- Beranda
- Stories from the Heart
Perjalanan Sang Penguasa Alam JIN & KAHYANGAN
...
TS
gelandangan143
Perjalanan Sang Penguasa Alam JIN & KAHYANGAN
Assalamualaikum wr. wb.
Salam sejahtera semuanya. Mohon ijin untuk menceritakan ulang Kisah Sang Guru yg bermuatan banyak pelajaran Hikmah kehidupan yg bermuatan Religi, Supranatural dan Spiritual.
Index Thread :
Sebuah Kisah Nyata Perjalanan Hidup, Spiritual & Supranatural

CHAPTER 1
Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas. Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya.
Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya. Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya.
Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak. Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki. Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri.
Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara. Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya.
Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti. Yang ku tau lelaki muda usia itu, sering dipanggil Kyai Lentik, dari ayahnya nasabnya sampai Sunan Gunung Jati, dari ibunya sampai ke Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.
Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai. Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk.
Seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? ndak bogah duwit mbok. Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri.
Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada.
Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan.
Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa pulang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku.
Saat aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam. Bayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai. Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi.
Kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat kisah aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak,
“Dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu.”
“Nyai siapa?” kataku menguasai keterkejutan.
“ah mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!!” katanya, karena menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan kata-kataku, aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang aku yakini tengah berada di musolla menunggu sholat berjama’ah.
Aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi memang kalau dipikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati.
Tapi para penduduk sekitar juga para tamu yang datang, selalu berkeyakinan kalau pesantren ini adalah pesantren kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, aku masih takut bagaimana jadinya kalau Kyai bertarung dengan nenek sakti ini? Selama ini yang aku tahu Kyai sangat menguasai ilmu pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila, sakit luar, penyakit dalam, sampai penyakit kena santet, kena guna-guna kena jin, kena narkoba, semua bisa disembuhkan, orang pengen jadi lurah, camat, bupati, gubernur, sampai mau jadi presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya mendo’akan saja, tapi kalau ilmu kanuragan, aji kesaktian, aku tak tau, aku jadi ingat ada seorang tentara mau dikirim menjadi pasukan. Pasukan penjaga perdamaian di Kuwait namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang lain mau meminta sareat ilmu kekebalan, dia ngantri dengan tamu yang lain lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum Iqbal ngomong.
Begitulah Kyai selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. Bahkan tahu hari, tanggal, tahun kelahiran serta siapa bapak ibunya. Bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja mengalir.
Aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ketempat Kyai. Kyai mengupas aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dengan si Dyah dengan si Faty, Dina, semua disebutkan satu-satu oleh Kyai plus nama orang tua gadis itu. Jelas membuatku jengah, malu dan aku yang sebelumnya datang ke pesantren ini karena bekerja yaitu membuat kaligrafi dari semen, akhirnya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu dari Kyai.
Bersambung ke Chapter 2
Salam sejahtera semuanya. Mohon ijin untuk menceritakan ulang Kisah Sang Guru yg bermuatan banyak pelajaran Hikmah kehidupan yg bermuatan Religi, Supranatural dan Spiritual.
Index Thread :
Spoiler for Index Thread :
Sebuah Kisah Nyata Perjalanan Hidup, Spiritual & Supranatural

CHAPTER 1
Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas. Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya.
Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya. Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya.
Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak. Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki. Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri.
Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara. Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya.
Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti. Yang ku tau lelaki muda usia itu, sering dipanggil Kyai Lentik, dari ayahnya nasabnya sampai Sunan Gunung Jati, dari ibunya sampai ke Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.
Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai. Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk.
Seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? ndak bogah duwit mbok. Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri.
Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada.
Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan.
Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa pulang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku.
Saat aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam. Bayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai. Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi.
Kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat kisah aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak,
“Dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu.”
“Nyai siapa?” kataku menguasai keterkejutan.
“ah mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!!” katanya, karena menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan kata-kataku, aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang aku yakini tengah berada di musolla menunggu sholat berjama’ah.
Aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi memang kalau dipikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati.
Tapi para penduduk sekitar juga para tamu yang datang, selalu berkeyakinan kalau pesantren ini adalah pesantren kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, aku masih takut bagaimana jadinya kalau Kyai bertarung dengan nenek sakti ini? Selama ini yang aku tahu Kyai sangat menguasai ilmu pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila, sakit luar, penyakit dalam, sampai penyakit kena santet, kena guna-guna kena jin, kena narkoba, semua bisa disembuhkan, orang pengen jadi lurah, camat, bupati, gubernur, sampai mau jadi presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya mendo’akan saja, tapi kalau ilmu kanuragan, aji kesaktian, aku tak tau, aku jadi ingat ada seorang tentara mau dikirim menjadi pasukan. Pasukan penjaga perdamaian di Kuwait namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang lain mau meminta sareat ilmu kekebalan, dia ngantri dengan tamu yang lain lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum Iqbal ngomong.
Begitulah Kyai selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. Bahkan tahu hari, tanggal, tahun kelahiran serta siapa bapak ibunya. Bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja mengalir.
Aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ketempat Kyai. Kyai mengupas aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dengan si Dyah dengan si Faty, Dina, semua disebutkan satu-satu oleh Kyai plus nama orang tua gadis itu. Jelas membuatku jengah, malu dan aku yang sebelumnya datang ke pesantren ini karena bekerja yaitu membuat kaligrafi dari semen, akhirnya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu dari Kyai.
Bersambung ke Chapter 2
Diubah oleh gelandangan143 23-08-2019 07:26
ir.rahma92 dan 37 lainnya memberi reputasi
30
62.8K
226
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gelandangan143
#47
Chapter 6d
“Ah, ibu jangan berfikir yang aneh-aneh.” Besoknya aku pun kembali ke pesantren, naik bus malam PAHALA KENCANA. Ibuku sebenarnya tak mengijinkanku kembali dulu ke pesantren, tapi aku memaksa, karena rinduku kepada Kyai. Sekarang aku telah berada dalam bus yang melaju tak terlalu cepat, karena hujan mengguyur deras di setiap perjalanan. Penumpang dalam bus tak terlalu banyak mungkin sekitar dua belasan orang, karena bus ini nantinya mengambil penumpang di agen-agen penjualan tiket di setiap perjalanan, aku duduk di tengah sebelah kiri bus. Dan daripada melamun, aku selalu membaca wirid di setiap perjalananku. Bus melaju kadang oleng kanan kiri, ketika rodanya masuk ke jalan yang berlubang dan penuh genangan air hujan, sehingga air di kubangan muncrat menyiram para pejalan kaki atau pengendara motor, pasti terdengar jiancok!, atau jiamput!, sumpahan khas, ah mengapa tak subhanallah. Entahlah…
Di daerah Lasem bus berhenti di agen penjualan tiket, para penjual makanan segera masuk menyerbu, takut pembelinya kedahuluan penjual lain, kulihat pembeli tua melangkah pelan, menawarkan dagangan, ku lihat makanan kesukaanku, yaitu jagung muda yang diparut kemudian diuleg dengan bumbu dikasih telur lalu digoreng, dimakan dengan cabe, huh enak sekali, di daerahku makanan itu namanya pelas.
“Berapa nek?”
“Tiga ribu nak.” ku keluarkan uang tiga ribuan, nenek itu menerimanya dengan jari gemetar.
“Nenek sakit?” tanyaku. Perempuan itu mengangguk. Ku keluarkan uang dua ratusan ribu, lalu ku jejalkan di telapak tangannya, mungkin uangku ini lebih berguna di tangan nenek ini daripada di tanganku, ini adalah uang gajiku melukis di rumah makan. Lumayanlah dua minggu aku mendapat tiga jutaan. Nenek itu terkejut.
Tapi aku segera berkata, ”Sudahlah nek, tak usah terima kasih, sekarang nenek tak usah kerja, nenek pulang, dan uang itu untuk membeli obat, sana nenek turun, terus pulang.” nenek itu menuruti kata-kataku kemudian dia turun, sampai di bawah kulihat dia melihat uang yang kuberikan. Lalu menatapku dari bawah dan air matanya berkaca-kaca. Kulihat dia mengangkat kedua tangannya berdoa. Sementara aku mulai menikmati apa yang kubeli.
Beberapa penumpang naik, dan juga dua penumpang pasangan setengah tua, ku perkirakan umurnya lima puluh tahunan, setelah mencari-cari nomer kursi ternyata yang lelaki duduknya di sebelahku, sementara yang perempuan di kursi dua kursi deretan sebelah kanan arah depan kursiku.
Bus pun melaju, jam butut di tanganku telah menunjukkan pukul setengah lima sore.
Tiba-tiba perempuan istri lelaki di sampingku, bangkit dari kursi dan berjalan ketempat aku duduk. “Nak, bisa enggak kita gantian tempat duduk, biar saya duduk di sebelah suami saya, dan anak duduk di kursi saya.”
“Oh nggak papa bu, silahkan… silahkan.” kataku segera memberesi tas dan barangku. Untuk pindah tempat duduk.
Aku segera pindah tempat duduk yang ditempati perempuan tua itu. Oh rupanya disitu ada penumpangnya, seorang gadis berjilbab, cantik? Entah aku belum melihat wajahnya, aku mengucap permisi lalu duduk, menempatkan tasku, di tempat yang aman.
Nah, saat mengucap permisi itulah gadis itu menengokku dan mempersilahkanku, kulihat wajahnya terkejut melihatku, tapi aku duduk saja.
Terus terang aku orangnya tertutup, walau ada gadis di sampingku cantiknya sundul langit, aku tak akan bertanya, juga tak akan mengganggu. Kecuali ditanya. Walau dalam hati dag-dig-dug, tak karuan, yah namanya tetap juga manusia, ketertarikan lelaki pada wanita, wajar saja, tapi aku bukan tipe lelaki yang petentang-petenteng membawa pedang asmara, lalu kalau ketemu gadis ayu, menusukkan pedang ke dadanya, dan memberikan serangan rayuan yang berbunga-bunga, ah aku hanya pemuda dingin, kadang aku sendiri merasa kedinginan, tapi mungkin karena rambutku panjang anting ada di telinga, jadi orang lebih mengira aku ini anak nakal. Untuk beberapa saat kami terdiam, sampai gadis itu bertanya padaku.
“Mau ke mana mas?” pertanyaan yang wajar, tak wajar kalau dia bertanya mau makan apa mas? Sebab ini dalam bus bukan dalam warung.
“Mau ke Jakarta.” jawabku juga wajar, kalau ku jawab ke Surabaya, tentu aku makin jauh, sebab bis ini menuju ke barat. Kulihat gadis itu, ah pasti waktu mau bertanya padaku tadi dia berusaha mati-matian membasahi bibirnya. Sebab kulihat bibirnya basah sekali, seperti dikasih madu. Rasanya pasti…. ah setan, menggoda saja.
“Mbak sendiri mau kemana?” tanyaku sambil melihat hidung mungilnya yang seperti cabe merah besar.
“Sama mau ke Jakarta…”
“Oo, kalau begitu bisa sama-sama dong….!” kataku, ah kenapa dialognya tak bermutu begini, tapi diteruskan juga.
“Boleh kenalan mas? Nama saya Rosalia…” cewek itu mengulurkan jemarinya yang lentik halus. Oh Tuhan maafkan aku, sebenarnya aku tak boleh menyentuh tangannya, tapi kalau aku tak menyentuhnya, aku rugi nantinya.
“Iyan.., Febrian.”
“Ah, tak salah dugaanku, pasti mas… orangnya, bener-bener tak nyangka.” tiba-tiba gadis ini girang bukan main, dan tanganku, ditariknya ditempel ke pipinya yang putih kemerahan, aku buru-buru menarik tanganku, takutnya digigit.
“Ah, mbak pasti salah orang.” kataku takut, jangan-jangan maniak sex, wah kalau dirudapaksa, aku bisa tak perjaka lagi.
“Tak mungkin salah, aku begitu lama menyanjungmu, begitu merindumu, memujamu, tak akan pernah salah mengenali dirimu…” dia mengatakan bersemangat sampai air liurnya muncrat kemana-mana, apa mungkin dia ngiler ya ngelihat aku?
“Dulu aku berpikir apakah engkau itu benar-benar nyata? Ternyata engkau benar-benar nyata.” tangannya yang halus membelai pundakku. Ah sial aku jadi merinding, mengapa jadi serumit ini.
“Bener mbak ini salah orang, nanti mbak menyesal..!”
“Bagaimana aku akan salah orang, fotomu aja selalu ku bawa.” katanya sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah majalah, dan kliping tulisan dan fotoku.
Aduh… aduh… rupanya ini penggemarku, yang begitu memujaku, memang dulu aku aktif menulis di berbagai majalah. Tapi itu sudah lama aku fakum, kenapa penggemarnya masih ada? Kulihat foto yang ditunjukkanku, dari pertama aku menulis di majalah Jawa penyebar semangat, sampai majalah Anita, dan majalah Alkisah. Ah benar-benar deh aku tak nyangka akan ada yang mengidolakan aku.
“Benar kan ini mas Ian…?” tanyanya, matanya yang seperti artis Jeklin itu menyelidik. Dan aku mengangguk. Aku tak kuasa ketika lenganku tiba-tiba direngkuh dalam pelukannya.
“Mas, aku telah mencoba menjadi gadis idamanmu, aku yang sebelumnya tak berjilbab, sekarang telah berjilbab, lihatlah mas. Apakah aku kelihatan cantik, aku siap menjadi pacarmu bahkan istrimu.” wah aku bertemu dengan penggemar yang tak bisa membedakan dunia fiksi dan dunia nyata, ah aku harus bisa lepas dan melepaskan dia dari dunia hayalnya. Ah semakin sulit aja.
“Mas, em… aku boleh ya minta ciumnya…” wah semakin ngawur aja, kalau aku tinggalkan gadis ini, ah betapa tak bertanggung jawabnya aku atas cerita fiktif yang ku buat. Aku berusaha menenangkan diri.
“Eh, gini ya dek Rosa, soal cium itu nanti mudah dech. Waktu kita kan masih panjang, jadi baiknya kita ngobrol dulu, jadi pasangan kan harus mengenal lebih jauh calon pasangannya?” kataku mencoba setenang mungkin.
“Dek Ros, asli orang Jakarta ya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, sambil mencari akal untuk keluar dari krisis multidimensi, ah dibesar-besarkan aja.
“Iya mas, aku dari Cipinang Muara.” katanya kemudian menggelayut, merebahkan kepalanya di pundakku, ah bisa gawat nih, suara dadaku makin bergeladukan saja.
“Trus tadinya dek Ros ini dari mana?” tanyaku mencoba mengusir keinginan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Ih, mas Ian ini, kayak tak tau saja, kan dalam novel itu wanita pujaan mas, mondok di pesantren, jadi saya ya jelas dari pondok pesantren, dari nama pondok, desanya, kotanya dah aku cocokin semua, aku akan menjadi gadis yang mas Ian inginkan.” wah sudah sejauh itu? Waduh makin kacau aja. Ruwet…., ruwet…., walau bus ini ber-AC keringat tak urung membasahi punggungku. AC dalam bus hanya mengeringkan keringat yang ada di wajahku. Tapi tak mengeringkan keringat di dalam bajuku.
Sementara gadis di sampingku yang masih memeluk tangan kananku dan kepalanya rebah di pundakku, tertidur. Ah aku mungkin tak bisa menyelesaikan masalah ini, biarlah aku berserah, pada penyelesaian Tuhan. Maka akupun membaca wirid dan mencoba tidur.
Aku berharap setelah tidur gadis ini tak ada, atau masalah ini hanya mimpi saja, bagiku terlampau sulit untuk mencari jalan keluarnya. Aku benar-benar tak menyangka hanya karena cerita fiktif, bisa menimbulkan masalah sebegini peliknya.
Setelah wirid dan hatiku tenang maka akupun tertidur.
Malam mulai merambat, dan gadis di sampingku masih lelap dalam tidurnya, lagu Setasiun Balapan mengalun dari speaker mendayu-mendayu, disusul lagu Sri Minggat, lagu Jawa itu kadang membuatku sedikit tertawa, tapi aku segera memejamkan mata lagi. Ingin sedapat mungkin berlari dari kenyataan ini, sampai besok saja sampai aku terlepas dari gadis di sampingku ini.
Ah kenapa begitu susahnya, dadaku terasa sesak akan himpitan, aku segera memenuhi illalloh…, ku ulang-ulang untuk mencari pegangan atas kegelapan yang mulai membutakan mata hati, ya Alloh lindungi aku dari kenistaan nafsu, dan segala macam tipu dayanya.
Aku telah tertidur lagi dengan lelap. Sampai kurasakan ada tangan menepuk pundak kiriku.
Tepukan itu kurasakan keras, jadi tak mungkin aku bermimpi.
Aku tengak tengok, semua penumpang tertidur, lalu siapa yang menepuk pundakku? Ku menengok ke kanan kiri ingin tau bus ini sampai di mana, dan betapa terkejutnya aku ketika kulihat ke sebelah kiri bus.
Bus ini sedang membelok ke kiri, dan di sebelah kiri ada warung tepi jalan yang kayu gentengnya menjorok ke jalan, sehingga kalau bus terus membelok tak diragukan lagi kaca kirinya akan menghantam kayu warung itu.
“Stooop..!” aku menjerit sekencangnya. Sampai gadis di sampingku melonjak kaget bukan alang kepalang. Tapi rupanya supir bus tak memperdulikanku, mungkin mengira aku sedang mengigau. Dan tak bisa dielakkan lagi.
“Duar…, kratakkkreek… tar.. tar..!” suara kaca bus sebelah kiri pecah berhamburan. Jerit penumpang ramai, juga jerit mengaduh dari penumpang yang terkena pecahan kaca.
“Stoop!!!” suara ku keraskan untuk mengalahkan ribut suara panik penumpang, karena aku takut sopir bus akan memundurkan busnya, tapi kekawatiranku langsung terjawab, mungkin karena paniknya sopir, bus pun dimundurkan ke belakang, “Dar.., tarrk… kkrrk…!!” kembali terdengar, kaca bus yang tadi menghantam kayu pojok warung dan kayu yang masuk ke dalam bus begitu saja menyapu kaca yang tersisa dan masih menempel karena scotlet bening melapisi kaca.
Terdengar lagi jerit penumpang. Sekarang semua orang meminta bus berhenti.
Para penumpang berebut turun, kulihat tiga kotak kaca bobol pecah tak karuan, banyak orang terluka wajahnya karena terkena pecahan kaca, termasuk suami istri yang sekarang menempati kursi yang tadinya kududuki, dan mereka berdua lukanya paling parah, sehingga harus dibawa ke rumah sakit.
Seandainya aku yang masih duduk disitu, apa jadinya aku? Tuhan mempunyai rencana tuk menyelamatkanku, aku tak membayangkan bagaimana seandainya aku ngotot tak mau pindah tempat duduk, walau aku mendapatkan cobaan gadis yang duduk di sampingku. Ah, mana gadis tadi? Aku tak melihatnya, ah kenapa aku harus mencarinya? Bukankah dari rumah awalnya juga berangkat sendiri-sendiri, aku membetulkan letak tas punggungku, ketika dua bus cadangan datang tuk menampung penumpang, aku segera masuk ke dalam satu bus, dan mencari kursi yang masih kosong, karena bus ini telah terisi penumpang.
Bus yang ku tumpangi pun melaju lagi, para penumpang ramai membicarakan kecelakaan yang terjadi. Jam tangan bututku ku lirik, menunjukkan jam sepuluh seperempat. Aku menyandarkan tubuh di kursi dan menempatkan badan senyaman mungkin lalu biasa memulai wiridku. Ah rupanya kecelakaan tadi jawaban atas doaku agar aku selamat dari gadis yang mati-matian mengidolakanku. Entahlah?
Aku pun tertidur, sampai bus berhenti di rumah makan. Aku segera turun menyusul penumpang yang lain.
Ku baca tulisan di rumah makan itu NIKKI Subang, kiranya telah sampai di Subang.
Bersambung ke Chapter 7
Selamat Menikmati 🙏🙏🙏
Index Thread : https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d69573da0cbe6d
“Ah, ibu jangan berfikir yang aneh-aneh.” Besoknya aku pun kembali ke pesantren, naik bus malam PAHALA KENCANA. Ibuku sebenarnya tak mengijinkanku kembali dulu ke pesantren, tapi aku memaksa, karena rinduku kepada Kyai. Sekarang aku telah berada dalam bus yang melaju tak terlalu cepat, karena hujan mengguyur deras di setiap perjalanan. Penumpang dalam bus tak terlalu banyak mungkin sekitar dua belasan orang, karena bus ini nantinya mengambil penumpang di agen-agen penjualan tiket di setiap perjalanan, aku duduk di tengah sebelah kiri bus. Dan daripada melamun, aku selalu membaca wirid di setiap perjalananku. Bus melaju kadang oleng kanan kiri, ketika rodanya masuk ke jalan yang berlubang dan penuh genangan air hujan, sehingga air di kubangan muncrat menyiram para pejalan kaki atau pengendara motor, pasti terdengar jiancok!, atau jiamput!, sumpahan khas, ah mengapa tak subhanallah. Entahlah…
Di daerah Lasem bus berhenti di agen penjualan tiket, para penjual makanan segera masuk menyerbu, takut pembelinya kedahuluan penjual lain, kulihat pembeli tua melangkah pelan, menawarkan dagangan, ku lihat makanan kesukaanku, yaitu jagung muda yang diparut kemudian diuleg dengan bumbu dikasih telur lalu digoreng, dimakan dengan cabe, huh enak sekali, di daerahku makanan itu namanya pelas.
“Berapa nek?”
“Tiga ribu nak.” ku keluarkan uang tiga ribuan, nenek itu menerimanya dengan jari gemetar.
“Nenek sakit?” tanyaku. Perempuan itu mengangguk. Ku keluarkan uang dua ratusan ribu, lalu ku jejalkan di telapak tangannya, mungkin uangku ini lebih berguna di tangan nenek ini daripada di tanganku, ini adalah uang gajiku melukis di rumah makan. Lumayanlah dua minggu aku mendapat tiga jutaan. Nenek itu terkejut.
Tapi aku segera berkata, ”Sudahlah nek, tak usah terima kasih, sekarang nenek tak usah kerja, nenek pulang, dan uang itu untuk membeli obat, sana nenek turun, terus pulang.” nenek itu menuruti kata-kataku kemudian dia turun, sampai di bawah kulihat dia melihat uang yang kuberikan. Lalu menatapku dari bawah dan air matanya berkaca-kaca. Kulihat dia mengangkat kedua tangannya berdoa. Sementara aku mulai menikmati apa yang kubeli.
Beberapa penumpang naik, dan juga dua penumpang pasangan setengah tua, ku perkirakan umurnya lima puluh tahunan, setelah mencari-cari nomer kursi ternyata yang lelaki duduknya di sebelahku, sementara yang perempuan di kursi dua kursi deretan sebelah kanan arah depan kursiku.
Bus pun melaju, jam butut di tanganku telah menunjukkan pukul setengah lima sore.
Tiba-tiba perempuan istri lelaki di sampingku, bangkit dari kursi dan berjalan ketempat aku duduk. “Nak, bisa enggak kita gantian tempat duduk, biar saya duduk di sebelah suami saya, dan anak duduk di kursi saya.”
“Oh nggak papa bu, silahkan… silahkan.” kataku segera memberesi tas dan barangku. Untuk pindah tempat duduk.
Aku segera pindah tempat duduk yang ditempati perempuan tua itu. Oh rupanya disitu ada penumpangnya, seorang gadis berjilbab, cantik? Entah aku belum melihat wajahnya, aku mengucap permisi lalu duduk, menempatkan tasku, di tempat yang aman.
Nah, saat mengucap permisi itulah gadis itu menengokku dan mempersilahkanku, kulihat wajahnya terkejut melihatku, tapi aku duduk saja.
Terus terang aku orangnya tertutup, walau ada gadis di sampingku cantiknya sundul langit, aku tak akan bertanya, juga tak akan mengganggu. Kecuali ditanya. Walau dalam hati dag-dig-dug, tak karuan, yah namanya tetap juga manusia, ketertarikan lelaki pada wanita, wajar saja, tapi aku bukan tipe lelaki yang petentang-petenteng membawa pedang asmara, lalu kalau ketemu gadis ayu, menusukkan pedang ke dadanya, dan memberikan serangan rayuan yang berbunga-bunga, ah aku hanya pemuda dingin, kadang aku sendiri merasa kedinginan, tapi mungkin karena rambutku panjang anting ada di telinga, jadi orang lebih mengira aku ini anak nakal. Untuk beberapa saat kami terdiam, sampai gadis itu bertanya padaku.
“Mau ke mana mas?” pertanyaan yang wajar, tak wajar kalau dia bertanya mau makan apa mas? Sebab ini dalam bus bukan dalam warung.
“Mau ke Jakarta.” jawabku juga wajar, kalau ku jawab ke Surabaya, tentu aku makin jauh, sebab bis ini menuju ke barat. Kulihat gadis itu, ah pasti waktu mau bertanya padaku tadi dia berusaha mati-matian membasahi bibirnya. Sebab kulihat bibirnya basah sekali, seperti dikasih madu. Rasanya pasti…. ah setan, menggoda saja.
“Mbak sendiri mau kemana?” tanyaku sambil melihat hidung mungilnya yang seperti cabe merah besar.
“Sama mau ke Jakarta…”
“Oo, kalau begitu bisa sama-sama dong….!” kataku, ah kenapa dialognya tak bermutu begini, tapi diteruskan juga.
“Boleh kenalan mas? Nama saya Rosalia…” cewek itu mengulurkan jemarinya yang lentik halus. Oh Tuhan maafkan aku, sebenarnya aku tak boleh menyentuh tangannya, tapi kalau aku tak menyentuhnya, aku rugi nantinya.
“Iyan.., Febrian.”
“Ah, tak salah dugaanku, pasti mas… orangnya, bener-bener tak nyangka.” tiba-tiba gadis ini girang bukan main, dan tanganku, ditariknya ditempel ke pipinya yang putih kemerahan, aku buru-buru menarik tanganku, takutnya digigit.
“Ah, mbak pasti salah orang.” kataku takut, jangan-jangan maniak sex, wah kalau dirudapaksa, aku bisa tak perjaka lagi.
“Tak mungkin salah, aku begitu lama menyanjungmu, begitu merindumu, memujamu, tak akan pernah salah mengenali dirimu…” dia mengatakan bersemangat sampai air liurnya muncrat kemana-mana, apa mungkin dia ngiler ya ngelihat aku?
“Dulu aku berpikir apakah engkau itu benar-benar nyata? Ternyata engkau benar-benar nyata.” tangannya yang halus membelai pundakku. Ah sial aku jadi merinding, mengapa jadi serumit ini.
“Bener mbak ini salah orang, nanti mbak menyesal..!”
“Bagaimana aku akan salah orang, fotomu aja selalu ku bawa.” katanya sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah majalah, dan kliping tulisan dan fotoku.
Aduh… aduh… rupanya ini penggemarku, yang begitu memujaku, memang dulu aku aktif menulis di berbagai majalah. Tapi itu sudah lama aku fakum, kenapa penggemarnya masih ada? Kulihat foto yang ditunjukkanku, dari pertama aku menulis di majalah Jawa penyebar semangat, sampai majalah Anita, dan majalah Alkisah. Ah benar-benar deh aku tak nyangka akan ada yang mengidolakan aku.
“Benar kan ini mas Ian…?” tanyanya, matanya yang seperti artis Jeklin itu menyelidik. Dan aku mengangguk. Aku tak kuasa ketika lenganku tiba-tiba direngkuh dalam pelukannya.
“Mas, aku telah mencoba menjadi gadis idamanmu, aku yang sebelumnya tak berjilbab, sekarang telah berjilbab, lihatlah mas. Apakah aku kelihatan cantik, aku siap menjadi pacarmu bahkan istrimu.” wah aku bertemu dengan penggemar yang tak bisa membedakan dunia fiksi dan dunia nyata, ah aku harus bisa lepas dan melepaskan dia dari dunia hayalnya. Ah semakin sulit aja.
“Mas, em… aku boleh ya minta ciumnya…” wah semakin ngawur aja, kalau aku tinggalkan gadis ini, ah betapa tak bertanggung jawabnya aku atas cerita fiktif yang ku buat. Aku berusaha menenangkan diri.
“Eh, gini ya dek Rosa, soal cium itu nanti mudah dech. Waktu kita kan masih panjang, jadi baiknya kita ngobrol dulu, jadi pasangan kan harus mengenal lebih jauh calon pasangannya?” kataku mencoba setenang mungkin.
“Dek Ros, asli orang Jakarta ya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, sambil mencari akal untuk keluar dari krisis multidimensi, ah dibesar-besarkan aja.
“Iya mas, aku dari Cipinang Muara.” katanya kemudian menggelayut, merebahkan kepalanya di pundakku, ah bisa gawat nih, suara dadaku makin bergeladukan saja.
“Trus tadinya dek Ros ini dari mana?” tanyaku mencoba mengusir keinginan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Ih, mas Ian ini, kayak tak tau saja, kan dalam novel itu wanita pujaan mas, mondok di pesantren, jadi saya ya jelas dari pondok pesantren, dari nama pondok, desanya, kotanya dah aku cocokin semua, aku akan menjadi gadis yang mas Ian inginkan.” wah sudah sejauh itu? Waduh makin kacau aja. Ruwet…., ruwet…., walau bus ini ber-AC keringat tak urung membasahi punggungku. AC dalam bus hanya mengeringkan keringat yang ada di wajahku. Tapi tak mengeringkan keringat di dalam bajuku.
Sementara gadis di sampingku yang masih memeluk tangan kananku dan kepalanya rebah di pundakku, tertidur. Ah aku mungkin tak bisa menyelesaikan masalah ini, biarlah aku berserah, pada penyelesaian Tuhan. Maka akupun membaca wirid dan mencoba tidur.
Aku berharap setelah tidur gadis ini tak ada, atau masalah ini hanya mimpi saja, bagiku terlampau sulit untuk mencari jalan keluarnya. Aku benar-benar tak menyangka hanya karena cerita fiktif, bisa menimbulkan masalah sebegini peliknya.
Setelah wirid dan hatiku tenang maka akupun tertidur.
Malam mulai merambat, dan gadis di sampingku masih lelap dalam tidurnya, lagu Setasiun Balapan mengalun dari speaker mendayu-mendayu, disusul lagu Sri Minggat, lagu Jawa itu kadang membuatku sedikit tertawa, tapi aku segera memejamkan mata lagi. Ingin sedapat mungkin berlari dari kenyataan ini, sampai besok saja sampai aku terlepas dari gadis di sampingku ini.
Ah kenapa begitu susahnya, dadaku terasa sesak akan himpitan, aku segera memenuhi illalloh…, ku ulang-ulang untuk mencari pegangan atas kegelapan yang mulai membutakan mata hati, ya Alloh lindungi aku dari kenistaan nafsu, dan segala macam tipu dayanya.
Aku telah tertidur lagi dengan lelap. Sampai kurasakan ada tangan menepuk pundak kiriku.
Tepukan itu kurasakan keras, jadi tak mungkin aku bermimpi.
Aku tengak tengok, semua penumpang tertidur, lalu siapa yang menepuk pundakku? Ku menengok ke kanan kiri ingin tau bus ini sampai di mana, dan betapa terkejutnya aku ketika kulihat ke sebelah kiri bus.
Bus ini sedang membelok ke kiri, dan di sebelah kiri ada warung tepi jalan yang kayu gentengnya menjorok ke jalan, sehingga kalau bus terus membelok tak diragukan lagi kaca kirinya akan menghantam kayu warung itu.
“Stooop..!” aku menjerit sekencangnya. Sampai gadis di sampingku melonjak kaget bukan alang kepalang. Tapi rupanya supir bus tak memperdulikanku, mungkin mengira aku sedang mengigau. Dan tak bisa dielakkan lagi.
“Duar…, kratakkkreek… tar.. tar..!” suara kaca bus sebelah kiri pecah berhamburan. Jerit penumpang ramai, juga jerit mengaduh dari penumpang yang terkena pecahan kaca.
“Stoop!!!” suara ku keraskan untuk mengalahkan ribut suara panik penumpang, karena aku takut sopir bus akan memundurkan busnya, tapi kekawatiranku langsung terjawab, mungkin karena paniknya sopir, bus pun dimundurkan ke belakang, “Dar.., tarrk… kkrrk…!!” kembali terdengar, kaca bus yang tadi menghantam kayu pojok warung dan kayu yang masuk ke dalam bus begitu saja menyapu kaca yang tersisa dan masih menempel karena scotlet bening melapisi kaca.
Terdengar lagi jerit penumpang. Sekarang semua orang meminta bus berhenti.
Para penumpang berebut turun, kulihat tiga kotak kaca bobol pecah tak karuan, banyak orang terluka wajahnya karena terkena pecahan kaca, termasuk suami istri yang sekarang menempati kursi yang tadinya kududuki, dan mereka berdua lukanya paling parah, sehingga harus dibawa ke rumah sakit.
Seandainya aku yang masih duduk disitu, apa jadinya aku? Tuhan mempunyai rencana tuk menyelamatkanku, aku tak membayangkan bagaimana seandainya aku ngotot tak mau pindah tempat duduk, walau aku mendapatkan cobaan gadis yang duduk di sampingku. Ah, mana gadis tadi? Aku tak melihatnya, ah kenapa aku harus mencarinya? Bukankah dari rumah awalnya juga berangkat sendiri-sendiri, aku membetulkan letak tas punggungku, ketika dua bus cadangan datang tuk menampung penumpang, aku segera masuk ke dalam satu bus, dan mencari kursi yang masih kosong, karena bus ini telah terisi penumpang.
Bus yang ku tumpangi pun melaju lagi, para penumpang ramai membicarakan kecelakaan yang terjadi. Jam tangan bututku ku lirik, menunjukkan jam sepuluh seperempat. Aku menyandarkan tubuh di kursi dan menempatkan badan senyaman mungkin lalu biasa memulai wiridku. Ah rupanya kecelakaan tadi jawaban atas doaku agar aku selamat dari gadis yang mati-matian mengidolakanku. Entahlah?
Aku pun tertidur, sampai bus berhenti di rumah makan. Aku segera turun menyusul penumpang yang lain.
Ku baca tulisan di rumah makan itu NIKKI Subang, kiranya telah sampai di Subang.
Bersambung ke Chapter 7
Selamat Menikmati 🙏🙏🙏
Index Thread : https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d69573da0cbe6d
Diubah oleh gelandangan143 11-08-2019 03:43
danjau dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup