- Beranda
- Stories from the Heart
Perjalanan Sang Penguasa Alam JIN & KAHYANGAN
...
TS
gelandangan143
Perjalanan Sang Penguasa Alam JIN & KAHYANGAN
Assalamualaikum wr. wb.
Salam sejahtera semuanya. Mohon ijin untuk menceritakan ulang Kisah Sang Guru yg bermuatan banyak pelajaran Hikmah kehidupan yg bermuatan Religi, Supranatural dan Spiritual.
Index Thread :
Sebuah Kisah Nyata Perjalanan Hidup, Spiritual & Supranatural

CHAPTER 1
Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas. Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya.
Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya. Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya.
Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak. Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki. Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri.
Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara. Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya.
Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti. Yang ku tau lelaki muda usia itu, sering dipanggil Kyai Lentik, dari ayahnya nasabnya sampai Sunan Gunung Jati, dari ibunya sampai ke Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.
Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai. Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk.
Seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? ndak bogah duwit mbok. Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri.
Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada.
Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan.
Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa pulang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku.
Saat aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam. Bayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai. Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi.
Kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat kisah aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak,
“Dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu.”
“Nyai siapa?” kataku menguasai keterkejutan.
“ah mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!!” katanya, karena menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan kata-kataku, aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang aku yakini tengah berada di musolla menunggu sholat berjama’ah.
Aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi memang kalau dipikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati.
Tapi para penduduk sekitar juga para tamu yang datang, selalu berkeyakinan kalau pesantren ini adalah pesantren kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, aku masih takut bagaimana jadinya kalau Kyai bertarung dengan nenek sakti ini? Selama ini yang aku tahu Kyai sangat menguasai ilmu pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila, sakit luar, penyakit dalam, sampai penyakit kena santet, kena guna-guna kena jin, kena narkoba, semua bisa disembuhkan, orang pengen jadi lurah, camat, bupati, gubernur, sampai mau jadi presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya mendo’akan saja, tapi kalau ilmu kanuragan, aji kesaktian, aku tak tau, aku jadi ingat ada seorang tentara mau dikirim menjadi pasukan. Pasukan penjaga perdamaian di Kuwait namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang lain mau meminta sareat ilmu kekebalan, dia ngantri dengan tamu yang lain lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum Iqbal ngomong.
Begitulah Kyai selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. Bahkan tahu hari, tanggal, tahun kelahiran serta siapa bapak ibunya. Bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja mengalir.
Aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ketempat Kyai. Kyai mengupas aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dengan si Dyah dengan si Faty, Dina, semua disebutkan satu-satu oleh Kyai plus nama orang tua gadis itu. Jelas membuatku jengah, malu dan aku yang sebelumnya datang ke pesantren ini karena bekerja yaitu membuat kaligrafi dari semen, akhirnya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu dari Kyai.
Bersambung ke Chapter 2
Salam sejahtera semuanya. Mohon ijin untuk menceritakan ulang Kisah Sang Guru yg bermuatan banyak pelajaran Hikmah kehidupan yg bermuatan Religi, Supranatural dan Spiritual.
Index Thread :
Spoiler for Index Thread :
Sebuah Kisah Nyata Perjalanan Hidup, Spiritual & Supranatural

CHAPTER 1
Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas. Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya.
Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya. Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya.
Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak. Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki. Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri.
Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara. Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya.
Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti. Yang ku tau lelaki muda usia itu, sering dipanggil Kyai Lentik, dari ayahnya nasabnya sampai Sunan Gunung Jati, dari ibunya sampai ke Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.
Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai. Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk.
Seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? ndak bogah duwit mbok. Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri.
Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada.
Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan.
Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa pulang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku.
Saat aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam. Bayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai. Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi.
Kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat kisah aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak,
“Dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu.”
“Nyai siapa?” kataku menguasai keterkejutan.
“ah mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!!” katanya, karena menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan kata-kataku, aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang aku yakini tengah berada di musolla menunggu sholat berjama’ah.
Aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi memang kalau dipikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati.
Tapi para penduduk sekitar juga para tamu yang datang, selalu berkeyakinan kalau pesantren ini adalah pesantren kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, aku masih takut bagaimana jadinya kalau Kyai bertarung dengan nenek sakti ini? Selama ini yang aku tahu Kyai sangat menguasai ilmu pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila, sakit luar, penyakit dalam, sampai penyakit kena santet, kena guna-guna kena jin, kena narkoba, semua bisa disembuhkan, orang pengen jadi lurah, camat, bupati, gubernur, sampai mau jadi presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya mendo’akan saja, tapi kalau ilmu kanuragan, aji kesaktian, aku tak tau, aku jadi ingat ada seorang tentara mau dikirim menjadi pasukan. Pasukan penjaga perdamaian di Kuwait namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang lain mau meminta sareat ilmu kekebalan, dia ngantri dengan tamu yang lain lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum Iqbal ngomong.
Begitulah Kyai selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. Bahkan tahu hari, tanggal, tahun kelahiran serta siapa bapak ibunya. Bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja mengalir.
Aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ketempat Kyai. Kyai mengupas aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dengan si Dyah dengan si Faty, Dina, semua disebutkan satu-satu oleh Kyai plus nama orang tua gadis itu. Jelas membuatku jengah, malu dan aku yang sebelumnya datang ke pesantren ini karena bekerja yaitu membuat kaligrafi dari semen, akhirnya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu dari Kyai.
Bersambung ke Chapter 2
Diubah oleh gelandangan143 23-08-2019 07:26
ir.rahma92 dan 37 lainnya memberi reputasi
30
62.7K
226
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gelandangan143
#23
Chapter 5b
Memang ilmu dari Kyai ini aneh, jadi tak pernah diajari, tak pernah ada pengajaran kanuragan, tak pernah ada pengajaran pengobatan, tak pernah ada pengajaran apapun, hanya ada pengamalan, amalan-amalan untuk menjernihkan hati, dan mendekatkan diri pada Allah dengan segala laku, tanpa mengharap balasan dari Alloh, bahkan tanpa menganggap amalan itu ibadah. Dibiarkan mengalir begitu saja. Wajar seperti air sungai yang mengalir melewati celah-celah batu kadang membentur karang menikung membalik berpencar berkumpul untuk menuju muara laut makrifat, hikmah, dan kesempurnaan, di antara para santri mungkin aku yang paling getol puasa, aku ingat waktu puasa pertama kujalani dua puluh hari, karena mondok sambil kerja, jadi aku bekerja di Jakarta. Untuk makanku di pondok. Ada tawaran kerja melukis airbrush. Di Cipinang Indah. Aku pun berangkat ke Jakarta, dan mencari rumah kontrakan.
Kesana sini aku mencari kontrakan, tapi kebanyakan, harganya di atas isi kantongku, padahal aku harus ngirit, seharian aku jalan, naik angkot, tanya sana sini, sampailah aku di daerah Duren Sawit, Jatinegara, karena lewat petunjuk orang ada rumah kontrakan yang murah, tapi hati-hati mas, pada kgak krasan, banyak hantunya. Kata ibu-ibu yang ngasih tau sambil wajahnya dibuat mimik ngeri. Akupun segera menemui pemilik kontrakan, lalu aku diajak ke rumah yang mau ku tempati. Rumahnya cukup besar, bertingkat di belakang, ada kamar mandi, wc, dan tiga kamar serta ruang tamu, cuma sayang tak di urus, jadi amat berdebu.
“Kalau mau nempati ditempati aja mas, kagak usah bayar, gratis.” kata pemuda sepantaranku, anak yang punya kontrakan.
“Lho kok bisa gitu.”
“Yah selama ini kami repot, karena setiap yang ngontrak di sini selalu tak krasan, ya alasannya ada hantunyalah, ada setannya, kemudian uang kontrakan diminta lagi, ya kami yang repot, karena uangnya terlanjur kepakai.”
“Apa emang bener ada hantunya?” tanyaku sambil jalan melihat kamar-kamar.
“Wah kalau saya kgak percaya hal kayak gituan mas, cuma takut kalau bener ada trus saya dicekik.” aku heran dengan penjelasan pemuda ini, wong tak percaya tapi kok ya takut.
Akhirnya aku menyetujui, rizqi emang tak kemana, kalau udah dicap untuk kita, ya untuk kita, aku pun menempati rumah itu gratis, padahal kalau ngontrak rumah segede ini paling enggak empat ratus ribuan per bulan, wah kalau disuruh nempati gratis kayak gini ya jelas enak lah. Aku segera bekerja membersihkan rumah, menguras bak mandi, mengepel, untung juga di ruang tamu ada televisinya, wah bener-bener bisa kerasan. Tapi aku cuma mau nyari tempat tinggal sampai kerjaan di Cipinang Indah selesai. Besoknya aku mulai kerja membuat motif granit di tembok dan tiang rumah, juga membuat lukisan-lukisan di titik tertentu sesuai permintaan, juga aku puasa di siang hari dan wirid di malam hari, wiridnya tak terlalu banyak macamnya, walau hitungannya mencapai puluhan ribu. Karena sambil kerja waktu tak terasa berlalu.
Tak terasa duapuluh hari telah berlalu, ini adalah puasa hari ke dua puluh satu, dari ilmu yang diajarkan Kyai ini hanyalah puasa dasar, setelah ini aku puasa empat puluh satu hari, lalu setelah selesai aku puasa tiga bulan, kemudian tujuh bulan, kemudian sembilan bulan, satu tahun setengah, tiga tahun, lima tahun, tuju tahun, semua harus dilakukan berturut, artinya misal mau puasa empat puluh satu hari, selama empat puluh satu hari harus puasa, nah kalau sudah selesai, baru berhenti, mau satu atau dua tahun lagi baru puasa yang tiga bulan terserah.
Selama aku menempati rumah kontrakan ini adem ayem aja, tak terjadi apa-apa, aku lebih memilih menempati kamar atas tepat di atas kamar mandi karena lebih dekat ke kamar mandi, walau kadang aku ketiduran di ruang tamu, karena keasyikan nonton tivi.
Malam ini wirid terakhirku, setelah sholat isya, aku duduk bersila, tasbih di tangan kananku, dan counter di tangan kiriku. Dudukku kubuat sesantai mungkin, karena wirid ini baru bisa kuselesaikan dalam tiga jam. Napas kutarik panjang dan kusimpan di perut, berbarengan terus aku membaca aurad setelah perutku penuh, dan aku tak kuat menahan napas, napas perlahan lahan kukeluarkan, sangat perlahan, sampai aku tak mendengar desah tarikan nafasku. Mulutku tertutup rapat, dan mataku terpejam, sementara hati ku terus membaca wirid tanpa henti. Setelah napas kukeluarkan semua, diam sejenak, aku mengulang pernapasan seperti awal, begitu terus sampai wirid selesai, dalam mata batinku aku melihat gelap yang pekat, semua gelap tak berujung tak berpangkal, lalu di jauh sekali kulihat setitik cahaya, aku seperti meluncur ke arah cahaya itu, dan masuk ke dalamnya, semua serba cahaya putih menyilaukan mata hatiku silau lalu ada cahaya merah, hijau, kuning, biru, dan banyak lagi berpendaran, lalu aku terseret dalam satu cahaya melesat berputar, sampailah aku di satu ruang yang terang tapi lembut, damai, aku tak tau ruang apa itu, kurasakan dari pusarku mengalir hawa dingin yang sedang, mendamaikan mengalir ke semua tubuhku, kadang alirannya ku arahkan ke bagian tubuhku yang pegal-pegal, seketika hilang rasa pegalku.
Tiba-tiba angin keras menerpa di sekitarku, aku tetap duduk tenang, angin semakin keras, sampai pakaianku berkibar-kibar, sekejap konsentrasiku buyar, karena sejenak aku berpikir, bagaimana mungkin ada angin yang keras masuk sedang jendela dan pintu terkunci. Tapi aku cepat berkonsentrasi lagi, dan sampai wirid selesai tak terjadi apa-apa, setelah melipat sajadah akupun pergi ke ruang tamu dan nonton tivi sambil tiduran di sofa. Tak terasa aku telah lelap, kira-kira jam tiga malam terdengar ledakan di atas genteng, suaranya keras, sampai aku yang lagi tidur terjaga, ah mimpi pikirku. “Duar..!,duar…!” terdengar ledakan keras di atas genteng, suaranya seperti petasan, atau seperti suara pespa yang distarter lalu meledak dan copot kenalpotnya, aku sempat terbangun karena ada percikan api di atasku, kukira konsleting listrik, tapi kenapa lampu kamar sebelah tak mati? Memang lampu di ruang tamu tempat aku tidur di sofa, kumatikan, tapi bias cahaya dari kamar sebelah masih, bisa membantu mataku mengenali setiap benda di ruang tamu ini, ah perduli amat, besok aku kerja maka malam ini aku harus beristirahat cukup.
Aku segera membetulkan letak tubuhku agar nyaman, dan segera memejamkan mataku, tapi baru beberapa menit aku memejamkan mata, kudengar suara dekat di telingaku, walau kata-katanya tak jelas tapi benar-benar membuatku kaget, aku pun membuka mata, uh! Betapa terkejutnya aku, tepat tiga jengkal dari wajahku, seraut wajah yang menyeramkan melihatku, wajah orang tua jelek sekali, wajahnya keriputan penuh bisul menggelambir di sana sini, kepalanya botak, dan rambutnya hanya tumbuh di belakang kepala. Wah celaka kalau ini orang gila yang masuk ke kontrakanku, melihatku membuka mata dan bangkit, orang tua itu mundur.
“Hei siapa kau? Orang edan dari mana?!” tanyaku membentak, orang itu mundur dan mengoceh dengan bahasa yang tak ku mengerti. Tanganku terkepal maju mau melayangkan bogem ke wajah orang itu, ku lihat wajahnya ketakutan dan mundur-mundur, aku segera berlari melayangkan pukulan ke orang itu.
Namun dengan cepat tanpa ku sangka-sangka orang itu melompat kearah tembok, dan hilang dalam tembok. Aku melangkah maju ketembok di mana orang itu hilang, kuraba tembok semen, ku getok-getok dengan jari, keras, bagaimana mungkin orang tua itu bisa nembus tembok, apa mungkin jin, setan, siluman? Tapi kenapa kalau memang jin atau sebangsanya kok malah takut kepadaku, padahal kalau melihat mukanya jelek banget, mestinya aku yang takut sama dia, bukannya dia yang takut kepada wajah kerenku. Aku kembali ke sofa, membaringkan diri, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari, aku sudah tak bisa tidur lagi, mataku sekali waktu melihat tembok di mana orang tua jelek itu hilang.
Kisahku ini kuceritakan kepada Kyai, tapi Kyai hanya ketawa, dan mengatakan kalau menjalani puasa tingkat pertama memang akan bersentuhan dengan dunia gaib, jadi tak masalah. Di puasa yang keempat puluh satu aku juga mendapatkan tawaran melukis di sebuah rumah makan besar di daerah lintas jalan raya Serang-Pandeglang, rumah makan itu besar sekali, panjangnya aja sampai hampir mencapai seratusan meter, di bawah rumah makan itu ada pemancingan, pemilik rumah makan itu memintaku melukisi semua rumah makannya, tapi aku menolak karena mungkin setahun bekerja juga tak akan selesai, padahal aku bekerja hanya untuk sekedar buat makan di pondok, beli sabun dan pasta gigi, apalagi aku orangnya cepat bosan, dan melukis juga kalau lagi mud ya seneng tapi kalau lagi males, ya males.
Jadi ku katakan aja kalau aku nanti mau melukis pasti akan datang, tapi kalau lagi tak mau aku pun pulang ke pondok, dan oleh pemilik rumah makan itu pun disetujui. Aku tinggal di musholla yang ada di tengah-tengah rumah makan itu, sebenarnya aku diminta untuk tinggal di rumah pemilik rumah makan itu, tapi aku lebih memilih tinggal di musholla.
Rumah makan itu kalau siang penuh dengan pengunjung, jadi aku memutuskan melukis di malam hari agar tidak mengganggu pengunjung rumah makan, juga konsentrasiku saat melukis tidak terganggu, dan saat itu aku diminta melukis pakai kuas, jadi tidak lukisan airbrush, sehingga tak perlu terdengar suara ribut mesin compresor. Aku mulai kerja jam sembilan malam, yaitu setelah rumah makan tutup, dan pelayan telah membereskan semua. Di hening malam tanganku segera menuangkan bongkahan beku imajinasi, mencoret sana sini, mengambil satu demi satu gambaran pikiranku, menuang dalam bentuk warna yang lebih nyata, untuk dinikmati siapa saja. Seperti menyeret orang ke dunia hayalku, tanpa batas tanpa tepi.
Malam bekerja dan siang puasa, Sangat nikmat sekali, dan wirid kulakukan di siang hari, wirid masih tahapan ringan, kalau dibanding tahapan puasa di atasnya, walau menurut orang yang tak pernah menjalankan wirid, wirid adalah berat. Tapi dibanding puasa yang tuju bulan, di samping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama seminggu, apalagi yang puasa sembilan bulan, disamping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama satu hari, yaitu dari matahari terbit, sampai matahari tenggelam, pertama aku membayangkan bahwa itu tak kan mungkin, tapi setelah Kyai menjelaskan tentang ilmu melipat waktu, dan aku mengalami sendiri, ternyata itu hal biasa, imam syafii aja menghatam Alquran sehari tujuh kali.
Sudah tujuh hari aku bekerja di rumah makan ini, pak Kosasih pemilik rumah makan ini, seorang DPR, MPR, Cilegon, orangnya supel, ulet dan pandai bergaul, kadang pak Kosasih ini memintaku berhenti bekerja dan mengajak ngobrol tentang agama.
“Mas Ian, sini-sini ngaso dulu, kita ngobrol.” katanya sambil duduk di kursi, memangilku, aku pun meletakkan kuas besar yang kupakai membuat lukisan rumput. Dan aku menghampirinya.
“Duduk dulu.” katanya lagi. “Wah mas Ian ini hebat, jadi pelukis juga seorang santri.”
“Ah biasa aja pak.”
“Ah ya enggak biasa lah, apa ada di Indonesia ini, atau mungkin di dunia satu sisi, sementara sisi yang lain adalah seorang calon Kyai, tentu sebagai santri ini mas Ian ilmu agamanya pinter?”
“Wah bapak ini, karena saya tak tau ilmu agama inilah saya mondok pak, kalau saya udah pinter mungkin saya jadi tukang ceramah, kalau pekerjaan melukis, ya karena orang tua saya tak kaya, jadi kalau saya mau mesantren harus cari makan sendiri, bisanya nglukis, jadilah kerjaan ngelukis dijalani.”
“Ck..ck..hebat, hebat, memang jadi pemuda itu harus mandiri, tak hanya menjagakan orang tua.”
“Wah kalau saya karena kepaksa aja.”
“Wah udah hebat masih bisa membawa diri.”
“Ah jangan terlalu dilebih-lebihkan lah pak, nanti saya gede kepala.”
“Ngomong- ngomong apa menurut mas Ian tentang sholat?”
“Sama dengan yang ada di Alquran dan hadis, sholat itu tiang agama, siapa yang mendirikan sholat maka menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan sholat merobohkan agama, karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Seperti obat yang menyembuhkan penyakit, tentu efek sembuh di sini bukan saat mengkonsumsi obat itu, tapi setelah mengkonsumsi obat itu, begitu juga pada sholat, dikatakan bisa mencegah perbuatan keji tentu adalah setelah orang menjalankan sholat. Kalau sudah sholat ternyata masih korupsi, masih ngomong jelek, masih iri, dengki, sombong dan segala macam perbuatan buruk dilakukan, ya diyakini aja sholatnya tak bener. Sholat itu ada syarat, rukunnya, luar dalam harus dipenuhi. Seperti orang mandi aja, harus ada kamar mandi, ada air ada sabun, semua semakin baik, akan semakin bagus hasilnya, walau cuma mandi, kalau bisa ada kamar mandi yang baik, tidak mandi di tengah lapangan, ada sabun yang baik, bukannya pakai lumpur, airnya juga harus bagus, air yang keruh penuh kuman, atau air got tentu setelah mandi bukannya bersih tapi akan malah kotor, begitu juga mandi tak bisa dibolak balik, habis diguyur air pake sabun diguyur air lagi, kalau sabun kita pakai belakangan, lalu pake baju, tentu diketawain orang. Jadi tak bisa seenaknya sendiri, juga ada syarat dalam niat mandi itu mau mejeng atau mau agar bersih, agar sehat. Dan orang yang mandinya bener tidaknya tentu dilihat setelah orang itu keluar dari kamar mandi, kalau coreng moreng tentu mandinya tak bener, tapi kalau baunya wangi, bersih tentu mandinya benar.”
“Lalu menurut mas Ian gimana kalau ada orang mengatakan, sholat itu yang penting hatinya, lalu orang itu tak mau sholat.”
“Kata-kata orang itu benar tapi dia tak mau sholat itu yang tak benar. Maksud saya kata-kata orang itu benar, kebenarannya sebatas kata-kata, seperti orang mengatakan motor itu yang penting mesinnya, tentu kata itu benar, karena mesin bagus lari motor jadi kenceng, tapi apa yang sudah nempel di motor itu semua tentu penting, tanpa roda motor tak bisa kemana, roda ada unsur pelek, ger, jeruji, rantai, ban dalem ban luar, semua penting, satu aja tak ada motor tak akan kemana, kecuali dituntun, gitu juga sholat, satu aja rukun tak ada maka sholat itu walau masih dianggap sholat tapi tak sah, jangankan dapat pahala, sholat diangkat ke langit aja kgak. Seperti motor tak bisa kemana-mana, sekalipun mesin motor bagus, tapi tak ada roda, tak ada rem, tak ada onderdil yang lain, orang tak akan mau menyebut mesin motor itu adalah motor.”
Begitulah pak Kosasih, hampir tiap hari mengajak dialog tentang agama, dan aku selalu berusaha untuk menanggapinya dengan memberi contoh yang bisa dinalar dengan rasio masuk dalam logika, sampai-sampai orang itu menganggapku sebagai adiknya sendiri, dan mau menghadiahiku rumah tingkat di belakang rumahnya harapannya agar aku bisa diajaknya selalu membahas agama. Tapi walau aku miskin tapi aku tak mau hidup terjerat budi, seperti kata Kyaiku, yang selalu terngiang sampai kini saat itu aku mau bekerja di rumah orang yang masih ada hubungan saudara dengan Kyai, aku bertanya, apakah harus minta bayaran pada saudara Kyai itu.
“Mas Ian ini gimana, kalau kerja itu tak ada yang ikhlas, lha kalau beramal itu harus ikhlas. Semua ada tempat dan bagiannya masing-masing. Kalau mas Ian kerja ya harus minta gaji, nabi sendiri mengatakan: bayarlah gaji pegawaimu sebelum kering keringatnya, kalau amal kan banyak caranya ada sedekah dan lainnya. Jadi jangan dicampur-campur.”
Malam itu aku sendirian melukis, jam menunjukkan jam dua dini hari, keheningan malam terasa mencekam betul malam ini, udara dingin menusuk tulang, kopi jahe telah habis kutenggak, entah rokok Djarum yang ke berapa ini kunyalakan di mulutku, untuk mengusir sepi dalam kesendirianku, dari jauh ku dengar gonggong anjing bersahutan meremangkan bulu kudukku, aku masih mencoba menyatukan serpihan-serpihan imajinasiku, dan menorehkan kuas di tembok.
Tiba-tiba deretan kursi bambu di belakang, berjarak tiga meter berderit, seperti ada orang yang menduduki, aku menengok tiada siapa-siapa, aku melanjutkan melukis lagi, mengusir pikiran-pikiran takut yang mulai membuyarkan konsentrasiku. Tapi tak sampai lima menit, ku dengar ketukan-ketukan jari di meja bambu, aku masih tetap melukis, sambil menyatukan konsentrasiku ke telinga dan setelah yakin dengan yang ku dengar, aku cepat menoleh kearah suara. Tiada siapa-siapa, suara ketukan di meja pun berhenti, mungkin kalau bukan orang yang digembleng berulang kali telah tidur di kuburan, tentu aku akan lari lingkang pukang. Tapi ini bukannya membuatku takut tapi, aku jengkel bukan main, karena konsentrasiku diganggu. Aku melanjutkan melukis lagi, setelah sebelumnya aku mengambil rokok Djarum kuoles-olesi dengan ketek kopi dan kunyalakan, namun belum sampai lima menit terdengar lagi suara ketukan jari di meja, kali ini dengan nada musik tertentu, aku masih terus melukis, sampai dengan saat tepat aku membalikkan badan dan mengira tempat yang tadi diketuk-ketuk, aku menghampiri dan duduk di kursi depan, dan berpura-pura melihatnya, ku pelototi dia, yah aku yang ilmuku masih dangkal tentu tak melihatnya, dan aku benar-benar kecele. Karena tiba-tiba jendela rumah makan bergoyang-bergoyang, sialan dia telah berpindah, aku segera ke jendela, sampai di jendela aku berhenti, tapi tiba-tiba pintu gerbang besi di depan bergombrengan seperti ditendang orang, aku berlari ke pintu gerbang, tapi tetap tak ada siapa-siapa. Ah perduli amat, aku memutuskan untuk berhenti melukis dan melangkah ke musholla untuk berangkat tidur.
Baru saja aku tidur, aku kaget membuka mata, dan nampak dari pintu musholla berjalan melenggang gadis cantik sekali, bibir tipisnya merah merekah, ada lesung pipi ketika tersenyum, matanya bening penuh kerlingan dan pakaian dan kerudung yang dipakai dari sutra tipis berwarna biru, sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Ah aku mau bergerak tapi tubuhku benar-benar kaku. Tak bisa digerakkan sama sekali, seperti dilem dengan ubin keramik, ah aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa ketika perempuan cantik itu duduk di sampingku, tangannya mulai memelukku, kemudian bibirnya yang lembut mencumbuku, ah aku tak berdaya, dicumbuinya dan tak bisa ku tolak, maka terjadilah…..
Bangun pagi semua tubuhku rasanya ngilu. Seperti orang yang habis bekerja berat, tak ada perempuan di sampingku. Aku mungkin bermimpi. Untung siang hari aku tak kerja, sehingga aku dapat beristirahat tidur seharian, kalau mimpi hadas besar kayak gini ini yang repot waktu bangun tidur dan mau mandi sebelum sholat subuh, soalnya tak ada air, aku jadi pontang panting nyari air di kampung-kampung, sampai ku temukan sumur dekat musholla jaraknya dari tempatku kerja mungkin ada sekitar dua ratusan meter, ah tak apalah, aku langsung gebyuran mandi junub. Dan sholat subuhnya ikut berjamaah di mushola, aku masih duduk wirid memutar tasbih, setelah menjalankan sholat subuh,
Bersambung ke Chapter 5c
Memang ilmu dari Kyai ini aneh, jadi tak pernah diajari, tak pernah ada pengajaran kanuragan, tak pernah ada pengajaran pengobatan, tak pernah ada pengajaran apapun, hanya ada pengamalan, amalan-amalan untuk menjernihkan hati, dan mendekatkan diri pada Allah dengan segala laku, tanpa mengharap balasan dari Alloh, bahkan tanpa menganggap amalan itu ibadah. Dibiarkan mengalir begitu saja. Wajar seperti air sungai yang mengalir melewati celah-celah batu kadang membentur karang menikung membalik berpencar berkumpul untuk menuju muara laut makrifat, hikmah, dan kesempurnaan, di antara para santri mungkin aku yang paling getol puasa, aku ingat waktu puasa pertama kujalani dua puluh hari, karena mondok sambil kerja, jadi aku bekerja di Jakarta. Untuk makanku di pondok. Ada tawaran kerja melukis airbrush. Di Cipinang Indah. Aku pun berangkat ke Jakarta, dan mencari rumah kontrakan.
Kesana sini aku mencari kontrakan, tapi kebanyakan, harganya di atas isi kantongku, padahal aku harus ngirit, seharian aku jalan, naik angkot, tanya sana sini, sampailah aku di daerah Duren Sawit, Jatinegara, karena lewat petunjuk orang ada rumah kontrakan yang murah, tapi hati-hati mas, pada kgak krasan, banyak hantunya. Kata ibu-ibu yang ngasih tau sambil wajahnya dibuat mimik ngeri. Akupun segera menemui pemilik kontrakan, lalu aku diajak ke rumah yang mau ku tempati. Rumahnya cukup besar, bertingkat di belakang, ada kamar mandi, wc, dan tiga kamar serta ruang tamu, cuma sayang tak di urus, jadi amat berdebu.
“Kalau mau nempati ditempati aja mas, kagak usah bayar, gratis.” kata pemuda sepantaranku, anak yang punya kontrakan.
“Lho kok bisa gitu.”
“Yah selama ini kami repot, karena setiap yang ngontrak di sini selalu tak krasan, ya alasannya ada hantunyalah, ada setannya, kemudian uang kontrakan diminta lagi, ya kami yang repot, karena uangnya terlanjur kepakai.”
“Apa emang bener ada hantunya?” tanyaku sambil jalan melihat kamar-kamar.
“Wah kalau saya kgak percaya hal kayak gituan mas, cuma takut kalau bener ada trus saya dicekik.” aku heran dengan penjelasan pemuda ini, wong tak percaya tapi kok ya takut.
Akhirnya aku menyetujui, rizqi emang tak kemana, kalau udah dicap untuk kita, ya untuk kita, aku pun menempati rumah itu gratis, padahal kalau ngontrak rumah segede ini paling enggak empat ratus ribuan per bulan, wah kalau disuruh nempati gratis kayak gini ya jelas enak lah. Aku segera bekerja membersihkan rumah, menguras bak mandi, mengepel, untung juga di ruang tamu ada televisinya, wah bener-bener bisa kerasan. Tapi aku cuma mau nyari tempat tinggal sampai kerjaan di Cipinang Indah selesai. Besoknya aku mulai kerja membuat motif granit di tembok dan tiang rumah, juga membuat lukisan-lukisan di titik tertentu sesuai permintaan, juga aku puasa di siang hari dan wirid di malam hari, wiridnya tak terlalu banyak macamnya, walau hitungannya mencapai puluhan ribu. Karena sambil kerja waktu tak terasa berlalu.
Tak terasa duapuluh hari telah berlalu, ini adalah puasa hari ke dua puluh satu, dari ilmu yang diajarkan Kyai ini hanyalah puasa dasar, setelah ini aku puasa empat puluh satu hari, lalu setelah selesai aku puasa tiga bulan, kemudian tujuh bulan, kemudian sembilan bulan, satu tahun setengah, tiga tahun, lima tahun, tuju tahun, semua harus dilakukan berturut, artinya misal mau puasa empat puluh satu hari, selama empat puluh satu hari harus puasa, nah kalau sudah selesai, baru berhenti, mau satu atau dua tahun lagi baru puasa yang tiga bulan terserah.
Selama aku menempati rumah kontrakan ini adem ayem aja, tak terjadi apa-apa, aku lebih memilih menempati kamar atas tepat di atas kamar mandi karena lebih dekat ke kamar mandi, walau kadang aku ketiduran di ruang tamu, karena keasyikan nonton tivi.
Malam ini wirid terakhirku, setelah sholat isya, aku duduk bersila, tasbih di tangan kananku, dan counter di tangan kiriku. Dudukku kubuat sesantai mungkin, karena wirid ini baru bisa kuselesaikan dalam tiga jam. Napas kutarik panjang dan kusimpan di perut, berbarengan terus aku membaca aurad setelah perutku penuh, dan aku tak kuat menahan napas, napas perlahan lahan kukeluarkan, sangat perlahan, sampai aku tak mendengar desah tarikan nafasku. Mulutku tertutup rapat, dan mataku terpejam, sementara hati ku terus membaca wirid tanpa henti. Setelah napas kukeluarkan semua, diam sejenak, aku mengulang pernapasan seperti awal, begitu terus sampai wirid selesai, dalam mata batinku aku melihat gelap yang pekat, semua gelap tak berujung tak berpangkal, lalu di jauh sekali kulihat setitik cahaya, aku seperti meluncur ke arah cahaya itu, dan masuk ke dalamnya, semua serba cahaya putih menyilaukan mata hatiku silau lalu ada cahaya merah, hijau, kuning, biru, dan banyak lagi berpendaran, lalu aku terseret dalam satu cahaya melesat berputar, sampailah aku di satu ruang yang terang tapi lembut, damai, aku tak tau ruang apa itu, kurasakan dari pusarku mengalir hawa dingin yang sedang, mendamaikan mengalir ke semua tubuhku, kadang alirannya ku arahkan ke bagian tubuhku yang pegal-pegal, seketika hilang rasa pegalku.
Tiba-tiba angin keras menerpa di sekitarku, aku tetap duduk tenang, angin semakin keras, sampai pakaianku berkibar-kibar, sekejap konsentrasiku buyar, karena sejenak aku berpikir, bagaimana mungkin ada angin yang keras masuk sedang jendela dan pintu terkunci. Tapi aku cepat berkonsentrasi lagi, dan sampai wirid selesai tak terjadi apa-apa, setelah melipat sajadah akupun pergi ke ruang tamu dan nonton tivi sambil tiduran di sofa. Tak terasa aku telah lelap, kira-kira jam tiga malam terdengar ledakan di atas genteng, suaranya keras, sampai aku yang lagi tidur terjaga, ah mimpi pikirku. “Duar..!,duar…!” terdengar ledakan keras di atas genteng, suaranya seperti petasan, atau seperti suara pespa yang distarter lalu meledak dan copot kenalpotnya, aku sempat terbangun karena ada percikan api di atasku, kukira konsleting listrik, tapi kenapa lampu kamar sebelah tak mati? Memang lampu di ruang tamu tempat aku tidur di sofa, kumatikan, tapi bias cahaya dari kamar sebelah masih, bisa membantu mataku mengenali setiap benda di ruang tamu ini, ah perduli amat, besok aku kerja maka malam ini aku harus beristirahat cukup.
Aku segera membetulkan letak tubuhku agar nyaman, dan segera memejamkan mataku, tapi baru beberapa menit aku memejamkan mata, kudengar suara dekat di telingaku, walau kata-katanya tak jelas tapi benar-benar membuatku kaget, aku pun membuka mata, uh! Betapa terkejutnya aku, tepat tiga jengkal dari wajahku, seraut wajah yang menyeramkan melihatku, wajah orang tua jelek sekali, wajahnya keriputan penuh bisul menggelambir di sana sini, kepalanya botak, dan rambutnya hanya tumbuh di belakang kepala. Wah celaka kalau ini orang gila yang masuk ke kontrakanku, melihatku membuka mata dan bangkit, orang tua itu mundur.
“Hei siapa kau? Orang edan dari mana?!” tanyaku membentak, orang itu mundur dan mengoceh dengan bahasa yang tak ku mengerti. Tanganku terkepal maju mau melayangkan bogem ke wajah orang itu, ku lihat wajahnya ketakutan dan mundur-mundur, aku segera berlari melayangkan pukulan ke orang itu.
Namun dengan cepat tanpa ku sangka-sangka orang itu melompat kearah tembok, dan hilang dalam tembok. Aku melangkah maju ketembok di mana orang itu hilang, kuraba tembok semen, ku getok-getok dengan jari, keras, bagaimana mungkin orang tua itu bisa nembus tembok, apa mungkin jin, setan, siluman? Tapi kenapa kalau memang jin atau sebangsanya kok malah takut kepadaku, padahal kalau melihat mukanya jelek banget, mestinya aku yang takut sama dia, bukannya dia yang takut kepada wajah kerenku. Aku kembali ke sofa, membaringkan diri, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari, aku sudah tak bisa tidur lagi, mataku sekali waktu melihat tembok di mana orang tua jelek itu hilang.
Kisahku ini kuceritakan kepada Kyai, tapi Kyai hanya ketawa, dan mengatakan kalau menjalani puasa tingkat pertama memang akan bersentuhan dengan dunia gaib, jadi tak masalah. Di puasa yang keempat puluh satu aku juga mendapatkan tawaran melukis di sebuah rumah makan besar di daerah lintas jalan raya Serang-Pandeglang, rumah makan itu besar sekali, panjangnya aja sampai hampir mencapai seratusan meter, di bawah rumah makan itu ada pemancingan, pemilik rumah makan itu memintaku melukisi semua rumah makannya, tapi aku menolak karena mungkin setahun bekerja juga tak akan selesai, padahal aku bekerja hanya untuk sekedar buat makan di pondok, beli sabun dan pasta gigi, apalagi aku orangnya cepat bosan, dan melukis juga kalau lagi mud ya seneng tapi kalau lagi males, ya males.
Jadi ku katakan aja kalau aku nanti mau melukis pasti akan datang, tapi kalau lagi tak mau aku pun pulang ke pondok, dan oleh pemilik rumah makan itu pun disetujui. Aku tinggal di musholla yang ada di tengah-tengah rumah makan itu, sebenarnya aku diminta untuk tinggal di rumah pemilik rumah makan itu, tapi aku lebih memilih tinggal di musholla.
Rumah makan itu kalau siang penuh dengan pengunjung, jadi aku memutuskan melukis di malam hari agar tidak mengganggu pengunjung rumah makan, juga konsentrasiku saat melukis tidak terganggu, dan saat itu aku diminta melukis pakai kuas, jadi tidak lukisan airbrush, sehingga tak perlu terdengar suara ribut mesin compresor. Aku mulai kerja jam sembilan malam, yaitu setelah rumah makan tutup, dan pelayan telah membereskan semua. Di hening malam tanganku segera menuangkan bongkahan beku imajinasi, mencoret sana sini, mengambil satu demi satu gambaran pikiranku, menuang dalam bentuk warna yang lebih nyata, untuk dinikmati siapa saja. Seperti menyeret orang ke dunia hayalku, tanpa batas tanpa tepi.
Malam bekerja dan siang puasa, Sangat nikmat sekali, dan wirid kulakukan di siang hari, wirid masih tahapan ringan, kalau dibanding tahapan puasa di atasnya, walau menurut orang yang tak pernah menjalankan wirid, wirid adalah berat. Tapi dibanding puasa yang tuju bulan, di samping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama seminggu, apalagi yang puasa sembilan bulan, disamping wirid aku harus menghatamkan Alquran selama satu hari, yaitu dari matahari terbit, sampai matahari tenggelam, pertama aku membayangkan bahwa itu tak kan mungkin, tapi setelah Kyai menjelaskan tentang ilmu melipat waktu, dan aku mengalami sendiri, ternyata itu hal biasa, imam syafii aja menghatam Alquran sehari tujuh kali.
Sudah tujuh hari aku bekerja di rumah makan ini, pak Kosasih pemilik rumah makan ini, seorang DPR, MPR, Cilegon, orangnya supel, ulet dan pandai bergaul, kadang pak Kosasih ini memintaku berhenti bekerja dan mengajak ngobrol tentang agama.
“Mas Ian, sini-sini ngaso dulu, kita ngobrol.” katanya sambil duduk di kursi, memangilku, aku pun meletakkan kuas besar yang kupakai membuat lukisan rumput. Dan aku menghampirinya.
“Duduk dulu.” katanya lagi. “Wah mas Ian ini hebat, jadi pelukis juga seorang santri.”
“Ah biasa aja pak.”
“Ah ya enggak biasa lah, apa ada di Indonesia ini, atau mungkin di dunia satu sisi, sementara sisi yang lain adalah seorang calon Kyai, tentu sebagai santri ini mas Ian ilmu agamanya pinter?”
“Wah bapak ini, karena saya tak tau ilmu agama inilah saya mondok pak, kalau saya udah pinter mungkin saya jadi tukang ceramah, kalau pekerjaan melukis, ya karena orang tua saya tak kaya, jadi kalau saya mau mesantren harus cari makan sendiri, bisanya nglukis, jadilah kerjaan ngelukis dijalani.”
“Ck..ck..hebat, hebat, memang jadi pemuda itu harus mandiri, tak hanya menjagakan orang tua.”
“Wah kalau saya karena kepaksa aja.”
“Wah udah hebat masih bisa membawa diri.”
“Ah jangan terlalu dilebih-lebihkan lah pak, nanti saya gede kepala.”
“Ngomong- ngomong apa menurut mas Ian tentang sholat?”
“Sama dengan yang ada di Alquran dan hadis, sholat itu tiang agama, siapa yang mendirikan sholat maka menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan sholat merobohkan agama, karena sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Seperti obat yang menyembuhkan penyakit, tentu efek sembuh di sini bukan saat mengkonsumsi obat itu, tapi setelah mengkonsumsi obat itu, begitu juga pada sholat, dikatakan bisa mencegah perbuatan keji tentu adalah setelah orang menjalankan sholat. Kalau sudah sholat ternyata masih korupsi, masih ngomong jelek, masih iri, dengki, sombong dan segala macam perbuatan buruk dilakukan, ya diyakini aja sholatnya tak bener. Sholat itu ada syarat, rukunnya, luar dalam harus dipenuhi. Seperti orang mandi aja, harus ada kamar mandi, ada air ada sabun, semua semakin baik, akan semakin bagus hasilnya, walau cuma mandi, kalau bisa ada kamar mandi yang baik, tidak mandi di tengah lapangan, ada sabun yang baik, bukannya pakai lumpur, airnya juga harus bagus, air yang keruh penuh kuman, atau air got tentu setelah mandi bukannya bersih tapi akan malah kotor, begitu juga mandi tak bisa dibolak balik, habis diguyur air pake sabun diguyur air lagi, kalau sabun kita pakai belakangan, lalu pake baju, tentu diketawain orang. Jadi tak bisa seenaknya sendiri, juga ada syarat dalam niat mandi itu mau mejeng atau mau agar bersih, agar sehat. Dan orang yang mandinya bener tidaknya tentu dilihat setelah orang itu keluar dari kamar mandi, kalau coreng moreng tentu mandinya tak bener, tapi kalau baunya wangi, bersih tentu mandinya benar.”
“Lalu menurut mas Ian gimana kalau ada orang mengatakan, sholat itu yang penting hatinya, lalu orang itu tak mau sholat.”
“Kata-kata orang itu benar tapi dia tak mau sholat itu yang tak benar. Maksud saya kata-kata orang itu benar, kebenarannya sebatas kata-kata, seperti orang mengatakan motor itu yang penting mesinnya, tentu kata itu benar, karena mesin bagus lari motor jadi kenceng, tapi apa yang sudah nempel di motor itu semua tentu penting, tanpa roda motor tak bisa kemana, roda ada unsur pelek, ger, jeruji, rantai, ban dalem ban luar, semua penting, satu aja tak ada motor tak akan kemana, kecuali dituntun, gitu juga sholat, satu aja rukun tak ada maka sholat itu walau masih dianggap sholat tapi tak sah, jangankan dapat pahala, sholat diangkat ke langit aja kgak. Seperti motor tak bisa kemana-mana, sekalipun mesin motor bagus, tapi tak ada roda, tak ada rem, tak ada onderdil yang lain, orang tak akan mau menyebut mesin motor itu adalah motor.”
Begitulah pak Kosasih, hampir tiap hari mengajak dialog tentang agama, dan aku selalu berusaha untuk menanggapinya dengan memberi contoh yang bisa dinalar dengan rasio masuk dalam logika, sampai-sampai orang itu menganggapku sebagai adiknya sendiri, dan mau menghadiahiku rumah tingkat di belakang rumahnya harapannya agar aku bisa diajaknya selalu membahas agama. Tapi walau aku miskin tapi aku tak mau hidup terjerat budi, seperti kata Kyaiku, yang selalu terngiang sampai kini saat itu aku mau bekerja di rumah orang yang masih ada hubungan saudara dengan Kyai, aku bertanya, apakah harus minta bayaran pada saudara Kyai itu.
“Mas Ian ini gimana, kalau kerja itu tak ada yang ikhlas, lha kalau beramal itu harus ikhlas. Semua ada tempat dan bagiannya masing-masing. Kalau mas Ian kerja ya harus minta gaji, nabi sendiri mengatakan: bayarlah gaji pegawaimu sebelum kering keringatnya, kalau amal kan banyak caranya ada sedekah dan lainnya. Jadi jangan dicampur-campur.”
Malam itu aku sendirian melukis, jam menunjukkan jam dua dini hari, keheningan malam terasa mencekam betul malam ini, udara dingin menusuk tulang, kopi jahe telah habis kutenggak, entah rokok Djarum yang ke berapa ini kunyalakan di mulutku, untuk mengusir sepi dalam kesendirianku, dari jauh ku dengar gonggong anjing bersahutan meremangkan bulu kudukku, aku masih mencoba menyatukan serpihan-serpihan imajinasiku, dan menorehkan kuas di tembok.
Tiba-tiba deretan kursi bambu di belakang, berjarak tiga meter berderit, seperti ada orang yang menduduki, aku menengok tiada siapa-siapa, aku melanjutkan melukis lagi, mengusir pikiran-pikiran takut yang mulai membuyarkan konsentrasiku. Tapi tak sampai lima menit, ku dengar ketukan-ketukan jari di meja bambu, aku masih tetap melukis, sambil menyatukan konsentrasiku ke telinga dan setelah yakin dengan yang ku dengar, aku cepat menoleh kearah suara. Tiada siapa-siapa, suara ketukan di meja pun berhenti, mungkin kalau bukan orang yang digembleng berulang kali telah tidur di kuburan, tentu aku akan lari lingkang pukang. Tapi ini bukannya membuatku takut tapi, aku jengkel bukan main, karena konsentrasiku diganggu. Aku melanjutkan melukis lagi, setelah sebelumnya aku mengambil rokok Djarum kuoles-olesi dengan ketek kopi dan kunyalakan, namun belum sampai lima menit terdengar lagi suara ketukan jari di meja, kali ini dengan nada musik tertentu, aku masih terus melukis, sampai dengan saat tepat aku membalikkan badan dan mengira tempat yang tadi diketuk-ketuk, aku menghampiri dan duduk di kursi depan, dan berpura-pura melihatnya, ku pelototi dia, yah aku yang ilmuku masih dangkal tentu tak melihatnya, dan aku benar-benar kecele. Karena tiba-tiba jendela rumah makan bergoyang-bergoyang, sialan dia telah berpindah, aku segera ke jendela, sampai di jendela aku berhenti, tapi tiba-tiba pintu gerbang besi di depan bergombrengan seperti ditendang orang, aku berlari ke pintu gerbang, tapi tetap tak ada siapa-siapa. Ah perduli amat, aku memutuskan untuk berhenti melukis dan melangkah ke musholla untuk berangkat tidur.
Baru saja aku tidur, aku kaget membuka mata, dan nampak dari pintu musholla berjalan melenggang gadis cantik sekali, bibir tipisnya merah merekah, ada lesung pipi ketika tersenyum, matanya bening penuh kerlingan dan pakaian dan kerudung yang dipakai dari sutra tipis berwarna biru, sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Ah aku mau bergerak tapi tubuhku benar-benar kaku. Tak bisa digerakkan sama sekali, seperti dilem dengan ubin keramik, ah aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa ketika perempuan cantik itu duduk di sampingku, tangannya mulai memelukku, kemudian bibirnya yang lembut mencumbuku, ah aku tak berdaya, dicumbuinya dan tak bisa ku tolak, maka terjadilah…..
Bangun pagi semua tubuhku rasanya ngilu. Seperti orang yang habis bekerja berat, tak ada perempuan di sampingku. Aku mungkin bermimpi. Untung siang hari aku tak kerja, sehingga aku dapat beristirahat tidur seharian, kalau mimpi hadas besar kayak gini ini yang repot waktu bangun tidur dan mau mandi sebelum sholat subuh, soalnya tak ada air, aku jadi pontang panting nyari air di kampung-kampung, sampai ku temukan sumur dekat musholla jaraknya dari tempatku kerja mungkin ada sekitar dua ratusan meter, ah tak apalah, aku langsung gebyuran mandi junub. Dan sholat subuhnya ikut berjamaah di mushola, aku masih duduk wirid memutar tasbih, setelah menjalankan sholat subuh,
Bersambung ke Chapter 5c
Diubah oleh gelandangan143 05-08-2019 02:38
ir.rahma92 dan 7 lainnya memberi reputasi
8