Kaskus

Story

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )



Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....


Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17

Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
amron7497170Avatar border
aryanti.storyAvatar border
nightstory770Avatar border
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.6K
271
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#102
Chapter 14






Mendapati pertanyaan ki panca tersebut, untuk sejenak kini gue hanya bisa terdiam dalam keraguan untuk menceritakan tentang apa yang telah gue alami itu, karena biar bagaiamanapun , kejadian yang yang baru gue alami itu, mungkin saja masih terhubung dengan masa lalu yang kelam dari keluarga besar gue, tapi begitu mengingat kembali perkataan ki panca yang mengatakan kalau masalah yang tengah gue hadapi ini adalah masalah yang serius, mau tidak mau akhirnya gue pun menentukan pilihan untuk menceritakan kejadian yang gue alami kepada ki panca
“ ya tuhan kang darma....berarti tadi itu akang udah mengalami hal seperti itu....?” tanya mang kohar dan berbalas dengan anggukan kepala gue
“ sepertinya ada yang aneh dengan kejadian yang kang darma alami itu...”
“ apa ki....?” tanya gue yang sepertinya mulai merasa tidak sabar untuk mengetahui sesuatu yang mungkin bisa menjadi titik awal gue dalam menelusuri misteri ini
“ Sepertinya sosok wanita yang telah hadir di dalam mimpi kang darma itu adalah korban pembunuhan yang terjadi pada saat itu, dan mungkin.....”
Untuk sesaat terlihat ki panca agak ragu untuk melanjutkan perkataannya, mendapati keraguan ki panca tersebut, gue dan mang kohar hanya bisa saling bertukar pandang dalam benak tanya
“ dan mungkin apa ki....?” tanya gue yang kini mulai merasa tidak sabar atas kelanjutan dari perkataan ki panca tersebut
“ sebelumnya aki meminta maaf kepada kang darma jika aki terpaksa harus menanyakan sesuatu kepada kang darma, dan pertanyaan ini terhubung dengan mimpi yang kang darma alami itu...”
“ pertanyaan....?” gumam gue dengan menunjukan ekspresi kebingungan
“ apakah kang darma mengenal seseorang dari beberapa serdadu asing yang telah kang darma lihat di dalam mimpi kang darma tersebut...?” tanya ki panca dan berbalas dengan keterdiaman gue, dan kini begitu mendapati keterdiaman gue tersebut, terlihat ki panca menghela nafas panjangnya
“ jika kang darma merasa bingung untuk menjawabnya...firasat aki mengatakan bahwa kematian wanita itu terhubung dengan salah seorang dari beberapa serdadu asing yang telah kang darma lihat di dalam mimpi kang darma tersebut, dan entah mengapa firasat aki juga mengatakan bahwa seseorang yang terhubung dengan kematian wanita itu, masih mempunyai ikatan yang kuat dengan keluarga kang darma....” ujar ki panca dan kembali berbalas dengan keterdiaman gue, dan kini diantara keterdiaman gue tersebut, terlihat mang kohar mengarahkan pandangannya ke wajah gue, mendapati hal itu, gue memberikan isyarat mata kepada mang kohar untuk tidak mengatakan sesuatu apapun kepada ki panca
“ tolong kami ki...apa sebenarnya yang di inginkan oleh sosok wanita yang telah dilihat kang darma di dalam mimpinya itu, apakah mungkin sosok wanita itu sebenarnya hendak meminta tolong kepada kita agar menemukan keberadaan dari potongan tubuhnya yang lain....” tanya mang kohar kepada ki panca
“ sepertinya enggak sesederhana itu, kalau memang sebenarnya sosok wanita itu hendak meminta tolong kepada kalian, mengapa juga sosok wanita itu melakukan teror terhadap keluarga kalian, bahkan sampai melakukan serangan nyata seperti ini....” ucap ki panca seraya mengarahkan pandangannya ke bagian luka goresan yang ada di tubuh gue
“ bisa jadi sosok wanita yang kang darma lihat itu sebenarnya menyimpan sebuah dendam atas masa lalu yang dialaminya, karena menurut pemikiran aki, sosok wanita yang telah dibunuh ini, bukanlah sosok wanita biasa, hal ini di dasari atas kondisi jasadnya yang terpisah pisah dan dilindungi oleh rajah perlindungan....”
“ maksud aki dengan perkataan bukan sosok wanita biasa itu apa...?”
“ menurut apa yang aki ketahui, ada beberapa ilmu hitam yang memang dalam persyaratannya hanya bisa dibunuh jika tubuh dari pemilik ilmu hitam tersebut, dikubur secara terpisah dalam beberapa bagian, dan mungkin sosok wanita yang ada di dalam mimpi kang darma itu, adalah salah satu dari beberapa banyaknya orang yang telah mempelajari ilmu hitam tersebut....”
“ astagfirullah...” gumam gue dan mang kohar secara bersamaan
“ dan sepertinya sosok wanita yang telah terbunuh itu, sekarang mencoba untuk membangkitkan kembali energi negatifnya, dengan cara menyatukan kembali anggota tubuhnya yang terpisah....”
“ apakah sosok bayangan hitam yang selama ini telah beberapa kali gue lihat serta suara bisikan yang telah imas dengar itu ada hubungannya dengan sosok wanita ini....” gumam gue dengan suara yang pelan, tapi sepelan pelannya gumaman gue tersebut, terlihat kini ki panca mengarahkan pandangannya ke wajah gue
“ sosok bayangan hitam dan bisikan....?” tanya ki panca dan berbalas dengan jawaban gue yang menceritakan atas beberapa pengalaman yang telah gue dan imas alami
“ sepertinya sosok bayangan hitam yang telah kang darma lihat itu adalah perwujudan dari energi negatif yang belum sempurna dari sosok wanita yang telah terbunuh itu, dan aki yakin, disaat energi negatif itu mulai berjalan ke titik kesempurnaannya, energi negatif itu akan mulai dapat menampakan wujud aslinya dan mencelakakan keluarga kang darma....”
“ ya tuhan....” gumam mang kohar diantara keterkejutan yang gue rasakan begitu mendengar perkataan ki panca tersebut
“ lantas mengenai suara bisikan yang telah adik saya dengar itu apakah ada hubungannya dengan sosok wanita yang telah terbunuh itu...?”
“ untuk suara bisikan yang telah didengar oleh adik kang darma, sepertinya suara bisikan itu berasal dari energi ghaib yang lain, yang pada intinya energi ghaib tersebut berusaha memberikan peringatan akan adanya bahaya yang mengancam keluarga kang darma....yang menjadi masalah sekarang adalah sepertinya adik kang darma mulai mendapatkan ancaman dari energi negatif yang merasa terganggu atas suara bisikan yang telah didengar adik kang darma tersebut....” jawab ki panca dan berbalas dengan saling bertukar pandangnya gue dan mang kohar
“ sepertinya kita tidak sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk mencari tau akan latar belakang dari kejadian ini, pilihan yang ada di depan mata kita saat ini adalah kita harus melawan dan menghancurkan energi negatif itu...”
“ aki yakin akan sanggup untuk menghadapi energi negatif itu....?” tanya gue begitu melihat adanya ekspresi keraguan di wajah ki panca
“ sebenarnya ada seseorang yang mempunyai kemampuan lebih dari pada yang aki miliki ini....”
“ siapa orang itu ki...?” tanya gue dan berbalas dengan pergerakan ki panca yang memasuki sebuah ruangan, dan tidak berselang lama kemudian, nampak ki panca terlihat keluar dari dalam ruangan dengan membawa sebuah photo tua dan selembar kertas putih yang telah tertuliskan rangkaian kata kata
“ namanya ki atmo, dulu itu ki atmo itu adalah kakak seperguruan aki ketika aki menimba ilmu untuk mempelajari hal hal yang berhubungan dengan sesuatu yang ghaib seperti ini, dan sekarang beliau tinggal di sekitar kaki gunung berapi yang ada di daerah jawa tengah ( menyebutkan nama sebuah gunung yang ada di jawa tengah )....” untuk sejenak ki panca menghentikan perkataannya
“ andaikan memang nantinya aki enggak sanggup untuk menghadapi energi negatif ini seorang diri, mungkin kita akan meminta bantuan ki atmo untuk menghadapi semuanya ini, dan aki yakin, dengan adanya bantuan dari ki atmo, kekuatan dari energi negatif itu akan semakin besar kemungkinannya untuk kita musnahkan....” ujar ki panca seraya menyerahkan lembaran kertas serta photo tua yang berisikan alamat dan photo dari ki atmo
“ baiklah ki kalau begitu....mudah mudahan hanya dengan bantuan ki panca saja, kita sudah dapat memusnahkan energi negatif itu....”
“ mudah mudahan kang darma, tapi aki yakin....dengan kekuatan yang belum terlalu kuat dari energi negatif tersebut, aki akan bisa untuk mengalahkannya....”
“ aamiin ki....” ujar gue dan mang kohar hampir bersamaan
“ kira kira kapan kita akan memulai untuk menyingkirkan energi negatif itu ki...?” tanya gue dan berbalas dengan keterdiaman ki panca yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu
“ kalau kang darma setuju, satu hari dari sekarang, aki akan berkunjung ke rumah kamu....karena semakin cepat kita memusnahkan energi negatif itu, maka itu akan semakin baik....aki enggak mau terlambat dalam menghadapi energi negatif itu...karena dengan bertambah kuatnya energi negatif itu, maka itu akan mempersulit usaha kita untuk memusnahkannya....tapi sejujurnya alasan aki yang utama untuk memusnahkan energi negatif itu secepatnya adalah untuk menghindari jatuhnya korban dari pihak keluarga kang darma....”
“ kalau begitu alasannya saya setuju ki, apa enggak sebaiknya jika nanti saya menjemput aki, agar aki enggak tersasar ke rumah saya....?”
“ enggak usah kang darma, yang penting kang darma meninggalkan alamat kang darma yang jelas agar aki enggak tersasar, mudah mudahan dalam waktu satu hari itu, aki bisa memanfaatkannya untuk melakukan beberapa ritul yang aki butuhkan guna menghadapi energi negatif itu...”
Seiring dengan alamat rumah yang telah gue berikan kepada ki panca, gue memutuskan untuk segera pulang dikarenakan malam telah beranjak semakin larut, dan kini diantara laju mobil yang mulai berjalan menembus kegelapan malam, entah mengapa firasat gue kini mengatakan mungkin akan ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi malam ini, tapi entah apa...
“ kakek...?, apa mungkin kakek yang telah membunuh wanita itu...tapi dengan alasan apa kakek membunuh wanita itu...?” tanya gue diantara ekspresi kegelisahan yang terlihat di wajah mang kohar, dan kini diantara ketiadaan jawaban yang bisa menjawab pertanyaan gue tersebut, tanpa terasa mobil yang mang kohar kendarai kini tiba di halaman rumah, nampak terlihat keberadaan dari seseorang yang tengah mengintip kedatangan kami melalui kaca jendela kamar nenek
“ sepertinya mamah belum tidur mang...” ujar gue diantara pergerakan seseorang yang kini menutup gorden jendela kamar nenek, mendapati perkataan gue tersebut, terlihat mang kohar mengarahkan pandangannya ke arah jendela kamar nenek, kini begitu mendapati keberadaan jendela kamar yang telah tertutup oleh gorden jendela, mang kohar nampak terdiam di balik kemudinya
“ ada apa mang kok jadi diam begitu.....”
“ sebenarnya...ada sesuatu yang mang kohar belum ceritakan kepada kang darma...” ujar mang kohar dengan menunjukan ekspresi wajah yang gelisah
“ ada apa sih mang, memangnya mamang belum menceritakan apa kepada saya....?”
“ sebenarnya kang pada saat kejadian hancurnya patung angsa itu, mamang seperti mendengar adanya keberadaan seseorang yang membuka pintu rumah sebelum terdengarnya suara riuh dari kawanan angsa, tapi entah mengapa...disaat itu mamang seperti merasakan adanya sesuatu yang membuat mamang merasa enggan untuk membuka pejaman mata ini, hingga akhirnya mamang pun memutuskan untuk tidur kembali....” terang mang kohar dan berbalas dengan keterkejutan gue
“ hmmm....berarti kecurigaan saya terhadap teh nenden memang enggak salah, apalagi sekarang mang kohar memperkuatnya dengan cerita seperti ini.....”
“ yaa enggak boleh begitu juga kang, tapi kalau kang darma memang hendak mencurigai neng nenden, kang darma harus mempunyai bukti yang nyata....dan bukti yang nyata itu bukan hanya sekedar dugaan aja.....” ujar mang kohar yang kini berujung dengan keterdiaman gue dalam memikirkan sebuah bukti yang gue butuhkan untuk memperkuat kecurigaan gue ini
“ ohh iya kang...ada satu lagi yang mamang belum ceritakan juga kepada akang....”
“ hahh...apa lagi mang, sepertinya banyak juga ya pengalaman mamang di rumah ini yang belum mamang ceritakan kepada saya.....” gumam gue diantara pandangan gue yang menatap pergerakan dari gagang pintu rumah, hingga akhirnya tidak berselang lama kemudian, nampak terlihat kehadiran mamah mengiringi pergerakan dari daun pintu rumah yang telah terbuka
“ darma....!!” teriak mamah tanpa beranjak dari posisi berdirinya di pintu rumah
“ iya mah...darma disini....” seiring dengan perkataan yang terlontar dari mulut gue itu, gue pun segera membuka kaca jendela mobil guna mengeluarkan bagian kepala gue ini dari dalam mobil
“ lohh kamu sedang apa sih dar, bukannya masuk rumah...ini malah diam di dalam mobil...”
“ darma lagi membersihkan dashboard mobil dulu mah, tadi ketumpahan minuman sewaktu di jalan...sebentar lagi darma pasti akan masuk kok....” teriak gue pelan dan berbalas dengan pergerakan mamah yang memasuki rumah
“ cepat mang...kalau mamang memang mau menceritakannya, jangan sampai mamah menaruh rasa curiga atas keberadaan kita di dalam mobil ini.....”
“ mamang menemukan sesuatu di dalam kamar kang, atau lebih tepatnya mamang menemukan sebuah peti yang berisikan photo photo lama, bahkan ada beberapa diantaranya yang sudah rusak karena termakan jamur....”
“ astaga mang...lantas apa hubungannya photo yang mamang temukan itu dengan kejadian yang mungkin pernah terjadi di rumah ini....?”
“ mamang juga enggak tau kang apakah ada hubungannya photo photo yang telah mamang temukan itu dengan kejadian yang ada di rumah ini, intinya...dari beberpa photo yang telah mamang lihat, ada beberapa photo yang memperlihatkan para serdadu belanda dan mungkin salah satunya adalah kakek kang darma tengah berphoto di beberapa obyek dan tempat yang berbeda, dan salah satunya itu di patung angsa itu....”
Bingung....yaa itulah rasa yang tengah gue rasakan sekarang ini begitu mang kohar kembali menceritakan tentang beberapa obyek dan tempat yang menjadi tempat berphoto para serdadu belanda itu, dan kini diantara beberapa obyek dari photo tua yang yang telah di sebutkan oleh mang kohar itu, ada beberapa photo yang sedikitnya menyita perhatian gue, antara lain keberadaan dari para serdadu belanda yang berphoto dengan obyek patung kuda, istal kuda, bunker tua, ruang bawah tanah, pohon randu besar, serta cetakan batu besar yang bergambarkan simbol telapak tangan dengan sebuah mata yang ada di tengah telapak tangan tersebut
“ saya bingung mang harus berkata apa...tapi jika saya harus mencurigai semua photo yang telah mamang temukan itu.....lantas saya harus mencari dimana keberadaan dari tempat tempat itu.....?”
“ saya juga enggak tau kang...”
“ ya udahlah mang, sebaiknya kita lupakan dulu semuanya itu....saya takut mamah akan menaruh rasa curiga jika saya berlama lama didalam mobil ini....”
Selepas dari perkataan gue tersebut, gue segera keluar dari dalam mobil lalu berjalan memasuki rumah
“ kamu dari mana aja sih dar.....?” tanya mamah diantara pergerakan gue yang tengah menutup pintu rumah
“ darma tadi habis berputar putar keliling kampung aja mah, ohh iya...kok jadi mamah sih yang menunggui nenek, memangnya papah kemana....?” jawab gue dan balik bertanya kepada mamah,
“ papah kamu sedang keluar sebentar, katanya sih ingin bersilaturahmi dengan warga yang biasanya berkumpul di pos kamling kampung ini, mungkin sekitar jam dua belas malam papah kamu akan pulang....” jawab mamah dan berbalas dengan pergerakan pandangan gue yang menatap ke arah jam dinding, nampak kini terlihat waktu di jam dinding telah menunjukan pukul sepuluh malam
Melihat kini mamah yang telah berjalan memasuki kamar nenek, gue memutuskan untuk menuju dapur guna mengambil segelas air putih, dan kini dengan segelas air putih yang telah berada di tangan, gue pun kembali lagi menghampiri mamah yang telah berada di dalam kamar nenek
“ sepertinya tidur nenek malam ini nyenyak ya mah....” ujar gue begitu melihat nenek yang tengah tertidur pulas diatas tempat tidur
“ semoga aja begitu dar, karena jujur aja...mamah itu sebenarnya kasihan dengan nenek kamu ini...”
“ kasihan kenapa mah.....?”
“ yaa...kasihan aja dar...tadi itu selepas magrib, nenek kamu ini meracau sesuatu yang mamah enggak mengerti, dan hal itu dilakukannya berulang ulang kali...sampai sampai papah kamu juga merasa bingung dengan apa yang sebenarnya akan dikatakan oleh nenek.....” jawab mamah seraya menghela nafas panjang
“ mah...boleh darma bertanya sesuatu, tapi mamah jangan marah....” ujar gue dan berbalas dengan keterdiaman mamah untuk sesaat, hingga akhirnya setelah keterdiamannya itu, mamah pun terlihat menganggukan kepalanya
“ memangnya kamu mau bertanya apa dar....?”
“ mamah percaya dengan yang namanya hantu....?”
“ haduhhh dar pertanyaan kamu ini...udah deh kamu jangan memulai lagi bertanya seperti ini....” jawab mamah dengan menunjukan ekspresi kejengkelannya atas pertanyaan yang telah gue lontarkan
“ tuh kan...tadi kan mamah berjanji untuk enggak marah, lagi pula kan darma hanya bertanya apakah mamah percaya atau enggak...jadi mamah enggak usah untuk menjawab yang diluar pertanyaan darma itu....”
“ cukup dar....kamu ini anak mamah, dan mamah udah tau banget akan sifat kamu...ya udah langsung ke intinya aja, memangnya kamu mau menanyakan apa...?” tanya mamah diantara ekspresi wajahnya yang terlihat tegas
“ mah...apakah mamah pada saat malam kejadian hancurnya patung angsa yang ada di kandang angsa itu, mamah merasakan atau mendengar sesuatu yang menurut mamah janggal...?”
Mendengar pertanyaan gue itu, untuk sesaat lamanya mamah hanya terdiam dalam ekspresi wajah yang menunjukan rasa keraguannya untuk menjawab pertanyaan gue itu, hingga akhirnya setelah kini mamah terlihat mulai bisa melenyapkan ekspresi keraguannya itu, mamah pun mulai menceritakan tentang apa yang telah dialaminya pada saat malam kejadian hancurnya patung angsa
“ wahh...berarti apa yang telah mamah alami itu hampir sama persis dengan apa yang telah dialami oleh mang kohar, hanya saja yang membedakannya, mamah mendengar sesuatu yang hampir menyerupai suara benda yang di geser di dalam rumah ini....”
“ sebenarnya maksud dari kamu menanyakan ini apa sih dar....?, lagi pula seharusnya kan mamah yang bertanya kepada kamu, karena pada malam kejadian itu, kamu yang sedang bertugas menjaga nenek....” ujar mamah seraya mengarahkan pandangannya ke wajah gue
“ mamah mau darma berkata jujur....?” tanya gue yang berbalas dengan keterdiaman mamah untuk sesaat, hingga akhirnya mamah pun terlihat menganggukan kepalanya
“ pada malam saat darma menjaga nenek, darma sempat pingsan pada waktu itu mah.....”
“ hahhh kamu pingsan dar...!” teriak mamah dengan nada terkejut, mendapati hal tersebut, gue segera memberikan isyarat kepada mamah untuk mengecilkan suaranya, karena gue takut apa yang telah dilakukan mamah itu akan mengusik ketenangan nenek dalam beristirahat
“ yang benar kamu dar...?” tanya mamah masih dengan nada yang agak meninggi
“ iya benar mah, saat itu darma pingsan, mamah bisa membuktikannya dengan luka yang ada di kepala darma ini.....” jawab gue seraya memperlihatkan luka yang ada di kepala ini
“ ya tuhan dar...apa yang sebenarnya telah kamu alami dar....?”








NoMaLz
MontanaRivera
namakuve
namakuve dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.