- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for "You":
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
468K
4.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#92
Ujian Berakhir, Mari Bersuka Cita
Akhirnya kami semua menjalani ujian akhir semester 1 dengan lancar jaya. Termasuk ane. Ane sukses banget menjalani ujian dengan cara ane sendiri. Ane nggak peduli sama hasil akhirnya sebenarnya sih, karena ane mau kuliah disini itu cari ilmu, bukan sekedar cari nilai. Kalau cari nilai mending ngejoki aja, terus sekalian ijazahnya beli. Gampang kan. Ane keluar dari kelas tempat ujian hari terakhir dilaksanakan, ternyata Zalina sudah nunggu ane didepan pintu keluar kelasnya. Karena kelasnya kelas besar jadinya ane sempat nggak melihat ada Zalina disana. Dia beda banget kala itu. Pakai baju terusan rok yang dibagian pinggangnya ada ikatan dibelakang, apa itu ya namanya baju cewek kaya gitu, ala-ala retro band White Shoes And Couple Company gitu deh. Terus rambutnya diikat kuncir kuda gitu, jadi rambutnya yang agak coklat tambah kelihatan semakin coklat.
“Hai Ja. Jadi kita?” kata Zalina diiringi senyum manisnya. Bibirnya memakai lipgloss tipis warna pink atau bening ane lupa, karena memang bibirnya kemerahan tanpa dipakaikan gincu atau lipgloss sekalipun.
“Jadinya mau karaokean kan? Biar aku tunjukin skill nyanyi aku ke kamu.” Kata ane.
Layaknya sepasang kekasih, kami juga mengikuti syarat nggak resmi, yaitu pakai aku kamu, yang katanya menandakan hubunganmu sudah dalam tahap lebih serius. Padahal di Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah-daerah lain di Indonesia juga kebanyakan makainya aku kamu sebagai panggilan sehari-hari. Hahaha. Karena ane nggak meminta dibelikan motor sebagai kendaraan, melainkan masih menabung dengan usaha ane sendiri sebagai anak band dan juga guru les privat kimia bagi anak-anak SMP-SMA, kami naik angkutan umum, kala itu belum ada ojek online.
Kami naik angkot nyambung beberapa kali sampai akhirnya kami berada di pusat kota yang ramai dan gaul pastinya. Kami masuk ke salah satu mall terlengkap di kota ini. Banyak tenant-tenantnya yang bermerk, bikin ane minder setengah mati. Mungkin kalau ane jalan sama papa ane, bisa aja masuk kesana dengan santai, lah sekarang ane bawa anak orang dengan uang yang benar-benar seadanya. Hahaha. Sobat misqueen sekali ketika itu. Tapi Zalina nggak pernah mempermasalahkannya. Yang penting dia melihat ane cukup mandiri dengan nggak banyak minta orangtua dan coba hidup dari penghasilan seadanya itu sudah cukup baginya.
“Kamu mau makan dulu nggak, Lin?” kata ane.
“Boleh, makan siang dulu deh, baru habis itu karaokean. Gimana?” balas dia.
“Nggak mau keliling-keliling dulu? Ini mall cukup gede loh buat di eksplor, yah walaupun barang-barangnya nggak akan mampu aku beli,
apalagi beliin kamu. Maaf ya. hehehe.” Kata ane memelas.
“Ya nggak apa-apa kali. Aku juga nggak minta-minta kamu beli macam-macam buat aku.” Katanya.
“Yaudah coba makan disitu yuk.” Ane menunjuk salah satu Restoran Jepang favorit ane.
“Kamu suka makanan Jepang? Kok nggak pernah cerita ke aku?” tanya Zalina heran.
“Ya soalnya di daerah kampus kita nggak ada yang jual makanan Jepang kan. Jadinya aku nggak pernah ceritain. Hehe.” Kata ane
“Ternyata masih banyak yang aku nggak tahu tentang kamu ya, maafin aku.” Katanya lirih.
“Yaelah santai aja kali. Kan sekarang udah tahu. Yuk?” ajak ane dan dia mengangguk.
Kami tiba di restoran jepang tersebut dan mulai memilih makanan. Kami mulai memilih makanan. Ane sudah lama nggak makan sushi akhirnya memesan dua sushi set dan Udon, sementara Zalina memesan Ramen dan Gyoza, setelah ane rekomendasikan Gyozanya enak, akhirnya dia mau untuk mencobanya. Tidak berapa lama hidangan kami datang beserta Ocha yang dingin dua gelas. Seperti biasa, Zalina makan dengan lahap, bahkan meminta beberapa sushi ane, nggak masalah, yang penting dia senang.
