- Beranda
- Stories from the Heart
5 METER PERSEGI
...
TS
ih.sul
5 METER PERSEGI

~cerita ini di dedikasikan kepada semua orang yang selalu berpikir bagaimana jika dan bagaimana jika~
Buat pembaca baru silahkan baca ceritanya disini.
https://drive.google.com/folderview?...CatIxdZu5i3tKc
Bukanya jangan pake browser kaskus. Pake browser lain biar filenya lengkap
Polling
0 suara
Hal yang paling kalian nantikan di cerita ini
Diubah oleh ih.sul 23-04-2022 13:58
siloh dan 153 lainnya memberi reputasi
144
315.8K
4.7K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ih.sul
#15
Prolog 3
“jadi, bagaimana saya harus memanggil anda nona?”
di ruangan yang luas ini, terdapat 3 orang perempuan dimana dua diantaranya sedang duduk berhadapan sedangkan satu yang lain berdiri cukup jauh dibelakangku. Seorang wanita pertengahan 20 an dengan rambut panjang sepinggang dan setelan jas hitam yang menjadi lawan bicaraku terlihat memandangku dengan mata yang gembira. Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang salah?
“apa ada sesuatu yang salah?”
“ah, maafkan aku. Hanya saja dua orang yang kutemui sebelumnya bahkan tidak peduli pada namaku, entah kenapa aku jadi sedikit senang”
Sungguh? Ada orang yang tidak peduli pada nama lawan bicaranya?
“sepertinya mereka adalah orang orang yang tidak sopan”
“benar sekali, memikirkan bahwa mereka berdua akan menjadi muridku membuat perasaanku campur aduk”
Wanita itu meminum tehnya dengan perlahan dan mendesah seolah melepaskan semua beban hidup, sepertinya dia sudah mengalami hari yang berat kendati hari ini masih pukul 2 siang.
“yahhh anak anak jaman sekarang semakin sulit dimengerti, meski aku mencoba bersikap baik tapi mereka malah menganggapku sebagai pembawa masalah, sebenarnya apa salah dan dosaku?”
Baiklah, dia sudah mulai masuk ke dunianya sendiri. Orang orang yang dia temui pasti orang yang tidak normal. Kuharap aku tak perlu bertemu dengan mereka.
“...lalu setelah itu dia malah mengejek kegadisanku. Memangnya salah jika aku belum menikah meskipun orangtuaku selalu mendesakku untuk memberi mereka cucu. Kenapa lelaki jaman sekarang tidak tertarik padaku huuuuu...”
Sepertinya orang ini juga tidak normal, dengan sikap seperti itu kau memang tidak akan bisa mendapatkan kekasih meskipun kau punya ‘aset’ yang sangat besar. Kenapa dadanya bisa sebesar itu?
“maaf memotong miss, tapi bisakah kau memberitahu saya alasan anda kemari?”
“ah, benar juga. Kurasa kau sudah tahu, SELAMATTTT... kau kini sudah resmi menjadi murid sma VON sekali lagi selamaaattt”
Wanita itu berpose menirukan gaya pembawa acara tertentu dari TV. Berita yang dia bawa sendiri tidaklah mengejutkan karna aku memang sudah mendaftar kesana sebelumnya
“benar juga, kau mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian masuk jadi kau akan mendapat pemberitahuan ekstra. Selengkapnya bisa kau lihat dalam surat pemberitahuan ini.
Wanita itu menyodorkan sebuah amplop putih dengan stempel yang terlihat resmi di tengahnya. Nilai tertinggi? Sepertinya aku sudah memandang terlalu tinggi sma VON. Mungkin aku memang seharusnya sekolah ke luar negeri.
“terima kasih banyak atas pemberitahuannya”
“baiklah, hanya itu urusanku disini, kalau begitu aku mohon pamit”
Wanita itu meminum habis sisa teh nya dan berjalan kearah pintu keluar dipandu oleh pelayan yang sedari tadi diam dibelakangku. Aku pun membuka amplop tersebut dan membacanya. Tidak ada yang spesial, hanya pemberitahuan bagiku untuk datang lebih cepat di upacara pembukaan untuk menyampaikan pidato perwakilan murid baru.
“selamat atas penerimaannya nona”
Terdengar suara dari belakangku, ternyata pelayan tadi sudah kembali
“setelah ini anda harus menemui tuan di ruangannya. Guru piano anda akan datang dalam setengah jam jadi pastikan anda siap pada waktunya”
Pelayan itu menyampaikan daftar rencanaku untuk satu jam kedepan. Wajahnya yang tanpa ekspresi membuatnya terlihat dewasa meskipun kami seumuran
“bagaimana denganmu Ai, kau juga lulus ujiannya kan?”
“saya sudah menerima pemberitahuan sebelumnya, dan saya lulus”
Sungguh jawaban yang datar, kendati dia adalah pelayan pribadiku namun aku tidak tahu banyak tentangnya
“apa ayah yang menyuruhmu mendaftar kesana juga?”
“benar”
Hmm sudah kuduga. Aku mendorong cangkir teh ku yang sama sekali tidak kusentuh dan bangkit untuk menemui ayahku
Dari 5 lantai rumah ini, ruangan ayah berada di lantai teratas. Mungkin kurang cocok disebut ‘rumah’, lebih cocok disebut sebagai istana atau kastil jika melihat ukurannya. Kediaman bergaya barat yang berdiri kokoh diatas lahan seluas 5 hektar menjadi saksi bisu akan sejarah keluargaku yang sudah bertahan berabad abad
Kuberjalan menaiki tangga untuk menemui ayahku. Jika tak ada urusan aku tak akan pernah bertemu ayahku, selain karna aku yang tidak suka menaiki tangga sampai ke lantai 5(tempat ini benar benar butuh lift) namun juga karna ayahku yang sangat jarang berada dirumah.
‘tuk’ ‘tuk’ ‘tuk’
Kuketuk pintu didepanku, dibalik pintu ini terdapat seorang pengusaha terkenal yang merupakan orang terkaya kedua di dunia sekaligus ayahku
“masuk”
Itulah suara yang terdengar. Suara yang tegas, berat, dan menakutkan
Sudah 2 bulan sejak terakhir aku melihatnya, raut wajahnya yang serius dan aura yang dia pancarkan tak pernah gagal membuatku gemetar
“sekarang kau sudah menjadi murid sma VON, sera”
Tak ada satupun kata selamat
“kau harus mendapat surat rekomendasi untuk melanjutkan pendidikanmu ke MIT”
Universitas yang sudah ayah tentukan
“ setelah itu kau akan melanjutkan s2 mu di oxford”
Kebanyakan perempuan akan berpikiran untuk bekerja atau menikah setelah lulus sarjana
“dalam sepuluh tahun kau akan siap untuk mewarisi bisnis keluarga”
Sepuluh tahun itu akan lewat begitu saja
“ayah harap kau belajar dengan baik disana, kau mengerti?”
Aku selalu tahu itu
“boleh aku tanya satu hal ayah?”
Tapi ada satu hal yang menggangguku
“hmm apa itu?”
“kenapa ayah menyuruhku mendaftar ke sma VON?, meskipun ada banyak sma yang lebih baik di luar negeri”
Itu pertama kalinya aku melihat ayahku terdiam, matanya fokus memandangku seolah melihat kedalam jiwaku sampai membuatku tak mampu membalas pandangannya
“kau akan tahu setelah bersekolah disana, jika tak ada lagi yang ingin kau tanyakan pegilah”
Hanya itu jawaban yang kudapat. Itu bahkan sama sekali bukan jawaban
“kalau begitu aku permisi”
Dengan tidak puas aku meninggalkan ruangan
Alunan melodi lembut terdengar memenuhi ruangan. Jari jariku dengan lincah menari diatas tuts hitam putih layaknya sedang berdansa, chopin balade.
“anda sudah dapat memainkannya dengan sempurna, nona sera”
Itulah yang dikatakan pelatih wanita paruh baya yang berdiri disebelahku setelah aku selesai memainkan seluruh partitur lagu tersebut
“sudah tak ada lagi yang dapat saya ajarkan pada anda. Ohhh bisa mengajar seorang jenius berbakat seperti anda merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya”
Jenius berbakat. Sejak kecil aku sudah di didik banyak hal dan dibentuk menjadi ‘sempurna’. pelajaran, olahraga, seni hingga kemampuan sosial sudah ada dalam setiap sel selku. Aku selalu berusaha dalam segala hal yang diajarkan padaku namun ayahku tak pernah sekalipun menunjukkan minat padaku. Kenapa? Karna aku bukan laki laki.
“nona, anda sudah berhasil menyelesaikan privat piano tepat waktu. Mulai besok anda akan belajar bermain biola dan berdansa sekaligus. Mohon untuk tidak terganggu akan persiapan masuk SMA. Saya akan mengurus semuanya untuk anda”
Itulah yang dikatakan Ai,pelayan pribadiku, katakan setelah tutor pianoku pulang. Datar dan tanpa emosi seperti biasa
“aku mengerti”
Itulah yang aku katakan, sejak lahir hingga mati nanti segala hal dalam hidupku sudah diatur. Apa yang aku makan, apa yang aku kenakan, dengan siapa aku bertemu, kemana aku pergi, akan jadi apa aku nanti, semuanya. Mungkin satu satunya yang belum diatur adalah dengan siapa aku menikah, namun itu pasti akan diputuskan cepat atau lambat.
“saya sudah menyiapkan air panas untuk anda mandi. Silahkan nona beristirahat sekarang”
Itu adalah kalimat penutup yang selalu kudengar setiap malam sebagai tanda penutup hari. Saat terbangun aku akan mendengar suaranya dan saat hendak tidur pun dia selalu ada. Eksistensi yang selalu ada kurang dari tiga meter disekitarku, pengawas sempurna yang ditugaskan ayahku sebagai matanya.
Di kamarku ada sebuah foto, sebuah foto yang akan menjadi gambaranku sepuluh tahun mendatang. Foto seorang wanita yang duduk di ruangan seluas 2x2,5 meter yang merupakan wujud dari kecantikan sempurna, wajah indah seolah dipahat oleh dewa itu sendiri, kulit halus selembut sutra, rambut pirang keemasan yang tersisir rapi serta sinar mata yang dapat membuat berlian iri.wanita tersebut sedang menidurkan seorang bayi yang akan menjadi diriku kini.
Itulah ibuku, manusia yang paling aku cintai di dunia ini. Satu satunya yang selalu ada untukku ditengah kehidupan yang penuh kekangan, orang yang berjanji akan menemaniku bermain selamanya.
Namun dia mati. Meninggalkanku dalam kesepian selama dua tahun ini
Aku berbaring di kasur dan Kupeluk erat foto itu seolah aku bisa merasakan kehangatan ibu meski nyatanya foto tersebut dingin. Beginilah hidupku, aku hanya perlu menjalani hidup yang diatur oleh ayahku dan segalanya akan baik baik saja, tak perlu ada yang kukhawatirkan.
Aku memiliki segala hal yang diinginkan banyak orang. Namun aku tak memiliki kebebasan seperti banyak orang. Terkurung dalam dunia yang tak mampu aku patahkan.
Kupandangi foto itu sekali lagi. Tanpa sadar air mataku mengalir, memberitahukan hal yang sebenarnya kuinginkan. Aku menginginkan duniaku sendiri, kebebasanku sendiri. Benar, sebuah dunia dimana aku bisa bahagia. Meskipun dunia itu hanya seluas 5 meter persegi.
di ruangan yang luas ini, terdapat 3 orang perempuan dimana dua diantaranya sedang duduk berhadapan sedangkan satu yang lain berdiri cukup jauh dibelakangku. Seorang wanita pertengahan 20 an dengan rambut panjang sepinggang dan setelan jas hitam yang menjadi lawan bicaraku terlihat memandangku dengan mata yang gembira. Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang salah?
“apa ada sesuatu yang salah?”
“ah, maafkan aku. Hanya saja dua orang yang kutemui sebelumnya bahkan tidak peduli pada namaku, entah kenapa aku jadi sedikit senang”
Sungguh? Ada orang yang tidak peduli pada nama lawan bicaranya?
“sepertinya mereka adalah orang orang yang tidak sopan”
“benar sekali, memikirkan bahwa mereka berdua akan menjadi muridku membuat perasaanku campur aduk”
Wanita itu meminum tehnya dengan perlahan dan mendesah seolah melepaskan semua beban hidup, sepertinya dia sudah mengalami hari yang berat kendati hari ini masih pukul 2 siang.
“yahhh anak anak jaman sekarang semakin sulit dimengerti, meski aku mencoba bersikap baik tapi mereka malah menganggapku sebagai pembawa masalah, sebenarnya apa salah dan dosaku?”
Baiklah, dia sudah mulai masuk ke dunianya sendiri. Orang orang yang dia temui pasti orang yang tidak normal. Kuharap aku tak perlu bertemu dengan mereka.
“...lalu setelah itu dia malah mengejek kegadisanku. Memangnya salah jika aku belum menikah meskipun orangtuaku selalu mendesakku untuk memberi mereka cucu. Kenapa lelaki jaman sekarang tidak tertarik padaku huuuuu...”
Sepertinya orang ini juga tidak normal, dengan sikap seperti itu kau memang tidak akan bisa mendapatkan kekasih meskipun kau punya ‘aset’ yang sangat besar. Kenapa dadanya bisa sebesar itu?
“maaf memotong miss, tapi bisakah kau memberitahu saya alasan anda kemari?”
“ah, benar juga. Kurasa kau sudah tahu, SELAMATTTT... kau kini sudah resmi menjadi murid sma VON sekali lagi selamaaattt”
Wanita itu berpose menirukan gaya pembawa acara tertentu dari TV. Berita yang dia bawa sendiri tidaklah mengejutkan karna aku memang sudah mendaftar kesana sebelumnya
“benar juga, kau mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian masuk jadi kau akan mendapat pemberitahuan ekstra. Selengkapnya bisa kau lihat dalam surat pemberitahuan ini.
Wanita itu menyodorkan sebuah amplop putih dengan stempel yang terlihat resmi di tengahnya. Nilai tertinggi? Sepertinya aku sudah memandang terlalu tinggi sma VON. Mungkin aku memang seharusnya sekolah ke luar negeri.
“terima kasih banyak atas pemberitahuannya”
“baiklah, hanya itu urusanku disini, kalau begitu aku mohon pamit”
Wanita itu meminum habis sisa teh nya dan berjalan kearah pintu keluar dipandu oleh pelayan yang sedari tadi diam dibelakangku. Aku pun membuka amplop tersebut dan membacanya. Tidak ada yang spesial, hanya pemberitahuan bagiku untuk datang lebih cepat di upacara pembukaan untuk menyampaikan pidato perwakilan murid baru.
“selamat atas penerimaannya nona”
Terdengar suara dari belakangku, ternyata pelayan tadi sudah kembali
“setelah ini anda harus menemui tuan di ruangannya. Guru piano anda akan datang dalam setengah jam jadi pastikan anda siap pada waktunya”
Pelayan itu menyampaikan daftar rencanaku untuk satu jam kedepan. Wajahnya yang tanpa ekspresi membuatnya terlihat dewasa meskipun kami seumuran
“bagaimana denganmu Ai, kau juga lulus ujiannya kan?”
“saya sudah menerima pemberitahuan sebelumnya, dan saya lulus”
Sungguh jawaban yang datar, kendati dia adalah pelayan pribadiku namun aku tidak tahu banyak tentangnya
“apa ayah yang menyuruhmu mendaftar kesana juga?”
“benar”
Hmm sudah kuduga. Aku mendorong cangkir teh ku yang sama sekali tidak kusentuh dan bangkit untuk menemui ayahku
***
Dari 5 lantai rumah ini, ruangan ayah berada di lantai teratas. Mungkin kurang cocok disebut ‘rumah’, lebih cocok disebut sebagai istana atau kastil jika melihat ukurannya. Kediaman bergaya barat yang berdiri kokoh diatas lahan seluas 5 hektar menjadi saksi bisu akan sejarah keluargaku yang sudah bertahan berabad abad
Kuberjalan menaiki tangga untuk menemui ayahku. Jika tak ada urusan aku tak akan pernah bertemu ayahku, selain karna aku yang tidak suka menaiki tangga sampai ke lantai 5(tempat ini benar benar butuh lift) namun juga karna ayahku yang sangat jarang berada dirumah.
‘tuk’ ‘tuk’ ‘tuk’
Kuketuk pintu didepanku, dibalik pintu ini terdapat seorang pengusaha terkenal yang merupakan orang terkaya kedua di dunia sekaligus ayahku
“masuk”
Itulah suara yang terdengar. Suara yang tegas, berat, dan menakutkan
***
Sudah 2 bulan sejak terakhir aku melihatnya, raut wajahnya yang serius dan aura yang dia pancarkan tak pernah gagal membuatku gemetar
“sekarang kau sudah menjadi murid sma VON, sera”
Tak ada satupun kata selamat
“kau harus mendapat surat rekomendasi untuk melanjutkan pendidikanmu ke MIT”
Universitas yang sudah ayah tentukan
“ setelah itu kau akan melanjutkan s2 mu di oxford”
Kebanyakan perempuan akan berpikiran untuk bekerja atau menikah setelah lulus sarjana
“dalam sepuluh tahun kau akan siap untuk mewarisi bisnis keluarga”
Sepuluh tahun itu akan lewat begitu saja
“ayah harap kau belajar dengan baik disana, kau mengerti?”
Aku selalu tahu itu
“boleh aku tanya satu hal ayah?”
Tapi ada satu hal yang menggangguku
“hmm apa itu?”
“kenapa ayah menyuruhku mendaftar ke sma VON?, meskipun ada banyak sma yang lebih baik di luar negeri”
Itu pertama kalinya aku melihat ayahku terdiam, matanya fokus memandangku seolah melihat kedalam jiwaku sampai membuatku tak mampu membalas pandangannya
“kau akan tahu setelah bersekolah disana, jika tak ada lagi yang ingin kau tanyakan pegilah”
Hanya itu jawaban yang kudapat. Itu bahkan sama sekali bukan jawaban
“kalau begitu aku permisi”
Dengan tidak puas aku meninggalkan ruangan
***
Alunan melodi lembut terdengar memenuhi ruangan. Jari jariku dengan lincah menari diatas tuts hitam putih layaknya sedang berdansa, chopin balade.
“anda sudah dapat memainkannya dengan sempurna, nona sera”
Itulah yang dikatakan pelatih wanita paruh baya yang berdiri disebelahku setelah aku selesai memainkan seluruh partitur lagu tersebut
“sudah tak ada lagi yang dapat saya ajarkan pada anda. Ohhh bisa mengajar seorang jenius berbakat seperti anda merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya”
Jenius berbakat. Sejak kecil aku sudah di didik banyak hal dan dibentuk menjadi ‘sempurna’. pelajaran, olahraga, seni hingga kemampuan sosial sudah ada dalam setiap sel selku. Aku selalu berusaha dalam segala hal yang diajarkan padaku namun ayahku tak pernah sekalipun menunjukkan minat padaku. Kenapa? Karna aku bukan laki laki.
“nona, anda sudah berhasil menyelesaikan privat piano tepat waktu. Mulai besok anda akan belajar bermain biola dan berdansa sekaligus. Mohon untuk tidak terganggu akan persiapan masuk SMA. Saya akan mengurus semuanya untuk anda”
Itulah yang dikatakan Ai,pelayan pribadiku, katakan setelah tutor pianoku pulang. Datar dan tanpa emosi seperti biasa
“aku mengerti”
Itulah yang aku katakan, sejak lahir hingga mati nanti segala hal dalam hidupku sudah diatur. Apa yang aku makan, apa yang aku kenakan, dengan siapa aku bertemu, kemana aku pergi, akan jadi apa aku nanti, semuanya. Mungkin satu satunya yang belum diatur adalah dengan siapa aku menikah, namun itu pasti akan diputuskan cepat atau lambat.
“saya sudah menyiapkan air panas untuk anda mandi. Silahkan nona beristirahat sekarang”
Itu adalah kalimat penutup yang selalu kudengar setiap malam sebagai tanda penutup hari. Saat terbangun aku akan mendengar suaranya dan saat hendak tidur pun dia selalu ada. Eksistensi yang selalu ada kurang dari tiga meter disekitarku, pengawas sempurna yang ditugaskan ayahku sebagai matanya.
***
Di kamarku ada sebuah foto, sebuah foto yang akan menjadi gambaranku sepuluh tahun mendatang. Foto seorang wanita yang duduk di ruangan seluas 2x2,5 meter yang merupakan wujud dari kecantikan sempurna, wajah indah seolah dipahat oleh dewa itu sendiri, kulit halus selembut sutra, rambut pirang keemasan yang tersisir rapi serta sinar mata yang dapat membuat berlian iri.wanita tersebut sedang menidurkan seorang bayi yang akan menjadi diriku kini.
Itulah ibuku, manusia yang paling aku cintai di dunia ini. Satu satunya yang selalu ada untukku ditengah kehidupan yang penuh kekangan, orang yang berjanji akan menemaniku bermain selamanya.
Namun dia mati. Meninggalkanku dalam kesepian selama dua tahun ini
Aku berbaring di kasur dan Kupeluk erat foto itu seolah aku bisa merasakan kehangatan ibu meski nyatanya foto tersebut dingin. Beginilah hidupku, aku hanya perlu menjalani hidup yang diatur oleh ayahku dan segalanya akan baik baik saja, tak perlu ada yang kukhawatirkan.
Aku memiliki segala hal yang diinginkan banyak orang. Namun aku tak memiliki kebebasan seperti banyak orang. Terkurung dalam dunia yang tak mampu aku patahkan.
Kupandangi foto itu sekali lagi. Tanpa sadar air mataku mengalir, memberitahukan hal yang sebenarnya kuinginkan. Aku menginginkan duniaku sendiri, kebebasanku sendiri. Benar, sebuah dunia dimana aku bisa bahagia. Meskipun dunia itu hanya seluas 5 meter persegi.
Diubah oleh ih.sul 29-11-2020 22:03
siloh dan 11 lainnya memberi reputasi
12