- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#3164
Part 60: Dia Meletakkan Sesuatu
Adakah yang salah dari penjumlahan tersebut, pikirku seorang diri. Mengapa harus 666. Ini tidak bisa aku terima dengan sederhana.
Kemudian aku menjawab dalam pikiran; 666,6 kan dapat dibulatkan menjadi 667. Selanjutnya aku sudah bisa menduga bahwa aku pasti menyangkal jawabanku sendiri dengan jawaban yang lain lagi.
Dan jawabannya ialah soal matematika ini mungkin bukan akhir, melainkan jalan menuju akhir. Soal-soal ini mengantarkan aku untuk mencurigai hal-hal yang berkaitan dengan simbologi.
Maka aku menduga ini bukan sembarang angka. 666 sering dikaitkan dengan simbologi satanisme atau luciferianisme.
Namun bukankah ini bisa jadi suatu kebetulan belaka? Aku tidak yakin. Yang jelas waktunya sangat sempit untuk memecahkan begitu banyak dugaan.
Akan tetapi perkataan Pak Wi melalui tulisannya beberapa waktu lalu melesat dengan cepat memasuki ruang ingatan:
"Halaman depan dan pekarangan belakang rumah ini luasnya sama. Seluas lapangan permainan voli."
Aku masih hapal berapa ukuran lapangannya. 18 x 9 meter atau 162 meter persegi. Luas kedua pekarangan itu digabungkan menjadi 324 meter. Sepertinya ini bisa menguatkan temuan, jadi aku segera menjumlahkan luas keseluruhan tanah rumah ini, yakni tanah bangungan ditambah pekarangan. 342+324
Hasilnya 666 meter.
Rumah Fani memiliki luas bidang 666 meter persegi, sedangkan lantai utamanya dapat dilapisi granit berjumlah 666 kotak.
Aku teringat yang lain lagi. Seperti yang sudah aku duga, luas lantai bawah tanah kira-kira hampir dua pertiga daripada yang utama, sedangkan mezanin kurang sepertiga. Aku penasaran menghitungnya. Dimulai dari mezanin. Ini cukup mudah karena aku sudah berbulan-bulan singgah ke situ. Panjang kamar Wina ditambah lorong persis 7 meter atau dengan kata lain luas lantai atas adalah 18 x 7. Pada saat menghitung luas area bawah tanah aku mengawalinya dengan cara ala kadarnya, yaitu menginjak-injak lantai agar mendapatkan perkiraan di mana batasnya. Jika bunyinya bergema artinya di bawah masih ada ruang. Setelah berkali-kali bermain injak-injak bumi aku merasakan bunyi yang lebih padat terletak segaris lurus dari tengah meja makan. Jaraknya 2 meter dari pintu kamar Fani. Aku langsung mengira luas area bawah tanah 18 x 11. Maka luas lantai paling atas dan paling bawah adalah 18 x 7 ditambah 18 x 11, hasilnya 126 ditambah 198 sama dengan 324. Sehingga luas keseluruhan bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini ialah 666 meter.
Ini sungguh ajaib! Tetapi bagaimana bisa disebut kebetulan? Kenapa luas halaman depan dan belakang bisa sama luasnya dengan bangunan lantai paling atas dan yang paling bawah. Aku benci mengatakan ada semacam konspirasi dari semua ini. Bahkan andaikata bisa melakukannya, aku ingin menghapus kata ini dari muka bumi.
Namun begitu aku segera tersadar; konspirasi adalah sesuatu yang tidak terelakkan dari manusia dan hidupnya. Sebab pada dasarnya ia bermakna suatu hal yang disembunyikan. Seperti sebuah pameo yang hidup dan diyakini dalam jurnalisme: Jangan percaya apa yang dikatakan, tetapi cari tahu apa yang tidak dikatakan. Sebab tiap-tiap orang mengucapkan hanya apa yang ia kehendaki. Dan yang selebihnya menjadi rahasianya sendiri.
Dan konspirasi tidak selamanya tentang gosip peristiwa besar seperti pengeboman menara kembar WTC atau penyebaran HIV/AIDS atau alien atau kematian Lady Diana semata. Konspirasi juga bisa dijumpai pada seorang dosen yang gemar pada kekerasan seksual atau penjual di pasar yang curang atau dokter yang sengaja bermain dengan diagnosis pasien atau sebuah rumah indekos berhantu yang tiba-tiba aku berada di dalamnya sendirian.
Brengsek!
Deretan angka di atas kertas membuat mataku terbelalak. Sangat sulit dimengerti bahwa ini kebetulan belaka. Aku tak ingin berhenti di sini, dan ucapan Pak Wi yang lain melintas:
"Perombakan bangunan pada akhirnya turut menganti ubin lantai meskipun tidak mengubah pilarnya yang berjumlah enam. Serta Haji Mufid mengganti atapnya sehingga jadi seperti yang sekarang. Terdiri atas kombinasi atap segitiga dan miring."
Tiga bulan lebih lamanya hilir mudik di rumah ini tetapi aku tak menghiraukan atapnya. Siapa pula yang mengharapkan keadaan begini. Atap segitiga yang dimaksud berjumlah dua, terletak di bagian depan. Sementara empat lainnya tersusun menyerupai undakan di belakang dua atap segitiga.
Pikiranku terus terang jadi berlarian ke mana-mana demi mencari simbol yang mungkin masih tersembunyi. Entah benar tidaknya aku meyakinkan diri sendiri bahwa dua atap segitiga tersebut jika digabungkan menjadi heksagram atau mempunyai enam sudut sama kaki.
Bagaimana pun aku takjub bercampur ngeri menemukan fakta tentang angka-angka yang kerap dikaitkan dengan simbol setan atau iblis. Ringkasnya rumah ini sengaja atau tidak telah direncanakan sebagai tempat penyimpanan simbol-simbol tersebut.
Bukankah tempat terbaik untuk menyimpan rahasia adalah di tempat umum? Kata-kata yang konon diucapkan George Washington melintas. Tetapi siapa yang menyimpan rahasia ini jadi lebih penting.
Kisah kedatangan Haji Mufid pada suatu malam jadi begitu misterius dan harus ditelisik. Dari penuturan Pak Wi, aku mengartikan kehadirannya sebagai itikad yang disengaja. Haji Mufid tidak sekadar memberi usul saran, tetapi rupanya hendak menempatkan simbol yang tentunya juga diharapkan memberikan keuntungan khusus. Patut diduga pula, dia seorang yang nantinya menikmati keuntungan tersebut.
Nah, berangkat dari purbasangka ini, Pak Wi telah dipengaruhi oleh kekuatan lain yang sejatinya berasal dari perbuatan Haji Mufid. Pak Wi mengaku, dan perlu digaris bawahi, dia mendengar bisikan baru pada akhir-akhir ini.
Betapa pun Pak Wi beribadah dengan cara meditasi, penyampaian kabar bisikan itu munculnya belakangan. Dia sendiri mengaku adalah oknum yang beruntung lolos sebagai korban teluh Sukma, sementara ibu bapaknya yang juga diincar tenung itu tewas.
Waktu semakin kabur akibat aku berlama-lama mencari petunjuknya. Tapi aku tak mau salah bertindak. Agaknya akan lebih jelas jika mengulang segalanya dari awal.
Bagiku, Pak Wi telah mematahkan kata-kata Azazil. Sayangnya aku terlambat mengerti. Lebih tepat dikatakan pikiran dan batinku terlalu bebal untuk menerima kemungkinan yang lain. Kepercayaanku mulai berbalik arah. Pak Wi yang sesungguhnya bukan seperti yang dihembuskan Azazil. Hidup orang tua itu telah menderita sejak kelahirannya. Dengan kematian kedua orang tua Pak Wi tidak mungkin dia memanfaatkannya demi keuntungan diri sendiri.
Tentang Azazil, aku belum bisa menduga terlalu jauh. Yang pasti makhluk itu tidak akan lagi mendapat kepercayaanku seperti yang sudah. Bisa saja ia sendiri yang sudah kena tipu atau….atau yang lebih jauh lagi.
Aku menginginkan kepastian yang lebih dari pada simbol-simbol di rumah ini. Baru-baru ini muncul seorang lagi terdakwa yang bernama Haji Mufid. Dia sudah berjuang begitu banyak yang sudah tentu demi membela keinginannya. Menurut yang tersirat dalam tulisan Pak Wi, proporsi bangunan ini mengalami perubahan menyolok sejak direnovasi. Luas bangunannya pun berubah dengan alasan supaya lebih harmonis. Pendek kata, Haji Mufid berhasil mengecoh pemilik rumah dengan alasan-alasan teknis.
Masalahnya bukan apa keinginan orang itu. Aku berani bertaruh Haji Mufid ingin memperoleh kekuatan dahsyat tersebut. Tetapi bagaimana dia mendapatkan keyakinan atas simbol itu dan apakah berhubungan dengan kejadian-kejadian yang terdahulu. Sebab apa-apa yang aku dengar dan baca tentang Sukma berlainan dengan simbologi yang aku temukan.
Sukma lahir pada 1 Juni 1909, bersamaan dengan pertengahan Sadha, Selasa Kliwon, kemudian mati pada malam yang sama 1941. Aku tidak yakin malam kematiannya jatuh di tanggal, bulan, dan pasaran Selasa Kliwon yang sama. Bisa jadi juga hari dan bulannya sama tetapi berbeda tanggal. Sementara dia akan kembali tepat di hari kelahirannya, 1 Juni 2010 yang tiba hari ini berbarengan dengan Selasa Kliwon pertengahan Sadha. Juni adalah bulan ke 6 dalam tahun Gregorian sedangkan Sadha masuk di urutan terakhir dalam Pranata Mangsa. Lebih lanjut, korban yang diinginkan Sukma berjumlah 101. Ini tidak ada hubungannya dengan perbuatan haji Mufid. Tenung Sukma hanya mengincar korban yang lahir pada Selasa Kliwon di bulan Sadha. Adapun masa ini berlangsung selama 42 hari, dimulai Mei dan berakhir Juni.
Aku menduga Haji Mufid menjalankan praktik kebatinan yang khusus yang tidak diketahui Pak Wi, juga tidak memiliki hubungan dengan mitologi Sukma. Jadi, simbologi yang aku temukan bukanlah tentang Sukma, melainkan tentang pria tersebut. Atau bisa terjadi, katakanlah, simbol-simbol itu masih terkait secara kebetulan belaka. Dan terkadang simbol bukan tentang fungsi maupun arti, tetapi soal supremasi. Haji Mufid dalam kasus ini telah meletakkan keyakinan bahwa dialah yang berkuasa atas segalanya di rumah ini.
Namun demikian aku tidak mau menghapus temuan-temuan tersebut dari ingatan. Sebaliknya, aku baru berpikir untuk menelusuri rahasia malam ini dengan menggunakan sudut pandang seorang Haji Mufid.
Kemudian aku menjawab dalam pikiran; 666,6 kan dapat dibulatkan menjadi 667. Selanjutnya aku sudah bisa menduga bahwa aku pasti menyangkal jawabanku sendiri dengan jawaban yang lain lagi.
Dan jawabannya ialah soal matematika ini mungkin bukan akhir, melainkan jalan menuju akhir. Soal-soal ini mengantarkan aku untuk mencurigai hal-hal yang berkaitan dengan simbologi.
Maka aku menduga ini bukan sembarang angka. 666 sering dikaitkan dengan simbologi satanisme atau luciferianisme.
Namun bukankah ini bisa jadi suatu kebetulan belaka? Aku tidak yakin. Yang jelas waktunya sangat sempit untuk memecahkan begitu banyak dugaan.
Akan tetapi perkataan Pak Wi melalui tulisannya beberapa waktu lalu melesat dengan cepat memasuki ruang ingatan:
"Halaman depan dan pekarangan belakang rumah ini luasnya sama. Seluas lapangan permainan voli."
Aku masih hapal berapa ukuran lapangannya. 18 x 9 meter atau 162 meter persegi. Luas kedua pekarangan itu digabungkan menjadi 324 meter. Sepertinya ini bisa menguatkan temuan, jadi aku segera menjumlahkan luas keseluruhan tanah rumah ini, yakni tanah bangungan ditambah pekarangan. 342+324
Hasilnya 666 meter.
Rumah Fani memiliki luas bidang 666 meter persegi, sedangkan lantai utamanya dapat dilapisi granit berjumlah 666 kotak.
Aku teringat yang lain lagi. Seperti yang sudah aku duga, luas lantai bawah tanah kira-kira hampir dua pertiga daripada yang utama, sedangkan mezanin kurang sepertiga. Aku penasaran menghitungnya. Dimulai dari mezanin. Ini cukup mudah karena aku sudah berbulan-bulan singgah ke situ. Panjang kamar Wina ditambah lorong persis 7 meter atau dengan kata lain luas lantai atas adalah 18 x 7. Pada saat menghitung luas area bawah tanah aku mengawalinya dengan cara ala kadarnya, yaitu menginjak-injak lantai agar mendapatkan perkiraan di mana batasnya. Jika bunyinya bergema artinya di bawah masih ada ruang. Setelah berkali-kali bermain injak-injak bumi aku merasakan bunyi yang lebih padat terletak segaris lurus dari tengah meja makan. Jaraknya 2 meter dari pintu kamar Fani. Aku langsung mengira luas area bawah tanah 18 x 11. Maka luas lantai paling atas dan paling bawah adalah 18 x 7 ditambah 18 x 11, hasilnya 126 ditambah 198 sama dengan 324. Sehingga luas keseluruhan bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini ialah 666 meter.
Ini sungguh ajaib! Tetapi bagaimana bisa disebut kebetulan? Kenapa luas halaman depan dan belakang bisa sama luasnya dengan bangunan lantai paling atas dan yang paling bawah. Aku benci mengatakan ada semacam konspirasi dari semua ini. Bahkan andaikata bisa melakukannya, aku ingin menghapus kata ini dari muka bumi.
Namun begitu aku segera tersadar; konspirasi adalah sesuatu yang tidak terelakkan dari manusia dan hidupnya. Sebab pada dasarnya ia bermakna suatu hal yang disembunyikan. Seperti sebuah pameo yang hidup dan diyakini dalam jurnalisme: Jangan percaya apa yang dikatakan, tetapi cari tahu apa yang tidak dikatakan. Sebab tiap-tiap orang mengucapkan hanya apa yang ia kehendaki. Dan yang selebihnya menjadi rahasianya sendiri.
Dan konspirasi tidak selamanya tentang gosip peristiwa besar seperti pengeboman menara kembar WTC atau penyebaran HIV/AIDS atau alien atau kematian Lady Diana semata. Konspirasi juga bisa dijumpai pada seorang dosen yang gemar pada kekerasan seksual atau penjual di pasar yang curang atau dokter yang sengaja bermain dengan diagnosis pasien atau sebuah rumah indekos berhantu yang tiba-tiba aku berada di dalamnya sendirian.
Brengsek!
Deretan angka di atas kertas membuat mataku terbelalak. Sangat sulit dimengerti bahwa ini kebetulan belaka. Aku tak ingin berhenti di sini, dan ucapan Pak Wi yang lain melintas:
"Perombakan bangunan pada akhirnya turut menganti ubin lantai meskipun tidak mengubah pilarnya yang berjumlah enam. Serta Haji Mufid mengganti atapnya sehingga jadi seperti yang sekarang. Terdiri atas kombinasi atap segitiga dan miring."
Tiga bulan lebih lamanya hilir mudik di rumah ini tetapi aku tak menghiraukan atapnya. Siapa pula yang mengharapkan keadaan begini. Atap segitiga yang dimaksud berjumlah dua, terletak di bagian depan. Sementara empat lainnya tersusun menyerupai undakan di belakang dua atap segitiga.
Pikiranku terus terang jadi berlarian ke mana-mana demi mencari simbol yang mungkin masih tersembunyi. Entah benar tidaknya aku meyakinkan diri sendiri bahwa dua atap segitiga tersebut jika digabungkan menjadi heksagram atau mempunyai enam sudut sama kaki.
Bagaimana pun aku takjub bercampur ngeri menemukan fakta tentang angka-angka yang kerap dikaitkan dengan simbol setan atau iblis. Ringkasnya rumah ini sengaja atau tidak telah direncanakan sebagai tempat penyimpanan simbol-simbol tersebut.
Bukankah tempat terbaik untuk menyimpan rahasia adalah di tempat umum? Kata-kata yang konon diucapkan George Washington melintas. Tetapi siapa yang menyimpan rahasia ini jadi lebih penting.
Kisah kedatangan Haji Mufid pada suatu malam jadi begitu misterius dan harus ditelisik. Dari penuturan Pak Wi, aku mengartikan kehadirannya sebagai itikad yang disengaja. Haji Mufid tidak sekadar memberi usul saran, tetapi rupanya hendak menempatkan simbol yang tentunya juga diharapkan memberikan keuntungan khusus. Patut diduga pula, dia seorang yang nantinya menikmati keuntungan tersebut.
Nah, berangkat dari purbasangka ini, Pak Wi telah dipengaruhi oleh kekuatan lain yang sejatinya berasal dari perbuatan Haji Mufid. Pak Wi mengaku, dan perlu digaris bawahi, dia mendengar bisikan baru pada akhir-akhir ini.
Betapa pun Pak Wi beribadah dengan cara meditasi, penyampaian kabar bisikan itu munculnya belakangan. Dia sendiri mengaku adalah oknum yang beruntung lolos sebagai korban teluh Sukma, sementara ibu bapaknya yang juga diincar tenung itu tewas.
Waktu semakin kabur akibat aku berlama-lama mencari petunjuknya. Tapi aku tak mau salah bertindak. Agaknya akan lebih jelas jika mengulang segalanya dari awal.
Bagiku, Pak Wi telah mematahkan kata-kata Azazil. Sayangnya aku terlambat mengerti. Lebih tepat dikatakan pikiran dan batinku terlalu bebal untuk menerima kemungkinan yang lain. Kepercayaanku mulai berbalik arah. Pak Wi yang sesungguhnya bukan seperti yang dihembuskan Azazil. Hidup orang tua itu telah menderita sejak kelahirannya. Dengan kematian kedua orang tua Pak Wi tidak mungkin dia memanfaatkannya demi keuntungan diri sendiri.
Tentang Azazil, aku belum bisa menduga terlalu jauh. Yang pasti makhluk itu tidak akan lagi mendapat kepercayaanku seperti yang sudah. Bisa saja ia sendiri yang sudah kena tipu atau….atau yang lebih jauh lagi.
Aku menginginkan kepastian yang lebih dari pada simbol-simbol di rumah ini. Baru-baru ini muncul seorang lagi terdakwa yang bernama Haji Mufid. Dia sudah berjuang begitu banyak yang sudah tentu demi membela keinginannya. Menurut yang tersirat dalam tulisan Pak Wi, proporsi bangunan ini mengalami perubahan menyolok sejak direnovasi. Luas bangunannya pun berubah dengan alasan supaya lebih harmonis. Pendek kata, Haji Mufid berhasil mengecoh pemilik rumah dengan alasan-alasan teknis.
Masalahnya bukan apa keinginan orang itu. Aku berani bertaruh Haji Mufid ingin memperoleh kekuatan dahsyat tersebut. Tetapi bagaimana dia mendapatkan keyakinan atas simbol itu dan apakah berhubungan dengan kejadian-kejadian yang terdahulu. Sebab apa-apa yang aku dengar dan baca tentang Sukma berlainan dengan simbologi yang aku temukan.
Sukma lahir pada 1 Juni 1909, bersamaan dengan pertengahan Sadha, Selasa Kliwon, kemudian mati pada malam yang sama 1941. Aku tidak yakin malam kematiannya jatuh di tanggal, bulan, dan pasaran Selasa Kliwon yang sama. Bisa jadi juga hari dan bulannya sama tetapi berbeda tanggal. Sementara dia akan kembali tepat di hari kelahirannya, 1 Juni 2010 yang tiba hari ini berbarengan dengan Selasa Kliwon pertengahan Sadha. Juni adalah bulan ke 6 dalam tahun Gregorian sedangkan Sadha masuk di urutan terakhir dalam Pranata Mangsa. Lebih lanjut, korban yang diinginkan Sukma berjumlah 101. Ini tidak ada hubungannya dengan perbuatan haji Mufid. Tenung Sukma hanya mengincar korban yang lahir pada Selasa Kliwon di bulan Sadha. Adapun masa ini berlangsung selama 42 hari, dimulai Mei dan berakhir Juni.
Aku menduga Haji Mufid menjalankan praktik kebatinan yang khusus yang tidak diketahui Pak Wi, juga tidak memiliki hubungan dengan mitologi Sukma. Jadi, simbologi yang aku temukan bukanlah tentang Sukma, melainkan tentang pria tersebut. Atau bisa terjadi, katakanlah, simbol-simbol itu masih terkait secara kebetulan belaka. Dan terkadang simbol bukan tentang fungsi maupun arti, tetapi soal supremasi. Haji Mufid dalam kasus ini telah meletakkan keyakinan bahwa dialah yang berkuasa atas segalanya di rumah ini.
Namun demikian aku tidak mau menghapus temuan-temuan tersebut dari ingatan. Sebaliknya, aku baru berpikir untuk menelusuri rahasia malam ini dengan menggunakan sudut pandang seorang Haji Mufid.
bebyzha dan 13 lainnya memberi reputasi
14