alexa-tracking
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
Lapor Hansip
30-07-2019 00:34

Raja Jawa Kehilangan Pesisir Utara Tahun 1670-1680

Assalamualaikum WR.WB



Amangkurat I


Pasca mangkatnya Sultan agung pada tahun 1645, suksesi kerajaan Mataram dilanjutkan oleh putra mahkota yang bernama Raden Mas Sayidin yang bergelar Amangkurat I. Amangkurat berasal dari dua kata yaitu Amangku yang artinya memangku dan rat yang artinya bumi. Beralasan memang karena Amangkurat I mewarisi wilayah dan kekuasaan yang besar pasca Sultan agung. Wilayah kekuasaan Mataram membentang dari Jawa Tengah sampai Ke jawa timur serta beberapa wilayah kerajaan bawahan seperti Cirebon, Palembang, Surabaya, dan beberapa kerajaan di kalimantan. Selayaknya seorang raja jawa, Amangkurat memiliki beberapa istri namun yang diakui yaitu dua orang istri yang masing-masing bergelar Ratu Wetan dan Ratu Kulon. Ratu Wetan melahirkan anak yang nantinya menjadi suksesor mataram, Amangkurat II dan Ratu Kulon akan melahirkan anak yang kelak menjadi Pakubuwana I.  Dengan nama resmi Kanjeng Susuhunan Prabu Amnagkurat Agung, masa pemerintahannya jauh dari kata stabil. Pasca kepemimpinan ayahnya, Sultan Agung banyak ketidakpuasan saat Amangkurat berkuasa. Ia mengganti pejabat loyalis Sultan Agung dengan cara mengirimkan mereka ke pertempuran dan ditengah perjalanan membunuh mereka. Keraton dibersihkan dari orang-orang yang menentang kekuasannya.


penyerangan batavia oleh mataram



Pasca berkuasa selama 2 tahun, Amangkurat I memindahkan kekuasaannya ke Plered dengan membangun istana dari batu bata. Kepindahan ibukota ini diwarnai oleh pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Alit yang merupakan adik kandung dari Amangkurat I. Pangeran Alit menentang pembersihan keraton dari loyalis Sultan agung dan menganggap Amangkurat I tidak berjiwa seperti mendiang ayahnya. Pemberontakan ini didukung oleh ulama yang berasal dari kajoran yang merupakan kampung halaman dari istrinya, Ratu Kulon. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan dengan terbunuhnya pangeran alit. Konsekuensi dari pemberontakan ini adalah muncul rasa curiga Amangkurat I terhadap golongan ulama yang telah berkomplot dengan pangeran alit mengadakan pemberontakan. Untuk itu ia memerintahkan untuk membantai ulama yang diduga berkomplot mengadakan pemberontakan. Sekitar 5000-6000 ulama dibantai di alun-alun dan disaksikan oleh seluruh rakyat mataram. Bukan hanya itu, Amangkurat juga menghukum mertuanya sendiri, Pangeran Pekik atas dugaan keterlibatannya memberontak dengan hukuman mati.


Penaklukan Makassar oleh VOC



Sikap Amangkurat I yang banyak ditentang yaitu hubungannya dengan VOC. Pada masa Sultan Agung, Mataram sangat menaruh sikap permusuhan terhadap VOC karena monopoli dagang yang dilakukannya serta melakukan beberapa provokasi dan pada masa Sultan Agung mataram bahkan pernah menyerang batavia walaupun gagal. Amangkurat I mengizinkan VOC membuka pos dagangnya di kawasan utara jawa sebagai imbalannya mataram diperbolehkan berdagang dengan wilayah pendudukan VOC. Muncul rasa tidak suka dari kalangan keraton terutama oleh Pangeran Trunojoyo. Ia adalah salah satu anggota keraton yang berasal dari Madura. Ia merupakan anak dari penguasa Madura yang ditaklukan oleh Mataram. Ayah Trunojoyo dihukum mati oleh Mataram dan Trunojoyo sejak saat itu tidak suka terhadap kekuasaan Mataram utamanya Amangkurat I. Trunojoyo pulang ke Madura dan menghimpun kekuatan. Disana ia bersekutu dengan prajurit-prajurit Makassar yang melarikan diri ke Jawa setelah kerajaannya di Makasar ditaklukan oleh VOC. Mereka dipimpin oleh seseorang bernama Karaeng galesong. Prajurit makassar ini memendam kebencian yang amat sangat terhadap VOC yang telah menghancurkan tanah kelahiran mereka dan berniat untuk membalas dendam. Mereka bergabung dibawah bendera Trunojoyo untuk melakukan pemberontakan melawan Mataram yang bersekutu dengan VOC.


wilayah Mataram masa Sultan Agung



Pemberontakan dimulai dengan melakukan serangan pesisir jawa mulai dari arah timur yaitu merebut Surabaya dan Gresik dan terus ke barat. Mengatasi hal tersebut, Amangkurat I lalu memusatkan kekuatannya di Jepara dengan menunjuk gubernur militer yang tujuannya menahan pemberontak tersebut. Namun gerakan yang dilakukan oleh pemberontak terlalu kuat untuk dihadapi oleh pasukan Mataram yang kebanyakan merupakan prajurit yang direkrut dari petani. Mereka tidak memiliki semangat bertempur yang baik dan mereka tidak cukup termotivasi untuk mengabdi kepada Amangkurat I. Daerah pesisir utara jawa diduduki oleh pasukan Trunojoyo bahkan sampai Cirebon. Keadaan semakin gawat ketika pasukan Trunojoyo bergerak menuju ibukota Plered. Raja beserta sanak keluarga dan beberapa pendukung setia mengungsi. Mereka mengungsi ke daerah Tegal yang merupakan daerah asal nenek Amangkurat I. Kraton Plered ditinggalkan dengan sedikit pasukan yang berjaga. Ketika pasukan Trunojoyo datang mereka mendapatkan perlawanan yang tidak berarti dan menjarah keraton Plered dan membawa harta rampasan ke Gresik yang menjadi Ibukota baru trunojoyo.

Amangkurat II




Amangkurat I jatuh sakit dan sekarat saat perjalanannya ke Tegal. Diperjalanannya tersebut Amangkurat I berpesan untuk memakamkannya di kawasan Tegal Arum. Selain itu ia juga mewariskan tahtanya ke pangeran mahkota yang dengan segera bergelar Amangkurat II setelah Amangkurat I mangkat. Amangkurat II berusaha untuk menjaga legitimasi Mataram tetap ada dengan meminta bantuan kepada Cirebon, nbamun Cirebon yang merupakan daerah bawahan Mataram itu menolak dan memilih untuk merdeka di bawah dukungan Kesultanan Banten. Amangkurat II sendirian ditambah kekurangan pasukan dan harta yang semakin menipis di tambah dengan pemberontakan yang dilakukan oleh pamannya, Pangeran Puger yang mengangkat dirinya sebagai raja pasca penyerangan keraton Plered dan mengangkat dirinya sebagai raja Mataram dengan gelar Pakubuwono I.

Pasukan VOC




Tidak ada pilihan lagi kecuali bersekutu dengan setan yaitu VOC. Amangkurat II meminta bantuan VOC untuk mengembalikan tahtanya dengan imbalan berupa uang dan wilayah yaitu pesisir utara jawa seluruhnya akan dibawah kontrol VOC dan Mataram mengakui kekuasaan VOC. Mataram dan VOC bergabung untuk merebut kembali kekuasaan Mataram dengan pasukan yang lebih baik. Pasukan VOC dengan cepat merebut kembali pesisir utara jawa yang direbut dari Trunojoyo sebelumnya. VOC mendirikan basis pertahanan di Semarang yang dijadikan sebagai basis militer mereka. Disusul dengan pendaratan VOC di Madura dan menguasai daerah yang merupakan daerah asal trunojoyo. Dari Plered, pasukan gabungan Mataram VOC menyerang trunojoyo di Kediri. Untuk menambah kekuatan, VOC mendatangkan bantuan dari bugis dibawah kekuasaan Arung Palaka yang sebelumnya pernah membantu VOC menaklukan Makassar. Kekuatan pasukan Mataram-VOC menggetarkan Trunojoyo. Terlebih lagi pasukan VOC bersenjatakan senjata eropa antara lain senapan, pedang, sera pistol dan meriam yang menambah daya gedor pesukan koalisi tersebut.

penyerangan Kediri Oleh VOC




pasukan koalisi VOC-Mataram sangat efektif. Daerah kekuasaan Trunojoyo perlahan menyusut, Kediri menyerah pada November dibawah kepungan Kapten Francois Tack. Mereka melanjutkan mengepung Surabaya dan segera setelah Surabaya menyerah Amangkurat mendirikan keratonnya. Tahun 1679 gabungan pasukan VOC-bugis-Jawa dibawah komando Sindu Reja dan Jan Albert Sloot mengalahkan raden Kajoran dan mengeksekusinya. Setelah pasukannya runtuh dan kediri berhasil dikuasai, Trunojoyo ahirnya menyerah kepada mataram dan VOC pada ahir tahu 1679. Trunojoyo diperlakukan sebagai tawanan oleh VOC dan diberlakukan secara terhormat. Pada saat tahun 1680, Amangkurat II melakukan konjungan ke Istana Payak tempat dimana Trunojoyo ditahan, setelah Amangkurat II bertemu dengan Trunojoyo, ia menikam trunojoyo dengan pisau. Trunojoyo tewas ditikam oleh Amangkurat II. Tindakannya tersebut mendapat tentangan keras oleh VOC namun Amangkurat berdalih ia hanya membela diri. Amangkurat tidak pernah ditahan setelahnya.

Pangeran Puger alias Pakubuwono I




Pasca pemberontakan Trunojoyo, Amangkurat II yang sementara berkedudukan di Surabaya kembali meminta bantuan VOC untuk mengklaim tahtanya di istana plered yang dikuasai oleh pamannya Pakubuwono I. Terjadi pertempuran lagi di istana Plered dimana Amangkurat II berhasil mengusir pamannya tersebut. Namun pamannya itu mampu menduduki lagi kraton Plered dan ahirnya Amangkurat berghasil menumpas pemberontakan adiknya tersebut. Amangkurat II mengampuni pamannya tersebut dan memberikan wilayah yang nantinya akan menjadi daerah jogja. Sedangkan Amangkurat II mendirikan ibukota baru di Kartasura. Hal ini nantinya akan berkembang menjadi pecahnya Mataram menjadi 4 kerajaan.


Jawa Pasca runtuhnya Mataram



Mataram setelahnya harus membayar mahal bantuan yang diberikan oleh VOC. Melalui perjanjian yang telah disepakati sebelumnya, mataram mengakui keberadaan VOC di jawa dan menyerahkan pesisir utara jawa kepada VOC serta membayar berupa uang kepada VOC. Mataram bangkrut karena sumber pendapatan mataram adalah perdagangan yang dilaksanakan di kota-kota pelabuhannya di utara jawa. Hal itulah menjadikan mataram berhutang sejumlah uang kepada VOC yang menjadikan peran VOC semakin dominan dalam menentukan urusan keraron bahkan menempatkan wakil dan pengawasnya dalam keraton. Wilayah kekuasaan Mataram menyusut drastis dan hanya berkuasa di pedalaman saja. Dampaknya terjadi pergeseran dimana mataram berubah menjadi kerajaan agraris dankehilangan sektor pendapatannya melalui perdagangan di utara. selain itu kestabilan politik tidak pernah lagi tercapai dimana sering timbul perpecahan dan pemberontakan yang dilakukan oleh kerabat keraton sendiri. Masyarakat jawa kehilangan identitasnya sebagai pelayar dan pedagang lintas lautan dan terkubur bersama dengan berubahnya mataram menjadi agraris sampai mataram nemeui ajalnya dan pecah menjadi 4 kerajaan yang berbeda.
-JAS MERAH-


SUMBER PENULISAN :
SUMBER 1

SUMBER 2

silahkan diskusi sesuai dengan meninggalkan komentar 

Mengharapkan Cendol dan Bata 

Rate dan Share bila berkenan
Diubah oleh gurusejarah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
smogal dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
10-08-2019 23:18
Quote:Original Posted By yoseful
Ia mengganti pejabat loyalis Sultan Agung dengan cara mengirimkan mereka ke pertempuran dan ditengah perjalanan membunuh mereka. Keraton dibersihkan dari orang-orang yang menentang kekuasannya.

selain kasus pembantaian massal kaum ulana jawa sbnyk ribuan jiwa, kasus purge politik & militer itu poula yg melemahkan pasukan militer nya kesultanan mataram era amagkurat 1 ya agan TS ??


Yak betul gan, kebanyakan panglima masa amangkurat I merupakan panglima perang sultan agung yang anti terhadap belanda dan sering selisih paham dengan amangkurat I oleh karena itu amangkurat I melakukan pemberantasan di internal yang juga menyasar panglima perang yang berpengalaman
profile-picture
profile-picture
bam09 dan yoseful memberi reputasi
2 0
2
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.