- Beranda
- Stories from the Heart
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
...
TS
irazz1234
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
Met pagi momodku tercinta dan met pagi juga kaskuser semua.
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain
Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini
Anyway, selamat membaca
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain

Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini

Anyway, selamat membaca

Spoiler for INDEX STORY:
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Diubah oleh irazz1234 16-06-2019 09:37
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
6.9K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•5Anggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#26
Chapter 17 : Moving Day
Spoiler for :
Fajar menyingsing dari balik awan kelabu yang menggantung rendah di langit. Kabut tebal terlihat menyelimuti udara, membutuhkan jeda bagi cahaya matahari untuk dapat menembusnya.
Matthew terbangun dengan panik, dan sibuk mencari pistol dan senjata, sebelum menyadari bahwa tidak ada zombie yang perlu dibunuh, tidak ada ancaman yang mendekat. Keputusan sudah diambil, dan menurut kekhawatiran Matt, harus ada yang berjaga secara bergiliran, dan ia mengutuk dirinya sendiri karena jatuh tertidur.
Meskipun kini harusnya mereka merasa aman, Matt kesulitan beradaptasi dengan hal tersebut setelah begitu lama béada dalam pelarian selama berbulan-bulan. Mencuri tidur beberapa jam disana-sini, dan merasa ketakutan serta waspada sepanjang waktu.
Ia keluar dari pintu rumah bergaya pedesaan yang ditawarkan pada mereka, masih menggunakan baju armor tim penjinak bom yang ia temukan berbulan-bulan lalu. Petugas yang sebelumnya mengenakan baju ini telah lama tewas, dan matthew menyaksikannya sendiri. Dua kali.
Meskipun masih sangat pagi, orang-orang terlihat sudah bangun dan mulai beraktifitas. Di ujung jalan ia melihat sebuah kebun yang sedang dirawat dan dibersihkan. Tanpa adanya supermarket, barang kebutuhan sulit di dapat dan tidak ada yang akan mengantarkan, sehingga penduduk Vineyard membuat dan menanam kebutuhan mereka sendiri.
Beberapa petugas kebun melihat Matthew dan melambaikan tangan dengan riang, seolah mereka adalah tetangga selama bertahun-tahun. Matt membalas lambaian mereka dengan canggung. Ia tetap mencari keberadaan zombie seperti yang sering dilakukannya, tangannya tidak pernah berada jauh dari senjata. Saat itu sedang bulan Oktober, dan tanda kehadiran musim gugur mulai muncul disertai daun yang mulai berubah warna menjadi kekuningan. Matt juga mendengar kicauan burung dan angin dingin yang mulai berhembus diantara pepohonan. Tidak lama lagi musim dingin juga akan datang. Sebagian otaknya menebak bagaimana kelompoknya akan bertahan tanpa adanya panas.
Saat sedang menyusuri jalan setapak, ia melihat adanya tanda kehidupan yang lain. Di sebuah rumah ada seorang wanita yang sedang mencuci baju menggunakan papan gilas model kuno. Di rumah yang lain terlihat sebuah keluarga yang sedang mengisi peti kayu dengan barang-barang ciptaan manusia seperti kaset film, video games, televisi, dan barang elektronik lainnya, lalu mereka membuangnya ke dalam tempat sampah besar.
Sungguh menarik pikirnya, tanpa adanya listrik, benda-benda yang menjadi pilar kehidupan menjadi tak berguna. Handphone, televisi, komputer, dan juga laptop hanya dianggap sampah. Makanan dan senjata telah menjadi barang berharga di dunia yang sekarang ini.
Steve Rankin, seorang mantan perwira polisi, juga sedang menyusuri jalan, memeriksa keadaan warganya. Ia melihat kehadiran Matt, dan melambaikan tangan. Gerakannya tidak terlalu menunjukkan keramahan. "Bagaimana, tidur nyenyak?" Ia memulai percakapan dengan bertanya.
"Aku sudah terlalu terbiasa untuk tidak tidur." Respon Matt datar.
Steve menunjuk pada baju armor penjinak bom yang dipakai Matt. Untuk sebuah pinggiran kota yang sepi, Matt terlihat sangat tidak cocok berada disana. "Kau tidak harus memakainya setiap saat, tahukah kau? Belum ada satu zombie pun yang muncul setelah kami membersihkan tempat ini. Mengenakan armor itu setiap saat akan terasa tidak nyaman."
Matthew mengangguk. "Kau akan terbiasa." Jawabnya singkat.
