- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 17-05-2026 02:21
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
471.3K
4.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#98
Back To Campus
Setelah obrolan hangat di meja makan yang nggak efektif besarnya itu (kami tinggal berempat tapi meja makannya panjang banget sampai tersedia 10 kursi, buat apa coba?), ane pamit kembali ke kamar ane untuk packing barang-barang yang mau ane bawa ke kostan. Tidak lama semua barang siap, bunyi khas BB terdengar, tanda BBM masuk.
Zalina.
Tidak ada balasan lagi dari Zalina. Hanya tanda R sebagai tanda sudah dibaca olehnya. Ane menunggu Zalina dirumah sambil ngobrol kembali dengan Papa Mama ane diruang TV. Tidak lama Dania turun dari kamarnya dilantai 2. Adik kecil ane yang cantik yang paling ane sayang sejagat raya itu semakin adorabledan mempesona. Kulitnya putih banget, matanya agak sipit, beda sama ane. Dia banyak ambil dari Papa ane penampilan fisiknya, otaknya juga, kalau ane mirip ke Mama ane. Makin susah aja ini ane jagain dia.
"Kak, lo udah mau balik?" Tanyanya.
"Iya nih, gue bareng sama teman gue, nanti dia mau nyamper kesini." Kata ane.
"Yaelah buru-buru banget sih lo. Baru juga 3 hari udah mau pulang, punya gebetan baru lo ya? Gue belom ngobrol banyak ni sama lo. Gue mau curhat." Katanya lagi.
"Emang lo, pacaran mulu lo. Nggak kapok lo ya? Eh lo tu pintar, sayang kalo otak lo dipake buat pacaran doang. Terus stop belanja-belanja gitu lah, ga baik hedon-hedonan mulu. Lo mau curhat soal laki lagi kan? Lagian pas gue dirumah lo nya kelayapan aja sih."
"Mumpung ada kesempatan dan masih muda, kenapa nggak sih kak? Iya, tau aja gue mau curhat itu. Hehehe"
"Susah lo emang kalo dibilangin. Dapet ranking berapa semesteran kemarin?"
"1 lah. Emang lo doang yang bisa gitu, gue juga bisa. Gue sekarang juga masuk OSIS kak, ikutan Paskib juga, bedanya gue nggak ikut bola. Hahaha."
"Bagus dong. Tapi itu semua akan percuma kalo lo nggak ngubah kebiasaan lo. Bisa jeblok nanti, terutama mental lo."
"Lo doainnya jelek mulu sih kak? Gue buktiin gue bisa kok, nyamain lo yang langganan juara kelas mulu gue bisa."
"Oke, sekarang tantangan gue, seleksi Paskibraka lo ikut ya, gue pingin tau sejauh mana lo bisa melangkah. Gue nggak butuh lo nyamain gue, karena nggak akan pernah sama, kita punya jalan masing-masing. Gue cuman butuh keseriusan lo buat do something, apapun itu. Biar keren gitu Dan. Potensi lo gede banget, bahkan melebihi gue."
"Kalo itu gue nggak bisa janji kak, badan lo cukup, fisik lo kuat, otak lo mumpuni, muka lumayan. Lah gue? Badan gue kan pendek kak, cuma 155 cm, tapi sisanya gue yakin bisa nyamain lo."
"Gue tembus sampai Paskibraka Provinsi, pasangan gue si Nida, tingginya sama kayak lo, bisa tuh dia. Lo bisa Dan, makanya kurang-kurangin habit lo yang ga produktif itu."
"Sudah-sudah, ini kenapa jadi pada saling nantang?" Kata Mama ane menengahi.
"Kan aku bilang Ma, Pa, otaknya Dania itu lebih brilian dari aku, dia aja kadang kurang bisa maksimalin. Aku iri sama dia, gampang banget nerima segala informasi baru, encer banget otaknya. Beda sama aku yang harus berulang kali baca, analisa dan segala macam baru bisa ngerti. Liat aja, dia kerjaannya aja jarang belajar, belajar sambil sambil main game atau nonton TV, pergi-pergi mulu, pacaran, tapi masuk 3 besar terus. Apalagi kalo lempeng dikit, pasti gila banget kemampuannya ini anak Ma."
"Itulah bedanya kamu sama Dania, kamu orangnya detail oriented, sementara Dania spontan tapi penuh perhitungan. Anak Mama semuanya pintar-pintar dan Mama Papa bangga sama kalian."
Papa ane cuma senyum aja ketika itu.
Tidak lama akhirnya Zalina datang. Ane minta nitip tolong bukakan pagar oleh Bi Yuni, yang sudah ikut dengan keluarga ane dari jaman ane masih dikandungan Mama. Bi Yuni mengarahkan mobil keluarga Dania ke halaman parkir rumah ane. Karena hari minggu, lahan parkir cukup padat. Lalu Zalina turun, ane melihatnya dari jendela kamar. Ane sudah duga pasti ekspresinya akan seperti itu.
Kemudian Mama menyambut Zalina dengan hangat. Papa juga keruang tamu dan menebar senyum ala leboynya. Tidak lama Papa Mama Zalina menyusul masuk. Terjadi obrolan santai. Ane sudah siap menghadapi reaksi Zalina ketika itu.
Ane muncul kemudian keruang tamu. Lalu nggak lama ane berpamitan, salim ke kedua orang tua, lalu cipika cipiki mereka. Zalina juga salim dan sekalian mengenalkan kedua orang tuanya ke ane. Ane keluar rumah dan naik kedalam mobilnya.
Sebelum naik mobil, ane berbisik ke Papa, "deal is a deal" sambil nyengir lebar.
Papa membalas, "that's ma boy, pintar kamu nyarinya" sambil memeluk ane lama banget, hangat, penuh kasih sayang dan tersenyum sangat lebar.
Mobil berangkat keluar dari pagar rumah ane, dan ane lihat raut muka Zalina yang kusut.
"Lin, maafin aku."
Zalina hanya diam saja tanpa berkata apapun, sampai akhir perjalanan di kostan dia. Ketika akhirnya sampai dan semua keluarga turun, ane membantu mengangkat kopernya dan beberapa bawaan lainnya. Sekitar 1 jam keluarganya ada dikosan Zalina dan ane tetap menemani disitu.
Banyak pertanyaan yang diajukan ke ane oleh papa mama nya Zalina. Ane berusaha jawab semampu ane. Akhirnya, waktu berpisah tiba. Mereka berpamitan sembari bilang kalau mau keliling-keliling kampus dulu, melihat kemegahan arsitektur kampus ane yang unik dan beda dari kampus-kampus lain di Indonesia. Tadinya mereka mau mengantar ane juga ke kostan, tapi ane tolak dengan alasan kost ane dekat jadi bisa jalan kaki, padahal tujuan utamanya adalah mau melepas rindu sama anaknya yang cantik itu. Hahaha.
Kembali ke kamar, ane melihat Zalina menunggu ane sambil duduk di kursi belajarnya.
"Aku bisa jelasin." Kata ane.
Zalina.
Quote:
Tidak ada balasan lagi dari Zalina. Hanya tanda R sebagai tanda sudah dibaca olehnya. Ane menunggu Zalina dirumah sambil ngobrol kembali dengan Papa Mama ane diruang TV. Tidak lama Dania turun dari kamarnya dilantai 2. Adik kecil ane yang cantik yang paling ane sayang sejagat raya itu semakin adorabledan mempesona. Kulitnya putih banget, matanya agak sipit, beda sama ane. Dia banyak ambil dari Papa ane penampilan fisiknya, otaknya juga, kalau ane mirip ke Mama ane. Makin susah aja ini ane jagain dia.
"Kak, lo udah mau balik?" Tanyanya.
"Iya nih, gue bareng sama teman gue, nanti dia mau nyamper kesini." Kata ane.
"Yaelah buru-buru banget sih lo. Baru juga 3 hari udah mau pulang, punya gebetan baru lo ya? Gue belom ngobrol banyak ni sama lo. Gue mau curhat." Katanya lagi.
"Emang lo, pacaran mulu lo. Nggak kapok lo ya? Eh lo tu pintar, sayang kalo otak lo dipake buat pacaran doang. Terus stop belanja-belanja gitu lah, ga baik hedon-hedonan mulu. Lo mau curhat soal laki lagi kan? Lagian pas gue dirumah lo nya kelayapan aja sih."
"Mumpung ada kesempatan dan masih muda, kenapa nggak sih kak? Iya, tau aja gue mau curhat itu. Hehehe"
"Susah lo emang kalo dibilangin. Dapet ranking berapa semesteran kemarin?"
"1 lah. Emang lo doang yang bisa gitu, gue juga bisa. Gue sekarang juga masuk OSIS kak, ikutan Paskib juga, bedanya gue nggak ikut bola. Hahaha."
"Bagus dong. Tapi itu semua akan percuma kalo lo nggak ngubah kebiasaan lo. Bisa jeblok nanti, terutama mental lo."
"Lo doainnya jelek mulu sih kak? Gue buktiin gue bisa kok, nyamain lo yang langganan juara kelas mulu gue bisa."
