Kaskus

Story

kaliankenalsayaAvatar border
TS
kaliankenalsaya
SELASA KLIWON
Selamat datang di Thread pertama saya. Silahkan di Nikmati cerita ber-genre horror yg saya suguhkan. Mohon maaf cerita akan saya post ulang dan di buat index demi kenyamanan para pembaca sekalian. Mudah-mudahan terhibur dengan cerita yg saya suguhkan. Silahkan di nantikan kelanjutan cerita yg saya buat. Terima kasih.

Quote:
Diubah oleh kaliankenalsaya 15-08-2019 22:02
wanitatangguh93Avatar border
bukhoriganAvatar border
evywahyuniAvatar border
evywahyuni dan 14 lainnya memberi reputasi
15
9.3K
51
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
kaliankenalsayaAvatar border
TS
kaliankenalsaya
#4
CHAPTER 3
"Emely!!! Bangun, Ada orang cari kamu!"

"Emely!!!"

di Ruang Tengah Rumah Sederhana bertembok bambu, tertidur seorang gadis manis yg terbungkus selimut dari kain jarik. Gadis itu ialah Emely. Pukul 05:00 . Siapa tamu tak tau diri yg datang menyambangi rumah, di pagi buta begini, pikir emely.

Mendengar panggilan ibu nya, Emely hanya mengulat mengendurkan otot-otot yg tegang. Tanpa berniat bangun dari dipan. Emely kembali menutup mata.

"Emely!!! Cepat orangnya nungguin kamu! Anak ini betul-betul ya. Tidur lagi ya kamu? Bangun Emely!"

Suara ibu emely yg baginya bagaikan terompet tahun baru tak dapat lagi di bendung di gendang telinga. Segera emely beranjak bangkit dari dipan. Mata penuh Belek Dan wajah kucel, dengan langkah lunglai menahan kantuk, emely berjalan ke teras depan. Disana terlihat ibu nya sedang menyapu halaman, membersihkan dedaunan kering yg berjatuhan di teras rumah, Dan terlihat juga bapak nya, yg sedang mengikat kayu bakar ke belakang jok sepeda motor nya untuk di jual ke pasar.

"Bocah sama kaya kebo. Tapi masih rajin kebo!"

"Siapa yg cari aku buk? Aduhh subuh-subuh begini apa ga bisa di tunda beberapa jam sebelum bertamu kerumah?"

Emely melihat ke sekitar terasnya, tak menemukan sesiapa lagi selain bapak dan ibu nya. Angin subuh yg semilir dan kokokan ayam saling beradu menambah suasana ramai di subuh yg dingin itu. Terlihat di rumah tengah, Ada Mbah Ersam yg sedang membasuh ontel tua nya untuk di pakai ke ladang di sebelah selatan. dan Mbah Muji, yg sedang mengaduk pakan ternak untuk di berikan ke bebek peliharaan nya.

Suasana subuh yg begitu riuh dengan suara binatang yg bersahutan, tak membuat emely kehilangan rasa kantuk nya. Sambil bersandar pada papan kayu di teras depan, Emely kembali memejamkan mata. Kejadian semalam masih belum bisa terhapus dari pikiran nya. Apa yg dia alami. apakah mimpi atau memang betul-betul terjadi. Jika mimpi kenapa begitu nyata dan seram. jika bukan mimpi, kenapa emely betul-betul merasakan.

BRUKK!!!

"Kurang asem iki bocah! Bangun heh! Ada tamu bukan di sambut, malah kamu ngorok lagi, sambil berdiri lagi, basuh itu wajahmu, cepet melek, tamu nungguin kok malah ngorok!"

Belum hilang rasa kantui yg emely tanggung, kini harus ia terima lagi dampratan dari ibu nya di pagi buta, hanya karena tamu tak tau di untung yg bertamu di waktu yg salah. Emely segera memulihkan kesadaran nya, melihat lagi sekelilingnya dengan seksama. Mencari sosok tamu yg di maksud ibu nya. Melayangkan pandang ke segala sudut sekitaran rumah, akhirnya emely menemukan sosok yg dia cari-cari.

"Ohh. sejak tadi, kau di belakang ku? pantas ku cari-cari baru ketemu! Sebentar ya!"

Seorang pria yg diajak bicara, Hanya tersenyum simpul. Manis dan rupawan.

Emely berjalan cepat menuju sumur yg terletak di belakang rumah untuk membasuh wajahnya. lamat-lamat dia tersadar tentang pria yg di jumpai tadi. Pria yg baru di kenalnya kemarin, walau pria tersebut telah tau indetitas dirinya lebih dulu. Emely, menciduk air di ember yg telah di sediakan ibunya setiap pagi menggunakan gayung yg telah retak pinggirnya. Rasa kantuk emely mendadak sirna di tempa air dingin dari sumur, walau masih menyisakan raut wajah yg mengantuk.

Emely berjalan dengan terburu-buru, karena ia merasa penasaran juga dengan sosok pria yg ia temui kemarin. hal yg masih menjadi pertanyaan di benak emely, kenapa ia bisa kenal dan tau emely lebih dulu. sedangkan mereka merasa tidak pernah berjumpa sebelumnya.

"Hei? Kau yg kemarin bukan?" tanya Emely sambil beranjak duduk di tumpukan bambu, tepat di seberang pria tersebut.

"Iya, benar. Rupanya masih hafal rupa ku ya. hehe. Maaf kalau aku menganggu tidurmu"

Emely memperhatikan pria ini dengan betul. Atas kebawah. dan dari bawah ke atas. Tampan nan rupawan. Pikir Emely.

"ya, harusnya kau sadar, bertamu jam segini bukan hal yg sopan. lagi pula, betul juga omonganmu yg akan mengunjungi rumahku? sepertinya kau sudah kenal betul denganku?"

Pria yang di cecar dengan berbagai ucapan hanya tertawa kecil sesekali menggelengkan kepala nya. Melihat emely yg di liputi rasa bingung menjadikan pria tersebut melepas tawanya lebih keras.

"ah masalah itu, kau kan sering bolak-balik pasar dan kebun, lagi pula, aku juga sering berada di sekitar pasar. mana mungkin aku tak kenal dengan mu, banyak sekali yg kenal dengan mu, emely!"

Dalam batinnya, emely membenarkan pernyataan pria tersebut, bisa saja dia salah seorang yg belum menjadi pelanggan sayuran yg dia jual, bahkan mungkin dia orang baru yg belum pernah emely lihat, atau mungkin emely yg terlalu cuek dengan orang-orang di sekitar. Tapi yg pasti, bagi emely, bukan suatu masalah jika ada lelaki yg tiba-tiba kenal dengan nya tanpa proses perkenalan terlebih dahulu. Yang jadi masalah baginya, kenapa pria ini sampai mendatangi rumahnya, kalau bukan tanpa tujuan yg jelas.

"Kau datang kerumahku hanya sekedar iseng rupanya, ya. Ya baiklah, gimana ehm, eh.. siapa nama mu kemarin? Aku lupa?"

"Girwanda"

Siang hari nya, Emely dan Girwanda berjalan kaki menyusuri jalanan Desa Bambu Mukti, desa tempat Emely tinggal. Menyusuri jalan menuju persawahan barat desa, bercengkrama di bawah cuaca terik membuat mereka saling menyipitkan mata satu sama lain. Sambil Bersenda gurau mereka melewati galengan sawah, hendak menuju gubuk kecil di tengah areal sawah yg sangat luas.

Belum genap 1 hari mereka kenal. Tetapi, jiwa kaku emely terhadap orang asing bisa di lenturkan oleh sikap girwanda yg supel dan luwes. Ibarat teman lama, Mereka bercengkrama tanpa rasa sungkan. Menceritakan pengalaman masing-masing tanpa canggung.

"Emely, Kau besok harus ikut aku, ke ujung bukit arah selatan desa, kau pasti suka tempat itu"

"Ehm, Selatan desa? Boleh. Aku pernah dengar ada tempat yg bagus disana untuk lihat pemandangan. Jam berapa kita kesana, nda?"

"subuh hari, bagaimana? menghemat waktu berjalan, mengingat jarak nya cukup jauh, kita habiskan hari esok di bukit saja. tempat nya sejuk dan tenang. kau tidak sibuk kan besok?"

Emely hanya menjawab dengan senyuman. Bagi Girwanda itu sudah cukup menjelaskan jawaban nya.

Ke esokan hari nya, Emely dan Girwanda berboncengan menaiki sepeda ontel yg di kendarai girwanda dari rumah. Sambil terus mengayuh, Emely mengeluh dan mencaci maki girwanda sepanjang jalan. Yg di caci hanya diam hanyut terbawa suasana angin segar pagi itu. Dalam ingatan nya, Girwanda sendiri merasa beruntung bisa memiliki teman perempuan. Bisa di ajak ngobrol, bisa di ajak bercerita, bahkan bisa di jaili.

"Betul-betul kau ya! lelaki apa kau mengizinkan perempuan mengayuh sepeda, kelelahan seorang diri sedangkan yg di bonceng asik senyam-senyum tanpa dosa! Lemah!"

"Emely, Lagi pula tadi aku kan sudah membonceng mu, Kau lihat sendiri, setiap ada tanjakan, sepeda kita mundur lagi??? tidak kah kau merasa kalau kau ini lebih gendut dari aku?"

"Memang itu alasan mu saja. kau ku lihat-lihat jenis manusia yg Ogah Capek! sialan!

Melewati terjal dan tinggi nya bukit membuat mereka berdua kelelahan dan istirahat sejenak di bibir hutan bukit tersebut. Desa Bambu Mukti sendiri memiliki cakupan wilayah yg cukup luas. Di Wilayah Desa Bambu Mukti sendiri setidaknya di kelilingi 3 Hutan Liar yaitu di Selatan, Utara, dan Barat Desa Bambu Mukti. Selain Hutan liar juga di kelilingi Bukit dan Pegunungan yg Asri dan Menarik mata siapapun yg melihat.

"Em, Perjalanan masih jauh. Ku harap kau yg masih membonceng ku nanti sampai di atas bukit, aku lelah sekali.." keluh girwanda sambil bersandar pada batang pohon pinus.

"Sontoloyo! Kau lelah? Bagaimana aku? Setelah ini kau yg bonceng aku!"

"Emely, begini saja deh, Kau yg bonceng aku sampai di puncak, nanti perjalanan pulang, aku yg bawa ontelnya? bagaimana? Lagi pula jaraknya sedikit lagi, kita lewat jalan pintas, deh!"

Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke puncak bukit, melewati jalan setapak yg di tumbuhi rerumputan roda ontel tua terus berputar memyusuro jalan sepi nan kering. pepohonan rindang menyebar bau sunyi, hanya terdengar suara bunyian dari kayuhan ontel tua yg besi tua nya sudah sedikit berkarat di sana sini.

"Sebentar lagi kita sampai Em, Disana ada jalan 2 cabang, kau ambilah sebelah kanan. kalau kau ambil yg kiri, ada sungai di bawah sana"

Emely sebenarnya sedikit khawatir dengan jalan dan arah yg di tunjuk Girwanda. Karena Hutan disini sangat luas dan lebat, tidak menutup kemungkinan kalau mereka bisa saja nyasar kalau mereka salah mengambil Arah.

Emely hanya menuruti komando dari Girwanda. Melewati jalan sebelah kanan, jalan nya tidak berbeda dengan sebelumnya, jalan setapak yg dipenuhi rumput, bedanya hanya, suhu di bukit ini sangatlah dingin. sekarang, di ujung jalan ini mereka lagi-lagi menemui Tanjakan terjal. Tanjakan yg sangat tinggi tidak memungkinkan jika ontel tua ini dipaksa terus menanjak, bisa-bisa, ontel ini rontok menanggung beban dua manusia yg menumpak nya.

"Kau kelihatan nya sudah hapal betul dengan daerah ini? Kau bilang, Kau baru pertama kali kemari?"

"Ah.. Kau ini, baru pertama kali bukan berati benar-benar buta arah, kita manusia di ciptakan memiliki insting, ya ku gunakan saja.. kenapa? kau takut aku mencelakai mu ya? Tenang, kita kan berteman baik, jangan berburuk sangka, Jangan-jangan nanti sebalik nya, kau yg merudapaksa ku, hahaha"

Puncak Bukit yg berada dekat di Desa Bambu Mukti memang memiliki keunikan tersendiri. Benar kata orang, kalau bukit ini memiliki pemandangan yang indah menyejukkan mata. Terhampar lebar persawahan di bawah, Kebun bunga, dan rerimbunan dedaunan hijau hutan di sebelah utara dan barat. Serta jalan raya besar yg tergambar seperti garis berwarna abu-abu muda dari atas sana. Serta bayang gunung-gunung besar di seberang bukit, bahkan di sekeliling bukit.

Girwanda merebahkan tubuh di bukit itu, di atas rumput yg subur dan hijau. menikmati siang hari yg cerah dan sejuk. Memandang awan yg berjejer di atas langit, membuat segala bayang-bayang kehidupan menyelimuti diri girwanda. Tanpa sadar, Emely sudah berbaring di sampingnya, entah sejak kapan. tapi yang pasti, kehadiran teman baru bagi girwanda, mampu menutup kesedihan dan beban hidup yg di miliki.

"Em, Bisa kita selamanya berteman baik? Jangan sampai musuhan ya. Apapun yg terjadi"

Girwanda menoleh ke samping kiri, melihat emely yg sibuk memandang langit yg sama. Namun, dengan isi pikiran yg berbeda. Tak lama, Emely menoleh dan berbalik menatap Girwanda, Raut wajah dan senyum emely, mengingatkan Girwanda akan seorang yg sangat berarti di hidupnya.

"Kau? Kenapa terkejut lihat aku?"

"Ah.. Tidak apa-apa. Aku hanya senang memiliki teman perempuan"

"Senang!?? Apa sebelum nya kau jarang berteman dengan perempuan?"

"Bukan begitu, hanya saja aku malas berteman dengan gadis di desa ku, mereka terlalu acuh"

Menatap mata Girwanda membuat emely Merasakan ada kegetiran yg Girwanda rasakan. Tapi, Emely bukan cenayang, yg bisa tau apa isi pemikiran orang, Mau menebak pun percuma, Mereka baru kenal 1 hari, hal apa yg bisa emely tau dari Girwanda. Selama mereka berbicara, hanya celotehan dan cerita-cerita pengalaman, tidak sampai ke lingkup pribadi.

Mereka benar-benar menghabiskan waktu yg cerah di atas bukit ini. Sampai kedua nya tidak sadar jika terlelap, termakan buaian mesra angin siang. Sampai keduanya di kejutkan dengan kehadiran sosok yg sejak tadi menyelinap.

"Hey! Sedang apa kalian di bukit ini! Aku sudah perhatikan kalian sejak tadi"
dupa.fair
pulaukapok
pulaukapok dan dupa.fair memberi reputasi
2
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.