Bibir Steve mengatup rapat menjadi sebuah garis. "Dengar, pertanyaan barusan bukan untuk membuatmu merasa nyaman. Orang-orang mulai merasa khawatir melihat kau dan teman-temanmu mengenakan baju mainan seperti itu. Mereka berpikir kejadian buruk akan segera terjadi. Apa kau tahu rasanya melihat anakmu tidur dengan nyenyak tanpa harus memberikan mereka senjata jikalau ada zombie yang menerobos jendela? Tempat ini aman dan nyaman, kalau gubernur senang dengan kedatangan kalian, maka tidak denganku. Tidak jika kami harus kembali merasa ketakutan dan merasa khawatir."
Matthew tertawa mendengarnya, suara tawa yang nyaring terdengar menembus helmnya. "Kau tidak perlu khawatir, segera setelah kami mengumpulkan persediaan, kami akan pergi, dan kau bisa dengan nyaman tinggal di dalam balon ini. Berada di satu tempat cukup lama bisa menjadi sangat mematikan jika ada zombie yang terlibat. Aku yakin kau akan segera mengetahuinya tidak lama lagi."
Tangan Steve bergerak cepat ke arah pistol 9-milimeter milik kepolisian yang di ikat di sabuknya. "Percaya padaku, kami sudah memiliki cukup banyak pengalaman menangani para zombie. Hanya karena kami beruntung dapat hidup nyaman tanpa hadirnya mereka selama beberapa bulan, bukan berarti kami lupa bagaimana caranya."
Untuk beberapa lama, tidak ada yang berbicara, bisa dipastikan akan ada perkelahian sebentar lagi. Tapi Matt hanya tertawa dan melanjutkan jalannya, menuju ke arah dermaga.
Ia di sambut oleh pemandangan yang akhirnya dapat membuatnya terkejut. Saat telah melewati tikungan, ia melihat sekelompok orang pria yang sedang bekerja menghancurkan kapal, membelahnya dengan kapak atau menghantam dengan palu gada. Potongan kayu dikumpulkan dan diangkut menuju pemukiman. Matthew melihat ada empat orang pria yang sedang berjalan mendekati kapal yang ia dan kelompoknya ambil dari Cape Cod. Sebelum ia dapat menyusul mereka untuk mendapatkan penjelasan, Joseph Corin memegang pundaknya.
"Tidak usah khawatir, nak. Kapalmu tidak berada dalam daftar yang akan dimusnahkan hari ini." Terangnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tanya Matt penasaran.
"Jadi, musim dingin akan tiba tidak lama lagi, dan kami membutuhkan kayu bakar agar tetap hangat." Jelasnya. "Kecuali kau dapat membuat pembangkit tenaga listrik disini."
Matthew hanya melirik saat sekelompok orang itu berjalan melewati kapalnya dan mulai bekerja menghancurkan kapal yang lain, menebang tiang dan menggergaji kayu. Ia menatap dengan pandangan masam, bibirnya mengkerut dan menyindir. "Kau sadar kan, mobil tidak bisa mengapung."
"Terakhir kali ku ingat, memang begitu." Jawab Corin santai.
"Lalu bagaimana kau akan mengeluarkan kami dari sini jika nanti zombie datang berkunjung? Berenang?"
Sang gubernur tersenyum. "Kau tahu apa masalahmu?"
"Apa hanya aku disini yang masih sedikit waras?" Balas Matthew.
Gubernur tertawa mendengarnya. "Masalahmu adalah, kau terlalu lama merasa ketakutan." Ucapnya. "Kau berada dalam pelarian terlalu lama, hingga pikiran untuk menemukan tempat yang aman malah menakuti dirimu sendiri."
"Karena memang hal seperti itu tidak ada." Balas Matt dengan cepat. "Kau memang beruntung. Dapat menemukan tempat aman yang tidak harus membuatmu melawan zombie sepuluh juta banding satu, lalu kau merasa puas akan hasilnya dan menjadi gemuk. Ketika makhluk-makhluk itu tahu keberadaanmu disini, mereka akan segera menyerang. Jika kau nanti sedang sekarat dan menyadari bahwa apa yang kukatakan adalah benar adanya, maka kami akan telah pergi jauh, diselamatkan oleh rasa takut kami sendiri. Kau bilang bahwa aku sudah terlalu lama ketakutan, faktanya, itulah cara teraman untuk tetap hidup."
"Lihatlah di sekelilingmu." Matt melanjutkan dengan membuka tangannya lebar. "Tempat ini memang tempat yang terbaik, tapi bahkan yang terbaik pun tidak akan bertahan selamanya. Kau berpikir semuanya akan kembali normal seperti dulu? Kau pikir makhluk-makhluk itu akan menghilang suatu hari dan listriknya akan kembali menyala? Tidak akan pernah terjadi, pak tua. Negara ini telah dijuluki 'Tanah Pemakaman' karena suatu alasan, dan hanya orang sepertiku lah yang akan bertahan hidup."
Joseph menggantung kedua tangannya, seolah ia merasa kasihan pada anak muda di depannya. "Nak, kuberitahu sesuatu hal penting, dan aku mengatakan ini dari lubuk hatiku yang terdalam. Jika menjadi seperti dirimu adalah hal yang harus dilakukan untuk bertahan hidup, maka bunuhlah aku sekarang dengan kapakmu sekarang juga, karena aku tidak dapat hidup seperti itu. Masih ada harapan, atau apakah harapan juga telah meninggalkan kita?"
Matthew tersenyum di dalam helmnya, lalu menunjuk ke arah mereka mendatangi pulau itu. "Disebelah sana."
Hanya itu, ia lalu berbalik dan pergi meninggalkan dermaga, membiarkan para pekerja pria dan wanita melakukan tugas mereka dengan riang. Mereka bekerja menyanyikan lagu saat bagian kapal mulai berubah menjadi potongan kayu. Saat kembali menuju rumah, ia berpapasan dengan petugas Rankin yang tersenyum padanya.
Matthew mengacuhkannya, tidak tertarik untuk beradu argumen.
***
Di dalam rumah mereka yang baru, Kaitlin dan Sarah tengah bekerja keras membersihkan rumah. Rumah itu sudah tidak dihuni beberapa lama, dan butuh usaha ekstra untuk dapat di tinggali dengan layak. Saat sedang membersihkan seprai dari debu, Kaitlin berhenti melipat pakaian dan mulai tertawa sendiri.
Sarah memperhatikan dengan heran. "Ada yang salah dengan melipat bajunya?"
"Bukan. Bukan begitu." Jawab Kaitlin pelan. Berhenti sejenak untuk mengusap air mata di pipinya. "Aku hanya tidak bisa mengingat kapan terakhir kalinya aku mengerjakan tugas rumah. Mencuci baju, merapikan tempat tidur. Bukankah kegiatan seperti itu hanya untuk dunia yang tidak terdapat zombie dimana-mana?"
"Seperti yang Joseph bilang, tempat ini tidak sama dengan yang lain." Sarah menjawab. "Aku tidak pernah menyangka akan dapat mencuci baju kali ini. Kain kumal yang telah kupakai, baunya sudah mirip seperti zombie!"
Tidak ada lagi yang berbicara setelah mereka melanjutkan tugas melipat pakaian. Kaitlin lah yang memulai pembicaraan, walau sebenarnya mereka berdua lebih memilih untuk diam.
"Jadi, apakah kita akan tinggal disini atau tidak?"
Sarah mengerutkan kening, Kaitlin dapat melihat kebimbangan di wajahnya. Dua argumen saling berperang di dalam benaknya. Rupa-rupanya, kedua argumen itu telah melakukan gencatan senjata, karena saat ia berkata selanjutnya, suaranya dipenuhi campuran berbagai macam kemungkinan.
"Sejujurnya, aku tidak tahu." Jawab Sarah sambil menghembuskan nafas panjang. "Yang pasti, Jake dan aku ingin tetap tinggal. Kita tidak bisa terus tinggal di jalanan. Sudah cukup sulit bagi kami. Roger, Marcus, anak-anak..." Ia berhenti berbicara, suaranya tercekat karena menangis.
Kaitlin memeluk pundak Sarah. "Aku tahu, aku tahu. Aku sendiri ingin sekali dapat tidur di tempat tidur betulan. Ada banyak orang baik disini. Terutama polisi itu, Steve."
Sarah tersenyum. Kaitlin telah dikenal sebagai seorang gadis yang tidak dapat hidup sendiri, selalu mencari pasangan. Cukup normal baginya jika harus mencari pasangan sekarang.
"Lalu bagaimana dengan Matthew dan yang lain?" Tanya Kaitlin.
"Itulah intinya." Jawab Sarah. "Kita tidak akan membutuhkan mereka disini. Bahkan jika nanti ada zombie yang datang, orang-orang disini akan dapat melindungi kita."
"Yeah, tentu saja mereka akan melakukannya."
Kedua wanita itu berbalik badan dan melihat Matthew yang sedang berdiri di pintu masuk. Di masa yang lain, pemandangan seseorang yang menggunakan seragam seperti ini akan di ikuti dengan tertangkapnya seseorang.
"Hal itu tidak akan terjadi." Sarah menjelaskan. "Tidakkah kau mengerti? Kita telah seminggu tinggal disini, dan tidak ada sebuah zombie pun yang terlihat. Mayat hidup itu tidak akan mengejar kita sampai kesini. Untuk pertama kalinya sejak kita memulai perjalanan ini, akhirnya kita menemukan tempat yang sepenuhnya aman."
"Kematian akan datang kemanapun kau pergi." Balas Matt tajam. "Begitu juga dengan perangkap turis ini, tidak akan ada bedanya."
Sarah mengangkat tangannya dengan ejekan seolah ia sedang menyerah. "Oke, baiklah. Terserah apa katamu saja. Jika memang tempat ini begitu menyebalkan untukmu, kau bisa pergi. Tidak ada yang akan memaksamu untuk tetap tinggal, dan jika kau memang berniat begitu, maka kau akan pergi seorang diri."
Matt mendengar suara, lalu berbalik dan melihat Jake, Michael, dan Ron, di tangga yang menuju ke lantai dua rumah. Teman-temannya telah melepas baju armor, dan mereka memakai baju biasa. Jika saja Matt tidak mengenal mereka, maka ia akan bersumpah bahwa orang-orang ini adalah warga biasa.
"Apa yang kalian lakukan? Pakai kembali baju armornya, sekarang!" Matthew berteriak marah. Sebagian otaknya berpikir bahwa ucapannya tadi terdengar konyol.
Ia berlari ke dalam rumah, mencari baju armor tim anti granat yang warnanya sudah pudar, dan bekas nodanya yang tidak bisa hilang walau dicuci. Yang lain hanya menonton, merasa khawatir dan kasihan pada Matt.
"Zombie dapat berada disini kapan saja!" Teriaknya. Melihat keluar jendela seolah zombie baru saja membobol pintu depan. "Ambil senjata kalian!"
Michael menyentuh pundak Matthew untuk menghentikannya. "Sudah selesai, bro. Kita sudah berpetualang cukup lama, dan kita semua lelah. Lelah berlari, lelah membunuh, lelah menebak apakah matahari yang kita lihat sekarang merupakan yang terakhir yang kita lihat sebagai manusia."
"Ron, jangan bilang kau juga ikut-ikutan tinggal di surga sialan ini." Ucap Matt, suaranya hampir pecah.
"Michael benar, nak. Kita telah tinggal di jalan cukup lama, dan aku bangga bisa bepergian bersamamu, dan lebih bangga lagi karena telah bertarung bersama-sama. Kita semua tahu bahwa hal ini akan berakhir cepat atau lambat. Kau sendiri tahu satu-satunya alasan Marie ikut kita pergi karena kita berjanji padanya untuk menemukan tempat yang aman. Baju armor terkutuk ini, akan menjadi peti mati kita nantinya. Aku hanya ingin tempat dimana aku bisa beristirahat dengan tenang, tanpa harus menyimpan senjata di bawah bantal."
Matthew menatap John. "Ayolah bro, jangan bilang kau juga ikut tertipu."
"Tertipu karena apa? Makanan segar, tempat tidur betulan, rumah yang aman. Dimana lagi kita akan menemukan tempat yang nyaman seperti ini? Dengar Matt, tempat ini adalah tempat yang bagus untuk kita tinggali, kenapa kau tidak dapat melihatnya?"
Matthew memandangi sarung tangannya, lalu berbalik badan dan melihat pantulan dirinya di cermin. Ia melihat betapa asing dirinya dibandingkan dengan yang lain. Diluar sana, di tanah pemakaman, dirinya adalah seorang prajurit, musuh abadi para mayat hidup. Disini, dirinya hanyalah sebuah barang peninggalan yang menjadi contoh, dimana ketakutan dan kegilaan menjadi begitu penting untuk dimiliki dalam bertahan hidup, dan orang-orang hanya ingin pergi meninggalkannya.
Matt berputar menatapi teman-temannya. Mereka semua menatapnya dengan pandangan kasihan.
"Kami semua telah berdiskusi dan memutuskan akan mengambil tawaran yang diberikan oleh gubernur." Ujar Jake, suaranya terdengar bagai sebuah lonceng kematian di telinga Matthew. "Kami akan tetap tinggal. Kau akan diterima dengan terhormat jika kau ingin tinggal bersama kami. Jika kau memutuskan ingin pergi, kami tidak akan menghentikanmu, dan kami akan menyediakan semua persediaan yang akan kau butuhkan. Tapi jangan tersinggung, kau akan pergi sendirian. Tidak ada apa-apa lagi untuk kita diluar sana."
Matthew teringat saat ia pergi meninggalkan yang lain di kantor Daily Tribune tempatnya bekerja di Marshfield. Ia mengingat malam itu seperti baru saja terjadi kemarin. Ia mencoba hingga delapan kali keluar jendela, ia sangat ketakutan, dan saat ia berhasil menyalakan mobilnya, suara mesin mobil terdengar seperti suara meriam. Ia ngebut melewati jalanan pinggir kota, menghindari mobil di jalan, dan melindas setiap zombie yang menghalangi. Tangannya menggenggam setir dengan amat kuat hingga ia berpikir akan mematahkan jari-jarinya.
Sekarang, disinilah ia berada, kembali pada posisi yang sama; ia hanya ingin segera pergi dari sini, dan sekali lagi rasa takut telah membuatnya terdiam di tempat.
Matt melihat ke arah pintu, menuju dermaga, dimana suara perahu yang tengah dihancurkan dapat terdengar. Matahari terbenam memancarkan cahaya oranye di awan, suara burung terdengar berkicau di cahaya senja. Ia memandangi teman-temannya dan mengeluh.
"Brengsek." Ucapnya. "Aku tidak tahu cara mengemudikan kapal sialan itu. Jadi aku terpaksa terjebak di pulau terkutuk ini bersama kalian."
***
Malam itu adalah malam pertama bagi pengungsi dari tanah pemakaman. Malam pertama mereka di rumah yang baru, malam dimana pertama kalinya mereka merasa semuanya akan berubah menjadi lebih baik ke depan.
Malam pertama dimana Matthew tidur dengan melepas baju armornya.
Ia menatap baju armornya, berwarna hitam, berbahan Kevlar, yang bernoda darah, isi perut, dan juga serpihan otak. Yang lain telah menyimpannya lebih dulu di loteng, dan saat Matthew menutup pintu, ia merasakan beban berat telah diangkat dari pundaknya, secara harfiah dan secara pengandaian.
Michael tersenyum saat melihat temannya sedang menutup pintu tangga menuju loteng. "Merasa baikan?"
Matthew memelototi kawannya seolah ia baru saja menumbuhkan kepalanya menjadi tiga. "Apa kau bercanda? Aku ketakutan sampai mau mati! Aku yakin kita tidak akan memblokir pintu dan jendelanya."
"Sayangnya tidak."
"Brengsek. Baiklah, jika nanti ada zombie datang dan merobek tenggorokan kita, tidak usah bersusah payah memikirkan mengapa itu sampai terjadi."
"Kau bisa saja pergi dan berkata, sudah kubilang, kan." Jawab Michael. "Selamat malam, bro."
"Siapa yang akan giliran berjaga malam ini?" Tanya Matthew khawatir.
Michael berhenti, lalu membalikkan badan dengan senyum di wajahnya.
"Oh, benar. Aman. Aku lupa." Ucap Matt. "Sampai jumpa besok pagi."
Matthew berdiri di dekat jendela di dalam kamarnya, matanya memandang ke arah kota. Lilin dan lampu minyak terlihat memancarkan cahaya redup di beberapa jendela kamar, dan beberapa lampu jalan terlihat menerangi malam, hasil dari generator. Matt merasa lega bahwa ada beberapa orang yang berjaga malam, tapi bukan itu yang menyita perhatiannya. Anak-anak terlihat bermain kejar-kejaran di bawah sinar rembulan, dan di dekat rumahnya, ada sepasang anak muda yang sedang berpacaran. Ia mendengar suara tawa, dan untuk pertama kalinya ia mengerti, mengapa kawan-kawannya tidak ingin kembali ke luar sana, tempat mereka berasal. Tanah pemakaman.
Begitu puasnya Matt, ia lalu menuju tempat tidur, dan tidak menyadari adanya bau yang muncul di udara. Ia hanya berpikir mungkin karena lupa menutup pintu toilet, walau faktanya ia telah menutupnya tadi.
kudo.vicious dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas
Tutup