- Beranda
- Stories from the Heart
Misteri Gunung Lawu ( Kisah Mistis )
...
TS
.nona.
Misteri Gunung Lawu ( Kisah Mistis )

Cerita ini berdasarkan pengalaman teman-teman dan TS yang biasa mendaki gunung, nama semua yang ada di cerita ini disamarkan. Begitu juga dengan tokoh utamanya.
Walau cerita ini akan ditambahi bumbu-bumbu penyedap biar lebih seru, tapi based cerita ini adalah kejadian nyata walau hanya kerangka ceritanya saja, jadi anggap saja cerita ini fiktif. Mau percaya atau tidak yang jelas kehidupan tak kasat mata itu memang nyata.
Semoga cerita ini menghibur rekan-rekan pembaca semua, untuk yang tidak suka dengan cerita mistis lebih baik jangan diteruskan membacanya ditakutkan kecanduan.
Prolog
Cerahnya mentari membakar kulit di daerah Solo ini, entah sudah berapa kali kuminum air putih yang kubawa menunggu datangnya kedua kawanku. Nampak 3 tas caril yang kugunakan dan punya kawanku tergeletak di ujung pos entah sepertinya tempat ini adalah pos satpam yang ditinggalkan dekat stasiun Solo Jembres.
Terdengar suara kawanku Joko dan Endri melangkah menuju pos tempatku berteduh, entah sudah berapa kali asap putih mengepul dari mulutku. Waktu yang terasa lambat menunggu kawanku membeli logistik di sekitar pasar agar pendakian ke lawu tidak menjadi teror di kala perut lapar.
"Lama amat" ujarku
Joko dan Endri mesam mesem persis kaya petruk dan gareng lagi nyari bau kentut nya semar.
"Ahh... Elahh Don, nih lihat bawaan lumayan banyak" ujar Joko, sambil menenteng beberapa belanjaan logistik yang sudah dibeli.
"Tau lo Don, lo mah enak cuman bengong sambil ngebul jagain tas doank" Endri pun tak kalah sengit membela Joko.
Aku pun tersenyum kepada mereka, " janc*kk, malah marah-marah ya aku yang salah...puas dah lo.. "
Mereka pun tertawa secara bersamaan, tak banyak yang diceritakan di daerah Solo Jebres ini namun perjalanan masih panjang. Joko pun menelepon seseorang untuk menjemput kami, karena yang lebih paham daerah ini dan Lawu adalah Joko. Jadi aku dan Endri tinggal duduk manis menunggu perintah selanjutnya dari pimpinan pendakian kali ini.
"Waduhh... kita harus nunggu setengah jam lagi, yo wes kalian istirahat dolo dah. Cari tempat ngopi yuk " ujar Joko.
Kami berdua pun mengangguk, rasanya menunggu sambil ngopi dan makan gorengan lebih nikmat dibandingkan harus menunggu di tempat yang mulai panas ini.
Kami pun berjalan, hingga terlihat warung kopi di pinggir jalan. Barang bawaan pun ditumpuk jadi satu, logistik pun sudah dibagi masuk ke dalam caril masing-masing.
Kami pun memesan mie rebus, lumayan untuk ganjalan perut yang sudah mulai teriak lapar. Sembari memakan mie yang sudah terhidang, rasanya air putih di depanku tak sanggup menahan rasa dahaga yang sedang kuderita.
"Bu De aku es teh manisnya satu ?" ujarku, lalu disambut dengan ucapan kedua temanku.
"Aku es Jeruk Bu de, Aku kopi Bu De"
Pemilik kedai yang sudah berumur setengah baya itu pun mengangguk, ia pun mulai membuat pesanan minuman dengan terampil. Mie rebus punyaku pun habis lebih dulu, sedangkan kedua temanku masih asik mengunyah mie yang menjadi idola para pemuda yang sering ngekost.
Sedang asik bersenda gurau datanglah seorang laki-laki paruh baya disamping kedai kopi itu, pandangannya kosong nampak menatap jauh tanpa arah. Aku pun melihatnya dan merasa iba, aku segera beranjak mendekatinya.
"Maaf Pak, ini bangkunya biar enak duduknya"
Ia menoleh kepadaku ada senyum yang terasa berat.
"Makasih Le... "
"Mau minum kopi pak..? "
Ia pun menggeleng, menolak pemberianku.
"Rokok.. "
Ia kembali tersenyum diambil nya satu batang dari bungkus rokok yang kuberikan. Kepulan asap pun mulai keluar dari mulut kami berdua, kulihat tatapannya tidak ada perubahan masih kosong dan tak tentu arah.
"Sampean ini mau kemana, ke Lawu ya.. " ucap si bapak.
"Iya pak.. "
"Ohhh... Hati-hati ya, kalau ke sana. Saat ini banyak aura negatif di gunung lawu" ucapnya.
Aku hanya diam, tanpa bermaksud bertanya lebih jauh. Hanya anggukan kecil yang ku isyaratkan.
Kembali ia mengepulkan rokoknya terlihat olehku dari tampilan tangannya yang menggambarkan ia seorang pekerja keras, terlihat dengan jelas di lengan tangan kanan sebuah tato dengan motif bunga dan di lengan tangan kiri bertato motif naga dan wanita. Nampak masih mudanya bapak ini sosok orang yang di segani oleh orang sekitarnya.
"Ohh iya bapak asli dari sini....??"
"Bukan, Le aku dari Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Kamu tahu..?? "
"Tidak pak, aku ga ngerti daerah sini asalku dari Jakarta"
"Ohhh... Terima kasih ini Le, Rokokmu... " ucapnya dengan nada berat.
Kemudian temanku memanggil, "Woyy Don, itu bayar makananmu masak lo gw traktir terus bisa bangkrut aku" Joko teriak.
"Ehhh... Iya, bentar ya pak"
Aku pun segera membayar makanan yang sudah kupesan, "Ini bude, lalu memberikan sejumlah uang" setelah selesai pembayaran, aku pun menoleh ke arah tempat bapak tadi duduk ia sudah tidak ada.
"Loh Ndri... Tadi lo liat bapak yang duduk disini ngobrol ma gw pergi kemana ??"
"Bapak-bapak, ngaco lo... Dari tadi juga lo bengong ngerokok sendiri, di panggil juga diam aja makanya si Joko tadi teriak manggil lo... "
"Ahhh yang benerr....tadi aku ngasih... " ucapanku terhenti. Kulihat sebatang rokok yang masih utuh di bangku tempat si bapak itu duduk.
"Ealahhh.. udah ahh ngelindurnya yuk berangkat, tuh mobil kawanku sudah sampai di seberang" Joko pun mengambil carilnya.
Kuambil rokok tadi, masih utuh tanpa terbakar sedikitpun. Bulu kudukku berdiri seakan ada yang janggal, aku pun berdo'a semoga saja itu hanya halusinasi karena beban stress yang menggelayuti kepalaku.
Atau apakah benar dia "Hantu"
#Bersambung
Quote:
Quote:
🙏 terima kasih untuk agan mantab93 yang sudah repot-repot buatin index.. 👍
Tambahan Cerita Mistis Dari Kaskuser
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh .nona. 08-07-2021 11:16
camiakiersty715 dan 120 lainnya memberi reputasi
117
219.3K
895
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
.nona.
#562
Part 20

"Mas... "
"Kenapa kamu..?"
"Anu mas rasanya aku kebelet ini... " sambil memperlihatkan muka melas, manahan beban yang ingin keluar dari dalam perut.
"Oallahh.. tak kira ada apa? Dah sono tuh disemak-semak, nih bawa air ini buat cebok"
"Iya mas.." aku pun langsung langkah seribu dan bersemedi hingga ujian sakit perut itu pun tuntas.
"Legaaa... "
Aku segera kembali ke tempat mas Jati menunggu, di dekat pepohonan besar yang nampaknya usianya sudah sangat tua.
"Gimana sudah Don..!! "
"Sudah mas.. " sambil tersenyum simpul.
"Mau lanjut apa istirahat dolo nih..?"
"Lanjutt deh mas.."
Kembali kami berjalan menyusuri tangga-tangga yang terhampar di tempat ini, lalu mas Jati pun sembari berjalan ia pun bercerita,
"Sebenarnya tempat ini adalah kompleks pertapaan dan saat ini menjadi kawasan Perhutani, selain tempat ini sekarang menjadi destinasi wisata karena pemandangannya yang indah namun sebenarnya tempat ini lebih dikenal sebagai tempat yang keramat bagi penduduk di sini"
Aku cuma mengangguk sambil mengatur jalanku agar tidak terjatuh karena tanjakan yang curam, walau sudah di berikan tangga.
Mas Jati pun mengeluarkan rokok lalu dibakarnya, hembusan asap pun bersatu dengan kabut di kaki gunung lawu ini. Ia kembali menjelaskan tempat ini, tempat indah yang penuh dengan misteri.
" Pringgondani sebenarnya berasal dari kata "pring" (bambu), "nggon" (tempat), dan "dani" (memperbaiki). Secara sederhana bisa diartikan sebagai "tempat yang digunakan untuk memperbaiki diri". Nama lain dari Pringgondani adalah “Eyang Panembahan Koconegoro”, karena di dalam kompleks pertapaan terdapat Pertapaan Koconegoro, yang tadi kita lewati itu sebenarnya sebuah tempat yang dituakan (dikeramatkan) biasanya digunakan untuk tempat bercerminnya kerajaan.
Mitosnya menurut penduduk di sini, pringgondani merupakan tempat bertapa seseorang yang pernah mengalahkan prabu boko pada jaman kerajaan kaling. Sedangkan menurut penganut spiritual, pringgondani adlaah wilayah kekuasaan Prabu Brawijaya 5 ( raja majapahit terakir ) yang diserahkan kepada eyang konconegoro, ditempat inilah eyang Konconegoro bertapa dengan tongkat menancap di tanah mendekatkan diri kepada sang maha kuasa, Memohon untuk hidup abadi, konon tongkat menancap ditanah berubah menjadi pohon yang disebut kayu lewung. Dalam bertapa, apa yang diinginkan oleh eyang Konconegoro belum dipenuhi oleh sang pencipta dan sesuai petunjuk gurunya agar keinginannya tersebut dipenuhi maka beliau harus naik kepuncak lawu dan kembali bersemedi disana. Namun tentang kebenaran mitos ini kita tidak pernah tau, biarlah hal itu menjadi mitos"
"Berarti disini banyak tempat untuk bertapa ya mas.. ?"
"Bisa dibilang begitu.." nafas kami mulai tersenggal karena tanjakan semakin curam.
"Apa saja itu mas, sepertinya tempat ini sangat luas...."
"Ada beberapa tempat yang di keramatkan bahkan di pakai juga untuk berdo'a dan bertapa tapi aku agak lupa namanya, kujelaskan yang aku ingat saja ya.. "
"Ohhh iya mas santai aja"
" Yang pertama aku ingat ada Sendang Gedang Selirang, tempat ini merupakan sebuah aliran sungai yang terbendung. Lalu ada pertapaan Koconegoro, nah yang tadi kita lewati pertapaan Koconegoro sebenarnya berada di lereng bukit sebelah utara Sendang gedang Selirang.
Kemudian ada yang dinamakan Sendang Panguripan. Sendang ini terletak di lereng sebelah barat Pertapaan Koconegoro. Sendang Panguripan mempunyai makna bahwa air dari sendang tersebut sebagai sumber kehidupan. Ada juga Sendang Penganten (Pancuran Tujuh). Asal usul Sendang Penganten karena dahulu di tempat tersebut hanya ada dua pancuran. Namun dalam perkembangannya sekarang ini sudah ada tujuh, sehingga disebut juga Pancuran Tujuh. Fungsi dari Sendang Penganten adalah untuk mandi, bersuci, pengobatan alternatif, dan bermeditasi sekaligus untuk melangsungkan permohonan.
Hmmm apa lagi ya... oh iya ada Sendang Muria. Nahh... Sendang Muria ini terletak di sebelah timur Sendang Pengantin. Sendang Muria berupa air terjun dan di bawahnya terdapat kolam penampungan.
Tak jauh dari tempat telaga wali yang saat ini kita ingin tuju ada Sendang Gentong letaknya ada di sebelah kanan jalur dari Telaga Wali menuju ke Gua Pringgosari. Sendang ini diumpamakan sebagai lumbung, yaitu tempat penyimpanan hasil panen.
Ada juga Gua yang bernama Pringgosari. Gua ini terletak di lereng jurang. Di dalam gua terdapat sebuah patung yang bernama Kebo Danu. Menurut kepercayaan kotoran kebo ini mempunyai khasiat, antara lain untuk menolak bala dengan menaburkan kotoran kebo itu ke tanah di sekitar rumah dan untuk menyuburkan tanah.
Lalu tempat yang kita ingin tuju yang bernama Sendang Wali. Sendang Wali semula berbentuk telaga. Sumber air berasal dari bukit di sebelah timur yang berupa air terjun. Karena banjir dan bencana alam banyak batu-batu besar yang jatuh terkena arus air, sehingga telaga itu kini tertimbun batu-batu besar tersebut.
Terakhir yang aku ingat ada Gua yang bernama Pringgosepi. Pringgosepi sendiri bermakna, tempat untuk menyepi. Untuk acara ritual orang lain tidak boleh masuk, karena guanya sempit dan di depannya terdapat jurang, untuk masuk gua harus menggunakan tali pengaman tubuh."
"Apa yang datang kesini hanya penduduk sekitar dan orang yang hendak berwisata?"
"Tidak juga, bahkan pembesar istana pun ada"
"Maksudnya Presiden"
"Yup...mayoritas Presiden RI yang datang ketempat ini adalah Presiden RI 1 Soekarno, Presiden RI 2 Soeharto, Presiden RI 4 Abdurahman Wahid (Gus Dur), serta Presiden RI 6 Susilo Bambang Yudhoyono, mereka ini yang pernah menginjakkan kaki di pegunungan purba namun indah di pandang mata"
"Bagaimana dengan Presiden ke 7"
"Sepertinya beliau juga menyambangi daerah ini, hanya saja tak banyak orang tahu"
"Hmmmm.... sakral bnget ya mas tempat ini.. "
"Ya begitulah.. "
Tak terasa dengan banyak bercakap-cakap akhirnya kami sampai juga di Telaga Wali.
"Akhirnya Don... sampai juga.."
"Istirahat sebentar mas lumayan juga nafasku jadi ga stabil.."
"Ya sama aku juga.. "
"Mas kenapa kita harus meditasi di sini ? "
"Sebenarnya nyai memang tidak memberikan petunjuk khusus, namun ini hanya fillingku saja kita harus meditasi di sini sebab secara historis, Telaga Wali memiliki berbagai macam cerita sejarah.
Yang membuatku tertarik, karena banyak orang percaya bahwa situs ini merupakan petilasan Walisongo dulunya. Di sinilah dahulu, mereka berkumpul dan mandi bersama di air terjun sebelum menyebar mengajar dan menyebarkan ajaran agama Islam di masing-masing daerah di Jawa.
Toh niat kita baik tak salah bila kita memgikuti jejak mereka dimana pada awalnya sejarah tempat ini adalah tempat perkumpulan para wali untuk membersihan diri dan bermeditasi"
Mas Jati nampak menengadah ke langit seperti mengingat ingat sesuatu,
"Kata kakekku disinilah mereka akan mandi, bermeditasi dan juga berdiskusi bersama sebelum kembali menyebarkan agama di tanah Jawa ini,” lanjutnya.
"Apa itu hanya mitos..? " tanyaku
"Awalnya kukira mitos tapi mengingat letak situs ini yang berada di gunung Lawu dan secara geografis serta administratif memang menjadi tempat strategis yang membatasi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dahulu tempat ini, secara administratif berada dalam kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta. “Eyang Kacanegara (penemu Pringgondani) beliau sebenarnya paman dari Eyang Lawu (pemilik gunung Lawu). Akan tetapi, Eyang Lawu merupakan bagian dari majapahit, sementara Eyang Kacanegara di Pringgodani sini adalah bagian dari Kasunanan (Surakarta), mereka semua berkaitan"
"Hmmm memang masuk akal... "
Nampak di sendang wali air terjun yang menghujam bebatuan besar di bawahnya dan ada gubuk serta toilet di depannya, memang saat ini tempat yang sejuk ini menjadi tempat wisata.
"Kita meditasi di mana mas ?"
"Yang jelas tak mungkin disini karena banyak orang" tawanya pun mengembang.
"Masih kuat ga...??"
"Jalan lagi.. "
"Ga terbang.."
"Yang bener mas kaya Harry Potter gitu.."
"Ga lah emang ini film ya kita jalan lagilah ke atas.."
"Tak sangka mas..." sambil ketawa geli mengingat kebodohanku.
Kembali kami melangkah namun jalur ini bukanlah jalur wisata, kami menerabas semacam bukit dan hutan yang masih rapat. Tak jarang tubuhku terkena goresan tanaman hutan..
Tiba-tiba "srekk.. sekk.. srekkk"
#Bersambung

"Mas... "
"Kenapa kamu..?"
"Anu mas rasanya aku kebelet ini... " sambil memperlihatkan muka melas, manahan beban yang ingin keluar dari dalam perut.
"Oallahh.. tak kira ada apa? Dah sono tuh disemak-semak, nih bawa air ini buat cebok"
"Iya mas.." aku pun langsung langkah seribu dan bersemedi hingga ujian sakit perut itu pun tuntas.
"Legaaa... "
Aku segera kembali ke tempat mas Jati menunggu, di dekat pepohonan besar yang nampaknya usianya sudah sangat tua.
"Gimana sudah Don..!! "
"Sudah mas.. " sambil tersenyum simpul.
"Mau lanjut apa istirahat dolo nih..?"
"Lanjutt deh mas.."
Kembali kami berjalan menyusuri tangga-tangga yang terhampar di tempat ini, lalu mas Jati pun sembari berjalan ia pun bercerita,
"Sebenarnya tempat ini adalah kompleks pertapaan dan saat ini menjadi kawasan Perhutani, selain tempat ini sekarang menjadi destinasi wisata karena pemandangannya yang indah namun sebenarnya tempat ini lebih dikenal sebagai tempat yang keramat bagi penduduk di sini"
Aku cuma mengangguk sambil mengatur jalanku agar tidak terjatuh karena tanjakan yang curam, walau sudah di berikan tangga.
Mas Jati pun mengeluarkan rokok lalu dibakarnya, hembusan asap pun bersatu dengan kabut di kaki gunung lawu ini. Ia kembali menjelaskan tempat ini, tempat indah yang penuh dengan misteri.
" Pringgondani sebenarnya berasal dari kata "pring" (bambu), "nggon" (tempat), dan "dani" (memperbaiki). Secara sederhana bisa diartikan sebagai "tempat yang digunakan untuk memperbaiki diri". Nama lain dari Pringgondani adalah “Eyang Panembahan Koconegoro”, karena di dalam kompleks pertapaan terdapat Pertapaan Koconegoro, yang tadi kita lewati itu sebenarnya sebuah tempat yang dituakan (dikeramatkan) biasanya digunakan untuk tempat bercerminnya kerajaan.
Mitosnya menurut penduduk di sini, pringgondani merupakan tempat bertapa seseorang yang pernah mengalahkan prabu boko pada jaman kerajaan kaling. Sedangkan menurut penganut spiritual, pringgondani adlaah wilayah kekuasaan Prabu Brawijaya 5 ( raja majapahit terakir ) yang diserahkan kepada eyang konconegoro, ditempat inilah eyang Konconegoro bertapa dengan tongkat menancap di tanah mendekatkan diri kepada sang maha kuasa, Memohon untuk hidup abadi, konon tongkat menancap ditanah berubah menjadi pohon yang disebut kayu lewung. Dalam bertapa, apa yang diinginkan oleh eyang Konconegoro belum dipenuhi oleh sang pencipta dan sesuai petunjuk gurunya agar keinginannya tersebut dipenuhi maka beliau harus naik kepuncak lawu dan kembali bersemedi disana. Namun tentang kebenaran mitos ini kita tidak pernah tau, biarlah hal itu menjadi mitos"
"Berarti disini banyak tempat untuk bertapa ya mas.. ?"
"Bisa dibilang begitu.." nafas kami mulai tersenggal karena tanjakan semakin curam.
"Apa saja itu mas, sepertinya tempat ini sangat luas...."
"Ada beberapa tempat yang di keramatkan bahkan di pakai juga untuk berdo'a dan bertapa tapi aku agak lupa namanya, kujelaskan yang aku ingat saja ya.. "
"Ohhh iya mas santai aja"
" Yang pertama aku ingat ada Sendang Gedang Selirang, tempat ini merupakan sebuah aliran sungai yang terbendung. Lalu ada pertapaan Koconegoro, nah yang tadi kita lewati pertapaan Koconegoro sebenarnya berada di lereng bukit sebelah utara Sendang gedang Selirang.
Kemudian ada yang dinamakan Sendang Panguripan. Sendang ini terletak di lereng sebelah barat Pertapaan Koconegoro. Sendang Panguripan mempunyai makna bahwa air dari sendang tersebut sebagai sumber kehidupan. Ada juga Sendang Penganten (Pancuran Tujuh). Asal usul Sendang Penganten karena dahulu di tempat tersebut hanya ada dua pancuran. Namun dalam perkembangannya sekarang ini sudah ada tujuh, sehingga disebut juga Pancuran Tujuh. Fungsi dari Sendang Penganten adalah untuk mandi, bersuci, pengobatan alternatif, dan bermeditasi sekaligus untuk melangsungkan permohonan.
Hmmm apa lagi ya... oh iya ada Sendang Muria. Nahh... Sendang Muria ini terletak di sebelah timur Sendang Pengantin. Sendang Muria berupa air terjun dan di bawahnya terdapat kolam penampungan.
Tak jauh dari tempat telaga wali yang saat ini kita ingin tuju ada Sendang Gentong letaknya ada di sebelah kanan jalur dari Telaga Wali menuju ke Gua Pringgosari. Sendang ini diumpamakan sebagai lumbung, yaitu tempat penyimpanan hasil panen.
Ada juga Gua yang bernama Pringgosari. Gua ini terletak di lereng jurang. Di dalam gua terdapat sebuah patung yang bernama Kebo Danu. Menurut kepercayaan kotoran kebo ini mempunyai khasiat, antara lain untuk menolak bala dengan menaburkan kotoran kebo itu ke tanah di sekitar rumah dan untuk menyuburkan tanah.
Lalu tempat yang kita ingin tuju yang bernama Sendang Wali. Sendang Wali semula berbentuk telaga. Sumber air berasal dari bukit di sebelah timur yang berupa air terjun. Karena banjir dan bencana alam banyak batu-batu besar yang jatuh terkena arus air, sehingga telaga itu kini tertimbun batu-batu besar tersebut.
Terakhir yang aku ingat ada Gua yang bernama Pringgosepi. Pringgosepi sendiri bermakna, tempat untuk menyepi. Untuk acara ritual orang lain tidak boleh masuk, karena guanya sempit dan di depannya terdapat jurang, untuk masuk gua harus menggunakan tali pengaman tubuh."
"Apa yang datang kesini hanya penduduk sekitar dan orang yang hendak berwisata?"
"Tidak juga, bahkan pembesar istana pun ada"
"Maksudnya Presiden"
"Yup...mayoritas Presiden RI yang datang ketempat ini adalah Presiden RI 1 Soekarno, Presiden RI 2 Soeharto, Presiden RI 4 Abdurahman Wahid (Gus Dur), serta Presiden RI 6 Susilo Bambang Yudhoyono, mereka ini yang pernah menginjakkan kaki di pegunungan purba namun indah di pandang mata"
"Bagaimana dengan Presiden ke 7"
"Sepertinya beliau juga menyambangi daerah ini, hanya saja tak banyak orang tahu"
"Hmmmm.... sakral bnget ya mas tempat ini.. "
"Ya begitulah.. "
Tak terasa dengan banyak bercakap-cakap akhirnya kami sampai juga di Telaga Wali.
"Akhirnya Don... sampai juga.."
"Istirahat sebentar mas lumayan juga nafasku jadi ga stabil.."
"Ya sama aku juga.. "
"Mas kenapa kita harus meditasi di sini ? "
"Sebenarnya nyai memang tidak memberikan petunjuk khusus, namun ini hanya fillingku saja kita harus meditasi di sini sebab secara historis, Telaga Wali memiliki berbagai macam cerita sejarah.
Yang membuatku tertarik, karena banyak orang percaya bahwa situs ini merupakan petilasan Walisongo dulunya. Di sinilah dahulu, mereka berkumpul dan mandi bersama di air terjun sebelum menyebar mengajar dan menyebarkan ajaran agama Islam di masing-masing daerah di Jawa.
Toh niat kita baik tak salah bila kita memgikuti jejak mereka dimana pada awalnya sejarah tempat ini adalah tempat perkumpulan para wali untuk membersihan diri dan bermeditasi"
Mas Jati nampak menengadah ke langit seperti mengingat ingat sesuatu,
"Kata kakekku disinilah mereka akan mandi, bermeditasi dan juga berdiskusi bersama sebelum kembali menyebarkan agama di tanah Jawa ini,” lanjutnya.
"Apa itu hanya mitos..? " tanyaku
"Awalnya kukira mitos tapi mengingat letak situs ini yang berada di gunung Lawu dan secara geografis serta administratif memang menjadi tempat strategis yang membatasi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dahulu tempat ini, secara administratif berada dalam kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta. “Eyang Kacanegara (penemu Pringgondani) beliau sebenarnya paman dari Eyang Lawu (pemilik gunung Lawu). Akan tetapi, Eyang Lawu merupakan bagian dari majapahit, sementara Eyang Kacanegara di Pringgodani sini adalah bagian dari Kasunanan (Surakarta), mereka semua berkaitan"
"Hmmm memang masuk akal... "
Nampak di sendang wali air terjun yang menghujam bebatuan besar di bawahnya dan ada gubuk serta toilet di depannya, memang saat ini tempat yang sejuk ini menjadi tempat wisata.
"Kita meditasi di mana mas ?"
"Yang jelas tak mungkin disini karena banyak orang" tawanya pun mengembang.
"Masih kuat ga...??"
"Jalan lagi.. "
"Ga terbang.."
"Yang bener mas kaya Harry Potter gitu.."
"Ga lah emang ini film ya kita jalan lagilah ke atas.."
"Tak sangka mas..." sambil ketawa geli mengingat kebodohanku.
Kembali kami melangkah namun jalur ini bukanlah jalur wisata, kami menerabas semacam bukit dan hutan yang masih rapat. Tak jarang tubuhku terkena goresan tanaman hutan..
Tiba-tiba "srekk.. sekk.. srekkk"
#Bersambung
santet72 dan 17 lainnya memberi reputasi
18

