- Beranda
- Stories from the Heart
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)
...
TS
ayahnyabinbun
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for Prolog:
-Jakarta-
UGD RS di jakarta.
"Bagaimana istri saya sus!? " tanya seorang pria kepada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Maaf pak masih kritis saya tidak bisa memberitahu lebih rinci kondisi istri bapak, itu wewenang dokter," jawab suster cepat kemudian dia berlalu meninggalkan lelaki itu.
Lelaki itu pun bersandar di tembok rumah sakit, raut mukanya terlihat lemas dan pucat kedua tangannya gemetar tatkala menutup wajahnya.
"Maafkan aku Naura, hiks, maafkan aku, " gumam lelaki itu sambil terisak menangis tersedu-sedu.
Seberkas cahaya membentuk sosok manusia berjongkok di depan lelaki itu, "jangan menangis sayang, ini memang sudah waktuku, jaga anak kita ya, dia ganteng seperti kamu, cup. " seru sesosok cahaya tersebut sambil mencium kening sang lelaki, dan cahaya itu pun berlalu bersama sesosok laki-laki berjubah putih yang menemaninya.
Lelaki itu mengangguk lesu sambil tersenyum tipis, melihat ruh istrinya menghilang menuju ufuk matahari dikala senja.
"Krieeek" suara pintu UGD terbuka, keluar seorang dokter dan beberapa suster menggendong seorang bayi.
"Pak Bagas, bayi bapak kami bersihkan dulu di ruang bayi ya pak, dokter ingin bicara dengan bapak," jawab suster dengan lemah lembut ke lelaki itu.
Lelaki itu pun berdiri, berjalan pelan menuju dokter yang menundukkan kepala di depan lelaki itu, gurat penyesalan terlihat dari wajah sang dokter.
"Sudah tidak apa-apa dok, saya sudah tahu, sehebat apapun anda tidak bisa melawan takdir, " jawab lelaki itu sambil menepuk pundak sang dokter.
"Ba-bagaimana bapak bisa tahu!? " jawab dokter dengan rona kebingungan.
Lelaki itu kemudian berlalu menuju ruangan bayi, langkah demi langkah terasa berat, tangisan tak terbendung dari kedua matanya, lelaki itu memukul-mukul dadanya agar menyisakan kelegaan saat ia bernafas.
"OOOEeeeK...OOOEEEEK...OOOEEEK," seketika tangis bayi memecah kesunyian lorong rumah sakit, lelaki itu mempercepat langkah demi langkahnya, terlihat seorang bayi sedang di gendong suster, menangis dengan kencangnya.
"Silakan pak di gendong anaknya, sudah saya bersihkan dedek bayinya," jawab suster ke lelaki itu.
Sang lelaki menerima si bayi dari tangan suster, menggendong dengan penuh kehati-hatian, sang bayi yang tadi menangis kencang seketika terdiam di pelukan lembut sang ayah.
"Mau di beri nama siapa pak bayinya?" tanya suster.
"Surya, Surya dikala senja. " jawab bapak Bagas lirih.
Spoiler for Chapter 1 : sang Surya:
Jakarta, 2018.
"TENG!! TENG!! TENG!!" bunyi bel terdengar hingga ujung jalan setapak depan sebuah sekolah, segerombolan anak tunggang langgang berlarian menuju gerbang sekolah tersebut.
Pak Kusni penjaga sekolah, merangkap satpam, merangkap manusia terlihat mendorong gerbang dengan kepayahan, faktor usia seperti menggerogoti tenaganya yang dulu seperti kuda jantan, nafasnya terdengar mengebu-gebu seperti pemain film erotis tahun 80an, padahal gerbang sekolahnya hanya ada satu, bayangkan bila sekolah ini memiliki 7 gerbang layaknya pintu neraka, mungkin senin beliau sudah di kebumikan.
Dari ufuk timur terdengar suara dengan lantang.
"HEI KUSNI!!! HENTIKAN!!! GUA MASIH MAU SEKOLAH KUSNI!!!"
Remaja itu berlari bersama gerombolan murid yang telat bagai babi hutan.
Pak Kusni yang sedang mendorong gerbang terdiam sesaat, lalu melihat asal suara tersebut, matanya melotot melihat remaja tersebut berlari seperti maling BH yang dikejar warga, dengan sisa tenaga tuanya di dorong gerbang itu dengan tergesa-gesa,
"bocah sialan itu tak boleh masuk..! TIDAK BOLEH MASUK..! YOU SHALL NOT PASS..!" gumam lelaki tua itu sambil mengutip kata-kata Gandalf Lord Of The Ring.
"SIALAN KAU KUSNI! GUA TIDAK AKAN KALAH DENGAN TUA BANGKA MACAM KAU KUSNI!!" teriak lagi remaja itu dengan lantang, langkah kakinya semakin kencang ia sampai lupa resleting celananya masih menganga memberikan sensasi cooling breeze di sekujur pangkal pahanya.
Mendengar itu Kusni geram, ia semakin menggebu-gebu mendorong gerbang, akan tetapi, "KREEK!!" suara tulang bergeser bersua, teriakan tertahan mengema di kalbu Kusni.
"AAARRRGGHH!! AMPUN GUSTI!! PINGGANGKU!!" sakit encok strata tiga Kusni kambuh, tubuh kusni tertahan gerbang, tanpa adanya gerbang mungkin tubuh Kusni akan tersungkur ke tanah, ada hubungan simbiosis mutualisme yang ironis antara Kusni dan gerbang.
"Pagi beh, kambuh?! AHAAY!" ejek remaja itu ke pak Kusni sambil berlenggang menuju kelas.
Sakit, malu, vertigo menjadi satu, itulah yang di rasakan Kusni sekarang, melihat murid itu berlalu membuat matanya berkaca-kaca seutas kata terucap dari bibir Kusni.
"Dasar bocah KAMPRET!!" Kusni tertahan mematung sambil menggenggam gerbang sekolah yang masih seperempat terbuka.
Kelas 2-A sudah di penuhi manusia-manusia unggulan, datang setiap pagi untuk mencari ilmu, bersiap-siap menatap masa depan dengan penuh harapan cemerlang, di belakang dua insan lelaki saling bercakap.
"Cok, film bokep yang kemaren elu kirim crash, kirim lagi dong bro," celoteh Bambang ke Ucok di baris belakang.
"BAH!! Handphone kau saza yang zadul Bams, buktinya zalan-zalan zaja tuh di hp ku, makanya beli hape zangan di pasar malam lai," jawab Ucok dengan logat medannya yang kental, sungguh percakapan yang menginspirasi kaum muda mudi INDONESIA.
"Eh eh eh, guru guru guru!" riuh anak-anak kelas 2-a, sesosok lelaki tinggi, atletis nan tampan terlihat di depan pintu, kemudian berlalu, berganti menjadi lelaki pendek, tambun dengan kepala botak di tengah layaknya lapangan bola, sekilas adegan tadi seperti iklan L-men yang gagal.
Pak Hartono masuk ke dalam kelas, melihat sekeliling kelas sambil menyapa.
"Pagi anak-anak!!", sapa pak Hartono.
"PAGI PAK GURUUU!!" Jawab murid-murid dengan serentak dan kompak.
Tiba-tiba seorang anak berdiri di depan pintu kelas, wajahnya terlihat kecapaian dan pucat.
"Yaaah! Telat!" ujar anak itu, pak Hartono menelisik dengan teliti anak yang terlambat itu, kemudian berujar "hei kamu! Berani kamu telat di jam saya! Kesini kamu!" perintah pak Hartono dengan galaknya, anak itu pun maju dengan perlahan, kepalanya menunduk malu tidak bisa menatap pak Hartono, "Push up 25 kali! Jikalau tidak sanggup silakan keluar kelas saya!!" ujar pak Hartono dengan tegas, ketika anak itu mengambil ancang-ancang untuk melakukan push up, sesosok mahkluk mengintip dari balik jendela di barisan pojok kanan belakang, matanya nanar namun tajam melihat situasi kelas.
"oke situasi aman," ujarnya dengan percaya diri, dengan mode silent ia menyelundupkan tasnya dari balik jendela menuju bangku belajar, lalu ia merangsek masuk dari celah jendela, bak ular kadut dengan licinnya ia masuk melewati celah lumayan sempit itu, setengah badannya sudah masuk ke dalam ruang kelas, tangan kirinya menyentuh meja kemudian ia mendorong sisa tubuhnya melalui tembok menggunakan tangan kanan, dengan sangat cepat dan tanpa satu makhluk pun mengetahui ia sudah masuk ke dalam kelas, dengan posisi menungging di atas meja, misi pun berhasil, ia turun dari meja kemudian menikmati pemandangan Budi yang sedang push up.
"Budi, terima kasih ya, tanpa elu sebagai pengalih perhatian gua ngak bisa sampai di dalam kelas, Budi, kamu, numero uno," gumam pria itu di dalam hati.
Iya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Surya, anak dari bapak Bagas prakasa yang kalian liat kisah pilunya di prolog, anak ini tumbuh besar menjadi sosok lelaki tampan, pintar dan soleh, itu hanya menurut penuturan bapaknya sendiri.
Push up Budi sudah berada di angka 23 kali, keringat bercucuran dari kening sampai badan Budi, bahkan sampai muncul bercak basah di daerah selangkangannya, pergelangan tangannya mulai goyah, lututnya bergetar 4,5 skala richter, tubuh yang di rancang untuk main warnet seharian itu tidak mampu menerima push up lebih dari 20 kali.
"Pak, sudah ya pak, saya sudah tidak sanggup," nego Budi ke pak Hartono.
Pak Hartono sedikit terenyuh melihat Budi yang kecapaian, "aduh, kasihan kamu nak, ya sudah … tambah lima lagi push upnya, biar genap jadi 30," tutur pak Hartono dengan melepas topeng kesedihannya, mata Budi nanar namun kosong menatap lantai, terlihat raut penyesalan teramat sangat dari wajah Budi.
Pak Hartono mulai menuju meja ia mengambil daftar absensi lalu mulai mengabsen satu per satu muridnya, dimulai dari Ani, Deni dan seterusnya, murid-murid saling bersahutan saat nama mereka disebut pak Hartono, ketika mulut pak Hartono menyebut nama Surya, "HADIR PAK..!" sahut seseorang pemuda dari belakang dengan lantang.
Seisi kelas kaget, terperanga sambil menganga melihat Surya sudah di dalam kelas, pertanyaan dan praduga berkecamuk di hati mereka.
"Bagaimana ia bisa masuk!?"
"Sejak kapan ia ada di kelas?!"
"Kenapa aku ada di kelas ini!!" gumam Ari yang seharusnya masuk kelas 2-d.
semua perhatian itu berbanding terbalik dengan kondisi Budi yang tanpa perhatian satupun dari teman-temannya.
"Sakit, banget, tapi tak berdarah, sungguh biadab temen-temen gua, kata mereka kita teman sejati, selalu di hati, HILIH KINTHIL!!" ujar Budi di dalam hati kesal dengan teman-temannya.
Pelajaran berjalan setelah sesi absensi, pak Hartono mulai menjelaskan di depan kelas, suasana hening terasa, murid-murid mulai mendengarkan dengan seksama, kecuali Surya yang sedang terlelap di mejanya, posisinya yang berada paling belakang dan di tutupi Bambang yang jangkung dan Ucok yang bulat menjadikan tempat duduknya seperti vila di puncak, tempat paling nyaman untuk beristirahat.
"TOK TOK TOK TOK" bunyi ketukan pintu memecah keheningan kelas, pak Zul sang kepala sekolah sedang berdiri dengan seorang gadis cantik nan manis di sebelahnya, "pagi pak, maaf ganggu kelasnya, ini ada murid baru kelas 2-a," ujar pak Zul, "oh iya pak, silakan neng masuk, perkenalkan diri dulu sama teman yang lain," jawab pak Hartono sambil mempersilakan gadis itu masuk.
Sesosok gadis manis memakai hijab putih berjalan perlahan menuju depan kelas, wajah manisnya terlihat malu-malu ketika bertatap muka dengan murid-murid kelas 2-A, "pagi semua, nama aku Naura kelana subhi, panggil saja Naura," jawab Naura sambil tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya, seketika itu juga rentetan panah asmara menusuk hati para lelaki di kelas 2-A, kecuali Surya yang sedang berkelana di pulau kapuk dan para murid perempuan yang menunjukkan ekspresi tersaingi secara jasmani dan rohani.
"kamu duduk di belakang ya nak Naura, soalnya bangku yang kosong cuman ada di sebelah sana, " ujar pak Hartono sambil menunjuk bangku disebelah Surya.
Naura pun berjalan menuju bangkunya, diiringi tatapan nakal murid laki-laki di kelas itu, ia kemudian duduk sambil mulai mengeluarkan peralatan belajarnya.
Bambang dan Ucok yang duduk di depan Naura pun sontak membalikkan badan untuk berkenalan.
"Hai Naura, namanya cantik secantik orangnya," puji Bambang dengan gaya sok coolnya.
"hei Naura, cantik kali kau, nanti pulang ku antar pakai motor ninja ku mau tak?" goda Ucok sambil menyisir jambul khatulistiwa miliknya.
Melihat gelagat kedua lelaki di depannya naura langsung ilfeel stadium akhir, didalam hatinya ia berteriak "TIDAAAAAAK..!" akan tetapi Naura hanya membalas dengan senyum malu tapi palsu ke kedua orang utan itu.
"ikh amit-amit jabang bayi, masa hari pertama di sekolah baru gua udah di godain cowok alay macem keset kayak gini, Ya tuhan salah apa hambamu ini, " ketus Naura di dalam hati.
"Jangan di anggap serius, mereka cuman bercanda."
"DEG...!!"
Rona wajah Naura terlihat terkejut, sebuah telepati terkirim langsung menuju fikirannya, ia mencari sumber telepati itu, dan matanya tertuju pada punggung lelaki teman sebangkunya, Surya.
Spoiler for Index:
PART 1
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
CHAPTER 6
CHAPTER 7
CHAPTER 8
CHAPTER 9
CHAPTER 10
CHAPTER 11
CHAPTER 12
CHAPTER 13
CHAPTER 14
CHAPTER 15
CHAPTER 16
CHAPTER 17
CHAPTER 18
CHAPTER 19
CHAPTER 20
CHAPTER 21
CHAPTER 22
CHAPTER 23
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
CHAPTER 28
CHAPTER 29
CHAPTER 30
PART 2
CHAPTER 2.1
CHAPTER 2.2
CHAPTER 2.3
CHAPTER 2.4
CHAPTER 2.5
CHAPTER 2.6
CHAPTER 2.7
CHAPTER 2.8
CHAPTER 2.9
CHAPTER 2.10
CHAPTER 2.11
CHAPTER 2.12
CHAPTER 2.13
CHAPTER 2.14
CHAPTER 2.15
CHAPTER 2.16
CHAPTER 2.17
CHAPTER 2.18
CHAPTER 2.19
CHAPTER 2.20
CHAPTER 2.21
CHAPTER 2.22
CHAPTER 2.23
CHAPTER 2.24
CHAPTER 2.25
CHAPTER 2.26
CHAPTER 2.27
CHAPTER 2.28
CHAPTER 2.29
Diubah oleh ayahnyabinbun 29-05-2022 00:42
namakuve dan 116 lainnya memberi reputasi
115
161.7K
Kutip
916
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#439
Chapter 2.13
Spoiler for Hadiah Ifrit:
Di sebuah pohon beringin tua di dimensi kedua yang terlihat lengang berubah 180° menjadi ramai tatkala sebuah portal antar dimensi berpusar dengan lebarnya, tak selang beberapa lama seekor siluman berwujud ular besar keluar dan terhempas dari pusaran portal itu dengan sekujur tubuh bersimbah darah.
"To-tolong … to-tolong aku," lirihnya lemah kepada beberapa jin yang bertugas menjaga sumur tua tersebut di dimensi kedua. Beberapa jin bersisik ular hendak membantu siluman ular itu namun langkah mereka terhenti disaat seekor macan kumbang hitam bercakar emas berjalan di atas sang siluman ular, sorot matanya tajam seakan siap menyerang siapa saja yang akan mendekat untuk membantu sang siluman.
"Jaga sikapmu Kumbang," seru seorang manusia bertudung hitam yang ikut keluar dari portal dimensi.
"Manusia!! Ada manusia!!" pekik salah satu jin penjaga sumur sembari mengacungkan tombak bermata keris mereka.
"Tenanglah, aku kesini bukan untuk mencari lawan," seru sang manusia sambil merentangkan tangannya. Macan kumbang hitam milik sang lelaki misterius menggeram kemudian mendekat kearah sang empunya dan seketika membias dan merasuk kedalam tubuh tegap lelaki tersebut.
"Lalu untuk apa anda kesini!?" tanya salah satu jin penjaga sumur tua tersebut dengan masih tetap mengacungkan tombak miliknya.
Sang manusia membuka tudung hitam yang menutupi kepalanya dan wajahnya seraya berkata, "aku hanya ingin menjemput anakku dan kebetulan portal ini yang paling dekat dengannya," jawab Bagas pada para jin didepannya.
Salah satu penjaga memperhatikan Bagas dengan seksama dan matanya membulat sempurna tatkala ia melihat sebuah mendali yang bergantung di leher Bagas kala itu. Sang jin penjaga langsung bersimpuh dan bersujud di depan Bagas.
"Ma-maafkan kelancangan kami tuan!" serunya memohon ampun dengan penuh rona ketakutan di wajahnya. "Hei kau bodoh! Bersujud sekarang!" serunya kepada para penjaga yang lain.
"Memang kenapa?" tanya salah satu temannya.
"Dia salah satu satria!" jelas jin penjaga yang tengah bersimpuh.
Dikawah hitam pertarungan sengit tengah terjadi, pertarungan antara para tahanan dan para jin hitam penjaga kawah hitam sudah dimulai dan para penjaga terlihat kewalahan dengan banyaknya tahanan yang memberontak dan membelot melawan mereka.
Dalam pertarungan melawan para penjaga kawah hitam Senja terlihat mengeluarkan sebuah botol dari kantung celananya, ia membuka penutup botol tersebut dengan mengigitnya dan seketika sebuah kepulan asap putih menyembul keluar dari bibir botol tersebut.
Asap putih tersebut berubah warna menjadi hitam pekat segelap malam dan membentuk sesosok raksasa yang merupakan Raka sang genderuwo berbulu hitam bermanik mata biru, ia menatap tajam para penjaga jin hitam penjaga kawah hitam dan mulai berlari kedepan hendak ikut dalam pertempuran, dalam satu sapuan tangannya sepuluh jin hitam terhempas membentur bebatuan.
"PEMANAAAH!!!" teriak Rawa menggelegar dari tengah medan pertempuran kearah para penjaga di bagian atas menara, mereka sudah bersiap-siap dengan mata busur terarah kebawah.
Senja menatap keatas melihat para pemanah dengan tatapan tajam, "kau tau apa yang harus kau lakukan Zil," serunya pelan.
Seketika aura hitam melingkupi tubuh Senja dan melesat keluar dari tubuh pemuda itu, bayangan hitam itu dengan cepat membentuk siluet naga dengan sayap lebar membentang di angkasa, Zil sang naga hitam terbang mengepakkan sayapnya kearah menara pengawas, naga hitam itu menarik nafas panjang sembari menahan kepulan api membara di dalam mulutnya dan seketika…
-Fhuus-
-DHUAAAAR-
Bola api raksasa terlontar dari mulut sang naga dan meledakkan menara pengawas dalam satu hembusan nafas, para pemanah terlontar dan beberapa terbakar hidup-hidup ditempat, para pemanah yang masih tersisa berusaha membidik Zil sang naga hitam tanpa ada hasil karena Zil yang terbang dengan lincahnya di atas mereka.
Sementara di bawah Rawa sibuk membantai para tahanan yang memberontak dengan membabi buta hingga …
"RAWAAAA!! LAWANMU ADALAH AKU!!"
Sebuah teriakan mengalihkan perhatian Rawa yang kala itu tengah sibuk melawan para jin kera.
"Kekekeke!! Kalian pasti bercanda," serunya lantang sembari melihat putri Karina berdiri dengan senjata cangkul seadanya.
Tanpa peringatan Rawa mengangkat tinggi palu miliknya dan melempar palu tersebut kearah sang putri.
-Bruaak-
Palu besar itu melesat dan mengenai bebatuan, putri Karina yang berada di jalur palu milik Rawa seketika sudah tidak ada, tubuh sang putri sudah berada di genggaman Senja yang kala itu dengan cepatnya menyelamatkan nyawa putri Karina.
"Tu-tuan Senja…"
"Jangan gegabah, siluman buaya itu bukan lawanmu putri," seru Senja pelan kepada putri Karina.
"Tapi…"
"Aku mohon berlindunglah, anda adalah alasan para rakyat Pujakerana sekarang melawan untuk kebebasan mereka," seru Senja.
Karina mengangguk mengerti kemudian berlari kebelakang kearah kumpulan jin-jin kera rakyat Pujakerana.
Rawa menatap Senja di ujung sana dengan tatapan geram sedangkan Senja dengan jilatan api yang mulai berpendar dari kedua tangannya tengah berdiri sambil menatap balik Rawa dengan tatapan tajam.
Rawa menarik rantai yang melilit tangannya dan seketika palu besar miliknya sudah kembali di telapak tangan kanannya, siluman besar itu berlari kearah Senja dengan palu terangkat dan melancarkan serangan berupa ayunan palu dengan membabi buta hingga membuat beberapa jin kera bahkan prajurit jin hitam bawahannya terkena dampak serangannya.
"Kalian semua jangan dekati Rawa, dia lawanku," seru Senja kepada jin kera disekitarnya, ia kemudian beranjak berlari kearah Rawa yang tengah mengamuk. Dalam satu pukulan Senja melontarkan bola api kearah Rawa yang saat itu tengah berlari.
-DHUAR-
Rawa dengan gampangnya menampik bola api Senja dan terus berlari kearah Senja, tak tinggal diam Senja melancarkan serangan kembali berupa tiga bola api lanjutan kearah Rawa namun dengan mudahnya Rawa kembali menampik serangan Rawa dengan palu miliknya.
"Kekekeke! Sekarang giliranku bocah!" seru Rawa dalam jarak serangan palunya terhadap Senja.
-BUGH-
Palu Rawa berayun dan beradu langsung dengan tubuh Senja, Senja yang saat itu hanya menahan serangan Rawa dengan lengan tangannya terhempas kesamping menerima serangan langsung palu besar itu, darah segar terlihat keluar dari pinggir bibirnya disaat ia berusaha sekuat tenaga berdiri sembari menahan sakit disekujur lengan dan dadanya.
"Gyahahahaha! Jadi ini manusia yang ditakuti Gundara! Ciih! Menyedihkan!! Aku akan membunuh dan mempersembahkan kepalamu kepada Gundara sebagai hadiah dan tubuhmu akan aku berikan kepada para jin bawahanku sebagai makanan!!"
Didalam ruang jiwa.
"Hei Senja … kau yakin bisa mengalahkannya? Sepertinya dia terlalu kuat untukmu," bisik Ifrit dari balik jeratan hitam yang membelenggu dirinya.
"Uhuk-uhuk-uhuk … diam kau."
"Bagaimana jika aku memberikanmu kekuatan lebih Senja … jiwamu itu lemah …"
"DIAM KAU!! Aku … aku tidak lemah!!" geram Senja.
"Kekekeke … lalu yang selama ini yang kau gunakan apa? Kekuatanku bukan? Yang selama ini kau gunakan adalah pijaran api milikku!! Kau tidak memiliki energi sukma seperti Surya … jadi jangan pungkiri lagi … disini kau membutuhkanku untuk tetap hidup."
Senja terdiam, ia ingin marah namun semua yang dikatakan Ifrit adalah kebenaran yang tidak terelakkan. Jiwanya saat ini hanya jiwa yang bergantung dengan energi Ifrit untuk bertahan hidup dalam setiap pertarungannya.
"Senja," panggil Ifrit sembari menatap wajah Senja. Senja menatap iblis didepannya dengan tatapan kosong.
"Aku adalah salah satu iblis terkuat di neraka dan keturunan langsung dari Azazil … Denganku kau akan lebih kuat," rayu Ifrit kala itu.
Senja memalingkan wajahnya dan berbalik memunggungi Ifrit tanpa berkata sepatah kata pun.
Ifrit menatap pungggung Senja dengan tatapan dan senyum licik, tiba-tiba energi merah milik Ifrit merembes keluar dari balik jeratan hitam, energi itu perlahan menjalar kearah Senja dan mulai masuk kedalam tubuh Senja.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Senja dengan tatapan tajam menatap Ifrit.
"Anggap saja ini hadiah," seru Ifrit dengan senyum tipis di bibirnya.
Sementara jiwa Surya yang sedari tadi berada dibalik pintu ruang jiwa milik Senja menguping perbincangan Senja dan Ifrit, ia hanya tersenyum miring dan kemudian menjauh dari pintu tersebut.
-BOOOM-
Ledakan energi menghempaskan Rawa yang kala itu hendak menghantam kembali Senja dengan palu besarnya, jilatan energi merah berpijar dari tubuh Senja dan meledak bagai api yang siap menjalar kesegala arah.
"Kekuatan ini," gumam Senja sembari melihat telapak tangannya yang dipenuhi energi Iblis.
Dalam sekejap mata seluruh luka-luka di tubuh Senja menutup dan menghilang seakan tidak terjadi luka yang parah. Diujung sana Rawa tengah memutar rantai yang mengait palu miliknya dengan cepat.
"CIIH!! SEGERA MATI KAU BOCAH!!!" teriak Rawa dengan penuh amarah, dalam satu hentakan tangan Rawa melesatkan palunya dengan kekuatan siluman yang luar biasa kuat, palu itu melesat dengan cepat dan seketika menghantam Senja yang sedari tadi hanya berdiri saja tanpa berusaha mengelak serangan tersebut.
-DHUAAAAR-
Kepulan debu berkumpul menutupi pandangan, Rawa pun tersenyum penuh kemenangan tatkala palu miliknya menghantam langsung tubuh Senja dengan telak namun senyumnya seakan sirna saat ia hendak menarik rantai yang mengait palu miliknya. Palu raksasa yang terbuat dari besi baja itu hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan potongan rantai yang dikaitkan di palu tersebut.
Debu hasil hantaman semakin menghilang, terlihat Senja berdiri dengan manik mata merah menyala menatap Rawa dan kepalan tangan menggenggam sisa residu palu milik Rawa. "Sekarang giliranku," seru Senja dingin.
-Fuush-
Dalam sekejap mata Senja menghilang dari pandangan Rawa, siluman buaya itu berusaha mencari keberadaan Senja namun ia tidak dapat menemukan pemuda itu dimanapun, sampai …
-Bugh-
Sebuah pukulan telak mendarat di perut Rawa, Senja yang dengan kecepatan diluar nalar manusia melaju lurus kedepan dan langsung menghajar Rawa.
"UAGH!!"
Darah segar keluar dari mulut sang siluman buaya, Rawa terseret 10 meter kebelakang sambil menahan sakit di perutnya.
"Darimana kekuatan ini, dia menjadi sosok yang berbeda, seakan-akan dia dirasuki … urgh … tidak mungkin hal itu terjadi," gumam Rawa dalam hati. Pandangan Rawa berpendar ke sekelilingnya, pertarungan dirinya dan Senja tengah menjadi tontonan para Penjaga dan para tahanan kawah hitam.
"Khu khu khu … sepertinya aku telah meremehkanmu bocah, selanjutnya aku juga akan serius dan tidak akan lenga…"
-BUGH-
-BUGH-
-BUGH-
Tiga pukulan dilancarkan Senja yang dengan telak mengenai moncong Rawa. Rawa terhempas kebelakang namun ia berhasil menjaga keseimbangan untuk tidak terjatuh.
Rawa menggenggam moncong panjangnya sembari mengumpat "Argh sialan … GIGIKU!!!" teriak Rawa histeris mendapati beberapa giginya tanggal karena dihantam pukulan Senja.
Senja tersenyum miring dengan tatapan mengejek kearah siluman di depannya, "tenang saja, akan ku buat kau semakin tampan."
"KEPARAT!!!" geram Rawa penuh amarah, Rawa merapal mantra ilmu hitam dan energi hitam mulai melingkupi seluruh tubuhnya, seketika tubuh Rawa membesar membuat baju zirah besi yang digunakannya robek dan lepas memperlihatkan sisik-sisik tebal di kulitnya, gigi-gigi yang tadi tanggal berganti menjadi taring-taring tajam yang siap mengoyak apapun yang digigitnya, cakar di tangannya ikut membesar dan terlihat semakin tajam, cukup untuk mencabik mahluk seukuran sapi dewasa.
Senyum miring di bibir Senja pudar namun hanya sementara, senyum itu berganti menjadi seringai menyeramkan dengan tatapan nanar dengan manik mata merah menyala menatap siluman buaya raksasa di depannya.
"GROOAAAAR...!"
Auman Rawa menggelegar membuat bulu kuduk para tahanan kawah hitam bergidik dibuatnya, sedangkan sorak sorai para jin hitam berpendar seakan menyemangati Rawa untuk segera menyelesaikan pertarungan ini.
Dilain pihak Senja mulai memasang kuda-kuda, kedua tangannya direntangkan dan seketika jilatan api berpendar dari telapak tangannya dan mulai menyelimuti seluruh lengannya, tidak hanya itu jilatan api juga menyelimuti kedua telapak kakinya.
Rawa berlari kearah Senja dengan cepatnya, walau tubuhnya besar namun gerakan Rawa sangat cepat bagai kadal raksasa yang hendak mengejar mangsanya, sekejap mata Rawa sudah berada di depan Senja dengan kepala miring dan mulut menganga hendak menggigit tubuh Senja.
-hop-
Senja melompat kesamping menghindari gigitan Rawa namun belum selesai itu semua tubuh Senja sudah disambut kibasan ekor Rawa yang siap menerjang Senja bagai cambuk raksasa.
-BAM-
-Tsssssssh-
Senja menangkap ujung ekor Rawa dan membakarnya seketika, dengan satu tarikan Senja menarik tubuh siluman buaya raksasa itu dan melemparnya kearah tembok bebatuan dibelakang tubuhnya.
-BLAAAR-
Senja memantapkan kuda-kudanya, kedua tangan direntangkan kedepan dengan kepalan tangan diselimuti pijaran api, api ditubuh Senja semakin meluas dan membesar seakan membakar seluruh tubuh Senja, selintas jilatan api ditubuh Senja membentuk siluet tubuh Ifrit yang lengkap dengan tanduk panjang diatas kepalanya.
"TAPAK NARAKA," teriak Senja.
Seketika jilatan api di kepalan tangan kanan Senja membesar membentuk siluet kepala iblis dan sekejap ia berlari cepat bagai angin kearah Rawa yang tengah berusaha bangun dari jatuhnya.
-BOOM-
Sebuah pukulan berselimutkan api iblis bersarang dengan telak di perut Rawa, energi yang sangat besar itu membuat tembok bebatuan di belakang Rawa retak dan terbelah, seluruh organ dalam Rawa hancur berkeping-keping menyisakan tubuh buaya raksasa yang terpanggang dengan sempurna.
#bersambung
"To-tolong … to-tolong aku," lirihnya lemah kepada beberapa jin yang bertugas menjaga sumur tua tersebut di dimensi kedua. Beberapa jin bersisik ular hendak membantu siluman ular itu namun langkah mereka terhenti disaat seekor macan kumbang hitam bercakar emas berjalan di atas sang siluman ular, sorot matanya tajam seakan siap menyerang siapa saja yang akan mendekat untuk membantu sang siluman.
"Jaga sikapmu Kumbang," seru seorang manusia bertudung hitam yang ikut keluar dari portal dimensi.
"Manusia!! Ada manusia!!" pekik salah satu jin penjaga sumur sembari mengacungkan tombak bermata keris mereka.
"Tenanglah, aku kesini bukan untuk mencari lawan," seru sang manusia sambil merentangkan tangannya. Macan kumbang hitam milik sang lelaki misterius menggeram kemudian mendekat kearah sang empunya dan seketika membias dan merasuk kedalam tubuh tegap lelaki tersebut.
"Lalu untuk apa anda kesini!?" tanya salah satu jin penjaga sumur tua tersebut dengan masih tetap mengacungkan tombak miliknya.
Sang manusia membuka tudung hitam yang menutupi kepalanya dan wajahnya seraya berkata, "aku hanya ingin menjemput anakku dan kebetulan portal ini yang paling dekat dengannya," jawab Bagas pada para jin didepannya.
Salah satu penjaga memperhatikan Bagas dengan seksama dan matanya membulat sempurna tatkala ia melihat sebuah mendali yang bergantung di leher Bagas kala itu. Sang jin penjaga langsung bersimpuh dan bersujud di depan Bagas.
"Ma-maafkan kelancangan kami tuan!" serunya memohon ampun dengan penuh rona ketakutan di wajahnya. "Hei kau bodoh! Bersujud sekarang!" serunya kepada para penjaga yang lain.
"Memang kenapa?" tanya salah satu temannya.
"Dia salah satu satria!" jelas jin penjaga yang tengah bersimpuh.
Dikawah hitam pertarungan sengit tengah terjadi, pertarungan antara para tahanan dan para jin hitam penjaga kawah hitam sudah dimulai dan para penjaga terlihat kewalahan dengan banyaknya tahanan yang memberontak dan membelot melawan mereka.
Dalam pertarungan melawan para penjaga kawah hitam Senja terlihat mengeluarkan sebuah botol dari kantung celananya, ia membuka penutup botol tersebut dengan mengigitnya dan seketika sebuah kepulan asap putih menyembul keluar dari bibir botol tersebut.
Asap putih tersebut berubah warna menjadi hitam pekat segelap malam dan membentuk sesosok raksasa yang merupakan Raka sang genderuwo berbulu hitam bermanik mata biru, ia menatap tajam para penjaga jin hitam penjaga kawah hitam dan mulai berlari kedepan hendak ikut dalam pertempuran, dalam satu sapuan tangannya sepuluh jin hitam terhempas membentur bebatuan.
"PEMANAAAH!!!" teriak Rawa menggelegar dari tengah medan pertempuran kearah para penjaga di bagian atas menara, mereka sudah bersiap-siap dengan mata busur terarah kebawah.
Senja menatap keatas melihat para pemanah dengan tatapan tajam, "kau tau apa yang harus kau lakukan Zil," serunya pelan.
Seketika aura hitam melingkupi tubuh Senja dan melesat keluar dari tubuh pemuda itu, bayangan hitam itu dengan cepat membentuk siluet naga dengan sayap lebar membentang di angkasa, Zil sang naga hitam terbang mengepakkan sayapnya kearah menara pengawas, naga hitam itu menarik nafas panjang sembari menahan kepulan api membara di dalam mulutnya dan seketika…
-Fhuus-
-DHUAAAAR-
Bola api raksasa terlontar dari mulut sang naga dan meledakkan menara pengawas dalam satu hembusan nafas, para pemanah terlontar dan beberapa terbakar hidup-hidup ditempat, para pemanah yang masih tersisa berusaha membidik Zil sang naga hitam tanpa ada hasil karena Zil yang terbang dengan lincahnya di atas mereka.
Sementara di bawah Rawa sibuk membantai para tahanan yang memberontak dengan membabi buta hingga …
"RAWAAAA!! LAWANMU ADALAH AKU!!"
Sebuah teriakan mengalihkan perhatian Rawa yang kala itu tengah sibuk melawan para jin kera.
"Kekekeke!! Kalian pasti bercanda," serunya lantang sembari melihat putri Karina berdiri dengan senjata cangkul seadanya.
Tanpa peringatan Rawa mengangkat tinggi palu miliknya dan melempar palu tersebut kearah sang putri.
-Bruaak-
Palu besar itu melesat dan mengenai bebatuan, putri Karina yang berada di jalur palu milik Rawa seketika sudah tidak ada, tubuh sang putri sudah berada di genggaman Senja yang kala itu dengan cepatnya menyelamatkan nyawa putri Karina.
"Tu-tuan Senja…"
"Jangan gegabah, siluman buaya itu bukan lawanmu putri," seru Senja pelan kepada putri Karina.
"Tapi…"
"Aku mohon berlindunglah, anda adalah alasan para rakyat Pujakerana sekarang melawan untuk kebebasan mereka," seru Senja.
Karina mengangguk mengerti kemudian berlari kebelakang kearah kumpulan jin-jin kera rakyat Pujakerana.
Rawa menatap Senja di ujung sana dengan tatapan geram sedangkan Senja dengan jilatan api yang mulai berpendar dari kedua tangannya tengah berdiri sambil menatap balik Rawa dengan tatapan tajam.
Rawa menarik rantai yang melilit tangannya dan seketika palu besar miliknya sudah kembali di telapak tangan kanannya, siluman besar itu berlari kearah Senja dengan palu terangkat dan melancarkan serangan berupa ayunan palu dengan membabi buta hingga membuat beberapa jin kera bahkan prajurit jin hitam bawahannya terkena dampak serangannya.
"Kalian semua jangan dekati Rawa, dia lawanku," seru Senja kepada jin kera disekitarnya, ia kemudian beranjak berlari kearah Rawa yang tengah mengamuk. Dalam satu pukulan Senja melontarkan bola api kearah Rawa yang saat itu tengah berlari.
-DHUAR-
Rawa dengan gampangnya menampik bola api Senja dan terus berlari kearah Senja, tak tinggal diam Senja melancarkan serangan kembali berupa tiga bola api lanjutan kearah Rawa namun dengan mudahnya Rawa kembali menampik serangan Rawa dengan palu miliknya.
"Kekekeke! Sekarang giliranku bocah!" seru Rawa dalam jarak serangan palunya terhadap Senja.
-BUGH-
Palu Rawa berayun dan beradu langsung dengan tubuh Senja, Senja yang saat itu hanya menahan serangan Rawa dengan lengan tangannya terhempas kesamping menerima serangan langsung palu besar itu, darah segar terlihat keluar dari pinggir bibirnya disaat ia berusaha sekuat tenaga berdiri sembari menahan sakit disekujur lengan dan dadanya.
"Gyahahahaha! Jadi ini manusia yang ditakuti Gundara! Ciih! Menyedihkan!! Aku akan membunuh dan mempersembahkan kepalamu kepada Gundara sebagai hadiah dan tubuhmu akan aku berikan kepada para jin bawahanku sebagai makanan!!"
Didalam ruang jiwa.
"Hei Senja … kau yakin bisa mengalahkannya? Sepertinya dia terlalu kuat untukmu," bisik Ifrit dari balik jeratan hitam yang membelenggu dirinya.
"Uhuk-uhuk-uhuk … diam kau."
"Bagaimana jika aku memberikanmu kekuatan lebih Senja … jiwamu itu lemah …"
"DIAM KAU!! Aku … aku tidak lemah!!" geram Senja.
"Kekekeke … lalu yang selama ini yang kau gunakan apa? Kekuatanku bukan? Yang selama ini kau gunakan adalah pijaran api milikku!! Kau tidak memiliki energi sukma seperti Surya … jadi jangan pungkiri lagi … disini kau membutuhkanku untuk tetap hidup."
Senja terdiam, ia ingin marah namun semua yang dikatakan Ifrit adalah kebenaran yang tidak terelakkan. Jiwanya saat ini hanya jiwa yang bergantung dengan energi Ifrit untuk bertahan hidup dalam setiap pertarungannya.
"Senja," panggil Ifrit sembari menatap wajah Senja. Senja menatap iblis didepannya dengan tatapan kosong.
"Aku adalah salah satu iblis terkuat di neraka dan keturunan langsung dari Azazil … Denganku kau akan lebih kuat," rayu Ifrit kala itu.
Senja memalingkan wajahnya dan berbalik memunggungi Ifrit tanpa berkata sepatah kata pun.
Ifrit menatap pungggung Senja dengan tatapan dan senyum licik, tiba-tiba energi merah milik Ifrit merembes keluar dari balik jeratan hitam, energi itu perlahan menjalar kearah Senja dan mulai masuk kedalam tubuh Senja.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Senja dengan tatapan tajam menatap Ifrit.
"Anggap saja ini hadiah," seru Ifrit dengan senyum tipis di bibirnya.
Sementara jiwa Surya yang sedari tadi berada dibalik pintu ruang jiwa milik Senja menguping perbincangan Senja dan Ifrit, ia hanya tersenyum miring dan kemudian menjauh dari pintu tersebut.
-BOOOM-
Ledakan energi menghempaskan Rawa yang kala itu hendak menghantam kembali Senja dengan palu besarnya, jilatan energi merah berpijar dari tubuh Senja dan meledak bagai api yang siap menjalar kesegala arah.
"Kekuatan ini," gumam Senja sembari melihat telapak tangannya yang dipenuhi energi Iblis.
Dalam sekejap mata seluruh luka-luka di tubuh Senja menutup dan menghilang seakan tidak terjadi luka yang parah. Diujung sana Rawa tengah memutar rantai yang mengait palu miliknya dengan cepat.
"CIIH!! SEGERA MATI KAU BOCAH!!!" teriak Rawa dengan penuh amarah, dalam satu hentakan tangan Rawa melesatkan palunya dengan kekuatan siluman yang luar biasa kuat, palu itu melesat dengan cepat dan seketika menghantam Senja yang sedari tadi hanya berdiri saja tanpa berusaha mengelak serangan tersebut.
-DHUAAAAR-
Kepulan debu berkumpul menutupi pandangan, Rawa pun tersenyum penuh kemenangan tatkala palu miliknya menghantam langsung tubuh Senja dengan telak namun senyumnya seakan sirna saat ia hendak menarik rantai yang mengait palu miliknya. Palu raksasa yang terbuat dari besi baja itu hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan potongan rantai yang dikaitkan di palu tersebut.
Debu hasil hantaman semakin menghilang, terlihat Senja berdiri dengan manik mata merah menyala menatap Rawa dan kepalan tangan menggenggam sisa residu palu milik Rawa. "Sekarang giliranku," seru Senja dingin.
-Fuush-
Dalam sekejap mata Senja menghilang dari pandangan Rawa, siluman buaya itu berusaha mencari keberadaan Senja namun ia tidak dapat menemukan pemuda itu dimanapun, sampai …
-Bugh-
Sebuah pukulan telak mendarat di perut Rawa, Senja yang dengan kecepatan diluar nalar manusia melaju lurus kedepan dan langsung menghajar Rawa.
"UAGH!!"
Darah segar keluar dari mulut sang siluman buaya, Rawa terseret 10 meter kebelakang sambil menahan sakit di perutnya.
"Darimana kekuatan ini, dia menjadi sosok yang berbeda, seakan-akan dia dirasuki … urgh … tidak mungkin hal itu terjadi," gumam Rawa dalam hati. Pandangan Rawa berpendar ke sekelilingnya, pertarungan dirinya dan Senja tengah menjadi tontonan para Penjaga dan para tahanan kawah hitam.
"Khu khu khu … sepertinya aku telah meremehkanmu bocah, selanjutnya aku juga akan serius dan tidak akan lenga…"
-BUGH-
-BUGH-
-BUGH-
Tiga pukulan dilancarkan Senja yang dengan telak mengenai moncong Rawa. Rawa terhempas kebelakang namun ia berhasil menjaga keseimbangan untuk tidak terjatuh.
Rawa menggenggam moncong panjangnya sembari mengumpat "Argh sialan … GIGIKU!!!" teriak Rawa histeris mendapati beberapa giginya tanggal karena dihantam pukulan Senja.
Senja tersenyum miring dengan tatapan mengejek kearah siluman di depannya, "tenang saja, akan ku buat kau semakin tampan."
"KEPARAT!!!" geram Rawa penuh amarah, Rawa merapal mantra ilmu hitam dan energi hitam mulai melingkupi seluruh tubuhnya, seketika tubuh Rawa membesar membuat baju zirah besi yang digunakannya robek dan lepas memperlihatkan sisik-sisik tebal di kulitnya, gigi-gigi yang tadi tanggal berganti menjadi taring-taring tajam yang siap mengoyak apapun yang digigitnya, cakar di tangannya ikut membesar dan terlihat semakin tajam, cukup untuk mencabik mahluk seukuran sapi dewasa.
Senyum miring di bibir Senja pudar namun hanya sementara, senyum itu berganti menjadi seringai menyeramkan dengan tatapan nanar dengan manik mata merah menyala menatap siluman buaya raksasa di depannya.
"GROOAAAAR...!"
Auman Rawa menggelegar membuat bulu kuduk para tahanan kawah hitam bergidik dibuatnya, sedangkan sorak sorai para jin hitam berpendar seakan menyemangati Rawa untuk segera menyelesaikan pertarungan ini.
Dilain pihak Senja mulai memasang kuda-kuda, kedua tangannya direntangkan dan seketika jilatan api berpendar dari telapak tangannya dan mulai menyelimuti seluruh lengannya, tidak hanya itu jilatan api juga menyelimuti kedua telapak kakinya.
Rawa berlari kearah Senja dengan cepatnya, walau tubuhnya besar namun gerakan Rawa sangat cepat bagai kadal raksasa yang hendak mengejar mangsanya, sekejap mata Rawa sudah berada di depan Senja dengan kepala miring dan mulut menganga hendak menggigit tubuh Senja.
-hop-
Senja melompat kesamping menghindari gigitan Rawa namun belum selesai itu semua tubuh Senja sudah disambut kibasan ekor Rawa yang siap menerjang Senja bagai cambuk raksasa.
-BAM-
-Tsssssssh-
Senja menangkap ujung ekor Rawa dan membakarnya seketika, dengan satu tarikan Senja menarik tubuh siluman buaya raksasa itu dan melemparnya kearah tembok bebatuan dibelakang tubuhnya.
-BLAAAR-
Senja memantapkan kuda-kudanya, kedua tangan direntangkan kedepan dengan kepalan tangan diselimuti pijaran api, api ditubuh Senja semakin meluas dan membesar seakan membakar seluruh tubuh Senja, selintas jilatan api ditubuh Senja membentuk siluet tubuh Ifrit yang lengkap dengan tanduk panjang diatas kepalanya.
"TAPAK NARAKA," teriak Senja.
Seketika jilatan api di kepalan tangan kanan Senja membesar membentuk siluet kepala iblis dan sekejap ia berlari cepat bagai angin kearah Rawa yang tengah berusaha bangun dari jatuhnya.
-BOOM-
Sebuah pukulan berselimutkan api iblis bersarang dengan telak di perut Rawa, energi yang sangat besar itu membuat tembok bebatuan di belakang Rawa retak dan terbelah, seluruh organ dalam Rawa hancur berkeping-keping menyisakan tubuh buaya raksasa yang terpanggang dengan sempurna.
#bersambung
Diubah oleh ayahnyabinbun 07-08-2019 04:55
simounlebon dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Kutip
Balas
Tutup