- Beranda
- Stories from the Heart
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati
...
TS
sandriaflow
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati

Quote:
Spoiler for Daftar Bab:
Diubah oleh sandriaflow 01-12-2020 19:11
rizetamayosh295 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
14.9K
134
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sandriaflow
#9
Bab 2: Pertanyaan
Matahari sudah mulai meninggi dan teriknya sudah cukup menyengat kulit. Mereka semua berangkat lebih siang dari rencana awal. Ini semua gara-gara Jojo yang susah sekali dibangunkan, padahal sedari Arman dan yang lain sudah menunggu dia yang seperti kebo.
Sesuai kesepakatan, kali ini Jojo yang menanggung biaya transportasi. Mereka segera memesan taksi online dan menuju ke tujuan pertama yaitu candi Prambanan. Sebelum pergi, Arman pamit terlebih dahulu kepada pakde.
Sopir taksi online kali ini sangat ramah jika dibandingkan yang kemarin. Dia merupakan seorang pria paruh baya namun cara berpakaiannya masih seperti anak muda. Sepanjang perjalanan, ia bercerita panjang lebar mengenai pengalaman hidupnya. Gayanya yang kocak membuat Arman dan kawan-kawan tertawa.
“Terima kasih banyak, Pak.” Ucap Jojo setelah selesai membayar ongkos taksi online itu. Mereka berempat pun segera menuju ke loket pembelian tiket.
Suasana di wisata candi Prambanan hari ini cukup ramai dipadati pengunjung, berhubung hari ini adalah akhir pekan. Ada banyak rombongan anak sekolah yang kemungkinan tengah melakukan study tour. Selain itu, tampak juga wisatawan asing yang tengah sibuk mengambil gambar.
Mereka berempat pun tak mau kalah. Mereka berkeliling ke area candi Prambanan dan mencari spot yang menarik untuk mengambil gambar. Jojo dan Ipul yang kali ini sangat antusias. Mereka berdua ingin mengambil gambar semenarik mungkin dan segera mengunggahnya ke instagram mereka.
“Ah, kalian berdua sok bergaya anak hits aja,” Revan tertawa agak sinis melihat tingkah konyol Jojo dan Ipul. Sementara itu, Arman hanya ikut tersenyum kecil, memaklumi mereka berdua.
Setelah puas berkeliling, mereke berempat mengambil jeda sejenak. Mereka duduk di sebuah angkring kecil yang masih berada di kawasan candi. Jojo mengambil air mineral dari dalam tasnya lalu menyodorkan ke arah sahabatnya. Barangkali, mereka ada yang haus setelah berjalan cukup lama. Apalagi matahari siang ini tengah panas-panasnya.
“Gengs, ada yang bening wuihh,” ucap Jojo spontan yang dengan seketika membuat ketiga sahabatnya penasaran. Mata Jojo tertuju ke arah tante-tante yang sedang berjalan bersama anaknya. Tak hanya itu, ia juga menatap bule cantik yang pakaiannya lumayan terbuka.
“Ah, baik. Kau ini selalu saja mesum,” ketiga sahabatnya kompak menertawai Jojo. Mereka sudah tidak heran lagi dengan pikiran kotor Jojo. Melihat respon sahabatnya, Jojo hanya tertawa.
“Pul, kau ada masalah? Dari tadi, kau kelihatan kurang bersemangat?” ujar Revan yang sedari tadi merasa ada yang aneh dengan Ipul.
“Iya nih, kau lagi sakit?” Arman menyambung perkataan Revan dengan cepat.
“Aku cuma capek aja. Kagak ada masalah apa-apa,” jawab Ipul. Ia berkilah. Suasananya hatinya sebenarnya tidak demikian. Sekali lagi, ia masih belum mempunyai keberanian untuk bercerita dengan teman-temannya.
Setelah melepas lelah sejenak, mereka kemudian meneruskan perjalanan. Tak jauh dari sana, mereka mampir sejenak ke sebuah pohon yang bagus untuk dijadikan titik untuk berfoto. Di pohon tersebut terdapat anak tangga serta sebuah jembatan. Mereka berempat masing-masing mengambil foto di sana sembari memandang candi Prambanan dari kejauhan.