“Ini enak banget loh. Aku baru nyobain malah disini, padahal dekat rumahku ada ini gerainya. Berdiri sendiri lagi.” Kata Zalina.
“kenapa nggak coba dari dulu?” tanya ane.
“Aku males kemana-mana kalau udah dirumah Ja, apalagi jarang yang ngajak jalan kan.” Katanya lagi.
“Makanya sama aku kita eksplor, kamu mau kan? Kita ala-ala backpacker aja, nggak usah sungkan buat ngegembel. Seru malahan.” Kata ane.
“Bener ya? aku mau. Hehehe.” Katanya bersemangat.
“Udah abisin dulu makannya, abis ini kita jalan-jalan lagi baru ke karaoke, oke?” kata ane.
“Oke Ja.” Balasnya singkat.
Selesai dari mengisi perut untuk makan siang, dan ternyata harganya sudah naik, lumayan juga bengek bayarnya, kami memutuskan untuk jalan-jalan dulu di mall ini. Seperti sudah kebiasaan ane, ane selalu mengajak orang untuk mengejek orang lain. Zalina pun sepertinya menikmati kegiatan “ngecengin” orang di mall ini. Hahaha. Katanya seru dan banyak istilah-istilah yang baru dia dengar dari ane. Zalina agak tertarik masuk ke gerai make up, dan dia sangat tertarik dengan merk SK II. Dia nanya-nanya dan di jelaskan dengan baik oleh SPGnya, ane mendampingi dan tanpa sadar juga mengikuti penjelasan si SPG tadi. Begitu lihat harganya, ane langsung merinding gan sis. Hahaha. Kalau jaman sekarang mungkin bilangnya, “jiwa kemiskinanku meronta-ronta….”
“Aku bagus nggak pakai ini?” katanya menunjuk salah satu produk gincu berwarna agak pink.
“Bagus kok. Kamu mah dipakaiin produk-produk merk ini pasti bagus, wong harganya juga bagus banget. Bagus buat nguras dompet.” Jawab ane.
“Aku nggak minta beliin kamu, aku bisa beli sendiri.” Katanya lagi.
“Yee, masalahnya bukan itu sekarang. Buat apa kamu beli mahal-mahal sih kalau yang lebih murah ada? Kita ini masih mahasiswa dan belum berpenghasilan tetap, masa mau dihambur-hambur?” kata ane sambil menarik lengan Zalina agak menjauh dari toko.
“Uang jajan aku cukup kok, tabungan dari situ cukup kok. Sekali aja kenapa sih emangnya?” kata Zalina mulai kesal.
“Hei, dengar kata aku. Kamu itu naturalnya udah cakep cuy, nggak usah dimacem-macemin juga orang udah enak ngeliatnya.” Kata ane.
“Ya tapi….”
“Nggak ada tapi tapi, kamu mau ubah gaya hidup kamu nggak? Kalau nggak, nggak usah sama-sama aku, nggak usah juga lanjut kuliah di universitas kita.” Tegas ane.
“Iya..iya maaf..” kata Zalina manja sambil memeluk lengan ane. Aduh ini membuat ane yang sudah garang jadi melunak.
“Kamu itu dari dulu selalu hidup enak, serba kecukupan, sama aku juga, tapi ingat misi kita diperguruan tinggi ini adalah kita mau membantu mengubah wajah nusantara dari bawah. Kalau gaya hidupnya nggak berubah jadi apa adanya, gimana mau ngerasain susahnya orang yang ada dibawah? Plus lagi, kalau orangtua kamu, maaf, nggak ada, siapa lagi yang mau suplai kebiasaan kamu yang nggak baik ini?” kata ane sok bijak.
“Kamu tuh ya, idealisme kamu ini yang suatu saat bisa ngehancurin kamu, tau nggak kamu? Tapi biar gimanapun, salah satu hal yang bikin aku nyaman sama kamu itu ya ini. Kamu bisa menjelaskan sebuah larangan atau ketidaksukaan dengan alasan yang logis dan bisa diterima orang.” Ujar Zalina.
“Yaudah makanya ayo kita santai aja, jangan hedon sering-sering. Sesekali nggak apa-apa kaya aku beli sushi tadi, tapi mungkin akan lama lagi aku bawa kamu ketempat kayak gitu. Ngerti kan?” kata ane. Zalina mengangguk dan tersenyum kecil, lalu ane balas dengan mengusap-usap rambutnya.
Kami tidak jadi membeli produk tersebut dan minta maaf ke SPG nya dan dibalas senyum kecut tapi manis (Yaiyalah SPG pasti manis-manis. Haha.). Ternyata dibelakang kami berdua, sudah berdiri Anin dan disebelah Anin ada temannya perempuan, berkerudung, tapi mukanya seperti bukan orang Indonesia.
“Gue dengar loh percakapan kalian. Hahaha. “ Ujar Anin.
“Hah? Yang mana?” kata Zalina.
“Masalah hidup sederhana Lin, dengerin tu apa kata lakik lo. Bener udah dia pemikirannya. Gue juga tersentuh dia ngomong begitu tadi, dan sedikit nyadarin gue supaya nggak memanfaatkan dengan maksimal uang orangtua gue, sementara kita belum menghasilkan.” Kata Anin.
“Ini anak nguping aja ya? hahaha.” Kata ane sambil melihat ke Zalina dan menunjuk Anin.
“Lin, lo beruntung dapet orang yang pemikirannya kaya gini tau. Gue iri sama lo tau Lin, padahal yang awalnya mau sama dia kan gue Lin. Hahaha.” Kata Anin dan kami semua tertawa kecuali teman Anin.
“Oh iya, kenalin nih teman gue. Dia dari Uzbekistan. Belum lancar bahasa Indonesia dia. Dia pertukaran pelajar disini, dan ngambil jurusan yang sama kayak gue. Baru datang dia, nanti mulai kuliah di semester genap.”
“Tamina.” Dia memperkenalkan diri dengan menjulurkan tangan ke ane, lalu ke Zalina.
Tamina tingginya setinggi ane. mukanya khas percampuran eropa asia gitu, apa ya namanya, kaukasian ya. Dan karena memakai kerudung itulah membuatnya jadi semakin menarik untuk dipandang. Segar sekali sore ini dikelilingi tiga wanita cantik di Mall. Berasa gadun yang banyak duit ane. hahaha.
“Saya Ija, dan ini Zalina.” Percakapan ini dalam bahasa Inggris, tetapi ane tuliskan saja dalam bahasa Indonesia ya.
“Kamu dari Uzbekistan?” tanya ane.
“Ya benar. Saya dari Uzbek. Ada apa?” jawabnya.
“Kamu tahu Al*xis? Disana banyak teman kamu sepertinya, terkenal juga.” Tanya ane iseng.
“Oh saya tidak tahu, saya baru saja kesini. Belum tahu banyak Indonesia.” Kata Tamina.
Sejurus kemudian Anin menarik lengan ane, dan setengah berbisik.
“Lo apa-apaan nanyain kayak gitu? Gue tau tempat itu. Lo jangan rese.” Kata Anin mengancam.
“Yah gue bercanda Nin. Kan gue mau menunjukkan keramahan bangsa ini, salah satunya ya becandain aja dulu. Hahaha.” Kata ane.
“Haaaah, rese lo.” kata Anin sambil meninju pelan lengan ane.
Kemudian ane dan Anin cekikikan sementara Zalina kebingungan melihat ane dan Anin seperti itu.
“Heh, kenapa lo berdua cengengesan gitu? Bagi-bagilah.” Kata Zalina ketus.
“Nggak apa-apa, lakik lo nih, masa nanyain tempat kayak gitu ke dia.” Kata Anin.
“Tempat apa? Al*xis? Emang itu tempat apa?” Tanya Zalina polos.
“Itu Coffee shop Lin. Udah ah yuk cabut.” Tutup ane dan kemudian berpamitan dengan Anin dan Tamina.
Ane menangkap tatapan mata yang agak lain dari Anin setelah kami berpamitan, kemudian ane sempat menoleh lagi kebelakang, dan ternyata feeling ane benar, Anin masih memperhatikan dan tersenyum kecil ke ane, lalu berbalik badan.
Di mall ini kami berjalan-jalan lagi dan melanjutkan kegiatan ngecengin orang. Sampailah kami ke percakapan nggak penting yang berakhir tidak terduga.
“Lin, kamu dulu waktu SMA apa SMP gitu pernah nggak sih saling kata-kataan nama bapak? Hehe.” Tanya ane.
“Pernah. Ih parah banget tau. Soalnya ada yang sampai sakit hati dan ngelapor ke BK gara-gara nama bapaknya dikata-katainnya parah banget. Eh taunya pas dipertemukan di BK, pas si pemilik nama beneran didatangkan ke sekolah, pas nyebut namanya itu anak-anak tersangkanya malah pada nggak tahan buat ngetawain. Hahaha.” Jawab Zalina.
“Wahahahaha. Gila bener. Ngata-ngatain langsung depan orangnya. Mantap juga.” Ujar ane mengapresiasi.
“Iya, soalnya dulu nama-nama bapak kita kan lucu-lucu ya kalau disebut, makanya seru jadinya kalau ngata-ngatain anaknya pake nama bapaknya. Hahaha.” Katanya lagi.
“Aku ini dulu sempat ngata-ngatain nama bapak sampe berantem tau Lin waktu SMP. Hahaha.”
“Oh iya?”
“Iya, pokoknya ngatainnya kebangetan dulu tuh, apa ya lupa, dia pokoknya nggak terima dan ada disatu momen lagi istirahat, si korban ini mukul aku pake balok kayu dari belakang.”
“Aduh sakit banget itu pasti. Terus gimana setelahnya?”
“Ya berantem satu lawan satu Lin, dilapangan sekolah sehabis jam pulang sekolah. Dulu waktu SMP itu kayaknya kalau nggak berantem nggak asik Lin. Pas SMA udah mulai berkurang, nah sekarang belum nemu lawannya nih. Hahaha.”
“Awas ya kamu kalau aku dengar berantem, nggak aku kasih jatah kamu.”
“Dih ngancemnya gitu. Yaudah ga apa-apa, masih banyak yang mau sama aku kok, Anin contohnya.”
Diluar dugaan, Zalina murka. Dia benar-benar marah mendengar pernyataan ane ini. Ane meminta maaf berulang kali sambil mengejar dia yang jalannya jadi lebar-lebar langkahnya. Pada akhirnya dia mau memaafkan ane, tapi sudah nggak mood untuk karaoke. Kami pulang. Nggak banyak obrolan diantara kami. Ane menyesal banget becanda kaya gitu ke Zalina, soalnya ane berpikir saat itu, Anin dan dia kan berteman baik, jadi ya pakai aja buat becandaan. Eh ternyata reaksinya benar-benar nggak ane duga.
“Kamu mau masuk dulu nggak?” ujarnya ketus sambil menawarkan masuk kamar.
“Eeeh, kamu maunya aku masuk apa nggak?” tanya ane coba melucu.
BRAAKKK. Pintu dibanting dan dikunci.
“Lin, buka dong. Ah tadi katanya udah maafin aku. Lin..Lin..”
Cukup lama ane duduk diteras kamar Zalina, sampai akhirnya dia membuka pintunya.
“Masuk…” katanya.
Ane Cuma senyum dan mau langsung menyambar bibirnya dengan bibir ane, tapi dia ternyata lebih cepat menghindar. Sial.
“Lin, kamu benar-benar maafin aku nggak sih? Kok kamu lagian segitu sensinya sih sama Anin. Emang kenapa? Dia kan teman dekat kamu Lin.”
“aku udah maafin kamu kok. Aku cuman nggak suka aja Anin dibawa-bawa. Aku tuh berpikir tau nggak, kalau misalnya dulu Anin nggak ngeracunin banyak hal, aku mungkin masih virgin sampai saat ini.”
DEG. Ane merasa tercekat. Perasaan bersalah ane muncul lagi. Ini membuat ane mulai mual lagi.
“Maafin aku Lin.”
“Nggak kok. Bukan kamu yang salah. tapi akunya aja yang bodoh. Aku yang minta kan. Aku memang suka tantangan, tapi waktu dulu itu aku entah kenapa kepingin banget mengeksplor hal-hal itu. Taruhannya ya masa depan aku. Untung aja kamu nggak keluarin didalam, dan setelah-setelahnya kamu juga selalu keluarin diluar walaupun tanpa pengaman. Kamu bisa kendaliin. Coba kalau nggak?”
“Maaf….” Ane Cuma bisa bilang itu.
“Aku begitu ke kamu karena hati aku yang ngarahin kesana. Mudah-mudahan aku nggak pernah salah menaruh harapan ini sama kamu ya.” katanya
“Iya, aku juga berusaha untuk jaga hati ini untuk kamu Lin.” Balas ane.
Lalu, tiba-tiba Zalina melompat ke pangkuan ane, dan langsung mendaratkan ciuman yang bertubi-tubi ke ane. Ane kewalahan karena dia colong start. Tapi akhirnya ane bisa imbangi dia. Lalu seperti biasa, semua pakaian kami sudah berantakan dimana-mana, karena kami tidak hanya main dikasur saja, barang-barang di kostan Zalina pun ikut berpindah ketempat yang tidak seharusnya.
“Aku jadi ketagihan Ja. Kayaknya aku nggak bisa kalau nggak begini.”
“Nggak begini gimana maksudnya?”
“Aku harus ngew* terus deh kayaknya Ja. Selama persiapan ujian kemarin kan kita lumayan lama nggak ngew*, aku ngerasa gelisah banget tau Ja. Padahal dari pertama kita lakuin itu kan belum banyak lagi kita mainnya Ja.”
“Hmm..entah kenapa, aku juga ngerasain yang sama Lin. Kaya nagih, kaya kecanduan. Tapi kamu jangan nagih ke orang lain ya, nagih ke aku aja.”
“Iya dong, aku kan milik kamu.”
Dan akhirnya berlanjut ke ronde ronde berikutnya. Zalina semakin ahli. Ane merasa diimbangi olehnya. Antara senang, dan sedih. Ane sukses merusak anak orang. Dia datang kekampus ini untuk belajar dan menambah ilmunya, sama seperti ane. Tapi sisi lainnya yang liar dan didukung dengan bertemunya ane dengannya, membuat anak ini semakin rusak pola pikirnya, terutamanya pola pikir soal kehidupan seksualnya.
“Hai Ja. Jadi kita?” kata Zalina diiringi senyum manisnya. Bibirnya memakai lipgloss tipis warna pink atau bening ane lupa, karena memang bibirnya kemerahan tanpa dipakaikan gincu atau lipgloss sekalipun.
“Jadinya mau karaokean kan? Biar aku tunjukin skill nyanyi aku ke kamu.” Kata ane.
Layaknya sepasang kekasih, kami juga mengikuti syarat nggak resmi, yaitu pakai aku kamu, yang katanya menandakan hubunganmu sudah dalam tahap lebih serius. Padahal di Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah-daerah lain di Indonesia juga kebanyakan makainya aku kamu sebagai panggilan sehari-hari. Hahaha. Karena ane nggak meminta dibelikan motor sebagai kendaraan, melainkan masih menabung dengan usaha ane sendiri sebagai anak band dan juga guru les privat kimia bagi anak-anak SMP-SMA, kami naik angkutan umum, kala itu belum ada ojek online.
Kami naik angkot nyambung beberapa kali sampai akhirnya kami berada di pusat kota yang ramai dan gaul pastinya. Kami masuk ke salah satu mall terlengkap di kota ini. Banyak tenant-tenantnya yang bermerk, bikin ane minder setengah mati. Mungkin kalau ane jalan sama papa ane, bisa aja masuk kesana dengan santai, lah sekarang ane bawa anak orang dengan uang yang benar-benar seadanya. Hahaha. Sobat misqueen sekali ketika itu. Tapi Zalina nggak pernah mempermasalahkannya. Yang penting dia melihat ane cukup mandiri dengan nggak banyak minta orangtua dan coba hidup dari penghasilan seadanya itu sudah cukup baginya.
“Kamu mau makan dulu nggak, Lin?” kata ane.
“Boleh, makan siang dulu deh, baru habis itu karaokean. Gimana?” balas dia.
“Nggak mau keliling-keliling dulu? Ini mall cukup gede loh buat di eksplor, yah walaupun barang-barangnya nggak akan mampu aku beli,
apalagi beliin kamu. Maaf ya. hehehe.” Kata ane memelas.
“Ya nggak apa-apa kali. Aku juga nggak minta-minta kamu beli macam-macam buat aku.” Katanya.
“Yaudah coba makan disitu yuk.” Ane menunjuk salah satu Restoran Jepang favorit ane.
“Kamu suka makanan Jepang? Kok nggak pernah cerita ke aku?” tanya Zalina heran.
“Ya soalnya di daerah kampus kita nggak ada yang jual makanan Jepang kan. Jadinya aku nggak pernah ceritain. Hehe.” Kata ane
“Ternyata masih banyak yang aku nggak tahu tentang kamu ya, maafin aku.” Katanya lirih.
“Yaelah santai aja kali. Kan sekarang udah tahu. Yuk?” ajak ane dan dia mengangguk.
Kami tiba di restoran jepang tersebut dan mulai memilih makanan. Kami mulai memilih makanan. Ane sudah lama nggak makan sushi akhirnya memesan dua sushi set dan Udon, sementara Zalina memesan Ramen dan Gyoza, setelah ane rekomendasikan Gyozanya enak, akhirnya dia mau untuk mencobanya. Tidak berapa lama hidangan kami datang beserta Ocha yang dingin dua gelas. Seperti biasa, Zalina makan dengan lahap, bahkan meminta beberapa sushi ane, nggak masalah, yang penting dia senang.
“Ini enak banget loh. Aku baru nyobain malah disini, padahal dekat rumahku ada ini gerainya. Berdiri sendiri lagi.” Kata Zalina.
“kenapa nggak coba dari dulu?” tanya ane.
“Aku males kemana-mana kalau udah dirumah Ja, apalagi jarang yang ngajak jalan kan.” Katanya lagi.
“Makanya sama aku kita eksplor, kamu mau kan? Kita ala-ala backpacker aja, nggak usah sungkan buat ngegembel. Seru malahan.” Kata ane.
“Bener ya? aku mau. Hehehe.” Katanya bersemangat.
“Udah abisin dulu makannya, abis ini kita jalan-jalan lagi baru ke karaoke, oke?” kata ane.
“Oke Ja.” Balasnya singkat.
Selesai dari mengisi perut untuk makan siang, dan ternyata harganya sudah naik, lumayan juga bengek bayarnya, kami memutuskan untuk jalan-jalan dulu di mall ini. Seperti sudah kebiasaan ane, ane selalu mengajak orang untuk mengejek orang lain. Zalina pun sepertinya menikmati kegiatan “ngecengin” orang di mall ini. Hahaha. Katanya seru dan banyak istilah-istilah yang baru dia dengar dari ane. Zalina agak tertarik masuk ke gerai make up, dan dia sangat tertarik dengan merk SK II. Dia nanya-nanya dan di jelaskan dengan baik oleh SPGnya, ane mendampingi dan tanpa sadar juga mengikuti penjelasan si SPG tadi. Begitu lihat harganya, ane langsung merinding gan sis. Hahaha. Kalau jaman sekarang mungkin bilangnya, “jiwa kemiskinanku meronta-ronta….”
“Aku bagus nggak pakai ini?” katanya menunjuk salah satu produk gincu berwarna agak pink.
“Bagus kok. Kamu mah dipakaiin produk-produk merk ini pasti bagus, wong harganya juga bagus banget. Bagus buat nguras dompet.” Jawab ane.
“Aku nggak minta beliin kamu, aku bisa beli sendiri.” Katanya lagi.
“Yee, masalahnya bukan itu sekarang. Buat apa kamu beli mahal-mahal sih kalau yang lebih murah ada? Kita ini masih mahasiswa dan belum berpenghasilan tetap, masa mau dihambur-hambur?” kata ane sambil menarik lengan Zalina agak menjauh dari toko.
“Uang jajan aku cukup kok, tabungan dari situ cukup kok. Sekali aja kenapa sih emangnya?” kata Zalina mulai kesal.
“Hei, dengar kata aku. Kamu itu naturalnya udah cakep cuy, nggak usah dimacem-macemin juga orang udah enak ngeliatnya.” Kata ane.
“Ya tapi….”
“Nggak ada tapi tapi, kamu mau ubah gaya hidup kamu nggak? Kalau nggak, nggak usah sama-sama aku, nggak usah juga lanjut kuliah di universitas kita.” Tegas ane.
“Iya..iya maaf..” kata Zalina manja sambil memeluk lengan ane. Aduh ini membuat ane yang sudah garang jadi melunak.
“Kamu itu dari dulu selalu hidup enak, serba kecukupan, sama aku juga, tapi ingat misi kita diperguruan tinggi ini adalah kita mau membantu mengubah wajah nusantara dari bawah. Kalau gaya hidupnya nggak berubah jadi apa adanya, gimana mau ngerasain susahnya orang yang ada dibawah? Plus lagi, kalau orangtua kamu, maaf, nggak ada, siapa lagi yang mau suplai kebiasaan kamu yang nggak baik ini?” kata ane sok bijak.
“Kamu tuh ya, idealisme kamu ini yang suatu saat bisa ngehancurin kamu, tau nggak kamu? Tapi biar gimanapun, salah satu hal yang bikin aku nyaman sama kamu itu ya ini. Kamu bisa menjelaskan sebuah larangan atau ketidaksukaan dengan alasan yang logis dan bisa diterima orang.” Ujar Zalina.
“Yaudah makanya ayo kita santai aja, jangan hedon sering-sering. Sesekali nggak apa-apa kaya aku beli sushi tadi, tapi mungkin akan lama lagi aku bawa kamu ketempat kayak gitu. Ngerti kan?” kata ane. Zalina mengangguk dan tersenyum kecil, lalu ane balas dengan mengusap-usap rambutnya.
Kami tidak jadi membeli produk tersebut dan minta maaf ke SPG nya dan dibalas senyum kecut tapi manis (Yaiyalah SPG pasti manis-manis. Haha.). Ternyata dibelakang kami berdua, sudah berdiri Anin dan disebelah Anin ada temannya perempuan, berkerudung, tapi mukanya seperti bukan orang Indonesia.
“Gue dengar loh percakapan kalian. Hahaha. “ Ujar Anin.
“Hah? Yang mana?” kata Zalina.
“Masalah hidup sederhana Lin, dengerin tu apa kata lakik lo. Bener udah dia pemikirannya. Gue juga tersentuh dia ngomong begitu tadi, dan sedikit nyadarin gue supaya nggak memanfaatkan dengan maksimal uang orangtua gue, sementara kita belum menghasilkan.” Kata Anin.
“Ini anak nguping aja ya? hahaha.” Kata ane sambil melihat ke Zalina dan menunjuk Anin.
“Lin, lo beruntung dapet orang yang pemikirannya kaya gini tau. Gue iri sama lo tau Lin, padahal yang awalnya mau sama dia kan gue Lin. Hahaha.” Kata Anin dan kami semua tertawa kecuali teman Anin.
“Oh iya, kenalin nih teman gue. Dia dari Uzbekistan. Belum lancar bahasa Indonesia dia. Dia pertukaran pelajar disini, dan ngambil jurusan yang sama kayak gue. Baru datang dia, nanti mulai kuliah di semester genap.”
“Tamina.” Dia memperkenalkan diri dengan menjulurkan tangan ke ane, lalu ke Zalina.
Tamina tingginya setinggi ane. mukanya khas percampuran eropa asia gitu, apa ya namanya, kaukasian ya. Dan karena memakai kerudung itulah membuatnya jadi semakin menarik untuk dipandang. Segar sekali sore ini dikelilingi tiga wanita cantik di Mall. Berasa gadun yang banyak duit ane. hahaha.
“Saya Ija, dan ini Zalina.” Percakapan ini dalam bahasa Inggris, tetapi ane tuliskan saja dalam bahasa Indonesia ya.
“Kamu dari Uzbekistan?” tanya ane.
“Ya benar. Saya dari Uzbek. Ada apa?” jawabnya.
“Kamu tahu Al*xis? Disana banyak teman kamu sepertinya, terkenal juga.” Tanya ane iseng.
“Oh saya tidak tahu, saya baru saja kesini. Belum tahu banyak Indonesia.” Kata Tamina.
Sejurus kemudian Anin menarik lengan ane, dan setengah berbisik.
“Lo apa-apaan nanyain kayak gitu? Gue tau tempat itu. Lo jangan rese.” Kata Anin mengancam.
“Yah gue bercanda Nin. Kan gue mau menunjukkan keramahan bangsa ini, salah satunya ya becandain aja dulu. Hahaha.” Kata ane.
“Haaaah, rese lo.” kata Anin sambil meninju pelan lengan ane.
Kemudian ane dan Anin cekikikan sementara Zalina kebingungan melihat ane dan Anin seperti itu.
“Heh, kenapa lo berdua cengengesan gitu? Bagi-bagilah.” Kata Zalina ketus.
“Nggak apa-apa, lakik lo nih, masa nanyain tempat kayak gitu ke dia.” Kata Anin.
“Tempat apa? Al*xis? Emang itu tempat apa?” Tanya Zalina polos.
“Itu Coffee shop Lin. Udah ah yuk cabut.” Tutup ane dan kemudian berpamitan dengan Anin dan Tamina.
Ane menangkap tatapan mata yang agak lain dari Anin setelah kami berpamitan, kemudian ane sempat menoleh lagi kebelakang, dan ternyata feeling ane benar, Anin masih memperhatikan dan tersenyum kecil ke ane, lalu berbalik badan.
Di mall ini kami berjalan-jalan lagi dan melanjutkan kegiatan ngecengin orang. Sampailah kami ke percakapan nggak penting yang berakhir tidak terduga.
“Lin, kamu dulu waktu SMA apa SMP gitu pernah nggak sih saling kata-kataan nama bapak? Hehe.” Tanya ane.
“Pernah. Ih parah banget tau. Soalnya ada yang sampai sakit hati dan ngelapor ke BK gara-gara nama bapaknya dikata-katainnya parah banget. Eh taunya pas dipertemukan di BK, pas si pemilik nama beneran didatangkan ke sekolah, pas nyebut namanya itu anak-anak tersangkanya malah pada nggak tahan buat ngetawain. Hahaha.” Jawab Zalina.
“Wahahahaha. Gila bener. Ngata-ngatain langsung depan orangnya. Mantap juga.” Ujar ane mengapresiasi.
“Iya, soalnya dulu nama-nama bapak kita kan lucu-lucu ya kalau disebut, makanya seru jadinya kalau ngata-ngatain anaknya pake nama bapaknya. Hahaha.” Katanya lagi.
“Aku ini dulu sempat ngata-ngatain nama bapak sampe berantem tau Lin waktu SMP. Hahaha.”
“Oh iya?”
“Iya, pokoknya ngatainnya kebangetan dulu tuh, apa ya lupa, dia pokoknya nggak terima dan ada disatu momen lagi istirahat, si korban ini mukul aku pake balok kayu dari belakang.”
“Aduh sakit banget itu pasti. Terus gimana setelahnya?”
“Ya berantem satu lawan satu Lin, dilapangan sekolah sehabis jam pulang sekolah. Dulu waktu SMP itu kayaknya kalau nggak berantem nggak asik Lin. Pas SMA udah mulai berkurang, nah sekarang belum nemu lawannya nih. Hahaha.”
“Awas ya kamu kalau aku dengar berantem, nggak aku kasih jatah kamu.”
“Dih ngancemnya gitu. Yaudah ga apa-apa, masih banyak yang mau sama aku kok, Anin contohnya.”
Diluar dugaan, Zalina murka. Dia benar-benar marah mendengar pernyataan ane ini. Ane meminta maaf berulang kali sambil mengejar dia yang jalannya jadi lebar-lebar langkahnya. Pada akhirnya dia mau memaafkan ane, tapi sudah nggak mood untuk karaoke. Kami pulang. Nggak banyak obrolan diantara kami. Ane menyesal banget becanda kaya gitu ke Zalina, soalnya ane berpikir saat itu, Anin dan dia kan berteman baik, jadi ya pakai aja buat becandaan. Eh ternyata reaksinya benar-benar nggak ane duga.
“Kamu mau masuk dulu nggak?” ujarnya ketus sambil menawarkan masuk kamar.
“Eeeh, kamu maunya aku masuk apa nggak?” tanya ane coba melucu.
BRAAKKK. Pintu dibanting dan dikunci.
“Lin, buka dong. Ah tadi katanya udah maafin aku. Lin..Lin..”
Cukup lama ane duduk diteras kamar Zalina, sampai akhirnya dia membuka pintunya.
“Masuk…” katanya.
Ane Cuma senyum dan mau langsung menyambar bibirnya dengan bibir ane, tapi dia ternyata lebih cepat menghindar. Sial.
“Lin, kamu benar-benar maafin aku nggak sih? Kok kamu lagian segitu sensinya sih sama Anin. Emang kenapa? Dia kan teman dekat kamu Lin.”
“aku udah maafin kamu kok. Aku cuman nggak suka aja Anin dibawa-bawa. Aku tuh berpikir tau nggak, kalau misalnya dulu Anin nggak ngeracunin banyak hal, aku mungkin masih virgin sampai saat ini.”
DEG. Ane merasa tercekat. Perasaan bersalah ane muncul lagi. Ini membuat ane mulai mual lagi.
“Maafin aku Lin.”
“Nggak kok. Bukan kamu yang salah. tapi akunya aja yang bodoh. Aku yang minta kan. Aku memang suka tantangan, tapi waktu dulu itu aku entah kenapa kepingin banget mengeksplor hal-hal itu. Taruhannya ya masa depan aku. Untung aja kamu nggak keluarin didalam, dan setelah-setelahnya kamu juga selalu keluarin diluar walaupun tanpa pengaman. Kamu bisa kendaliin. Coba kalau nggak?”
“Maaf….” Ane Cuma bisa bilang itu.
“Aku begitu ke kamu karena hati aku yang ngarahin kesana. Mudah-mudahan aku nggak pernah salah menaruh harapan ini sama kamu ya.” katanya
“Iya, aku juga berusaha untuk jaga hati ini untuk kamu Lin.” Balas ane.
Lalu, tiba-tiba Zalina melompat ke pangkuan ane, dan langsung mendaratkan ciuman yang bertubi-tubi ke ane. Ane kewalahan karena dia colong start. Tapi akhirnya ane bisa imbangi dia. Lalu seperti biasa, semua pakaian kami sudah berantakan dimana-mana, karena kami tidak hanya main dikasur saja, barang-barang di kostan Zalina pun ikut berpindah ketempat yang tidak seharusnya.
“Aku jadi ketagihan Ja. Kayaknya aku nggak bisa kalau nggak begini.”
“Nggak begini gimana maksudnya?”
“Aku harus ngew* terus deh kayaknya Ja. Selama persiapan ujian kemarin kan kita lumayan lama nggak ngew*, aku ngerasa gelisah banget tau Ja. Padahal dari pertama kita lakuin itu kan belum banyak lagi kita mainnya Ja.”
“Hmm..entah kenapa, aku juga ngerasain yang sama Lin. Kaya nagih, kaya kecanduan. Tapi kamu jangan nagih ke orang lain ya, nagih ke aku aja.”
“Iya dong, aku kan milik kamu.”
Dan akhirnya berlanjut ke ronde ronde berikutnya. Zalina semakin ahli. Ane merasa diimbangi olehnya. Antara senang, dan sedih. Ane sukses merusak anak orang. Dia datang kekampus ini untuk belajar dan menambah ilmunya, sama seperti ane. Tapi sisi lainnya yang liar dan didukung dengan bertemunya ane dengannya, membuat anak ini semakin rusak pola pikirnya, terutamanya pola pikir soal kehidupan seksualnya.
Diubah oleh yanagi92055 16-08-2019 15:25
itkgid dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol