lantaran dipenuhi begitu banyak air dengan kandungan garam tinggi—kabar ini diperkuat dengan adanya pengakuan Pak Wi mengenai kematian ibu bapaknya. Adapun Pak Wi bilang, Sukma telah meneluh mati ribuan orang karena ia tidak tahu siapa-siapa saja calon korbannya yang lahir bersamaan dengan mangsa kelahirannya. Ini pun sulit dimengerti. Begini, pemilik otoritas kabar berita ini adalah Sukma. Makhluk ini mengecoh Azazil dan Pak Wi dengan dua informasi. Sepintas Sukma tampak bodoh, setidaknya kesaktiannya berkurang lantaran ia tidak tahu siapa yang harus menjadi korbannya. Namun dengan kenyataan Haji Mufid merancang rencana hebat atas penghuni rumah ini, aku meyakini sejak semula korbannya sudah ditentukan.
Dan metode teluh yang dulu dikerjakan Sukma semata-mata persis dengan apa yang bakal terjadi malam ini. Aku menduga Sukma adalah seorang dukun supranatural yang membuka praktik pengobatan gangguan gaib. Pada saat itu barangkali reputasinya sangat baik sehingga orang-orang dari berbagai penjuru tempat memujinya. Sukma menjalankan jasa pengobatan, pada saat yang berbarengan menyiapkan perjanjiannya. Sebagian orang yang datang berhasil dia bantu namun ada sebagian lain yang sudah direncanakan datang untuk ia celakai. Caranya adalah dengan mengirimkan makhluk halus untuk mengganggu calon korbannya yang sudah dicetak biru sedari awal. Orang-orang naas ini kemudian mendatangi Sukma, tujuannya berobat. Dan pada akhirnya pengobatan ini menjadi cara membunuh yang paling rapi. Para korban mati tetapi nama baik Sukma tetap terpelihara. Bukankah wajar jika dari seratus pasien sekarat yang berobat pada seorang dokter ada seorang yang tidak berhasil diselamatkan?
Aku belum bisa memikirkan bagaimana teknisnya pembunuhan ini. Yang pasti melalui cara-cara gaib, bukan klinis kedokteran. Mungkin saja dia hanya mengucapkan mantra-mantra atau menawarkan ramuan khusus untuk diminum korbannya.
Jahanam!!
Darah!!
Sukma memberikan beberapa tetes darahnya untuk direguk korban. Dengan menancapkan keyakinan ke dalam pikiran mereka bahwa cara itu mujarab menghentikan gangguan gaib, para korbannya mudah percaya dan langsung mereguknya tanpa membantah.
Itu sebabnya Mas Haji Satar lebih dulu mengentas darah Sukma sebelum membunuhnya. Sebab ia sangat membutuhkannya untuk membunuh beberapa korban terakhir. Adapun abu jenazah Sukma, bagiku menjadi simbol bahwa perjanjian itu telah diambil alih oleh Mas Haji Satar. Dan aku sama sekali masih ingat, Pak Wi menyatakan Mas Haji Satar juga diabu setelah meninggal dunia. Tujuan pengabuan ini semata-mata pula sebagai simbol ritus bahwa anaknya, si bajingan Haji Mufid adalah oknum yang berhak atas perjanjian itu.
Azazil mungkin juga luput menyampaikan satu pokok penting; di dalam kotak misterius sesungguhnya terdapat tiga cawan yakni masing-masing berupa darah Sukma, abu Sukma, dan abu Mas Haji Satar. Ritual penanda perjanjian itu akan disegerakan sesaat setelah Haji Mufid berhasil menuntaskan seluruh korbannya.
Pengetahuan kini lebih lengkap dari yang pernah aku harapkan. 98 korban yang sudah akan dilengkapi tiga yang terakhir. Aku menggaransi diri sendiri tidak masuk dalam daftar kematian. Sebab fungsiku tidak lebih untuk memancing kegaduhan. Yang terancam adalah tiga orang; Pak Wi, Fani, dan Sybillia.
Pak Wi dan Fani punya kecocokan sebagai prasyarat calon korban. Begitu pula Sybillia, beberapa hari yang lalu baru berulang tahun ke-2. Hari kelahirannya Selasa, 27 Mei 2008 bertepatan dengan Selasa Kliwon. Mereka bertiga memiliki kekerabatan dan ikatan historis. Aku tidak perlu menyingkap lebih jauh ke belakang. Sebab ini sudah menjadi petunjuk nyata.
Itulah mengapa bajingan itu mengutarakan maksudnya melalui simbol angka 666. 6 yang terakhir bermakna anggota keluarga ini. Rumah mereka sudah sejak lama mengalami gangguan gaib, diperkuat cerita Fani tentang yang terjadi di masa remajanya. Sebenarnya fenomena tersebuti merupakan serangkaian plot yang mengantar mereka sampai pada puncaknya. Juga masih lekat dalam ingatan, Fani mengatakan Pak Wi sebenarnya sudah berhenti dari pekerjaannya, sampai ia kembali datang 10 bulan lalu. Kuat dugaan, saat itu Pak Wi merasakan bisikan yang jauh lebih kuat sehingga ia memutuskan kembali.
Ritus berbahaya itu sepertinya tergambar dalam pemandangan tembus pandang beberapa hari lalu. Cermin di kamar mandi menyiarkan apa yang akan berlangsung. Hanya saja pada saat itu aku melihat sosok Pak Wi, padahal sejatinya Haji Mufid. Sukma dapat melakukan apa saja menurut kehendaknya.
Barang sebentar bulu-bulu halus di tubuku melancip. Aku menghembuskan nafas kencang sebab lelahnya pikiran juga untuk menyingkirkan rasa takut. Ini belum lagi selesai, yaitu bagaimana cara mengakhirinya.
Beberapa saat lagi Fani sampai. Pak Wi akan datang bersama Haji Mufid. Yang paling mudah aku tinggal bersembunyi di salah satu tempat lalu menunggu kesempatan meninggalkan rumah ini. Berlepas diri dari segala urusan sungguh merupakan cara yang aman. Namun bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya. Meninggalkan orang-orang itu sementara esok harinya aku kembali dan menyaksikan, atau setidaknya mendapat kabar bahwa mereka sudah tewas dalam keadaan sangat jelek.
Siasat kedua ialah berupaya menghentikan Haji Mufid dengan segala cara. Aku harus meyakinkan Pak Wi dan Fani agar tidak sekali-kali percaya pada bajingan itu. Tapi ini pun sulit. Pak Wi sudah terlalu mengimani perkataan Haji Mufid. Belum lagi jika Haji Mufid mampu membungkam aku dengan mudah dengan kekuatan yang aku tidak bisa perkirakan.
Barangkalai metode yang lebih ampuh adalah dengan menghabisi Haji Mufid. Kalau perlu nyawanya sekalian. Ya Tuhan! Aku baru saja memikirkan sesuatu yang begitu buruk. Tidak, sama sekali tidak boleh terjadi.
Perkataan Azazil seketika menjejali ingatan. Ia pernah berkata, aku harus melaksanakan ritus terakhir, caranya mereguk abu jasad Sukma yang dicampur dengan darahnya dan darahku sendiri. Umpamanya ini adalah satu-satunya cara yang dapat menghentikan Haji Mufid, apa boleh buat. Tapi dalam sesaat aku ragu karena berlawanan dengan alur cerita, tentu harus memikirkan akibatnya.
Tiba-tiba aku mendengar suara yang asalnya cukup dekat. Masih di rumah ini, dari luar kamar. Suara itu belum lekang dari ingatan. Itu suara Azazil!
Ia berkata, “Haji Mufid akan tiba bersama yang lain-lain. Jika mereka datang, segera temukan cara untuk menceritakan rencana jahat Haji Mufid kepada Pak Wi dan Fani.”
Aku tidak harus menulis lagi untuk menanggapinya. Dari kamar Fani aku bertanya sambil berjalan lambat mendekati arah suara. Kataku, “Apa yang bakal dilakukan Haji Mufid?”
Dia menjawab, “Itu urusanku. Sebenarnya aku juga bisa mengurus semuanya. Kau hanya perlu mengerjakan urusanmu.”
Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?”
“Segerakan ritual terakhir yang pernah aku katakan. Kau sudah tahu bagaimanya tata caranya.”
“Cuma itu?”
“Sebelumnya kau akan mendapati Fani dan Pak Wi, juga Sybillia, bahwa mereka ingin mereguk beberapa tetes darah Sukma yang disimpan dalam cawan. Kau pasti dapat melakukannya dengan mudah. Dan ingat, tiap-tiap cawan tersebut berkenaan dengan adanya pembunuhan.”
Aku berhenti dua langkah dari dalam kamar Fani. Suara gaib terdengar semakin jelas. Dan kalimat-kalimat yang terakhir ia ucapkan sangat mengerikan, merupakan perintah untuk membunuh ketiga orang tersebut. Mengapa Azazil sampai mengatakan itu.
Makhluk halus sekali lagi berkata, “Ia berhak memilih menurut kemauannya sendiri dan kau hanya bisa bersiap-siap menghadapi sesuatu yang tidak terduga.”
Kesadaranku bangkit begitu saja. Itu bukan Azazil, melainkan Sukma. Namun aku mendengar suara yang sama persis dari yang sebelumnya. Aku yakin itu suara si penulis misterius. Sukma mungkin mampu meniru suara Azazil atau….aku sebenarnya berat hati mengucapkannya meski pada diri sendiri.
Atau selama ini aku berkomunikasi langsung dengan Sukma!
Bulu samarku mendadak tegang. Takut bercampur geram. Aku tidak pernah menyadarinya padahal itu dapat terjadi dengan begitu mudah. Sejak semula penulis itu mengumumkan bahwa Sukma adalah sosok pembohong. Sementara tiap kata-katanya aku percayai sebelum kemudian mendapati kejanggalan-kejanggalan.
Akan tetapi aku merasakan keanehan. Sebelum saat ini makhluk itu selalu bisa menebak jalan pikiranku. Namun tidak kali ini. Sejak memasuki kamar Fani aku sudah berpikir lama sampai kempot demi memecahkan misteri rumah ini. Di dalam pikiranku tersimpan begitu banyak pengetahuan. Anehnya makhluk sialan itu seolah-olah tidak bisa membaca isi kepalaku.
Jangan-jangan benar perkataan Pak Wi pada Fani yang memaksa perempuan itu pindah ke tempatnya yang sekarang. Bahwa dari semua sudut, kamar Fani yang sekarang menjadi tempat yang paling aman. Barangkali ada semacam kekuatan yang melindungi ruangan ini yang menghalangi masuknya energi jahat.
Setelah itu aku memantapkan nyali melangkah keluar. Lebih dulu aku mengenyahkan pikiran dari yang sudah-sudah. Selangkah di depan pintu aku berhenti. Berkata,
“Kau adalah si pembohong!”
Beberapa saat sebentar tiba-tiba terdengar bunyi gong dipukul dan digesek-gesek. Sebuah gong yang digesek memperdengarkan suara mirip lolongan yang aneh. Suara itu riuh rendah, menggema, membahana. Bersamaan dengan itu aku mendengar lengkingan wanita yang parau sekaligus nyaring. Suara-suara yang begitu mengerikan menggelayangi seluruh ruangan yang paling besar. Aku sangat takut, namun tidak ada lagi tempat dan waktu untuk sembunyi.
Hingga sekian waktu lamanya suara-suara itu terus berulang, memantul-mantul antara dinding dan atap rumah. Mataku mengitari ruangan, kemudian berhenti pada lukisan di atas. Bingkai kayu hampir setinggi orang dewasa itu berguncang hebat. Semakin aku amati gerakannya kian kemari. Dengan berani aku menyingkirkan rasa takut untuk menghampiri lukisan tersebut. Itu adalah gambar sepasang manusia, tetapi menurut Pak Wi, Haji Mufid memberikan sebuah lukisan berwujud seorang wanita.
Tanpa aku duga unyil sudah bangun dari lelapnya. Larinya larat memanjat tangga kayu sambil menggonggong tak henti-henti. Aku menyusul unyil dengan langkah menyesuaikan kecepatannya. Bunyi gong dan suara lengkingan parau wanita belum juga sirna. Semakin habis anak tangga, lukisan itu kian jelas.
Aku menyaksikan lukisan yang sama sekali berbeda. Bukan dua orang tetapi satu. Wanita yang wajahnya separuh baya sebagaimana wanita mengerikan dengan gaun renda yang telah aku temui pada suatu sore. Wajah dalam gambar itu menatap aku tajam dalam diamnya, dengan segaris senyum yang bersamaan dengan kemurungan. Matanya sedikit lancip dan rambut panjang yang tampak lusuh dan tidak diatur.
Unyil terus menggonggong, seolah-olah mendesak aku supaya lebih berani. Aku pun maju setelah memikirkan suatu hal; aku akan memusnahkan lukisan ini.
Namun aku baru tahu belakangan, mengganggu lukisan itu tidak semudah mengatakannya. Sungguh sulit menurunkannya dari tembok. Berkali-kali mencoba hasilnya benda itu masih menggantung begitu tegapnya.
Sementara bunyi gong itu terus menjadi bersama lengkingannya. Dan setan jahanam kini mencoba membuat kekacauan yang lain lagi. Benda-benda kecil yang ada di ruangan utama terlempar dengan sendirinya. Ia tertawa-tawa menyertai amukannya.
Aku merasa harus berlindung ke kamar Fani. Cepat-cepat turun. Namun unyil masih bertahan di tangga atas. Bahkan ketika aku sampai di bawah gonggongan anjing itu kian keras. Aku melirik ke atas. Ternyata wanita tua itu kini bukan lagi wujud dalam lukisan. Ia melangkah menuruni tangga dengan badan yang bungkuk dan kaki tertatih. Dan setelah itu unyil tidak lagi bersuara. Tubuhnya tersapu angin untuk menghantam tembok.
bebyzha dan 10 lainnya memberi reputasi
11