Kemudian, mereka pun menuju pintu keluar. Mereka melewati pasar seni Prambanan dan mampir sejenak dari kios ke kios untuk melihat karya-karya seni serta benda unik yang diperjualbelikan. Ipul membeli sebuah topi newsboy berwarna abu-abu. Sementara itu, Revan membeli tas perempuan yang katanya hendak diberikan kepada teman perempuannya. Sedangkan, Arman dan Jojo lebih tertarik untuk membeli gelang yang harganya murah.
Sebelum meninggalkan lokasi, mereka berempat tak lupa mengisi perutnya yang sedari tadi keroncongan karena belum makan.
***
Setelah menunaikan sholat di masjid Gedhe Kauman, Arman dan kawan-kawan berjalan-jalan mengitari alun-alun utara Jogja dan melihat keraton dari luar gerbang. Kebetulan juga, ada bapak-bapak yang menyapa mereka lalu bercerita singkat mengenai keraton Yogyakarta.
“Ayo kita lanjut ke Malioboro saja,” ajak Revan setelah merasa puas berkeliling. Mereka pun langsung bergegas berhubung hari juga sudah mulai sore. Suasana jalanan Jogja sangat ramai. Terlihat juga turis dengan pakaian santai melintas sembari membawa barang-barang belanja mereka.
Mata mereka asik dimanjakan dengan berbagai macam jajanan serta barang yang ditawarkan di sepanjang perjalanan. Ada banyak pedagang baik yang membawa rombong atau membuka outlet. Selain itu, terlihat juga para pelukis jalanan yang tengah sibuk melukis di pinggir jalan.
Setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya Revan menemukan apa yang sedari tadi dia cari. Musisi jalanan. Ia segera merapat ke arah musisi jalanan yang tengah memainkan sebuah lagu. Dengan ragam instrumen yang dimainkan serta lagu yang pas, membuat penampilan mereka sangat asik dan menarik. Tak lupa, Revan merekam penampilan mereka dengan ponsel pintarnya.
“Gengs, banyak yang cakep-cakep ya di sini. Aku mau ah satu,” perlahan Jojo membisikkan sesuatu ke telinga Arman.
“Coeg, tapi benar juga yang kau maksud. Mbak-mbak di sini memang cantik-cantik,” Arman menimpali ucapan Jojo.
“Ah, kalian ini kalau ada yang menarik bagi-bagi,” sahut Ipul sembari terkekeh.
Revan yang sedari tadi tertinggal di belakang karena asik dengan dirinya sendiri, telah kembali ke barisan.
“Ayo kita cari kopi,” ujar Revan bersemangat.
“Let’s go,” suara kor mereka terdengar kompak.
Mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Menuju ke angkringan kopi jos yang sudah sangat populer di kalangan para penikmat kopi.
***
Perjalanan tadi cukup melelahkan mereka. Namun, semua itu terobati dengan bersantai sembari menikmati kopi jos serta nasi banting dan jajanan seperti lumpia, sate telur puyuh, dan sosis.
Arman perlahan membuka kotak spesialnya yang berisi kertas rokok dan tembakau khas bapaknya.
“Wih, bagi dong,” mata Jojo langsung menyala melihat Arman yang tengah sibuk melinting rokok dengan khidmat. Dengan cepat, Jojo pun menyambar tembakau dan kertas rokok Arman, lalu melintingnya dengan lihai.
Pada saat yang bersamaan, Revan tengah menatap Ipul dengan serius.
“Kau kenapa, Van? Dari tadi memperhatikan Ipul melulu, kau naksir sama dia?” ucap Jojo spontan sembari tertawa.
“Najis. Kagaklah,” Revan menjawab ketus.
“Terus?” Arman menimpali.
“Pul, jujur deh. Kau ada masalah apa? Jangan bohong sama kita-kita,” Revan langsung ke titik permasalahan. Tanpa tedeng aling-aling, ia langsung menginterogasi Ipul.
Ipul sejenak terdiam karena ia merasa tertekan. Semua sahabatnya kini melihat dia dengan tatapan serius dan penuh tanda tanya. Ia menguatkan hatinya sebelum bicara.
“Ehm. Ngomong-ngomong, kalian nggak lelah hidup seperti gini terus?” tanyanya dengan tegas dan setengah menusuk.
“Maksudmu apa?” Jojo yang merasa terusik dan agak sensi menjawab dengan nada yang agak tinggi.
“Ya kita gini-gini aja, gengs. Kalian semua nggak pengen membuat komitmen dengan seseorang? Kalian merasa nggak bahwa ada sesuatu yang kurang di hidup kita saat ini?”
Semua terdiam sejenak. Mereka tahu apa yang dimaksud oleh Ipul. Cinta. Itu yang belum mereka miliki sepenuhnya saat ini.
Di antara mereka, Jojo saat ini yang paling emosi mendengar perkataan Ipul. Seolah kata-kata Ipul menjadi semacam sindiran keras bagi dia berhubung kisahnya tempo lalu baru kandas dengan seseorang.
“Lalu, maksudmu apa tiba-tiba tanya begini?” Jojo kembali membuka suara.
“Jo, kau tenangkan diri dulu. Ipul gak ada maksud apa-apa,” Arman mencoba meredam emosi di antara keduanya.
“Kau ada masalah apa sebenarnya, Pul? Terus terang aja, aku nggak ngerti masalahmu?” sahut Revan dengan kepala dingin.
“Aku saat ini butuh seseorang yang bisa berkomitmen sekaligus menyembuhkan luka hatiku. Jujur aja, aku saat ini masih kepikiran dengan seseorang, yaitu Endah. Cinta pertamaku,” jawab Ipul lesu. Endah merupakan teman sekelas mereka saat masih SMP.
Kedua matanya nanar ketika menyebut nama itu seolah ada tangis yang hendak turun membasahi pipi Ipul. Mendadak, suasana ngopi saat ini menjadi sendu.
Tiba-tiba, seorang banci kaleng mampir numpang ngamen.
"Permisi, Mas. Eke mau numpang ngamen, Eaaaak" suara laki yang agak kefeminiman terdengar begitu khas – walaupun itu dibuat-buat. Apalagi ketika dia nyanyi ‘ewer ewer ewer’ dengan tamborin icik-iciknya, seketika membuat suasana di antara mereka berempat lebih mencair.
Emosi Jojo perlahan mulai reda dan ia pun membuka suaranya kembali.
“Aku minta maaf, Pul. Aku saat ini emang nggak bisa bantu banyak. Tapi, bukannya dia sudah menikah dengan lelaki lain?” Jojo kini angkat bicara.
“Itu dia masalahnya,” jawab Ipul. Ia kemudian menceritakan kisah pahitnya. Entah mengapa, dia tidak bisa melupakan Endah. Bagi dia, Endah adalah kisah terindah yang sangat sulit dilupakan. Ipul memang memiliki tampang yang pas-pasan jika dibandingkan dengan ketiga sahabatnya. Oleh sebab itu, dia tidak mudah mencari seseorang yang bisa menerima dia apa adanya.
Hati Ipul remuk redam ketika dia mendengar kabar pernikahan Endah dengan lelaki lain. Ia saat itu tidak menghadiri pernikahan mantan kekasihnya itu karena dia tak kuasa. Ketiga sahabatnya itu jujur tidak tahu menahu tentang hubungan di antara mereka berdua karena Ipul sendiri tidak pernah cerita.
Tidak hanya itu, keadaan hati Ipul menjadi kian tidak menentu setelah hubungannya dengan Rina kandas di tengah jalan. Rina adalah harapan baru bagi Ipul waktu itu. Namun, kisah cintanya tidak semulus dengan apa yang dikehendakinya. Ia pun merasa frustasi, tetapi dia tidak punya keberanian untuk berceria.
“Lalu, kau sekarang pengen mencari seseorang dan membuat komitmen?” Arman bertanya dengan tenang. Ipul mengangguk pelan. Sementara itu, Revan masih memikirkan sesuatu untuk disampaikan dan Jojo sibuk berpikir sembari menghisap rokok mild-nya.
“Aku sebenarnya kepikiran dengan kata-kata Ipul barusan. Kalian emang nggak lelah hidup menjadi jomblo seperti ini? Kalian gak kepikiran untuk cari pasangan yang bisa diajak serius?” ujar Revan.
“Iya juga, mau sampai kapan kita seperti ini?” Arman menimpali. Ipul dan Jojo hanya diam. Larut dengan perasaan mereka masing-masing.
Kopi jos mereka sudah mulai dingin. Perbincangan mereka malam itu diakhiri dengan tanda tanya yang mengambang. Mereka masih belum menemukan jawaban dan membutuhkan sebuah perenungan yang mendalam.
Sesuai kesepakatan, kali ini Jojo yang menanggung biaya transportasi. Mereka segera memesan taksi online dan menuju ke tujuan pertama yaitu candi Prambanan. Sebelum pergi, Arman pamit terlebih dahulu kepada pakde.
Sopir taksi online kali ini sangat ramah jika dibandingkan yang kemarin. Dia merupakan seorang pria paruh baya namun cara berpakaiannya masih seperti anak muda. Sepanjang perjalanan, ia bercerita panjang lebar mengenai pengalaman hidupnya. Gayanya yang kocak membuat Arman dan kawan-kawan tertawa.
“Terima kasih banyak, Pak.” Ucap Jojo setelah selesai membayar ongkos taksi online itu. Mereka berempat pun segera menuju ke loket pembelian tiket.
Suasana di wisata candi Prambanan hari ini cukup ramai dipadati pengunjung, berhubung hari ini adalah akhir pekan. Ada banyak rombongan anak sekolah yang kemungkinan tengah melakukan study tour. Selain itu, tampak juga wisatawan asing yang tengah sibuk mengambil gambar.
Mereka berempat pun tak mau kalah. Mereka berkeliling ke area candi Prambanan dan mencari spot yang menarik untuk mengambil gambar. Jojo dan Ipul yang kali ini sangat antusias. Mereka berdua ingin mengambil gambar semenarik mungkin dan segera mengunggahnya ke instagram mereka.
“Ah, kalian berdua sok bergaya anak hits aja,” Revan tertawa agak sinis melihat tingkah konyol Jojo dan Ipul. Sementara itu, Arman hanya ikut tersenyum kecil, memaklumi mereka berdua.
Setelah puas berkeliling, mereke berempat mengambil jeda sejenak. Mereka duduk di sebuah angkring kecil yang masih berada di kawasan candi. Jojo mengambil air mineral dari dalam tasnya lalu menyodorkan ke arah sahabatnya. Barangkali, mereka ada yang haus setelah berjalan cukup lama. Apalagi matahari siang ini tengah panas-panasnya.
“Gengs, ada yang bening wuihh,” ucap Jojo spontan yang dengan seketika membuat ketiga sahabatnya penasaran. Mata Jojo tertuju ke arah tante-tante yang sedang berjalan bersama anaknya. Tak hanya itu, ia juga menatap bule cantik yang pakaiannya lumayan terbuka.
“Ah, baik. Kau ini selalu saja mesum,” ketiga sahabatnya kompak menertawai Jojo. Mereka sudah tidak heran lagi dengan pikiran kotor Jojo. Melihat respon sahabatnya, Jojo hanya tertawa.
“Pul, kau ada masalah? Dari tadi, kau kelihatan kurang bersemangat?” ujar Revan yang sedari tadi merasa ada yang aneh dengan Ipul.
“Iya nih, kau lagi sakit?” Arman menyambung perkataan Revan dengan cepat.
“Aku cuma capek aja. Kagak ada masalah apa-apa,” jawab Ipul. Ia berkilah. Suasananya hatinya sebenarnya tidak demikian. Sekali lagi, ia masih belum mempunyai keberanian untuk bercerita dengan teman-temannya.
Setelah melepas lelah sejenak, mereka kemudian meneruskan perjalanan. Tak jauh dari sana, mereka mampir sejenak ke sebuah pohon yang bagus untuk dijadikan titik untuk berfoto. Di pohon tersebut terdapat anak tangga serta sebuah jembatan. Mereka berempat masing-masing mengambil foto di sana sembari memandang candi Prambanan dari kejauhan.
Kemudian, mereka pun menuju pintu keluar. Mereka melewati pasar seni Prambanan dan mampir sejenak dari kios ke kios untuk melihat karya-karya seni serta benda unik yang diperjualbelikan. Ipul membeli sebuah topi newsboy berwarna abu-abu. Sementara itu, Revan membeli tas perempuan yang katanya hendak diberikan kepada teman perempuannya. Sedangkan, Arman dan Jojo lebih tertarik untuk membeli gelang yang harganya murah.
Sebelum meninggalkan lokasi, mereka berempat tak lupa mengisi perutnya yang sedari tadi keroncongan karena belum makan.
***
Setelah menunaikan sholat di masjid Gedhe Kauman, Arman dan kawan-kawan berjalan-jalan mengitari alun-alun utara Jogja dan melihat keraton dari luar gerbang. Kebetulan juga, ada bapak-bapak yang menyapa mereka lalu bercerita singkat mengenai keraton Yogyakarta.
“Ayo kita lanjut ke Malioboro saja,” ajak Revan setelah merasa puas berkeliling. Mereka pun langsung bergegas berhubung hari juga sudah mulai sore. Suasana jalanan Jogja sangat ramai. Terlihat juga turis dengan pakaian santai melintas sembari membawa barang-barang belanja mereka.
Mata mereka asik dimanjakan dengan berbagai macam jajanan serta barang yang ditawarkan di sepanjang perjalanan. Ada banyak pedagang baik yang membawa rombong atau membuka outlet. Selain itu, terlihat juga para pelukis jalanan yang tengah sibuk melukis di pinggir jalan.
Setelah beberapa waktu berjalan, akhirnya Revan menemukan apa yang sedari tadi dia cari. Musisi jalanan. Ia segera merapat ke arah musisi jalanan yang tengah memainkan sebuah lagu. Dengan ragam instrumen yang dimainkan serta lagu yang pas, membuat penampilan mereka sangat asik dan menarik. Tak lupa, Revan merekam penampilan mereka dengan ponsel pintarnya.
“Gengs, banyak yang cakep-cakep ya di sini. Aku mau ah satu,” perlahan Jojo membisikkan sesuatu ke telinga Arman.
“Coeg, tapi benar juga yang kau maksud. Mbak-mbak di sini memang cantik-cantik,” Arman menimpali ucapan Jojo.
“Ah, kalian ini kalau ada yang menarik bagi-bagi,” sahut Ipul sembari terkekeh.
Revan yang sedari tadi tertinggal di belakang karena asik dengan dirinya sendiri, telah kembali ke barisan.
“Ayo kita cari kopi,” ujar Revan bersemangat.
“Let’s go,” suara kor mereka terdengar kompak.
Mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Menuju ke angkringan kopi jos yang sudah sangat populer di kalangan para penikmat kopi.
***
Perjalanan tadi cukup melelahkan mereka. Namun, semua itu terobati dengan bersantai sembari menikmati kopi jos serta nasi banting dan jajanan seperti lumpia, sate telur puyuh, dan sosis.
Arman perlahan membuka kotak spesialnya yang berisi kertas rokok dan tembakau khas bapaknya.
“Wih, bagi dong,” mata Jojo langsung menyala melihat Arman yang tengah sibuk melinting rokok dengan khidmat. Dengan cepat, Jojo pun menyambar tembakau dan kertas rokok Arman, lalu melintingnya dengan lihai.
Pada saat yang bersamaan, Revan tengah menatap Ipul dengan serius.
“Kau kenapa, Van? Dari tadi memperhatikan Ipul melulu, kau naksir sama dia?” ucap Jojo spontan sembari tertawa.
“Najis. Kagaklah,” Revan menjawab ketus.
“Terus?” Arman menimpali.
“Pul, jujur deh. Kau ada masalah apa? Jangan bohong sama kita-kita,” Revan langsung ke titik permasalahan. Tanpa tedeng aling-aling, ia langsung menginterogasi Ipul.
Ipul sejenak terdiam karena ia merasa tertekan. Semua sahabatnya kini melihat dia dengan tatapan serius dan penuh tanda tanya. Ia menguatkan hatinya sebelum bicara.
“Ehm. Ngomong-ngomong, kalian nggak lelah hidup seperti gini terus?” tanyanya dengan tegas dan setengah menusuk.
“Maksudmu apa?” Jojo yang merasa terusik dan agak sensi menjawab dengan nada yang agak tinggi.
“Ya kita gini-gini aja, gengs. Kalian semua nggak pengen membuat komitmen dengan seseorang? Kalian merasa nggak bahwa ada sesuatu yang kurang di hidup kita saat ini?”