"Oke, sekarang tantangan gue, seleksi Paskibraka lo ikut ya, gue pingin tau sejauh mana lo bisa melangkah. Gue nggak butuh lo nyamain gue, karena nggak akan pernah sama, kita punya jalan masing-masing. Gue cuman butuh keseriusan lo buat do something, apapun itu. Biar keren gitu Dan. Potensi lo gede banget, bahkan melebihi gue."
"Kalo itu gue nggak bisa janji kak, badan lo cukup, fisik lo kuat, otak lo mumpuni, muka lumayan. Lah gue? Badan gue kan pendek kak, cuma 155 cm, tapi sisanya gue yakin bisa nyamain lo."
"Gue tembus sampai Paskibraka Provinsi, pasangan gue si Nida, tingginya sama kayak lo, bisa tuh dia. Lo bisa Dan, makanya kurang-kurangin habit lo yang ga produktif itu."
"Sudah-sudah, ini kenapa jadi pada saling nantang?" Kata Mama ane menengahi.
"Kan aku bilang Ma, Pa, otaknya Dania itu lebih brilian dari aku, dia aja kadang kurang bisa maksimalin. Aku iri sama dia, gampang banget nerima segala informasi baru, encer banget otaknya. Beda sama aku yang harus berulang kali baca, analisa dan segala macam baru bisa ngerti. Liat aja, dia kerjaannya aja jarang belajar, belajar sambil sambil main game atau nonton TV, pergi-pergi mulu, pacaran, tapi masuk 3 besar terus. Apalagi kalo lempeng dikit, pasti gila banget kemampuannya ini anak Ma."
"Itulah bedanya kamu sama Dania, kamu orangnya detail oriented, sementara Dania spontan tapi penuh perhitungan. Anak Mama semuanya pintar-pintar dan Mama Papa bangga sama kalian."
Papa ane cuma senyum aja ketika itu.
Tidak lama akhirnya Zalina datang. Ane minta nitip tolong bukakan pagar oleh Bi Yuni, yang sudah ikut dengan keluarga ane dari jaman ane masih dikandungan Mama. Bi Yuni mengarahkan mobil keluarga Dania ke halaman parkir rumah ane. Karena hari minggu, lahan parkir cukup padat. Lalu Zalina turun, ane melihatnya dari jendela kamar. Ane sudah duga pasti ekspresinya akan seperti itu.
Kemudian Mama menyambut Zalina dengan hangat. Papa juga keruang tamu dan menebar senyum ala leboynya. Tidak lama Papa Mama Zalina menyusul masuk. Terjadi obrolan santai. Ane sudah siap menghadapi reaksi Zalina ketika itu.
Ane muncul kemudian keruang tamu. Lalu nggak lama ane berpamitan, salim ke kedua orang tua, lalu cipika cipiki mereka. Zalina juga salim dan sekalian mengenalkan kedua orang tuanya ke ane. Ane keluar rumah dan naik kedalam mobilnya.
Sebelum naik mobil, ane berbisik ke Papa, "deal is a deal" sambil nyengir lebar.
Papa membalas, "that's ma boy, pintar kamu nyarinya" sambil memeluk ane lama banget, hangat, penuh kasih sayang dan tersenyum sangat lebar.
Mobil berangkat keluar dari pagar rumah ane, dan ane lihat raut muka Zalina yang kusut.
"Lin, maafin aku."
Zalina hanya diam saja tanpa berkata apapun, sampai akhir perjalanan di kostan dia. Ketika akhirnya sampai dan semua keluarga turun, ane membantu mengangkat kopernya dan beberapa bawaan lainnya. Sekitar 1 jam keluarganya ada dikosan Zalina dan ane tetap menemani disitu.
Banyak pertanyaan yang diajukan ke ane oleh papa mama nya Zalina. Ane berusaha jawab semampu ane. Akhirnya, waktu berpisah tiba. Mereka berpamitan sembari bilang kalau mau keliling-keliling kampus dulu, melihat kemegahan arsitektur kampus ane yang unik dan beda dari kampus-kampus lain di Indonesia. Tadinya mereka mau mengantar ane juga ke kostan, tapi ane tolak dengan alasan kost ane dekat jadi bisa jalan kaki, padahal tujuan utamanya adalah mau melepas rindu sama anaknya yang cantik itu. Hahaha.
Kembali ke kamar, ane melihat Zalina menunggu ane sambil duduk di kursi belajarnya.
"Aku bisa jelasin." Kata ane.
Diubah oleh yanagi92055 16-08-2019 19:43
itkgid dan 23 lainnya memberi reputasi
24
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol