- Beranda
- Stories from the Heart
My Struggle with this particular Fetish (BB?)
...
TS
ProfAneUnion
My Struggle with this particular Fetish (BB?)
Halo rekan-rekan kaskuser dan pembaca SFTH semua, setelah jadi silent reader akhirnya saya memutuskan buat akun untuk ikut cerita-cerita disini. Mohon maaf kalau semrawut dan tidak terstruktur, saya masih nubi dan kadang susah menyampaikan apa yg ada di otak, kayak kalo kita mau ngomong tapi di ujung lidah ga mau keluar gitu 
Ya, pada cerita ini saya ingin share pengalaman dan cerita saya pribadi terkait satu hal yang mungkin kurang menjadi perhatian mainstream masyarakat kita sekarang ini, yaitu tentang fetishism. Saya kurang paham kalo di bahasa indo terjemahannya gimana, jadi silakan dibaca atau digali sendiri informasi terkait ini. Sebagai permulaan bisa baca spoiler di atas.
Di sini saya tidak ada maksud untuk melecehkan maupun merendahkan siapapun, tapi saya berharap, untuk rekan-rekan yang mungkin memiliki kelainan seperti saya, ketahuilah bahwa kalian tidak sendirian. Dan lawanlah kelainan itu. Jika kalian beragama, perbanyaklah ibadah dan jauhilah hal pemicu kelainan kalian. Carilah aktivitas yang positif. Pergilah ke tempat-tempat yang baru. (general advice sih buat yg demen main sabun
)
Why ? Because this thing sucks. It literally disrupts your life. Every single day. Who knows ? Mungkin fetish kalian terletak pada barang-barang yang lebih umum. Mungkin reaksi kalian lebih intens daripada yang kualami. Mungkin ini. Mungkin itu. Yang jelas, don't give in to the temptations.(Tapi kalo ga bisa yaudah sih lepasin aja wkwkwkwk, its your sexual life anyway)
Oh iya berhubung ceritanya ini bakal ditulis kalo pas lagi keinget masa-masa lalu, jadi harap maklum kalo terkesan ndak runut ya.... tapi kalau memang satu arc (wilih pake arc segala, emangnya arc warden) bakal diselesaiin kok.
Selamat membaca & terima kasih sudah mampir agan-agan sekalian, mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan

Spoiler for Biar ngeh sama yang namanya fetish:
Ya, pada cerita ini saya ingin share pengalaman dan cerita saya pribadi terkait satu hal yang mungkin kurang menjadi perhatian mainstream masyarakat kita sekarang ini, yaitu tentang fetishism. Saya kurang paham kalo di bahasa indo terjemahannya gimana, jadi silakan dibaca atau digali sendiri informasi terkait ini. Sebagai permulaan bisa baca spoiler di atas.
Di sini saya tidak ada maksud untuk melecehkan maupun merendahkan siapapun, tapi saya berharap, untuk rekan-rekan yang mungkin memiliki kelainan seperti saya, ketahuilah bahwa kalian tidak sendirian. Dan lawanlah kelainan itu. Jika kalian beragama, perbanyaklah ibadah dan jauhilah hal pemicu kelainan kalian. Carilah aktivitas yang positif. Pergilah ke tempat-tempat yang baru. (general advice sih buat yg demen main sabun
) Why ? Because this thing sucks. It literally disrupts your life. Every single day. Who knows ? Mungkin fetish kalian terletak pada barang-barang yang lebih umum. Mungkin reaksi kalian lebih intens daripada yang kualami. Mungkin ini. Mungkin itu. Yang jelas, don't give in to the temptations.(Tapi kalo ga bisa yaudah sih lepasin aja wkwkwkwk, its your sexual life anyway)
Quote:
Oh iya berhubung ceritanya ini bakal ditulis kalo pas lagi keinget masa-masa lalu, jadi harap maklum kalo terkesan ndak runut ya.... tapi kalau memang satu arc (wilih pake arc segala, emangnya arc warden) bakal diselesaiin kok.
Quote:
Quote:
Selamat membaca & terima kasih sudah mampir agan-agan sekalian, mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan
Diubah oleh ProfAneUnion 24-08-2019 22:57
exoluris dan 11 lainnya memberi reputasi
12
23.1K
202
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ProfAneUnion
#67
SIDE STORY
Kabi 1
Kabi 1
Turi, 2006. 14 years old, having fun in the 'wild'
Masih ingatkah kalian dengan keluarga besarku, yang sering mengadakan 'petualangan' gaib di pelosok-pelosok DIY ? Salah satu dari petualangan ini terjadi saat aku pergi bersama paman-paman dan sepupuku ke daerah Turi, Kabupaten Sleman. Daerah Sleman utara terkenal dengan hawa sejuknya dan tanaman salak yang ada sejauh mata memandang. Kali ini tujuan kami adalah rumah Mbah Harso, salah satu kerabat jauh kami yang, konon katanya, memiliki ilmu kebatinan yang seharusnya terkunci dalam setiap jiwa manusia. Tentu saja aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti ini, tapi siapa yang bisa menolak jalan-jalan gratis menuju tempat eksotis

Sayangnya, kondisi fisikku saat itu sedang tidak maksimal, karena aku baru saja sembuh dari demam yang kuderita saat menjalani ujian tengah semester di SMA. Ada yang pernah mengalami seperti ini, sakit ketika tiba hari penting/ujian ?
Sehingga rombongan kami sepakat, saat ekspedisi nanti, aku hanya menunggu di rumah Mbah Harso saja, sedangkan lainnya akan berjalan menelusuri medan menuju objek 'gaib' yang diburu. Saat itu smartphone belum ada dan HPku bukan HP gaming macam N-Gage, sehingga bekalku untuk menghabiskan waktu hanyalah tumpukan komik Kungfu Komang yang tidak pernah gagal membuatku terpingkal-pingkal sendiri.Pagi-pagi jam 7 kami sudah tiba di lokasi rumah Mbah Harso. Rumah beliau biasa saja seperti masyarakat Turi pada umumnya, dikelilingi oleh halaman agak luas dan dipagari oleh tanaman salak yang memiliki semacam duri khas di batangnya. Setelah perkenalan singkat dan sedikit wejangan dari Mbah Harso, rombongan kami akhirnya mulai berjalan ke tempat tujuan ditemani oleh anak Mbah Harso. Sepertinya mereka akan masuk ke bagian hutan yang agak dalam, karena aku melihat anak Mbah Harso ini juga membawa peralatan P3K dan alat-alat berpetualang lain. Aku yang memang sudah berencana tidak ikut akan tinggal di rumah saja sambil menemani Mbah Harso, kondisi fisik beliau yang sudah menginjak usia 90+ tidak memungkinkannya untuk berjalan terlalu jauh.
Dari penampilan luar, tidak ada yang terlalu spesial dari Mbah Harso, just like your typical 'local old guy'. Beliau mengenakan kaos yang bergambar suatu partai politik, sarung motif, serta peci yang sudah terlihat lusuh karena setiap hari digunakan. Raut mukanya masih terlihat segar, meskipun keriput wajahnya sudah menjadi fitur dominan. "Le, kene tak kandani... (Nak, sini aku beritahu sesuatu)" Mbah Harso memanggilku dari kursi duduknya yang terletak di ruang tamu.
Aku yang sedang duduk-duduk santai di atas tikar yang digelar di halaman luar, dengan sigap mendatangi kursi yang sedang diduduki beliau. "Nggih, pripun mbah ?" Aku memang tidak terlalu menguasai bahasa Jawa yang halus, tapi untuk frase-frase dasar seperti ini untungnya aku masih cukup paham.
"Ngopo kowe nang kene ? (Kenapa kamu di sini)" Mbah Harso tiba-tiba mengeraskan suaranya.
Aku yang agak terkejut hanya bisa menjawab dengan muka kebingungan, dan dengan malu kembali berjalan mundur sambil berkata pelan "Nyuwun ngapunten mbah...."
"Udu kowe.... (bukan kamu)" Mbah Harso melanjutkan perkataannya padaku. "Kae lho."
Mbah Harso lalu menunjuk ke arah sebelah kananku. Saat itu tidak ada orang lain yang berada di halaman, karena Mbah Harso hanya hidup berdua dengan anaknya di rumah ini, dan rombonganku sudah semuanya berangkat menuju objek tujuan. Tidak disangka, sudah duduk di atas tikar seorang pria berbadan kekar, wajahnya seperti wajah orang Jawa pada umumnya dengan kumis tebal serta pakaian tradisional yang mirip dengan abdi dalem Kraton. Pria ini hanya duduk bersila dengan tegap, sambil menatap Mbah Harso dengan tajam, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Mereka berdua hanya bertatap-tatapan dengan tajam
Seterusnya aku langsung translate saja ya ke bahasa Indonesia, karena Mbah Harso selalu menggunakan bahasa Jawa saat berbicara.
"Le, kamu kenal ya dengan dia ?" Mbah Harso bertanya padaku.
"Tidak mbah, memangnya itu siapa ?" Aku balik bertanya.
"Tadi malam kita kan ngobrol di kamar." Pria tadi menyela pembicaraan kami. Perkataan itu membuatku akhirnya memahami situasi yang terjadi saat ini.
"Weh, dirimu aslinya kayak gini to lik ?" Aku bertanya pada Kabi, sambil mengatur posisi agar tidak membelakangi Mbah Harso.
"Bukan, kamu ndak bakal bisa liat wujud asliku. Tuh, liat gambar di dekat pintu." Kabi menunjuk foto berbingkai yang diletakkan di meja tamu. Di foto yang belum berwarna itu terlihat Mbah Harso yang terlihat lebih muda dibandingkan sekarang, duduk berbaris dengan abdi dalem kraton yang lain. Terlihat di foto tersebut sebuah sosok yang penampilannya mirip dengan sosok pria yang ada bersamaku dan Mbah Harso saat ini.
"Kalau kenal, berarti tidak apa-apa." Mbah Harso berkata dengan pelan sambil perlahan memegang semacam tongkat penopang yang biasa digunakan oleh orang-orang tua, sepertinya beliau akan berjalan masuk ke dalam kamarnya. "Cucuku mohon dijaga."
Perintah terakhir ini hanya dijawab dengan anggukan dari Kabi, yang masih mempertahankan posisi tegapnya. Terlihat raut mukanya yang serius dan penuh dengan kewaspadaan.
"Jadi selama ini aku ciuman sama pegang-pegang bapak-bapak brengosan (kumisan) ?" Aku bertanya pada Kabi untuk memecah suasana. Sudah beberapa tahun kami berinteraksi, dan kami terhitung sudah akrab dan tidak formal lagi dalam berbicara. Bahkan tadi malam, seperti yang ia ceritakan, kita sedang....what's the right word, melakukan pergumulan ?
Ia mengambil sosok seorang kakak kelasku yang berparas cantik untuk bisa menyedot 'energi syahwat' dariku. Aktivitasku yang 'intens' dengan sosok orang lain secara gaib, membuatku menjadi orang yang pemalu dan tidak berani bertatap muka (apalagi berbicara) dengan wanita lain yang aku tertarik padanya."Wee lha, udah dibilangin ini bukan wujud asliku juga, kok malah ngeyel. Nek di dunia gaib itu cewek dan cowok itu masalah penampilan aja, kamu ndak akan tahu perbedaan aslinya." Dia menjelaskan padaku. Aku merasa seperti diberikan wejangan oleh Pak Raden, dengan kumisnya yang sungguh mengganggu konsentrasiku karena saking tebalnya

"Sekarang begini." Nadanya menjadi serius. "Barusan itu kami berantem."
"Berantem pukul-pukulan kayak di sinetron gitu ? Kok kayaknya dari tadi diem aja ? Hahahah" Aku menjawabnya.
"Yo oraa, berantem gaib gini cuma seperti adu tenaga, mirip apa itu yang ada di bukumu yang tadi malem mbok baca." Kabi menjelaskan lagi.
"Maksude kayak kamehame di dragon ball gitu ?" Aku bertanya lagi.
"Yaa itu lah, aku ndak ngerti bacaanmu. Yang jelas fisik kita ndak perlu gerak-gerak kayak ketoprak gitu, makannya kadang aku senang lihat acara horormu, kakehan nggaya hahaha." Jawab Kabi. "Barusan itu aku kalah perang. Wah simbahmu itu memang sakti beneran."
"Wah, mantap no....Kapan e perangnya ?" Aku bertanya karena penasaran.
"Pas om-ommu lagi pada ngobrol di sini."
"Lha bukannya dari tadi Mbah Harsonya sibuk ngasih nasehat ke kita-kita ?"
"Wis to, iyani wae, rasah kakehan dipikir (iyain aja, gak usah dipikirin)." Kata Kabi sambil 'memoles' kepalaku (istilahnya apa ya, kayak memukul ringan dengan menggosokkan sendi jari tangannya, javanese is hard
)Kabi lalu menjelaskan detil pertempuran singkatnya dengan Mbah Harso, dan setelah selesai, Mbah Harso menyuruhnya untuk bersumpah agar tidak menyakiti dan membahayakanku. Kalau berani macam-macam dan aku sampai merasa terancam, ia akan terkunci ke dalam suatu pusaka yang tidak bisa kulihat dengan mata telanjang. "Bentuknya kayak gini nih." Kabi mengangkat suatu rantai pendek yang mengunci lehernya pada pergelangan kaki kananku. "Rantai ini rantai gaib, jadi sebenarnya bisa diulur sampai mana aja. Yang jelas ini ndak bisa lepas lagi."
"Wah, melas banget dirimu lik haha. Lha aku harus gimana ?" Aku bertanya pada Kabi. Jujur aku juga tidak tega melihatnya terkekang seperti ini, meski memang dia selalu usil dan membuatku 'kecapekan' setiap harinya.
"Yo rapopo sih. Malah dengan ini, aku ndak perlu lagi nyedot energimu biar bisa jalan-jalan. Anggep aja rantai ini kabel listrik buat ngecas bateraiku hahaha...."
Pembicaraan kami terputus dengan adanya suara panggilan Mbah Harso dari dalam rumah, "Leee, banyune kebak." Ternyata suara obrolan kami mengalahkan suara gemericik air yang tumpah dari tandon. Aku pun langsung berlari ke dalam sambil berterika, "Nggih mbaah, saya matikan." Aku tahu posisi saklar pompa air dekat sumur karena terpampang tulisan besar 'BANYU' di atasnya. Setelah air sudah berhenti mengalir, kudapati Kabi sudah menghilang dari halaman tanpa meninggalkan jejak. Aku tidak terlalu berpikir banyak, toh memang dia hobi jalan-jalan....Tapi kejadian kali ini memang sedikit membuka mataku terkait hal-hal supranatural.
Cerita tambahan ini akan kututup dengan wejangan yang diberikan oleh Mbah Harso saat awal-awal kita bertemu :
Quote:
Diubah oleh ProfAneUnion 14-08-2019 13:51
jiyanq dan 4 lainnya memberi reputasi
5
oh yaa untuk nama tokoh gue samarin semua yaa. Jangan kepoin TS...