- Beranda
- Stories from the Heart
KISAH CINTA REMAJA - IT'S ME
...
TS
TwinkleLittleSt
KISAH CINTA REMAJA - IT'S ME

Quote:
Judul
It's Me
Penulis
Jihanpooh-TwinkleLittleSt
Genre
Teenlit,Drama,Romance,Fiksi
It's Me
Penulis
Jihanpooh-TwinkleLittleSt
Genre
Teenlit,Drama,Romance,Fiksi
Ane baru pertama kali nulis cerita nih gann, jadi maafin kalo kalimatnya masih kaku
Tapi coba dibaca dulu siapa tau suka hehe. Kalo suka jangan lupa di share yaa biar makin banyak yang baca ane makin rajin update ceritanyee.Klik (show) untuk lihat Sinopsis ceritanya gannπ

Spoiler for Sinopsis:
Quote:
Sinopsis
Farah Luviq artis yang sedang naik daun, anak konglomerat yang cantik, muda, dan cerdas. Akan tetapi kehidupannya tidak sesempurna dirinya. Dia mengalami kecelakaan tabrak lari 2 tahun silam yang berhasil menghapus sebagian memori ingatannya. Dia tidak mengingat dengan jelas peristiwa kecelakaan yang di alaminya sehingga membuat dia di 'hantui' mimpi buruk di setiap malam. Seolah-olah mimpinya ingin memberitahu 'wajah asli' sang pelaku.
Bukan hanya tentang detail peristiwa kecelakaan yang dia lupakan. Dia juga lupa akan kenangan tentang 'Cinta Pertama' yang membuat masa putih abu-abu (SMA) dirinya menjadi indah dan tentang 'alasan' mengapa dia bisa menjadi seorang artis padahal dia selalu mengejar mimpinya menjadi komikus saat masih duduk di bangku sekolah.
Tetapi sejak dia bertemu dengan bodyguardsatu ini, ntah mengapa perlahan ingatannya kembali.
***
Farah Luviq artis yang sedang naik daun, anak konglomerat yang cantik, muda, dan cerdas. Akan tetapi kehidupannya tidak sesempurna dirinya. Dia mengalami kecelakaan tabrak lari 2 tahun silam yang berhasil menghapus sebagian memori ingatannya. Dia tidak mengingat dengan jelas peristiwa kecelakaan yang di alaminya sehingga membuat dia di 'hantui' mimpi buruk di setiap malam. Seolah-olah mimpinya ingin memberitahu 'wajah asli' sang pelaku.
Bukan hanya tentang detail peristiwa kecelakaan yang dia lupakan. Dia juga lupa akan kenangan tentang 'Cinta Pertama' yang membuat masa putih abu-abu (SMA) dirinya menjadi indah dan tentang 'alasan' mengapa dia bisa menjadi seorang artis padahal dia selalu mengejar mimpinya menjadi komikus saat masih duduk di bangku sekolah.
Tetapi sejak dia bertemu dengan bodyguardsatu ini, ntah mengapa perlahan ingatannya kembali.
***
Penasaran?
Silahkan membaca! Enjoy!
IT'S ME
Quote:



Quote:
P.S
Lagi proses revisi ulang.
Lagi proses revisi ulang.
Diubah oleh TwinkleLittleSt 23-01-2020 21:52
tien212700 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
3.1K
Kutip
15
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThreadβ’52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
TwinkleLittleSt
#1
It's Me - Part 01
Quote:
Part 1 : Farah
Suara hujan yang semakin deras membuat malam itu makin terasa mencekam. Darah itu mengalir bersamaan dengan air hujan yang turun lebat tak henti, mungkin karena memang lagi musim hujan.
Darah yang mengalir tersebut berasal dari wanita yang tergeletak di aspal jalan yang cukup luas namun sepi pengunjung. Dia berkali-kali mengernyitkan keningnya, berusaha untuk tetap sadar walaupun darah yang keluar dari kepalanya tidak kalah deras dari rintikan hujan. Sorot matanya samar-samar melihat seorang wanita keluar dari mobil sedan putih yang tadi menabraknya dengan keras hingga dia menjadi seperti ini. Wanita itu perlahan mendekatinya dengan langkah gontai.
"Astaga..Bagaimana ini!" ucap wanita itu dengan bibir yang gemetaran.
"T-Tolong.." dia mengangkat tangannya berharap agar tangan tersebut di raih. Namun hasilnya nihil.
Wanita itu malah melangkah mundur ragu-ragu lalu mulai berlari kecil dan masuk ke dalam mobil miliknya. Tak lama, mobil putih tersebut melaju meninggalkan dia sendirian di jalan sepi pengunjung itu.
Wajah wanita yang tergeletak sekarat semakin memucat, dia merasa ini mungkin hari terakhir baginya. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
"T-Tolong..Kumohon..Tolong!!..Sakit sekali." Tak mau putus asa, dia masih ingin berharap ada orang yang akan menolongnya jika dia berteriak.
TOLONG!!!
"Farah! Bangun!,,Sadarlah hei!"
Hosh..Hosh..
"Kamu mimpi itu lagi?" tanya pria yang ada dihadapannya.
Farah beranjak dari posisi tidur, terduduk lemah sambil bersender di headboardkasur dibantu oleh pria yang membangunkannya dari mimpi buruk tadi.
Panggil saja pria muda tampan itu Jordan. Jordan Winofel lengkapnya, pria muda berprofesi dokter yang menyelamatkan Farah dari kecelakaan tabrak lari 2 tahun silam. Dia lebih tua tiga tahun dari Farah. Farah terkadang jahil memanggilnya dengan sebutan akrab Ka-dok.
π¦: "Minum dulu gih. Akhir-akhir ini mimpi buruk kamu balik lagi, teriak-teriak bikin orang khawatir tiap pagi." ucap Jordan sambil menyodorkan gelas air putih ke Farah.
π¦: "Padahal sempat hilang, malah muncul lagi." sambungnya.
π§π»: "Iya, Makasih Ka-dok." balas Farah singkat sambil meraih gelas yang disodorkan Jordan.
π¦: "Emang kodok?=_="
π§π»: "hehe" kekeh Farah.
Walaupun tersenyum, tetap saja tersirat kesedihan campur rasa takut di wajah Farah. Dia berusaha menyembunyikan nya dengan fake smile, Jordan menyadari itu.
π¦: "Gimana? Kali ini kelihatan ngga wajah pelakunya?"
π§π»: "Ngga. Tetep burem."
π¦: "Kamu beneran mau kayak gini terus? kamu tau kan, aku bisa bantu kamu ngehilangin mimpi buruk itu." jelas Jordan dan hanya dibalas anggukan dan senyum tipis dari Farah.
Jordan sudah sering menawarkan psikolog pilihannya kepada Farah, tapi Farah terus menolak dengan alasan bisa mengatasinya sendiri.
Padahal Jordan tau alasan sebenarnya. Farah berusaha mencari wajah pelaku yang menabraknya melalui memori mimpi buruk yang datang tiap malam itu.
Namun bagi Jordan, tidak ada untungnya sama sekali mengetahui wajah pelaku tersebut. Jordan tidak mengerti kenapa Farah sangat penasaran dengan peristiwa detail tabrak lari 2 tahun silam yang di alaminya. Itu sudah lama dan biarkan saja berlalu daripada menyiksa diri sendiri, begitu menurut Jordan.
π§π»: "Kak Jordan hari ini datangnya kok pagi banget. Bukannya jadwal periksa aku sore ya?"
π¦: "Kenapa? Gaboleh nih?"
π§π»: "Bukan gaboleh sih. Tapi mulai sekarang aku mesti kunci pintu kamar, biar ngga ada yang sembarang masuk lagi. Untung malem tadi ketiduran pake jilbab."
π¦: "Hah? Oh iyaa astaga maaf Farah tadi begitu nyampe sini denger kamu teriak aku langsung lari gitu aja masuk kamar. Maaf ya udah masuk kamar kamu tanpa izin."
π§π»: "Gapapa. Salah aku juga. Kebiasaan tidur bareng Berlina, dia yang selalu kunci pintu."
Jordan mengusap pelan kepala Farah sambil tersenyum. Kemudian beranjak dari kasur dan mengambil gelas kosong di atas meja.
π¦: "Keluar yuk, sarapan. Aku udah beliin bubur ayam Mas Tatta kesukaan kamu." ucap Jordan yang sudah membalikkan badannya menuju pintu.
Namun karna tak ada jawaban dari Farah, kepala Jordan menengok ke belakang. Dia heran melihat Farah masih tertunduk lesu, padahal biasanya Farah langsung semangat kalau mendengar ada makanan favoritnya.
π¦: "Kenapa diem aja? Ayo cepetan. Ntar bubur ayamnya keburu dingin."
π§π»: "Kak, aku boleh tanya?"
π¦: "Tanya aja. Mau nanya apa?"
π§π»: "Kak Jordan memang selalu begini ke setiap pasien kakak ya?"
Tok Tok
Belum sempat Jordan menjawab, ada suara ketukan pintu yang membuat obrolan mereka terpotong.
"Dokter Jordan, Farah udah bisa keluar kamar sekarang?" pekik seorang perempuan dari luar kamar.
π§π»: "Masuk aja." balas Farah yang langsung mengenali suara perempuan itu.
Begitu pintu terbuka, ternyata suara perempuan tadi ialah Berlina. Camberlina Jernava, sahabat sekaligus asisten manajer Farah.
π§π»: "Lu juga Do, gua tau lu juga mau masuk." sambung Farah menggoda Aldo Quillec, manajer sekaligus sahabatnya juga.
Berlina berlari menuju kasur dan langsung memeluk Farah, disusul oleh Aldo yang berjalan ragu-ragu di belakangnya.
π©π»: "Lu gapapa kan? Gua keringet dingin nih, dokter Jordan ngga ngebolehin gua masuk kamar sebelum lu tenang katanya." ucap Berlina sambil memeluk erat tubuh Farah.
π©π»: "Oh iya, Aldo juga ngga kalah khawatir dari gua." sambungnya ikutan menggoda Aldo.
π¨πΌ: "Apaan ngomongin gua. Udahan dulu acara pelukannya. Tuh si Farah cepetan gih siap-siap, udah jam berapa ini ntar telat. Gua panggil Pak Ocom dulu." ucap Aldo ngamuk.
Dia keluar kamar dengan wajah cemberut membuat Farah dan Berlina terkekeh gemas melihat tingkah Aldo yang tsundere.
π¨πΌ: "Kok masih ga gerak? Dibilangin cepetan."
Kepala Aldo nongol sedikit dari balik pintu dengan tatapan matanya yang sinis membuat Farah Berlina auto beranjak dari kasur untuk menyusul Aldo.
π§π»π©π»: "Hiiyaa." sahut Farah Berlina bareng sambil melangkahkan kaki ke luar kamar meninggalkan Jordan yang bungkam tanpa ekspresi.
*****
Mobil Alphard hitam berhenti di depan pintu gedung salah satu stasiun TV terkenal. Tidak sedikit para artis papan atas yang di undang ke program TalkShow di stasiun TV ini. Salah satunya yaitu Farah Yunaira Zoher. Dengan nama panggung, Farah Zoher. Dia artis yang lagi sangat terkenal. Bukan hanya terkenal di kalangan remaja saja, banyak Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang juga ikut menyukainya.
Farah sedang naik daun akibat perannya yang menawan di film layar lebar 'Smile Schedule' dan film tersebut langsung tembus Box Office karena ditonton lebih dari 2 juta penonton dalam 10 hari tayang.
Film itu sukses membuat Farah dipuji oleh jutaan orang. Perannya yang menyentuh hati para penonton tidak hanya menarik di bagian romance tetapi juga memberikan pesan moral terhadap hubungan sebuah keluarga dan persahabatan.
Berkat itu, Farah mendapat banyak tawaran main iklan, film, modeling, dan di undang untuk menjadi tamu di berbagai program TalkShow. Bahkan Farah berhasil membuat Album lagunya yang baru keluar sehari langsung meledak.
π¨πΌ: "Pak Ocom nanti parkir di gedung sebelah aja ya, kami turun di sini." perintah sang Manajer.
π§πΎ: "Baik, bos Aldo." jawab Pak Ocom, sopir setia Aldo.
π¨πΌ: "Ayo Farah, Berlin, Cepetan gih! Udah mau mulai nih." pekik Aldo sambil membuka pintu mobil.
π©π»: "Apanya yang mau mulai!!? Di jadwal TalkShow itu mulainya 1 jam lagi! Kita kecepetan ini!" jerit Berlin dan hanya dibalas cekikikan Aldo.
π©π»: "Nih bocah juga masih ngiler." sambung Berlin sambil menunjuk Farah yang tertidur pulas di sebelahnya.
π¨πΌ: "Bangun woi! Heh Farah! Bangun! Yaelah kebo banget sih ini."
Aldo menghela nafas kasar sambil menggelengkan kepalanya, pusing. Dia merasa seperti seorang Ayah yang mengurus dua bocah. Yang satu sadis, satunya lagi pecicilan dan tukang tidur.
Berlina memandangi wajah Farah cukup lama kemudian tersenyum jahil. Jari telunjuk dan jari tengah berlina membentuk huruf V. Kemudian menancapkannya ke lobang hidung Farah.
π§π»: "CHURROSSSS!!! Huachuuu...cimm cimm. Aduh gatel." teriak Farah mendadak.
π©π»: "Astaga demi pup angkasawan! Kaget gile! Lu ga pernah bangun tidur dengan tenang ya!?" ucap Berlina tersontak kaget.
Dia tidak menyangka ide miliknya akan membuahkan hasil wajahnya tersemprot bersin Farah.
π©π»: "Iyeuhhh. Ada upilnya lagi! Berlina bodoh ga ada otaknya!" geram Berlina, kesal dengan idenya sendiri. Dia segera mengambil tisu untuk mengelap jari dan wajahnya yang sudah terinfeksi upil Farah.
π§π»: "Berlinnn gila banget, gue tadi mimpi lagi makan Churros segede perut lu tau ngga. Puas banget. Gue pengin banget makan churros Berlinnn." rengek Farah sambil menggoncangkan tubuh Berlina.
π©π»: "Lu beneran mimpi kayak gitu atau cuman mau ngehina perut buncit gue?"
π§π»: "Ayahhh Do-ku, beliin churros dong. Eh? Kemana perginya si Aldo?" ucap Farah mengalihkan topik pembicaraan.
Farah dan Berlina baru sadar kalau Aldo sudah keluar dari mobil dan pasti sedang mengobrol dengan para kru acara tersebut.
Mereka berdua juga baru sadar bahwa Pak Ocom dalam diam mengamati tingkah mereka daritadi sambil menunggu mereka yang tak kunjung turun dari mobil.
π§πΎ: "Nona nona, Pak Ocom disuruh bos Aldo parkir di gedung sebelah. Maaf, tapi tolong turun dari mobil ya." ucap Pak Ocom yang akhirnya angkat bicara.
π§π»π©π»: "Hehe iya maaf pak."
Saat turun dari mobil, mata Farah tak sengaja tertuju pada warung yang menyediakan churros di sebrang jalan. Ya. Benar. Churros! Cemilan yang muncul di mimpi Farah. Matanya jeli sekali kalo udah soal makanan.
π§π»: "Wah. Ada yang jual toh. Sungguh kebetulan yang sempurna!" ucap Farah girang.
*****
π©π»: "Gimana, Do? Tinggal langsung syuting aja, kan?" tanya Berlina yang sudah menyusul Aldo ke dalam gedung.
π¨πΌ: "Iya, tapi gua mau ketemu sama Produsernya dulu bentar. By the way mana Farah, Ber?"
π©π»: "Belakang." jawab Berlin santai.
π¨πΌ: "MANA?" tanya Aldo sekali lagi dengan intonasi yang lebih tinggi.
π©π»: "Apasih? Ada ko--" Berlina menoleh ke belakang namun dia tidak mendapati Farah yang harusnya sedang berdiri di belakangnya.
π©π»: "...Astaga..Hilang?"
π¨πΌ: "Kok lu bisa meleng sih? Udah tau dia lebih lincah dari kera. Masih ada waktu, ayo kita cari dia."
π©π»: "Kera? Kalo di denger fansnya, bisa jadi abu gosok lu."
*****
Sesampainya di warung pinggir jalan itu, Farah merasa terlalu senang sampai lupa dia adalah artis yang sedang naik daun. Yang seharusnya tidak pergi sendirian tanpa ditemani manajer ataupun bodyguard.
Padahal warung itu sedang ramai pengunjung. Terlebih lagi di penuhi mayoritas fans 'Luvez', singkatan dari Luvi dan Eza. Nama pemeran utama di film Smile Schedule.
Mereka sengaja berkumpul di warung dekat gedung stasiun TV, karena tau pemeran Luvi dan Eza akan datang. Mereka sedang sarapan sebelum memberi semangat para idolanya dari luar gedung.
π§π»: "Alhamdulillah ada yang jual Churros dekat sini. Permisi, saya mau beli churros."
π§: "F-fff-fa..Farah!? Farah Zoher? Luvi!? B-Beneran de-..depan mata nih?" ucap salah satu rombongan anak remaja yang lagi nongki di warung itu.
Sedangkan yang lain hanya terbengong, membulatkan matanya tidak percaya dan ada juga yang sampai menampar dirinya sendiri karena mengira ini mimpi. Mereka tidak menyangka Farah, pemeran Luvi idola mereka akan muncul di hadapan mereka seperti ini.
Farah mulai dikerumuni para fansnya, dia kebingungan dan hanya melangkah mundur sambil tersenyum simpul. Ini pertama kalinya dia sendirian berhadapan dengan para fans. Ada rasa senang dan juga rasa takut.
Dia melihat ada salah satu fans pria yang menatapnya tanpa ekspresi kemudian menyeringai membuat bulu kuduk Farah merinding. Dia jadi ingat kata-kata Aldo, diantara para Fans ada yang berbahaya.
Puk!
π§π»: "Kyaa kaget!"
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Farah dari belakang. Saat Farah menengok ke belakang, dia langsung menghela nafas lega.
π§π»: "Pak Ocom?"
π§πΎ: "Maaf ya semuanya. Tapi nona Farah sedang ada jadwal syuting. Kami permisi."
π§: "Bapak kok tau saya disini?"
π§πΎ: "Kita bicarakan nanti saja. Ayo nona Farah jalan duluan. Biar saya jaga dari belakang."
*****
Farah muncul di hadapan Aldo dan Berlina, diikuti oleh Pak Ocom yang menjaga dari belakang. Farah hanya memasang wajah melas mengharap ampunan. Terlihat dari raut wajah Aldo sangat marah, urat-uratnya sampai kelihatan. Di samping Aldo ada Berlina yang tak kalah sinis menatap Farah.
π§π»: "Hai A-Ayah Hehe" ucap Farah cengengesan.
π¨πΌ: "Berlina."
π©π»: "Ya?"
π¨πΌ: "Bawak Farah ke ruang make-up sekarang. Bentar lagi acaranya mulai."
Farah menghela nafas panjang. Dia kira dia akan langsung diocehin habis-habisan oleh Aldo karena sembarangan pergi tanpa izin. Tapi ternyata Aldo malah bersikap seolah-olah Farah tidak melakukan kesalahan apapun.
tumben Aldo ngga kayak biasanya. Aman dong gue hehe,-batin Farah, bahagia.
π¨πΌ: "Farah, jangan pikir lu lolos ya. Kita bicara nanti selesai syuting."
π§π»: "I-Iya Ayah." ucap Farah sambil menghembuskan nafas kasar. Dia pikir Aldo tidak marah, tapi ternyata hanya menunda marahnya.
Farah dibawak Berlina ke ruang make-up untuk dirapikan make up nya yang berantakan karena keringat bercucuran. Di ruang make-up, Farah tak berhenti memikirkan bagaimana nasibnya nanti.
Dia tau kalau Aldo udah marah banget, biasanya esoknya Farah tidak dikasih izin keluar rumah. Padahal besok jadwal syuting Farah kosong, dia berencana untuk pergi ke taman bermain bersama Berlina.
π§π»: "Argh gue kira dia kagak marah. Mampus dah gue."
π©π»: "Mana mungkin dia kagak marah. Gila lu. Dia cuman nahan." ucap Berlina sambil mencubit pipi Farah, geram.
π§π»: "Batal deh besok. Maaf ya Berlin."
π©π»: "Udah tenang aja. Nanti gue coba bicara lagi sama Aldo." ucap Berlina. Farah cemberut sambil mengangguk pasrah.
*****
Syuting TalkShow akhirnya selesai. Farah merenggangkan pinggangnya dan terduduk lesu di sofa. Dia capek habis dihujani banyak pertanyaan dari host acara tersebut. Tipe pertanyaannya juga selalu sama, tentang gosip hubungan Farah pemeran Luvi dan Zayn pemeran Eza. Sangat membosankan baginya.
π±π»: "Hei Farah apa kabar? Udah lama ya." sapa Zayn, aktor yang memerani peran Eza, lawan main Farah dalam film Smile Schedule.
π§π»: "Iya."
π±π»: "Lu gak berubah ya haha. Gua kira kita udah jadi temen deket. Tapi chat gua aja gapernah lu baca. Fans Luvez pasti sedih nih." ucap Zayn dan hanya dibalas singkat oleh Farah tanpa menatap wajah Zayn.
π§π»: "Iya."
π±π»: "Kalo depan kamera lu selalu tanggepin gue ngomong apa. Giliran di belakang kamera dingin banget. Senyum dikit aja ngga."
π§π»: "Iya."
π±π»: "Ah gua tau. Pantesan aja lu bisa mendalami peran Luvi. Lu juga punya smile schedule,kan? Ngaku aja."
π§π»: "Iya."
π±π»: "Lu denger gue?"
π§π»: "Iya."
π±π»: "Ga denger?"
π§π»: "Iya."
π±π»: "Jadi denger apa kagak?"
π§π»: "Iya."
π±π»: "Ga ada kata lain selain 'iya', gitu?"
π§π»: "Iya."
π±π»: "Kayaknya lu ngerasa terganggu. Yaudah gua cabut aja."
π§π»: "Hore."
π±π»: "Haha keterlaluan banget lu. Tapi gua suka. Jaga diri lu ya, jangan sampe sakit. Gua pulang duluan. Bye."
Farah tidak sepenuhnya lega saat Zayn berhenti mengusiknya. Karena sebentar lagi, Farah akan di ceramahin oleh Aldo. Dia sudah bosan mendengar ocehan Aldo yang terlalu protektif. Tapi Farah harus memaklumi itu, karena dia tau Aldo sangat menyayangi dirinya dan Berlina. Aldo tidak mau hal buruk menimpah mereka berdua yang merupakan sahabatnya dari jaman SMA.
*****
Aldo mengajak Farah dan Berlina berbicara di belakang gedung. Ekspresinya bercampur aduk, antara marah, sedih, khawatir. Dia tau Farah memang suka menghilang tiba-tiba dan sulit diatur. Andai saja Farah tau, kalau Aldo sering menerima pesan ancaman yang ditujukan kepada Farah. Tapi Aldo tidak bisa memberi tau Farah, karena takut mengganggu konsentrasi Farah selama bekerja.
Seorang artis tidak hanya memiliki banyak fans, tetapi juga memiliki haters. Karena artis juga seorang manusia, sudah pasti Farah pernah melakukan kesalahan tak disengaja yang membuat munculnya seorang haters. Atau bisa juga dari kalangan sesama artis yang iri dengan kesuksesan Farah. Namun Farah kadang tidak mengerti akan hal itu.
π§π»: "Ayah marah banget ya? Maaf ya Ayah hehe."
π¨πΌ: "Berhenti panggil gue Ayah. Gue bukan bapa lo."
π§π»: "Iya maaf deh. Gue tau gue ceroboh. Gue tau lu marah karena khawatir takut gue kenapa-napa."
π¨πΌ: "Itu lu ngerti! Sekali-kali dengerin dong omongan gue. Tadi itu bahaya banget. Itu bukan fanmeeting resmi, ga ada yang ngejaga lu. Kalo ada orang jahat gimana, hah?!"
π§π»: "Gue pukul."
π¨πΌ: "Emang bisa? Enak kalo lu bisa bela diri. Ini apaan. Kurus kering. Sekali bacok hilang dah tuh nyawa."
π§π»: "Gila omongan lu, Do. Jahat banget."
π¨πΌ: "Gue jahat?"
π§π»: "Engga. Bukan gitu."
π©π»: "Udah dong Do marah marahnya. Ntar cepet tua lu."
π¨πΌ: "Heh Berlin! Lu juga salah ya. Jadi gausah sok ngebelain si Farah."
Berlina terdiam. Dia melirik ke arah Farah, dilihatnya mata Farah yang memerah dan berkaca-kaca. Farah menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk menahan isak tangis.
Aldo sadar kalau kata-katanya sudah kelewatan. Dia memukul keras tembok sebelahnya. Menyesal sudah membuat Farah menangis. Tapi dia ragu untuk minta maaf sekarang. Dia ingin membiarkan Farah mengintrospeksi diri dulu agar tidak sembrono lagi ke depannya.
π¨πΌ: "Mana Pak Ocom?"
π©π»: "Tadi izin ngopi di warung."
Setelah bertanya tentang keberadaan Pak Ocom, Aldo meninggalkan Berlina dan Farah begitu saja tanpa mengatakan apapun. Berlina memeluk erat Farah dan menepuk pelan pundaknya, berusaha untuk menenangkan Farah.
*****β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’*****
Sampai jumpa di part selanjutnya




part selanjutnya>>>
Diubah oleh TwinkleLittleSt 26-01-2020 12:50
sriwijayapuisis dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas