- Beranda
- Stories from the Heart
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
...
TS
irazz1234
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
Met pagi momodku tercinta dan met pagi juga kaskuser semua.
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain
Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini
Anyway, selamat membaca
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain

Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini

Anyway, selamat membaca

Spoiler for INDEX STORY:
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Diubah oleh irazz1234 16-06-2019 09:37
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
6.8K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#25
Chapter 16 : A Small World
Spoiler for :
"Keadaan ini sungguh buruk." Ucap jendral Shiro Hasegawa saat ia mengamati wilayah pantai, yang saat ini dipenuhi oleh mayat hidup.
Burung camar sudah lama pergi, bau mayat yang menusuk sudah cukup untuk membuat mereka pergi menjauh. Pasir yang dulu terlihat putih bersih seperti salju, kini bernodakan bercak-bercak kemerahan. Shiro ragu apakan noda-noda itu dapat dihilangkan.
Seorang pria yang berdiri di sebelahnya mengangguk dan mencatat. Ia memiliki tugas untuk membuat sebuah laporan penuh tentang semua kegiatan pasukan militer dalam menahan serangan mayat hidup kepada pemerintah. Hasegawa hanya melirik pria yang bermuka-rubah itu dari sudut matanya. Saat ini ia hanya ingin melemparkan umpan kepada zombie yang jumlahnya ratusan.
Sang jendral berjalan menyusuri pantai. Ombak yang membawa gumpalan darah mengotori sepatu botnya. Ia berpikir untuk harus membakarnya nanti, sayang sekali. Sepatu itu adalah hadiah dari ayahnya saat ia lulus dari akademi militer. Rumah-rumah berjejer di tepi pantai yang berharga lebih dari gajinya selama seumur hidup. Bangunan disana berlantai tiga atau empat, dipenuhi sampah yang berserakan dimana-mana.
Sungguh ironis bahwa bangunan yang di iklankan dengan masif ini merupakan saksi yang pertama kali melihat dimulainya invasi zombie.
Tidak bisa dibilang invasi sebenarnya. Empat menit dan dua puluh tiga detik setelah tentara militer di infokan tentang keberadaan mereka, dua ratus lebih zombie yang langsung dimusnahkan. Peluru disarangkan tepat di kepala makhluk-makhluk ini. Tubuh mereka direndam dalam cairan asam agar tidak menghilangkan jejak. Penyebaran virus yang mematikan ini masih sebuah misteri besar, dan tidak ada pihak yang ingin mengambil resiko.
Penasihat pemerintahan menyaksikan saat mayat ini diseret untuk dimusnahkan. Kulit tubuh yang berwarna biru pucat, warna tidak biasa dengan kebanyakan mayat yang di isukan berwarna abu-abu pucat. "Kira-kira mereka ini berasal dari mana?" Tanyanya saat sibuk mencatat.
"Jika kau baca catatanmu itu sebentar saja, mungkin kau akan dapat jawaban." Jawab jendral Hasegawa. "Ini adalah akibat dari kapal-kapal Amerika yang di tenggelamkan."
Penasihat itu kembali menulis di buku catatannya dengan cepat. Shiro Ingat bahwa ia harus memperhatikan kata-katanya. Semua fakta yang orang ini akan laporkan dapat mempersulit dirinya kelak. Ia berpikir selama semenit sebelum melanjutkan. "Seperti yang bisa kau lihat, kebanyakan dari korban adalah penduduk Amerika, lihat saja pakaiannya. Dengan gaya campuran dan lihat itu bentuk gaunnya. Kemungkinan mereka adalah para pengungsi yang menaiki kapal untuk mencari perlindungan di negara lain yang 'ramah'. Aku yakin mereka ditenggelamkan oleh kapal selam perang. Dasar orang-orang bodoh. Mereka harusnya membunuh semua orang sebelum menenggelamkan kapalnya."
Kejadian seperti ini semakin menjadi hal yang umum. Setelah sekian lama, jumlah kapal laut yang meninggalkan 'pemakaman' menurun dengan tajam, tapi patroli laut masih tetap bersiaga. Kapten kapal mulai menjadi malas, menenggelamkan kapal begitu saja tanpa memikirkan penumpang kapal yang berpotensi mematikan.
Sang jendral telah mendengar masalah seperti ini terjadi di negara lain. Di India contohnya, sebuah kapal tanker yang membawa kurang lebih seribu penduduk Amerika telah ditenggelamkan. Setelah tenggelam, sudah dipastikan mereka akan bangkit sebagai mayat hidup, dan bergerak menuju pantai terdekat. Pada sore itu, polisi dan tentara dibanjiri telpon yang memberitahukan adanya 'zombie yang muncul dari dalam air'.
Di Inggris, sekelompok orang yang menyebrang laut untuk mengumpulkan dana pada sebuah acara amal tiba-tiba ditarik ke dalam air. Tidak ada jejak yang dapat ditemukan. Para polisi yang ditugaskan untuk mencari dari dalam air juga ikut menghilang. Saat otoritas keamanan setempat akhirnya menemukan sumber masalahnya, mereka sudah hampir saja terlambat.
Wilayah Australia cukup beruntung. Predator alami yang mengelilingi daerah mereka mampu membersihkan zombie yang menuju pantai dengan cukup cepat. Untuk berbagai alasan, virus yang menjangkiti manusia nyatanya tidak berpengaruh kepada hewan. Zombie kangguru dan zombie Walabi tidak menginvasi daerah mereka.
Shiro mencoba membayangkan, sebuah cahaya bulan yang temaram dan lembut. Sosok bayangan gelap muncul dari dalam air, sunyi, hanya erangan pelan bagai bisikan. Sepasang muda-mudi yang sedang memadu kasih di pantai, dikoyak hidup-hidup tanpa sempat menyadari apa yang menyerang keduanya.
"Pastikan kau menyampaikan ini pada angkatan laut." Perintahnya pada si penasihat. "Semua kapal harus dipastikan 'bersih' sebelum di tenggelamkan."
Penasihat itu mengangguk cepat dan menuliskan catatan pendek. Shiro tidak berharap pemerintah akan melakukan sesuatu. Pada saat ini, mencari kambing hitam merupakan hal yang terpenting.
Beberapa teriakan yang terdengar di dekat pantai menarik perhatiannya. Sekitar beberapa ratus meter, terlihat sebuah sosok gelap yang terhuyung-huyung muncul dari dalam air. Tentara terlihat berlarian mendekat, dan mulai melepas tembakan, lebih banyak mengenai air dan pasir daripada mengenai sasaran. Shiro memaki sambil menggeleng.
Bahkan sekarang, setelah hampir satu tahun sejak pembantaian massal ini dimulai, orang-orang masih saja ketakutan pada mayat hidup. Hanya melihat penampakan saja dapat membuat orang-orang menjadi panik, meskipun telah banyak pelatihan yang di selenggarakan untuk para tentara dan warga sipil.
Lebih banyak tentara yang datang untuk membasmi zombie, dan setelah beberapa waktu semuanya dapat dimusnahkan. Pasukan berseragam anti radiasi pun datang, dan sisa-sisa peperangan di angkut dan di bawa pergi. Baru saja, radio Shiro berbunyi. Ia menghela nafas dan menekan transmiternya. Ini pasti bukan berita yang baik.
"Jendral! Lebih banyak zombie yang muncul di Kobe! Lebih dari tiga ratus!"
Shiro memeriksa apakah penasihat pemerintahan dapat mendengar berita barusan. Sudah pasti, manusia bermuka-rubah ini terlihat sibuk menulis di catatannya, mencoba untuk tidak terlihat bahwa ia sedang menguping.
Shiro memaki lagi dan merespon. "Kirim semua anggota yang ada. Akan ku kirimkan bantuan secepatnya."
Ia memutuskan panggilan tersebut dengan melempar transmiternya kuat-kuat, cukup untuk membuat radionya rusak. Ini sangat buruk. Amat sangat buruk.
***
Dua hari kemudian, Shiro dipanggil oleh 'komite perang terhadap mayat hidup', sebuah lembaga yang dibentuk pemerintah untuk memastikan dan mengambil keputusan agar zombie tidak mendekati wilayah pantai Jepang.
Sang jendral duduk di atas meja kayu besar panjang. Meskipun ada banyak bangku disana, tapi ia lebih memilih duduk di meja, menjadikannya sebuah kehormatan bagi anggota komite.
Komite itu beranggotakan sebelas orang, tujuh pria dan empat wanita. Setiap orang membawa setumpuk catatan, kemungkinan berupa laporan hasil aktifitas mayat hidup yang terakhir. Shiro tidak melakukan apapun, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Bukan pertama kalinya ia dipanggil untuk ditanyakan tentang keputusan yang telah diambilnya. Taktik perang yang mematikan, ruang konferensi yang remang, sebuah lampu di atas kepalanya, tidak membuatnya takut. Shiro tahu bahwa semua anggota komite telah mengetahui dirinyalah yang paling berkualifikasi untuk menjaga agar zombie-zombie itu tidak mendekati pantai. Tapi dengan semakin banyaknya zombie yang muncul, mereka membutuhkan seseorang untuk dijadikan kambing hitam.
Salah seorang anggota komite, pria gemuk dengan rambut tipis bernama Osamu, terlihat tidak berhenti memeriksa dokumen di depannya sambil menatap sang jendral. "Kau telah mengetahui alasan kau ada disini, hari ini, jendral Shiro Hasegawa."
Sang jendral mengangguk. "Apa aku akan diberikan pensiun dini?"
Osamu meradang mendengar hinaan itu, matanya menatap tajam. Shiro, di lain pihak, terlihat santai dan tenang, seolah topik pembicaraan kali ini adalah benar-benar tentang dirinya yang akan segera pensiun.
Osamu menunjuk pada tumpukan kertas, yang tingginya hampir sepuluh sentimeter. "Ini menunjukkan kegagalanmu untuk melindungi negara kita, jendral. Selama lima bulan, sudah banyak laporan tentang penampakan mayat hidup. Sudah banyak timbul korban dari penduduk di negara ini."
Shiro hanya menyilangkan tangannya dan tidak berkata apapun, sambil memelototi anggota lain yang berani menanyainya. Biarkan saja mereka mengambil alih tugasnya, dan lihat seberapa mudah mereka melakukanya. Melawan musuh yang tidak mengikuti aturan perang, musuh yang menyerang dari semua sisi, tidak butuh bantuan, tidak butuh perlengkapan, dan tidak butuh panduan. Mereka tau apa yang mereka inginkan. Melawan mayat hidup sama seperti melawan banjir atau angin ribut, tidak ada satupun aturan perang yang berlaku.
Shiro berdiri, melegakan tenggorokannya dengan meminum air, yang dengan penuh perhatian disediakan oleh komite, meneguk airnya sambil berpikir apakah air minumnya telah diracuni atau tidak. Tapi dia tidak merasakan darah menggelegak di kerongkongannya, jadi ia melanjutkan. "Anggota komite yang terhormat, sudah saatnya untuk menjadikan semua ini bukanlah sebagai serangan biasa, melainkan sebuah tanda."
Anggota komite saling pandang satu sama lain. Osamu menjawabnya mewakili mereka. "Tanda untuk apa, Shiro?"
Sang jendral menunjuk pada peta dunia. United States diberi warna merah, begitupun pulau kecil disekitarnya, untuk menggambarkan daerah kemunculan zombie. "Dalam laporanmu tanpa ragu disebutkan, jumlah kapal dan pesawat yang berasal dari Amerika sudah menurun dengan sangat signifikan dalam dua bulan terakhir." Ucapnya. "Aku yakin ini artinya populasi penduduk Amerika sudah tidak ada lagi."
Gumaman kekhawatiran seketika menyebar di dalam ruang pertemuan. Sebenarnya, banyak satelit mata-mata yang mendukung pernyataan ini. Pada mulanya, banyak kota yang masih ditinggali oleh penghuninya, tapi dalam beberapa minggu terakhir, satu demi satu kota telah diambil alih oleh zombie. Tidak ada penjelasan yang dapat ditemukan, tapi jawabannya sudah cukup jelas.
"Kita telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana zombie mengejar makanannya. Rasa lapar mereka yang tak pernah berakhir, dan mereka akan menghampiri seberapa pun jauhnya, meskipun hal itu cukup beresiko untuk mereka sendiri."
Suara Osamu menunjukkan rasa ketakutan, sama seperti anggota komite lainnya. "Dan kau berpikir bahwa pencarian mereka telah mengarahkan mereka sampai kemari?"
"Benar. Kemungkinan mereka mengetahui keberadaan kita saat sedang mengejar para warga Amerika yang melarikan diri, atau mungkin saja rasa lapar mereka yang begitu kuat yang telah membawa mereka berjalan hingga ratusan kilometer di bawah laut. Meskipun begitu, yang sedang kita hadapi bukanlah serangan biasa. Ini adalah serangan invasi."
Semua anggota komite yang hadir mulai ribut sambil memeriksa dokumen untuk menemukan kemungkinan dari penjelasan barusan. Shiro berharap sebaliknya. Walaupun kemungkinannya sudah cukup jelas, namun ia berharap pada harapan itu sendiri agar kemungkinan itu tidak ada. Ia sadar bahwa negaranya tidak akan sanggup bertahan melawan invasi para zombie. Penduduk Amerika telah mencobanya, dan kini apa yang mereka miliki? Setidaknya mereka memiliki wilayah yang cukup luas untuk dapat melarikan diri. Di Jepang, dengan luas wilayahnya yang terbatas dan populasi yang cukup tinggi, korban dari invasi ini akan luar biasa banyaknya.
Osamu mengangkat tangannya untuk menenangkan suasana. Ia menatap tajam Hasegawa. "Kau paham bahwa kita tidak dapat begitu saja menerima penjelasan itu. Kau akan dibebastugaskan hingga kami selesai memutuskan apakah benar semua penduduk Amerika telah kabur dari negaranya sendiri."
Tiba-tiba ada seorang prajurit yang menerobos masuk ke dalam ruang pertemuan. Wajahnya sangat ketakutan, dan bagian depan seragamnya berlumuran darah. Keringatnya mengucur deras, mengingat temperatur di dalam ruangan itu yang cukup dingin.
Osamu bangkit dari duduknya dengan marah. "Berani-beraninya kau menerobos masuk saat rapat sedang berlangsung!" Teriaknya marah. "Keluar kau sebelum kau ditangkap!"
Tapi prajurit itu tidak menghadap ke anggota komite yang kelebihan berat badan, melainkan kepada Shiro, lalu ia jatuh berlutut. "Jendral, kami mendapat laporan dari seluruh negeri. Pasukan mayat hidup ada disini."
"Dimana?" Tanya Osamu, yang dengan panik memeriksa ruangan seolah-olah ada zombie di dalam sana.
Ketika prajurit itu mengangkat kepala, terlihat ia sedang menangis.
"Dimana-mana."
kudo.vicious dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas