Kaskus

News

.haiyaaAvatar border
TS
.haiyaa
Is THIS Russia’s daring secret plan to completely destroy China?
Is THIS Russia’s daring secret plan to completely destroy China?


RUSSIAN ideologue Aleksandr Dugin has written a book “Foundations of Geopolitics” which some believe has been used as a textbook in the Russian General Staff Academy.


Is THIS Russia’s daring secret plan to completely destroy China?
A 1997 book may detail a Russian plan to destroy China but an expert dismisses it

The book has a section that deals with a plan to take over neighbouring China. Mr Dugin’s book says the plan must start off with less sparsely populated Chinese Provinces such as Xinjiang and Tibet before moving on to Manchuria, having earlier said Mongolia should be taken over, this would create a buffer zone between the two powers.

The book has not been translated from the original Russian yet, but one unofficial translation says it says China “must, to the maximum degree possible, be dismantled.”

Dugin even suggests offering Beijing geopolitical compensation in Cambodia, Laos, the Philippines, Indonesia and Australia.

However, one expert, Steve Sestanovich, a professor at Columbia University’s School of International and Public Affairs, has dismissed the chances of conflict breaking out between Moscow and Beijing: “Dugin’s ideas about China from the 1990s reflect Russian unease at living so close to a dynamic and powerful neighbour, but they do not in any way reflect contemporary Russian policy toward China.

“For Putin, close alignment with China has been a major strategic success, taking some of the sting out of his estrangement from the West. A falling-out between Russia and China would be a gigantic setback for him.”

Mr Dugin is said to have strong links with both the Russian military and Kremlin.

Is THIS Russia’s daring secret plan to completely destroy China?





Mr Sestanovich, however, plays down the influence he might have in modern Russian politics: “Don’t exaggerate Dugin’s influence. For some people in the national-security elite, his nationalist ideas are a nice fit with their own preferences. But they don’t turn to him for policy specifics. Who would? If you’re a Russian general, you probably know a little about Dugin, but parroting his proposals at a meeting is likely to mark you as a krack pot.”

Indeed, Vladimir Putin has been awarded the Order of Friendship by Xi Jinping, China’s highest order of honour.

Mr Xi was similarly warded Knight of the Order of Saint Andrew, the highest honour of the Russian Federation.

Moscow and Beijing are considered to be allies and share similar positions on a number of geopolitical issues.



haiyaaa ciilaaka luuwa weelas waaa

To me, when it comes to the crunch the white folks always united put their differences aside waaa!!!! emoticon-thumbsup

Time will tell......if a leopard will changes its spots waaa!!?? emoticon-Ngakak (S)

Ngomong2 Ah Tiong amee Ivan punyee daerah konflik gak yeeee!!?? emoticon-Big Grin



Is THIS Russia’s daring secret plan to completely destroy China?
ZenMan1Avatar border
sebelahblogAvatar border
anasabilaAvatar border
anasabila dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.7K
21
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
Berita Luar Negeri
KASKUS Official
82KThread20.2KAnggota
Tampilkan semua post
markjankulovskiAvatar border
markjankulovski
#15
Rusia dan Cina memang sering bersaing dan bekerjasama sejak lama. Sejak jaman Tsardom dan Qing Empire sudah sering tempur lintas perbatasan.

Rusia sudah sejak lama sering ikut campur di Manchuria bahkan sudah melahap Manchuria selama pemberontakan Boxer sebelum kemudian dihentikan Jepang melalui Perang Jepang - Rusia 1905 (Dan aneksasi Rusia ke Manchuria inilah memang salah satu penyebab Perang Jepang - Rusia 1905, karena Jepang menganggap aneksasi dan influence Rusia di Manchuria adalah ancaman serius bagi kepentingan Jepang).

Setelah Revolusi Cina 1911 dan Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia, dua Kekaisaran di Cina dan Rusia jatuh, dan dua-duanya menjadi Republik, Cina jadi Republik Cina sedangkan Rusia menjelma menjadi Republik Sosialis Uni Soviet. Maka dimulailah kerjasama erat antara keduanya, melalui aliansi antara pemerintahan Komunis Uni Soviet dengan pemerintahan Nasionalis Kuomintang di Cina (Dimana saat itu banyak Komunis Cina membonceng Kuomintang), dua kekuatan revolusioner yang menggulingkan dua kaisar dan tsar di masing-masing negara. Uni Soviet bahkan membantu pemerintahan Kuomintang untuk membangun tentara yang kuat melalui pembentukan Akademi Militer Whampoa (yang salah satu instruktur militernya adalah pendiri Partai Komunis Indonesia / PKI Henk Sneevliet yang ditugaskan Komintern untuk menjadi instruktur militer di Whampoa untuk membentuk tentara ala Tentara Merah Uni Soviet).

Aliansi pecah ketika Jenderal Chiang Kai Shek menjadi pimpinan Kuomintang sepeninggal Sun Yat Sen, dan melancarkan pembersihan dan pembantaian besar-besaran pada kaum komunis serta mengusir semua instruktur Soviet dari Cina. Kuomintang di bawah Chiang Kai Shek bergerak ke arah kanan, anti komunis (Dan ironisnya hingga awal tahun 1930-an pers Barat menjulukinya "Jenderal Merah" karena dianggap sebagai dekat dengan komunis. Sedangkan di Uni Soviet Chiang Kai Shek justru dipuji-puji, di bioskop-bioskop di Uni Soviet, Chiang dipuji sebagai Revolusioner sejati, dan potretnya dipajang di Lapangan Merah berdampingan dengan potret tokoh-tokoh komunis Karl Marx, Lenin, Stalin dll), dan ternyata Chiang justru melancarkan pemberangusan pada kaum komunis, maka sejak saat itu Soviet jadi anti Chiang dan sering ikut campur dalam berbagai pergolakan di Cina, termasuk Perang Saudara Cina yang membuat komunis menggulingkan Chiang tahun 1949.

Setelah Komunis berkuasa di Cina tahun 1949, maka hubungan keduanya kembali erat, tapi tidak berlangsung lama setelah meninggalnya Stalin, kepemimpinan Cina menganggap kepeminpinan baru Uni Soviet di bawah Kruschev sebagai revisionis yang menyimpang dari prinsip2 komunisme. Maka terjadilah Sino-Soviet split, dua pertentangan antara dua negara komunis paling berpengaruh di dunia.

Pertentangan memuncak bahkan menjurus pada perang perbatasan di Sungai Ussurii antara Cina dan Uni Soviet, di mana Cina menyerang penjaga perbatasan Uni Soviet yang berkembang menjadi kontak senjata di tahun 1960-an. (Cina gagal merebut wilayah-wilayah itu secara militer saat itu, karena serangan gencar artileri Soviet yang berhasil memukul mundur serangan Cina, Cina berhasil memperoleh wilayah-wilayah itu setelah Uni Soviet runtuh tahun 1990-an dan Yeltsin setuju untuk "menjual" wilayah sengketa itu, karena Rusia lagi butuh duit, wilayah itu diberikan pada Cina dengan imbalan untuk memperoleh investasi besar-besaran dari Cina). Uni Soviet bahkan saat itu mempunyai opsi untuk menyerang Cina dengan nuklir sedangkan Mao dengan percaya diri meyakini serangan human wave dengan milyaran orang Cina ke Soviet tidak akan bisa dihentikan dengan nuklir dan akan menjamin kemenangan.

Saat Sino-Soviet split, dunia komunis terbagi dalam dua kubu, sebagian besar memihak Soviet, sebagian kecil memihak Cina (salah satunya PKI yang lebih memihak Cina, sedangkan Partai Komunis Vietnam memihak Soviet). Bahkan Cina dalam hubungan internasionalnya lebih dekat dengan Amerika Serikat daripada Uni Soviet selama era Perang Dingin (melalui diplomasi ping pong kunjungan Richard Nixon Presiden Amerika ke Cina tahun 1971). Bagi Cina Uni Soviet yang sesama komunis adalah musuh utama, Amerika musuh nomor 2. Inilah yang membuat Vietnam yang saat itu berperang dengan US membenci Cina, bahkan Enver Hoxha (Anwar Hodja) pemimpin komunis Albania yang juga sering mencela Uni Soviet dan dekat dengan Cina menjadi mundur teratur dan mulai mencaci maki Cina pula yang dianggap telah mengkhianati prinsip komunisme karena bekerjasama dengan musuh no 1 rakyat yakni Amerika, dan menyatakan bahwa Albania adalah negara komunis Marxis-Leninis Paling Murni di dunia.

Setelah Uni Soviet runtuh, barulah akhir dari era hubungan dekat US-Cina dan keduanya menjadi rival sengit hingga sekarang, sedangkan hubungan dengan Rusia membaik hingga sekarang, tapi bukan berarti rasa saling curiga antara keduanya usai. Hubungan memang dekat, tapi bagaimanapun akan selalu ada rasa curiga antara dua negara yang saling berdekatan ini.
0
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.