- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Kita Untuk Selamanya 2 : Harpocrates [TAMAT]
...
TS
rendyprasetyyo
Cerita Kita Untuk Selamanya 2 : Harpocrates [TAMAT]
Quote:
SELAMAT DATANG DI CERITA KITA UNTUK SELAMANYA SERIES.
TENANG, CERITA KITA, APAPUN UJUNGNYA, AKAN DIKENANG SELAMANYA.
BASED ON TRUE STORY.
Seperti biasa, sebelum masuk ke inti cerita, ada beberapa hal yang harus gw jelasin dulu disini yah. Gak banyak kok dan sifatnya juga sepele, tapi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kedepannya hal-hal sedikit dan sepele ini tetep harus disampaikan
Pertama,dan yang paling penting, adalah cerita ini merupakan lanjutan dari cerita yang sudah gw tulis sebelumnya (Cerita kita untuk selamanya). 70% formatnya masih sama, cuma di cerita ini nanti ada beberapa tokoh baru dan latar baru juga. Anggap cerita ini fiksi supaya tidak ada asumsi-asumsi yang tidak diinginkan yang lahir dari anggapan kalau cerita ini non-fiksi, apa sih
ini cerita sebelumnya:
TENANG, CERITA KITA, APAPUN UJUNGNYA, AKAN DIKENANG SELAMANYA.
BASED ON TRUE STORY.
Seperti biasa, sebelum masuk ke inti cerita, ada beberapa hal yang harus gw jelasin dulu disini yah. Gak banyak kok dan sifatnya juga sepele, tapi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kedepannya hal-hal sedikit dan sepele ini tetep harus disampaikan

Pertama,dan yang paling penting, adalah cerita ini merupakan lanjutan dari cerita yang sudah gw tulis sebelumnya (Cerita kita untuk selamanya). 70% formatnya masih sama, cuma di cerita ini nanti ada beberapa tokoh baru dan latar baru juga. Anggap cerita ini fiksi supaya tidak ada asumsi-asumsi yang tidak diinginkan yang lahir dari anggapan kalau cerita ini non-fiksi, apa sih

ini cerita sebelumnya:
Cerita Kita Untuk Selamanya versi FULL SERIES (Series 1 dan 3) :
Kedua, Bibi masih ada? masih. bibi selalu ada didalam hati dan sanubari gw jadi dia masih dapet porsi dicerita ini, gak besar-besar amat tapi cukup, kalian ngertilah maksud gw apa.
Ketiga,karena cerita ini lanjutan dari cerita sebelumnya, jadi gw saranin kalian buat baca dulu cerita yang pertama sebelum lanjut ke cerita ini.
Ke-empat, poin ini masih gw tujukan untuk menjelaskan betapa apresiasi dari kalian itu berharga banget buat gw, jadi kalau berkenan selalu tinggalkan komen dan kalau suka jalan ceritanya bisa tinggalkan ratenya, it reaaallly means something guys for me, halah
Terakhir, sebelum baca cerita ini jangan lupa berdoa dulu, karena bakal ada adegan horror yang terjadi. jadi persiapkan diri kalian. Untuk genre, story lanjutan ini genre nya horror - romance - comedy
Jadwal update? Diusahakan tiap ada waktu luang.
Masih ada pertanyaan? we are good to go to first chapter?
Okeey, lets gooo.
------------------------------------
Ketiga,karena cerita ini lanjutan dari cerita sebelumnya, jadi gw saranin kalian buat baca dulu cerita yang pertama sebelum lanjut ke cerita ini.
Ke-empat, poin ini masih gw tujukan untuk menjelaskan betapa apresiasi dari kalian itu berharga banget buat gw, jadi kalau berkenan selalu tinggalkan komen dan kalau suka jalan ceritanya bisa tinggalkan ratenya, it reaaallly means something guys for me, halah

Terakhir, sebelum baca cerita ini jangan lupa berdoa dulu, karena bakal ada adegan horror yang terjadi. jadi persiapkan diri kalian. Untuk genre, story lanjutan ini genre nya horror - romance - comedy
Jadwal update? Diusahakan tiap ada waktu luang.
Masih ada pertanyaan? we are good to go to first chapter?
Okeey, lets gooo.

------------------------------------
Quote:
-------------------------------------------------------------------------------
CERITA KITA UNTUK SELAMANYA 2 : HARPOCRATES
KHATMANDU - PROLOG
PART I
DHAULAGIRI
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
DHAULAGIRI II
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
DHAULAGIRI III
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
PART II
MACHAPUCARE
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
MACHAPUCARE I
Chapter 37
Chapter 38
Chapter 39
Chapter 40
Chapter 41
Chapter 42
Chapter 43
Chapter 44
Chapter 45
MACHAPUCARE II
Chapter 46
Chapter 47
Chapter 48
Chapter 49
Chapter 50
Chapter 51
Chapter 52
Chapter 53
Chapter 54
Chapter 55
Chapter 56
PART III
ANNAPURNA
Chapter 57
Chapter 58
Chapter 59 - Truth or Dare Part I
Chapter 60
Chapter 61
Chapter 62
Chapter 63
Chapter 64
Chapter 65
Chapter 66
ANNAPURNA I
Chapter 67
Chapter 68
Chapter 69
Chapter 70
Chapter 71
Chapter 72
Chapter 73
Chapter 74
Chapter 75
Chapter 76
ANNAPURNA II
Chapter 77
Chapter 78
Chapter 79
Chapter 80
Chapter 81
Chapter 82
Chapter 83
Chapter 84
PART IV
FINAL PART
Chapter 85
Chapter 86
Chapter 87
Chapter 88
Chapter 89
Chapter 90
Chapter 91
Chapter 92
Chapter 93
Chapter 94
Chapter 95
LAST PART
Chapter 96
Chapter 97
Chapter 98
Chapter 99
Chapter 100
Chapter 101
Chapter 102
Chapter 103
Chapter 104
Chapter 105
Chapter 106 - Truth or Dare Part II [END]
CERITA KITA UNTUK SELAMANYA 2 : HARPOCRATES
KHATMANDU - PROLOG
PART I
DHAULAGIRI
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
DHAULAGIRI II
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
DHAULAGIRI III
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Chapter 24
Chapter 25
Chapter 26
Chapter 27
PART II
MACHAPUCARE
Chapter 28
Chapter 29
Chapter 30
Chapter 31
Chapter 32
Chapter 33
Chapter 34
Chapter 35
Chapter 36
MACHAPUCARE I
Chapter 37
Chapter 38
Chapter 39
Chapter 40
Chapter 41
Chapter 42
Chapter 43
Chapter 44
Chapter 45
MACHAPUCARE II
Chapter 46
Chapter 47
Chapter 48
Chapter 49
Chapter 50
Chapter 51
Chapter 52
Chapter 53
Chapter 54
Chapter 55
Chapter 56
PART III
ANNAPURNA
Chapter 57
Chapter 58
Chapter 59 - Truth or Dare Part I
Chapter 60
Chapter 61
Chapter 62
Chapter 63
Chapter 64
Chapter 65
Chapter 66
ANNAPURNA I
Chapter 67
Chapter 68
Chapter 69
Chapter 70
Chapter 71
Chapter 72
Chapter 73
Chapter 74
Chapter 75
Chapter 76
ANNAPURNA II
Chapter 77
Chapter 78
Chapter 79
Chapter 80
Chapter 81
Chapter 82
Chapter 83
Chapter 84
PART IV
FINAL PART
Chapter 85
Chapter 86
Chapter 87
Chapter 88
Chapter 89
Chapter 90
Chapter 91
Chapter 92
Chapter 93
Chapter 94
Chapter 95
LAST PART
Chapter 96
Chapter 97
Chapter 98
Chapter 99
Chapter 100
Chapter 101
Chapter 102
Chapter 103
Chapter 104
Chapter 105
Chapter 106 - Truth or Dare Part II [END]
----------------------------------------------------
![Cerita Kita Untuk Selamanya 2 : Harpocrates [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2020/06/21/6035474_20200621091137.gif)
![Cerita Kita Untuk Selamanya 2 : Harpocrates [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2020/06/21/6035474_20200621091137.gif)
Cerita Kita Untuk Selamanya versi FULL SERIES (Series 1 dan 3) :
BUDAYAKAN MENINGGALKAN JEJAK SUPAYA KITA BISA SALING KENAL


Polling
Poll ini sudah ditutup. - 8 suara
Perlu ditambah gak bre adegan BB17?
perlu
25%
sangat perlu
13%
bentar gw baca dulu
0%
sesempet yang nulis aja
63%
Diubah oleh rendyprasetyyo 08-07-2023 22:57
ugalugalih dan 33 lainnya memberi reputasi
34
135.1K
802
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rendyprasetyyo
#721
Chapter 104
Harpocrates, nama ini gue ambil dari salah satu dewa yunani. Harpocrates dari kepercayaan yunani dipercaya sebagai dewa yang melambangkan ketenangan, kesunyiaan, dan ketertutupan. Dewa yunani yang diadaptasi dari kepercayaan mesir kuno ini dipercaya juga sebagai anak dari Isis dan Osiris dan dilamnbangkan sebagai anak kecil yang meletakkan telunjuk didepan mulut yang kita kenal sebagai gestur “diam” saat sekarang.
Pasuphatinath merupakan salah satu kuil suci yang sakral di daerah khatmandu. Berbeda dengan boudhanath stupa, pasupatinath punya satu daerah khusus yang benar-benar suci dan tidak diperkenankan pengunjung untuk masuk kecuali mereka memang penduduk asli yang beragama budha. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di area kuil, disisi salah satu area disisi sebelah kanan terdapat beberapa orang yang duduk sambil membaca doa-doa. Untuk beberapa orang yang tidak mengerti bahasa india kuno, atau sanskerta mungkin, doa-doa ini lebih terdengar sebagai mantra dan sensasinya membuat kita berasa hidup didunia sihir. bangunan -bangunan india kuno masih mendominasi daerah sekitar kuil. Beberapa ornamen patung, candi ukuran mini, dan cerita-cerita tentang kehidupan masa dulu di khatmandu banyak dijelaskan disini oleh beberapa orang guide yang tersedia. Dan untuk pertama kali disini juga lah gue melihat salah satu patung anak kecil yang sedang berdiri diam yang biasa disebut dengan patung ukiran “Harpocrates”.
Ntah, mungkin karena memang mindset yang ada dipikiran gue adalah tentang bagaimana mencari ketenangan, sebisa mungkin menghindari drama, dan meminimalisir kontak dengan orang lain, begitu melihat patung kecil “harpocrates” gue seperti terhisap. Gue tertarik untuk mencari tahu semua hal tentang “Harpocrates” dan setelah tahu kalau “Harpocrates” adalah dewa yang melambangkan kesunyian gue langsung berpikir kalau selama ini segala tentang perjalanan mencari ketenangan ini adalah tentang mengetahui fakta kalau ternyata memang beberapa orang terdahulu juga pernah melakukan hal yang sama dengan yang gue lakukan sekarang, berusaha mencari ketenangan dalam hidup dan sampai sekarang manusia masih melakukan hal yang sama.
Banyak hal yang terjadi di pasupatinath dan gue belajar banyak hal tentang kepercayaan Budha di sini. Ditempat ini gue menyaksikan secara langsung proses pembakaran jenazah untuk umat budha yang meninggal dunia ditepi salah satu sungai yang melintasi kuil (ukuran kuil pasuphatinath berkali-kali lipat lebih luad daripada kuil di boudhanat). Disepanjang sungai terdapat beberapa bebatuan menjorok dari tepi sampai hampir 3 meter memakan badan sungai dan dibebatuan ini lah proses pembakaran jenazah dilakukan. Proses pembakaran jenazah hanya boleh dilakukan oleh keluarga laki-laki karena pihak perempuan tidak diperbolehkan datang. Banyak hal yang membuat pihak perempuan tidak boleh mengikuti sesi pembakaran jenazah, satu diantaranya adalah karena banyak perempuan yang ikut membakar diri sendiri karena tidak kuat melihat jenazah orang yang dicintai harus dibakar.
Dihari terakhir di khatmandu, juga sewaktu mengunjungi pashupatinath, gue dan yang lain bertemu dengan seorang guru. Bukan guru biasa, tapi guru yang memang sudah melepas semua urusan duniawi dan sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan semedi. Pakaian khas seorang budhist dengan jenggot putih panjang (yang keliatan gak terawat) jadi penanda kalau Sang Guru sudah tidak menjalani kehidupan seorang manusia normal. Menurut cerita yang beredar, sehari-hari sang guru tinggal di sebuah rumah pinggir tebing yang gak jauh dari kuil. Gak cuma satu orang guru, ada 3 orang guru yang terkenal di daerah pasuphatinath yang ketiganya menggunakan pakaian dengan warna yang berbeda; merah, putih, dan kuning.
Para guru ini gak memberi petuah sama sekali, mereka cuma mengizinkan gue untuk beberapa kali mengambil foto bersama dan mengoleskan tika sambil berkata “may you find your purpose and may your life be bless with love and respect”. Sang guru berbaju putih, yang sekilas terlihat lebih senior daripada dua yang lain memberikan semacam doa sambil memegang kepala gue sebelum akhirnya gue diperbolehkan untuk berbaur kembali dengan para pengunjung lain. Semuanya dilakukan diarea outdoor disekitar pasupatinath karena sang guru memang terkadang berbaur dengan pengunjung ketika sedang tidak beribadah. Ntah lah tapi perasaan gue rasanya membaik setelah diberi tika dan doa oleh sang guru.
Gue dan yang lain juga berhasil menemukan spot pengambilan gambar untuk syuting film dokter strange dikuil ini. Daripada semua aktifitas yang gue lakuin dipasupatinath, aktifitas pengambilan foto mirip dengan pengambilan gambar di film dokter strange lah yang menghabiskan paling banyak waktu. Gestur, spot, pencahayaan, semua diatur semirip mungkin dan pada akhirnya tingkat kemiripan yang didapat cuma sekitar 60%.
Setelah boudhanath dan pasupatinath selesai, gue dan yang lain memutuskan untuk makan siang dalbat diarea sekitar kuil. Dalam waktu hampir 4 jam gue hampir menghirup bau-bau dupa dalam intensitas terus menurus, dan setelah terbiasa gue sudah bisa merasakan apa arti ketenangan dari bau-bau dupa yang dibakar. Bau dupa ini semacam obat-obatan yang mempengaruhi sistem kerja syaraf yang pemberiannya melalui bau-bauan, se-enggaknya itu asumsi gue yang sedikit banyak tau tentang dunia kesehatan. Bau-bau dupa ini gak cuma memicu ketenangan, mungkin juga untuk mengusir serangga liar, meningkatkan nafsu makan (karena dihari terakhir ini gue dan yang lain bisa menghabiskan satu porsi makanan khatmandu untuk satu orang), dan mungkin juga untuk menghilangkan sensasi-sensasi lelah ditubuh.
Dan kuil yang dikunjungi setelah makan siang gak begitu spesial, hampir mirip dengan boudhanath stupa (punya satu stupa besar sebagai pusat peribadatan) tapi dibedakan dengan letak yang ada di atas salah satu bukit yang mengelilingi kota khatmandu. Tempat ini tempat yang cocok untuk melihat kota khatmandu dari kejauhan dan melakukan hal ini membuat gue sadar kalau khatmandu sebagai ibukota negara nepal gak punya satupun gedung bertingkat dan jelas jauh tertinggal dengan keberadaan Jakarta.
Topeng yang gue dapet dari kampung tibet selalu gue sertakan sebagai aksesoris ditiap pengambilan foto. Vivi sempet bilang kalau sebisa mungkin jangan bawa topeng, lukisan, patung dari daerah yang kita gak kenal karena benda-benda tersebut rawan buat diiisi dengan sesuatu yang tidak terduga. Gue percaya, tapi seenggaknya gue gak bawa patung ini buat niat jahat, gue bawa pulang patung ini murni cuma digunakan untuk keperluan aksesoris foto.
Disore harinya gue dan yang lain mampir ke thamel untuk pembelian oleh-oleh. Di thamel, karena sekarang bertepatan dengan perayaan natal, terjadi peningkatan jumlah dekor khas natal sejak tadi pagi gue berangkat ke boudhanath stupa. Salah satu spanduk berukuran besar menggantung diantara dua bangunan toko bertuliskan “MERRY CHRISMAST. ENJOY YOUR HOLIDAY AT HIMALAYA” dengan berbagai macam gambar hiasan balon dan pohon natal terlihat mencolok diantara untaian-untaian bendera kecil yang berada disepanjang jalan lain. Karena sekarang bertepatan dengan perayaan natal, pikiran gue gak bisa gue alihkan dari pikiran tentang apa dan dimana bibi sekarang.
Jam 9 malam setelah berkonsultasi dengan lisa dan vivi, gue memutuskan untuk membelikan satu buah slayer kecoklatan cendrung emas sebagai oleh-oleh untuk bibi. Gue kangen.
“Besok aku balik ke jakarta, bi. Selamat Natal” gw berbisik dalam hati sebelum menutup hari terakhir perjalanan ke nepal.
Harpocrates, nama ini gue ambil dari salah satu dewa yunani. Harpocrates dari kepercayaan yunani dipercaya sebagai dewa yang melambangkan ketenangan, kesunyiaan, dan ketertutupan. Dewa yunani yang diadaptasi dari kepercayaan mesir kuno ini dipercaya juga sebagai anak dari Isis dan Osiris dan dilamnbangkan sebagai anak kecil yang meletakkan telunjuk didepan mulut yang kita kenal sebagai gestur “diam” saat sekarang.
Pasuphatinath merupakan salah satu kuil suci yang sakral di daerah khatmandu. Berbeda dengan boudhanath stupa, pasupatinath punya satu daerah khusus yang benar-benar suci dan tidak diperkenankan pengunjung untuk masuk kecuali mereka memang penduduk asli yang beragama budha. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di area kuil, disisi salah satu area disisi sebelah kanan terdapat beberapa orang yang duduk sambil membaca doa-doa. Untuk beberapa orang yang tidak mengerti bahasa india kuno, atau sanskerta mungkin, doa-doa ini lebih terdengar sebagai mantra dan sensasinya membuat kita berasa hidup didunia sihir. bangunan -bangunan india kuno masih mendominasi daerah sekitar kuil. Beberapa ornamen patung, candi ukuran mini, dan cerita-cerita tentang kehidupan masa dulu di khatmandu banyak dijelaskan disini oleh beberapa orang guide yang tersedia. Dan untuk pertama kali disini juga lah gue melihat salah satu patung anak kecil yang sedang berdiri diam yang biasa disebut dengan patung ukiran “Harpocrates”.
Ntah, mungkin karena memang mindset yang ada dipikiran gue adalah tentang bagaimana mencari ketenangan, sebisa mungkin menghindari drama, dan meminimalisir kontak dengan orang lain, begitu melihat patung kecil “harpocrates” gue seperti terhisap. Gue tertarik untuk mencari tahu semua hal tentang “Harpocrates” dan setelah tahu kalau “Harpocrates” adalah dewa yang melambangkan kesunyian gue langsung berpikir kalau selama ini segala tentang perjalanan mencari ketenangan ini adalah tentang mengetahui fakta kalau ternyata memang beberapa orang terdahulu juga pernah melakukan hal yang sama dengan yang gue lakukan sekarang, berusaha mencari ketenangan dalam hidup dan sampai sekarang manusia masih melakukan hal yang sama.
Banyak hal yang terjadi di pasupatinath dan gue belajar banyak hal tentang kepercayaan Budha di sini. Ditempat ini gue menyaksikan secara langsung proses pembakaran jenazah untuk umat budha yang meninggal dunia ditepi salah satu sungai yang melintasi kuil (ukuran kuil pasuphatinath berkali-kali lipat lebih luad daripada kuil di boudhanat). Disepanjang sungai terdapat beberapa bebatuan menjorok dari tepi sampai hampir 3 meter memakan badan sungai dan dibebatuan ini lah proses pembakaran jenazah dilakukan. Proses pembakaran jenazah hanya boleh dilakukan oleh keluarga laki-laki karena pihak perempuan tidak diperbolehkan datang. Banyak hal yang membuat pihak perempuan tidak boleh mengikuti sesi pembakaran jenazah, satu diantaranya adalah karena banyak perempuan yang ikut membakar diri sendiri karena tidak kuat melihat jenazah orang yang dicintai harus dibakar.
Dihari terakhir di khatmandu, juga sewaktu mengunjungi pashupatinath, gue dan yang lain bertemu dengan seorang guru. Bukan guru biasa, tapi guru yang memang sudah melepas semua urusan duniawi dan sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan semedi. Pakaian khas seorang budhist dengan jenggot putih panjang (yang keliatan gak terawat) jadi penanda kalau Sang Guru sudah tidak menjalani kehidupan seorang manusia normal. Menurut cerita yang beredar, sehari-hari sang guru tinggal di sebuah rumah pinggir tebing yang gak jauh dari kuil. Gak cuma satu orang guru, ada 3 orang guru yang terkenal di daerah pasuphatinath yang ketiganya menggunakan pakaian dengan warna yang berbeda; merah, putih, dan kuning.
Para guru ini gak memberi petuah sama sekali, mereka cuma mengizinkan gue untuk beberapa kali mengambil foto bersama dan mengoleskan tika sambil berkata “may you find your purpose and may your life be bless with love and respect”. Sang guru berbaju putih, yang sekilas terlihat lebih senior daripada dua yang lain memberikan semacam doa sambil memegang kepala gue sebelum akhirnya gue diperbolehkan untuk berbaur kembali dengan para pengunjung lain. Semuanya dilakukan diarea outdoor disekitar pasupatinath karena sang guru memang terkadang berbaur dengan pengunjung ketika sedang tidak beribadah. Ntah lah tapi perasaan gue rasanya membaik setelah diberi tika dan doa oleh sang guru.
Gue dan yang lain juga berhasil menemukan spot pengambilan gambar untuk syuting film dokter strange dikuil ini. Daripada semua aktifitas yang gue lakuin dipasupatinath, aktifitas pengambilan foto mirip dengan pengambilan gambar di film dokter strange lah yang menghabiskan paling banyak waktu. Gestur, spot, pencahayaan, semua diatur semirip mungkin dan pada akhirnya tingkat kemiripan yang didapat cuma sekitar 60%.
Setelah boudhanath dan pasupatinath selesai, gue dan yang lain memutuskan untuk makan siang dalbat diarea sekitar kuil. Dalam waktu hampir 4 jam gue hampir menghirup bau-bau dupa dalam intensitas terus menurus, dan setelah terbiasa gue sudah bisa merasakan apa arti ketenangan dari bau-bau dupa yang dibakar. Bau dupa ini semacam obat-obatan yang mempengaruhi sistem kerja syaraf yang pemberiannya melalui bau-bauan, se-enggaknya itu asumsi gue yang sedikit banyak tau tentang dunia kesehatan. Bau-bau dupa ini gak cuma memicu ketenangan, mungkin juga untuk mengusir serangga liar, meningkatkan nafsu makan (karena dihari terakhir ini gue dan yang lain bisa menghabiskan satu porsi makanan khatmandu untuk satu orang), dan mungkin juga untuk menghilangkan sensasi-sensasi lelah ditubuh.
Dan kuil yang dikunjungi setelah makan siang gak begitu spesial, hampir mirip dengan boudhanath stupa (punya satu stupa besar sebagai pusat peribadatan) tapi dibedakan dengan letak yang ada di atas salah satu bukit yang mengelilingi kota khatmandu. Tempat ini tempat yang cocok untuk melihat kota khatmandu dari kejauhan dan melakukan hal ini membuat gue sadar kalau khatmandu sebagai ibukota negara nepal gak punya satupun gedung bertingkat dan jelas jauh tertinggal dengan keberadaan Jakarta.
Topeng yang gue dapet dari kampung tibet selalu gue sertakan sebagai aksesoris ditiap pengambilan foto. Vivi sempet bilang kalau sebisa mungkin jangan bawa topeng, lukisan, patung dari daerah yang kita gak kenal karena benda-benda tersebut rawan buat diiisi dengan sesuatu yang tidak terduga. Gue percaya, tapi seenggaknya gue gak bawa patung ini buat niat jahat, gue bawa pulang patung ini murni cuma digunakan untuk keperluan aksesoris foto.
Disore harinya gue dan yang lain mampir ke thamel untuk pembelian oleh-oleh. Di thamel, karena sekarang bertepatan dengan perayaan natal, terjadi peningkatan jumlah dekor khas natal sejak tadi pagi gue berangkat ke boudhanath stupa. Salah satu spanduk berukuran besar menggantung diantara dua bangunan toko bertuliskan “MERRY CHRISMAST. ENJOY YOUR HOLIDAY AT HIMALAYA” dengan berbagai macam gambar hiasan balon dan pohon natal terlihat mencolok diantara untaian-untaian bendera kecil yang berada disepanjang jalan lain. Karena sekarang bertepatan dengan perayaan natal, pikiran gue gak bisa gue alihkan dari pikiran tentang apa dan dimana bibi sekarang.
Jam 9 malam setelah berkonsultasi dengan lisa dan vivi, gue memutuskan untuk membelikan satu buah slayer kecoklatan cendrung emas sebagai oleh-oleh untuk bibi. Gue kangen.
“Besok aku balik ke jakarta, bi. Selamat Natal” gw berbisik dalam hati sebelum menutup hari terakhir perjalanan ke nepal.
regmekujo dan rendicf memberi reputasi
2
![Cerita Kita Untuk Selamanya 2 : Harpocrates [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/16/6035474_202005160112400749.png)
Cerita kita untuk selamanya: HARPOCRATES [A SEKUEL]