- Beranda
- Stories from the Heart
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
...
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )

Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....
Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.7K
271
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#114
Chapter 15
“ mah...apa mamah masih ingat dengan kertas yang darma bawa keluar dari kamar nenek setelah darma menjaga nenek malam itu...?”
“ iya dar...mamah masih ingat...memangnya kenapa....” jawab mamah dengan ekspresi wajah yang menampakan keseriusannya
“ sebenarnya pada malam itu, darma menggambarkan sesuatu di kertas itu untuk memperlihatkannya kepada nenek, hal itu darma lakukan karena darma masih penasaran dengan jawaban yang telah diberikan nenek pada malam sebelumnya....”
“ jawaban yang diberikan nenek....?, kamu jangan ngaco dar....mana bisa nenek memberikan jawaban sedangkan nenek aja enggak bisa bicara...”
“ maksud darma bukan jawaban seperti itu mah, pada saat malam sebelumnya itu darma meminta kepada nenek untuk menggenggam tangan darma jika memang nenek telah melihat sesuatu, dan hal tersebut ternyata dilakukan oleh nenek, nah...karena darma penasaran dengan apa yang sebenarnya telah dilihat oleh nenek, makanya semalam itu darma menggambarkan sesuatu di dalam kertas, dan ternyata apa yang telah darma gambarkan itu telah membuat nenek ketakutan....”
“ memangnya kamu telah menggambar apa dar....?”
“ darma menggambarkan sosok bayangan hitam mah....”
“ bayangan hitam...bayangan hitam yang menurut teh nenden adalah imajinasi kamu itu...?”
“ iya mah...sebenarnya sosok bayangan hitam bukanlah imajinasi darma mah, karena sosok bayangan hitam itu telah darma lihat ketika darma melihat photo tua yang tersimpan di album photo yang ada di rumah kita, dan ternyata apa yang telah darma lihat itu, dialami juga oleh bi idah dan mang kohar, karena atas dasar itu semualah maka darma menggambarkan sosok itu di dalam kertas.....”
Mendapati perkataan gue tersebut, kini bisa gue melihat adanya ekspresi ketidaknyamanan di wajah mamah, hingga akhirnya diantara keinginan gue untuk melanjutkan cerita gue yang akan menghubungkan kejadian janggal yang telah mamah alami dengan analisa gue yang menduga kalau nenden adalah pelaku dari hancurnya patung angsa yang ada di kandang angsa, tiba tiba saja mamah menceritakan tentang ketidaknyamanannya di rumah ini karena merasakan ada sesuatu yang selalu memperhatikannya
“ jadi mamah percaya kalau ada sesuatu yang aneh dengan rumah ini....?” tanya gue dan berbalas dengan keraguan mamah dalam menganggukan kepalanya
“ tapi mamah minta tolong kepada kamu dar, kamu harus berjanji untuk enggak menceritakan tentang apa yang telah mamah katakan ini kepada papah...”
“ iya mah...darma janji enggak akan menceritakannya kepada papah...tapi mah...ada satu hal lagi yang harus darma ceritakan kepada mamah, dan hal ini mungkin saja terhubung dengan teh nenden...”
“ hahh dengan teh nenden, maksud kamu apa dar....?”
“ sebenarnya ini hanya analisa darma aja mah....”
“ analisa kamu bagaimana....?”
“ pada saat pagi tadi mah, disaat darma hendak memeriksakan luka yang ada di kepala darma ini di kamar mandi, darma menemukan banyak kotoran tanah merah di lantai kamar mandi, selain itu darma juga mendapati keberadaan genangan air yang ada di dalam lubang toilet kamar mandi berwarna merah keruh, dan setelah darma selidiki...darma mendapatkan sebuah silet di dalam lubang toilet, jadi andaikan darma menghubung hubungkannya dengan kejadian janggal yang telah dialami oleh mamah dan mang kohar, darma menduga pelaku dari penghancuran patung angsa itu adalah orang dalam, bahkan bisa dikatakan pelakunya itu adalah salah satu dari anggota keluarga kita....”
“ hati hati kamu kalau bicara dar....kamu jangan sembarangan menuduh begitu, nenden itu teteh kamu, masa iya sih kamu enggak mengenali sifat teteh kamu sendiri...” ujar mamah seraya menggeleng gelengkan kepalanya
“ itu hanya dugaan darma aja mah...”
“ dugaan dengan menuduh itu beda tipis dar, andaikan kamu memang bersikukuh untuk menduga kalau teteh kamu itu adalah pelaku dari hancurnya patung angsa itu, apakah kamu mempunyai bukti....kalau kamu memang enggak mempunyai bukti, sebaiknya kamu lupakan aja dugaan kamu yang enggak berdasar itu....”
Selepas dari perkataan mamah tersebut, gue pun kini hanya bisa terdiam dalam ketidakmampuan untuk menyangkal perkataan mamah, sejujurnya memang harus gue akui kalau perkataan mamah itu memang benar, karena sebuah dugaan tanpa adanya sebuah bukti nyata adalah sebuah omong kosong belaka
“ sebaiknya kamu sekarang berganti pakaian dulu dar, setelah itu kemari lagi untuk menjaga nenek.....” saran mamah dan berbalas dengan persetujuan gue, tapi baru saja kini gue hendak berjalan keluar dari dalam kamar, keberadaan dari suara letusan yang terdengar cukup keras kini menghentikan langkah kaki gue, entah suara letusan apa yang telah terdengar oleh gue itu, tapi satu hal yang pasti, selang beberapa detik setelah suara letusan tersebut, gue kini mendapati keberadaan rumah yang gelap gulita karena padamnya lampu rumah
“ dar...suara apa itu tadi....?” tanya mamah diantara ketidakmampuan pandangan gue untuk melihat keberadaan mamah di dalam gelap
“ enggak tau mah, tapi sepertinya suara itu terdengar dari arah luar rumah...apa mungkin ada kerusakan pada benser listrik rumah kita ya mah....” jawab gue dan balik bertanya kepada mamah
“ mungkin juga dar....ya udah, sebaiknya kamu ambil dulu lilin yang mamah simpan di dalam laci lemari, sedangkan untuk korek apinya kamu bisa mencarinya di dapur....”
Sial...mungkin itu adalah sebuah kata yang tepat disaat kini gue harus menerima perintah mamah di dalam suasana rumah yang gelap gulita seperti ini, dan kini dengan hanya bermodalkan ingatan gue akan posisi dari barang barang yang ada di dalam rumah ini, gue pun mulai berjalan menembus kegelapan, hingga akhirnya disaat kini gue hendak mencari keberadaan lilin yang disimpan oleh mamah di dalam laci lemari yang berada di ruang keluarga, gue mendengar adanya suara angga yang memanggil nama gue dari lantai atas, mendapati panggilan angga tersebut, gue pun meminta kepada angga untuk tetap berada di lantai atas, karena gue khawatir akan keselamatan angga disaat suasana rumah yang diliputi oleh kegelapan seperti ini, dan disaat kini gue kembali berusaha untuk mencari keberadaan lilin yang tersimpan di dalam laci lemari, suara panggilan angga kembali terdengar dari lantai atas, dan untuk suara panggilan angga yang terdengar kali ini, entah mengapa suara panggilan tersebut kini seperti menghadirkan perasaan tidak nyaman di hati gue, hal ini dikarenakan gue merasa suara panggilan angga tersebut seperti menyiratkan rasa ketakutan angga terhadap sesuatu, entah itu rasa ketakutannya pada kegelapan ataupun rasa ketakutannya pada sesuatu yang gue tidak tahu
“ dar...darmaa...angga kenapa dar....?” tanya mamah dari kejauhan, sepertinya kini mamah juga merasakan apa yang kini tengah gue rasakan
“ darma enggak tau mah....tapi sepertinya angga takut sama gelap mah...”
Baru saja kini gue mendapatkan keberadaan lilin yang ada di dalam laci lemari, gue kembali mendengar suara panggilan angga yang terdengar semakin keras dan terucap secara berulang ulang, mendapati hal tersebut, dengan keberadaan lilin yang sudah berada di tangan gue, gue memutuskan untuk segera berjalan menuju ke dapur, tapi kini baru saja beberapa langkah gue berjalan, suara panggilan angga kembali terdengar, bahkan bisa gue katakan suara panggilan angga kali ini terasa semakin mendekat, hingga akhirnya kini gue bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa angga tengah berlari diantara suara panggilan yang dilakukannya itu
“ gaaa...tunggu diatas ga....jangan lari...abang segera ke atas....!!” teriak gue dengan nada panik, dan berbalas dengan suara kepanikan mamah yang meminta agar gue segera ke lantai atas, dan kini selepas dari teriakan mamah tersebut, entah karena terusik oleh suara keributan ini, keberadaan dari suara racauan nenek kini terdengar dalam kegelapan
“ ya tuhannnn...tolong gue...tolong gue.....” gumam gue dalam rasa panik dan bingung atas suara suara penuh kepanikan yang silih berganti terdengar, dan kini diantara suara bi idah yang terdengar memanggil manggil nama angga, bisa gue dengar juga keberadaan dari suara gedoran pintu yang juga terdengar dari lantai atas
“ tunggu abang ga...tunggu abangggg....!” teriak gue kembali dan bersambut dengan kehadiran suara yang menyerupai suara seseorang yang terjatuh di undakan anak tangga, dan berakhir dengan kesunyian
“ ya tuhan...angga....anggaaa...” gumam gue dalam rasa lemas yang mendera tubuh gue ini, dan kini tanpa memperdulikan lagi kegelapan yang ada dihadapan gue ini, gue segera berjalan dengan langkah yang gemetar menuju ke posisi dimana anak tangga berada, hingga akhirnya disaat kini langkah kaki gue merasakan adanya cairan hangat yang tersentuh oleh bagian dari telapak kaki gue ini, gue segera merunduk untuk mencari keberadaan dari kepala angga yang tersembunyi dalam kegelapan, dan seiring dengan keberadaan tangan gue yang telah menyentuh kepala angga, kini gue hanya bisa menjerit dan meraung dalam rasa pasrah atas kondisi angga saat ini
“ darma...angga kenapaa...angga kenapaaaa....!” teriak mamah dalam kegelapan yang menyembunyikan keberadaannya, dan kini diantara suara teriakan yang terlontar dari mulut mamah tersebut, bisa gue dengar keberadaan dari mang kohar yang berteriak teriak memanggil nama gue seraya menggedor gedor pintu rumah
“ angga...maafkan abang ga...maafkan abang...” ujar gue dalam isak tangis seraya memeluk tubuh angga yang bersimbah darah dibagian kepalanya, dan kini diantara ketidakpastian atas kondisi angga sekarang ini, keberadaan dari mang kohar yang telah mendobrak pintu rumah, kini telah menghadirkan cahaya dari sebuah lilin yang ada di dalam genggaman tangannya
“ astagfirullah angga...angga kenapa kang..” teriak mang kohar begitu melihat gue yang tengah bersimpuh sambil memeluk tubuh angga, dan kini seiring dengan sinar terang dari cahaya lilin yang menerangi keberadaan gue dan angga, nampak terlihat keberadaan bi idah dan mamah yang tengah berlari kecil guna menghampiri gue dan angga, dan setibanya kini mamah di hadapan gue dan angga, tanpa bisa menyembunyikan kesedihan yang dirasakannya, pergerakan tangan mamah kini merenggut angga dari pelukan gue
“ angga....bangun nak...ini mamah...bangunnn....” ujar mamah dalam isak tangisnya, dan entah mengapa, begitu kini gue mendengar isak tangis mamah tersebut, ingatan gue pun kembali teringat akan suara gedoran pintu yang tadi sempat terdengar dari lantai atas
“ imse....” gumam gue pelan seraya meminta nyala api dari lilin yang berada di tangan mang kohar, guna menyalakan lilin yang ada di tangan gue
“ mang bantu saya mang...imse...imse masih ada diatas....” pinta gue dan berbalas dengan pergerakan tangan mang kohar yang menyerahkan lilin yang tengah dipegangnya kepada bi idah, dan kini begitu mendapati bahwa gue telah berlari terlebih dahulu menaiki susunan anak tangga, nampak mang kohar turut berlari mengikuti gue dari arah belakang, dan setibanya kami di depan kamar nenden, nampak terlihat keberadaan pintu kamar yang tertutup dengan rapat, mendapati kenyataan tersebut, gue pun mencoba untuk mengetuk pintu kamar dengan harapan adanya sebuah jawaban dari dalam kamar, tapi sepertinya jawaban yang kini terdengar dari dalam kamar, tidaklah seperti apa yang gue harapkan
