- Beranda
- Stories from the Heart
Bos Aneh dan Nyebelin
...
TS
IztaLorie
Bos Aneh dan Nyebelin
Kode Minta Dipuji
Hai, hai, apa kabar. Kali ini Lori bawa cerita baru lagi nih. Mohon maaf cerita horor pending dulu. Baru nggak mau berurusan dengan hantu dan kawan-kawan dulu ya. Mohon pengertiannya.
Semoga kaskuser nggak punya bos yang nyebelin seperti cerita di bawah ini.
...
Isti membuka pintu, hawa dingin menyergap membuat bulu kuduk berdiri. Ruangan laboratorium memang selalu full AChingga membuat karyawan merasa seperti di dalam kulkas. Dia bergegas duduk di kursi plastik warna merah yang tersedia di tengah-tengah ruangan.
Terlihat Vela sedang mematut wajah dan merapikan rambut. Bos serius membaca buku laporan dan tidak memperhatikan anak buah yang mulai duduk diam di sekelilingnya.
"Bos, sudah ngantuk nih. Ayo cepat!" pinta Feny sambil menutup mulut. Sudah tiga kali menguap tapi bos masih belum juga memimpin ritual pergantian dinas.
Wito mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan Isti. Bibir melengkungkan senyum membuat cewek yang duduk tepat di depannya menjadi salah tingkah.
"Wah, rambutnya Mbak Isti bagus ya," puji Wito.
Raut muka Isti berubah keruh. "Bos, muji atau nyindir nih? Rambut keriting megar kaya singa gini dibilang bagus! Bilang aja kalau nggak rapi, suruh kucir. Bentar lagi ya, Bos. Biar kering dulu, habis keramas nih."
Wito mengangguk-angguk. "Tapi itu rambutnya beneran bagus lho. Setiap hari berubah modelnya."
Perkataan itu makin membuat Isti cemberut. "Si Bos ini maksudnya apa sih? Ya, sudah ta rapikan saja."
Isti merogoh saku untuk mengeluarkan karet gelang dan mengikat rambut tanpa menyisirnya terlebih dahulu. Melakukannya dengan setengah hati karena tahu kalau rambut separuh kering akan tampak lebih lepek nantinya.
"Bos," rengek Feny.
"Ya, sudah. Mari kita berdoa." Wito menutup mata, mengatupkan kedua tangan lalu mulai memimpin doa.
Setelah mendengarkan serah terima dari Feny, mereka berdiri dan menuju posisi masing-masing.
"Mbak Vela matanya bagus ya. Berbinar-binar." Kali ini Vela yang tampak bingung karena mendengar pujian dari si Bos yang tidak sewajarnya.
"Mataku bagus? Nggak salah Bos? Is, si Bos habis minum obat apa sih? Kok gini amat?" tanya Vela pada Isti yang bersandar pada pintu masuk.
Isti menahan senyum sambil mengangkat bahu. "Entahlah."
Beberapa jam berlalu dengan cepat karena banyak pasien yang periksa laboratorium hari itu.
"Mbak, tau nggak..." tanya Wito tiba-tiba.
Isti terdiam, menyimak dan menunggu kelanjutan pertanyaan itu tapi si Bos tidak meneruskan malah berjalan melewatinya dengan wajah polos tanpa dosa menuju ke alat kimia.
Pandangan Isti mengikuti gerak-gerik si Bos tapi tidak ada tanda-tanda akan meneruskan pembicaraan.
Isti menghembuskan napas panjang. Kembali fokus pada pekerjaan menerima pasien yang mau periksa.
Cewek itu mengenakan masker dan juga sarung tangan sebelum membuka pintu untuk mengambil sampel.
Setelah menyelesaikan pengambilan darah, dia masuk ke laboratorium dan langsung melihat si Bos sudah duduk di depan meja administrasi.
"Mbak, tau nggak..."
"Nggak," jawab Isti dengan cepat dan keras hingga Wito terlonjak karena kaget.
"Galak banget sih, Mbak. Kan aku cuma mau tanya."
"Habisnya nanya nggak lengkap sih," semprot Isti.
"Mbak, tau nggak? Siapa yang punya mata paling indah?" Wito kembali bertanya, kali ini sudah lengkap.
"Nggak tau, emangnya siapa?" Suara Isti sudah kembali lembut, tidak keras seperti tadi.
Wito tersenyum lalu berjalan melewati Isti dan masuk ke dalam kantornya.
Isti hanya bisa menepuk dahi melihat kelakuan si Bos.
"Bos! Dicari Cinta." Vela berteriak sekuat tenaga dari ruang persiapan sampel yang terletak di belakang.
Senyum Wito semakin lebar membuat Isti curiga. Wito dan Cinta berbincang-bincang di pintu belakang. Beberapa saat kemudian terlihat pembicaraan sudah berakhir.
"Sudah dulu ya, Mbak Vela, Mbak Isti," pamit Cinta.
Apa yang dilakukan oleh Cinta berikutnya membuat Isti terkesiap. Cinta mencium tangan Wito sebelum pergi.
"Owh, punya pacar baru toh," sindir Isti sambil bersedekap.
"Sekarang aku tahu siapa pemilik mata yang paling indah, pasti si Cinta kan?" lanjut Isti, jari telunjuk diarahkan ke Wito.
"Kok tahu?" Senyum Wito tidak hilang-hilang.
Vela ikut menggoda Bos yang sedang kasmaran. "Cinta to? Cie, cie si Bos."
"Aku tahu juga siapa yang rambutnya bagus dan berubah-ubah modelnya. Pasti Cinta juga kan? Tadi pagi itu ceritanya mau ngode kalau sudah punya pacar yang cantik ya?" Isti mengibaskan rambut. Dia memang memiliki rambut keriting yang mirip dengan Cinta.
"Seharusnya bilang saja terus terang Bos. Jangan bikin kita jadi takut dengan pujian aneh-aneh itu," saran Vela.
Isti dan Vela kompak geleng-geleng kepala melihat Bos yang sedang berbunga-bunga. "Dasar si Bos," kata mereka bersamaan dengan kompak.
Hai, hai, apa kabar. Kali ini Lori bawa cerita baru lagi nih. Mohon maaf cerita horor pending dulu. Baru nggak mau berurusan dengan hantu dan kawan-kawan dulu ya. Mohon pengertiannya.
Semoga kaskuser nggak punya bos yang nyebelin seperti cerita di bawah ini.
Selamat membaca, jangan lupa subscribe dan share bila suka dengan cerita ini. Terima kasih
...
Isti membuka pintu, hawa dingin menyergap membuat bulu kuduk berdiri. Ruangan laboratorium memang selalu full AChingga membuat karyawan merasa seperti di dalam kulkas. Dia bergegas duduk di kursi plastik warna merah yang tersedia di tengah-tengah ruangan.
Terlihat Vela sedang mematut wajah dan merapikan rambut. Bos serius membaca buku laporan dan tidak memperhatikan anak buah yang mulai duduk diam di sekelilingnya.
"Bos, sudah ngantuk nih. Ayo cepat!" pinta Feny sambil menutup mulut. Sudah tiga kali menguap tapi bos masih belum juga memimpin ritual pergantian dinas.
Wito mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan Isti. Bibir melengkungkan senyum membuat cewek yang duduk tepat di depannya menjadi salah tingkah.
"Wah, rambutnya Mbak Isti bagus ya," puji Wito.
Raut muka Isti berubah keruh. "Bos, muji atau nyindir nih? Rambut keriting megar kaya singa gini dibilang bagus! Bilang aja kalau nggak rapi, suruh kucir. Bentar lagi ya, Bos. Biar kering dulu, habis keramas nih."
Wito mengangguk-angguk. "Tapi itu rambutnya beneran bagus lho. Setiap hari berubah modelnya."
Perkataan itu makin membuat Isti cemberut. "Si Bos ini maksudnya apa sih? Ya, sudah ta rapikan saja."
Isti merogoh saku untuk mengeluarkan karet gelang dan mengikat rambut tanpa menyisirnya terlebih dahulu. Melakukannya dengan setengah hati karena tahu kalau rambut separuh kering akan tampak lebih lepek nantinya.
"Bos," rengek Feny.
"Ya, sudah. Mari kita berdoa." Wito menutup mata, mengatupkan kedua tangan lalu mulai memimpin doa.
Setelah mendengarkan serah terima dari Feny, mereka berdiri dan menuju posisi masing-masing.
"Mbak Vela matanya bagus ya. Berbinar-binar." Kali ini Vela yang tampak bingung karena mendengar pujian dari si Bos yang tidak sewajarnya.
"Mataku bagus? Nggak salah Bos? Is, si Bos habis minum obat apa sih? Kok gini amat?" tanya Vela pada Isti yang bersandar pada pintu masuk.
Isti menahan senyum sambil mengangkat bahu. "Entahlah."
Beberapa jam berlalu dengan cepat karena banyak pasien yang periksa laboratorium hari itu.
"Mbak, tau nggak..." tanya Wito tiba-tiba.
Isti terdiam, menyimak dan menunggu kelanjutan pertanyaan itu tapi si Bos tidak meneruskan malah berjalan melewatinya dengan wajah polos tanpa dosa menuju ke alat kimia.
Pandangan Isti mengikuti gerak-gerik si Bos tapi tidak ada tanda-tanda akan meneruskan pembicaraan.
Isti menghembuskan napas panjang. Kembali fokus pada pekerjaan menerima pasien yang mau periksa.
Cewek itu mengenakan masker dan juga sarung tangan sebelum membuka pintu untuk mengambil sampel.
Setelah menyelesaikan pengambilan darah, dia masuk ke laboratorium dan langsung melihat si Bos sudah duduk di depan meja administrasi.
"Mbak, tau nggak..."
"Nggak," jawab Isti dengan cepat dan keras hingga Wito terlonjak karena kaget.
"Galak banget sih, Mbak. Kan aku cuma mau tanya."
"Habisnya nanya nggak lengkap sih," semprot Isti.
"Mbak, tau nggak? Siapa yang punya mata paling indah?" Wito kembali bertanya, kali ini sudah lengkap.
"Nggak tau, emangnya siapa?" Suara Isti sudah kembali lembut, tidak keras seperti tadi.
Wito tersenyum lalu berjalan melewati Isti dan masuk ke dalam kantornya.
Isti hanya bisa menepuk dahi melihat kelakuan si Bos.
"Bos! Dicari Cinta." Vela berteriak sekuat tenaga dari ruang persiapan sampel yang terletak di belakang.
Senyum Wito semakin lebar membuat Isti curiga. Wito dan Cinta berbincang-bincang di pintu belakang. Beberapa saat kemudian terlihat pembicaraan sudah berakhir.
"Sudah dulu ya, Mbak Vela, Mbak Isti," pamit Cinta.
Apa yang dilakukan oleh Cinta berikutnya membuat Isti terkesiap. Cinta mencium tangan Wito sebelum pergi.
"Owh, punya pacar baru toh," sindir Isti sambil bersedekap.
"Sekarang aku tahu siapa pemilik mata yang paling indah, pasti si Cinta kan?" lanjut Isti, jari telunjuk diarahkan ke Wito.
"Kok tahu?" Senyum Wito tidak hilang-hilang.
Vela ikut menggoda Bos yang sedang kasmaran. "Cinta to? Cie, cie si Bos."
"Aku tahu juga siapa yang rambutnya bagus dan berubah-ubah modelnya. Pasti Cinta juga kan? Tadi pagi itu ceritanya mau ngode kalau sudah punya pacar yang cantik ya?" Isti mengibaskan rambut. Dia memang memiliki rambut keriting yang mirip dengan Cinta.
"Seharusnya bilang saja terus terang Bos. Jangan bikin kita jadi takut dengan pujian aneh-aneh itu," saran Vela.
Isti dan Vela kompak geleng-geleng kepala melihat Bos yang sedang berbunga-bunga. "Dasar si Bos," kata mereka bersamaan dengan kompak.
Diubah oleh IztaLorie 15-09-2019 14:04
bukhorigan dan 70 lainnya memberi reputasi
71
21.9K
301
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
IztaLorie
#26
Bos Aneh Dan Nyebelin
Jayus

Sumber : pixabay.com
...
Ada yang bilang kalau hal terlarang itu terasa manis dan menyenangkan. Isti tentu saja setuju dengan pernyataan itu karena saat ini sedang menikmati manisnya hal terlarang dalam wujud cowok cakep bernama Wito.
Seperti biasanya, dia berjalan lambat-lambat di seberang jalan yang dilalui oleh Wito. Tertawa tertahanketika cowok itu menyugar rambut yang plontos karena hal itu sama sekali tidak mempengaruhi penampilannya.
Ikut memasukkan kedua tangan ke saku baju ketika Wito memasukkan tangan ke saku celana.
Tak ada yang menyadari kebiasaannya menguntit karena jarang ada yang melalui jalan kecil dari tempat kosnya sampai rumah sakit. Wito sendiri juga tidak menyadari kalau ada yang mengikuti dan memperhatikan tiap tingkah lakunya karena perhatian hanya terfokus pada jalan.
Isti selalu datang beberapa saat setelah Wito karena sengaja memberi jarak agar tidak ada yang curiga.
Pagi ini ada empat orang yang berdinas pagi. Wito yang memang selalu dinas pagi karena posisinya sebagai kepala. Isti, Vela, dan Ana.
Mereka berempat ditambah dengan Feny sudah duduk mengelilingi meja kotak yang ada di tengah ruangan.
Setelah doa pagi, mereka menuju posisi masing-masing sementara Feny beranjak pulang.
Isti juga sudah siap di depan pintu masuk sambil mengecek perlengkapan perang yang terdiri dari spuit, torniquet, aneka tabung, plester, dan juga alkohol swab.
Wito berjalan melewati Isti untuk menuju kantornya. Isti balik badan hingga menghadap ke Wito.
"Bos, kapan aku pindah posisi. Bulan ini kebanyakan ada di posisi sampling lho. Bulan kemarin juga." Isti sudah mulai melancarkan serangan protes.
Wito tidak mengalihkan pandangan dari layar komputer. "Tahun depan."
"Yang benar saja, Bos? Becandanya nggak lucu. Masa iya, aku tugas setahun di sini. Nanti kalau pasien ramai terus gimana?"
"Iya, tuh. Kalau Isti di depan selalu ramai pasiennya." Vela ikut nimbrung karena kebetulan belum ada pekerjaan dibagiannya.
"Makanya kalau kerja nggak usah pasang spanduk pemberitahuan kalau kamu dinas. Pasien jadi berbondong-bondong datang." Ana mendekat.
"Memangnya aku artis? Pakai pasang spanduk terus pada datang," ujar Isti.
Vela dan Ana terkikik di depan Isti. Wito nggak ikut tersenyum.
"Besok sudah ganti posisi," ujarnya.
"Jangan hoax lah, Bos. Jadwalku masih ada di posisi sampling kok." Dahi Isti berkerut ketika mengingat jadwal kerja.
"Besok berubah kok."
"Jadi di mana, Bos?" tanya Isti penasaran. Sesungguhnya dia sudah merasa jenuh karena tiga bulan di posisi yang sama.
"Kejutan, lihat jadwal saja besok pagi." Wito memandang ke arah belakang Isti.
"Mbak, ada pasien." Perkataan Wito membuat Isti langsung menoleh.
Cewek itu langsung membuka pintu dan menyapa pasien. "Selamat pagi, Bu. Silakan duduk," ujarnya sambil menunjukkan sofa sewarna kayu yang empuk untuk duduk pasien.
Dia menerima formulir pemeriksaan dari pasien. Belum juga sempat membuka mulut untuk mencocokkan identitas, eh sudah ada orang lain yang menyerahkan formulir.
"Mbak, saya juga mau periksa lab."
"Saya juga."
"Ibu saya juga mau periksa."
"Oh, iya. Silakan menunggu di depan nanti dipanggil sesuai antrian." Isti tersenyum ramah sambil menunjukkan ruang tunggu pada orang-orang itu. Ternyata di luar sudah ada orang-orang yang menyerahkan formulir yang sama padanya.
Isti masuk ke dalam ruang laboratorium. Mata Ana terbelalak melihat banyaknya kertas yang ada di tangan Isti.
Vela mengepalkan kedua tangan lalu mengangkat keduanya hingga setinggi kepala. "Semangat! Semangat!"
Vela langsung berlari ke belakang sebelum mendengar bantahan dari Isti.
Bahu Isti terangkat lalu turun perlahan-lahan setelah melihat kelakuan temannya itu.
Ana mengambil formulir dari tangan Isti. "Aku bantuin transaksi saja ya. Ini dari atas kan?"
Baru juga Isti balik badan sudah terlihat ada formulir di dekat jendela. Dia memberi semangat untuk diri sendiri. Mengambil tumpukan kertas itu lalu menyerahkan pada Ana untuk diproses.
Sudah empat jam berlalu dan pekerjaan Isti sudah selesai. Dia lalu masuk ke dalam ruangan Wito dan memdaratkan pantat di sofa dekat singgasana bos.
"Mbak, ada pasien," panggil Wito karena melihat orang berdiri di depan pintu.
"Bos, istirahat dulu ya. Capek banget nih," pinta Isti.
Wito melirik cewek itu yang sedang mengurut kaki. "Ya, sudah. Minum saja dulu."
Wito bangkit dan keluar untuk menyambut pasien. Isti juga bangkit untuk minum lalu menuju meja administrasi untuk membantu Wito memproses formulir.
"Selamat pagi, bu. Kok sudah lama nggak periksa?" ujar Wito dengan keramahan tingkat tinggi.
"Saya baru pertama kali periksa di sini."
Jawaban pasien itu membuat Isti tergelak, tapi dia masih melanjutkan pekerjaan.
"Wah, ternyata kita tetangga ya. Rumahnya Ibu di Wonosobo, dekat dengan rumah saya." Wito kembali melanjutkan basa-basi.
"O, iya? Rumahnya Mase di mana?" Antusias yang besar terdengar dari suara Ibu itu.
"Ambarawa."
"Dekat dari mana? Wonosobo Ambarawa itu jauh pakai banget lho, Mas," protes Ibu itu dengan nada yang pedas karena merasa dibohongi.
"Dekat, Bu. Kalau dilihat dari peta."
Ana dan Isti dengan kompak memutar mata mendengar basa-basi si bos yang sangat basi.
Wito masuk ke dalam untuk mengambil perlengkapan.
"Bos, basa-basinya jayus banget," ujar Isti. Wito hanya tersenyum menanggapi protes itu.
Terdengar dering telepon, Isti mengangkatnya sebelum terlalu lama berdering.
"Selamat pagi, laborat dengan Isti. Ada yang bisa dibantu?"
"Mas Wito ada?"
"Baru ambil darah."
"Tolong sampaikan kalau Cinta telepon, suruh buka wa-nya," pinta Cinta dengan judes.
"Jangan sampai nggak disampaikan," ancam Cinta ketika Isti tidak juga menjawab.
Isti memutar bola mata, begini nih kalau junior pacaran dengan senior. Ngelunjak jadinya. Isti menimang telepon yang sudah ditutup, enaknya disampaikan atau tidak.
Daftar Indeks bisa klik di sini

Sumber : pixabay.com
Quote:
Sebelum melanjutkan, Lori mau ngasih tahu kalau cerita ini bukan kisah nyata. Kalau ada yang mau menyumbang ide tentang kelakuan aneh bos bisa inbox ya. Kali aja bisa masuk ke cerita.
Jangan lupa subscribebiar nggak ketinggalan cerita. Semoga aja tidak kentang seperti cerita horor yang terpaksa dipending karena suatu hal.
Jangan lupa subscribebiar nggak ketinggalan cerita. Semoga aja tidak kentang seperti cerita horor yang terpaksa dipending karena suatu hal.
...
Ada yang bilang kalau hal terlarang itu terasa manis dan menyenangkan. Isti tentu saja setuju dengan pernyataan itu karena saat ini sedang menikmati manisnya hal terlarang dalam wujud cowok cakep bernama Wito.
Seperti biasanya, dia berjalan lambat-lambat di seberang jalan yang dilalui oleh Wito. Tertawa tertahanketika cowok itu menyugar rambut yang plontos karena hal itu sama sekali tidak mempengaruhi penampilannya.
Ikut memasukkan kedua tangan ke saku baju ketika Wito memasukkan tangan ke saku celana.
Tak ada yang menyadari kebiasaannya menguntit karena jarang ada yang melalui jalan kecil dari tempat kosnya sampai rumah sakit. Wito sendiri juga tidak menyadari kalau ada yang mengikuti dan memperhatikan tiap tingkah lakunya karena perhatian hanya terfokus pada jalan.
Isti selalu datang beberapa saat setelah Wito karena sengaja memberi jarak agar tidak ada yang curiga.
Pagi ini ada empat orang yang berdinas pagi. Wito yang memang selalu dinas pagi karena posisinya sebagai kepala. Isti, Vela, dan Ana.
Mereka berempat ditambah dengan Feny sudah duduk mengelilingi meja kotak yang ada di tengah ruangan.
Setelah doa pagi, mereka menuju posisi masing-masing sementara Feny beranjak pulang.
Isti juga sudah siap di depan pintu masuk sambil mengecek perlengkapan perang yang terdiri dari spuit, torniquet, aneka tabung, plester, dan juga alkohol swab.
Wito berjalan melewati Isti untuk menuju kantornya. Isti balik badan hingga menghadap ke Wito.
"Bos, kapan aku pindah posisi. Bulan ini kebanyakan ada di posisi sampling lho. Bulan kemarin juga." Isti sudah mulai melancarkan serangan protes.
Wito tidak mengalihkan pandangan dari layar komputer. "Tahun depan."
"Yang benar saja, Bos? Becandanya nggak lucu. Masa iya, aku tugas setahun di sini. Nanti kalau pasien ramai terus gimana?"
"Iya, tuh. Kalau Isti di depan selalu ramai pasiennya." Vela ikut nimbrung karena kebetulan belum ada pekerjaan dibagiannya.
"Makanya kalau kerja nggak usah pasang spanduk pemberitahuan kalau kamu dinas. Pasien jadi berbondong-bondong datang." Ana mendekat.
"Memangnya aku artis? Pakai pasang spanduk terus pada datang," ujar Isti.
Vela dan Ana terkikik di depan Isti. Wito nggak ikut tersenyum.
"Besok sudah ganti posisi," ujarnya.
"Jangan hoax lah, Bos. Jadwalku masih ada di posisi sampling kok." Dahi Isti berkerut ketika mengingat jadwal kerja.
"Besok berubah kok."
"Jadi di mana, Bos?" tanya Isti penasaran. Sesungguhnya dia sudah merasa jenuh karena tiga bulan di posisi yang sama.
"Kejutan, lihat jadwal saja besok pagi." Wito memandang ke arah belakang Isti.
"Mbak, ada pasien." Perkataan Wito membuat Isti langsung menoleh.
Cewek itu langsung membuka pintu dan menyapa pasien. "Selamat pagi, Bu. Silakan duduk," ujarnya sambil menunjukkan sofa sewarna kayu yang empuk untuk duduk pasien.
Dia menerima formulir pemeriksaan dari pasien. Belum juga sempat membuka mulut untuk mencocokkan identitas, eh sudah ada orang lain yang menyerahkan formulir.
"Mbak, saya juga mau periksa lab."
"Saya juga."
"Ibu saya juga mau periksa."
"Oh, iya. Silakan menunggu di depan nanti dipanggil sesuai antrian." Isti tersenyum ramah sambil menunjukkan ruang tunggu pada orang-orang itu. Ternyata di luar sudah ada orang-orang yang menyerahkan formulir yang sama padanya.
Isti masuk ke dalam ruang laboratorium. Mata Ana terbelalak melihat banyaknya kertas yang ada di tangan Isti.
Vela mengepalkan kedua tangan lalu mengangkat keduanya hingga setinggi kepala. "Semangat! Semangat!"
Vela langsung berlari ke belakang sebelum mendengar bantahan dari Isti.
Bahu Isti terangkat lalu turun perlahan-lahan setelah melihat kelakuan temannya itu.
Ana mengambil formulir dari tangan Isti. "Aku bantuin transaksi saja ya. Ini dari atas kan?"
Baru juga Isti balik badan sudah terlihat ada formulir di dekat jendela. Dia memberi semangat untuk diri sendiri. Mengambil tumpukan kertas itu lalu menyerahkan pada Ana untuk diproses.
Sudah empat jam berlalu dan pekerjaan Isti sudah selesai. Dia lalu masuk ke dalam ruangan Wito dan memdaratkan pantat di sofa dekat singgasana bos.
"Mbak, ada pasien," panggil Wito karena melihat orang berdiri di depan pintu.
"Bos, istirahat dulu ya. Capek banget nih," pinta Isti.
Wito melirik cewek itu yang sedang mengurut kaki. "Ya, sudah. Minum saja dulu."
Wito bangkit dan keluar untuk menyambut pasien. Isti juga bangkit untuk minum lalu menuju meja administrasi untuk membantu Wito memproses formulir.
"Selamat pagi, bu. Kok sudah lama nggak periksa?" ujar Wito dengan keramahan tingkat tinggi.
"Saya baru pertama kali periksa di sini."
Jawaban pasien itu membuat Isti tergelak, tapi dia masih melanjutkan pekerjaan.
"Wah, ternyata kita tetangga ya. Rumahnya Ibu di Wonosobo, dekat dengan rumah saya." Wito kembali melanjutkan basa-basi.
"O, iya? Rumahnya Mase di mana?" Antusias yang besar terdengar dari suara Ibu itu.
"Ambarawa."
"Dekat dari mana? Wonosobo Ambarawa itu jauh pakai banget lho, Mas," protes Ibu itu dengan nada yang pedas karena merasa dibohongi.
"Dekat, Bu. Kalau dilihat dari peta."
Ana dan Isti dengan kompak memutar mata mendengar basa-basi si bos yang sangat basi.
Wito masuk ke dalam untuk mengambil perlengkapan.
"Bos, basa-basinya jayus banget," ujar Isti. Wito hanya tersenyum menanggapi protes itu.
Terdengar dering telepon, Isti mengangkatnya sebelum terlalu lama berdering.
"Selamat pagi, laborat dengan Isti. Ada yang bisa dibantu?"
"Mas Wito ada?"
"Baru ambil darah."
"Tolong sampaikan kalau Cinta telepon, suruh buka wa-nya," pinta Cinta dengan judes.
"Jangan sampai nggak disampaikan," ancam Cinta ketika Isti tidak juga menjawab.
Isti memutar bola mata, begini nih kalau junior pacaran dengan senior. Ngelunjak jadinya. Isti menimang telepon yang sudah ditutup, enaknya disampaikan atau tidak.
Daftar Indeks bisa klik di sini
Diubah oleh IztaLorie 19-11-2019 16:30
ren.juan dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Tutup
