TS
ibliss666
Cerita dan Inspirasi Bisnis ini Perlu di Baca agar Agan Sista Makin Kaya
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA




Jadi Bos itu Penting
Belajar untuk jadi Bos itu Perlu
Mulailah Dari Sini
Membaca Bersama Saya


Quote:
INDEX
Pengalaman bisnis Popok Kain
Think Big
Bisnis Melalui Instagram
Bisnis Hewan Qurban
Jas Hujan Muslimah
Kue
Mie Akhirat
Dasar Digital Marketing
Upgrade Bisnis dengan Coaching
Brand Identity
Branding Fast Changing Product
Pentingnya Tim
Strategi Bisnis Turun Temurun
Penyegaran Bisnis
Meningkatkan Daya Saing UKM
Sinergi Bisnis Online & Offline
Menentukan Bisnis dari DNA kita sendiri
Menjual Tanpa Bicara
Branding Wisata Indonesia
Zalfa Kosmetik
Menemukan Pelanggn, BUKAN pembeli
Billboard Jaman Sekarang
FOODTRUCK
Membangun Bisnis tanpa HUTANG
Marketing Plan
cairo food
5 syarat sukses bisnis online
Business Foundation
Pembukuan
Leads
Panen saat Lebaran
Perlakuan Terhadap Konsumen
Good to Read
Ghost Kitchen
Perjuangan NomiNomi dessert
Bisnis KESEHATAN
Warung Kopi
Baso Karawang
10 Modal Mental Entrepreneur
Rempah Indonesia
Bisnis Saat Corona
Flywheel BARU dalam Bisnis
Pengalaman jual CIRENG
Tentang Investasi
Quote:

Pada tahun 2015 mb novi (kalian g knal) datang berkunjung ke rumah saya dan melihat setumpuk popok kain yang merupakan sisa stok penjualan saya.
Saat itu saya adalah reseller kecil dari beberapa brand lokal dan brand china. Situasi pasar online di dunia popok sangat terasa dalam red ocean, dimana masing masing pemain saling membenturkan harga satu sama lain sekalipun itu brand lokal yang sebenarnya memiliki standart kualitas produk yang jauh lebih baik daripada brand china.
Nah momentum terjadi saat mb novi mengajak saya menjadi rekan bisnis dalam memasarkan popok dari hasil jahitan ibu mertuanya.
Saat melihat sample popok yang akan dipasarkan, seketika benak saya langsung menembak target menengah kebawah, dikarenakan kualitas bahan baku yang dipersepsikan pasar saat itu masih lebih rendah dibanding bahan baku dari beberapa brand pada umumnya.
Setelah beberapa waktu saya berproses menggali semua data, menentukan kompetitor dan lain lain. Kami mulai memasarkan produk ini (kami memberi nama Free) dengan sistem PO; sistem pemasaran pun ATM murni dari produsen lainnya.
Dan yang terjadi adalah dalam waktu 6 bulan sesudah launcing, produksi Free akhirnya harus off sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Masalahnya hanya satu satu nya tenaga produksi (yang tak lain ibu mertuanya) terkena serangan stroke.
Kami sama sekali tidak mempunyai Plan B karena miskin jaringan penjahit khususnya model halusan
Setelah 8 bulan berjalan akhirnya Free bisa bangkit kembali dengan berbekal evaluasi dari pengalaman sebelumnya, kami merombak semua manajemen yang kami lakukan, baik dr segi pemasaran dan produksinya.
Langkah pertama adalah menjaring data penjahit di sekitar tempat tinggal kami (radius sampai desa tetangga); hasil ternyata WOW, pengalaman kami mendapatkan 10 calon penjahit namun yang bisa dijadikan tim hanya 1-2 orang saja (kami memberikan contoh jahitan dan bahan dalam rupa potongan untuk dikerjakan sendiri dulu).
Di sisi lain saya yang bertanggung jawab dalam mendatangkan buyer, membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk merekrut tim marketing.

Singkatnya dalam kurun waktu 6 bulan (setelah momentum Free dibangkitkan), permintaan dari tim marketing cukup naik significant, namun disinilah akhirnya terkuak masalah masalah operation bisnis yang akhirnya membuat banjir bandang komplainan dari marketing.
Masalah masalah yang kami identifikasikan:
Quote:
1. Miskin jaringan di bidang penjahit hampir membuat kami frustasi.. Di wilayah trdekat kami memang banyak penjahit tp pengalaman menjahit popok kain sama sekali tidak ada.. Bisa dikatakan perjuangan kami dimulai dari nol..
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
2. Tidak ada standart bahan baku dan kompetensi tim produksi yang tidak seragam sehingga berpengaruh pada hasil jahitan yang bervariasi antar 1 penjahit dengan penjahit lainnya, terbukti dari komplain yang memberikan bukti foto ukuran popok yang tidak seragam.
3. Tidak ada kepercayaan dari supplyer. Kami mengawali biaya produksi mulai dari modal yang sangat minim, sehingga kami hanya mampu membeli bahan baku lewat distributor kain.
Disisi lain masing masing distributor memiliki suplay dari beberapa pabrik yang berbeda sehingga tidak ada standart bahan baku yang jelas.
4. Sistem produksi masih belum menemukan kesesuaian. Sehingga masih sering terjadi proses tumpang tindih akibat proses trial eror setiap saat bisa berganti.
Hasil dari kesalahan kesalahan diatas kami bayar mahal dengan cacian komplain tidak profesional dan ancaman pelaporan penipuan, karena kami mengirimkan popok ke buyer setelah h+3 minggu.
Antrian orderan marketing yang semakin mengular namun produksi tidak bisa mengejar dengan cepat.
Hal tersebut di atas sangat mungkin terjadi dalam dunia bisnis.
Belum bisa menghasilkan kolaborasi yang tepat antara tim marketing dengan tim produksi sehingga keduanya tidak sinkron.
Marketing yg sudah menguasai ilmu pemasaran bisa dengan mudah mendatangkan customer sehingga muncul "banjir order"
Sedangkan tim produksi yg belum matang dan belum siap menghadapi "banjir order" kesulitan dalam memenuhinya, terlebih lagi kendala teknis seperti pemadaman lampu yg kerap membuat tim produksi tidak bekerja, lanjut ketersediaan SDM dalam tim produksi pun belum menguasai teknik jahit "halusan" seperti popok (daerah wilayah kami memang bnyak penjahit tetapi umumnya berpengalaman di kemeja, kaos, jaket, celana jins adalah keunggulannya) sehingga kami harus menemani dalam proses membuka mindsetnya bahwa menjahit popok itu bisa mudah asalkan niat belajar dan praktek tekniknya.

Berbekal pengalaman yang sangat tidak mengenakan ini. Akhirnya kami melakukan evaluasi dan merombak untuk sekian kalinya.
Langkah langkah perbaikan :
Quote:
1. Adanya norm (standart) untuk semua aktivitas pekerjaan yang dilakukan oleh semua anggota tim (baik produksi, staff operasional, maupun marketing), seperti meliputi norm bahan baku, norm hasil potong, norm hasil jahitan, norm adminitrasi (keuangan, gudang, ekspedisi, penjualan, dsb), dll.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
2. Dibuatnya sistem yang lebih mudah dikerjakan maupun mudah dievaluasi. Berdasarkan dari alur kerja dari semua anggota tim yang berkesinambungan.
3. Pengembangan kualitas sumber daya manusia. Kegiatannya meliputi workshop untuk tim produksi, praktikum sesuai norm di masing masing aktivitas semua bagian, dll.
Dengan tujuan meningkatkan kompetensi semua anggota tim tanpa terkecuali.
Kami berdua selaku top manajemen, belajar untuk "merangkai" dari kompetensi masing masing tim.
Mengkolaborasikan dengan menanamkan nilai kerjasama tim dalam perumpamaan satu tubuh satu badan.
Bahwa bila ada satu bagian ada kendala/masalah maka bagian lagi juga akan tersendat sehingga berpengaruh pada keseluruhan aktivitas bagi brand Free
Hasilnya perlahan perlahan banyak perbaikan, diantaranya :
Quote:
1. Kapasitas produksi bisa naik mencapai target (setiap bulan selalu ada target naik 10-20%)
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
2. Hasil produksi sesuai standart yang sudah dibuat, komplain sudah hampir jarang terjadi.
3. Marketing semakin semangat memasarkan produk karena adanya perubahan hasil produksi yang memiliki standart jauh lebih baik daripada sebelumnya.
4. Masing masing anggota tim bisa bekerja dengan memaknai konsep tim work, terbukti kesalahan teknis yang sifatnya keteledoran bisa diminimalisir (karena angota satu sama lain saling mengkoreksi/mengevaluasi hasil kerja rekan di tahapan sebelumnya).
5. Masing masing anggota tim juga muncul rasa untuk selalu siap belajar apapun, karena mereka sadar bahwa alur kinerja memang berkesinambungan, sehingga apabila ada satu bagian yang mengalami masalah dalam pekerjaannya maka bagian yg lain dengan segera ikut menghandle pekerjaan tersebut sehingga alur kerja dalam tim tetap terjaga dengan baik
Quote:
Inspirasi Kedua
“THINK BIG TO BECOME BIG”
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
But, HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[visi gede anda seberapa GEDE?]
1. Ada orang yg membesarkan bisnis kuliner nya setelah bisnis pertama yg dia rintis dari awalnya kecil.., menjadi lebih besar, namun karena tempatnya yang sdh nggak mencukupi, maka mulailah buka cabang, karena sukses, maka buka cabang dan buka cabang lagi...
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
2. Ada orang yg buka usaha kuliner, cukup rame, namun nggak pernah membayangkan bisnis nya bisa buka cabang, dan dikembangkan menjadi berlipat-lipat. Malah orang lain yg bisa ngelihat alias punya “think big” yang menawarkan untuk membesarkan bisnis kuliner yg dimiliki itu. Dan benar aja, setelah ada “orang luar” yg “punya visi” & keberanian, bisnis kuliner nya membesar...
3. Ada orang yang awalnya blom punya bisnis kuliner, tapi sudah “punya think big”, dari awal. Dan sudah merancang untuk membuat bisnis kuliner yg sudah di design untuk bisa dikembangkan menjadi besar dengan jumlah cabang yg berlipat-lipat. Malah sekarang bisa berkembang secara “self running” / auto pilot.
Quote:
Termasuk yang mana anda diantara ketiga skenario diatas..?
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Apa bedanya owner/founders dari skenario 1 vs 2 vs 3?
Mana yang punya kemungkinan “TERBESAR” untuk jatuh atau bangkrut lebih cepat setelah bisnis kuliner nya membesar?
Berapa lama biasanya suatu bisnis kuliner itu mampu bertahan? Dan gimana cara nya supaya tetap bertahan & berkembang terus?
HOW BIG IS YOUR “BIG”?
[mau sebesar apa bisnis kuliner anda?]
[amankah posisi bisnis anda 5-10thn kedepan?]
Sumber:
koko hadiono - praktisi kuliner global & lokal > 22thn
Spoiler for anu:
pak Bi adalah seorang kontributor yang sering mengadakan seminar...
JIKA ADA PIHAK YANG TIDAK BERKENAN BISA PM SAYA YA

Diubah oleh muselimah 08-05-2022 06:38
ekspedisisby dan 26 lainnya memberi reputasi
27
47.3K
Kutip
212
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
UKM
14.8KThread•3.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ibliss666
#154
GHOST KITCHEN
Quote:

Ghost Kitchen/virtual/dark kitchen atau cloud kitchen memang masih agak asing dan aneh meski teman teman ternyata sudah banyak yang praktek
Sebagai bagian dari up date workshop Forum Resto Management yang secara periodik menyelenggarakan workshop dua hari untuk scale resto cara kelas dunia, bukan berarti FRM itu isinya melulu knowledge tentang resto kelas dunia tapi juga menjawab fenomina yang ada. salah satunya ghost kitchen GK. Bukan berarti kita membahas standard dan cara cara resto chain kelas dunia.
Sebenarnya banyak yang bilang terlalu dini membicara GK sebagai sebuah model bisnis karena mungkin bentuk secara nyata belum terlihat seperti di luar negeri (mikir juga namanya ghost kitchen hahahah). Tapi antisipasi wajib dipahami, GK bagaimanapun juga itu adalah potensi yang bisa digunakan baik new revenue stream atau new model bisnis.
Apa itu Ghost Kitchen ? . Yakni Yakni salah satu bentuk bisnis kuliner atau food service yang melayani secara eksklusive lewat telepon atau online saja. Tidak full service resto. Pengertian food service itu sebenarnya termasuk katering dan resto juga termasuk
Jadi mungkin karena itu disebut ghost kitchen karena tidak terlihat resto dan kursinya, tidak ada pembeli nya tidak bertatapan langsung, dapur juga bisa gak jelas dimana.
Bagaimana sih Model GK itu kok bikin penasaran ? Coba kita cek karakter dan batasannya

Multi Brand (multi segmen, multi menu) jadi bisa saja dalam satu dapur isinya 2 atau bahkan 5 brand lebih. Menunya juga bervarian bahkan bisa jadi tidak satu kategori menu. Misal bisa jadi satu dapur isinya Menu Burger, Kebab, Fried chicken dan seterusnya. Multi brand, itu pekerjaan sulit, jangan berpikir tidak perlu membuat brand per item nya, sangat bersiko kalau sekedar tempel nama merk atau brand doang tanpa jelas postioningnya . Loh kan, dipikir ghost kitchen gak perlu branding ?.. Ayo siapkan nama brand dan planing sesuai dengan value yang akan di angkat.
Multi market : Bisa saja marketnya di design sesuai dengan segmentasi yang diinginkan, sehingga marketnya sangat bervarian. Ini juga berarti potensi pengelolaan cara memasarkan dan pendekatan juga berbeda beda. Target market kelas C mahasiswa misalnya berbeda dengan Emak Emak Kelas C usian 35 sampai 45 mislanya, meski produknya sama sama Ayam Geprek sambal Segar. Misal. Ini wajib di kelola dengan baik jika tidak maka KANIBAL.
One Kitchen for all, share kitchen. Apa semudah itu mengelola produk dari satu dapur yang bisa jadi satu line produk tapi untuk banyak market yang berbeda. Nah, loooh, gak cukup kalau hanya sekedar ngasih keunggulan fisik karena hampir mirip, value add yang fisik ya standard banget. Misalnya, Dapur line Ayam Geprek, kalau target marketnya mahasiswa dan emak emak , kalau sama sama begitu pasti kanibal lah, kalau cuma kasih keunggulan ayam nya gede, sambal pedes, nasinya banyak, enak, kenyang. Itu tidak cukup loh. Beri value atau USP yang benar benar unik sehingga meski produk sama tapi beda banget.
Bekerjasama dengan pihak ketiga bisa dengan gofood, grab food atau yang sekarang banyak dipakai sama teman teman UKM agar ongkir free Tokopedia atau shopee. Optimalisasi old kitchen yakni memanfaatkan dapur lama dengan brand baru dan menu yang bisa jadi terlihat baru karena konsep baru. Playernya bisa jadi pemain resto, katering atau pemula baru yang langsung membuat konsep bisnis Ghost Kitchen.
Bagaimana sih Model Ghost Kitchen itu ????
Independent : yakni individu yang langsung set up ghost kitchen dengan brand yang diidentifikasikan dengan online. Ini cocok untuk start up karena biayanya sangat murah. Salah satunya yang lagi happening kepiting nyinyir.
Existing Resto : yakni Resto yang ada set up online brand dengan menggunakan fasilitas dan tenaga kerja yang sama. Optimalisasi dapur resto/dapur pusat. Keunggulanya low cost dan bisa untuk melakukan spin off ke resto fisik jika ternyata virtual diminati. (barusan aja brand teman kita mengabungkan kopi dan burger, untuk GK pakai brand baru dengan burger lama ditambah kopi aja)
Delivery Platform : Dapur yang didevelop khusus untuk menyediakan makanan sesuai dengan platform food order mereka. Multiple brand dibuat hanya ada di satu platform. Misal ubereats dan delivero membuat aneka brand Broklyn burger factory, mia wings dan French tacos yang bagian dari ubereats yang ada di platform food order delivero. Contoh ini mungkin banyak di luar negeri karena sudah ada perusahaan besar yang akuisisi GK dengan nilai fantastis.

ini kata pemiliknya GK dengan konsep Panjat sosial. Keren. Murah cepat balik duitnya
Apapun fenominanya, wajiblah melakukan upaya antispasi. Fenomina Ghost Kitchen tetap harus dimaknai sebagai peluang. Bukan Ancaman. Bisa jadi ini adalah bentuk pasar baru yang harus dipenuihi dengan cara dan gaya baru. Who knows kita tunggu perkembanganya. Hahahah dan sudah banyak yang menjalani diam diam, gak declare ada. declare ada. Ada loh yang membuat Ghost Kitchen sebagai model untuk belajar membuat brand baru begitu permintaan ok, segera dibuat dine in. Keren ya, cara yang murah bikin bisnis.
Jadi Ghost Kitchen Lebih Mudah ya ?, Kalau begitu tidak perlu paham manajemen resto modern dong , wong cuma dengan numpang kompor aja bisa bikin bisnisnya ?
Toh optimalisasi bisa dengan menu dengan stok keeping unit yang ada diputer puter , ngapain belajar atau paham manajemen resto ?
Menurut saya titik kritis dari Set up ghost Kitchen selain Branding harus kuat , adalah Service dan Quality Harus kuat. Kalau branding saya tidak ahli, tapi at least membuat produknya harus punya USP yang di luar fisik (karena berasal dari satu line produk, optimalisasi). Service jadi titik kritis, begitu pelayanan lelet dan lemot, anda sudah membuat patah hati konsumen yang tidak bisa anda handle face to face (gak kenal tapi mau beli) dan abang gojek yang bisa bisa kasih sumpah serapah dan menebar berita, malas ah ke resto dia, lama dan jutek. Anda membuat dua orang patah hati.
Tiitik kritis kwalitas menjadi penentu akhir apakah orang akan beli produk yang dibeli lewat online atau aplikasi. Mendesign GK jangan dipikir cuma sekedar memanfaatkan manusia yang ada bikin nasi goreng yang sama, terus diberi merk yang berbeda. Tidak juga,setiap merk harus memiliki perbedaan yang harus lebih dari merk kompetitornya. Training dan pemahaman optimalisasi yang punya keuntungan jadi penting. Karyawan harus pintar dan paham dengan tepat spesifikasi kwalitas yang dijanjikan.
Jadi, Apapun bentuknya, Manajemen resto kelas dunia yang sering kami ajarkan tetap diperlukan bahkan jika anda ambil GK ini, pemahaman Resto Manajemen Ala dunia yang sistematis harus lebih dipahami . Jadi itu lah salah satu alasan besar kami untuk teta mengajarkan manajemen agar bisa jadi panduan yang praktis menuju kelas dunia. Fenomina Ghost Kitchen ini juga ada yang kelas dunia loh . Contoh Keatz, Green Summit atau Delivero itu juga pertumbuhannya kelas dunia. Menurut saya ingin Bermain Ghost Kitchen Ayo belajar lebih jauh lagi manajemen restonya.
Q:
Selamat malam ,materinya menarik sekali, terimakasih telah berbagi ilmu dg kami.
Mau tanya Bu, bagaimana menurut Bu Yuyun terkait dg start up digital yg mulai menjadikan rumah makan/katering rumahan sbg partner, contohnya Start up Wahyoo, Kulina dan juga ada Red Kendi yg saya tahu...
apakah mungkin suatu saat mereka mereka inilah yg akan menjadi pemain Ghost Kitchen yg sesungguhnya?
Terimakasih
A:
kalau menurut saya sebenarnya kulina itu juga bagian dari ghost kitchen. Tetap shared kitchen kan ? pakai dapur orang lain yang bisa jadi ngerjain brand orang lain dan pembeli tidak bertatap muka serta lewat online aplikasi.
Q:
Saya pernah ke kantor kulina..cuma ruangan 6*6 yang isinya meja dan kursi buat meeting.
Tapi hampir tiap hari ada food tester untuk memastikan kualitas produk.
Dan saya rasa ini adalah new concept baru untuk get revenue. Dan pasti menunya akan lebih premium dan segmented.
Menurut ibu untuk konsep low cost food..apa cocok?
A:
sebenarnya kulina yang laris yang harga 15 an loh. Coba kita cek nasib Berry kitchen yang premium banget, kurang jalan sepertinya. Low cost ya pasti paling banyak peminatnya. Makanya diperlukan knowledge mengolah makanan yang efisien dan menentukan menu core yang menjadi pendorong bisnis kuliner. Ada prinsip dan ilmunya.Ini sangat detail . Kami lewat workshop FRM selalu memberikan detail manajemenyaa. Dengan sennang hati jika ingin join kita buka pintu
Q:
Bagaimana langkah2nya bu untuk menjadikan central kitchen sebagai GK?
A:
untuk membuat Central Kitchen jadi GK : 1. Design alur proses produk yang se line
Cek list kebutuhan alat dan bahan
2.Membuat kategory market dan brand, 3. Marketing analisa : positioning, target market , konsumer based
4.Menu Design dan Description
5.Memilih Platform online order (gofood, grabfood atau online mandiri)
6.Promosi
7.Validasi
8.Review : cut or re vise
9.New Brand atau Up dated brand. Ini pengalaman saya pribadi pak. Semoga sedikit gambaran jadi lebih jelas.
, Antisipasi adalah langkah paling strategis menghadapi era VUCA, Ghost kitchen adalah bagian dari fenomina yang muncul di era ini.Bentuk antisipasi harus tetap pada aksi yang akan membuat bisnis kita tetap bisa bertahan atau malah menambah pundi pundi baru. Tidak terlalu penting mungkin ini model bisnis baru atau new revenue, yang pasti ghost kitchen dengan hantunya adalah fenomina realistik. Tetap up date dan membuat manajemen yang sistematis membuat bisnis kuliner lebih mudah melakukan antisipasi apapun.
Diubah oleh ibliss666 05-07-2019 06:13
authetik memberi reputasi
1
Kutip
Balas