“ darmaaa...tolong gue dar..tolong gue....!” jerit nenden diantara suara tangisannya yang terdengar keras, dan kini belum sempat gue merespon jeritan nenden tersebut dengan sebuah tindakan, terlihat mang kohar mengambil inisiatif untuk mendobrak pintu kamar dengan menggunakan tubuhnya
“ tahan mang...kita bersama sama aja....” ujar gue begitu melihat usaha mang kohar yang telah dua kali menemui kegagalan, dan kini seiring dengan kebersamaan gue dan mang kohar yang mengayunkan tubuh pada daun pintu, nampak terlihat keberadaan dari pintu kamar yang telah terbuka dengan meninggalkan kerusakan pada daun pintu
“ astagfirullah....cepat bantu neng nenden kang....!” teriak mang kohar begitu melihat nenden yang tengah menahan pergerakan dari tubuh imas yang bergerak liar di atas tempat tidur, keberadaan dari jari tangan nenden yang berada di dalam mulut imas, sepertinya adalah penyebab dari tangisan nenden dalam upaya meredakan rasa sakit yang tengah dirasakannya, dan kini setelah gue menyerahkan lilin yang gue pegang kepada mang kohar, gue segera membantu nenden untuk melepaskan keberadaan dari jari jemari imas yang berada di leher nenden
“ tolong bantu gue dar...lebih baik lu ambil kain kecil yang ada di lemari itu untuk menggantikan jari tangan gue ini...gue udah enggak kuat lagi dar....”
Mendapati bahwa kini gue berusaha untuk mencari keberadaan kain yang tersimpan di dalam lemari, nampak mang kohar meletakan lilin yang dipegangnya di atas meja, lalu dengan sebuah pergerakan yang cepat, terlihat mang kohar melepaskan jari jemari imas dari leher nenden
“ cepat dar....” jerit nenden diantara kelambatan gue dalam mencari kain, hingga akhirnya seiring dengan kain yang telah gue dapatkan, gue segera membantu nenden untuk melepaskan jari jemari tangannya yang berada di mulut imas dan menggantikannya dengan ikatan kain kecil pada mulut imas
“ ya tuhan teh...apa yang telah kita lakukan terhadap imse....” ujar gue dengan rasa tidak tega begitu melihat keberadaan ikatan yang berada di mulut imas
“ tega enggak tega kita harus melakukan ini dar, ini demi kebaikan imse dan kebaikan yang lain juga....dan sekarang tolong lu pegang imse dulu dar....” selepas dari perkataan nenden tersebut, kini dalam rasa bingung, gue segera menggantikan peran nenden dalam memegangi tubuh imas
“ lu mau apa teh....?” tanya gue begitu melihat nenden yang mengambil beberapa helai pakaian dari dalam lemari
“ kita harus mengikat imse dar, jangan sampai dia melakukan hal hal yang enggak kita inginkan....”
“ gila lu teh, gue enggak setuju....sumpah gue enggak tega untuk melakukannya....” ujar gue dan berbalas dengan ketidakperdulian nenden atas perkataan gue tersebut, dan kini diantara pergerakan nenden yang mulai mengikatkan kaki dan tangan imse pada kayu tempat tidur, mang kohar hanya bisa terdiam dalam ekspresi wajahnya yang menunjukan kebingungannya
“ mang.....?”
“ sebaiknya memang harus diikat kang, mamang takut imas akan melakukan sesuatu yang kita enggak perkirakan....”
Dan kini diantara pergerakan tangan nenden yang telah menyelesaikan ikatannya pada bagian kaki dan tangan imas, terdengar suara teriakan papah dari lantai bawah yang memanggil mang kohar, mendapati panggilan tersebut, mang kohar segera berlari menembus kegelapan guna memenuhi panggilan papah, dan tidak berselang lama kemudian mang kohar kembali hadir dengan sebuah kabar bahwa mang kohar akan mengantarkan papah dan mamah ke rumah sakit guna memeriksakan kondisi angga
“ nenek sekarang sedang bersama siapa mang.....?” tanya gue begitu melihat mang kohar yang hendak beranjak pergi meninggalkan kamar
“ nenek sedang di temani oleh bi idah, ya udah kang saya berangkat dulu....sepertinya keadaan angga harus segera cepat ditangani oleh pihak rumah sakit....”
Selepas dari jawabannya tersebut, nampak mang kohar kembali lagi berlari menembus kegelapan
“ dar...darah yang ada dibaju lu itu darah siapa...?, apa yang sebenarnya telah terjadi pada angga...?” tanya nenden dengan menunjukan ekspresi kekhawatirannya
“ angga terjatuh dari lantai atas teh, dan gue juga enggak tau akan kondisinya sekarang ini....”
Mendapati jawaban gue tersebut, terlihat nenden hendak berlari menyusul mang kohar guna mengetahui akan kondisi angga saat ini, tapi kini baru saja keberadaan nenden berada di pintu kamar, gue mendengar suara deru mesin mobil yang terdengar begitu kencang, hingga akhirnya suara deru mesin mobil tersebut terdengar mulai menjauh
“ ya tuhan angga....” gumam nenden dalam isak tangisnya
“ teh...sebaiknya lu tunggu disini bersama imse, gue mau memeriksa keadaan dibawah dulu...”
“ iya dar...hati hati...”
Diantara gerak langkah kaki gue yang telah berjalan keluar dari dalam kamar, suara racauan nenek yang terdengar sampai ke lantai atas, kini telah membuat langkah kaki gue bergerak semakin cepat, hingga akhirnya setibanya gue di lantai bawah, keberadaan dari genangan darah di lantai yang kini terinjak oleh kaki gue, telah membuat gue terhenti sejenak dalam kegelapan
“ ya tuhan selamatkan adik gue.....tolong hilangkan semua pikiran buruk yang ada di kepala gue ini...” gumam gue disertai dengan langkah kaki gue yang kembali berjalan menuju ke kamar nenek
“ bagaimana keadaan nenek bi....?” tanya gue diantara sinar cahaya lilin yang menerangi kamar
“ entahlah kang...bibi merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh mamih saat ini, sepertinya mamih ingin mengatakan sesuatu, tapi entah apa......”
“ ya udah lah bi, lebih baik sekarang bi idah menemani mamih dulu, karena saya mau memeriksa kondisi benser listrik...” ujar gue seraya mengambil sebuah lilin dari atas meja lalu menyalakannya
“ kang darma, kenapa kita enggak pindah lagi aja ke jakarta...bibi takut kang....jika kita terlalu lama tinggal di rumah ini, sesuatu yang buruk akan kembali terjadi dan mencelakai keluarga kang darma, bahkan mungkin juga mencelakai bibi dan mang kohar.....” ucap bi idah diantara ekspresi ketakutannya
“ sebenarnya saya juga menginginkannya seperti itu bi, tapi semuanya itu kembali lagi pada keputusan papah, karena darma tau sekali akan sifat papah yang keras kepala dan enggak gampang untuk mempercayai hal hal seperti ini...”
“ lantas apa yang akan kita lakukan kang jika papah kang darma itu enggak percaya kalau yang terjadi ini adalah perbuatan dari sesuatu yang buruk yang menempati rumah ini....”
“ sebenarnya bi...tadi sore itu saya bersama mang kohar menemui seseorang yang sudah biasa untuk menangani permasalahan seperti ini, dan kemungkinannya besok saya akan meminta mang kohar untuk menjemput orang itu....”
“ sukurlah kalau begitu kang, bibi hanya berharap yang terbaik bagi keluarga ini....”
Dan kini diantara keterdiaman bi idah setelah mengatakan harapannya itu, gue segera beranjak pergi meninggalkan kamar guna mengetahui kondisi benser listrik, dan kini setelah gue melakukan pemeriksaan pada benser listrik, alangkah terkejutnya gue begitu mendapati bercak hitam yang terdapat pada dinding yang berada di atas benser listrik, hal ini menunjukan bahwa benser listrik tersebut telah meledak hingga menimbulkan percikan api yang berbekas pada dinding rumah
rassof dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Tutup