- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/20/10668384_20200520011303.jpg)
Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.
Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.
Spoiler for INDEX:
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for Peraturan:
Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.
Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 17-05-2026 02:21
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
475.9K
4.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#33
Main ke Kostan_Part 1
Ane habis pulang dari kuliah sore langsung menuju ke kostan. Tujuannya ya mau ngambil pesanannya si Anin yang udah ane pesan tadi pagi ke penjual. Semacam crafting gitu lah ane juga nggak perhatikan. Sebelumnya ane pulang dulu, mandi, salat, dan akhirnya siap untuk ke kostan cewek cantik. Ane pakai kaos warna hitam bergambar band metal favorit, celana jeans sobek dilutut kiri dan sendal jepit. Sekitar 10 menitan dari kostan ane menuju kostan Anin. Anin kost diwilayah Sultan gan. Maksudnya adalah, yang kost disini itu anak-anak orang kaya bin tajir gan. Kamar mandi didalam semua, ada yang full AC dan TV, ada pula yang udah sama air hangat, beda banget sama kostan ane yang bocor dimana-mana. Hahaha.
Sesampainya didepan pagar gedung, ane telpon Anin. Katanya langsung saja disuruh masuk. Ane melewati koridor dan menuju ke tangga. Kamar Anin ada di lantai 2. Pada saat perjalanan ane menuju ke tangga, ane lihat ada sosok yang tidak asing bagi ane. Vira. Dia ternyata sekostan sama Anin. Tapi penampilannya sangat berbeda, dia nggak pakai jilbabnya gan. Dia juga pakai celana yang pendek banget serta kaos kecil yang membentuk sekali bentuk tubuhnya. Gila. Rejeki nomplok ni sore-sore. Ane panggil Vira, dia menoleh dan sedikit kaget serta malu, karena dia nggak pakai pakaian yang biasa dia kenakan di kampus.
“Vira, Vir.” Ujar ane.
“eh oh, lo kok ada disini Ja? Aduh gue nggak pake kerudung nih. Mana kaosan doang lagi nih. Duh malu gue Ja. Hahaha.” Kata Vira.
“Santai aja kali, nggak usah panik, gue juga nggak akan langsung tegang ngeliat lo gitu Vir. Hahaha.” Kata ane lagi.
“Iya ga apa-apa Ja. Cuman gue nggak biasa aja. Hahaha. Udah ah gue masuk dulu Ja.” Katanya.
Dia masuk kedalam kamarnya, dan ane mendapati ada sepatu laki-laki yang terparkir diteras depan kamarnya. Wah, jangan-jangan pacarnya minta jatah. Hahahaha. Jauh-jauh datang dari Kebumen masa iya nggak dilayani, kostannya bebas juga ini kan. Ane berpikir liar seperti itu karena memang daerah Sultan ini terkenal dihuni oleh anak-anak pintar tapi tidak culun, tidak konservatif, bahkan cenderung bebas banget pergaulannya. Dari sebagian teman ane yang tinggal diwilayah ini, rata-rata sekarang sudah sukses dibidang pekerjaannya masing-masing, sedangkan banyak teman ane yang culun-culun tapi otaknya super-super malah cuman kerja dengan penghasilan ya lebih kecil dari anak-anak “bandel” tersebut. Kok bisa begitu ya? entahlah, mungkin koneksi dan komunikasi menjadi kunci sukses mereka.
--
Ane mengetuk pintu kamar Anin. Lalu terdengar suara Anin dari dalam yang menyuruh ane untuk masuk kedalam. Ane buka pintu kamarnya dan ane takjub berat sama kamarnya. Rapi banget, wangi dan dingin. Dia pakai AC, dan ada TV juga, serta kamar mandi didalam. Anin masih dikamar mandi. Ane menunggu duduk dipinggir kasur ukuran single sambil melihat-lihat kondisi kamar Anin. Pikiran ane langsung ada setannya kalau seandainya eksekusi disini pasti asyik banget. Suasananya mendukung banget. Apalagi lampunya juga nggak terang-terang banget hahaha. Beberapa menit kemudian Anin keluar dengan mengenakan celana pendek warna abu-abu, pake banget pendeknya, sampe separuh pantatnya kelihatan pas nungging. Dia pakai tanktop warna hitam, dan tanpa bra. Kenapa ane tahu? Karena ketika dia memunggungi ane, selain melihat selipan pantat, ane juga nggak melihat ada sesuatu yang menonjol dipunggungnya. Jadi bisa dipastikan dia tidak memakai bra ketika itu.
“Sori ya gue habis mandi.” Katanya sambil menyisir rambutnya yang agak basah.
“Eh iya nggak apa-apa kok Nin.” Sahut ane.
“Oh iya mana pesanan gue?” tanyanya.
“Ini Nin, gue bawain. Utuh nggak ada lecetnya. Hehehe.” Kata ane.
“makasih ya beb.” Kata dia.
“Hah? Beb? Nggak salah denger gue. Kita nggak pacaran kali.” Ujar ane, berlagak culun.
“ya nggak apa-apalah sekali-sekali manggil kayak gitu. Toh juga si Zalina nggak tahu.” Katanya santai.
“Zalina? Apa urusannya sama dia? Dia juga bukan siapa-siapa gue Nin.” Kata ane.
“hahahaha..b*go banget sih lo. Zalina itu tahu lo suka sama dia dari lama Ja. Lo nya aja yang b*go pedekatenya.” Sahut Anin.
“B*go gimana pedekate gue? Lo dapet cerita apa aja dari dia tentang gue Nin?” Tanya ane penasaran.
“Nggak agresif. Zalina itu senang cowok strong, struggling, dan nggak monoton karena dia senang dengan tantangan.” Kata Anin.
“Iya ya? masa gue kurang strong sih? Hahaha. Padahal gue juga gencar loh.” Kata ane.
“Kalau lo emang serius sama dia, bikin dia tertantang untuk ngelakuin sesuatu diluar pikiran dia.” Lanjut Anin.
“Waduh, contohnya apaan Nin?” Ane bertanya lagi.
“Kalo gue kasih tau, lo mau kasih apa ke gue?” Jawab Anin dengan membuat pertanyaan baru.
“lah kok jadi untung rugi begini sih. Yaudah gue cari sendiri aja deh caranya.” Kata ane nggak puas.
“Emang lo taunya kayak gimana si Zalina?” Tanya Anin lagi.
“Dia lembut, dia suka dengar orang melucu, easy going, dan ga neko-neko sih.” Kata ane.
“hahaha..segitu doang? B*go bener lo ah. Dia itu senang tantangan-tantangan baru.”
“Pantesan tadi dia bilang pas gue ajakin berenang katanya ga enak karena keliatan separo doang, mending keliatan semua. Itu tantangan kali ya menurut dia.”
“haha. Ya lo coba aja cari tau sendiri.”
“Oke gue coba. Eh gue sekalian pamit ya, mau magriban dulu, abis itu gue emang mau ke kostan dia Nin.” Ujar ane.
“Eh nanti dulu, magrib masih lama, lo juga baru sebentar disini. Santai dulu lah. Mau minum apa? Gue ada minuman dingin nih.” Kata Anin sambil menunjuk kulkas kecil dibawah meja TV yang ane nggak ngeh sama sekali keberadaannya dari tadi.
“Lo ada minuman apa?” Tanya ane.
“Lo liat aja sendiri nih.” Katanya.
Ane melihat kedalam kulkas, disana terdapat beberapa air minum dalam kemasan, dua botol coke dan yang paling menarik adalah dua kaleng Suntory Premium Malt, bir pilsener dari Jepang. Kenapa ane tahu? Kebetulan ane adalah orang yang senang memainkan game Yakuza series, jadi ya ane tahu dari situ. Kalau harganya ane nggak nanya-nanya.
“lo minum Nin?” tanya ane.
“Kadang-kadang doang sih. Kok lo tau?”
“Ini ada Premium Malt, ga terlalu kuat sih tapi lumayan juga.” Kata ane sok tahu dan sok mengerti, padahal mencoba saja belum pernah ketika itu.
“Oh itu oleh-oleh dari saudara gue, dia beli di Singapore.”
“wah mantap bener kalo jadi orang tajir mah yak.”
“hahaha biasa aja lagi.”
Sejurus kemudian ane menentukan mau minum Coke saja. Minuman yang sudah biasa ditemui dan akrab sama perut ane. Nggak lama ane berbalik badan kearah kasur dan mendapati Anin sedang duduk dikasur, tanpa tanktop.
“Nin apa-apaan lo? pake tanktop lo dulu ah. Gila kali lo ya.” ujar ane sambil terkejut, tapi senang juga, dapat rejeki gratis melihat gunung kembar Anin yang ternyata lumayan padat merayap dan masih sekel banget gan sis, diujungnya berwarna agak coklat. Hahaha. Pengen megang tapi takut keterusan. Nggak megang, rugi. Serba salah jadinya ane.
“ini namanya tantangan Ja. Zalina suka tantangan. Nah kayak gini contohnya.” Goda Anin.
“Nggak, nggak. Gue nggak bisa Nin. Kalau lo adalah orang yang gue sayang, udah gue habisin lo sekarang. Tapi ini nggak bisa. Ini salah Nin.” Kata ane takut, tapi bingung.
“Selama Zalina nggak ada sama lo, lo bisa sama gue Ja. Kan gue bilang gue juga lagi nyari cowok. Dan gue nyamannya sama lo Ja. Lo juga kalo ngobrol di chat HP suka menjurus-menjurus. Nah sekarang gue kasih aja sekalian nih.” Ucap Anin sangat santai.
“Nggak Nin, gue nggak bisa, sori Nin gue pamit dulu.” Kata ane panik dan langsung cabut dari kamar Anin. Seram sekali anak ini ternyata.
Sesampainya didepan pagar gedung, ane telpon Anin. Katanya langsung saja disuruh masuk. Ane melewati koridor dan menuju ke tangga. Kamar Anin ada di lantai 2. Pada saat perjalanan ane menuju ke tangga, ane lihat ada sosok yang tidak asing bagi ane. Vira. Dia ternyata sekostan sama Anin. Tapi penampilannya sangat berbeda, dia nggak pakai jilbabnya gan. Dia juga pakai celana yang pendek banget serta kaos kecil yang membentuk sekali bentuk tubuhnya. Gila. Rejeki nomplok ni sore-sore. Ane panggil Vira, dia menoleh dan sedikit kaget serta malu, karena dia nggak pakai pakaian yang biasa dia kenakan di kampus.
“Vira, Vir.” Ujar ane.
“eh oh, lo kok ada disini Ja? Aduh gue nggak pake kerudung nih. Mana kaosan doang lagi nih. Duh malu gue Ja. Hahaha.” Kata Vira.
“Santai aja kali, nggak usah panik, gue juga nggak akan langsung tegang ngeliat lo gitu Vir. Hahaha.” Kata ane lagi.
“Iya ga apa-apa Ja. Cuman gue nggak biasa aja. Hahaha. Udah ah gue masuk dulu Ja.” Katanya.
Dia masuk kedalam kamarnya, dan ane mendapati ada sepatu laki-laki yang terparkir diteras depan kamarnya. Wah, jangan-jangan pacarnya minta jatah. Hahahaha. Jauh-jauh datang dari Kebumen masa iya nggak dilayani, kostannya bebas juga ini kan. Ane berpikir liar seperti itu karena memang daerah Sultan ini terkenal dihuni oleh anak-anak pintar tapi tidak culun, tidak konservatif, bahkan cenderung bebas banget pergaulannya. Dari sebagian teman ane yang tinggal diwilayah ini, rata-rata sekarang sudah sukses dibidang pekerjaannya masing-masing, sedangkan banyak teman ane yang culun-culun tapi otaknya super-super malah cuman kerja dengan penghasilan ya lebih kecil dari anak-anak “bandel” tersebut. Kok bisa begitu ya? entahlah, mungkin koneksi dan komunikasi menjadi kunci sukses mereka.
--
Ane mengetuk pintu kamar Anin. Lalu terdengar suara Anin dari dalam yang menyuruh ane untuk masuk kedalam. Ane buka pintu kamarnya dan ane takjub berat sama kamarnya. Rapi banget, wangi dan dingin. Dia pakai AC, dan ada TV juga, serta kamar mandi didalam. Anin masih dikamar mandi. Ane menunggu duduk dipinggir kasur ukuran single sambil melihat-lihat kondisi kamar Anin. Pikiran ane langsung ada setannya kalau seandainya eksekusi disini pasti asyik banget. Suasananya mendukung banget. Apalagi lampunya juga nggak terang-terang banget hahaha. Beberapa menit kemudian Anin keluar dengan mengenakan celana pendek warna abu-abu, pake banget pendeknya, sampe separuh pantatnya kelihatan pas nungging. Dia pakai tanktop warna hitam, dan tanpa bra. Kenapa ane tahu? Karena ketika dia memunggungi ane, selain melihat selipan pantat, ane juga nggak melihat ada sesuatu yang menonjol dipunggungnya. Jadi bisa dipastikan dia tidak memakai bra ketika itu.
“Sori ya gue habis mandi.” Katanya sambil menyisir rambutnya yang agak basah.
“Eh iya nggak apa-apa kok Nin.” Sahut ane.
“Oh iya mana pesanan gue?” tanyanya.
“Ini Nin, gue bawain. Utuh nggak ada lecetnya. Hehehe.” Kata ane.
“makasih ya beb.” Kata dia.
“Hah? Beb? Nggak salah denger gue. Kita nggak pacaran kali.” Ujar ane, berlagak culun.
“ya nggak apa-apalah sekali-sekali manggil kayak gitu. Toh juga si Zalina nggak tahu.” Katanya santai.
“Zalina? Apa urusannya sama dia? Dia juga bukan siapa-siapa gue Nin.” Kata ane.
“hahahaha..b*go banget sih lo. Zalina itu tahu lo suka sama dia dari lama Ja. Lo nya aja yang b*go pedekatenya.” Sahut Anin.
“B*go gimana pedekate gue? Lo dapet cerita apa aja dari dia tentang gue Nin?” Tanya ane penasaran.
“Nggak agresif. Zalina itu senang cowok strong, struggling, dan nggak monoton karena dia senang dengan tantangan.” Kata Anin.
“Iya ya? masa gue kurang strong sih? Hahaha. Padahal gue juga gencar loh.” Kata ane.
“Kalau lo emang serius sama dia, bikin dia tertantang untuk ngelakuin sesuatu diluar pikiran dia.” Lanjut Anin.
“Waduh, contohnya apaan Nin?” Ane bertanya lagi.
“Kalo gue kasih tau, lo mau kasih apa ke gue?” Jawab Anin dengan membuat pertanyaan baru.
“lah kok jadi untung rugi begini sih. Yaudah gue cari sendiri aja deh caranya.” Kata ane nggak puas.
“Emang lo taunya kayak gimana si Zalina?” Tanya Anin lagi.
“Dia lembut, dia suka dengar orang melucu, easy going, dan ga neko-neko sih.” Kata ane.
“hahaha..segitu doang? B*go bener lo ah. Dia itu senang tantangan-tantangan baru.”
“Pantesan tadi dia bilang pas gue ajakin berenang katanya ga enak karena keliatan separo doang, mending keliatan semua. Itu tantangan kali ya menurut dia.”
“haha. Ya lo coba aja cari tau sendiri.”
“Oke gue coba. Eh gue sekalian pamit ya, mau magriban dulu, abis itu gue emang mau ke kostan dia Nin.” Ujar ane.
“Eh nanti dulu, magrib masih lama, lo juga baru sebentar disini. Santai dulu lah. Mau minum apa? Gue ada minuman dingin nih.” Kata Anin sambil menunjuk kulkas kecil dibawah meja TV yang ane nggak ngeh sama sekali keberadaannya dari tadi.
“Lo ada minuman apa?” Tanya ane.
“Lo liat aja sendiri nih.” Katanya.
Ane melihat kedalam kulkas, disana terdapat beberapa air minum dalam kemasan, dua botol coke dan yang paling menarik adalah dua kaleng Suntory Premium Malt, bir pilsener dari Jepang. Kenapa ane tahu? Kebetulan ane adalah orang yang senang memainkan game Yakuza series, jadi ya ane tahu dari situ. Kalau harganya ane nggak nanya-nanya.
“lo minum Nin?” tanya ane.
“Kadang-kadang doang sih. Kok lo tau?”
“Ini ada Premium Malt, ga terlalu kuat sih tapi lumayan juga.” Kata ane sok tahu dan sok mengerti, padahal mencoba saja belum pernah ketika itu.
“Oh itu oleh-oleh dari saudara gue, dia beli di Singapore.”
“wah mantap bener kalo jadi orang tajir mah yak.”
“hahaha biasa aja lagi.”
Sejurus kemudian ane menentukan mau minum Coke saja. Minuman yang sudah biasa ditemui dan akrab sama perut ane. Nggak lama ane berbalik badan kearah kasur dan mendapati Anin sedang duduk dikasur, tanpa tanktop.
“Nin apa-apaan lo? pake tanktop lo dulu ah. Gila kali lo ya.” ujar ane sambil terkejut, tapi senang juga, dapat rejeki gratis melihat gunung kembar Anin yang ternyata lumayan padat merayap dan masih sekel banget gan sis, diujungnya berwarna agak coklat. Hahaha. Pengen megang tapi takut keterusan. Nggak megang, rugi. Serba salah jadinya ane.
“ini namanya tantangan Ja. Zalina suka tantangan. Nah kayak gini contohnya.” Goda Anin.
“Nggak, nggak. Gue nggak bisa Nin. Kalau lo adalah orang yang gue sayang, udah gue habisin lo sekarang. Tapi ini nggak bisa. Ini salah Nin.” Kata ane takut, tapi bingung.
“Selama Zalina nggak ada sama lo, lo bisa sama gue Ja. Kan gue bilang gue juga lagi nyari cowok. Dan gue nyamannya sama lo Ja. Lo juga kalo ngobrol di chat HP suka menjurus-menjurus. Nah sekarang gue kasih aja sekalian nih.” Ucap Anin sangat santai.
“Nggak Nin, gue nggak bisa, sori Nin gue pamit dulu.” Kata ane panik dan langsung cabut dari kamar Anin. Seram sekali anak ini ternyata.
itkgid dan 30 lainnya memberi reputasi
31
Tutup
Zalina, 95% mirip Tala Ashe
Anin, 85% mirip Beby Cesara
Keket, 95% mirip, ane nggak kenal siapa ini, nemu di google
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043503.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/08/30/10668384_20190830043009.jpg)
Mulustrasi Ara, waktu masih SMA, 96% mirip![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/12/10668384_201909120424500824.png)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]](https://s.kaskus.id/images/2019/09/13/10668384_201909130223080915.png)
serta apresiasi cendol