TS
stef.mjz
Thread Khusus Peserta COC SF Poetry Kaskus 2019

Info, syarat ketentuan, juri, hadiah / reward, donatur silahkan menuju thread ini: [COC] Kompetisi Menulis Prosa dan Puisi SF Poetry Kaskus 2019 https://kask.us/iClJP
GENERAL RULES Thread Khusus Postingan Peserta Lomba COC SF Poetry Kaskus 2019
Quote:

Quote:

Wahai Kaskuser yang merangkap sebagai Buciners dan Perangkai Kata-kata
Bebaskan dirimu dari jeratan yang mengikat
Dan menumpahkannya dalam gelora puisi dan prosa
SEMANGAT BERTEMPUR!
SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA!
Sekali mencintaimu, akan berlaku selamanya ~
Diubah oleh stef.mjz 10-08-2019 16:24
User telah dihapus dan 25 lainnya memberi reputasi
26
15.9K
119
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Poetry
6.2KThread•6.8KAnggota
Tampilkan semua post
Surobledhek746
#23
Mbok Mawi
Mbok Mawi, anaknya dulu tewas dirudapaksa Belanda. Umurnya 13 tahun. Sisa bangkai diantar ke rumah. Tak ada tangis. Tak ada air mata. Hanya mengurut dada.
Mbok Mawi, anaknya membusuk dibuang di semak-semak. Digagahi Jepang, mutilasi. Tak ada selembar benang menutupi. Sebagian tubuhnya hilang di makan anjing hutan dan babi.
Mbok Mawi, anaknya mati. Dipenggal PKI. Dilempar dari atas jembatan Kali Brantas. Dari jauh hanya menyaksikan. Terbelalak mata, kekejaman ada di hadapan. Robek ujung jarit ditarik tak sengaja menahan teriak.
Mbok Mawi, anaknya dihukum mati di Arab Saudi. Sudah merdeka mengungsi ke negara tetangga. Mencari kehidupan setelah Belanda dan Jepang hilang. "Salahku apa ya Rabb! Aku tak minta dilahirkan di tiga zaman," keluh mbok Mawi pada Tuhan.
Mbok Mawi tak sendiri. Ia adalah ibu dari berjuta anak negeri. Hidup pada zaman silih berganti, namun nasib malang selalu menyelimuti.
Ia adalah mbok Mawi menangis seorang diri. Janda patriot buruh cuci. Suaminya wafat ketika Jepang datang. Ia tak minta belas kasihan.
Tanah Bumbu, 9 Agustus 2019
$$$$$$$===============$$$$$$$$
Ekstremis
Di tanah ini, dahulu ekstremis sembunyi. Saling mengasihi. Berbagi nasi walau sebiji. Selendang sutra dirobek jadi pembalut luka menganga dengan cinta dan air mata bahagia. Dalam nyanyian sama dibalik dendum meriam. Tak ada rasa takut meski seujung rambut. Padahal nyawa akan melayang.
Di tanah ini, dahulu ekstremis melakukan perlawanan. Atas biadabnya penjajah kelaparan. Kuras isi perut bumi, di permukaan daratan tak ada daun dan ranting tersisa, bahkan istri dalam pelukan diembat habis demi keserakahan. Penghuni laut tak tenang lagi, tak mampu memilih sembunyi. Diangkut jua.
Di tanah ini, dahulu darah dan air mata jadi tarian mengabiskan siang. Raga-raga perkasa bergelimapangan bersimbah darah. Jiwa ekstremis mengawasi dari langit, mengajak anak-anak meneruskan tariannya.
Tak pernah terucap kata penyesalan, bahkan dari ibu yang suaminya tewas sebelum sempat menikmati singkong rebus makan malam, anak semata wayang meregang nyawa membela kehormatan. Tak pernah terucap. Mendesah pun tidak.
Mati satu, tumbuh seribu. Setetes darah segar tumpah, disambut sejuta galon darah segar baru. Ekstremis sekarang terbujur kaku. Pada pemakanan bisu yang hanya ditengok ketika hari peringatan. Setahun sekali dalam seremonial basa basi. Jiwa kami diinjak beramai-ramai.
Di tanah ini sekarang, ia mengaku pahlawan. Sebarkan kebencian, saling curiga sesama anak bangsa. Sementara di balik meja melakukan konspirasi keji. Babat habis paru-paru bumi, tanah dan segala isinya dengan alasan kemakmuran; kemajuan; keadilan; kesejahteraan penuhi kontainer-kontainer, lalu kau angkut ke seberang sana. Siapa yang ajarkan?
Ia yang mengaku pahlawan, pembuat undang-undang, akal keji pena kau goreskan. Semua demi kesenangan, ambisi, dan demi panjang belalai gurita berkelindan. Siapa yang ajarkan?
Ekstremis, liberalis, kapitalis, peodalistik, monopolistik jadi baju kebesaran. Padahal kau mengaku pahlawan. Sementara kami tak minta balas budi. Hanya ingin perjuangan diteruskan, melawan ketidakadilan. Anak cucu kami tidur dengan tenang. Tanpa rasa lapar dan takut hingga pagi indah menjelang. Hanya itu yang dahulu kami ajarkan.
Tanah Bumbu, 10 Agustus 2019
$$$$$$$ ======= $$$$$$$
Janda yang Belum Merdeka
Seharusnya 74 tahun adalah ulang tahun pernikahanku. Namun, suamiku kepalanya kau penggal. Ia hanya mengikuti nalurinya, merdeka.
Bebas mengais rejeki, memilih tempat menggerakkan tangan atau menerbangkan sayap bersama saudaranya di desa. Di pinggiran hutan, kaki bukit, lereng-lereng pengunungan, pantai-pantai bersama indahnya nyiur melambai.
Kaki mereka tak akan mengotori lantai rumahmu. Kantor-kantor megahmu. Juga menggerogoti periuk nasimu. Ia hanya meminta kau melupakannya.
Nyatanya jalan menuju desa tertimbun tumpukan sampah, atas nama demokrasi. Hingga kami saling benci. Siang malam berseteru. Lupa sedang berebut apa.
Tanah terbelangah tak tergarap lagi. Ikan menua dan mati. Sumur-sumur kering kasih sayang. Sementara kami sedang kehausan.
Kami hanya ingin merdeka. Sawah, sungai, danau, dan laut milik leluhur. Dalam kumpulan semut berundak, setiap pagi berbaris sambil bernyanyi, "Holobis kuntul baris, cancut taliwondo, toto tentrem kertoraharjo, gemahripah loh jinawi, ...."
Sekarang, kepalanya kau penggal, tangan, kaki, anggota tubuhnya hancur kau mutilasi. Atas nama kebhinnekaan, tolerasi, persatuan dan kesatuan, hak asasi. Mata, mulut, tangan dan kakimu menghancurkan.
Sekarang aku adalah janda, bersama tiga ratus juta manusia. Yang dahulu disebut Indonesia.
Biarkan sejenak aku bermimpi. Memiliki suami keadilan, kesejahteraan, kemakmuran dan kerakyatan. Baru aku proklamirkan kemerdekaan, aku tak lagi menjadi janda.
Tanah Bumbu, 12 Agustus 2019
Diubah oleh Surobledhek746 12-08-2019 19:08
perihbanget dan 28 lainnya memberi reputasi
29



