- Beranda
- Stories from the Heart
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
...
TS
irazz1234
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
Met pagi momodku tercinta dan met pagi juga kaskuser semua.
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain
Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini
Anyway, selamat membaca
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain

Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini

Anyway, selamat membaca

Spoiler for INDEX STORY:
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Diubah oleh irazz1234 16-06-2019 09:37
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
6.9K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#23
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Spoiler for :
"Gubernur! Gubernur! Anda harus cepat kemari!"
Joseph Corin melirik dari balik buku yang sedang ia baca, tulisan karya Oscar Wilde. Setelah seminggu berada dalam pelarian dari mayat hidup, dia dan beberapa orang lain akhirnya berhasil menemukan tempat tinggal yang aman di Martha's Vineyard (Kebun anggur Martha). Tempat pertama yang dikunjunginya adalah toko buku terdekat. Ia adalah seorang yang gemar dan keranjingan membaca. Membaca buku rasanya sama seperti kecanduan narkoba, dan sudah menjadi turun temurun dalam keluarga. Berada dalam pelarian memberikan kesempatan baginya untuk dapat menikmati hobbynya itu.
Dengan hembusan nafas penuh sesal ia menutup bukunya, lalu berjalan ke arah orang yang tadi memanggilnya, seorang petugas polisi bernama Steven Rankin. Steven tampang lebih girang dari saat mereka berhasil menyalakan generator listrik, untuk tiga ratus enam orang yang menghuni pulau tersebut.
"Baiklah, Steven, aku mendengarmu. Apa yang terjadi?"
"Anda harus cepat kemari, pak. Ada orang yang sedang menuju kesini."
Nafas Joseph tersangkut di lehernya. Pada hari-hari biasa yang normal, kabar ini berarti ia akan membuka persediaan anggur terbaik, serta menyiapkan kamar tamu. Tapi dalam situasi seperti ini, kebiasaan itu telah berubah jauh-jauh hari. "Apa maksudmu?" Ucapnya setelah terdiam sejenak.
"Sebuah kapal laut baru saja datang, ada delapan orang, dan semuanya manusia." Jawab Steven sambil tetap memperhatikan dermaga.
"Mari kita pergi ke sana, kita lihat apakah mereka sedang mencari teman, atau sedang mencari masalah." Ajak seseorang yang dipanggil orang-orang sebagai gubernur, mereka berjalan cepat menuju pesisir.
Matthew Erickson dan Ron Bern berdiri di dek kapal, mata mereka tak lepas dari selusin orang yang berada di dermaga. Semuanya memegang senjata, menampakkan raut wajah yang penuh waspada.
"Bersiap-siaplah, di depan sana." Ujar Matthew sambil menunjuk ke arah dermaga. Ia masih mengenakan baju pelindung yang berlumuran sisa peperangan terakhir sebelum meninggalkan pulau besar.
"Tenanglah, nak. Kita kesini untuk menemukan rumah untuk ditinggali, bukan untuk memulai peperangan." Ucap Ron menenangkan suasana.
"Kita harus bersiap-siap jika rencana itu gagal." Sahut Michael Rayanson, lalu bergabung dengan temannya. Tangannya menggenggam gagang pedang samurai yang dikaitkan di sabuknya.
"Ku pikir hal itu tidak akan terjadi." Balas Ron tenang, meskipun dirinya juga bersenjata, pistol di ikat pinggang, dan kapak di punggungnya. "Orang-orang ini tidak siap untung sebuah peperangan. Lihatlah wajah-wajah mereka yang ketakutan itu."
Matthew baru saja akan menjawabnya, ketika terlihat dua orang lagi datang yang baru saja bergabung di dermaga. Sebagian orang berbalik dan memperhatikan, sebagian yang lain membungkuk dengan penuh rasa hormat. Sepertinya orang tua itu adalah pemimpin di pulau ini, pikir Matt.
Setelah berdiskusi selama beberapa menit, orangtua itu berjalan ke ujung dermaga, ekspresi wajahnya tidak bisa terbaca. Sebuah 'poker face' yang baik sekali. "Namaku Joseph. Joseph Corin. Apa keperluan kalian datang kemari?"
Ron melangkah maju sambil melepaskan helmnya.
"Kami hanya mencari tempat aman untuk tinggal, tuan Corin. Kawan-kawan ku, dan aku, kami sudah dalam pelarian cukup lama. Kami datang kesini dan berharap tempat ini bebas dari gangguan mayat hidup."
"Kau bisa lihat sendiri bagaimana keadaan disini." Jawab Joseph sambil menunjuk ke arah kerumunan orang-orang yang penasaran di dekat dermaga. "Kami telah membersihkan tempat ini beberapa minggu yang lalu. Sepertinya zombie-zombie itu tidak dapat mendekat kesini, kami belum pernah menemui satupun yang datang."
"Kalian dapat satu sekarang." Ucap Matthew sambil berjalan mendekat ke ujung dek kapal.
Suara banyak sekali senjata yang di kokang menghentikan langkahnya. Michael dengan gesit menghunuskan pedang samurainya, begitu pula dengan Ron. Tangannya sudah memegang senjata sejak tadi, entah kapan ia mengambilnya. Matthew tidak memegang senjata sama sekali, tapi postur tubuhnya yang berdiri tegak mengatakan pada sekumpulan orang di dermaga bahwa keadaan ini dapat dengan cepat berubah.
Tapi Joseph tidak ingin pertemuan pertamanya dengan manusia selama beberapa bulan terakhir menjadi sebuah pertumpahan darah. Ia mengangkat kedua tangannya, lalu senjata pun diturunkan. "Sekarang begini, nak." Joseph memulai percakapan. "Kalian ingin tempat untuk tinggal, kami bisa menghargainya. Kami akan senang dapat mengundang kalian untuk makan malam bersama kami. Tapi kami memiliki aturan sendiri. Pertama-tama, tidak ada manusia yang terkena infeksi yang boleh menginjakkan kaki di pulau ini."
Matthew mengangkat tangannya untuk memamerkan baju armor pelindung yang ia sedang kenakan. "Apa kau pikir satu set gigi busuk dapat menggigit menembus ini?"
Tapi Joseph tidak melemah. "Kau bisa saja tergigit sebelum kau memakai baju robotmu itu. Kami harus memeriksa tubuh kalian. Kami akan datang ke sana dan memeriksa kalian satu-persatu."
"Memang masuk akal kalau kau punya pikiran seperti itu." Ucap Matt melangkah balik menghadap teman-temannya lalu mengangkat tangannya. Merekapun mengerti dan menurunkan senjata.
Joseph mengangguk, lalu dua orang pria naik ke atas kapal. Dalam sekejap, keduanya merasakan kapak dan pedang yang ditempelkan di dekat mereka. "Kupikir-pikir, mengapa kami tidak langsung membunuh kalian, menculik gadis-gadis di pulau ini, dan mengambil apapun yang kami inginkan?"
Pria yang dipanggil gubernur oleh orang-orang di Martha's Vineyard hanya tersenyum mendengar ancaman tersebut. "Karena kalian akan meledak menjadi serpihan dan abu sebelum kalian dapat menjejakkan kaki di dermaga kami." Katanya ringan, sambil menunjukkan sebuah detonator peledak kecil di tangannya.
Jika tidak tertutup oleh helm, mereka akan dapat melihat senyum menyeringai di wajah Matt. Dengan perlahan-lahan, ia menurunkan senjatanya, lalu tertawa pada dirinya sendiri.
"Dasar kau tua Bangka bengis. Kurasa kita akan mudah menjadi kawan akrab." Ucapnya, lalu melambai pada anggota yang lain untuk datang mendekat.
Joseph bersiul saat melihat penampilan semua anggota tim yang sangat kuyu.
"Ya ampun. Lihatlah penampilan kalian, seperti baru saja keluar dari dalam oven." Ucapnya. "Aku sempat berharap keadaan akan aman diluar sana, dan pemerintah akan bergerak cepat untuk membersihkan kekacauan ini."
Matt menggelengkan kepalanya saat ia melangkah di dermaga, tak ada rasa takut sedikitpun walau ada ratusan kilogram peledak di bawah dermaga. Yang lain mengikuti, meletakkan senjata dan menyiapkan diri untuk diperiksa mengenai adanya luka gores atau gigitan. "Sayangnya tidak. Dari pengalamanku, kami mungkin orang terakhir yang masih hidup di wilayah pantai timur."
Mata Joseph melebar mendengarnya, ia pun mengangguk, seolah jawaban itulah yang ia harapkan selama ini. "Jadi, keadaan memang sangat buruk?"
Matt hanya tertawa menjawabnya, namun tidak ada rasa humor dalam tawanya. "Tidak. Buruk adalah beberapa bulan yang lalu. Tidak ada kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan saat ini."
Setelah selesai diperiksa dari adanya luka gigitan, semua anggota team kembali mengambil senjata dan mengenakan baju pelindungnya lagi. Joseph menjelaskan bahwa masyarakat disini, yang mereka namai zona kehidupan, punya satu peraturan: tidak boleh ada yang berjalan-jalan tanpa membawa senjata. Walaupun sepertinya zombie-zombie itu tidak terlihat muncul dari dalam air, tapi mereka semua tidak ingin mengambil resiko. Seorang gadis kecil bernama Cindy menjadi contoh kesalahan. Ia menjelajahi pulau tanpa pengawasan orangtuanya, beberapa saat setelah Joseph baru saja mendarat di pulau ini.
Ayahnya datang tepat pada waktunya, dan menemukan serta menyaksikan sebuah mayat hidup sedang mencolok mata anaknya lalu dimakan oleh makhluk itu. Seperti sedang menyantap buah anggur yang telah dikupas.
***
Joseph adalah seorang Professor di sebuah universitas di Massachusetts yang mengajarkan tentang ilmu politik, dan murid-muridnya memberikan nama panggilan padanya dengan julukan 'Gubernur'. Saat kekacauan mulai meluas hingga merebak ke dalam kampus, banyak dari guru dan murid yang bersatu, memutuskan bahwa jika mereka tetap bersama, kemungkinan mereka akan tetap bertahan hidup menjadi lebih tinggi. Pada waktu itu ada banyak yang bergabung, hingga mencapai ribuan jumlahnya, dan bersama-sama, mereka merubah bangunan gedung di sayap timur menjadi sebuah benteng pertahanan. Memblokir pintu, mengumpulkan makanan, membuat senjata, dan juga membentuk komunitas mereka sendiri.
Hanya dalam tiga hari mereka terpaksa meninggalkan benteng yang telah mereka buat dengan susah payah. Salah seorang murid terkena goresan karena tercakar oleh sebuah zombie, dan dengan cepat virus wabah itu menyebar seperti hutan yang dilalap api.
Untungnya Professor Corin adalah pria yang penuh rencana, dan sejujurnya, ia telah memperkirakan bahwa hal ini akan terjadi, cepat atau lambat. Dengan membuka pintu yang terblokir dan membersihkan koridor menuju parkiran dari zombie-zombie yang lapar, ia membentuk sebuah team yang kebanyakan adalah muridnya. Semua kendaraan yang masih dapat berjalan segera diambil alih, dan membuat barisan iring-iringan mobil sepanjang satu kilometer. Mobil-mobil berukuran besar sengaja ditempatkan di depan untuk membuat jalan dari mobil-mobil yang mogok atau ditinggalkan di jalan raya.
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan bebeeapa pengungsi lainnya, seperti Steve Rankin, yang baru saja lolos dari maut saat ia hendak pergi ke kota tempat tinggalnya. Atau Jeffrey Roberts yang belum mengatakan apapun setelah ia harus menembak anak gadisnya sendiri, Cindy, tepat di kepala.
Zombie-zombie itu terus menghantui mereka sepanjang perjalanan. Meski mereka tidak sekuat manusia, tetapi mereka tidak pernah berhenti berusaha sedetikpun. Ia masih teringat dengan jelas, pada suatu malam, ketika rambut Susan Turner dijambak dan ditarik keluar dari mobil, dan dimangsa hidup-hidup. Atau bagaimana kisah heroik Gabriel Morn saat ia harus melompat dan menyelamatkan adiknya saat mereka terjatuh dari truk yang ditumpanginya. Pria itu memukul kepala adiknya hingga hancur, daripada harus melihatnya mati dimangsa, atau berubah seperti mereka. Ia lalu menjatuhkan palu yang ada di tangannya, hingga para mayat hidup menghabisinya. Ia tak lagi ingin hidup setelah melakukan perbuatan yang jahat pada adiknya.
Tapi bukan itu bagian terburuknya. Sekitar dua Minggu kemudian mereka akhirnya tiba di pelabuhan. Ada lebih banyak lagi yang mati karena mencoba menaiki kapal. Pada akhirnya, hanya ada kurang lebih tiga ratus orang yang berhasil mencapai Martha's Vineyard, rumah baru mereka, tempat dimana zombie tidak dapat menyentuh mereka.
Sebuah pepatah mengatakan, famous last words.
***
Jake dan Sarah hanya saling pandang saat sedang menikmati ikan panggang yang disajikan oleh beberapa orang penghuni pulau, saat Joseph menyelesaikan ceritanya. Makanan 'betulan' pertama setelah beberapa minggu hanya makan makanan kalengan. "Sudah berapa lama kau tinggal disini?" Tanya Jake.
"Sebulan, kurang atau lebih." Jawab Joseph. "Tempat ini memiliki cukup banyak persediaan makanan. Kami juga punya generator listrik, jadi kita bisa menggunakannya saat dibutuhkan. Tapi hal yang terbaik dari semuanya, zombie-zombie itu sepertinya tidak menyukai air. Atau jika aku salah, mereka pasti sudah memenuhi tempat ini."
"Dan kau memimpin orang-orang disini?" Tanya James, membuang sisa tulang dari piringnya.
Joseph tersenyum. "Bukan sebuah pekerjaan yang ku inginkan, kalau boleh jujur. Memimpin murid-murid mempelajari tentang kejatuhan kekaisaran Roma jauh lebih mudah daripada memimpin mereka melalui daerah terbengkalai yang dipenuhi mayat hidup, tapi orang-orang disini mematuhi ku. Kupikir ini adalah hal yang baik untuk menjaga moral para murid, daripada harus membuat mereka menentukan pilihan tentang siapa yang harus jadi pemimpin. Lagipula, aku telah dipanggil 'Gubernur' selama bertahun-tahun. Mungkin memang sudah takdirnya aku dijuluki panggilan itu."
Petugas Rankin berjalan mendekat. "Ada beberapa rumah kosong di ujung jalan Braskill, kalian bisa tinggal disana. Kami telah membersihkan semua zombie yang ada, jadi kalian tidak perlu takut akan diserang secara tiba-tiba."
Joseph tersenyum puas. "Terima kasih Steve. Aku akan menyalakan listriknya agar kalian bisa menggunakan air panas. Sepertinya kalian sangat membutuhkannya."
Jake dan anggota reporter yang lainnya berdiri, lalu menyalami Joseph dan Steven. Matthew dan yang lainnya telah lebih dahulu pergi, memeriksa kawasan itu dengan mata kepala mereka sendiri sebelum menyebut tempat ini aman. "Kami sangat menghargai bantuan yang kalian berikan. Sudah sejak lama aku berpikir tidak akan pernah menemukan lagi tempat yang aman untuk ditinggali." Ucap Jake.
"Tidak usah dibahas lagi, teman-temanku." Jawab Joseph. "Kita mungkin adalah manusia normal terakhir yang ada di negara ini. Kita harus melakukan apapun yang dibutuhkan untuk melindungi diri sendiri. Kalian bisa memanggil tempat ini sebagai rumah baru kalian."
Saat keempat orang itu telah pergi, Steve berjalan mendekati joseph lalu berkata, "aku tidak percaya pada empat orang yang menggunakan baju armor. Mereka telah berada di luar sana terlalu lama. Mereka pasti sudah membunuh banyak sekali, dan aku tidak berbicara tentang zombie."
Joseph mengangguk seraya memikirkannya. "Ya, benar. Orang-orang itu bisa jadi masalah nanti. Tak diragukan lagi." Jawabnya. "Kita harus tetap mengawasi keempat orang itu. Kau lihat sendiri bagaimana kelakuan mereka saat di dermaga. Mereka tidak membual saat mereka mengancam akan membunuhnya kita semua. Mereka dapat menghancurkan segalanya."
***
Rumah yang mereka akan tinggali bergaya kolonial dengan dua lantai. Terdapat lukisan dari pemilik tempat ini sebelumnya, keluarga Halbert, di ruang keluarga. Keluarga Halbert beranggotakan lima orang, Tuan dan Nyonya Halbert, dan ketiga anak-anaknya, yang paling bungsu masih bayi. Infeksi wabah mematikan ini menyebar sampai di pesisir Martha's Vineyard melalui seorang turis yang telah terinfeksi sebelumnya. Tidak butuh waktu lama setelahnya hingga setengah populasi penduduk di pulau ini berubah menjadi mayat hidup.
Mungkin sudah menjadi takdirnya saat Ron Halbert memutuskan untuk membunuh seluruh keluarganya. Sudah cukup jelas bahwa bantuan tidak akan pernah datang, dan kalaupun ada, zombie-zombie itu akan segera menggigit leher dan memangsa saat bantuan datang. Banyak yang bilang tindakan Ron ini lahir dari kepanikan, jika bukan kegilaan. Tapi apapun alasannya, Ron Halbert berpikir kematian dari tangannya lebih baik daripada harus mati di tangan zombie.
Setelah memanjatkan doa pada Tuhan, Ron menyarangkan peluru pada kepala tiap anggota keluarganya saat mereka sedang tertidur, termasuk di kepala putri kecil mereka, Olivia, yang baru berusia enam bulan. Ia lalu mengarahkan ujung pistol ke kepalanya sendiri, dan menarik pelatuknya. Ia tidak ingin pergi keluar rumah dan mati di tangan mayat hidup.
Ia tidak pantas mati dengan cara yang terlalu mudah, pikirnya saat itu.
***
Satu ruang kamar dipenuhi poster penyanyi idola dan pemain basket terkenal, dan ruang kamar disebelahnya terlihat lebih rapi dan feminim. Penghuni sebelumnya lebih menyukai poster penyanyi pop dan aktris populer.
Sarah memeriksa ruang kamar itu dengan air mata berlinang. Kamar anak-anak perempuannya juga mirip seperti ini, dan kilasan ingatan tentang mendiang kedua putrinya muncul, diakhiri dengan suara letusan, dan kesunyian yang pahit.
Jake mendekatinya, lalu memeluknya. Tangisan Sarah berhamburan keluar dalam pelukan suaminya. Keduanya lalu merosot ke lantai, di iringi suara isakan yang menggema di dalam ruang kamar.
Di luar, Matthew mengawasi kota dari atas atap. Ada banyak cahaya terpancar sejauh matanya memandang. Suara tawa dapat terdengar, dan ada beberapa anak kecil yang berlarian di jalanan. Suara gonggongan anjing pun terdengar sayup dari jauh.
"Rasanya sangat asing, benar kan?" Tanya Ron.
Keduanya masih memakai baju armor. Bahkan pada tempat yang terlindungi seperti ini, keduanya merasa tidak tenang jika tidak memakainya. Ron menyulut rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam. Asap seketika berhembus terbang dibawa angin.
"Aku telah terbiasa dengan suara erangan dan rintihan, suara daging yang terkoyak." Kata Matt. "Suaranya seperti robekan kardus basah."
"Terima kasih, sebuah perumpamaan yang bagus setelah makan malam." Cibir Ron.
"Masih tetap terlihat lebih baik daripada yang telah kita makan selama ini." James ikut bergabung dengan yang lain. Ron menyodorkan rokoknya, dan dengan cepat bau nikotin yang terbakar tercium. "Setidaknya kita bisa merasa aman disini."
Matthew berbalik badan dan menatapnya, James mengira ada yang salah dengan ucapannya barusan. "Sebenarnya, tempat ini masih sangat jauh dari aman."
James merasa seperti disambar petir saat mendengarnya. Bukankah hal ini yang selama ini mereka cari? Orang-orang itu mati untuk apa? Kami semua ingin rumah baru, pikirnya. Namun tangannya yang terkepal menyadarkannya bahwa pikirannya tadi tanpa sadar telah menjadi ucapan.
"Rumah yang kosong, dan tidak ada penghuninya! Dasar kau orang tolol!" Matt memaki James. "Lebih baik tempat ini dihuni oleh sejuta zombie daripada dihuni satu manusia tolol seperti kau!"
"Dengan adanya zombie, kau sadar dimana kau berada." Kata Ron, membuang puntung rokoknya, lalu menyulut yang lain. "Kau tahu bagaimana membunuh mereka, tahu bagaimana mereka bergerak, bagaimana mereka bereaksi. Tapi manusia, mereka hidup, mereka bernafas, dan mampu berpikir, manusia berbeda."
"Manusia itu culas, licik, busuk. Manusia tidak akan segan menggorok lehermu jika itu berarti ia akan tetap hidup walau hanya satu menit," ucap Matt sambil melambaikan tangannya ke arah kota. "Kau tidak bisa memprediksi apa yang akan mereka lakukan, dan dengan jumlah manusia yang segini banyak, mereka memang memiliki tempat yang bagus. Mereka memang menyambut kita dengan ramah, tapi bukan berarti kita diijinkan untuk tetap tinggal."
Matthew menjelaskan kembali dengan ringkas. "Aman? Hanya sedikit. Pulau kecil ini merupakan tempat yang paling berbahaya di planet ini. Jika kita tetap tinggal disini, kita semua akan segera menjemput ajal."
Gw agak bingung nih buat nyari pepatah ato kata mutiara pengganti 'famous last words'.
Secara harfiah sih sama kayak artinya 'don't jinx it'.
Gw milih famous last words krn lebih cocok dipake buat cerita daripada don't jinx it

Ada yg bisa bantu?
Tapi kalo yg baca pada ngarti maksudnya
sih gapapa

Oh iya satu lagi.
Judulnya emang sama kayak di part sebelumnya, tapi inget, ada tanda koma disitu.
Jadi beda arti yak

Diubah oleh irazz1234 12-06-2019 19:00
kudo.vicious dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas