- Beranda
- Stories from the Heart
Dendam Hantu Penunggu Pohon Beringin.
...
TS
lintangayudy
Dendam Hantu Penunggu Pohon Beringin.

Aku terbangun di belakang sebuah gedung tua. Di bawah sebuah ayunan usang dari ban bekas yang bergelayut di bawah pohon beringin. Aku bingung, mengapa aku bisa terbangun di tempat sepi ini?
Sinar rembulan tampak malu-malu menampakkan diri. Tiba-tiba bau anyir darah memenuhi penciumanku. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Aku tergugu saat melihat sesosok wanita tergeletak tak jauh dari bawah pohon beringin ini.
Melihat kanan-kiri berharap ada orang yang menemaniku untuk tahu keadaan wanita itu. Nihil. Hanya aku sendiri.
Dengan penuh keberanian, aku melangkahkan mendekat.
Saat terlihat dengan jelas wanita bergaun merah itu, refleks kututup mulut rapat-rapat. Tubuhku lunglai, pandangan mengabur dan peluh membanjiri wajah tapi aku mencoba tetap berdiri.
"Tidak! Tidak mungkin itu aku!" gumamku.
"Tolong!"
"Tolong!" jeritku ketakutan. Namun sayang, tak seorang pun yang mendengar, hanya suara jangkrik yang bersahutan.
Aku berlari sejauh mungkin, tetapi seberapa jauh berlari, aku tetap kembali ke tempat ini. Lelah, kuputuskan untuk duduk di depan tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Melihat tubuh yang sudah terbujur kaku, darah yang mengering, serta luka lebam di setiap jengkal tubuh itu.
Terisak, menangisi kisah hidupku yang berakhir tragis.
*****
"Luna … cepat, Sayang. Nanti telat loh," panggil Mas Raka, sembari membawa peralatan manggungku.
"Sebentar, Sayang," balasku sambil memastikan penampilan sudah sempurna.
Lalu aku segera meninggalkan meja rias. Berlari keluar kamar menyusul kekasihku yang telah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Sudah dibawa semua, Mas?"
"Sudah,"
Beberapa saat kemudian mobil meninggalkan halaman rumah.
"Kamu sudah hubungi Mas Dimas, Na?" tanya Mas Raka.
"Sudah kemaren, Mas. Setelah manggung di Bogor, kita jadi liburan ke kampungmu kan, Mas?"
"Jadi, makanya aku suruh kamu hubungi Mas Dimas, biar dia bisa atur ulang schedule kamu."
*****
Kini, kami sudah berada di rumah orang tua Mas Raka, di sebuah desa terpencil di kaki gunung Slamet. Perjalanan panjang tadi menyisakan rasa lelah, hingga aku putuskan untuk beristirahat lebih awal.
Saat akan merebahkan tubuh di atas kasur, gawai dari dalam tas Mas Raka berdering. Kuambil dan menggeser tombol hijau di sana.
"Hallo, Mas Raka, tadi aku lihat mobilmu lewat depan rumah, sudah nyampe? Koq nggak langsung hubungin aku sih?" ucap seorang wanita di dalam gawai
"Ha ...." ucapanku terputus, dari belakang Mas Raka mengambil paksa gawainya.
Netra cokekatnya menyalak merah setelah membaca nama di layar ponsel.
"Kenapa memgangkat telpon orang sembarangan, HAH!" hardik Mas Raka.
Aku hanya terdiam, rasa lelah yang menderaku kini telah sirna seketika.
"Sudah kuperingatkan untuk tidak mengangkat ataupun membaca pesan, masih saja begitu!" ucapnya berlalu pergi meninggalkan kamar.
"Kamukah itu, Mas?" Tetesan bening keluar dari sudut netraku.
Ada rasa ngilu di dalam dada. Setelah hampir setahun mengenal lelaki berperawakan tegap itu, ini kali pertama ia marah.
Suara adzan magrib tengah berkumandang, karena sedang tidak shalat aku pun tidak beranjak dari atas kasur. Terdengar suara pintu berderit, Mas Raka masuk ke kamar, berjalan mendekat dan membetulkan selimut setelah sebelumnya mencium kening, langkahnya pun pergi menjauh.
*****
"Mas Raka!" teriakku. Di depan sana, Mas Raka dengan seorang wanita muda sedang bergumul mesra. Mata kami bersiborok, kilat kemarahan nyata terlukis di netranya. Sang wanita segera menyambar baju yang teronggok tak jauh dari tempat mereka memadu kasih.
Plak!
Rasa perih di tangan setelah menampar wanita itu dengan keras, tak seperih luka di dalam dadaku.
Melihatku menampar wanita berkulit putih itu, Mas Raka beranjak dari atas kasur.
Plak!
Tamparan keras dari tangannya mengenai pipi kiri dengan sempurna. Rasa sakitnya sampai masuk ke dalam hati. Kuusap sudut bibir yang mengeluarkan darah.
Mataku mencari sesosok perempuan yang tengah tersenyum sinis. Setelah dapat menjangkaunya, kutarik rambut hitam panjangnya, raungan kesakitan keluar dari bibirnya yang ranum. Belum puas kulayangkan tangan untuk menamparnya lagi, tapi naas Mas Raka lebih dulu melemparku ke atas ranjang.
Ia sambar gesper di bawah kakinya, dengan membabi buta gesper itu mengenai tubuh kecilku dengan keras. Masih tak menyerah, dengan sisa tenaga aku berdiri menjangkau perempuan itu. Kalah sigap Mas Raka lebih dulu melempar tubuhku ke dinding, kepala pening, pandangan mengabur namun masih memiliki kesadaran.
"Mas," rengekku, mencoba meminta belas kasihan.
"Aku sudah muak, Luna. Sudah lama mencoba menahan diri untuk tidak menyakitimu tapi sikapmu itu yang membuatku kalap," ucapnya penuh emosi.
"A-apa ma-maksudmu?"
"Aku tau apa yang kamu lakukan bersama Dimas di belakang panggung kemarin," ucapnya pilu.
"Aku mencintaimu, Luna. Sangat," isaknya terdengar, wanita di belakang membelai lembut bahu Mas Raka.
"Ma-af," gumamku.
"Aku tidak butuh maafmu, rasakan kesakitan ini," ucapnya sambil mengayunkan gesper kulit itu ke arahku.
Masih dengan sedikit kesadaran, merasakan sesuatu tajam menghujam jantungku, perih juga terasa di seluruh tubuh ini.
****
"Ampuun! Ampuuun, Luna," mohon Mas Raka.
Braakk
Kulempar tubuh Mas Raka. Kepalanya menghantam dinding dengan keras, darah mulai mengucur dari pelipis kirinya. Tubuhnya lunglai lalu terjatuh di lantai, kutarik gesper yang masih terpakai.
Trashh
Trashh
Tak kenal ampun kulayangkan gersper itu ke sekujur tubuhnya, sama persis seperti yang ia Lakukan padaku sebulan yang lalu.
"Luna, tolong ampuni aku, maafkan aku," rengekmu.
Tak kuhiraukan rengekan Mas Raka. Kuambil pisau yang ada di atas nakas.
"Ini pembalasan dariku," teriakku. Menghunuskan pisau tepat di jantungnya.
"AAA ...." Teriakanmu menggema di seluruh ruangan.
Belum puas, kulukis wajah tampan serta tubuh tegap Mas Raka dengan pisau ini. Darah terus mengalir dari setiap sayatannya. Ia meringis menahan perih.
"Hihihi ... hihihi."
Tawaku menggema seiring rintihan tangis Mas Raka. Sorot matanya mengiba, namun tak kuhiraukan, itulah balasan yang setimpal.
Hanya karena cemburu buta dan harta, ia dengan tega menghabisi nyawaku tanpa belas kasihan.
Meski terluka parah dan bermandikan darah, kesadaran lelaki brengsek itu masih terjaga.
Fajar sebentar lagi datang, aku pun segera keluar dari raga Putri, perempuan yang telah membantu Mas Raka menghabisi nyawaku. Perlahan ia mulai membuka mata.
"Aaa ...." teriak gadis berlesung pipi itu saat melihat wujudku.
Senyumku menyeringai kuhampiri dia yang tengah ketakutan, peluh membanjiri wajah cantiknya. Dengan tergopoh-gopoh dia berlari menjauh dariku.
Bruugh
Putri terjatuh tersandung tubuh Mas Raka.
"Aaa ...."
Shock melihat apa yang telah terjadi pada kekasihnya, gadis itu pingsan di atas tubuh lelaki itu.
Setelah puas dengan apa yang kulihat, aku pulang kembali ke pohon beringin yang sekarang menjadi rumahku.
End.
Jogja, 4 April 2019
Back Indeks Link
Diubah oleh lintangayudy 05-02-2021 22:43
meydiariandi dan 55 lainnya memberi reputasi
56
32.9K
563
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lintangayudy
#10

Judul : Gadis
Penulis : Lintang
Kubuka jendela kamar, menikmati udara segar setelah seharian kota Bogor dilanda hujan. Bersandar pada dinding kamar, kulihat pijar bintang yang mulai meredup, menatapnya kosong.
Puas menikmati langit malam, kuedarkan pandangan ke seluruh ruang kamar. Mataku tertuju pada boneka lusuh di atas nakas. Kuraih boneka bermata tajam itu, ada bekas sayatan di pipi kirinya, serta noda merah seperti darah di dadanya. Kusisir kasar rambut boneka itu dengan jemari tangan, serta memperbaiki rok yang acak-acakan.
Cantik. Apakah, gadis kecil itu sengaja memberikan boneka ini padaku?
Kembali teringat saat dalam perjalanan ke villa ayah, di dalam bus, aku duduk di sebelah nenek tua yang sedang memangku gadis kecil dengan boneka ini dalam genggamannya.
Gadis empat tahunan dengan rambut panjang, serta bermata belo. Melihatnya membuat teringat seseorang yang sepertinya telah lama kukenal, tapi, entah siapa.
Tak ada perbincangan, hanya gadis kecil itu sesekali memanggil sang nenek yang terus menatapku tajam. Merasa tak nyaman dengan pandangan wanita tua itu, aku pun memilih untuk memejamkan mata. Saat terbangun mereka sudah tak ada, tapi boneka gadis kecil itu ada di pangkuanku. Kuedarkan pandangan mencari keberadaan mereka, nihil.
~~~
Lingsir wengi
Sepi durung biso nendro
Kagodho mring wewayang
Kang ngerindu ati
...
Sayup-sayup terdengar suara tembang jawa mengalun dengan merdu. Suaranya lirih hampir tenggelam oleh derasnya hujan.
"Tolong, tolong aku ...." Suara rintihan gadis kecil terdengar memelas.
Mendengar suara tembang jawa serta rintihan meminta tolong yang saling bersahutan membuatku ketakutan. Sekuat tenaga, kucoba membuka mata, gagal.
"Tolooong!"
Terdengar teriakan ketakutan dari gadis kecil, saat itu juga aku langsung terbangun. Kuusap peluh yang membanjiri wajah dan mengucap istighfar berkali-kali.
"Alhamdulilah, cuma mimpi," ucapku sambil menepuk-nepuk dada kiri.
Setelah meminum air putih di atas nakas, aku pun kembali bersiap untuk melanjutkan tidur. Meraih boneka, lalu memeluknya erat.
~~~
"Non, Non Hana." Sayup-sayup terdengar suara Mbok Darmi memanggil namaku.
"Ya, Mbok. Masuk aja," ucapku.
Pintu terbuka, seorang wanita separuh baya masuk dengan membawa gawai di tangan kanannya.
"Non, Nyonya Ratih menelepon. Katanya handphone Non Hana nggak bisa dihubungi dari kemaren," ucap Mbok Darmi sembari mengulurkan gawainya.
Dengan malas aku mengambil gawai dari tangan Mbok Darmi.
"Astaghfirullahaladzim! Pipi, Non, kenapa?" tanya Mbok Darmi panik.
"Nggak papa, Mbok. Simbok lanjutin kerjaan aja sana," perintahku.
Dengan malas Mbok Darmi pun pergi meninggalkan kamarku.
"Hallo, Mah,"
"Hallo, Sayang. Kamu apa kabar? Kenapa handphone dimatikan sih? Mamah sama papah khawatir, Sayang," cecar mamah dari dalam telepon.
"Hana baik-baik saja, Mah."
"Alhamdulilah, Mamah sudah bilang kan? Kalo sudah sampai villa tuh telepon, apa susahnya sih, Sayang?"
Aku terdiam. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutku.
"Kamu yang sabar ya, Sayang. Masih banyak orang-orang yang sayang sama kamu. Kamu nggak boleh berbuat yang macam-macam," ucap Mamah.
Mulutku masih membisu, tak terasa setetes air keluar dari sudut mata.
"Sayang?"
"Iya, Mah. Hana baik-baik saja. Hana sudah ikhlas. Mamah sama Papah tidak perlu khawatir lagi, ya?" ucapku sambil menyeka air di sudut mata.
"Gimana acara pernikahan Dira dan Mas Prabu, Mah? Lancar, kan?" tanyaku.
"Alhamdulilah lancar, Sayang. Doakan semoga mereka bahagia, ya?" jawab mamah.
"Amiin. Udah dulu ya, Mah. Hana mau mandi, udah siang ternyata, assalamualaikum," ucapku langsung menekan tombol merah tanpa menunggu jawaban salam dari mamah.
Setelah memutuskan panggilan, tangisku pun pecah. Kurasakan lagi sakit akibat penghianatan yang dilakukan sahabat dan mantan tunanganku.
Seharusnya kemarin adalah hari pernikahanku, tetapi impian untuk bersanding di pelaminan gagal, setelah Dira ternyata sedang hamil anak Mas Prabu. Tidak kuat melihat mereka menikah, aku pun memilih kabur ke villa ayah, untuk menenangkan diri.
Setelah tangisanku mereda, segera beranjak menuju kamar mandi. Saat melihat cermin, aku terkejut, ada sayatan panjang di pipi kiriku.
"Pipiku kenapa?" tanyaku heran.
~~~
"Ibu, Ibu! Tolong aku, Bu." Terdengar rintihan dari dalam kamar.
Aku segera bangun dan mencari sumber suara, tak ada siapa pun. Kutarik selimut dan kembali memejamkan mata.
Lingsir wengi
Sepi durung biso nendro
Kagodho mring wewayang
Kang ngerindu ati
Alunan tembang jawa mengusik tidurku. Segera mengambil bantal dan menutup kepalaku. Berhasil, tak terdengar lagi suara nyanyian itu.
"Tolong!" Jeritan anak kecil menggema di kamar. Aku segera terbangun dari tidur.
Di pojok kamar, kulihat seorang anak kecil memeluk boneka dan lelaki kekar bertelanjang dada dengan tangan kanannya memegang cutter berada tepat di depan gadis itu. Tangan kiri Lelaki itu menangkup wajah anak kecil itu.
Clash clash
Lelaki itu menyayatkan cutter di wajah mungil gadis itu, darah menetes dari pipinya.
"Tolong, Ibu," Gadis itu menatapku iba. Aku terdiam, tak sepatah kata pun yang mampu keluar dari mulutku.
"Jangaaan!" Aku pun menjerit saat melihat lelaki itu akan menyayat wajah gadis itu lagi.
Aku segera melemparkan bantal serta gelas di atas nakas ke arah lelaki itu. Namun, ia itu tetap melancarkan aksinya. Cutter itu kembali melukai wajah gadis itu.
"Jangaaan!" Aku terus menjerit sambil melemparkan apa saja yang ada di sekitarku.
Aku segera beranjak dari atas kasur, berlari ke arah anak itu. Namun, sebelum sampai ke tempat mereka, sebuah sayatan mengenai pipi kiriku. Langkahku terhenti, menyeka darah yang menetes di sudut bibirku.
"Tidaaak!" Jeritku saat lelaki itu menghunuskan cutternya ke perut gadis itu.
Gadis serta lelaki itu menghilang saat Mbok Darmi membuka pintu kamarku.
Melihat seisi kamar yang berantakan, serta melihat keadaan wajahku berdarah dan terdapat luka sayatan, membuat Mbok Darmi berlari ke arahku.
"Ada apa, Non?" tanya Mbok Darmi panik.
"I-itu, di situ ada anak kecil. Di-dia disiksa pria kejam, Mbok," jawabku dengan derai air mata sembari menunjuk pojok kamar.
Kupeluk erat tubuh gempal Mbok Darmi.
"Tidak ada apa-apa, Non. Ayok kita obati luka Non." ucap Mbok Darmi.
Kuanggukan kepala sebagai jawaban.
~~~
Kunikmati malam di gazebo dekat kolam renang, sambil memainkan rambut Gadis, nama untuk boneka itu. Suasana semakin sepi setelah tadi siang Mbok Darmi meminta ijin pulang kampung.
Lingsir wengi
Sepi durung biso nendro
Kagodho mring wewayang
Kang ngerindu ati
...
Terdengar alunan tembang jawa dari dalam rumah.
"Siapa, yang nyetel musik malam-malam begini?" gumamku.
Aku pun segera meninggalkan gazebo. Setelah membuka pintu rumah, listrik padam, di dalam maupun di luar villa menjadi gelap.
"Astaghfirullah," ucapku terkejut. Aku pun berjalan sambil meraba-raba dinding. Alunan musik tembang jawa semakin keras terdengar.
"Mbok Darmi? Mbok?" teriakku memanggil asisten rumah tangga yang sudah puluhan tahun mengabdi pada keluargaku.
"Mbok?" Ah, bukankah wanita itu tidak ada di sini?
Rasa takut kian mencekamku, saat tersadar bahwa cuma aku sendirian di dalam villa. Dengan penuh keberanian, kulangkahkan kaki memasuki rumah.
Langkahku terhenti saat merasakan kaki kanan menendang sesuatu, meraba mencari barang apa yang kutendang tadi.
"Dapat," ucapku semringah.
"Gadis?" gumamku.
"Bukankah Gadis aku tinggal di gazebo tadi? Kenapa bisa di sini?" batinku.
Nyanyian tembang jawa masih mengalun, aku mencoba berjalan dalam kegelapan, ke arah sumber nyanyian tadi.
Aku terjatuh, menimbulkan suara berisik. Gadis terlepas dari genggaman. Kuraba lantai mencari di mana boneka itu berada.
Tiba-tiba pipiku tersayat benda tajam. Entah siapa yang melakukannya. Darah pun menetes. Perih mulai terasa, suasana semakin mencekam saat kudengar suara isakan tangis anak kecil.
"Tolong, tolong aku ...." Suara rintihan itu semakin terdengar jelas. Bulu kudukku mulai meremang. Villa gelap gulita, hanya temaram sinar bulan yang masuk lewat celah jendela.
Tiba-tiba kembali ada yang menyayat pipiku beberapa kali.
"Auu!" Aku teriak saat merasakan beberapa sayatan lagi di wajah.
"Tolong!!!" teriakkan gadis itu terus menggema. Alunan tembang jawa juga semakin keras terdengar. Rasa takutku semakin menjadi.
"Siapa, kamu?" teriakku tak kalah keras.
"Tunjukkan, siapa dirimu!" Teriakku lagi. Langkahku mulai gontai.
"Aaa ...!" Aku menjerit ketakutan saat ada yang menarik-narik piyama.
"Tolong, aku," seru gadis kecil di belakangku.
Kuhentakkan tangannya. Dengan sisa tenaga aku mencoba berlari menjauhi gadis kecil itu.
Namun sial, aku terjatuh lagi.
"Boneka sialan," makiku pada boneka itu. Kuambil dan melempar sembarang ke arah dinding.
"Aauuu!"
Gadis kecil tadi meringis kesakitan saat boneka itu membentur dinding.
"Aaa!!!"
Aku menjerit sekuat tenaga saat ada yang menyeret kaki. Rasa pening mulai melanda kepala.
"Ya Allah, lindungi hamba. Mamah, Papah tolongin Hana," doaku dalam hati.
Lampu berkedip-kedip menyala. Kulihat seorang gadis kecil yang pernah kutemui di dalam bus sedang duduk di pojok ruangan dengan memeluk erat bonekanya, pipinya terdapat beberapa sayatan, sama sepertiku.
Sedang di depan pintu masuk sang nenek menatapku tajam, tangan kanannya memainkan cutter. Wanita tua itu menyeringai, melangkah mendekat ke arahku.
"S-siapa kamu?" tanyaku ketakutan.
"Kamu tak mengenaliku, anak manis? Kamu juga tidak mengenali anak kandungmu itu?" jawab nenek itu sembari menunjuk gadis kecil yg sedang terisak di pojok ruang tamu.
"A-anak?" Alisku mengkerut.
"Anak si-siapa, maksudmu?" tanyaku bingung.
Kini jarak kami hanya tinggal sejengkal, posisiku masih tergeletak di lantai. Nenek itu membungkuk, tangan kirinya menangkup wajahku, sedangkan tangan kanannya memainkan cutter.
Clash! Clash!
Sayatan demi sayatan ia lukis di wajahku, darah segar kembali menetes. Kutahan perih di sekujur tubuh. Aku sudah tak mempunyai tenaga untuk melawan nenek tua itu.
"Gara-gara, kelakuan kamu. Anak serta cucuku menjadi korban. Kamu memang pantas mendapatkan balasannya, Hana," ucapnya.
Saat melihat nenek itu mau menghunuskan cutter ditangannya ke arahku, mataku memejam, pasrah.
"Jangaaan!" teriak seseorang dari arah pintu. Nenek tua itu pun menoleh ke arah suara.
"Mamah?" gumamku.
"Maafkan, Hana, Bu?" pinta mamah kepada wanita tua itu.
"Ada apa sebenarnya? Siapa gadis kecil dan nenek tua itu? Kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali?" batinku.
"Gara-gara wanita sialan ini, Gana menyiksa anaknya sendiri sampai mati!" teriak nenek itu frustasi.
"Karena penghianatan kamu, Hana! Gana menjadi gila. Dia siksa anaknya sebagai pelampiasan kemarahannya terhadapmu. Anakmu mati ditangan ayahnya sendiri," terang nenek tua itu, tangisnya pun pecah.
"Kau akan merasakan bagaimana cara anakmu menjemput ajalnya, Hana," ucap nenek tua itu lagi.
Matanya menyalang, tangan kananya semakin erat mencengram cutter. Bersiap untuk melukai wajahku lagi.
"Maafkan, Hana. Dia juga menjadi korban, Bu," pinta mamah.
"Ini salahku. Maafkan aku, Bu," ucap mamah lirih.
"Saat Hana dan anaknya dalam perjalanan pulang dari Jakarta waktu itu, dia mengalami kecelakaan, dan amnesia," terang Mamah, penyesalan tampak jelas di kedua matanya.
Sepertinya nenek itu mendengarkan ucapan mamah. Terbukti cengkramannya di wajahku mengendur. Aku terbatuk, kulihat gadis kecil dipojokan itu melihatku iba, wajahnya memelas sarat akan kesedihan.
"Kenapa seakan aku mengenalinya? Siapa dia?" batinku lagi.
Kulihat mamah serta papah masih berdiri diambang pintu yang terbuka lebar, di belakangnya Mbok Darmi bersama seorang laki-laki tua bersorban.
"Aku telah memanfaatkan sakit Hana untuk memisahkan mereka. Maafkan kesalahanku, Bu. Aku sangat menyesal," mohon ibu.
Mendengar penjelasan mamah, cengkraman tangan nenek tua di kerah piyamaku semakin kuat. Dengan sekali hentak tubuh ini melayang menghantam dinding. Aku terjatuh tepat di samping gadis kecil itu, ia tersenyum. Aku pun membalas senyumannya.
Terdengar suara teriakan Mamah, Papah serta Mbok Darmi di sana, tapi aku tak memperdulikan mereka. Saat kulihat senyuman gadis itu lagi, aku mengingat seseorang, iya dia Gana, suamiku.
"A-anakku, Pu-putri," ucapku terbata. Setelah itu kulihat gadis kecil itu mulai menghilang, meninggalkan bonekanya yang tergeletak di depanku.
"Hana ...!" teriak Mamah dan Papah berbarengan.
Sebelum semuanya gelap, kulihat Mamah dan Papah berlari ke arahku.
End.
Jogja, 24 Mei 2019
Back Indeks Link
Diubah oleh lintangayudy 23-07-2019 15:20
mmuji1575 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup