- Beranda
- Stories from the Heart
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
...
TS
irazz1234
Tanah Pemakaman (Zombie Apocalypse Survival)
Met pagi momodku tercinta dan met pagi juga kaskuser semua.
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain
Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini
Anyway, selamat membaca
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Kali ini gw mau bikin cerita yang bertema Horror Survival Zombie Apocalypse.
Tema cerita yang cukup jarang ada di Kaskus SFTH
Oh iya, gw juga sempet bikin cerita yang bertema sama di sini (masih on going). Jadi sambil nunggu apdetan, kalian bisa juga ikut baca thread gw yang lain

Dunia Para Monster (Zombie Apocalypse Story)
Bagi mereka yang bosan dengan tema cinta-cintaan, boleh mantengin thread gw yang satu ini

Anyway, selamat membaca

Spoiler for INDEX STORY:
Chapter 0 : Prologue
Chapter 1 : A Brave New World
Chapter 2 : Hard Road Ahead
Chapter 3 : Old Friend
Chapter 4 : A Bargain
Chapter 5 : Family Ties
Chqpter 6 : Carry Me Home
Chapter 7 : See No Evil
Chapter 8 : Crossing Over
Chapter 9 : Unto Himself
Chapter 10 : The Doctor Is Out
Chapter 11 : Home Sweet Home
Chapter 12 : Mindless Over Matter
Chapter 13 : Awakening
Chapter 14 : Home, Sweet Home
Chapter 15 : This Is My Country
Chapter 16 : A Small World
Chapter 17 : A Moving Day
Diubah oleh irazz1234 16-06-2019 09:37
nomorelies dan 12 lainnya memberi reputasi
13
6.9K
Kutip
46
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#22
Chapter 13 : Awakening
Spoiler for :
Perih.
Hanya itu yang dapat diingatnya terakhir kali.
Bukan sebuah rasa sakit singkat yang tiba-tiba muncul, meskipun rasa sakit seperti itu dapat diredam dan akan hilang dengan sendirinya. Rasa perih ini dapat ia rasakan dengan baik. Rasa perih yang membuat ngilu, menelannya bulat-bulat, menggerogotinya dari dalam tubuh.
Ia tidak terlalu ingat detailnya bagaimana rasa perih ini muncul, namun beberapa gambaran singkat menyeruak di dalam benaknya. Teman baiknya, pacarnya, dan adik perempuannya. Sesuatu telah terjadi pada mereka. Di dalam benaknya, mereka berjalan pelan mendekatinya, organ dalam mereka terburai keluar, wajah-wajah yang terlihat hancur dan membusuk, seperti...
Monster?
Karena merekalah rasa sakit ini muncul. Ia tengah melindungi seorang pria, setidaknya itulah yang mampu ia ingat. Mencoba, dan akhirnya gagal. Dan akibat dari kegagalannya adalah hukuman mati.
Setelah rasa perih terlewati, kemudian muncullah kegelapan, gelap dan menyesakkan, seperti sedang ditutupi oleh selimut tebal. Kegelapan ini melenyapkan segalanya, sinar matahari, udara, bahkan ingatannya. Melenyapkan nyawanya di depan mata, membuatnya merasa seperti kosong dan hampa, seperti cangkang kosong.
Ingatkah kalian tentang kisah berjalan menuju cahaya setelah kematian, dan kalian akan merasa damai dan tentram?
Omong kosong. Semuanya hanya tipuan. Omong kosong belaka.
Baginya, tidak ada rasa damai, tidak ada rasa tentram. Tidak ada yang akan menyanyikan lagu rohani sepanjang hari, takkan ada malaikat yang menanyaimu. Hanya kehampaan.
Dan disinilah ia akan menghabiskan keabadian. Dalam tubuh tanpa jiwa.
Kemudian hal yang paling buruk terjadi.
Ia terbangun.