Semua terdiam sejenak. Mereka tahu apa yang dimaksud oleh Ipul. Cinta. Itu yang belum mereka miliki sepenuhnya saat ini.
Di antara mereka, Jojo saat ini yang paling emosi mendengar perkataan Ipul. Seolah kata-kata Ipul menjadi semacam sindiran keras bagi dia berhubung kisahnya tempo lalu baru kandas dengan seseorang.
“Lalu, maksudmu apa tiba-tiba tanya begini?” Jojo kembali membuka suara.
“Jo, kau tenangkan diri dulu. Ipul gak ada maksud apa-apa,” Arman mencoba meredam emosi di antara keduanya.
“Kau ada masalah apa sebenarnya, Pul? Terus terang aja, aku nggak ngerti masalahmu?” sahut Revan dengan kepala dingin.
“Aku saat ini butuh seseorang yang bisa berkomitmen sekaligus menyembuhkan luka hatiku. Jujur aja, aku saat ini masih kepikiran dengan seseorang, yaitu Endah. Cinta pertamaku,” jawab Ipul lesu. Endah merupakan teman sekelas mereka saat masih SMP.
Kedua matanya nanar ketika menyebut nama itu seolah ada tangis yang hendak turun membasahi pipi Ipul. Mendadak, suasana ngopi saat ini menjadi sendu.
Tiba-tiba, seorang banci kaleng mampir numpang ngamen.
"Permisi, Mas. Eke mau numpang ngamen, Eaaaak" suara laki yang agak kefeminiman terdengar begitu khas – walaupun itu dibuat-buat. Apalagi ketika dia nyanyi ‘ewer ewer ewer’ dengan tamborin icik-iciknya, seketika membuat suasana di antara mereka berempat lebih mencair.
Emosi Jojo perlahan mulai reda dan ia pun membuka suaranya kembali.
“Aku minta maaf, Pul. Aku saat ini emang nggak bisa bantu banyak. Tapi, bukannya dia sudah menikah dengan lelaki lain?” Jojo kini angkat bicara.
“Itu dia masalahnya,” jawab Ipul. Ia kemudian menceritakan kisah pahitnya. Entah mengapa, dia tidak bisa melupakan Endah. Bagi dia, Endah adalah kisah terindah yang sangat sulit dilupakan. Ipul memang memiliki tampang yang pas-pasan jika dibandingkan dengan ketiga sahabatnya. Oleh sebab itu, dia tidak mudah mencari seseorang yang bisa menerima dia apa adanya.
Hati Ipul remuk redam ketika dia mendengar kabar pernikahan Endah dengan lelaki lain. Ia saat itu tidak menghadiri pernikahan mantan kekasihnya itu karena dia tak kuasa. Ketiga sahabatnya itu jujur tidak tahu menahu tentang hubungan di antara mereka berdua karena Ipul sendiri tidak pernah cerita.
Tidak hanya itu, keadaan hati Ipul menjadi kian tidak menentu setelah hubungannya dengan Rina kandas di tengah jalan. Rina adalah harapan baru bagi Ipul waktu itu. Namun, kisah cintanya tidak semulus dengan apa yang dikehendakinya. Ia pun merasa frustasi, tetapi dia tidak punya keberanian untuk berceria.
“Lalu, kau sekarang pengen mencari seseorang dan membuat komitmen?” Arman bertanya dengan tenang. Ipul mengangguk pelan. Sementara itu, Revan masih memikirkan sesuatu untuk disampaikan dan Jojo sibuk berpikir sembari menghisap rokok mild-nya.
“Aku sebenarnya kepikiran dengan kata-kata Ipul barusan. Kalian emang nggak lelah hidup menjadi jomblo seperti ini? Kalian gak kepikiran untuk cari pasangan yang bisa diajak serius?” ujar Revan.
“Iya juga, mau sampai kapan kita seperti ini?” Arman menimpali. Ipul dan Jojo hanya diam. Larut dengan perasaan mereka masing-masing.
Kopi jos mereka sudah mulai dingin. Perbincangan mereka malam itu diakhiri dengan tanda tanya yang mengambang. Mereka masih belum menemukan jawaban dan membutuhkan sebuah perenungan yang mendalam.
Diubah oleh sandriaflow 09-08-2019 15:52
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4