- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Kepala Kedua [20++]
...
TS
Kepalakedua
Cerita Kepala Kedua [20++]
Quote:
Buat orang-orang berumur dua puluhan yang mungkin lagi meragukan banyak kenyataan, tulisan ini aku persembahakan.
Spoiler for Cover:
Quote:
![Cerita Kepala Kedua [20++]](https://s.kaskus.id/images/2019/06/23/10623014_20190623090827.jpeg)
00: Dari Nol Ya!
Quote:
Di kamar kos yang minim fasilitas, aku duduk-duduk di kasur sambil baca buku paling menyedihkan di dunia; buku tabungan. Apa yang diceritakan di sana bikin aku menjerit, "YASALAAAM INI SALDO APA KODE POS?" Begitulah rasanya bangun tidur waktu hidup lagi tokai-tokainya. Dan itulah, satu dari sekian risiko mengejar passion dan mengikuti kata hati yang jarang diceritakan orang. Kata hati nggak pernah salah, cuma ya... sering juga bikin masalah.
Gimana caranya bayar kosan bulan depan?
Bakal cukup nggak ya buat makan?
Aing udah seperempat abad anjir masa gini-gini aja!
Aku mengangkat diri terus diam di depan lemari baju yang ada kacanya. Lumayan lama juga ya nggak melihat diri sendiri. Aku jadi pangling sama dia yang aku lihat di kaca. "Hei bro! Gagal lagi bro? Udah kerasa belum sakitnya? Hehe." Itu senyuman penuh ejekan, "kalem dulu, kalem."
Aku nunduk terus usap-usap wajah yang nggak seberapa indah, "capek juga ya ngejar-ngejar yang terbang." Keluhku.
"Kamu mah cuma denger kata orang sih, bermimpilah setinggi-tingginya. Giliran aing yang bilang kalau mau setinggi itu harus siap jatuh sesakit itu juga... nggak mau dengar." Suaranya meninggi.
"Maaf atuh anjir..." Balasku.
Demi mencari hiburan, aku membuka ponsel. Biasanya aku lihat-lihat Instagram. Aku suka Instagram, satu orang yang sama mukanya bisa beda-beda. Keren banget nggak sih...
Hari itu rasanya lain, nggak ada kesenangan kayak biasanya. Buka-buka dunia sosial maya bikin aku merasa semakin buruk. Aku berasumsi kalau semua orang punya hidup yang oke kecuali aku.
"Nggak gitu atuh anjir!" Dia bersuara agak keras. "Kamu nggak bisa megang kendali sama apa yang terjadi di luar sana. Kamu cuma bisa megang kendali sama apa yang di dalam situ." Dia menunjuk dadaku.
"Tapi..."
"Jangan lihat ke luar terus! Lihat ke dalam... ada aku."
***
Daripada tambah pusing, mending aku mandi aja. Terus ke luar cari udara segar yang sebenarnya nggak segar-segar amat. Mana ada udara segar di tengah kota Bandung yang lagi macet-macetnya. Di Lembang sana baru ada. Aku makan siang terus nongkrong di pinggir jalan Cihampelas. Banyak orang lalu lalang. Wajar, hari minggu waktunya orang-orang pada bersosialisasi. Jadi pada keluar rumah, biar kelihatan punya teman.
Duduk sendiri, mengamati orang-orang sekitar sini. Kalau diamati, rasa di wajahnya beda-beda. Aku jadi bertanya-tanya, mereka pada ngapain sih di sini? Pada bahagia nggak sih mereka itu? Lihat bapak-bapak tukang parkir itu? Iya, yang lagi ketawa lepas sama rekan sejawatnya. Mereka hore-hore di pinggir jalan, bukan tempat ngopi estetik.
Dia punya mimpi nggak sih? Coba samperin terus tanya baik-baik, "Jadi tukang parkir itu cita-cita Pak? Ini ngejar passion ya Pak?"
Nggak, kemungkinan dia cuma bertahan hidup aja dan terlihat baik-baik aja. Aku penasaran bagaimana cara dia memaknai hidup, ya? Aku mau tahu cara dia menambal segala kekurangan di hidupnya dan mengisi segala kekosongan di hatinya.
Dia nggak nongkrong di cafe kekinian.
Dia nggak sibuk mikirin gaya berpakaian.
Dia nggak peduli sama drama di dunia maya.
Di sini, dia bercanda sama teman-temannya. Menikmati yang seadanya, terus tertawa selepas-lepasnya. Keren ya, ringan dan menyenangkan. Lukanya tertutup rapi, tapi ketegarannya telanjang.
Pernyataan:
Aku yang lagi sejatuh ini masih punya banyak hal yang lebih baik dari dia.
Pertanyaan:
Apa itu berarti seharusnya aku punya banyak alasan buat lebih bahagia?
Aku penasaran bapak-bapak itu waktu masih muda mimpinya apa? Waktu remaja, aku punya mimpi mau bangun rumah sebelum umur 25. Sekarang udah lewat, "Udah 25 lebih kenapa belum punya rumah?"
"Hei!" Dia bersuara lagi, "itu harapan mulai berubah jadi tuntutan anjir! Jangan gitu!"
"Tapi..."
"Dengar!" Dia bersuara lebih keras, "kamu itu masih mampu bayar kos setiap bulan dan sama sekali nggak ada yang salah dengan itu. Emang belum ada rumah kayak yang kamu mimpikan, tapi... itu nggak apa-apa!"
"Nggak apa-apa ya?"
"Iyalah nggak apa-apa. Jangan sampai apa yang kamu harapkan bikin kamu benci sama apa yang jadi kenyataan."
"Emang aing seburuk itu ya? Sampai harus segagal ini?"
"Nggak buruk dan nggak gagal juga sih sebenarnya." Suaranya melunak, "yang bikin rasanya nggak enak itu karena kamu menggantungkan harapan dan kebahagiaan ke sesuatu di luar kendali."
"Masa sih?"
"Nggak sadar? Kan aing udah bilang berkali-kali anjir!" Suaranya meninggi lagi, "kamu berharap produk yang kamu jual laku keras karena kamu bakal bahagia karena itu. Padahal, semua itu di luar kendali kamu."
"..."
"Apa yang ada di dalam kendali? Segala hal yang kamu usahakan, sekecil-kecilnya. "
"...tapi nggak ada hasilnya." Aku menyimpulkan.
"Nggak apa-apa, nggak semuanya harus berhasil. Nggak semuanya harus menang, nggak semuanya harus sekarang. Seharusnya kamu cukup berharap jadi orang yang selalu mau berusaha apapun yang terjadi dan bahagia karena kamu mau menerima lelahnya."
"Iya, aku cuma agak malu. Aku pernah memimpikan sosok aku seindah-indahnya, ternyata aku belum seindah itu. Beda sama merek—"
"Hei." Dia menyanggah, "hidup itu bukan kompetisi, tapi dokumentasi. Semua yang indah nggak datang secepatnya, tapi setepatnya. Kamu mau orang yang cepat atau orang yang tepat?"
Hehe.
Aku agak senang menyadari itu. Kayak disiram air dingin pas cuaca lagi panas-panasnya.
"Aku nggak tahu harus ngapain lagi." Aku berterus terang.
"Kamu itu punya selalu punya tugas besar loh!"
"Apa?"
"Bikin kenangan."
"..."
"Hayu anjir bikin kenangan, biar nggak malu-maluin anak cucu."
"Oke hayu."
Matahari udah mau pamit, sebaiknya aku pulang ke kosan. Rasanya jadi agak ringan. Mungkin benar, ada yang salah. Ada yang belum baik dan harus diperbaiki. Aku mau menguasai dunia, tapi cukup duniaku aja. Bukan lagi dunia mereka, kegedean.
"Hei, terima kasih buat hari ini." Suara itu menenangkan, suara yang selama ini dengan sengaja aku abaikan. Suara kepala kedua yang aku yakin semua orang punya. "Besok coba lagi. Masih bisa jatuh dan bangkit lagi."
"..."
"Kalau hari ini belum jadi apa-apa, nggak apa-apa."
Baru mau tidur, ponsel bunyi. Ada chat dari seseorang.
'Aa apa kabar?
'
Anjir, pakai nanya kabar segala. Terus kalau aku bilang kabarku buruk dia mau apa?
'Kabarnya buruk, Neng. Keputusan yang aku anggap benar ternyata salah anjir. Kamu mau peluk aku nggak, Neng? Kayak dulu...'
Hapus... hapus... jangan gini balasnya!
'Baik, Neng.'
Bohong kecil gini nggak apa-apa kan? Semua orang pernah kan?
'Minggu depan aku ke Bandung ketemuan boleh nggak?'
Seandainya aku lagi punya sesuatu buat dibanggakan, pasti bakal aku iyakan.
Seandainya aku udah jauh lebih baik dari kali terakhir kita ketemu, pasti bakal aku iyakan.
Seandainya... ah nanti ajalah balasnya, tidur dulu aja.
Gimana caranya bayar kosan bulan depan?
Bakal cukup nggak ya buat makan?
Aing udah seperempat abad anjir masa gini-gini aja!
Aku mengangkat diri terus diam di depan lemari baju yang ada kacanya. Lumayan lama juga ya nggak melihat diri sendiri. Aku jadi pangling sama dia yang aku lihat di kaca. "Hei bro! Gagal lagi bro? Udah kerasa belum sakitnya? Hehe." Itu senyuman penuh ejekan, "kalem dulu, kalem."
Aku nunduk terus usap-usap wajah yang nggak seberapa indah, "capek juga ya ngejar-ngejar yang terbang." Keluhku.
"Kamu mah cuma denger kata orang sih, bermimpilah setinggi-tingginya. Giliran aing yang bilang kalau mau setinggi itu harus siap jatuh sesakit itu juga... nggak mau dengar." Suaranya meninggi.
"Maaf atuh anjir..." Balasku.
Demi mencari hiburan, aku membuka ponsel. Biasanya aku lihat-lihat Instagram. Aku suka Instagram, satu orang yang sama mukanya bisa beda-beda. Keren banget nggak sih...
Hari itu rasanya lain, nggak ada kesenangan kayak biasanya. Buka-buka dunia sosial maya bikin aku merasa semakin buruk. Aku berasumsi kalau semua orang punya hidup yang oke kecuali aku.
"Nggak gitu atuh anjir!" Dia bersuara agak keras. "Kamu nggak bisa megang kendali sama apa yang terjadi di luar sana. Kamu cuma bisa megang kendali sama apa yang di dalam situ." Dia menunjuk dadaku.
"Tapi..."
"Jangan lihat ke luar terus! Lihat ke dalam... ada aku."
***
Daripada tambah pusing, mending aku mandi aja. Terus ke luar cari udara segar yang sebenarnya nggak segar-segar amat. Mana ada udara segar di tengah kota Bandung yang lagi macet-macetnya. Di Lembang sana baru ada. Aku makan siang terus nongkrong di pinggir jalan Cihampelas. Banyak orang lalu lalang. Wajar, hari minggu waktunya orang-orang pada bersosialisasi. Jadi pada keluar rumah, biar kelihatan punya teman.
Duduk sendiri, mengamati orang-orang sekitar sini. Kalau diamati, rasa di wajahnya beda-beda. Aku jadi bertanya-tanya, mereka pada ngapain sih di sini? Pada bahagia nggak sih mereka itu? Lihat bapak-bapak tukang parkir itu? Iya, yang lagi ketawa lepas sama rekan sejawatnya. Mereka hore-hore di pinggir jalan, bukan tempat ngopi estetik.
Dia punya mimpi nggak sih? Coba samperin terus tanya baik-baik, "Jadi tukang parkir itu cita-cita Pak? Ini ngejar passion ya Pak?"
Nggak, kemungkinan dia cuma bertahan hidup aja dan terlihat baik-baik aja. Aku penasaran bagaimana cara dia memaknai hidup, ya? Aku mau tahu cara dia menambal segala kekurangan di hidupnya dan mengisi segala kekosongan di hatinya.
Dia nggak nongkrong di cafe kekinian.
Dia nggak sibuk mikirin gaya berpakaian.
Dia nggak peduli sama drama di dunia maya.
Di sini, dia bercanda sama teman-temannya. Menikmati yang seadanya, terus tertawa selepas-lepasnya. Keren ya, ringan dan menyenangkan. Lukanya tertutup rapi, tapi ketegarannya telanjang.
Pernyataan:
Aku yang lagi sejatuh ini masih punya banyak hal yang lebih baik dari dia.
Pertanyaan:
Apa itu berarti seharusnya aku punya banyak alasan buat lebih bahagia?
Aku penasaran bapak-bapak itu waktu masih muda mimpinya apa? Waktu remaja, aku punya mimpi mau bangun rumah sebelum umur 25. Sekarang udah lewat, "Udah 25 lebih kenapa belum punya rumah?"
"Hei!" Dia bersuara lagi, "itu harapan mulai berubah jadi tuntutan anjir! Jangan gitu!"
"Tapi..."
"Dengar!" Dia bersuara lebih keras, "kamu itu masih mampu bayar kos setiap bulan dan sama sekali nggak ada yang salah dengan itu. Emang belum ada rumah kayak yang kamu mimpikan, tapi... itu nggak apa-apa!"
"Nggak apa-apa ya?"
"Iyalah nggak apa-apa. Jangan sampai apa yang kamu harapkan bikin kamu benci sama apa yang jadi kenyataan."
"Emang aing seburuk itu ya? Sampai harus segagal ini?"
"Nggak buruk dan nggak gagal juga sih sebenarnya." Suaranya melunak, "yang bikin rasanya nggak enak itu karena kamu menggantungkan harapan dan kebahagiaan ke sesuatu di luar kendali."
"Masa sih?"
"Nggak sadar? Kan aing udah bilang berkali-kali anjir!" Suaranya meninggi lagi, "kamu berharap produk yang kamu jual laku keras karena kamu bakal bahagia karena itu. Padahal, semua itu di luar kendali kamu."
"..."
"Apa yang ada di dalam kendali? Segala hal yang kamu usahakan, sekecil-kecilnya. "
"...tapi nggak ada hasilnya." Aku menyimpulkan.
"Nggak apa-apa, nggak semuanya harus berhasil. Nggak semuanya harus menang, nggak semuanya harus sekarang. Seharusnya kamu cukup berharap jadi orang yang selalu mau berusaha apapun yang terjadi dan bahagia karena kamu mau menerima lelahnya."
"Iya, aku cuma agak malu. Aku pernah memimpikan sosok aku seindah-indahnya, ternyata aku belum seindah itu. Beda sama merek—"
"Hei." Dia menyanggah, "hidup itu bukan kompetisi, tapi dokumentasi. Semua yang indah nggak datang secepatnya, tapi setepatnya. Kamu mau orang yang cepat atau orang yang tepat?"
Hehe.
Aku agak senang menyadari itu. Kayak disiram air dingin pas cuaca lagi panas-panasnya.
"Aku nggak tahu harus ngapain lagi." Aku berterus terang.
"Kamu itu punya selalu punya tugas besar loh!"
"Apa?"
"Bikin kenangan."
"..."
"Hayu anjir bikin kenangan, biar nggak malu-maluin anak cucu."
"Oke hayu."
Matahari udah mau pamit, sebaiknya aku pulang ke kosan. Rasanya jadi agak ringan. Mungkin benar, ada yang salah. Ada yang belum baik dan harus diperbaiki. Aku mau menguasai dunia, tapi cukup duniaku aja. Bukan lagi dunia mereka, kegedean.
"Hei, terima kasih buat hari ini." Suara itu menenangkan, suara yang selama ini dengan sengaja aku abaikan. Suara kepala kedua yang aku yakin semua orang punya. "Besok coba lagi. Masih bisa jatuh dan bangkit lagi."
"..."
"Kalau hari ini belum jadi apa-apa, nggak apa-apa."
Baru mau tidur, ponsel bunyi. Ada chat dari seseorang.
'Aa apa kabar?
'Anjir, pakai nanya kabar segala. Terus kalau aku bilang kabarku buruk dia mau apa?
'Kabarnya buruk, Neng. Keputusan yang aku anggap benar ternyata salah anjir. Kamu mau peluk aku nggak, Neng? Kayak dulu...'
Hapus... hapus... jangan gini balasnya!
'Baik, Neng.'
Bohong kecil gini nggak apa-apa kan? Semua orang pernah kan?
'Minggu depan aku ke Bandung ketemuan boleh nggak?'
Seandainya aku lagi punya sesuatu buat dibanggakan, pasti bakal aku iyakan.
Seandainya aku udah jauh lebih baik dari kali terakhir kita ketemu, pasti bakal aku iyakan.
Seandainya... ah nanti ajalah balasnya, tidur dulu aja.
Hei
Manusia,
Yang ada apa-apa
Yang bukan siapa-siapa
Yang belum ke mana-mana
Nggak apa-apa
Nggak apa-apa
Nggak apa-apa.
Manusia,
Yang ada apa-apa
Yang bukan siapa-siapa
Yang belum ke mana-mana
Nggak apa-apa
Nggak apa-apa
Nggak apa-apa.
Spoiler for INDEX:
00: Mulai Dari Nol!
01: Inovasi Dari Sini
02: Pesan Dari Hujan
03: Mimpiku yang Ada Kamunya
04: Teori Bintang Jatuh
Quote:
Halo Masgan dan Mbaksis sekalian


Mau numpang nulis cerita di sini ya
Kalau boleh, tinggalin jejaknya ya
Biar saya kenal masnya dan mbaknya sebagai manusia bukan cuma data hehe
Selamat menikmati! Maaf versi yang kemarin direvisi, yang ini lebih enak dibaca soalnya.


Mau numpang nulis cerita di sini ya
Kalau boleh, tinggalin jejaknya ya
Biar saya kenal masnya dan mbaknya sebagai manusia bukan cuma data hehe
Selamat menikmati! Maaf versi yang kemarin direvisi, yang ini lebih enak dibaca soalnya.
Diubah oleh Kepalakedua 02-07-2019 09:56
anton2019827 dan 35 lainnya memberi reputasi
34
13.4K
Kutip
65
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Kepalakedua
#41
04: Teori Bintang Jatuh
04: Teori Bintang Jatuh
Di dalam kamar, aku iseng buka-buka foto lama di laptop. Aku cuma mau mengingat-ingat waktu aku lagi lucu-lucunya. Aku juga mau diingatkan lagi apa yang udah aku lalui di dunia ini? Apakah aku tumbuh seperti doa yang diucapkan orang tuaku dalam hati?
Lihat foto lama itu? Bocah gembil yang digendong ibu muda itu aku. Kata Mama, foto itu diambil waktu aku juara satu lomba foto batita. Aku sendiri lupa kalau aku pernah selucu itu. Kalau dulu ada instagram, aku yakin hidupku nggak jauh beda sama Xabiru. Terus Mamaku jadi kaya raya bergelimang endorse.
Lihat matanya? Bening, kan? Mata yang masih suci, belum tercemar konten bokep. Kata Mama dulu aku sering dikira bayi perempuan karena bulu mataku yang lentik. Sekarang mata itu nggak kayak dulu, udah tercemar karena terlalu sering melihat kesenjangan sosial.
Ah, itu aku berseragam TK. Waktu hidupku lagi indah-indahnya. Aku belum punya banyak mimpi atau harapan. Hidupku cuma sebatas menangis dan tertawa. Aku bisa tertawa selepas-lepasnya dan menangis sekeras-kerasnya. Sekarang agak repot. Kita semua pasti nggak bisa tertawa selepas itu lagi dan menangis sekeras itu lagi. Kalau mau nangis bukannya keluar airmata malah mikir dulu, "nangis nggak ya? Ah masa sih aku nangis? Jadi, boleh nangis nggak sih?"
Ada juga foto aku berseragam SD lagi senyum. Memang nggak ganteng, tapi senyum itu bikin aku terlihat agak indah. Mungkin seperti itulah senyuman seorang cowok yang belum pernah coli. Ditambah waktu itu aku belum tahu sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Makanya aku masih bisa senyum semanis itu.
Waktu aku kecil, teori kesuksesan dideskripsikan jadi dua kriteria; pekerjaaan tetap dan penghasilan tetap. Aku tumbuh sama pemikiran itu. Teori itu baru agak terusik waktu aku masuk usia remaja. Aku kenal sama satu orang teman yang kaya raya, waktu aku tanya Bapaknya kerja apa ternyata dia seorang pedagang. Kata enterpreneur belum aku dengar waktu itu. Apalagi youtuber atau selebgram.
Dulu aku membayangkan kalau nanti aku udah jadi aa-aa, aku adalah seorang pedagang besar. Kayak Bapaknya temanku itu. Sekarang aku udah jadi aa-aa... tapi nggak kayak yang aku harapkan dulu. Rasanya itu kayak berharap jadi agen rahasia tapi malah jadi agen pulsa.
"Loh, ya nggak apa-apa dong? Jadi agen pulsa bukan sesuatu yang buruk!"
"Maksudnya nggak sesuai harapan ih!"
"Loh kenapa harapan harus menghalangi kebahagiaan? Kenapa kalau cuma jadi agen pulsa nggak bikin bahagia?"
"Itu... contoh."
"Kalau ada anak kecil yang berharap diajak liburan ke Disneyland, tapi sama Bapaknya diajak ke Dufan dan anak itu nggak bahagia. Kira-kira kenapa?"
"Ya itu anak kecil, dia masih terlalu bodoh buat tahu kalau ke Disneyland butuh banyak duit. Dia juga nggak tahu apakah Bapaknya mampu cari duit segitu banyak."
"Ya sama kayak kamu dulu, bikin harapan pakai banyak kebodohan. Kalau bikin harapan pakai banyak kebodohan, apa itu bakal jadi kebaikan? Atau malah jadi ketamakan?"
"Soalnya dulu aku sering dengar kalau kita harus bermimpi setinggi-tingginya."
"Iya, kamu memang punya mimpi yang tinggi... tapi lupa mikirin tangganya. Mimpi juga harus tahu arah, dong! Nggak ujug-ujug!"
"Apa aku nggak boleh punya mimpi setinggi itu?"
"Bukan nggak boleh, tapi belum layak. Dikira mimpi indah itu kalau jadi kenyataan bisa dijalani dengan mudah? Mimpi itu cuma akan terwujud bagi mereka yang sudah layak. Kebayang nggak kalau seorang sopir angkot tiba-tiba disuruh bawa mobil balap?"
"Ya... Nabrak sih kayaknya."
"Iya, dari sopir angkot, ke sopir pribadi, bertahap terus sampai akhirnya dia benar-benar bisa bawa mobil balap. Barulah mobil balapnya boleh dibawa pulang."
"Jadi sekarang harus gimana?"
"Hadapi apa yang ada. Meskipun kamu bukan seorang pedagang besar, kamu seorang pekerja yang baik kok. Cukuplah fokus sama hal-hal yang bisa kamu kendalikan. Bukan seberapa besar yang bisa kamu dapat, tapi seberapa besar yang bisa kamu kasih."
"..."
"Kalau kamu mau merasa kaya, jangan berpikir kalau kaya itu punya banyak uang tapi bekerjalah sebaik-baiknya lalu nikmati hasil kerjamu itu. Kalau kamu mau jadi penulis, jangan berpikir kalau penulis itu harus tembus penerbit besar terus laku keras, tapi menulislah setiap hari dan berbahagialah karena itu."
"..."
"Berbahagialah untuk sesuatu yang ada di dalam kendalimu. Jangan gantungkan kebahagiaan sama sesuatu yang nggak bisa kamu kendalikan. Mentang-mentang kamu nggak kayak diharapkan bukan berarti kamu boleh melupakan semua yang sudah kamu usahakan."
Rasanya itu jadi kesalahan kebanyakan orang. Menggantungkan kebahagiaan untuk sesuatu yang nggak bisa dikendalikan. Makanya harapan pelan-pelan berubah jadi tuntutan. Aku memimpikan sesuatu lalu gagal meraihnya. Lalu aku merasa buruk diri dan kurang menghargai diri sendiri. Seharusnya, bermimpi bikin aku jadi manusia yang bebas bukan malah penuh batas.
Aku menutup laptop, mengambil secangkir kopi yang udah dingin lalu keluar kamar. Aku naik ke lantai tiga. Karena rumah kos ini ada di daerah atas, dari sini aku bisa menatap langit yang lagi banyak bintang. Bintang beneran, bukan bohlam kayak di bukit bintang.
Hari ini aku mencoba mengembalikan keutuhan diriku yang sempat berantakan. Kayak kehidupan pada umumnya, kadang diri seseorang bisa terkikis pelan-pelan. Entah itu oleh kegagalan, kekecewaan, atau makian.
"Apa yang kamu sebut harapan, belum tentu yang terbaik buat kamu. Dari satu yang kamu harapkan, ada banyak hal yang kamu lewatkan. Kayak waktu kamu jatuh cinta sama seseorang, kamu nggak peduli sama perempuan lain. Dan waktu cinta kamu nggak terbalas, kamu hancur seolah cuma dia yang layak terima cinta kamu. Padahal nggak begitu kan? Kamu bakal jatuh cinta lagi, dan bakal ada orang lain yang menerima cinta kamu."
"Aku harus melihat ke dalam, lebih dalam."
Dibalik yang aku pilih, ada yang nggak aku pilih. Waktu aku ditolak, ada yang diterima. Kalau aku makan di kantin, dari sekian banyak pilihan aku cuma bisa pilih satu. Bukan berarti yang aku pilih yang terbaik, bisa jadi yang terbaik itu ternyata yang nggak aku pilih. Semesta sudah bekerja seadil-adilnya, cuma aku yang sering salah memahami adilnya.
Apapun yang terjadi sama aku hari ini, semesta masih berputar kayak biasa. Atta masih beli mobil baru. Influencer ini kelahi sama influencer itu, dan tersisalah kita para orang biasa yang masih bertanya-tanya; 'apakah artinya aku di hadapan semesta?'
Kadang, aku mempertanyakan keadilan padahal yang sebenarnya kutanyakan adalah keuntungan belaka. Sulit membesarkan hati buat menampung yang pahit-pahit, tapi aku mau meskipun sedikit demi sedikit. Karena sebenarnya, yang buruk bukanlah kegagalan itu. Tapi, penghakiman kita buat diri sendiri. Kegalalan itu netral, sama kayak keberhasilan.
Aku bodoh.
Aku gak sehebat mereka.
Aku gak becus.
Mungkin benar, tapi... nggak apa-apa. Hidup bukan kompetisi, tapi dokumentasi, ingat? Ini bukan soal lebih apa dari siapa, bukan juga soal apa untuk siapa. Ini soal aku, waktuku, dan jalan untuk langkah-langkahku. Aku berdiri di sini saat ini, dengan kakiku sendiri.
Di dalam semesta semuanya sama-sama sementara. Baiknya dan buruknya, senangnya dan sedihnya, tawanya dan tangisnya. Nggak apa-apa kalau sedang ada, karena nanti juga akan tiada. Begitu juga yang hari ini belum ada, siapa yang tahu besok akan ada? Pada yang serba sementara, nggak akan pernah ada yang selamanya. Kesakitan ini, kebahagiaan itu, kesenangan ini, kesedihan itu.
Sambil menyesap kopi, aku menatap langit dan tersenyum kecil. Aku masih ada hari ini dan aku masih mau menjalani hari esok dan seterusnya. Sesakit-sakitnya, sesenang-senangnya, aku mau menghadapi semua yang ada.
Lihat bintang-bintang itu? Aku cuma perlu terang, tapi nggak harus jadi yang paling terang.

Quote:
Di dalam kamar, aku iseng buka-buka foto lama di laptop. Aku cuma mau mengingat-ingat waktu aku lagi lucu-lucunya. Aku juga mau diingatkan lagi apa yang udah aku lalui di dunia ini? Apakah aku tumbuh seperti doa yang diucapkan orang tuaku dalam hati?
Lihat foto lama itu? Bocah gembil yang digendong ibu muda itu aku. Kata Mama, foto itu diambil waktu aku juara satu lomba foto batita. Aku sendiri lupa kalau aku pernah selucu itu. Kalau dulu ada instagram, aku yakin hidupku nggak jauh beda sama Xabiru. Terus Mamaku jadi kaya raya bergelimang endorse.
Lihat matanya? Bening, kan? Mata yang masih suci, belum tercemar konten bokep. Kata Mama dulu aku sering dikira bayi perempuan karena bulu mataku yang lentik. Sekarang mata itu nggak kayak dulu, udah tercemar karena terlalu sering melihat kesenjangan sosial.
Ah, itu aku berseragam TK. Waktu hidupku lagi indah-indahnya. Aku belum punya banyak mimpi atau harapan. Hidupku cuma sebatas menangis dan tertawa. Aku bisa tertawa selepas-lepasnya dan menangis sekeras-kerasnya. Sekarang agak repot. Kita semua pasti nggak bisa tertawa selepas itu lagi dan menangis sekeras itu lagi. Kalau mau nangis bukannya keluar airmata malah mikir dulu, "nangis nggak ya? Ah masa sih aku nangis? Jadi, boleh nangis nggak sih?"
Ada juga foto aku berseragam SD lagi senyum. Memang nggak ganteng, tapi senyum itu bikin aku terlihat agak indah. Mungkin seperti itulah senyuman seorang cowok yang belum pernah coli. Ditambah waktu itu aku belum tahu sakitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Makanya aku masih bisa senyum semanis itu.
Waktu aku kecil, teori kesuksesan dideskripsikan jadi dua kriteria; pekerjaaan tetap dan penghasilan tetap. Aku tumbuh sama pemikiran itu. Teori itu baru agak terusik waktu aku masuk usia remaja. Aku kenal sama satu orang teman yang kaya raya, waktu aku tanya Bapaknya kerja apa ternyata dia seorang pedagang. Kata enterpreneur belum aku dengar waktu itu. Apalagi youtuber atau selebgram.
Dulu aku membayangkan kalau nanti aku udah jadi aa-aa, aku adalah seorang pedagang besar. Kayak Bapaknya temanku itu. Sekarang aku udah jadi aa-aa... tapi nggak kayak yang aku harapkan dulu. Rasanya itu kayak berharap jadi agen rahasia tapi malah jadi agen pulsa.
"Loh, ya nggak apa-apa dong? Jadi agen pulsa bukan sesuatu yang buruk!"
"Maksudnya nggak sesuai harapan ih!"
"Loh kenapa harapan harus menghalangi kebahagiaan? Kenapa kalau cuma jadi agen pulsa nggak bikin bahagia?"
"Itu... contoh."
"Kalau ada anak kecil yang berharap diajak liburan ke Disneyland, tapi sama Bapaknya diajak ke Dufan dan anak itu nggak bahagia. Kira-kira kenapa?"
"Ya itu anak kecil, dia masih terlalu bodoh buat tahu kalau ke Disneyland butuh banyak duit. Dia juga nggak tahu apakah Bapaknya mampu cari duit segitu banyak."
"Ya sama kayak kamu dulu, bikin harapan pakai banyak kebodohan. Kalau bikin harapan pakai banyak kebodohan, apa itu bakal jadi kebaikan? Atau malah jadi ketamakan?"
"Soalnya dulu aku sering dengar kalau kita harus bermimpi setinggi-tingginya."
"Iya, kamu memang punya mimpi yang tinggi... tapi lupa mikirin tangganya. Mimpi juga harus tahu arah, dong! Nggak ujug-ujug!"
"Apa aku nggak boleh punya mimpi setinggi itu?"
"Bukan nggak boleh, tapi belum layak. Dikira mimpi indah itu kalau jadi kenyataan bisa dijalani dengan mudah? Mimpi itu cuma akan terwujud bagi mereka yang sudah layak. Kebayang nggak kalau seorang sopir angkot tiba-tiba disuruh bawa mobil balap?"
"Ya... Nabrak sih kayaknya."
"Iya, dari sopir angkot, ke sopir pribadi, bertahap terus sampai akhirnya dia benar-benar bisa bawa mobil balap. Barulah mobil balapnya boleh dibawa pulang."
"Jadi sekarang harus gimana?"
"Hadapi apa yang ada. Meskipun kamu bukan seorang pedagang besar, kamu seorang pekerja yang baik kok. Cukuplah fokus sama hal-hal yang bisa kamu kendalikan. Bukan seberapa besar yang bisa kamu dapat, tapi seberapa besar yang bisa kamu kasih."
"..."
"Kalau kamu mau merasa kaya, jangan berpikir kalau kaya itu punya banyak uang tapi bekerjalah sebaik-baiknya lalu nikmati hasil kerjamu itu. Kalau kamu mau jadi penulis, jangan berpikir kalau penulis itu harus tembus penerbit besar terus laku keras, tapi menulislah setiap hari dan berbahagialah karena itu."
"..."
"Berbahagialah untuk sesuatu yang ada di dalam kendalimu. Jangan gantungkan kebahagiaan sama sesuatu yang nggak bisa kamu kendalikan. Mentang-mentang kamu nggak kayak diharapkan bukan berarti kamu boleh melupakan semua yang sudah kamu usahakan."
Rasanya itu jadi kesalahan kebanyakan orang. Menggantungkan kebahagiaan untuk sesuatu yang nggak bisa dikendalikan. Makanya harapan pelan-pelan berubah jadi tuntutan. Aku memimpikan sesuatu lalu gagal meraihnya. Lalu aku merasa buruk diri dan kurang menghargai diri sendiri. Seharusnya, bermimpi bikin aku jadi manusia yang bebas bukan malah penuh batas.
Aku menutup laptop, mengambil secangkir kopi yang udah dingin lalu keluar kamar. Aku naik ke lantai tiga. Karena rumah kos ini ada di daerah atas, dari sini aku bisa menatap langit yang lagi banyak bintang. Bintang beneran, bukan bohlam kayak di bukit bintang.
Hari ini aku mencoba mengembalikan keutuhan diriku yang sempat berantakan. Kayak kehidupan pada umumnya, kadang diri seseorang bisa terkikis pelan-pelan. Entah itu oleh kegagalan, kekecewaan, atau makian.
"Apa yang kamu sebut harapan, belum tentu yang terbaik buat kamu. Dari satu yang kamu harapkan, ada banyak hal yang kamu lewatkan. Kayak waktu kamu jatuh cinta sama seseorang, kamu nggak peduli sama perempuan lain. Dan waktu cinta kamu nggak terbalas, kamu hancur seolah cuma dia yang layak terima cinta kamu. Padahal nggak begitu kan? Kamu bakal jatuh cinta lagi, dan bakal ada orang lain yang menerima cinta kamu."
"Aku harus melihat ke dalam, lebih dalam."
Dibalik yang aku pilih, ada yang nggak aku pilih. Waktu aku ditolak, ada yang diterima. Kalau aku makan di kantin, dari sekian banyak pilihan aku cuma bisa pilih satu. Bukan berarti yang aku pilih yang terbaik, bisa jadi yang terbaik itu ternyata yang nggak aku pilih. Semesta sudah bekerja seadil-adilnya, cuma aku yang sering salah memahami adilnya.
Apapun yang terjadi sama aku hari ini, semesta masih berputar kayak biasa. Atta masih beli mobil baru. Influencer ini kelahi sama influencer itu, dan tersisalah kita para orang biasa yang masih bertanya-tanya; 'apakah artinya aku di hadapan semesta?'
Kadang, aku mempertanyakan keadilan padahal yang sebenarnya kutanyakan adalah keuntungan belaka. Sulit membesarkan hati buat menampung yang pahit-pahit, tapi aku mau meskipun sedikit demi sedikit. Karena sebenarnya, yang buruk bukanlah kegagalan itu. Tapi, penghakiman kita buat diri sendiri. Kegalalan itu netral, sama kayak keberhasilan.
Aku bodoh.
Aku gak sehebat mereka.
Aku gak becus.
Mungkin benar, tapi... nggak apa-apa. Hidup bukan kompetisi, tapi dokumentasi, ingat? Ini bukan soal lebih apa dari siapa, bukan juga soal apa untuk siapa. Ini soal aku, waktuku, dan jalan untuk langkah-langkahku. Aku berdiri di sini saat ini, dengan kakiku sendiri.
Di dalam semesta semuanya sama-sama sementara. Baiknya dan buruknya, senangnya dan sedihnya, tawanya dan tangisnya. Nggak apa-apa kalau sedang ada, karena nanti juga akan tiada. Begitu juga yang hari ini belum ada, siapa yang tahu besok akan ada? Pada yang serba sementara, nggak akan pernah ada yang selamanya. Kesakitan ini, kebahagiaan itu, kesenangan ini, kesedihan itu.
Sambil menyesap kopi, aku menatap langit dan tersenyum kecil. Aku masih ada hari ini dan aku masih mau menjalani hari esok dan seterusnya. Sesakit-sakitnya, sesenang-senangnya, aku mau menghadapi semua yang ada.
Lihat bintang-bintang itu? Aku cuma perlu terang, tapi nggak harus jadi yang paling terang.

Quote:
Hai agan-aganwati yang udah baca, terima kasih kalau mau meninggalkan jejak. Saya senang bisa ngobrol sama kalian, hehe. Baru bisa update hari ini, banyak kerjaan kemarin-kemarin 

Jomes747 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas
Tutup