- Beranda
- Stories from the Heart
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )
...
TS
meta.morfosis
Tiga.... ( bisikan pelepas jiwa )

Izinkan saya untuk kembali berbagi sebuah cerita.....
Chapter :
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Tiga - Chapter 1
Tiga - Chapter 2
Tiga - Chapter 3
Tiga - Chapter 4
Tiga - Chapter 5
Tiga - Chapter 6
Tiga - Chapter 7
Tiga - Chapter 8
Tiga - Chapter 9
Tiga - Chapter 10
Tiga - Chapter 11
Tiga - Chapter 12
Tiga - Chapter 13
Tiga - Chapter 14
Tiga - Chapter 15
Tiga - Chapter 16
Tiga - Chapter 17
Diubah oleh meta.morfosis 02-09-2019 10:11
nightstory770 dan 60 lainnya memberi reputasi
59
60.7K
271
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#101
Chapter 13
“ iya ki....bapak penjaga warung tersebut telah mengalami kejadian yang aneh, beberapa piring yang menjadi wadah dari dagangannya, berhamburan tanpa adanya alasan yang jelas, dan kalau menurut dugaan dari penjaga warung, kejadian itu terjadi karena dia telah ikut campur dalam masalah kami ini...menurut aki bagaimana.....?” jawab gue dan balik bertanya
“ bisa jadi memang seperti itu...lantas apakah sekarang kalian membawa kain lusuh itu...?” tanya ki panca dan berbalas dengan pergerakan tangan gue yang mengeluarkan kain lusuh tersebut dari kantong kresek, lalu menyerahkannya kepada ki panca
“ kain ini berbau busuk...sebusuk bau dari sesuatu yang ada di luar sana....” gumam ki panca dan berbalas dengan kebingungan gue dan mang kohar
“ yang kalian temukan ini adalah rajah...rajah pelindung dari sesuatu yang bersifat jahat, terutama pada rajah yang terdapat pada kain ini...” selepas dari perkataan ki panca tersebut, ki panca meletakan helaian kain lusuh yang bersimbolkan rangkaian aksara yang melingkari gambar yang berbentuk kain dan organ tubuh yang menyerupai jantung
“ sesuatu yang bersifat jahat...?”
“ jantung itu melambangkan jiwa, dan jiwa itu adalah kehidupan...dengan kata lain jantung ini melambangkan keseluruhan dari tubuh kita ini, sedangkan aksara yang melingkari simbol gambar kain dan jantung ini, adalah rangkaian mantra pelindung, yang berfungsi untuk menjaga benda benda yang ada di dalam lingkaran akasara ini dari energi energi jahat, dan juga melindungi kain ini dari kehancuran karena termakan usia...”
“ ohhh begitu ki....pantas aja benda benda ini ditemukan masih dalam keadaan enggak hancur...” gumam mang kohar seraya mengangguk anggukan kepalanya
“ lantas untuk fungsi dari telur angsa itu apa ki.....?”
“ kalau dari apa yang aki tau, telur angsa yang kalian temukan ini adalah telur angsa yang tidak menetas, dan untuk sebagian orang yang sudah akrab dengan hal hal yang ghaib, telur angsa yang tidak menetas itu biasanya dipergunakan untuk menjaga sesuatu dari energi yang bersifat jahat....” jawab ki panca dan berbalas dengan keterkejutan gue dan mang kohar
“ ya tuhan...berarti benda benda yang kami temukan ini, fungsinya untuk menjaga sesuatu dari energi yang bersifat negatif...”
“ sepertinya memang seperti itu kang darma, kalau dari apa yang telah kang darma ceritakan tadi, sepertinya energi negatif ini telah memanfaatkan seseorang untuk mengambil sesuatu yang di inginkannya, karena sangatlah tidak mungkin bagi energi negatif tersebut untuk mendekati secara langsung pada sesuatu itu...”
“ kalau saya boleh tau ki...apakah ki panca tau tentang sesuatu yang telah hilang itu....?” tanya gue dan berbalas dengan pergerakan ki panca yang menggelengkan kepalanya
“ aki enggak tau kang, tapi ada satu cara yang bisa kita pergunakan untuk mengetahuinya, dan itu pun tergantung dengan keberanian kalian untuk menjalaninya....”
“ bagaimana kang...?” tanya mang kohar dalam ekspresi wajah yang menunjukan rasa kekhawatirannya
“ kalau memang cara itu bisa memberikan saya sebuah petunjuk tentang sesuatu yang telah hilang itu, saya enggak akan ragu untuk menjalaninya ki....” kini begitu mendengar jawaban gue tersebut, terlihat ki panca mengangguk anggukan kepalanya, hingga akhirnya keberadaan ki panca pun kini menghilang seiring dengan langkah kakinya yang berjalan memasuki sebuah ruangan, dan tidak berselang lama kemudian, ki panca terlihat kembali hadir dengan turut serta membawa sebaskom air putih
“ untuk apa itu ki....?”tanya gue yang merasa bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh ki panca
“ di helaian kain lusuh ini masih tersimpan sisa tanah dari tempat keberadaan kain lusuh ini terkubur, dengan aki menaruh kain lusuh ini di dalam air, maka material tanah ini akan bergabung dengan air....dan dengan air itu aki akan mencoba untuk menghubungkan kamu dengan sesuatu yang hilang itu......” jawab ki panca dan berbalas dengan keterdiaman gue dan mang kohar, dan kini begitu melihat kami yang terdiam, nampak ki panca mulai memasukan kain lusuh tersebut ke dalam air, dan secara perlahan kini gue bisa melihat adanya perubahan dari warna air yang semula berwarna jernih telah berubah menjadi keruh
“ bagaimana kang darma...apakah sudah siap untuk melakukannya...?”
“ siap ki...” jawab gue dan berbalas dengan keterkejutan mang kohar
“ kang darma yakin mau menjalani ini semua....?” tanya mang kohar dengan rasa khawatir
“ saya yakin mang....”
“ tapi...mamang merasa khawatir kang, mamang takut akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa kang darma....”
Selepas dari perkataan mang kohar tersebut, terlihat ki panca mengembangkan senyum kecilnya, dan kini dengan penuh keyakinan, ki panca mulai menerangkan tentang tata cara dari prosesi yang akan gue lakukan ini
“ kalian tenang aja, prosesi yang akan kang darma lakukan ini sama sekali tidak beresiko, karena aki hanya akan membuka pengelihatan kang darma untuk melihat sesuatu yang ada di dalam kain lusuh ini....”
“ syukurlah kalau begitu ki, jujur aja tadi saya merasa khawatir....karena kalau terjadi sesuatu kepada kang darma, saya enggak tau harus berbicara apa dengan kedua orang tuanya....” ujar mang kohar yang sepertinya kini telah sedikit merasa tenang setelah mendengar penjelasan ki panca
“ baiklah kang darma...kita bisa memulainya sekarang....”
Mendengar perkataan ki panca tersebut, kini dengan diantarkan oleh mang kohar, gue segera membawa baskom yang berisikan air keruh ke kamar mandi, dan untuk beberapa saat lamanya, gue pun mulai tersibukan oleh sebuah tata cara yang mengharuskan gue untuk menyiramkan air keruh tersebut ke seluruh tubuh gue ini, hingga akhirnya setelah kini gue menyelesaikan semuanya itu, ki panca meminta gue untuk memasuki sebuah kamar yang gelap, dimana di dalam kamar tersebut terdapat keberadaan dari sebuah tikar yang terhampar di lantai
“ kang darma....setelah nanti aki merapalkan sebuah mantra yang akan membuka pengelihatan kang darma, kang darma bisa merebahkan tubuh kang darma di tikar ini dengan terlebih dahulu melepaskan seluruh pakaian yang kang darma kenakan.....” ujar ki panca seraya menyalakan dupa lalu meletakan di sudut kamar
“ hanya itu aja ki yang harus saya lakukan....?” tanya gue dan berbalas dengan anggukan kepala ki panca, dan kini tanpa mengatakan sesuatu apapun, terlihat ki panca meletakan telapak tangannya tepat di bagian ubun ubun yang ada di kepala gue, seraya membacakan sebuah mantra yang terbalut dalam pergerakan bibirnya, hingga akhirnya setelah kini tidak terlihat lagi pergerakan dari bibir ki panca, dengan sebuah pergerakan yang lembut, ki panca mengakhiri prosesi yang dilakukannya ini dengan cara menyapukan telapak tanggannya di wajah gue
“ udah selesai ki....?” tanya gue dengan rasa heran karena tidak mendapati adanya sebuah perubahan pada pengelihatan gue ini
“ ya udah selesai, selepas aki keluar dari kamar ini, kamu bisa melepaskan pakaian yang kamu kenakan dan merebahkan tubuh kamu di tikar ini, kamu enggak usah takut...karena apa yang akan kamu lihat nanti, itu semua hanyalah sebuah mimpi....” selepas dari perkataannya itu, ki panca terlihat mulai berjalan keluar dari dalam kamar lalu menutup pintu kamar, mendapati bahwa kini gue telah berada seorang diri di dalam kamar, gue memutuskan untuk segera melepaskan seluruh pakaian yang yang gue kenakan ini, lalu merebahkan tubuh ini pada helaian tikar yang terhampar di lantai, dan kini seiring dengan detik waktu yang terus berjalan, gue bisa merasakan aroma wangi dupa yang memenuhi ruangan kamar ini terasa semakin menyengat
“ kok gue jadi sulit bernafas ya....” ujar gue dengan rasa panik begitu kini gue merasakan aroma dupa yang tercium ini mulai membuat gue merasa sulit untuk bernafas, hingga akhirnya diantara ketidakberdayaan gue untuk menolak wangi aroma dupa yang terus memasuki indera penciuman gue ini, secara perlahan kesadaran gue mulai menurun, bahkan bisa dibilang penurunan kesadaran gue ini kini mulai memindahkan gue pada dimensi alam yang berbeda
“ gue sedang ada dimana ini....?” tanya gue dalam hati begitu kini gue menyadari ketiadaan selimut kegelapan yang menyelimuti pandangan gue ini
Dingin....ya hanya rasa itulah yang kini gue rasakan begitu kini gue mendapati keberadaan gue yang tengah berada diantara tipisnya kabut senja, nampak terlihat di kejauhan, beberapa serdadu asing dengan memegang senapan laras pendek tengah berjaga jaga di depan pintu gerbang, bahkan bisa dikatakan para serdadu asing tersebut berusaha menjauhkan warga dari keberadaan rumah dimana saat ini gue berada
“ apa sebenarnya yang sedang terjadi....?”
Baru saja kini gue hendak mencari tahu atas apa yang telah terjadi, selimut kabut tipis yang menghalangi pandangan mata gue ini kini terlihat mulai bergerak dan memperlihatkan keberadaan dari beberapa serdadu asing yang terlihat keluar dari dalam rumah dengan membawa dua buah kain yang membungkus sesuatu dengan ukuran yang berbeda, mendapati pemandangan ini, gue kini hanya bisa memperhatikan dengan seksama atas apa yang akan dilakukan oleh para serdadu asing itu selanjutnya
“ bukankah ini....?” tanya gue dalam hati begitu kini gue melihat para serdadu itu menguburkan benda yang dibawanya ke dalam sebuah lubang yang berada di sebuah area yang dikelilingi oleh pagar bambu kuning, dan selepas para serdadu asing itu menguburkan benda yang dibawanya, nampak beberapa orang dari serdadu asing itu melepaskan kawanan angsa di dalam area itu
“ yaaa...ini rumah gue...rumah gue....” gumam gue seraya mengarahkan pandangan mata ini kepada rumah besar yang berada di hadapan gue, dan kini seiring dengan keyakinan gue yang meyakini bahwa rumah besar yang ada dihadapan mata gue ini adalah rumah gue sendiri, nampak terlihat keberadaan seseorang yang tengah berbincang bincang dengan para serdadu yang tadi telah menguburkan benda yang dibawanya, dan seiring dengan tatapan mata gue yang mengamati seseorang itu dengan lebih seksama, gue pun kini merasa yakin kalau seseorang yang tengah gue pandangi ini tidak lain adalah kakek gue sendiri, hal ini didasari oleh apa yang telah gue lihat di dalam photo tua
“ apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh kakek gue dan para serdadu itu....” tanya gue kembali dengan keinginan untuk mencari tahu atas apa yang telah terjadi, dan kini diantara pergerakan kakek yang terlihat telah memasuki rumah, gue segera berjalan menuju ke kandang angsa guna mencari tahu atas benda apa yang telah dikubur oleh para serdadu itu, hingga akhirnya setibanya kini gue di area kandang angsa, nampak terlihat keberadaan dari gundukan tanah yang sepertinya menjadi tempat dari para serdadu itu untuk menguburkan benda yang dibawanya
“ yaa...ini memang tempatnya....” gumam gue begitu kini gue merasa yakin bahwa keberadaan gundukan tanah itu berada tepat di lokasi dimana seharusnya patung angsa berada
“ gue harus menggalinya....gue harus mencari tau atas benda apa yang telah dikuburkan para serdadu itu....”
Tidak berselang lama setelah gue mengucapkan perkataan gue ini, tiba tiba saja gue dikejutkan dengan adanya perubahan suasana yang terjadi di halaman rumah, jika pada saat sebelumnya gue mendapati suasana halaman rumah yang diterangi oleh sinar matahari senja, kini suasana itu telah menghilang dan berganti menjadi suasana halaman rumah yang hanya diterangi oleh sinar redup cahaya rembulan, keberadaan dari beberapa serdadu asing yang pada saat sebelumnya terlihat sibuk dengan berbagai aktifitasnya, kini seperti menghilang entah kemana, mendapati hal tersebut...gue yang semula merasa takut mendapati perubahan yang terkesan janggal ini, kini mencoba untuk menyadarkan diri gue ini, dengan menanamkan sebuah keyakinan pada diri gue, bahwa pada saat ini gue sedang berada di alam mimpi, dan sudah menjadi hal yang lumrah jika gue menemui adanya kejadian yang janggal di alam mimpi
Dengan berbekal keyakinan yang telah gue tanamkan di diri gue ini, gue segera berjalan menuju ke arah gundukan tanah guna mengetahui atas benda apa yang telah di kuburkan oleh para serdadu asing itu, hingga akhirnya setibanya gue kini dihadapan gundukan tanah, kejadian janggal lainnya kembali terjadi, dan untuk kali ini gue melihat keberadaan dari gundukan tanah yang ada dihadapan gue ini, kini telah bergerak membuka dengan sendirinya, dan satu hal yang tidak gue sadari begitu melihat pergerakan dari gundukan tanah tersebut adalah kini gundukan tanah tersebut telah berpindah tempat dari keberadaannya yang semula menutupi lubang kini telah berpindah ke kaki gue, bahkan hingga menimbun bagian betis dari kaki gue ini
“ tenang...gue harus tenang, semuanya ini hanya bagian dari mimpi gue aja...” gumam gue seraya mencoba untuk menyingkirkan rasa takut yang mulai kembali menghinggapi pikiran gue ini, hingga akhirnya seiring dengan pandangan mata gue yang menatap ke arah lubang yang sudah tidak di tutupi lagi oleh keberadaan dari gundukan tanah, gue melihat keberadaan sesuatu yang terbungkus dalam balutan kain yang tersimpul ikat, entah benda apa yang ada dalam balutan kain tersebut, tapi begitu melihat keberadaan dari bercak darah segar yang mengotori bagian kain, gue kini mengambil kesimpulan bahwa sesuatu yang ada di dalam balutan kain tersebut adalah sesuatu yang bernyawa
“ astagfirullah....ya tuhan...apa sebenarnya yang ada dalam balutan kain itu...” selepas dari perkataan gue itu, rasa takut yang sedari tadi telah gue coba untuk gue kendalikan, kini seperti terlepas liar di dalam pikiran gue ini, dan kini diantara ketakutan yang gue rasakan, gue melihat keberadaan simpul yang mengikat kain tersebut mulai bergerak terbuka dengan sendirinya, dan seiring dengan simpul kain yang telah terbuka, kini gue bisa melihat keberadaan dari sesuatu yang sama sekali tidak pernah terbayangkan dalam pikiran gue ini
“ aaaa...aaaaa....”
Diantara kalimat tidak bermakna yang terucap dari mulut gue ini, kini gue hanya bisa terpaku menatap ke arah potongan tubuh penuh darah yang tergeletak di dalam hamparan kain, yaa...apa yang gue lihat saat ini adalah potongan tubuh dari tubuh seorang wanita yang telah terpotong dan hanya menyisakan bagian kepala hingga ke bagian dada atau lebih tepatnya di bagian dada yang berada di bawah ketiak, sedangkan untuk potongan tubuh lainnya gue sama sekali tidak melihat keberadaannya di kain tersebut
“ ennnnggakkk...gakkk mungggkiiin....” gumam gue dalam hati begitu kini gue melihat potongan tubuh tersebut mulai bergerak dan mencoba untuk merambat naik ke atas lubang, mendapati hal tersebut, kini tanpa berpikir panjang lagi, gue memutuskan untuk segera pergi meninggalkan lubang yang ada di hadapan mata gue ini, tapi sepertinya keberadaan dari gundukan tanah yang menimbun kaki gue hingga sebatas betis, kini telah memupuskan harapan gue untuk melangkahkan kaki ini guna meninggalkan lubang
“ ki pancaaa...tolong bangunkan gue ki...tolong....!!!” teriak gue dalam hati dan berharap adanya pertolongan dari ki panca, tapi seiring dengan pertolongan ki panca yang tidak kunjung datang, keberadaan jari jemari tangan dari potongan tubuh wanita tersebut kini telah berhasil mencapai permukaan lubang, mendapati hal tersebut keinginan gue yang ingin beranjak pergi menjauhi lubang, kini telah berbuah hasil dengan terjerembabnya tubuh gue ini jatuh ke belakang, hingga akhirnya diantara ketidakberdayaan gue untuk keluar dalam situasi ini, gue melihat jari jemari tangan dari potongan tubuh wanita itu, kini telah memperlihatkan wajah dari potongan tubuh wanita yang penuh darah itu...yaaa...sebuah wajah pucat dari seorang wanita muda yang nampak dikotori oleh tanah basah serta percikan darah segar, keberadaan dari mulut serta matanya yang terbuka lebar seperti mempertegas akan rasa sakit yang telah dirasakan oleh wanita tersebut pada saat kematiannya, sedangkan keberadaan dari rambut hitam yang tergerai panjang serta potongan baju kebaya yang dikenakannya seperti menunjukan bahwa wanita muda yang telah terbunuh ini adalah sosok wanita desa
“ tooo...jaaaanngggg...”
Hanya kalimat penuh kegagapan inilah yang kini bisa terucap dari mulut gue begitu melihat potongan tubuh wanita tersebut mulai merangkak menghampiri gue, dan kini diantara pergerakan jari jemari tangannya yang telah menyentuh tubuh gue, bisa gue rasakan kuku tajam dari jari jemari tangan itu laksana sebuah kuas yang menjadikan tubuh gue yang tidak mengenakan sehelai benangpun ini sebagai kanvas untuk melukiskan goresan demi goresan di kulit tubuh ini, hingga akhirnya diantara rasa sakit yang gue rasakan akibat goresan tersebut, gue mulai menjerit sejadinya dan berharap adanya sebuah pertolongan dari ki panca atau pun mang kohar, dan pada akhirnya suara jeritan yang terlontar dari mulut gue ini, kini mulai menampakan hasil yang ditandai dengan terdengarnya suara ki panca
“ kang darma...ayo bangun kang...bangun...!!!”
Seiring dengan suara ki panca yang kembali terdengar, nampak keberadaan dari potongan tubuh wanita tersebut mulai memudar dari pandangan gue, dan berganti dengan cahaya terang yang berasal dari lampu kamar yang menyala, mendapati kenyataan ini, kini tanpa perasaan malu sedikitpun, gue segera memeluk tubuh ki panca yang kebetulan berada dekat di sisi gue
“ tolong saya ki....tolong sayaaaa....” teriak gue dengan penuh kepanikan, rasa perih yang kini gue rasakan pada tubuh ini seperti memberikan gue sebuah isyarat bahwa kejadian yang baru saja gue alami memanglah sebuah kejadian yang nyata
“ tenang kang darma...tenang....”
“ tenang bagaimana sih ki, tadi aki bilang...apa yang akan dilakukan oleh kang darma itu enggak berbahaya, tapi apa kenyataannya....” bentak mang kohar seraya menarik tubuh gue dari pelukan ki panca, sehelai kain yang entah telah didapatkan oleh mang kohar dari mana, kini digunakannya untuk menutupi tubuh gue yang masih dalam keadaan telanjang
“ maaf mang kohar....sumpahh...aki juga enggak menyangka akan seperti ini akhirnya, karena dari pengalaman aki yang sudah sudah, kejadian seperti ini enggak pernah terjadi....” ujar ki panca dengan menunjukan ekspresi penyesalannya, dan kini begitu mendapati perkataan ki panca tersebut, sepertinya mang kohar belum bisa menerima begitu saja alasan yang telah diberikan oleh ki panca
“ udah mang kohar, ini semua bukan salah ki panca...mungkin memang benar dengan apa yang telah dikatakannya itu....”
“ sekali lagi aki minta maaf ya kang, karena memang enggak ada niat aki untuk mencelakakan kang darma, tapi sepertinya masalah yang sedang dihadapi oleh keluarga kang darma ini adalah masalah yang serius....”
“ masalah yang serius bagaimana ki....?” tanya gue dan mang kohar hampir bersamaan
“ tapi sebelumnya, aki mau tau dulu dengan apa yang sebenarnya telah kang darma lihat disaat menjalani prosesi tadi....?”
namakuve dan 4 lainnya memberi reputasi
5