- Beranda
- Stories from the Heart
Tak Punya Hati ?
...
TS
seenue
Tak Punya Hati ?
Ada saat, dimana kehidupan hanyalah omong kosong belaka.
Spoiler for Index:
Adakah Senyum di Semarang,
Spoiler for Index:
Diubah oleh seenue 06-05-2020 14:27
dbase51 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
30.7K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
seenue
#120
Rasa-rasanya, hidup dan kehidupan gw ya akan tetap seperti ini. Stagnan..
Bisnis, ya sebatas dapet untung. Sudah..
Cinta, ya.. nggak jelas.
Bijaksana, ah.. itu boulshit..
Mau ke kiri, juga nggak ada untungnya..
Mau ke kanan, kok kelihatan bodohnya..
Mau terjun ke masyarakat, ah.. gw kan apatis totok.
Mau terus-terusan lari dari segenap rasa, rasa-rasanya gw akan jadi manusia sampah.
TERUS GW HARUS BAGAINANA?!
Jiwa gw terlalu hening, tipis dan gelap tuk sekedar di urai. Dalam kesadaran yang akut, gw kepikiran buat mati tanpa berbekas. Atau, kalau bisa.. gw ada dan tiada tak jauh beda. Tak ada yang peduli atau membutuhkan. Hingga titik 0 menjadi diri gw yang lenyap.
Tuhan..
Sebuah titik pusat, katanya. Namun, gw masih sangsi dengan drama kebenaran yang sering di gembar-gemborkan. Bagi gw, apa yang di doktrinkan tak selinier apa yang seharusnya dibuai di segenap jalan kehidupan. Dan bagi gw, dogma-dogma macam itu, tak lebih dari barang jualan belaka.
Cinta..
Juga nggak jauh berbeda, lama-lama sepah juga, mentok sebatas sepah yang berlipstik konsekwensi, tanggungjawab dan beserta anekdot entah berantah.
Namun, sampai detik ini.. yang gw dapati dari mereka yang katanya pakar X misal, tak lebih dari untaian surgawi diantara cerca diksi-diksi. Faktanya, semua itu tak lebih dari ilusi.
Yah..
Inilah gw, segelintir manusia tukang protes, meski sebatas di pikiran, mau mengungkapkan.. namun tak pernah ada yang mau mendengarkan. Adapun telinga, dan raut wajah basa-basi, pun kalau ada yang mencoba menimpali, mereka nggak akan pernah paham dengan apa yang gw maksut. Karena, apa yang gw katakan, kebanyakan tak langsung ke pokok bahasan, mikirO.
..menurut lo, gw harus gimana?!
Gw tanya kepada dunia yang tak ingin gw sentuh. Mungkin, gw kelamaan hidup di dunia Genjutsu, lebih tepatnya gw kelamaan hidup di dunia yang gw ciptakan sendiri. Dunia tanpa sakit juga tanpa basa-basi.
Duni yang inggin gw miliki, dunia tanpa apa dan harus bagaimana. Mengingat, gw sudah muak dengan dunia yang banyak drama. Nggak yang di jalan Tuhan atau jalan Kenalaran.
Satu yang masih membebani gw buat melangkah, apalagi mengambil keputusan.
Orang tua,
Fuck lah..
Meski gw nggak ngasih porsi buat mereka di kisah ini, namun.. adanya mereka juga yang nyebabin gw kek gini.
Gw iri sama mereka yang bebas, gw iri sama mereka yang di cap begundal, dan ribuan label manusia. Gw iri..
Kenapa?
Tidak lain karena mereka bisa menikmati hidupnya, nggak seperti gw. Semua apa.. yang gw jalani, adalah kepalsuan yang haqiqi.
Dan mereka-mereka, tak lebih dari manusia curah yang datang dan pergi tanpa permisi. Hanya meninggalkan secarik cerita yang kadang bisa membunuh waktu kemonotonan.
Lola..
Juga dengan kehidupannya sendiri, gw.. ya masih sama.
Rania, ya.. sebatas cerita lama yang nggak tau mau gw apakan.
Yang lain, ya.. sebatas pola kemanusiaan yang masih manusiawi semata. Tak lebih.
Mungkin, gw adalah rumah bagi banyak manusia curah, namun.. gw sendiri sebagai rumah, tak pernah merasakan kapan singgah dan berteduh.
Sendirian dalam gelap, panas.. gersang dan kadang menyedihkan..
Apa gw masih belum bisa Move On dari tragedi yang pernah meluluhlantakkan kehidupan gw? Dan apakah gw seperti ini juga karena pernah berusaha namun tak pernah di hargai? Dan apakah.. setelah sampai di titik ini gw masih butuh penghargaan atas kata manusia curah di lable materi?
Gw nggak peduli.
Yang masih membuat gw peduli, tak lain karena gw masih punya mimpi ndaki puncak Lawu.
Dalam hal apa?
Gw mau Semedi 😁
#fuckkehidupan
Bisnis, ya sebatas dapet untung. Sudah..
Cinta, ya.. nggak jelas.
Bijaksana, ah.. itu boulshit..
Mau ke kiri, juga nggak ada untungnya..
Mau ke kanan, kok kelihatan bodohnya..
Mau terjun ke masyarakat, ah.. gw kan apatis totok.
Mau terus-terusan lari dari segenap rasa, rasa-rasanya gw akan jadi manusia sampah.
TERUS GW HARUS BAGAINANA?!
Jiwa gw terlalu hening, tipis dan gelap tuk sekedar di urai. Dalam kesadaran yang akut, gw kepikiran buat mati tanpa berbekas. Atau, kalau bisa.. gw ada dan tiada tak jauh beda. Tak ada yang peduli atau membutuhkan. Hingga titik 0 menjadi diri gw yang lenyap.
Tuhan..
Sebuah titik pusat, katanya. Namun, gw masih sangsi dengan drama kebenaran yang sering di gembar-gemborkan. Bagi gw, apa yang di doktrinkan tak selinier apa yang seharusnya dibuai di segenap jalan kehidupan. Dan bagi gw, dogma-dogma macam itu, tak lebih dari barang jualan belaka.
Cinta..
Juga nggak jauh berbeda, lama-lama sepah juga, mentok sebatas sepah yang berlipstik konsekwensi, tanggungjawab dan beserta anekdot entah berantah.
Namun, sampai detik ini.. yang gw dapati dari mereka yang katanya pakar X misal, tak lebih dari untaian surgawi diantara cerca diksi-diksi. Faktanya, semua itu tak lebih dari ilusi.
Yah..
Inilah gw, segelintir manusia tukang protes, meski sebatas di pikiran, mau mengungkapkan.. namun tak pernah ada yang mau mendengarkan. Adapun telinga, dan raut wajah basa-basi, pun kalau ada yang mencoba menimpali, mereka nggak akan pernah paham dengan apa yang gw maksut. Karena, apa yang gw katakan, kebanyakan tak langsung ke pokok bahasan, mikirO.
..menurut lo, gw harus gimana?!
Gw tanya kepada dunia yang tak ingin gw sentuh. Mungkin, gw kelamaan hidup di dunia Genjutsu, lebih tepatnya gw kelamaan hidup di dunia yang gw ciptakan sendiri. Dunia tanpa sakit juga tanpa basa-basi.
Duni yang inggin gw miliki, dunia tanpa apa dan harus bagaimana. Mengingat, gw sudah muak dengan dunia yang banyak drama. Nggak yang di jalan Tuhan atau jalan Kenalaran.
Satu yang masih membebani gw buat melangkah, apalagi mengambil keputusan.
Orang tua,
Fuck lah..
Meski gw nggak ngasih porsi buat mereka di kisah ini, namun.. adanya mereka juga yang nyebabin gw kek gini.
Gw iri sama mereka yang bebas, gw iri sama mereka yang di cap begundal, dan ribuan label manusia. Gw iri..
Kenapa?
Tidak lain karena mereka bisa menikmati hidupnya, nggak seperti gw. Semua apa.. yang gw jalani, adalah kepalsuan yang haqiqi.
Dan mereka-mereka, tak lebih dari manusia curah yang datang dan pergi tanpa permisi. Hanya meninggalkan secarik cerita yang kadang bisa membunuh waktu kemonotonan.
Lola..
Juga dengan kehidupannya sendiri, gw.. ya masih sama.
Rania, ya.. sebatas cerita lama yang nggak tau mau gw apakan.
Yang lain, ya.. sebatas pola kemanusiaan yang masih manusiawi semata. Tak lebih.
Mungkin, gw adalah rumah bagi banyak manusia curah, namun.. gw sendiri sebagai rumah, tak pernah merasakan kapan singgah dan berteduh.
Sendirian dalam gelap, panas.. gersang dan kadang menyedihkan..
Apa gw masih belum bisa Move On dari tragedi yang pernah meluluhlantakkan kehidupan gw? Dan apakah gw seperti ini juga karena pernah berusaha namun tak pernah di hargai? Dan apakah.. setelah sampai di titik ini gw masih butuh penghargaan atas kata manusia curah di lable materi?
Gw nggak peduli.
Yang masih membuat gw peduli, tak lain karena gw masih punya mimpi ndaki puncak Lawu.
Dalam hal apa?
Gw mau Semedi 😁
#fuckkehidupan
tikusil dan 4 lainnya memberi reputasi
5