Merupakan sebuah pengalaman yang mengejutkan, lebih menyedihkan dari epilog sebuah cerita yang paling buruk sekalipun. Hal yang telah menunggunya setelah ia terbangun, lebih buruk dari kematian, lebih buruk dari rasa sakit, dan lebih buruk dari kehilangan ingatan.
Ia terbangun di tempat dimana ia telah mati sebelumnya, di sisi jalan sebuah kompleks perumahan yang dulu ia sebut rumah. Apakah dia dulu tinggal disini? Ia menggelengkan kepalanya, berusaha untuk mengingatnya, namun yang ia dapat hanyalah potongan kecil ingatan, yang bahkan ia sendiri tidak yakin apakah potongan ingatan itu adalah miliknya atau milik orang lain. Teman? Pacar? Adik perempuan? Apakah dia mengenal orang-orang ini? Ingatan tentang rasa sakit menghancurkan bayangan dalam benaknya saat sosok dalam ingatannya mulai terbentuk, seperti jendela kaca yang remuk karena dilempar batu. Ia mencoba menggapai potongan ingatannya, namun potongan ingatan itu hancur saat tersentuh olehnya.
Ia berbicara, setidaknya telah mencobanya. Geraman tertahan, sebuah suara anak tekak yang parau, keluar dari dalam paru-parunya yang terasa seperti telah hangus terbakar oleh api. Lidahnya menolak untuk berfungsi, dan ia bahkan harus bersusah payah memeras otak hanya untuk membentuk dan mengucapkan sebuah kata. Malah lebih banyak geraman dan erangan yang terdengar keluar dari mulutnya. Akhirnya ia menyerah, berbicara bukanlah hal yang penting untuk saat ini.
Selain dirinya, sepertinya tidak ada orang lain yang terlihat masih hidup.
Sebuah suara kaleng yang ditendang terdengar memecah kesunyian, bagai menghancurkan sebuah pabrik kaca. Ia memperhatikan sekitar dan melihat sebuah makhluk menyeramkan, sebelah tangannya terlihat putus, potongan daging yang terkoyak terlihat menggantung dari bahunya.
Pria itu mencoba berdiri di kedua kakinya, sebagian dari benaknya menyadari betapa pelan dan lambat gerakannya. Ia ingin sekali berlari, dan untuk sesaat sebuah gambaran terlintas di benaknya, tentang seorang pria yang memenangkan sebuah kejuaraan. Tapi ia merasa bukanlah dirinya yang ada di gambaran tersebut, yang bisa ia lakukan hanyalah berjalan dengan terseret-seret.
Makhluk dengan bagian tubuh yang tak lengkap itu semakin mendekat, pria itu mencoba menutup matanya, membayangkan rasa sakit yang akan timbul, dan ia tidak ingin melihatnya.
Tapi rasa sakit itu tidak ada.
Pria itu membuka matanya, dan menyadari bahwa makhluk menyeramkan itu telah berjalan melewatinya, faktanya, bahwa makhluk itu tidak menyadari sedikitpun kehadirannya. Ia berpikir, mengapa makhluk ini tidak membunuhku? Malah bertindak seolah aku tidak berada disini.
Pria itu lalu melihat pantulan bayangan dirinya diatas genangan air, dan menemukan jawabannya.
Wajahnya hampir terlepas dari tempatnya. Ia dapat melihat otot dan tulang yang terekspose, dan dapat mencium bau daging yang membusuk. Dia melihat tangannya, dan mendapati tiga jari telah hilang di tangan kirinya. Bajunya sobek dan koyak, bagaikan telah diserang oleh binatang buas. Dia adalah seorang monster, sama seperti makhluk yang telah melewatinya barusan. Itulah mengapa makhluk itu tidak menyerangnya, karena ia mirip dengan makhluk itu. Z..zom...
"Zombie..."
Ia mencari-cari dimana asal suara itu, dan akhirnya menyadari bahwa suara yang didengarnya barusan berasal dari mulutnya sendiri. Ia mencoba menggerakkan rahangnya, bersusah payah untuk mencoba berbicara lagi, hanya mencoba untuk memecah kesunyian yang dirasakannya.
"D... Da... Dan... Daniel."
Namanya. Pria itu ingat namanya adalah Daniel.
"Mark... Sasha... Michelle..."
Teman. Pacar. Adik perempuan. Wajah mereka memenuhi benaknya. Ia dapat melihat mereka... Berteriak... Mereka sedang menangis menjerit. Sesuatu telah terjadi... Terjadi pada... Dirinya?
Pria itu, yang dikenal sebagai Daniel, mencari kesana kemari, mencari sesuatu dari dalam potongan ingatannya. Tapi yang ia dapat lihat hanyalah monster dimana-mana, zombie. Mereka bergerak dengan cara yang menyedihkan, gerakan lambat yang terseok-seok. Suara erangan makhluk-makhluk itu terdengar dimana-mana memenuhi udara. Suara ratapan menyedihkan dari rasa sakit, penderitaan, dan...
Rasa lapar.
Daniel merasakannya sekarang. Rasa lapar itu. Mengisi setiap sel di dalam bentuk tubuhnya yang sekarang, memenuhi tubuhnya dengan penderitaan, hasrat, dan nafsu pada saat yang bersamaan. Kemudian bau yang asing hinggap di lubang hidungnya. Aroma manis, dan sedap yang menyenangkan.
Daging manusia.
Menoleh ke kanan dengan lambat, ia menemukan darimana aroma itu berasal, seorang pria, berusia beberapa tahun lebih tua dari usianya. Pria itu bersembunyi di balik semak-semak, dengan menggenggam linggis di tangannya. Darah terlihat memenuhi bagian depan baju yang dikenakannya, dan matanya menyiratkan rasa panik yang berlebih. Pria itu sudah berhari-hari lamanya dalam pelarian, dan datang ke kota kecil ini dengan harapan dapat menemukan saudara laki-lakinya, namun setelah tiga hari tiga malam, pria itu akhirnya menyerah. Rasa waspada merupakan satu-satunya yang dimiliki untuk dapat bertahan hidup.
Daniel mulai melangkah mendekati pria itu, meskipun ia tidak menginginkannya. Rasa lapar lah yang telah mengambil alih dan membuat keputusan untuk dirinya. Dirinya hanya menumpang.
Pria itu melihat Daniel sedang mendekatinya. Lalu ia pun berdiri sambil memaki dan mengutuk. Ia mengayunkan linggisnya lagi dan lagi, namun bidikannya meleset. Ia bermaksud menyerang bagian kepala, tapi malah mendarat di bahu Daniel.
Daniel merasakan tulangnya retak, dan ia telah bersiap akan datangnya rasa sakit. Tapi ia tidak merasakannya. Padahal Daniel telah mendengar suara tulang yang retak akibat pukulan linggis, namun ia tidak merasakan apapun, seolah rasa sakit telah pergi menghilang. Daniel mengaum, suara hewan buas keluar dari mulutnya, mulai mendekati pria itu, yang melangkah mundur sambil mengayunkan linggisnya sambil berteriak ketakutan.
Daniel mendekat dengan rahangnya yang terbuka lebar. Rasa lapar telah mengendalikannya, bersiap-siap untuk memakan makanan di hadapannya, mengunyah daging yang hangat, dan meneguk darah yang maaih panas. Tiba-tiba saja, sebuah gambaran ingatan muncul dibenaknya, sebuah sosok mulai terbentuk. Sesosok pria, lebih tua dari Daniel, seseorang yang dulu sangat dekat dengannya, seperti seorang...
"Ka... Kak?" Makhluk yang kita ketahui bernama Daniel itu bertanya, mata pria itu melebar mendengarnya. Pria itu melepas linggisnya, lalu jatuh berlutut.
"Daniel? Oh Tuhan, apa yang terjadi padamu?" Tanya pria itu dengan air mata berlinang.
