- Beranda
- Stories from the Heart
SELASA KLIWON
...
TS
kaliankenalsaya
SELASA KLIWON
Selamat datang di Thread pertama saya. Silahkan di Nikmati cerita ber-genre horror yg saya suguhkan. Mohon maaf cerita akan saya post ulang dan di buat index demi kenyamanan para pembaca sekalian. Mudah-mudahan terhibur dengan cerita yg saya suguhkan. Silahkan di nantikan kelanjutan cerita yg saya buat. Terima kasih.
Quote:
Diubah oleh kaliankenalsaya 15-08-2019 22:02
evywahyuni dan 14 lainnya memberi reputasi
15
9.3K
51
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kaliankenalsaya
#11
CHAPTER 5
Malam telah larut di tengah sunyi, tiada suara manusia maupun binatang di kegelapan malam. hanya terdengar desisan angin yg merebak bulu kuduk di balik leher. Di jalan setapak itu, yg dipenuhi rumput, sepasang kaki yg kering kulitnya melangkah dengan cepat. di balik bayang-bayang pohon, telah berdiri sosok berjubah merah yg menunggu kedatangan nya sejak tadi, si jubah hitam.
Sang empu jubah hitam, berjalan menapaki tanah perhutanan selatan dengan mudah, tanpa penerangan apapun. Tanpa menyadari kehadiran si jubah merah, si jubah hitam tampak menaruh sesaji baru dan secawan darah yg saking kentalnya hampir terlihat hitam. Bersimpuh sambil komat-kamit membaca mantra, Si jubah hitam menyiramkan darah di cawan ke atas kembang yg telah di persiapkan. Setelah ritual membaca mantra selesai, dia genggam sebagian bunga yang telah di siram darah kemudian menelan nya. di akhiri dengan bersujud nya si jubah hitam di depan sesaji.
Jubah Hitam menoleh tajam ke arah persembunyian Jubah Merah, Dengan cepat Jubah Merah terbang ke atas pohon untuk menutupi persembunyian nya. Merasa tidak ada yg memperhatikan, jubah hitam berlalu pergi. Si jubah merah memperhatikan kepergian Jubah hitam, tak berapa lama, ia keluat dari tempat persembunyian. Mendekati sesaji itu, dan menendang nya hingga hancur berantakan. Bunga berdarah bertebaran di sekitar tanah hutan. Menjadikan bau anyir yg semakin kuat.
"Bisa apa Keparat itu kalau seserahan nya ini ku hancurkan!!!"
---
Gadis muda berjalan dengan kaku, pandangan kosong, dengan bibir robek sebelah. Mengenakan gaun putih penuh noda merah, Tangan dan Kaki di belengu rantai, Nyaris seperti mayat hidup yg berjalan. Menuruti perintah ghaib yg terngiang dalam telinga. Gadis muda itu terus berjalan mengikuti kegelapan, menuju suatu rumah dilembah gunung.
"Emely.. Emely..
Kemari sayang.. Kau dengar aku kan..
Emely, Pengantinku.. Kemari sayang, Berjalan lah dengan anggun mu..
Emely.. Emely.. sejak malam itu, jelas kau adalah punyaku.. Emely, Aku mencintaimu.. "
---
Pagi hari nya, Emely sudah buru-buru pergi ke rumah Girwanda, mereka cepat sekali dekat, seperti memiliki kecocokan sendiri. Rumah girwanda berada dekat perbatasan timur Desa bambu mukti, Mengendarai motor butut milik bapaknya, emely sudah kena semprot di subuh hari, bagaimana tidak, motor yg sudah dipersiapkan bapak nya untuk ke kebun di rebut begitu saja. tanpa pamit, tanpa salam.
" Anak Kampret! Kurang ajar! Wong tuo meh kerjo malah minggat! Pulang heh!!! Wedhus! "
seperti setan terbang emely memgendarai motor butut bapaknya dengan kencang, knalpot bagaikan kaleng rombeng memecah gendang telinga para pejalan kaki. sumpahan, kutukan terlontar dari mulut para pejalan kaki yg sakit telinga nya dan terkejut jantungnya.
" Sompret! Nyungsep kau nyungsep! kurang ajar!“
"harusnya monyet jangan di ajari naik motor!"
"Setan alas! Loncat jantung ku dengar knalpotmu!"
"Heh, cocot mu, aku cantik begini di bilang monyet! dasar simpanse!" Teriak Emely
Emely sampai di rumah girwanda, Rumah bertembok kayu, berlantai kayu, beratap bambu. Di sisi kanan terdapat tumpukan kayu, di sisi kiri terdapat tumpukan batu. di tengah-tengah terdapat tumpukan rumput. Rumah bagus yg tertutup tumpukan. Dan bagus nya, sebelum emely masuk, girwanda sudah menyambut di pintu rumah.
"Hay, kekasihku!"
"Kau baik-baik saja???"
"Ya, memang aku kenapa?"
"Aku bermimpi kau sakit?"
"Benar dugaan ku, perasaan mu sudah makin mendalam!"
Emely memperhatikan kulit pucat girwanda, kulit dan bibirnya putih pucat, sepertinya telah terjadi sesuatu terhadap girwanda. Emely ingin mendekati girwanda, tetapi segera di cegah. Girwanda melangkah ke arah tunpukan batu dan duduk di atas nya. Segera girwanda menoleh ke arah emely yg diam membeku menatap pucatnya girwanda.
"Kau kenapa? Duduklah kemari. menikmati udara pagi bisa membuat pikiran jernih"
Emely melangkah kaku ke arah girwanda. Menatap penuh ke dalam mata girwanda. Mencoba menelisik apa yg ada dalam pikiran girwanda, tapi tetap, emely tak mampu.
"Girwanda, kau yakin tak apa? kau pucat sekali pagi ini?"
"Aku tak apa-apa em, hanya saja seperti nya aku salah makan semalam. Sehingga aku mual dan muntah-muntah"
"Mau aku antar ke dokter dekat sini?"
"Tak perlu em, aku hanya ingin kau bantu basuh tubuhku memakai air rendaman dedaunan yg aku petik tadi pagi, supaya tubuhku kembali segar, Kau keberatan?"
"Oh baiklah, kemari aku bantu"
Mereka berdua melangkah kembali masuk kedalam rumah. menuju ruang belakang rumah girwanda, disana terdapat mangkuk kecil berisi dedaunan yg di rendam. Sehingga menghasilkan air yg sedikit kehijauan. Emely mengambil kain kecil di meja kecil milik girwanda, girwanda membuka kaus atas nya dan berbalik memunggungi emely.
"Kau basuh punggungku saja."
Emely membantu membersihkan pinggang bagian belakang girwanda yg panas. Emely berpikir apakah girwanda demam. Usapan demi usapan emely lakukan, dari bagian pinggang naik ke atas. ketika ia akan mengusap leher girwanda, emely menemukan beberapa garis seperti bekas cakaran. dan sebagiannya masih mengeluarkan darah. Emely menyentuh salah satu bekas cakaran itu.
"Apakah orang yg salah makan memiliki sisa cakaran ditubuhnya?"
"Kau bercanda. mana ada"
"Kau tak merasa sakitkah jika lukamu ini aku sentuh?"
"Luka apa?"
"Kau merasa betul tidak punya luka?"
"Kau bicara apa?"
Emely heran dengan pengakuan girwanda. Dia sedikit gemas dan semakin mengorek luka cakaran itu semakin dalam. Ia tau ada yg sedanh terjadi dalam diri girwanda. Ia tau bahwa telah terjadi sesuatu terhadap girwanda. Semakin ia korek luka tersebut, semakin banyak darah bercucuran di punggung girwanda.
"Kau tau, aku sekarang sedang merobek luka mu makin dalam. Apa kau tak merasa sakit???"
Sambil menyodorkan tangan penuh darah ke arah girwanda, girwanda hanya menoleh dan melihat darah itu dengan terkejut. Pikiran nya terlintas akan bayang-bayang kejadian semalam. Reaksi apa yg tubuhnya terima sampai ia kebal seperti itu.
"Wah.. Anu em, Apa luka keringku kau kelupas?"
"Luka kering? Jelas-jelas luka ini masih baru dan basah??? Girwanda ada apa sebenarnya?"
Sang empu jubah hitam, berjalan menapaki tanah perhutanan selatan dengan mudah, tanpa penerangan apapun. Tanpa menyadari kehadiran si jubah merah, si jubah hitam tampak menaruh sesaji baru dan secawan darah yg saking kentalnya hampir terlihat hitam. Bersimpuh sambil komat-kamit membaca mantra, Si jubah hitam menyiramkan darah di cawan ke atas kembang yg telah di persiapkan. Setelah ritual membaca mantra selesai, dia genggam sebagian bunga yang telah di siram darah kemudian menelan nya. di akhiri dengan bersujud nya si jubah hitam di depan sesaji.
Jubah Hitam menoleh tajam ke arah persembunyian Jubah Merah, Dengan cepat Jubah Merah terbang ke atas pohon untuk menutupi persembunyian nya. Merasa tidak ada yg memperhatikan, jubah hitam berlalu pergi. Si jubah merah memperhatikan kepergian Jubah hitam, tak berapa lama, ia keluat dari tempat persembunyian. Mendekati sesaji itu, dan menendang nya hingga hancur berantakan. Bunga berdarah bertebaran di sekitar tanah hutan. Menjadikan bau anyir yg semakin kuat.
"Bisa apa Keparat itu kalau seserahan nya ini ku hancurkan!!!"
---
Gadis muda berjalan dengan kaku, pandangan kosong, dengan bibir robek sebelah. Mengenakan gaun putih penuh noda merah, Tangan dan Kaki di belengu rantai, Nyaris seperti mayat hidup yg berjalan. Menuruti perintah ghaib yg terngiang dalam telinga. Gadis muda itu terus berjalan mengikuti kegelapan, menuju suatu rumah dilembah gunung.
"Emely.. Emely..
Kemari sayang.. Kau dengar aku kan..
Emely, Pengantinku.. Kemari sayang, Berjalan lah dengan anggun mu..
Emely.. Emely.. sejak malam itu, jelas kau adalah punyaku.. Emely, Aku mencintaimu.. "
---
Pagi hari nya, Emely sudah buru-buru pergi ke rumah Girwanda, mereka cepat sekali dekat, seperti memiliki kecocokan sendiri. Rumah girwanda berada dekat perbatasan timur Desa bambu mukti, Mengendarai motor butut milik bapaknya, emely sudah kena semprot di subuh hari, bagaimana tidak, motor yg sudah dipersiapkan bapak nya untuk ke kebun di rebut begitu saja. tanpa pamit, tanpa salam.
" Anak Kampret! Kurang ajar! Wong tuo meh kerjo malah minggat! Pulang heh!!! Wedhus! "
seperti setan terbang emely memgendarai motor butut bapaknya dengan kencang, knalpot bagaikan kaleng rombeng memecah gendang telinga para pejalan kaki. sumpahan, kutukan terlontar dari mulut para pejalan kaki yg sakit telinga nya dan terkejut jantungnya.
" Sompret! Nyungsep kau nyungsep! kurang ajar!“
"harusnya monyet jangan di ajari naik motor!"
"Setan alas! Loncat jantung ku dengar knalpotmu!"
"Heh, cocot mu, aku cantik begini di bilang monyet! dasar simpanse!" Teriak Emely
Emely sampai di rumah girwanda, Rumah bertembok kayu, berlantai kayu, beratap bambu. Di sisi kanan terdapat tumpukan kayu, di sisi kiri terdapat tumpukan batu. di tengah-tengah terdapat tumpukan rumput. Rumah bagus yg tertutup tumpukan. Dan bagus nya, sebelum emely masuk, girwanda sudah menyambut di pintu rumah.
"Hay, kekasihku!"
"Kau baik-baik saja???"
"Ya, memang aku kenapa?"
"Aku bermimpi kau sakit?"
"Benar dugaan ku, perasaan mu sudah makin mendalam!"
Emely memperhatikan kulit pucat girwanda, kulit dan bibirnya putih pucat, sepertinya telah terjadi sesuatu terhadap girwanda. Emely ingin mendekati girwanda, tetapi segera di cegah. Girwanda melangkah ke arah tunpukan batu dan duduk di atas nya. Segera girwanda menoleh ke arah emely yg diam membeku menatap pucatnya girwanda.
"Kau kenapa? Duduklah kemari. menikmati udara pagi bisa membuat pikiran jernih"
Emely melangkah kaku ke arah girwanda. Menatap penuh ke dalam mata girwanda. Mencoba menelisik apa yg ada dalam pikiran girwanda, tapi tetap, emely tak mampu.
"Girwanda, kau yakin tak apa? kau pucat sekali pagi ini?"
"Aku tak apa-apa em, hanya saja seperti nya aku salah makan semalam. Sehingga aku mual dan muntah-muntah"
"Mau aku antar ke dokter dekat sini?"
"Tak perlu em, aku hanya ingin kau bantu basuh tubuhku memakai air rendaman dedaunan yg aku petik tadi pagi, supaya tubuhku kembali segar, Kau keberatan?"
"Oh baiklah, kemari aku bantu"
Mereka berdua melangkah kembali masuk kedalam rumah. menuju ruang belakang rumah girwanda, disana terdapat mangkuk kecil berisi dedaunan yg di rendam. Sehingga menghasilkan air yg sedikit kehijauan. Emely mengambil kain kecil di meja kecil milik girwanda, girwanda membuka kaus atas nya dan berbalik memunggungi emely.
"Kau basuh punggungku saja."
Emely membantu membersihkan pinggang bagian belakang girwanda yg panas. Emely berpikir apakah girwanda demam. Usapan demi usapan emely lakukan, dari bagian pinggang naik ke atas. ketika ia akan mengusap leher girwanda, emely menemukan beberapa garis seperti bekas cakaran. dan sebagiannya masih mengeluarkan darah. Emely menyentuh salah satu bekas cakaran itu.
"Apakah orang yg salah makan memiliki sisa cakaran ditubuhnya?"
"Kau bercanda. mana ada"
"Kau tak merasa sakitkah jika lukamu ini aku sentuh?"
"Luka apa?"
"Kau merasa betul tidak punya luka?"
"Kau bicara apa?"
Emely heran dengan pengakuan girwanda. Dia sedikit gemas dan semakin mengorek luka cakaran itu semakin dalam. Ia tau ada yg sedanh terjadi dalam diri girwanda. Ia tau bahwa telah terjadi sesuatu terhadap girwanda. Semakin ia korek luka tersebut, semakin banyak darah bercucuran di punggung girwanda.
"Kau tau, aku sekarang sedang merobek luka mu makin dalam. Apa kau tak merasa sakit???"
Sambil menyodorkan tangan penuh darah ke arah girwanda, girwanda hanya menoleh dan melihat darah itu dengan terkejut. Pikiran nya terlintas akan bayang-bayang kejadian semalam. Reaksi apa yg tubuhnya terima sampai ia kebal seperti itu.
"Wah.. Anu em, Apa luka keringku kau kelupas?"
"Luka kering? Jelas-jelas luka ini masih baru dan basah??? Girwanda ada apa sebenarnya?"
pulaukapok dan dupa.fair memberi reputasi
2
Tutup