Kaskus

Story

sandriaflowAvatar border
TS
sandriaflow
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati


Quote:


Spoiler for Daftar Bab:


Diubah oleh sandriaflow 01-12-2020 19:11
santinorefre720Avatar border
blackjavapre354Avatar border
rizetamayosh295Avatar border
rizetamayosh295 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
15K
134
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
sandriaflowAvatar border
TS
sandriaflow
#19
Bab 3: Pulang

Mereka berempat tengah mengemasi barang mereka masing-masing. Sudah saatnya pulang. Sebelum itu, Arman mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada Jojo.

“Kau yakin tidak mau menemui dia, Jo?”
“Sudahlah. Aku gak punya niat untuk ketemu dia di sini,” jawab Jojo setengah malas. Ia sendiri ragu apakah perasaannya akan kembali pulih jika bertemu dengan gadis itu. Mungkin saja, perasaannya kian menentu jika bertemu dengan Rara, mantan kekasih Jojo.
“Kami bisa menunggumu, Jo. Kau ketemu dia gih. Pumpung kita lagi di Jogja,” sahut Revan.
“Iya, Jo. Nanti kau menyesal lagi,” tambah Ipul. Mereka bertiga bersimpati dengan Jojo. Ini memang kesempatan yang bagus untuk menemui Rara yang tengah kuliah di Jogja.
“Keputusanku sudah bulat, gengs. Hubungan kami sudah selesai. Tak ada lagi yang perlu diperjelas,” jawab Jojo setengah ngegas tapi tegas. Ketiga sahabatnya itu pun diam. Keputusan Jojo rupanya sudah bulat.

Setelah semua barang dikemasi, Arman dan kawan-kawan berpamitan dengan pakdenya. Perjalanan selama beberapa hari di Jogja ini sangat menyenangkan dan juga menyimpan makna. Tanda tanya yang mengambang pada diskusi kemarin malam.
“Pakde, kami mau pamit dulu. Terima kasih banyak atas bantuan dari Pakde,” ujar Arman sembari bersalaman dengan pakde. Diikuti oleh Revan, Ipul, dan juga Jojo.
“Kalian mau naik apa? Pakde antar ke stasiun saja ya,” tanya pakde sekaligus menawari bantuan. Awalnya Arman menolak karena sungkan. Lagipula, mereka bisa naik taksi online seperti kemarin-kemarin.
“Saya takut merepotkan Pakde,” jawab Arman malu-malu.
“Halah, kayak sama siapa saja to. Ya sudah, Pakde antar saja,”

Pakde kemudian langsung pergi ke garasi dan menghidupkan mobilnya. Kami bersiap-siap menunggu pakde di depan gerbang rumah. Setelah semua siap, pakde pun memacu mobilnya dan mengantarkan kami ke stasiun Tugu.

***

Mereka berempat datang lebih awal dari jadwal keberengkatan kereta. Revan mengajak ketiga sahabatnya untuk ngopi sebentar di kafe yang ada di sekitar stasiun.

“Man, ngomong-ngomong bagaimana kabar hubunganmu dengan si Dewi?” tanya Revan sembari mengaduk-aduk cangkir kopi yang dipesannya barusan.
“Ya gitulah. Kau tahu sendiri Dewi orangnya seperti apa. Susah ditebak,” jawab Arman santai. Mereka sudah mengenal sejak lama, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berani mengungkapkan perasaan mereka.
“Lha, kau sendiri gimana, Van?” tanya Jojo.
“Iya, kau nggak pernah cerita ke kita-kita soal hubunganmu?” timpal Ipul. Revan hanya tertawa kecil melihat dirinya diserang dari dua arah.
“Ah, aku mah santai. Aku bisa saja dekat dengan siapa saja. Tak perlu status atau ikatan karena ribet. Kalau emang suka ya suka, kalau udah gak ada harapan ya udah kita pisah. Gitu aja,” jawab Revan santai.

Bagi mereka bertiga, pemikiran Revan memang sedikit gila. Dia memang yang paling sering gonta-ganti pasangan tapi selalu saja tidak ada kejelasan di antara dia dan pasangannya.
“Hati-hati, nanti kau kena karma karena mempermainkan perasaan orang,” ujar Jojo dengan nada menakut-nakuti. Revan malah tertawa dan menganggapnya santai.
“Kita masuk ke stasiun saja, yuk. Di sana kita bisa duduk-duduk di sana sambil menunggu kereta datang,” ujar Arman. Semua sepakat dan segera beranjak dari tempat duduknya masing-masing.

Mereka pun antri di tempat pemeriksaan tiket satu per satu. Lalu, mereka segera mencari tempat duduk yang kosong. Sayangnya, semua tempat sudah penuh. Hal itu memaksa untuk mereka berdiri atau lesehan di atas peron stasiun.

Untuk melepas kebosanan, Ipul mencoba melawak dengan tingkah konyolnya. Arman dan Revan tertawa keras, tapi tidak dengan Jojo. Sedari tadi, tatapannya tertuju ke seorang perempuan yang tengah berbicara dengan seorang lelaki. Jojo menatap perempuan itu lekat-lekat dan mencoba memastikan bahwa yang dia lihat itu salah.

“Jo, kau melamun? Ada apa woi?” suara Revan menyadarkan lamunan Jojo.
“Eh, nggak ada apa-apa. Aku lagi kepikiran sesuatu aja,” jawab Jojo spontan penuh kebohongan.
Tak lama kemudian, kereta api jurusan Malang datang. Mereka segera beranjak dari posisinya dan membawa barang bawaan mereka. Kemudian, mereka antri satu persatu untuk naik ke dalam kereta.
Tempat duduk mereka saling berdekatan. Jadi, mereka bisa saling bercanda dengan leluasa. Namun, Jojo lebih memilih diam dan wajahnya terlihat murung. Ketiga sahabatnya heran setengah mati. Padahal beberapa saat yang lalu dia masih tertawa lepas bersama mereka.
“Jojo kenapa lagi?” Revan berbisik pelan kepada Ipul.
“Nggak tau. Mungkin dia lagi gak enak badan,” jawab Ipul.

Suasana pulang terasa lebih hening dibanding perjalanan kemarin. Keempat dari mereka membawa beban masing-masing. Sekali lagi, tanda tanya besar itu masih menggantung di benak mereka. Kapan mereka punya komitmen dengan seseorang?
fransjabrik
pulaukapok
pulaukapok dan fransjabrik memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.