Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]
Selamat Datang di Thread Ane Gan/Sis 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] [18+]


Kali ini ane ingin sekali bercerita tentang seluk beluk perjalanan cinta ane yang mana sudah lama banget mau ane ceritakan, karena ane cukup mual juga kalau memendam kisah-kisah ini terlalu lama, ada yang mengganjal dihati, hitung-hitung sebagai penebusan dosa..hehe.. Mohon maaf juga sebelumnya karena ane masih nubie, mohon bimbingannya ya gan sis agar trit menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Terima kasih Gan Sis telah mendukung dan membaca Trit ini sehingga bisa menjadi HT di bidang STORY. Semoga kedepannya ane selalu bisa memperbaiki tulisan ini dengan baik sehingga semakin enak dibaca.


Spoiler for INDEX:


Spoiler for "You":



Spoiler for MULUSTRASI:


Spoiler for Peraturan:


Selamat membaca kisah ane yang menurut ane seru ini ya gan/sis.


Menurut ane, lagu ini kurang lebih mewakili diri ane di masa lalu gan sis


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 20-05-2020 13:13
xxxochezxxxAvatar border
DayatMadridistaAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 114 lainnya memberi reputasi
107
470.4K
4.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#22
Kenalan yang Lebih
Ane memulai kehidupan kampus yang monoton, nggak asik. Bulan berganti bulan makin membosankan. Mata kuliah-mata kuliah yang rata-rata eksakta membuat ane muak sekali menjalani kehidupan kampus ini. Tapi ane selalu semangat karena ada Zalina. Kami terus berhubungan baik, walaupun ya seperti diawal, ane belum bisa dapat kontaknya sama sekali. Zalina selalu mengajak bertemu di spot kantin yang kami sepakati. Yaitu dekat dengan spot tongkrongan senior-senior cowok. Banyak dari senior-senior ini yang memandang nggak enak ke ane, tapi ane malah selalu berlagak tengil sekalian jika ada mereka. Keributan tidak pernah terjadi sih, tapi ane selalu memancing-mancing senior-senior ini kalau lagi sama Zalina.

Pada suatu ketika, ane lagi makan sama Tanto dan Adi F, Zalina tiba-tiba minta ikutan gabung di meja kami. Dia membawa serta temannya yang bernama Anin. Anin bukan dari fakultas ane, melainkan fakultas tetangga. Dia lebih cantik dari Zalina gan sis. Hahaha. Adi F yang masih single pun berusaha untuk kenal lebih dekat dengan Anin ini, yang gayanya high class banget, khas anak Jakarta Selatan. Rambutnya diikat keatas, dia memakai jeans biru yang bagian bawahnya agak terlipat, sepatu sneakers, dan kemeja flanel dengan dua kancing teratasnya dibuka, tidak lupa dengan make up tipis yang membuat parasnya makin asyik dilihat. Wangi pulak dia ini. Kulitnya nggak seputih Zalina, tapi charmingnya sama. Apalagi anak ini ramah sekali ternyata.

“Gue Anin.” Seraya menjulurkan tangannya ke Ane.

“Ija. Panggil aja kayak gitu.” Sahut ane.

“Gue Adi F. kan daritadi gue udah julurin tangan duluan buat berjabat, kok lo malah ngenalin diri ke si as* ini sih? Ujarnya kesal. Ane, Tanto dan Zalina ketawa lepas berbarengan.

“Hahaha. Iya maaf, gue Anin, dan lo?” Tanya dia ke Adi F.

“Kan gue udah bilang, gue Adi F. haha.” Jawabnya sambil tertawa padahal nggak ada yang lucu.

“Lo mau kaya gimana juga pasti tersingkir Di, apalagi ada kita berdua.” Sahut Tanto sambil menunjuk dirinya dan ane.

“Ngehe lo emang, gue jadi berasa jelek sendiri diantara lo berdua s*tan!” Ujar Adi F. sambil tertawa.

Kita semua tertawa, baru kali ini akhirnya si Adi F melawak dan orang-orang yang menyaksikannya tertawa.

Tanto tidak memperkenalkan diri, dan Anin juga tidak menyapa Tanto. Ane bingung dengan pemandangan ini. Kok bisa kompak ya mereka.

“Eh Lin, ngapain berdua disini?” Tanya Adi F.

“Ya mau makan lah Di. Emang mau cuci piring?” Jawab Zalina asal.

“oh gue kira mau ketemu sama si Gobl*k ini.” Kata Adi F nunjuk ke ane.

“Sekalian sih emang gue lagi nyariin dia. Tadi gue ngeliat dia kearah kantin, eh ternyata bener.” Kata Zalina.

“Nyariin gue? Mau ngapain emang?” Tanya ane

“Temen gue ini mau dikenalin cowok, ga usah yang cakep-cakep banget yang penting pengertian, lucu, dan pintar. Nah kita disini semua kan pintar-pintar, jadi tinggal cari yang pengertian dan lucu. Nih gue kenalin akhirnya deh lo Ja.” Kata Zalina.

Dalam hati ane bingung setengah mati. Ini Zalina kenapa deh? Kemarin-kemarin hubungan ane sama dia baik-baik saja, sekarang malah mau dikenalin sama Anin temennya dia? Ini aneh banget sih. Tapi untung aja cakep si Anin ini. Jadi nggak apa-apalah. Cuma ane masih tetap pada target operasi awal ane, Zalina. Just her.

“Nin, kenapa lo nggak kenalan sama Tanto? Kan dia ganteng loh, cuman ga lucu dia. Hahaha.” Tanya Ane ke Anin.

“Lina mendeskripsikan lo dengan sangat baik Ja, makanya dari awal gue udah tahu kalo yang namanya Firzy alias Ija itu adalah lo. ternyata cukup oke juga, tapi lo kurus banget Ja. Hahaha.” Kata Anin.

“Ya emang gue kurus dari sananya, gue makan banyak aja cuman jadi angin doang kayaknya. Haha. Eh tapi si Zalina ngejelasin apa aja ke lo, Nin? Tanya ane makin kepo.

“Macem-macem Ja, dari mulai kondisi penampakan lo, kebiasaan lo, bahkan kesulitan lo untuk ngedapetin nomer kontaknya aja dia ceritain semua. Detail banget.” Lanjut Anin.

Ane kaget luar biasa mendengar ini semua. Zalina tahu ane sampai detail, mungkin kecuali si Rocky peliharaan ane. Ane senang, bangga, dan juga heran, padahal kesannya ini anak cuek kalau kita sedang bersama, ternyata…….

“Puas Ja? Seneng?” Ujar Zalina tiba-tiba.

“Biasa aja sih Lin, tapi gue kaget aja lo segitu perhatiannya sama gue.” Balas ane dengan nada sok kalem.

“Biasa aja ya? Oke deh. Berarti tugas gue untuk nyomblangin kalian selesai ya.” kata Zalina datar.

“Eh apa-apaan? Lin. Kok lo jadi niat nyomblangin gue ke Anin?” Tanya ane heran sekaligus kaget.

“Kan tadi dibilang, gue lagi nyari cowok Ja, dan lo salah satu kandidat yang diajuin sama Lina ke gue.” Jelas Anin.

“Jelas kan apa yang dibilang Anin?” Kata Zalina, kali ini agak sedikit ada penekanan.

“Iya sih, tapi nggak gini sih mestinya Lin.” Kata ane.

Zalina dan Anin diam saja dan melanjutkan makannya, sementara Tanto dan Adi F melirik ke arah ane tanpa bisa berkata-kata juga.

Tidak lama kemudian, mereka sudah selesai makan, ane, Tanto dan Adi F juga sudah selesai makan. Sebelum kami bubaran dari meja makan kantin, kami saling berpamitan untuk pulang ke kostan masing-masing. Ane masih bingung dengan keadaan ini. Ketika bingung, tiba-tiba Anin meraih ponsel ane yang sedang ane pegang dan kemudian menuliskan sebuah nomor kontak.

“Simpen nomer gue.” Ujar Anin setengah berbisik.

“Ha? Oh oke deh. Siap Nin.” Kata ane.

--

Kurang lebih dua bulanan setelah kejadian itu, ane jadi sering kontak dan chat sama Anin. Tapi ane juga masih kekantin, jalan atau ke perpustakaan bareng Zalina. Zalina senang membaca buku, ane juga. Di suatu momen di perpustakaan, Zalina ane gepin (tangkap) lagi ngeliatin ane lama banget. Ane yang berasa risih langsung mengibas-ngibaskan tangan ane ke depan mukanya. Ekspresinya datar tapi matanya menyorot langsung ke ane.

“Lin, lo kenapa? Tersepona lo sama gue? Hahaha.” Ujar ane.

“Nggak kok, gue lagi liat lo. kalau dilihat-lihat lo manis juga ya Ja.” Kata Zalina datar.

“Hah? Kan semua orang juga tau Lin. Hahaha.” Kata ane gugup ditembak kata-kata seperti itu.

Sejurus kemudian ane dipukul menggunakan beberapa buku diktat yang tebal dikepala. Sakitnya amit-amit asli.

“Dih, kenapa sih Lin? Kok tiba-tiba mukul gue? Salah gue apa?” tanya ane heran.

“ga apa-apa, pengen aja. Pengen tau seberapa kuatnya fisik lo.” jawab dia datar.

“fisik? Lo mau ngapain? Olahraga bareng gue? Berenang mau?”

“Tanggung kalo berenang mah keliatan separo, mending yang keliatan semua.”

Ane makin bingung sama pernyataan dia ini. Ada apa sama Zalina. Kok aneh banget dia hari ini.

“hah? Gimana-gimana? Kok gue nggak nyambung ini.” Kata ane.

“Lo mau kontak gue kan selama ini? Gue kasih, tapi ambil di kostan gue ya.” Kata dia, lagi-lagi ekspresinya datar.

“wah seriusan Lin? Hahaha. Makasih ya Lin, akhirnya gue bisa kontak lo juga.” Ujar ane sumringah berat.

“iya.” Jawabnya singkat.

((drettt dreett drettt))

HP ane bergetar karena di silence, maklum perpustakaan tidak boleh berisik.

ANIN.

Quote:


“Siapa?” tanya Zalina tiba-tiba.

“Anin nih. Dia nitip barang ke gue buat dibawain, soalnya penjualnya kan deket kostan gue, jadi sekalian aja nanti.” Jawab ane.

“Udah sejauh mana lo sama Anin?” tanya dia lagi.

“Nggak jauh-jauh sih, cuman ngobrol via HP doang, ketemu juga jarang-jarang.”

“Oh, oke.” Kata Zalina, datar lagi.

“Gue ke kostan lo nanti malam ya Lin abis gue beresin tugas.” Kata ane.

“Iya, gue tunggu nanti malam oke?” kata Zalina.

Sehabis itu gue dan Zalina ke gedung fakultas untuk kuliah. Mata kuliah kali ini kami ambil bersamaan, karena memang bisa dipilih dijurusan ane maupun jurusannya Zalina. Kami jalan bareng sambil ngobrol. Disini Zalina menjadi lebih ekspresif, tidak seperti di perpustakaan tadi, datar. Kami tiba dikelas dan sudah ramai teman-teman dari dua jurusan, jadinya kelas besar ini sangat ramai. Seru. Kami menikmati mata kuliah ini dengan baik, ane sama Zalina duduk agak kebelakang, sesekali diskusi, dan malah ngegosipin senior senior dari jurusan teknik yang pada buluk-buluk. Hahaha.


Diubah oleh yanagi92055 13-08-2019 15:28
sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 24 lainnya memberi reputasi
25
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.