- Beranda
- Stories from the Heart
SELASA KLIWON
...
TS
kaliankenalsaya
SELASA KLIWON
Selamat datang di Thread pertama saya. Silahkan di Nikmati cerita ber-genre horror yg saya suguhkan. Mohon maaf cerita akan saya post ulang dan di buat index demi kenyamanan para pembaca sekalian. Mudah-mudahan terhibur dengan cerita yg saya suguhkan. Silahkan di nantikan kelanjutan cerita yg saya buat. Terima kasih.
Quote:
Diubah oleh kaliankenalsaya 15-08-2019 22:02
evywahyuni dan 14 lainnya memberi reputasi
15
9.3K
51
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kaliankenalsaya
#22
CHAPTER 6
"Tidak terjadi apa-apa Em, Sepertinya itu luka kering ku yg kembali memgeluarkan darah, Seingatku, aku menggaruknya semalam. Bahkan aku sampai tak tau jika luka itu kembali basah"
Emely memperhatikan bekas cakaran yg terdapat di tubuh girwanda. Parah memang. Sayatan kecil namun panjang itu terus mengeluarkan darah. Darah yg merah dan segar. Terdapat memar di sepanjang luka itu, jika saja emely yg merasakan, akan betapa sakitnya luka yg dia alami. Apalagi ditambah, ia sengaja merobek luka girwanda untuk menguji apakah ia betul-betul kebal terhadap lukanya itu.
Emely, Sikapnya memang cuek dan keras. Tetapi, melihat keadaan girwanda yg seperti ini, ia tak bisa mempertahankan rasa sedih nya. Diam-diam, air mata sudah mengalir dari mata bulat nya. Girwanda, Apa yg ia alami semalam memang sulit untuk dilupakan. Pertama kalinya ia berkorban untuk seseorang, seseorang yg nasibnya sangat bergantung padanya. Melihat emely, membuatnya rindu dengan sosok perempuan itu. Sosok yg di rindukan seumur hidup.
"Kau tak usah pikirkan luka di punggung ku. Aku boleh minta sesuatu?"
Emely segera mengusap air mata di pipinya hingga kering agar girwanda tidak tau jika ia menangisi nya. Tapi tetap saja, girwanda adalah seorang yg berbeda darinya. Ia tau segalanya, bahkan jika emely menangis.
"Apa itu? katakan saja"
"Suaramu menjadi sangat dalam. Kau menangis ya?"
"Kau tak melihatku, jadi sebaiknya jangan sok tau"
"Apa aku perlu melihatmu? Rasa-rasa nya, kau yg jangan sok membohongiku"
"Kau perlu apa? Cepat katakan"
"Pengalihan yg baik! Baiklah, Toling carikan aku belatung, beberapa biji. Dan beras ketan"
"Kau menyuruhku cari binatang menjijikan itu?"
"Itu lebih baik daripada kau menangis saja! Cepat!"
Emely mendengus kesal mendengar ucapan girwanda. segera ia mengendarai motor ke pasar. Dengan kecepatan melebihi setan terbang, Emely menerobos jalanan kebun yg sepi siang itu untuk menuju pusat desa. Dalam perjalan ia tak habis pikir, apa yg sebenarnya terjadi dengan girwanda, luka itu, luka yg cukup serius.
"Apa dia bertemu binatang buas, hanya binatang buas yg punya cakaran seperti itu"
"Kenapa makhluk itu terus saja berdalih jika luka ditubuhnya bukan karena apa-apa, Lihat saja pasti aku tau, dan pasti jelas ku buktikan jika anak ini punya urusan yg tidak bisa dianggap remeh"
Knalpot bak kaleng rombeng kembali memecah kesunyian di hari yg hampir panas. Memasuki jalan besar pusat desa, Emely memarkir motornya tak jauh dari pintu masuk belakang pasar. Emely berjalan bersalip-salip karena suasana pasar yg sangat ramai pengunjung di setiap hari nya. Emely berjalan menuju suatu lapak yg di penuhi lalat. disana, ia akan dapat menemukan belatung yg di pinta girwanda, ya tempat pembuangan sayur mayur yg telah busuk dan rusak.
Ia mengambil secarik kertas. Lalu menempatkan beberapa puluh belatung di atasnya. Di rasa cukup. Emely membungkus kertas berisi belatung itu dan menaruhnya di tas kecil yg ia sampingkan di bahunya.
Kembali ia menelusuri jalanan pasar, dan berjalan ke arah pintu depan pasar, disana ia menjumpai jono, kawan main nya dulu yg sekarang terlihat tua dan kusam, walaupun perbedaan usia keduanya hanya berjarak 2 tahun. Jono, pedagang kaya di desa bambu mukti. Pedagang dengan pemilik ruko 8 pintu yg berisi ratusan ton beras.
"Oh hay emely, sahabat kecilku, ada kau sambangi aku si juragan beras di desa bambu mukti?"
"Aku minta sejumput beras ketan, nanti biar ayahku yg membayar nya padamu"
"Oh astaga, sejumput beras ketan? kau minta 1 ton aku berikan, wahai sahabatku"
Jono si juragan beras segera melangkah ke dalam toko, mengambil karung dan berjalan ke arah ruang belakang di toko nya. Sekitar 5 menit emely menunggu, Jono kembali dengan membawa 10kg Beras ketan.
"Hey kau! Tolong angkut beras ini dan antarkan ke kendaraan emely parkir! Sekarang!"
Jono memerintah salah satu kuli nya. Kuli yg dimaksud pun mengerti, dimana letak dan motor emely biasa parkir, karena memang emely cukup dikenal karena kecantikan nya.
"Kau gila, aku minta sejumput kau beri 10kg, bagaimana aku harus membayar nya?"
"Tak perlu bayar! Jelas aku kawan mu. Aku bantu jika kau merasa kesusahan. Tenang sajalah, segera kembali, aku khawatir beras ketan mu di curi orang, ingat, sekarang musim pencuri merajalela, tak pandang siang maupun malam, bahkan hanya sebiji BH milik nenek-nenek mereka ambil, Jaman semakin gendheng!“
"Baiklah, kalau itu mau mu. Tapi, jika aku bisa mengembalikan nya suatu saat, mohon jangan kau tolak ya! Aku pamit"
Jono memperhatikan kawan kecilnya pergi, di antara lalu lalang banyak manusia. Jelas, Jono paham betul jika emely memang memiliki ketertarikan sendiri. Jono hanya tersenyum, mengingat bagaimana ia dan emely dulu. Zaman sudah berganti dan berubah. Tapi, yg namanya sahabat, memang di pastikan wajib abadi dan indah.
---
Emely kembali kerumah girwanda. Sesampainya, ia melihat girwanda tengah duduk di kursi goyang.
"Macam kakek-kakek kau!"
"Tapi yg lebih dulu menjadi nenek adalah kau, hahaha"
"Kau membawa pesanan ku???"
"ya! bahkan aku baru tau jika ada manusia senang pelihara belatung!"
"Selain sok menjadi pembohong, rupanya kau juga senang menjadi sok tau, hahaha"
"Banyak bicara! Apa yg harus dilakukan dengan binatang ini?"
"Sebelumnya, kenapa kau bawa ketan begitu banyak? Aku sebenarnya hanya minta 500 gram."
"Itu urusanku! Lalu aku harua lakukan apa dengan pesanan mu ini?"
"Kau ambil 2 mangkuk ketan, satu mangkuk kau taruh di meja kecil itu. dan sisanya kau rendam dengan air satu ember"
Emely menjalankan perintah girwanda, melakukan nya dengan cekatan dan rapih. Ia sebenarnya bingung, apa fungsi dari ini semua. Tetapi, ia pasti akan tahu sendiri jawabannya.
[B"Lalu?"[/B]
"Kau ambil beras ketan yg di meja kecil itu, dan belatung yg kau bawa tadi"
Baik, Setelah itu?"
"Kau taruh dan taburkan beras ketan itu di atas luka ku! Sekarang!"
Emely menjalankan perintah girwanda. Menaruh dan menaburkan beraa ketan itu pada area leher dan punggung. Hal yg tak disangka-sangka, beras ketan yg baru saja di taburi, Mengeluarkan asap dan gosong begitu saja.
"AAHH!!! SAKIT SEKALI!!!
Emely terkejut bukan main, Ketan yg ia taburkan menjadi begitu kering dan hitam. Seakan tubuh girwanda mengandung api yg sangat panas.
"Kenapa jadi begini??? Kau, kau terkena apa sebetulnya?"
Girwanda tidak menjawab pertanyaan Emely sedikitpun. Ia menahan sakit yg dirasakan setelah beras ketan mengenai tubuh nya. Matanya terpejam rapat, mulutnya meringis, Sakit dan perih memang. Setelah beberapa jam emely korek lukanya, baru ia rasakan sakit yg luar biasa. Kepala Girwanda berkunang-kunang, tubuhnya gelimpungan tak dapat lagi menahan bobotnya.
"Tolong, aku di telungkupkan di pembaringan ku, kau ambil belatung itu, dan taruh di atas luka ku segera! Lalu tolong balut punggung dan dadaku, Aku khawatir jika telat sedikit, luka ku akan membusuk"
Emely yg khawatir segera membantu memapah girwanda ke pembaringan nya. Dan segera menjalankan apa yg girwanda pinta.
Dalam keadaan setengah sadar, Ia bersumpah akan terus menjaga emely. Bahkan, jika dirinya harus mati itu bukan masalah lagi. Ia membayangkan wajah emely, tersenyum. Berharap hari-hari ke depan nya untuk emely, akan lebih indah lagi.
---
"Girwanda!!! Tolong akuuu!!!"
"Girwanda!!! Tolong akuuu!!!"
"Aku takut disini!!! Tolong aku girwanda!!!"
Teriakan dan jeritan yg menakutkan menyadarkan girwanda, girwanda tersadar dari tidurnya, dan sudah berada di tempat gelap, dingin dan menakutkan!
Ia mengerjapkan matanya, mengingat kembali, dimana ia sebelumnya! Tetapi ia tak sanggup mengingat, Sekarang, ia berada di atas pembaringan. Pembaringan yg dingin dan lembab. Kasar juga keras. Tangan nya meraba pembaringan nya. Sebuah batu, girwanda ternyata ada di atas sebuah batu besar. Hawa dingin memasuki lubang telinga nya, dingin yg berbeda, dingin yg membuat hati dan pikiran seketika membeku.
"GIRWANDAAA TOLONG AKU!!!"
Girwanda tersadar sepenuhnya setelah mendengar teriakan yg tidak asing lagi bagi nya. Emely, ya itu teriakan emely!
Girwanda segera bangkit dan berjalan dengan langkah goyah menuju suara teriakan emely. Berjalan di atas bebatuan kecil dan tajam sedikit menghalangi langkah girwanda, tetapi girwanda telah bersumpah terhadap dirinya, jika akan melindungi emely kapan pun. dan bagaimana pun.
Dalam cahaya obor yg redup dan remang, dan wewangian di ruangan yg di hiasi batu ini, kesadaran girwanda kembali terganggu, seperti tertarik mata girwanda selalu ingin terpejam. Dalam perjuangan nya untuk melangkah lebih dalam, girwanda dikejutkan dengan suara yg besar dan dalam, tepat di belakangnya!
"Mau Kemana?"
Girwanda segera menoleh dan Memperhatikan siapa yg berbicara, Girwanda kenal betul sosok ini, sosok yg sangat di benci nya juga sangat ditakuti nya jika mendekati emely.
"Kembalikan emely! Keparat!"
Girwanda berbicara dengan bersusah payah, sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya, dan pusing yg amat hebat yg ia rasa.
"Sayangnya, tidak akan pernah!"
Sosok itu mengangkat sebuah kayu besar yg dihiasi duri besi menghiasi seluruh permukaan kayu.
"Kau, betul-betul menantangku ya?"
Girwanda menajamkan matanya ke arah sosok tersebut, antara marah dan khawatir. bukan khawatir benda itu merobek tubuhnya, tetapi, khawatir jika emely dilukai olehnya!
"Jangan banyak bicara! Sebab perbuatan mu, kau pantas mati!"
Hantaman benda keras dan tajam menimpah tubuh lemah girwanda. Girwanda hanya menatap lekat sosok itu, sambil tersenyum.
"Tuhan tau mana yg wajib di musnahkan, sebab Tuhan tau, mana tangan kanan nya yg wajib di bela"
Tersenyum penuh makna, girwanda yg terluka tetap merasa menang. Perlahan mata nya terpejam. Sosok dihadapan nya mulai memudar, sepudar kemampuan nya. Dan semua perlahan menjadi,
Emely memperhatikan bekas cakaran yg terdapat di tubuh girwanda. Parah memang. Sayatan kecil namun panjang itu terus mengeluarkan darah. Darah yg merah dan segar. Terdapat memar di sepanjang luka itu, jika saja emely yg merasakan, akan betapa sakitnya luka yg dia alami. Apalagi ditambah, ia sengaja merobek luka girwanda untuk menguji apakah ia betul-betul kebal terhadap lukanya itu.
Emely, Sikapnya memang cuek dan keras. Tetapi, melihat keadaan girwanda yg seperti ini, ia tak bisa mempertahankan rasa sedih nya. Diam-diam, air mata sudah mengalir dari mata bulat nya. Girwanda, Apa yg ia alami semalam memang sulit untuk dilupakan. Pertama kalinya ia berkorban untuk seseorang, seseorang yg nasibnya sangat bergantung padanya. Melihat emely, membuatnya rindu dengan sosok perempuan itu. Sosok yg di rindukan seumur hidup.
"Kau tak usah pikirkan luka di punggung ku. Aku boleh minta sesuatu?"
Emely segera mengusap air mata di pipinya hingga kering agar girwanda tidak tau jika ia menangisi nya. Tapi tetap saja, girwanda adalah seorang yg berbeda darinya. Ia tau segalanya, bahkan jika emely menangis.
"Apa itu? katakan saja"
"Suaramu menjadi sangat dalam. Kau menangis ya?"
"Kau tak melihatku, jadi sebaiknya jangan sok tau"
"Apa aku perlu melihatmu? Rasa-rasa nya, kau yg jangan sok membohongiku"
"Kau perlu apa? Cepat katakan"
"Pengalihan yg baik! Baiklah, Toling carikan aku belatung, beberapa biji. Dan beras ketan"
"Kau menyuruhku cari binatang menjijikan itu?"
"Itu lebih baik daripada kau menangis saja! Cepat!"
Emely mendengus kesal mendengar ucapan girwanda. segera ia mengendarai motor ke pasar. Dengan kecepatan melebihi setan terbang, Emely menerobos jalanan kebun yg sepi siang itu untuk menuju pusat desa. Dalam perjalan ia tak habis pikir, apa yg sebenarnya terjadi dengan girwanda, luka itu, luka yg cukup serius.
"Apa dia bertemu binatang buas, hanya binatang buas yg punya cakaran seperti itu"
"Kenapa makhluk itu terus saja berdalih jika luka ditubuhnya bukan karena apa-apa, Lihat saja pasti aku tau, dan pasti jelas ku buktikan jika anak ini punya urusan yg tidak bisa dianggap remeh"
Knalpot bak kaleng rombeng kembali memecah kesunyian di hari yg hampir panas. Memasuki jalan besar pusat desa, Emely memarkir motornya tak jauh dari pintu masuk belakang pasar. Emely berjalan bersalip-salip karena suasana pasar yg sangat ramai pengunjung di setiap hari nya. Emely berjalan menuju suatu lapak yg di penuhi lalat. disana, ia akan dapat menemukan belatung yg di pinta girwanda, ya tempat pembuangan sayur mayur yg telah busuk dan rusak.
Ia mengambil secarik kertas. Lalu menempatkan beberapa puluh belatung di atasnya. Di rasa cukup. Emely membungkus kertas berisi belatung itu dan menaruhnya di tas kecil yg ia sampingkan di bahunya.
Kembali ia menelusuri jalanan pasar, dan berjalan ke arah pintu depan pasar, disana ia menjumpai jono, kawan main nya dulu yg sekarang terlihat tua dan kusam, walaupun perbedaan usia keduanya hanya berjarak 2 tahun. Jono, pedagang kaya di desa bambu mukti. Pedagang dengan pemilik ruko 8 pintu yg berisi ratusan ton beras.
"Oh hay emely, sahabat kecilku, ada kau sambangi aku si juragan beras di desa bambu mukti?"
"Aku minta sejumput beras ketan, nanti biar ayahku yg membayar nya padamu"
"Oh astaga, sejumput beras ketan? kau minta 1 ton aku berikan, wahai sahabatku"
Jono si juragan beras segera melangkah ke dalam toko, mengambil karung dan berjalan ke arah ruang belakang di toko nya. Sekitar 5 menit emely menunggu, Jono kembali dengan membawa 10kg Beras ketan.
"Hey kau! Tolong angkut beras ini dan antarkan ke kendaraan emely parkir! Sekarang!"
Jono memerintah salah satu kuli nya. Kuli yg dimaksud pun mengerti, dimana letak dan motor emely biasa parkir, karena memang emely cukup dikenal karena kecantikan nya.
"Kau gila, aku minta sejumput kau beri 10kg, bagaimana aku harus membayar nya?"
"Tak perlu bayar! Jelas aku kawan mu. Aku bantu jika kau merasa kesusahan. Tenang sajalah, segera kembali, aku khawatir beras ketan mu di curi orang, ingat, sekarang musim pencuri merajalela, tak pandang siang maupun malam, bahkan hanya sebiji BH milik nenek-nenek mereka ambil, Jaman semakin gendheng!“
"Baiklah, kalau itu mau mu. Tapi, jika aku bisa mengembalikan nya suatu saat, mohon jangan kau tolak ya! Aku pamit"
Jono memperhatikan kawan kecilnya pergi, di antara lalu lalang banyak manusia. Jelas, Jono paham betul jika emely memang memiliki ketertarikan sendiri. Jono hanya tersenyum, mengingat bagaimana ia dan emely dulu. Zaman sudah berganti dan berubah. Tapi, yg namanya sahabat, memang di pastikan wajib abadi dan indah.
---
Emely kembali kerumah girwanda. Sesampainya, ia melihat girwanda tengah duduk di kursi goyang.
"Macam kakek-kakek kau!"
"Tapi yg lebih dulu menjadi nenek adalah kau, hahaha"
"Kau membawa pesanan ku???"
"ya! bahkan aku baru tau jika ada manusia senang pelihara belatung!"
"Selain sok menjadi pembohong, rupanya kau juga senang menjadi sok tau, hahaha"
"Banyak bicara! Apa yg harus dilakukan dengan binatang ini?"
"Sebelumnya, kenapa kau bawa ketan begitu banyak? Aku sebenarnya hanya minta 500 gram."
"Itu urusanku! Lalu aku harua lakukan apa dengan pesanan mu ini?"
"Kau ambil 2 mangkuk ketan, satu mangkuk kau taruh di meja kecil itu. dan sisanya kau rendam dengan air satu ember"
Emely menjalankan perintah girwanda, melakukan nya dengan cekatan dan rapih. Ia sebenarnya bingung, apa fungsi dari ini semua. Tetapi, ia pasti akan tahu sendiri jawabannya.
[B"Lalu?"[/B]
"Kau ambil beras ketan yg di meja kecil itu, dan belatung yg kau bawa tadi"
Baik, Setelah itu?"
"Kau taruh dan taburkan beras ketan itu di atas luka ku! Sekarang!"
Emely menjalankan perintah girwanda. Menaruh dan menaburkan beraa ketan itu pada area leher dan punggung. Hal yg tak disangka-sangka, beras ketan yg baru saja di taburi, Mengeluarkan asap dan gosong begitu saja.
"AAHH!!! SAKIT SEKALI!!!
Emely terkejut bukan main, Ketan yg ia taburkan menjadi begitu kering dan hitam. Seakan tubuh girwanda mengandung api yg sangat panas.
"Kenapa jadi begini??? Kau, kau terkena apa sebetulnya?"
Girwanda tidak menjawab pertanyaan Emely sedikitpun. Ia menahan sakit yg dirasakan setelah beras ketan mengenai tubuh nya. Matanya terpejam rapat, mulutnya meringis, Sakit dan perih memang. Setelah beberapa jam emely korek lukanya, baru ia rasakan sakit yg luar biasa. Kepala Girwanda berkunang-kunang, tubuhnya gelimpungan tak dapat lagi menahan bobotnya.
"Tolong, aku di telungkupkan di pembaringan ku, kau ambil belatung itu, dan taruh di atas luka ku segera! Lalu tolong balut punggung dan dadaku, Aku khawatir jika telat sedikit, luka ku akan membusuk"
Emely yg khawatir segera membantu memapah girwanda ke pembaringan nya. Dan segera menjalankan apa yg girwanda pinta.
Dalam keadaan setengah sadar, Ia bersumpah akan terus menjaga emely. Bahkan, jika dirinya harus mati itu bukan masalah lagi. Ia membayangkan wajah emely, tersenyum. Berharap hari-hari ke depan nya untuk emely, akan lebih indah lagi.
---
"Girwanda!!! Tolong akuuu!!!"
"Girwanda!!! Tolong akuuu!!!"
"Aku takut disini!!! Tolong aku girwanda!!!"
Teriakan dan jeritan yg menakutkan menyadarkan girwanda, girwanda tersadar dari tidurnya, dan sudah berada di tempat gelap, dingin dan menakutkan!
Ia mengerjapkan matanya, mengingat kembali, dimana ia sebelumnya! Tetapi ia tak sanggup mengingat, Sekarang, ia berada di atas pembaringan. Pembaringan yg dingin dan lembab. Kasar juga keras. Tangan nya meraba pembaringan nya. Sebuah batu, girwanda ternyata ada di atas sebuah batu besar. Hawa dingin memasuki lubang telinga nya, dingin yg berbeda, dingin yg membuat hati dan pikiran seketika membeku.
"GIRWANDAAA TOLONG AKU!!!"
Girwanda tersadar sepenuhnya setelah mendengar teriakan yg tidak asing lagi bagi nya. Emely, ya itu teriakan emely!
Girwanda segera bangkit dan berjalan dengan langkah goyah menuju suara teriakan emely. Berjalan di atas bebatuan kecil dan tajam sedikit menghalangi langkah girwanda, tetapi girwanda telah bersumpah terhadap dirinya, jika akan melindungi emely kapan pun. dan bagaimana pun.
Dalam cahaya obor yg redup dan remang, dan wewangian di ruangan yg di hiasi batu ini, kesadaran girwanda kembali terganggu, seperti tertarik mata girwanda selalu ingin terpejam. Dalam perjuangan nya untuk melangkah lebih dalam, girwanda dikejutkan dengan suara yg besar dan dalam, tepat di belakangnya!
"Mau Kemana?"
Girwanda segera menoleh dan Memperhatikan siapa yg berbicara, Girwanda kenal betul sosok ini, sosok yg sangat di benci nya juga sangat ditakuti nya jika mendekati emely.
"Kembalikan emely! Keparat!"
Girwanda berbicara dengan bersusah payah, sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya, dan pusing yg amat hebat yg ia rasa.
"Sayangnya, tidak akan pernah!"
Sosok itu mengangkat sebuah kayu besar yg dihiasi duri besi menghiasi seluruh permukaan kayu.
"Kau, betul-betul menantangku ya?"
Girwanda menajamkan matanya ke arah sosok tersebut, antara marah dan khawatir. bukan khawatir benda itu merobek tubuhnya, tetapi, khawatir jika emely dilukai olehnya!
"Jangan banyak bicara! Sebab perbuatan mu, kau pantas mati!"
BUGHHH!!!
Hantaman benda keras dan tajam menimpah tubuh lemah girwanda. Girwanda hanya menatap lekat sosok itu, sambil tersenyum.
"Tuhan tau mana yg wajib di musnahkan, sebab Tuhan tau, mana tangan kanan nya yg wajib di bela"
Tersenyum penuh makna, girwanda yg terluka tetap merasa menang. Perlahan mata nya terpejam. Sosok dihadapan nya mulai memudar, sepudar kemampuan nya. Dan semua perlahan menjadi,
GELAP
pulaukapok dan dupa.fair memberi reputasi
2
Tutup