- Beranda
- Stories from the Heart
Misteri Gunung Lawu ( Kisah Mistis )
...
TS
.nona.
Misteri Gunung Lawu ( Kisah Mistis )

Cerita ini berdasarkan pengalaman teman-teman dan TS yang biasa mendaki gunung, nama semua yang ada di cerita ini disamarkan. Begitu juga dengan tokoh utamanya.
Walau cerita ini akan ditambahi bumbu-bumbu penyedap biar lebih seru, tapi based cerita ini adalah kejadian nyata walau hanya kerangka ceritanya saja, jadi anggap saja cerita ini fiktif. Mau percaya atau tidak yang jelas kehidupan tak kasat mata itu memang nyata.
Semoga cerita ini menghibur rekan-rekan pembaca semua, untuk yang tidak suka dengan cerita mistis lebih baik jangan diteruskan membacanya ditakutkan kecanduan.
Prolog
Cerahnya mentari membakar kulit di daerah Solo ini, entah sudah berapa kali kuminum air putih yang kubawa menunggu datangnya kedua kawanku. Nampak 3 tas caril yang kugunakan dan punya kawanku tergeletak di ujung pos entah sepertinya tempat ini adalah pos satpam yang ditinggalkan dekat stasiun Solo Jembres.
Terdengar suara kawanku Joko dan Endri melangkah menuju pos tempatku berteduh, entah sudah berapa kali asap putih mengepul dari mulutku. Waktu yang terasa lambat menunggu kawanku membeli logistik di sekitar pasar agar pendakian ke lawu tidak menjadi teror di kala perut lapar.
"Lama amat" ujarku
Joko dan Endri mesam mesem persis kaya petruk dan gareng lagi nyari bau kentut nya semar.
"Ahh... Elahh Don, nih lihat bawaan lumayan banyak" ujar Joko, sambil menenteng beberapa belanjaan logistik yang sudah dibeli.
"Tau lo Don, lo mah enak cuman bengong sambil ngebul jagain tas doank" Endri pun tak kalah sengit membela Joko.
Aku pun tersenyum kepada mereka, " janc*kk, malah marah-marah ya aku yang salah...puas dah lo.. "
Mereka pun tertawa secara bersamaan, tak banyak yang diceritakan di daerah Solo Jebres ini namun perjalanan masih panjang. Joko pun menelepon seseorang untuk menjemput kami, karena yang lebih paham daerah ini dan Lawu adalah Joko. Jadi aku dan Endri tinggal duduk manis menunggu perintah selanjutnya dari pimpinan pendakian kali ini.
"Waduhh... kita harus nunggu setengah jam lagi, yo wes kalian istirahat dolo dah. Cari tempat ngopi yuk " ujar Joko.
Kami berdua pun mengangguk, rasanya menunggu sambil ngopi dan makan gorengan lebih nikmat dibandingkan harus menunggu di tempat yang mulai panas ini.
Kami pun berjalan, hingga terlihat warung kopi di pinggir jalan. Barang bawaan pun ditumpuk jadi satu, logistik pun sudah dibagi masuk ke dalam caril masing-masing.
Kami pun memesan mie rebus, lumayan untuk ganjalan perut yang sudah mulai teriak lapar. Sembari memakan mie yang sudah terhidang, rasanya air putih di depanku tak sanggup menahan rasa dahaga yang sedang kuderita.
"Bu De aku es teh manisnya satu ?" ujarku, lalu disambut dengan ucapan kedua temanku.
"Aku es Jeruk Bu de, Aku kopi Bu De"
Pemilik kedai yang sudah berumur setengah baya itu pun mengangguk, ia pun mulai membuat pesanan minuman dengan terampil. Mie rebus punyaku pun habis lebih dulu, sedangkan kedua temanku masih asik mengunyah mie yang menjadi idola para pemuda yang sering ngekost.
Sedang asik bersenda gurau datanglah seorang laki-laki paruh baya disamping kedai kopi itu, pandangannya kosong nampak menatap jauh tanpa arah. Aku pun melihatnya dan merasa iba, aku segera beranjak mendekatinya.
"Maaf Pak, ini bangkunya biar enak duduknya"
Ia menoleh kepadaku ada senyum yang terasa berat.
"Makasih Le... "
"Mau minum kopi pak..? "
Ia pun menggeleng, menolak pemberianku.
"Rokok.. "
Ia kembali tersenyum diambil nya satu batang dari bungkus rokok yang kuberikan. Kepulan asap pun mulai keluar dari mulut kami berdua, kulihat tatapannya tidak ada perubahan masih kosong dan tak tentu arah.
"Sampean ini mau kemana, ke Lawu ya.. " ucap si bapak.
"Iya pak.. "
"Ohhh... Hati-hati ya, kalau ke sana. Saat ini banyak aura negatif di gunung lawu" ucapnya.
Aku hanya diam, tanpa bermaksud bertanya lebih jauh. Hanya anggukan kecil yang ku isyaratkan.
Kembali ia mengepulkan rokoknya terlihat olehku dari tampilan tangannya yang menggambarkan ia seorang pekerja keras, terlihat dengan jelas di lengan tangan kanan sebuah tato dengan motif bunga dan di lengan tangan kiri bertato motif naga dan wanita. Nampak masih mudanya bapak ini sosok orang yang di segani oleh orang sekitarnya.
"Ohh iya bapak asli dari sini....??"
"Bukan, Le aku dari Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Kamu tahu..?? "
"Tidak pak, aku ga ngerti daerah sini asalku dari Jakarta"
"Ohhh... Terima kasih ini Le, Rokokmu... " ucapnya dengan nada berat.
Kemudian temanku memanggil, "Woyy Don, itu bayar makananmu masak lo gw traktir terus bisa bangkrut aku" Joko teriak.
"Ehhh... Iya, bentar ya pak"
Aku pun segera membayar makanan yang sudah kupesan, "Ini bude, lalu memberikan sejumlah uang" setelah selesai pembayaran, aku pun menoleh ke arah tempat bapak tadi duduk ia sudah tidak ada.
"Loh Ndri... Tadi lo liat bapak yang duduk disini ngobrol ma gw pergi kemana ??"
"Bapak-bapak, ngaco lo... Dari tadi juga lo bengong ngerokok sendiri, di panggil juga diam aja makanya si Joko tadi teriak manggil lo... "
"Ahhh yang benerr....tadi aku ngasih... " ucapanku terhenti. Kulihat sebatang rokok yang masih utuh di bangku tempat si bapak itu duduk.
"Ealahhh.. udah ahh ngelindurnya yuk berangkat, tuh mobil kawanku sudah sampai di seberang" Joko pun mengambil carilnya.
Kuambil rokok tadi, masih utuh tanpa terbakar sedikitpun. Bulu kudukku berdiri seakan ada yang janggal, aku pun berdo'a semoga saja itu hanya halusinasi karena beban stress yang menggelayuti kepalaku.
Atau apakah benar dia "Hantu"
#Bersambung
Quote:
Quote:
🙏 terima kasih untuk agan mantab93 yang sudah repot-repot buatin index.. 👍
Tambahan Cerita Mistis Dari Kaskuser
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh .nona. 08-07-2021 11:16
camiakiersty715 dan 120 lainnya memberi reputasi
117
220K
895
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
.nona.
#397
Part 17

"Kraakkk... " terdengar suara ranting yang patah.
Lalu nampak dari kejauhan di dalam hutan terlihat siluet seseorang, lambat laun berjalan semakin dekat.
Pengawal ratu langsung siap berjaga, tombak yang di pegangnya sudah dalam posisi keadaan tempur.
Nampak seorang tua berjalan santai, dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Astaga tuan, maafkan hamba.. " sang pengawal nampak mukanya pucat ketakutan.
"Tidak apa-apa aku hanya ingin melihat cucuku, aku takut kalau ia terpana dengan kecantikan penunggu istana hingga tak ingin kembali.. " ucapnya terkekeh.
Mas Jati merasa malu, rona wajahnya terlihat seperti kepiting rebus merah merona.
"Kakek... " ia pun segera sungkem.
Aku pun mengikutinya, memang aku memgenal sosok kakek ini, karena sosok yang sama ketika aku sedang menaiki lawu bersama kedua kawanku.
"Sehat kek... " tanyaku
"Seger.. nih lihat.. "tangannya di gerakkan seakan akan mau senam.
Kami tertawa melihat tingkah sang kakek, begitu juga pengawal kerajaan nampak tak bisa menahan tawanya.
"Apa kata nyai..? "
"Kami disuruh semedi di pringgodani"
"Hmmm... yo wes aku mau ketemu kanjeng ratu dulu, kalian cepatlah kembali ke raga kalian. Hari sebentar lagi pagi !!"
"Pagi..?" Aku bertanya dalam hati, dari tadi disini nampak cerah mungkin di sekitar lawu saat ini masih gelap, entahlah agak rumit bila kita berada di dimensi yang berbeda.
"Saya pamit dulu kek.. " kembali kami sungkem kepada kakek mas Jati.
Setelah kami pamit pada kakek dan pengawal kerajaan, seperti kemarin kami memasuki celah sempit hingga akhirnya tibalah di gua jolotundo. Tapi yang membuatku bertanya aku melihat diriku dan mas Jati sedang melakukan tapa brata.
"Mas bukannya tadi kita pergi ke laut selatan, lalu mereka ini siapa? " Aku pun merasa bingung.
"Ini raga kita Don, kemarin jiwa kita saja yang bepergian"
"Kok aku ga merasa ya mas... "
"Sengaja, aku tutup mata batinmu melihat ragamu agar kamu tidak takut"
"Jadi sekarang aku harus bagaimana"
"Kamu masuk saja langsung ke dalan ragamu, tapi ingat perlahan seperti ini" mas Jati memperlihatkan ketika jiwanya bersatu dengan raga, terlihat cukup mudah namun ketika jiwanya masuk raganya masih terdiam.
Aku pun melakukan hal yang sama, kemudian pandanganku gelap lambat laun aku berusaha membuka mataku namun agak berat. Terasa remang-remang pandanganku seakan bangun tidur lambat laun penglihatanku sudah kembali sempurna. Aku melihat mas Jati tersenyum, lalu ia menyuruhku ganti baju dengan baju ku yang biasa.
Gua itu nampak hening, bahkan tak ada tanda celah yang kulewati tadi hanya terdengar deru ombak seperti suara di pantai. Selesai semuanya kami bedua keluar dari gua Jolotundo, nampak hari yang gelap kini ingin berganti dengan pagi walau semburat jingga masih nampak terlihat di cakrawala.
"Hari sudah semakin pagi lebih baik kita turun lewat cemoro sewu untuk segera ke pringgodani" ujar mas Jati.
Aku hanya mengangguk, kepalaku masih keliyengan karena apa yang terjadi benar-benar di luar akal yang tidak wajar. Aku pun mengikuti langkah mas Jati perjalanan cukup curam jalur ini, berbatu bahkan angin sangat kencang dan terasa dingin menusuk kulit. Jalanan sangat sempit dan sepi apa karena mata batinku berada di dimensi lain walau ada beberapa pegangan kuakui turunan ini cukup curam, hmmm... rasanya badannku hampir beku, kami berdua pun berusaha mencari celah bukit untuk berlindung dari angin. Akhirnya kami menemukan sedikit celah dan cukup luas untuk berempat beristirahat.
"Dingin ya.. "ucap mas Jati.
"Iya mas... apalagi kena angin kencang gini.. "
"Sepertinya kita kelelahan ketika melakukan ilmu pelepas sukma, ketika tapa brata tadi, biasanya aku juga kuat dengan dingin angin lawu tapi kali ini aku menyerah...."
"Kita nyalakan api saja mas.. "
"Hmmm...ide bagus.."
Kami kumpulkan sisa-sisa api unggun pendaki lainnya dan beberapa ranting yang mengembun nampak basah. Lama sekali kami berusaha membuat api unggun , namun tiada kunjung menyala, sementara kami semakin lama seperti kaku kedinginan.

Akhirnya aku ada ide kuambil beberapa kaos yang sudah usang menurutku, begitu juga dengan kaos kaki dan bahkan celana dalam satu persatu pun menjadi korban untuk dibakar itu semua dilakukan untuk menghangatkan badan.
Asap yang keluar mengeluarkan aroma-aroma yang berbeda, hingga kami berdua menutup hidung maklum celana dalamnya bekas di pakai.
"Gila sampean Don.. masak celana dalam ikutan dibakar... gondal gandul dong nanti"
"Ya ga semua lah mas... sisain 1 biji.. biar di pake side A side B"
"Bocah edan.. "mas Jati pun nyengir.
Akhirnya tubuh kami kembali hangat, ketika berdekatan dengan api. Entah sudah berapa lama kami disini mentari mulai bersinar malu-malu awan yang menghalangi sinarnya perlahan mulai sirna. Angin kencang pun sudah berganti dengan tiupan yang lebih damai dan hawapun sudah tak sedingin beberapa menit yang lalu.
Beruntungnya api pun sudah mulai memudar, kalau tidak bisa hipotermia kami berdua di atas gunung.
"Sudah mulai hangat... yuk jalan lagi" ucap mas Jati.
"Ok mas... bye-bye sempakku.. "
"Sudah nanti beli lagi yang baru di pasar... "ucap mas Jati terkekeh.
Perjalanan pun berlanjut, hingga kami sampai di pos 4, pos ini cukup sempit hanya berupa tempat datar yang menurutku sangat sempit yang berada di cerukan tebing batu, hanya cukup untuk mendirikan satu buah tenda, tempat ini sedikit terlindung dari hempasan angin.
Perlahan lahan kami berjalan kita akan memasuki lingkupan hutan yang menandakan kita akan memasuki vegetasi hutan tropis yang rapat. Pemandangan di atas lawu memang sangat indah, awan bergulung di bawah kaki kita, kota kota bak mainan kecil di hadapan megah semesta raya, nampaknya semua itu akan menjadi cerita ketika aku tua nanti.
Jalur berbatu kerap menemani perjalanan kami saat ini, hingga akhirnya sampailah kami di pos 3, di jalur ini terdapat asap belerang sehingga pendaki disarankan untuk tidak berlama-lama beristirahat di Pos 3 lebih baik segera di lanjut bila ingin turun ataupun hendak mendaki.
Memang di ketinggian 2800 Mdpl pos ini ditempuh dengan medan trekkingnya adalah jalanan berbatu yang sudah ditata dan menanjak bila kalian mendaki dari sini begitu juga ketika ingin turun bisa di bilang cukup curam dan tajam. Jika diperhatikan, jalur ini dari atas berkelok - kelok, karena jika dibuat jalur yang lurus terus, medannya semakin susah dan terjal. Atau kalian bisa menerobosnya saja dengan melewati jalan pintas, tetapi lebih susah. Sebaiknya menggunakan jalan pintas ini saat turun pendakian. Di perjalanan, bahkan aku sering mencium bau belerang, walau bau belerang ini bisa tercium selama perjalanan sampai pos 5 tapi karena angin kencang baru bau belerang ini lebih pekat tercium dari pos 3. Setelah sampai di pos 3, kita pun beristirahat sejenak di bangunan gardu yang modelnya sama di setiap pos.
Setelah beberapa menit perjalan kembali di lanjut menuju Pos 2 dengan ketinggian 2578 Mdpl, trekkingnya ada yang menanjak tajam, datar, menurun dan naik lagi. Tentunya ini cukup melelahkan. Akan tetapi sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi batuan - batuan dan hutan pinus yang menakjubkan.
Hingga akhirnya kita pun sampai di pos 2, tapi aneh badan kami cukup lelah tidak seperti biasanya begitu juga mas Jati kulihat sama seperti diriku energi kami seakan terkuras ketika di Jolotundo. Kulihat pos 2 berupa dataran yang agak luas, banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan banyak batu besar, sehingga pendaki dapat membuat tenda ditempat ini dengan nyaman karena terlindung dari hempasan angin. Bila ramai di Pos 2 ini juga sering terdapat pedagang makanan. Di Pos ini terdapat bangunan beratap yang sering digunakan para pedagang untuk berjualan makanan. Namun tentu saja masih tercium bau belerang, pos 2 ini sesekali, terladang ada pendaki yang alergi ketika mencium bau belerang, terkadang bisa membuat kepala mereka menjadi pusing. Yang tidak tahan bau belerang saran saya kalau mendaki dari cemoro sewu harap membawa masker khusus tapi kalau terbiasa ya santai saja.
Aku melihat sepertinya kita dapat beristirahat di dalam warung sebelah pos 2 yang cukup kira - kira untuk 10 orang. Atau beristirahat di gardu pos 2 yang cukup luas dan aman dari hujan.
"Mas kita istirahat disini..? "
"Jangan, kita harus lanjut... memang aku merasa badanku rasanya stamina agak kurang bagus. Tapi ditakutkan kalau istirahat sekarang bahaya buat tubuh kita yang sedang dalam kondisi lemah. Harus kembali dulu ke desa"
"Ohhh.. gitu... ya sudah saya ikut saja mas.., badanku kok rasanya lebih berat ya cepat ngos-ngosan.. "
"Tahan ya Don kita sudah di pos 2"
"Ok mas.. "aku berusaha menyemangati diriku.
Akhirnya kami meneruskan perjalanan hingga memasuki vegetasi hutan yang mulai rapat, Menuju Pos 1 ini jalur masih melewati batu-batuan dengan kemiringan yang cukup tajam. Kita akan melewati tempat keramat yakni Watu Jago, sebuah batu besar yang dinamai demikian karena batu ini menyerupai jambul ayam jago. Kondisi fisik jalur Cemoro Sewu bisa dikategorikan membosankan, selain bebatuan yang tiada akhir, jalur ini juga tidak disertai dengan pemandangan indah tidak seperti jalur cetho, akhirnya dengan usaha yang cukup keras kemudian tibalah kami di pos 1.
Disini aku bertemu dengan pendaki lain yang sedang beristirahat, di sini juga terdapat sebuah bangunan untuk beristirahat juga ada sebuah warung makanan, yang buka pada hari Kamis-Minggu dan pada musim-musim ramai pendakian dan ramai orang berziarah.

"Don kita makan dulu di warung, namanya warung Pak Supar, nampaknya energiku mulai habis"
"Iya mas... aku juga mulai ga kuat"
Terlihat olehku warung yang dimaksud mas Jati, disana pemilik warung menjajakan gorengan, minuman, nasi bungkus dll. Kita bisa beristirahat di bagian dalam ataupun mampir di gasebo pos 1 yang cukup besar. Aku pun langsung membeli nasi bungkus dengan cemilan gorengan, wah nikmat banget laper-laper dan dingin makan nasi bungkus seakan makan di restoran mewah yang rasanya sangat uenak.
Tadinya aku ingin membayar, rupanya aku hari itu ditraktir mas Jati minum pun teh hangat yang membuat badanku kembali agak segar untuk meneruskan aktifitas.
"Gimana enakkan..?? "
"Lumayan mas walau masih pegel.."
"Lanjut nih... "
"Ayukk.. mas.. "
Jalur cemoro sewu memang sering di lewati pendaki, jalur ini lebih disenangi pendaki karena jaraknya lebih dekat ke puncak. Di tengah perjalanan terdapat Sumber Air Wesanan seperti yang kita tahu dipuncak gunung lawu kita memang sering menemukan tempat-tempat mata air yang dikeramatkan oleh masyarakat. Jalur pun lebih mendatar dan sedikit dan menurun hingga perjalanan tidak seperti tadi.
Perjalanan menuju Basecamp dari Pos 1 kira-kira memerlukan waktu 1 jam jalan normal. Kondisi fisik jalur pendakian berbatu dan sangat jelas, melalui perkebunan penduduk dan hutan pinus. Dari Pos 1 menuju kebawah kita akan melewati 1 pondok kayu di kiri jalur dan 1 Pondok Sendang Panguripan di kanan jalur. Jalur ini juga disertai dengan tangga-tangga setapak dari bebatuan.
Perjalanan menuju basecamp lebih santai, bahkan di sepanjang perjalanan, aku seperti disuguhi oleh wisatawan yang sekedar jalan - jalan, ataupun berkemah di area camping sebelum pos 1. Bisa dibilang jalur Cemoro Sewu memiliki jalan setapak berbatu yang sudah tertata rapi. Menuju basecamps perjalanan akan ditemani jalur yang ditumbuhi oleh pohon-pohon Cemara, karena lebatnya hutan Cemara yang tumbuh maka daerah ini dinamai Cemoro Sewu (Seribu Cemara). Pemandangan kontras segera muncul setelah melewati hutan Cemara. Di kiri kanan jalur terdapat kebun sayur hingga mencapai Pos 1. Sementara di sela-sela Kebun Sayuran pohon- pohon sisa kebakaran nampak kering, menunggu untuk roboh, jalanan berbatu akan terus menemani hingga di depan gapura dan akhirnya tibalah kami di basecamp cemoro sewu.

Cemoro Sewu adalah jalur pendakian yang direkomendasikan karena jalurnya yang sangat jelas dan pendek (7 km) jika dibandingkan dengan jalur Cemoro Kandang (11 km). Jalur ini dinamakan Cemoro Sewu karena bila mendaki dari sini langsung ditemani dengan banyak pohon cemara (sewu), namun sekarang kuantitas pohon ini saya rasa semakin berkurang.
Banyak kulihat para pendaki yang berdatangan di base camp ini. Maklum saja Kawasan Cemoro Sewu kini sudah dipercantik dan diperlebar sehingga menyerupai suasana puncak pass di Bogor - Cianjur. Kalau di sepanjang tepi jalan di Puncak Pass Bogor - Cianjur dipenuhi dengan pedagang jagung bakar maka di "Puncak Pass" Cemoro Sewu ini dipenuhi dengan para pedagang sate kelinci dan sate "jamu" yang berjajar disepanjang tepian jalan. Kawasan Cemoro Sewu sekarang sangat populer di kalangan muda-mudi di yogya, Solo, Sragen, Karanganyar dan sekitarnya, yang biasanya ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Tempat ini menjadi lokasi nongkrong sambil berpacaran atau sekalian berwisata ke Telaga Sarangan dan Air Terjun Grojogan Sewu. Jalan diperlebar dengan memotong tebing-tebing dan dibelah menjadi dua jalur. Di tengah jalan dibuat trotoar pembatas jalan yang dilengkapi dengan lampu-lampu cantik mirip jalan malioboro di Yogya.

Pendakian gunung lawu via cemoro sewu adalah jalur yang paling diminati oleh para pendaki dikarenakan mudahnya akses, kejelasan rute pendakian dan mudahnya pemenuhan konsumsi.
Jadi bukan hal yang aneh jalur ini lebih diminati oleh para pendaki, atau wisatawan yang sekedar untuk bercengkrama dengan alam. Nah biasanya para pendaki akan beristirahat dahulu di pos Cemoro Sewu untuk menunggu malam hari tiba, karena pendakian terbaik melewati jalur ini enaknya pada malam hari ( 21.00 - 23.00 ) ketika kita sampai dipuncak pas menjelang pagi untuk menyaksikan sunrise. Di sini pos ink cukup lengkap untuk sekedar menginap karena terdapat sebuah mushola dan MCK yang memiliki enam buah kamar mandi dan WC. Cemoro Sewu sendiri berada pada ketinggian 1.600 mdpl, jadi hawa dingin pegunungan memang sudah terasa dari sini.
"Don kamu tunggu sini ya.. "
"Iya mas.. " kulihat mas Jati menghilang dari keramaian para pendaki.
Namun tak lama, ketika diriku asik melamun tentang apa yang sudah terjadi. Tiba-tiba aku di kagetkan oleh suara sepeda motor yang berhenti di depanku.
"Ayo naik.. Don"
"Wah naik motor toh mas.. disangka jalan lagi.. "
"Ga lah...biasa aku taruh disini kalau ada perlu ke lawu.. "
Aku pun segera naik di belakang, motor pun melaju dengan perlahan indahnya pelataran kaki gunung lawu masih melekat hingga motor kami sudah meliuk-liuk di kaki gunung lawu.
Entah dari jalan besar motor kami melewati beberapa perkebunan warga, jalannya sudah rapih hamparan kebun teh terkadang menyapa bukan hanya itu pohon-pohon rindang pun seakan memberikan salam. Motor seakan memasuki beberapa desa hingga tiba di ujung bukit jauh dari keramaian lalu lintas, suasana nya sangat sejuk dan sedap di pandang mata.
Kemudian motor mas Jati berhenti di sebuah rumah setelah melewati beberapa perkebunan milik warga, aku taj tahu pasti ini desa apa yang jelas masih di kaki gunung lawu.
Rumah itu sangat asri khas rumah desa yang halamannnya cukup luas, bahkan ada bale-bale menghadap ke arah puncak lawu. Dari sini gunung lawu terlihat gagah mempesona, dibelakang rumah nampak seperti banyak tanaman bunga dan juga peternakan beberapa hewan mamalia dan unggas.
"Dekk... ini ada tamu.. tolong ambilin minum.. "
"Lohh.. siapa mas, ada orang di dalam istrinya mas ya.. "
"Bukan aku belum nikah, itu adikku.. "
Lalu keluar gadis yang raut wajahnya tak asing olehku, ia tersenyum persis seperti kita waktu pertama kali ketemu.
Aku pun membalas senyumannya.
"Jatayu...?? "
"Heii...kalian sudah saling kenal ya ? "
"Iya mas... " ucapku malu.
"Wah, sepertinya memang benar kata kakek orang yang bisa dimintai tolong untuk mencari bunga itu ya "kamu".."
"Maksudnya mas... "
"Jatayu....jarang sekali ketemu dengan manusia, karena ia adikku yang hidup di dua dunia...aku lebih memilih hidup disini namun ia memilih tinggal di sana sesekali ke alam manusia"
"Maksudnya.. dia hantu gitu.. "
"Bukan... manusia seperti kita tapi desanya tempat Jatayu tinggal di dimensi berbeda"
"Aku bener-bener tak mengerti mas? "
"Hmmm.. gimana jelasinnya ya ?"
Terlihat olehku jam di dinding bergerak sangat lamban, mas Jati masih bingung dengan pertanyaanku tadi.
Tik.. tok.. tik.. tok... suara jarum jam berdetak lalu..
#Bersambung

"Kraakkk... " terdengar suara ranting yang patah.
Lalu nampak dari kejauhan di dalam hutan terlihat siluet seseorang, lambat laun berjalan semakin dekat.
Pengawal ratu langsung siap berjaga, tombak yang di pegangnya sudah dalam posisi keadaan tempur.
Nampak seorang tua berjalan santai, dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Astaga tuan, maafkan hamba.. " sang pengawal nampak mukanya pucat ketakutan.
"Tidak apa-apa aku hanya ingin melihat cucuku, aku takut kalau ia terpana dengan kecantikan penunggu istana hingga tak ingin kembali.. " ucapnya terkekeh.
Mas Jati merasa malu, rona wajahnya terlihat seperti kepiting rebus merah merona.
"Kakek... " ia pun segera sungkem.
Aku pun mengikutinya, memang aku memgenal sosok kakek ini, karena sosok yang sama ketika aku sedang menaiki lawu bersama kedua kawanku.
"Sehat kek... " tanyaku
"Seger.. nih lihat.. "tangannya di gerakkan seakan akan mau senam.
Kami tertawa melihat tingkah sang kakek, begitu juga pengawal kerajaan nampak tak bisa menahan tawanya.
"Apa kata nyai..? "
"Kami disuruh semedi di pringgodani"
"Hmmm... yo wes aku mau ketemu kanjeng ratu dulu, kalian cepatlah kembali ke raga kalian. Hari sebentar lagi pagi !!"
"Pagi..?" Aku bertanya dalam hati, dari tadi disini nampak cerah mungkin di sekitar lawu saat ini masih gelap, entahlah agak rumit bila kita berada di dimensi yang berbeda.
"Saya pamit dulu kek.. " kembali kami sungkem kepada kakek mas Jati.
Setelah kami pamit pada kakek dan pengawal kerajaan, seperti kemarin kami memasuki celah sempit hingga akhirnya tibalah di gua jolotundo. Tapi yang membuatku bertanya aku melihat diriku dan mas Jati sedang melakukan tapa brata.
"Mas bukannya tadi kita pergi ke laut selatan, lalu mereka ini siapa? " Aku pun merasa bingung.
"Ini raga kita Don, kemarin jiwa kita saja yang bepergian"
"Kok aku ga merasa ya mas... "
"Sengaja, aku tutup mata batinmu melihat ragamu agar kamu tidak takut"
"Jadi sekarang aku harus bagaimana"
"Kamu masuk saja langsung ke dalan ragamu, tapi ingat perlahan seperti ini" mas Jati memperlihatkan ketika jiwanya bersatu dengan raga, terlihat cukup mudah namun ketika jiwanya masuk raganya masih terdiam.
Aku pun melakukan hal yang sama, kemudian pandanganku gelap lambat laun aku berusaha membuka mataku namun agak berat. Terasa remang-remang pandanganku seakan bangun tidur lambat laun penglihatanku sudah kembali sempurna. Aku melihat mas Jati tersenyum, lalu ia menyuruhku ganti baju dengan baju ku yang biasa.
Gua itu nampak hening, bahkan tak ada tanda celah yang kulewati tadi hanya terdengar deru ombak seperti suara di pantai. Selesai semuanya kami bedua keluar dari gua Jolotundo, nampak hari yang gelap kini ingin berganti dengan pagi walau semburat jingga masih nampak terlihat di cakrawala.
"Hari sudah semakin pagi lebih baik kita turun lewat cemoro sewu untuk segera ke pringgodani" ujar mas Jati.
Aku hanya mengangguk, kepalaku masih keliyengan karena apa yang terjadi benar-benar di luar akal yang tidak wajar. Aku pun mengikuti langkah mas Jati perjalanan cukup curam jalur ini, berbatu bahkan angin sangat kencang dan terasa dingin menusuk kulit. Jalanan sangat sempit dan sepi apa karena mata batinku berada di dimensi lain walau ada beberapa pegangan kuakui turunan ini cukup curam, hmmm... rasanya badannku hampir beku, kami berdua pun berusaha mencari celah bukit untuk berlindung dari angin. Akhirnya kami menemukan sedikit celah dan cukup luas untuk berempat beristirahat.
"Dingin ya.. "ucap mas Jati.
"Iya mas... apalagi kena angin kencang gini.. "
"Sepertinya kita kelelahan ketika melakukan ilmu pelepas sukma, ketika tapa brata tadi, biasanya aku juga kuat dengan dingin angin lawu tapi kali ini aku menyerah...."
"Kita nyalakan api saja mas.. "
"Hmmm...ide bagus.."
Kami kumpulkan sisa-sisa api unggun pendaki lainnya dan beberapa ranting yang mengembun nampak basah. Lama sekali kami berusaha membuat api unggun , namun tiada kunjung menyala, sementara kami semakin lama seperti kaku kedinginan.

Akhirnya aku ada ide kuambil beberapa kaos yang sudah usang menurutku, begitu juga dengan kaos kaki dan bahkan celana dalam satu persatu pun menjadi korban untuk dibakar itu semua dilakukan untuk menghangatkan badan.
Asap yang keluar mengeluarkan aroma-aroma yang berbeda, hingga kami berdua menutup hidung maklum celana dalamnya bekas di pakai.
"Gila sampean Don.. masak celana dalam ikutan dibakar... gondal gandul dong nanti"
"Ya ga semua lah mas... sisain 1 biji.. biar di pake side A side B"
"Bocah edan.. "mas Jati pun nyengir.
Akhirnya tubuh kami kembali hangat, ketika berdekatan dengan api. Entah sudah berapa lama kami disini mentari mulai bersinar malu-malu awan yang menghalangi sinarnya perlahan mulai sirna. Angin kencang pun sudah berganti dengan tiupan yang lebih damai dan hawapun sudah tak sedingin beberapa menit yang lalu.
Beruntungnya api pun sudah mulai memudar, kalau tidak bisa hipotermia kami berdua di atas gunung.
"Sudah mulai hangat... yuk jalan lagi" ucap mas Jati.
"Ok mas... bye-bye sempakku.. "
"Sudah nanti beli lagi yang baru di pasar... "ucap mas Jati terkekeh.
Perjalanan pun berlanjut, hingga kami sampai di pos 4, pos ini cukup sempit hanya berupa tempat datar yang menurutku sangat sempit yang berada di cerukan tebing batu, hanya cukup untuk mendirikan satu buah tenda, tempat ini sedikit terlindung dari hempasan angin.
Perlahan lahan kami berjalan kita akan memasuki lingkupan hutan yang menandakan kita akan memasuki vegetasi hutan tropis yang rapat. Pemandangan di atas lawu memang sangat indah, awan bergulung di bawah kaki kita, kota kota bak mainan kecil di hadapan megah semesta raya, nampaknya semua itu akan menjadi cerita ketika aku tua nanti.
Jalur berbatu kerap menemani perjalanan kami saat ini, hingga akhirnya sampailah kami di pos 3, di jalur ini terdapat asap belerang sehingga pendaki disarankan untuk tidak berlama-lama beristirahat di Pos 3 lebih baik segera di lanjut bila ingin turun ataupun hendak mendaki.
Memang di ketinggian 2800 Mdpl pos ini ditempuh dengan medan trekkingnya adalah jalanan berbatu yang sudah ditata dan menanjak bila kalian mendaki dari sini begitu juga ketika ingin turun bisa di bilang cukup curam dan tajam. Jika diperhatikan, jalur ini dari atas berkelok - kelok, karena jika dibuat jalur yang lurus terus, medannya semakin susah dan terjal. Atau kalian bisa menerobosnya saja dengan melewati jalan pintas, tetapi lebih susah. Sebaiknya menggunakan jalan pintas ini saat turun pendakian. Di perjalanan, bahkan aku sering mencium bau belerang, walau bau belerang ini bisa tercium selama perjalanan sampai pos 5 tapi karena angin kencang baru bau belerang ini lebih pekat tercium dari pos 3. Setelah sampai di pos 3, kita pun beristirahat sejenak di bangunan gardu yang modelnya sama di setiap pos.
Setelah beberapa menit perjalan kembali di lanjut menuju Pos 2 dengan ketinggian 2578 Mdpl, trekkingnya ada yang menanjak tajam, datar, menurun dan naik lagi. Tentunya ini cukup melelahkan. Akan tetapi sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi batuan - batuan dan hutan pinus yang menakjubkan.
Hingga akhirnya kita pun sampai di pos 2, tapi aneh badan kami cukup lelah tidak seperti biasanya begitu juga mas Jati kulihat sama seperti diriku energi kami seakan terkuras ketika di Jolotundo. Kulihat pos 2 berupa dataran yang agak luas, banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan banyak batu besar, sehingga pendaki dapat membuat tenda ditempat ini dengan nyaman karena terlindung dari hempasan angin. Bila ramai di Pos 2 ini juga sering terdapat pedagang makanan. Di Pos ini terdapat bangunan beratap yang sering digunakan para pedagang untuk berjualan makanan. Namun tentu saja masih tercium bau belerang, pos 2 ini sesekali, terladang ada pendaki yang alergi ketika mencium bau belerang, terkadang bisa membuat kepala mereka menjadi pusing. Yang tidak tahan bau belerang saran saya kalau mendaki dari cemoro sewu harap membawa masker khusus tapi kalau terbiasa ya santai saja.
Aku melihat sepertinya kita dapat beristirahat di dalam warung sebelah pos 2 yang cukup kira - kira untuk 10 orang. Atau beristirahat di gardu pos 2 yang cukup luas dan aman dari hujan.
"Mas kita istirahat disini..? "
"Jangan, kita harus lanjut... memang aku merasa badanku rasanya stamina agak kurang bagus. Tapi ditakutkan kalau istirahat sekarang bahaya buat tubuh kita yang sedang dalam kondisi lemah. Harus kembali dulu ke desa"
"Ohhh.. gitu... ya sudah saya ikut saja mas.., badanku kok rasanya lebih berat ya cepat ngos-ngosan.. "
"Tahan ya Don kita sudah di pos 2"
"Ok mas.. "aku berusaha menyemangati diriku.
Akhirnya kami meneruskan perjalanan hingga memasuki vegetasi hutan yang mulai rapat, Menuju Pos 1 ini jalur masih melewati batu-batuan dengan kemiringan yang cukup tajam. Kita akan melewati tempat keramat yakni Watu Jago, sebuah batu besar yang dinamai demikian karena batu ini menyerupai jambul ayam jago. Kondisi fisik jalur Cemoro Sewu bisa dikategorikan membosankan, selain bebatuan yang tiada akhir, jalur ini juga tidak disertai dengan pemandangan indah tidak seperti jalur cetho, akhirnya dengan usaha yang cukup keras kemudian tibalah kami di pos 1.
Disini aku bertemu dengan pendaki lain yang sedang beristirahat, di sini juga terdapat sebuah bangunan untuk beristirahat juga ada sebuah warung makanan, yang buka pada hari Kamis-Minggu dan pada musim-musim ramai pendakian dan ramai orang berziarah.

"Don kita makan dulu di warung, namanya warung Pak Supar, nampaknya energiku mulai habis"
"Iya mas... aku juga mulai ga kuat"
Terlihat olehku warung yang dimaksud mas Jati, disana pemilik warung menjajakan gorengan, minuman, nasi bungkus dll. Kita bisa beristirahat di bagian dalam ataupun mampir di gasebo pos 1 yang cukup besar. Aku pun langsung membeli nasi bungkus dengan cemilan gorengan, wah nikmat banget laper-laper dan dingin makan nasi bungkus seakan makan di restoran mewah yang rasanya sangat uenak.
Tadinya aku ingin membayar, rupanya aku hari itu ditraktir mas Jati minum pun teh hangat yang membuat badanku kembali agak segar untuk meneruskan aktifitas.
"Gimana enakkan..?? "
"Lumayan mas walau masih pegel.."
"Lanjut nih... "
"Ayukk.. mas.. "
Jalur cemoro sewu memang sering di lewati pendaki, jalur ini lebih disenangi pendaki karena jaraknya lebih dekat ke puncak. Di tengah perjalanan terdapat Sumber Air Wesanan seperti yang kita tahu dipuncak gunung lawu kita memang sering menemukan tempat-tempat mata air yang dikeramatkan oleh masyarakat. Jalur pun lebih mendatar dan sedikit dan menurun hingga perjalanan tidak seperti tadi.
Perjalanan menuju Basecamp dari Pos 1 kira-kira memerlukan waktu 1 jam jalan normal. Kondisi fisik jalur pendakian berbatu dan sangat jelas, melalui perkebunan penduduk dan hutan pinus. Dari Pos 1 menuju kebawah kita akan melewati 1 pondok kayu di kiri jalur dan 1 Pondok Sendang Panguripan di kanan jalur. Jalur ini juga disertai dengan tangga-tangga setapak dari bebatuan.
Perjalanan menuju basecamp lebih santai, bahkan di sepanjang perjalanan, aku seperti disuguhi oleh wisatawan yang sekedar jalan - jalan, ataupun berkemah di area camping sebelum pos 1. Bisa dibilang jalur Cemoro Sewu memiliki jalan setapak berbatu yang sudah tertata rapi. Menuju basecamps perjalanan akan ditemani jalur yang ditumbuhi oleh pohon-pohon Cemara, karena lebatnya hutan Cemara yang tumbuh maka daerah ini dinamai Cemoro Sewu (Seribu Cemara). Pemandangan kontras segera muncul setelah melewati hutan Cemara. Di kiri kanan jalur terdapat kebun sayur hingga mencapai Pos 1. Sementara di sela-sela Kebun Sayuran pohon- pohon sisa kebakaran nampak kering, menunggu untuk roboh, jalanan berbatu akan terus menemani hingga di depan gapura dan akhirnya tibalah kami di basecamp cemoro sewu.

Cemoro Sewu adalah jalur pendakian yang direkomendasikan karena jalurnya yang sangat jelas dan pendek (7 km) jika dibandingkan dengan jalur Cemoro Kandang (11 km). Jalur ini dinamakan Cemoro Sewu karena bila mendaki dari sini langsung ditemani dengan banyak pohon cemara (sewu), namun sekarang kuantitas pohon ini saya rasa semakin berkurang.
Banyak kulihat para pendaki yang berdatangan di base camp ini. Maklum saja Kawasan Cemoro Sewu kini sudah dipercantik dan diperlebar sehingga menyerupai suasana puncak pass di Bogor - Cianjur. Kalau di sepanjang tepi jalan di Puncak Pass Bogor - Cianjur dipenuhi dengan pedagang jagung bakar maka di "Puncak Pass" Cemoro Sewu ini dipenuhi dengan para pedagang sate kelinci dan sate "jamu" yang berjajar disepanjang tepian jalan. Kawasan Cemoro Sewu sekarang sangat populer di kalangan muda-mudi di yogya, Solo, Sragen, Karanganyar dan sekitarnya, yang biasanya ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Tempat ini menjadi lokasi nongkrong sambil berpacaran atau sekalian berwisata ke Telaga Sarangan dan Air Terjun Grojogan Sewu. Jalan diperlebar dengan memotong tebing-tebing dan dibelah menjadi dua jalur. Di tengah jalan dibuat trotoar pembatas jalan yang dilengkapi dengan lampu-lampu cantik mirip jalan malioboro di Yogya.

Pendakian gunung lawu via cemoro sewu adalah jalur yang paling diminati oleh para pendaki dikarenakan mudahnya akses, kejelasan rute pendakian dan mudahnya pemenuhan konsumsi.
Jadi bukan hal yang aneh jalur ini lebih diminati oleh para pendaki, atau wisatawan yang sekedar untuk bercengkrama dengan alam. Nah biasanya para pendaki akan beristirahat dahulu di pos Cemoro Sewu untuk menunggu malam hari tiba, karena pendakian terbaik melewati jalur ini enaknya pada malam hari ( 21.00 - 23.00 ) ketika kita sampai dipuncak pas menjelang pagi untuk menyaksikan sunrise. Di sini pos ink cukup lengkap untuk sekedar menginap karena terdapat sebuah mushola dan MCK yang memiliki enam buah kamar mandi dan WC. Cemoro Sewu sendiri berada pada ketinggian 1.600 mdpl, jadi hawa dingin pegunungan memang sudah terasa dari sini.
"Don kamu tunggu sini ya.. "
"Iya mas.. " kulihat mas Jati menghilang dari keramaian para pendaki.
Namun tak lama, ketika diriku asik melamun tentang apa yang sudah terjadi. Tiba-tiba aku di kagetkan oleh suara sepeda motor yang berhenti di depanku.
"Ayo naik.. Don"
"Wah naik motor toh mas.. disangka jalan lagi.. "
"Ga lah...biasa aku taruh disini kalau ada perlu ke lawu.. "
Aku pun segera naik di belakang, motor pun melaju dengan perlahan indahnya pelataran kaki gunung lawu masih melekat hingga motor kami sudah meliuk-liuk di kaki gunung lawu.
Entah dari jalan besar motor kami melewati beberapa perkebunan warga, jalannya sudah rapih hamparan kebun teh terkadang menyapa bukan hanya itu pohon-pohon rindang pun seakan memberikan salam. Motor seakan memasuki beberapa desa hingga tiba di ujung bukit jauh dari keramaian lalu lintas, suasana nya sangat sejuk dan sedap di pandang mata.
Kemudian motor mas Jati berhenti di sebuah rumah setelah melewati beberapa perkebunan milik warga, aku taj tahu pasti ini desa apa yang jelas masih di kaki gunung lawu.
Rumah itu sangat asri khas rumah desa yang halamannnya cukup luas, bahkan ada bale-bale menghadap ke arah puncak lawu. Dari sini gunung lawu terlihat gagah mempesona, dibelakang rumah nampak seperti banyak tanaman bunga dan juga peternakan beberapa hewan mamalia dan unggas.
"Dekk... ini ada tamu.. tolong ambilin minum.. "
"Lohh.. siapa mas, ada orang di dalam istrinya mas ya.. "
"Bukan aku belum nikah, itu adikku.. "
Lalu keluar gadis yang raut wajahnya tak asing olehku, ia tersenyum persis seperti kita waktu pertama kali ketemu.
Aku pun membalas senyumannya.
"Jatayu...?? "
"Heii...kalian sudah saling kenal ya ? "
"Iya mas... " ucapku malu.
"Wah, sepertinya memang benar kata kakek orang yang bisa dimintai tolong untuk mencari bunga itu ya "kamu".."
"Maksudnya mas... "
"Jatayu....jarang sekali ketemu dengan manusia, karena ia adikku yang hidup di dua dunia...aku lebih memilih hidup disini namun ia memilih tinggal di sana sesekali ke alam manusia"
"Maksudnya.. dia hantu gitu.. "
"Bukan... manusia seperti kita tapi desanya tempat Jatayu tinggal di dimensi berbeda"
"Aku bener-bener tak mengerti mas? "
"Hmmm.. gimana jelasinnya ya ?"
Terlihat olehku jam di dinding bergerak sangat lamban, mas Jati masih bingung dengan pertanyaanku tadi.
Tik.. tok.. tik.. tok... suara jarum jam berdetak lalu..
#Bersambung
Diubah oleh .nona. 12-06-2019 22:32
regmekujo dan 24 lainnya memberi reputasi
25