Daniel memegang kepalanya, mencoba agar lebih banyak lagi ingatan yang mengalir keluar. Ia melihat beberapa gambar ingatan tentang dirinya dan pria ini. Bermain bola bersama, memindahkan barang-barang ke apartemen yang baru, tertawa saat acara kumpul keluarga. Daniel ingin menangis karena merasa frustasi, namun air matanya tidak dapat menetes.
"Daniel. Ini aku!" Ucap pria itu, lalu berdiri, dan dengan perlahan mendekati makhluk yang ada di hadapannya. "Ini aku, Jason!"
Jason. Itulah nama pria ini. Daniel menatap pria ini lagi, pria sama yang dulu sering mengusilinya. Ia mencoba menyentuh Jason, tapi kakaknya malah mundur.
"Apa? Makhluk apa kau ini? Apakah kau sama seperti mereka?" Tanya Jason, meskipun jawabannya sudah jelas.
Daniel mengangguk. "Ya. Zombie," jawabnya, dengan suara rendah yang berat. Ia mengambil linggis, lalu menyerahkan benda itu pada kakaknya. "Bunuh aku. Bunuh aku."
Jason menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak bisa. Kau... Kau adikku!"
Daniel menggelengkan kepala dengan lambat, ia dapat merasakan daging di wajahnya dapat copot dan jatuh. "Tidak. Zombie. Bunuh aku. Baik."
Jason berangsur menjauh, namun kali ini bukan karena takut. "Jika kau dapat berbicara, maka kau bukan seperti mereka. Mereka tidak dapat berbicara."
Daniel menunjuk dirinya sendiri. "Harus. Lapar. Selalu. Sakit. Bunuh. Tolong."
"Aku tidak akan melakukannya." Balas Jason menggelengkan kepalanya lagi. "Aku datang kesini untuk menyelamatkanmu. Bukan untuk membunuhmu."
Daniel melemparkan linggisnya kepada Jason lagi. "Sama. Saja. Sekarang."
Sebuah suara erangan memotong reuni keluarga yang singkat ini. Daniel berbalik dan melihat ada sekitar tiga lusin zombie mengelilinginya, atau lebih tepatnya, mengelilingi kakaknya. Jason mengambil senjatanya dan telah bersiap untuk bertempur.
Daniel ingin dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan ini, namun apa yang bisa ia lakukan? Ia tahu bahwa rasa laparlah yang menggerakkan mereka, tapi tidak seperti dirinya, makhluk-makhluk ini tidak memiliki kemampuan untuk dapat melawannya. Ia lalu berdiri di depan kakaknya sambil mengangkat tangan, mencoba untuk menarik perhatian para zombie yang ada.
"Tidak. Stop. Stop." Ucap Daniel.
Makhluk-makhluk ini mengacuhkannya. Atau mungkin mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengerti kata-kata. Meskipun demikian mereka tetap mendekat, erangan segera berubah menjadi raungan hewan buas dan sangat tidak adil, menurutnya, setelah ia pikir kakaknya telah tewas pada Minggu pertama wabah mematikan ini menyebar. Gambaran ingatan mulai muncul satu-persatu dalam benaknya. Daniel sempat melakukan kontak dengan kakaknya selama beberapa hari dengan ponsel, namun dengan semakin meluasnya penyebaran virus, infrastruktur akhirnya tumbang, yang masih dapat digunakan adalah sinyal statis.
Setelah kehabisan makanan, Daniel bersama orang tua, teman, adik, dan pacarnya, telah berusaha kabur dan pergi menuju tempat penampungan di salah satu pos militer yang telah disiarkan melalui berita. Di tengah perjalanan, mereka berencana untuk berhenti di dekat apartemen tempat tinggal Jason dan memastikan bahwa ia baik-baik saja, atau setidaknya memberikan pemakaman yang layak. Tidak terlalu banyak mayat hidup yang berkeliaran di kota tempat mereka tinggal, dan mereka berpikir bahwa mereka memiliki kesempatan untuk dapat melakukannya.
Saat Daniel berkendara meninggalkan rumah, ia meminta Sasha untuk menutup kedua mata adiknya dengan tangan, agar Michelle tidak menyaksikan saat ayah dan ibunya sedang dimangsa hidup-hidup.
Beberapa kilometer kemudian, mobil yang mereka kendarai terbalik karena menghantam tumpukan mayat dan menabrak sebuah pohon. Saat Daniel mulai kehilangan kesadaran, ia melihat makhluk-makhluk itu datang melalui kaca jendela yang pecah untuk dapat memangsanya hidup-hidup. Pada saat kesadarannya akan menghilang, satu-satunya yang ia sesalkan adalah bahwa ia tidak dapat menyelamatkan kakaknya.
Ketakutan yang hebat, bercampur dengan amarah dan benci jadi satu. Daniel merasakannya, merasakan emosi yang tumbuh di dalam dirinya seperti teko air yang mendidih. Tiba-tiba saja sebuah suara raungan yang Cumiakkan telinga terdengar, dan Daniel terkejut menyadari bahwa suara itu berasal darinya. Zombie-zombie yang ada disekitarnya nampak merasa terkejut juga, karena gerakan mereka menjadi terdiam, lalu menatap ke arah Daniel, seolah-olah mereka baru saja menyadari kehadirannya.
Jason menatap sekelilingnya dengan panik, tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan situasi seperti ini. "Kurasa mereka dapat mendengarmu."
Daniel mengangguk. "Mundur! Mundur!" Teriaknya. Ketika mendapati zombie-zombie itu tidak bergerak, ia lantas mengambil linggis dan mulai mengayunkannya pada mereka. Menghancurkan beberapa kepala zombie yang masih nekat mendekat.
Dengan perlahan, lusinan mayat hidup itupun menjauh. Di mata mereka, Daniel dapat merasakan rasa penyesalan, saat tatapan mereka melirik kembali ke arah Jason. Mereka seperti menyesal karena harus pergi sebelum makanannya disentuh, tapi Daniel nampaknya telah berubah menjadi seorang alpha, dan apapun kecerdasan yang mereka masih miliki mengatakan bahwa jika tetap tinggal disini bukanlah hal yang baik bagi kelangsungan hidup mereka.
Setelah makhluk yang terakhir pergi menjauh, Jason menatap adiknya dengan rasa kagum dan penuh hormat. "Yang benar saja, bro! Bagaimana kau melakukannya?"
"Tidak tahu. Datang lagi." Jawab Daniel, menyerahkan kembali linggis yang dipegangnya pada Jason. "Kau pergi. Cari aman."
Jason menggeleng tak setuju. "Aku tidak akan pergi tanpamu."
"Tidak aman... Denganku. Lapar... Sangat lapar."
"Tapi kau belum menyentuhku sama sekali." Ucap Jason. Walaupun genggaman tangannya menguat pada batang besi yang dipegangnya. Ia tidak yakin berapa lama kalimat itu akan bertahan.
"Malam... Akan tiba." Ucap Daniel, sepintas terlihat senyum di sudut bibirnya.
"Akan ku urus hal itu nanti jika memang akan terjadi. Dengar, dan. Kau adalah satu-satunya keluarga yang ku miliki sekarang. Jika aku harus membunuhmu, maka akan kulakukan nanti. Tapi aku tidak mau sendirian disini sekarang. Kau adik ku, dan mari kita hadapi neraka ini bersama-sama."
Daniel menundukkan kepalanya. "Kakak... Masih hidup. Aku bukan. Adik lagi."
Jason memegang pundak Daniel, lalu dengan cepat melepasnya, sambil membersihkan bekas darah dan nanah yang menempel.
"Yeah, kau masih Daniel yang sama."
kudo.vicious dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas