Kaskus

Story

neopoAvatar border
TS
neopo
Riding to Jannah


Don't choose the one who is beautiful to the world. But rather, choose the one who makes your world beautiful. Keep her close to Allah. Keep him close to Allah. Together for Jannah. I want love that will say: "Not even death will do us part, because we'll be reunited in jannah, insyaallah”

Welcome to my thread. Dimana disini kalian diperbolehkan untuk mengkritik, memberi saran, share, dan memposting komentar yang sekiranya bermanfaat baik bagi penulis ataupun pembaca. Fiksi atau non fiksi, semoga bukan menjadi masalah bagi pembaca. Karena penulis harap bisa memberikan banyak manfaat kepada orang-orang melalui tulisan yang tidak seberapa ini. Terima kasih.


Tokoh :
  • Ardian - Aku, pria dengan tinggi 176cm yang hobinya main motor
  • Azril Riswan - Sahabat sejak kuliah, beda jurusan tapi masih satu fakultas
  • Elriko - Kenalan saat pertama kali touring, so cool but nice guy
  • Dina Resti - Bagiku dia perfect, tetapi sedikit cerewet
  • Alyssa Erica - Gadis cerdas dan sangat mempedulikan lingkungannya
  • Rofila Afifah - Kakakku yang cantik, cerewet tapi selalu bisa jaga adik-adiknya
  • Nuri Freska - Adikku yang sangat manja, segalanya harus dituruti, tapi ia juga penurut
  • Raden Dimas - Sometime good guy, sometimes bad guy (dalam arti sifat, bukan tindakan menyimpang)



Diubah oleh neopo 16-09-2022 12:17
junti27Avatar border
sukhhoiAvatar border
JabLai cOYAvatar border
JabLai cOY dan 27 lainnya memberi reputasi
28
43K
308
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
neopoAvatar border
TS
neopo
#146
Part 24 - Perbedaan
Sudah dua minggu lebih berlalu, dan aku masih belum mendapat kabar tentang Alyssa. Aku mulai khawatir dengannya. Selama itu juga aku tak banyak mengobrol dengan orang bahkan dengan keluargaku sendiri. Bahkan Nuri yang selalu berusaha mendekatiku, kini aku sedikit cuek padanya. Aku tahu seharusnya hal seperti ini tidak membuatku mogok komunikasi dengan orang lain. Kedatangan Linda kemarin seperti sebuah hal yang sudah Tuhan rencanakan. Linda menyadarkan aku bahwa aku tidaklah sendiri. Mungkin Alyssa sedang tak ada kabar disana, tetapi hal itu tak boleh membuatku menjadi seseorang yang menyingkir. Aku keluar dari kamarku. Kondisiku benar-benar berantakan. Aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bergabung bersama Nuri yang sedang menonton TV di ruang tengah.
Nuri: Kak
Aku: Iya de?
Nuri: Kapan ajak aku touring?
Aku: Kamu maunya kapan?
Nuri: Besok hehe
Aku: Waduh ngedadak
Nuri: Minggu depan juga boleh deh
Afifah: Kakak ikut dong
Nuri: Ayo ayo hehe
Afifah: Yah, sesekali libur sama adek-adek boleh lah hehe
Aku: Bener?
Afifah: Iyah.
Nuri: Pengen ke pantai kak. Udah lama ga ke pantai. Terakhir kan waktu kita masih kecil.
Aku: Kamu juga masih kecil sekarang
Nuri: Enak aja.
Afifah: Yaudah, ke Pangandaran lagi aja.
Aku: Kalau ga bosen sih hayu aja
Nuri: Fix jadi yah minggu depan.
Aku: Yaampun dek . . . semangat betul
Nuri: Haha. Biar jadi

Tentang Alyssa, aku rasa aku harus lebih bersabar. Aku akan tetap menantinya. Mungkin seharusnya aku mencari tahu. Tetapi siapa disana yang dapat aku hubungi? Nomornyapun kini tak aktif lagi. Haruskah aku menyusul kesana? Tidak, itu hanya membuang waktu. Dan aku yakin Alyssa juga tak ingin aku seperti itu. Mungkin aku lelaki pengecut, ya memang. Tetapi ada hal yang lebih penting daripada itu. Aku yakin Alyssa akan mengabariku tak lama lagi. Setelah shalat magrib, aku memutuskan untuk keluar cari angin. Sekedar menghilangkan rasa suntuk dirumah. Aku pergi ke sebuah kafe dimana aku dan Alyssa sering kunjungi. Kafe yang menjadi kafe favorit kami berdua. Singkat cerita, aku sudah tiba disana dan langsung mencari tempat duduk. Sampai aku tersadar ada seseorang yang memanggilku. Saat aku menoleh, ternyata ia adalah Dina. Akupun menghampiri Dina yang sedang duduk bersama seorang temannya.
Aku: Hei Din
Dina: Lo apakabar
Aku: Gue baik
Dina: Oh iya, kenalin ini temen gue, Reka
Aku: Halo. Gue Ardi
Reka: Gue Reka
Dina: Lo sama siapa? Ada janji?
Aku: Engga. Gue sendiri aja pengen kesini
Dina: Duduk sini aja. Kita juga baru dateng ko
Aku: Ga ganggu emang?
Dina: Engga lah.

Akupun duduk bersama mereka sekaligus memesan makanan bersama mereka.
Dina: Lo kok ga sama Alyssa?
Aku: Alyssa udah dua minggu ini ga ada kabar Din
Dina: Kok bisa?
Aku: Entahlah, ia ga ada kabar setelah berangkat ke Bali waktu itu

Kulihat Dina begitu menyimak apa yang aku katakan tadi. Tapi tatapannya menunjukkan keheranan.
Dina: Dua minggu?
Aku: Iya kenapa emang?
Dina: Emm gapapa kok. Kok bisa ya? *ucapnya pelan
Aku: Yaudalah Din, mungkin lagi sibuk
Dina: Lo yang sabar ya
Aku: Gue selalu nunggu dia pulang Din
Dina: Gue pasti doain kalian kok. Kalian kan sahabat gue
Aku: Lo sendiri ko bisa disini?
Dina: Biasa nongkrong cantik haha
Aku: Lo temen kuliah Dina?
Reka: Iya gitu deh hehe
Aku: Cerewet yah dia mah yah
Dina: Jujur amat si. Itu kan dulu waktu ama Riko
Aku: Sekarang juga masih
Dina: Enak aja. Engga. Gue mah rajin nabung, cuci kaki sebelum tidur, baik hati dan tidak sombong.
Aku: Iya lah serah lu

Sambil menikmati pesanan kami, kami mengobrol seputar kehidupan kami masing-masing. Dina memang kekasih Riko, tapi aku tak begitu mengenalnya seperti aku mengenal Alyssa. Begitupun dengan Dina. Dina merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Kakaknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Surabaya. Ia sedang kuliah di salah satu universitas di daerah Tamansari. Usianya lebih tua dariku beberapa bulan saja, tapi kuliahnya satu tingkat dibawahku. Ia sempat bekerja setelah lulus sekolah.
Aku: Lo ga cari cowo Din?
Dina: Engga ah, gue lagi ga mikir kesitu hehe
Aku: Lo ga bisa move on dari Riko?
Dina: Gue bukan ga bisa move on. Gue udah ikhlas, tapi ya lo tau sendiri lah.
Aku: Emm iya iya Din.
Reka: Kalian udah kenal lama?
Dina: Yaaa lumayan lah dari awal touring bareng
Reka: Jadi lo suka touring? *tanyanya padaku
Aku: Ya suka hehe
Dina: Lo ada rencana touring lagi?
Aku: Ada sih, tapi sama keluarga aja hehe
Dina: Kirain sama anak-anak hehe
Aku: Engga, Nuri rewel pengen touring udah lama. Da gue udah janji ajak dia. Eeeh kak Afifah mau ikut
Reka: Seru kayanya tuh. Cuma bertiga?
Aku: Kemungkinan sih gitu.
Dina: Cewek dua, cowok sendiri. Diperbudak dia nanti hahaha
Aku: Enak aja.

Di moment itu kami ngakak bareng, sampai akupun bisa istirahat sejenak dari kepenatan yang sedang aku alami. Sampai kami memesan pesanan kami hanya untik mengobrol di tempat seenak ini. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 8 malam tapi kami masih saja asyik mengobrol. Sampai akhirnya Reka berpamitan karena ia sudah dijemput pacarnya.
Reka: Gue duluan ya
Dina: Loh, dia udah sampe?
Reka: Udah, dia diparkiran. Gue duluan ya, Din, Di
Aku: Ah iya, siap.
Dina: Hati-hati.
Reka: Okey, bye, asaalamualaikum
Aku+Dina: Waalaikumussalam
Aku: Lo ga balik Din?
Dina: Engga, gue masih betah disini. Lo sendiri?
Aku: Bentar lagi mungkin.
Dina: Emm kalau gitu, nue nebeng yah haha
Aku: Hahah, ketawa aja
Dina: Yeehehe gue serius, tapi kalau ga boleh juga gapapa sih
Aku: Iya iya dah.

Setelah membayar bill, kami memutuskan untuk pulang. Seperti ucapanku tadi, aku akan mengantar Dina pulang. Selama perjalanan, ada saja yang jadi bahan perbincanganku dengan Dina.
Dina: Di, itu liat deh, naik motor pake celana pendek gitu
Aku: Ah elu liat celana haha
Dina: Iihh . . bukan. Ga dingin gitu, malem-malem, angin kenceng
Aku: Yaaa udah terbiasa mungkin. Kadang gue juga ga pernah pake jaket kalau bawa motor. Paling-paling kena masuk angin
Dina: Itu elu ngeremehin. Kan pake jaket itu juga buat keselamatan
Aku: Iye Din iyeeee . . .
Dina: Iishh dikasih tau juga *sambil memukul helmku
Aku: Buset, ga nakol juga kali
Dina: Hehe sorry.

Sampailah kami dirumah Dina. Aku mematikan motorku sekedar menghormati warga sekitar agar tak terlalu berisik.
Dina: Masuk dulu yu
Aku: Eh gue langsung aja
Dina: Ih jangan lah. Gue udah bilang ke bibi mau ada tamu. Jadi udah disiapin
Aku: Gue cape Din
Dina: Udah ayo. Itung-itung ucapan terima kasih gue karena lo udah anter gue pulang. Yah yah. . . bentar aja. Pliiiiis

Aku menghela nafas, kemudian turun dan melepas helm, lalu menaruhnya di spion.
Aku: Oke deh.
Dina: Yeaayy ayoo . . . *sambil menarik tanganku

Akupun masuk dan dipersilahkan duduk diruang tamu. Ternyata rumahnya agak sepi. Dina kembali dari dalam dan mengajakku untuk makan larut malam bersamanya dan bibi. Tapi bibi berkata sudah makan
Aku: Orang tua lo kemana din?
Dina: Lagi keluar kota Di
Aku: Oh gitu
Dina: Gimana masakannya?
Aku: Enak kok
Dina: Syukur deh kalau lo suka hehe
Aku: Abis ini gue langsung pulang ya
Dina: Iya deh.

Tak lama setelah kami makan larut malam, aku berpamitan pulang pada bibi juga. Dina mengantarku hingga ke motorku.
Dina: Makasih ya
Aku: Sama-sama.
Dina: Oh iya, kalau ada touring-touring lagi, kabarin gue ya.
Aku: InsyaAllah Din. Yaudah, gue langsung ya, udah malem banget. Assalamualaikum
Dina: Waalaikumsalam. Hati-hati

Akupun pulang kerumahku. Sesampainya dirumah, tak banyak bicara aku langsung merebahkan tubuhku di kasur tercinta. Keesokan paginya, aku berniat untuk berolahraga di tempat yang pernah kudatangi dulu. Sambil mendengarkan lagu dari headsetku, aku mengelilingi taman ini. Saat aku memindahkan lagu sambil terus jogging, tak sengaja aku menabrak seseorang.
Aku: Aduh maaf mas, saya ga sengaja

Kulihat lelaki yang tingginya sama denganku berambut agak sedikit keriting
Dia: Gapapa mas, santai aja
Aku: Punten mas

Akupun kembali melanjutkan aktivitasku. Aku duduk di sebuah bangku yang terdapat meja didepannya untuk beristirahat. Entah sudah berapa keliling aku jogging. Aku melihat lelaki yang tak sengaja kutabrak tadi. Ia menghampiri seorang perempuan yang sedang duduk di sebuah kursi. Tak begitu jelas rupa wanita itu karena sedang membelakangiku. Entah kenapa aku malah ingin tau tentang lelaki itu. Seperti sebuah pertanda untukku. Tetapi aku berusaha mengabaikan perasaan ini. Sampai akhirnya mereka berdiri dan keduanya menghadap kearahku. Jantungku berhenti seketika ketika kulihat mereka, dan salah satunya adalah sosok yang aku kenali. Alyssa?
Aku: Alyssa? *ucapku pelan

Ah bukan, tak mungkin itu dia. Tetapi wajahnya begitu mirip. Hanya saja, Alyssa memiliki rambut yang panjang, namun ia memiliki rambut yang agak pendek. Mereka berjalan karahku. Dan ketika mereka menghampiriku, lelaki tersebut menyapaku dengan ramah. Lalu gadis itu yang awalnya terpaku dengan handphonenya, melihat ke arahku. Aku tak salah, dia memang Alyssa. Hanya saja mungkin ia memotong rambutnya.
Dia: Saya duluan mas.
Aku: Iya mas. Silahkan

Alyssa? Benar itu adalah Alyssa. Ketika itu, ia benar-benar menatapku dengan begitu dalam. Entah kenapa aku malah mematung, bukannya mengejarnya? Atau kenapa aku tidak menyapanya? Bukankah kehadirannya yang selama ini aku tunggu? Lalu siapa laki-laki itu? Aku menghadap kembali kedepan, dan menyadari bahwa airku sudah habis. Aku menghembuskan nafas sejenak sambil mencabut headset dari telingaku. Lalu kemudian ada seseorang menyimpan sebuah botol minum didepanku dari belakang. Saat aku menolehnya, dia kembali. Alyssa Erica.
Diubah oleh neopo 26-06-2019 20:31
arifbws208e
i4munited
nasihiber
nasihiber dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.